Para Perempuan Korban Poligami


*Kustiah- www.Konde.co

Oleh sebagian orang poligami seringkali seperti dijadikan pencapaian hidup. Kelakar yang sering terdengar. Walau sering juga disampaikan secara serius tentang alasan memilih poligami, bahwa tidak shahih jika beristri haya satu.

Dan ini adalah kelakar yang paling sering saya dengar: jika bisa membahagiakan satu istri adalah amal, maka membahagiakan empat istri adalah surga balasannya.

Alih-alih mengikuti jejak Nabi Muhammad apalagi jika sudah mencatut ayat kitab suci Al Quran bahwa poligami sunah dan diatur dalam agama.

Mereka yang poligami sering lupa, atau entah tidak tahu atau benar-benar lupa , bahwa poligami yang dilakukan oleh Nabi sendiri adalah kondisi yang ketika itu sangat sulit. Banyak janda yang telantar karena suaminya gugur dalam peperangan, anak-anak yang tak terlindungi karena ayahnya meninggal ketika berperang, dan kondisi sulit lainnya yang membuat perempuan dan anak rentan menjadi korban kekerasan berlipat, juga sangat mungkin mereka telantar.

Muhammad sendiri ketika menikahi Siti Khadijah, yang seorang janda, memilih monogami sampai istrinya meninggal dunia. Dan setelahnya ia menikahi janda dan poligami dengan janda yang usianya lebih tua dari usia nabi. Dari istri-istrinya, hanya Siti Aisyah yang masih gadis ketika dinikahi nabi.
Jadi, betapa hati saya seperti dipelintir-pelintir tiap membaca berita atau tiap melihat foto orang yang dengan bangganya memamerkan istri-istrinya untuk mengatakan dirinya telah mengikuti jejak Nabi.

Apalagi yang dipamerkan istri kedua ketiganya yang usianya lebih muda, lebih cantik. Tak habis pikir, di mana letak jejak Nabi yang ia ikuti selain hanya soal jumlah istri. Lalu jika hanya jumlah, bukan soal madhorot atau manfaat dari poligami seperti yang dilakukan Nabi ketika itu, saya membayangkan betapa sedihnya Nabi yang tindakannya hanya diikuti umatnya bukan karena substansi, tetapi lebih mengambil pemahamannya yang sedikit untuk melabeli tindakannya yang jauh dari tujuan agama yang rahmattan lil alamin.

Membangun biduk rumah tangga sendiri sebagaimana Allah berfirman adalah untuk menciptakan ketenteraman (sakînah) dalam hati suami-istri (QS Al-Rûm [30]: 21). Bukan membangun neraka di rumah sendiri.

Karena, poligami yang dipahami secara sempit dan dilakukan semata hanya karena nafsu tetapi dibungkus agama, yang menjadi korban tak hanya istri. Tetapi juga anak-anaknya. Seperti yang dialami saudara dan beberapa perempuan yang pernah saya dampingi.


Isah dan Ibu Korban Poligami

Namanya Isah (bukan nama sebenarnya) sekarang usianya 20 tahun. Dia anak bungsu dari empat bersaudara. Anaknya pendiam. Sama pendiamnya dengan adik ipar saya yang usianya sama dan menjadi teman sepermainanya dari usia 5 tahun hingga akhirnya terpisah di usia 11 tahun.

Karena adik ipar melanjutkan ke sekolah menengah pertama dekat rumah, sementara Isah berada di pondokkan ke pesantren di Jawa Timur yang terkenal dengan santri perempuannya yang sebagian besar bercadar. Dan santri laki-lakinya menggunakan celana cingkrang.

Pulang kampung ke Blora belum lama ini ibu mertua saya bercerita. Isah membutuhkan uang sekitar Rp 15 juta untuk membayar biaya mondok dan membeli kitab. Ibu mertua saya mendapatkan kabar soal Isah ini dari kakak ipar Isah yang pertama yang saat ini kebetulan sedang pulang kampung dari Kalimantan tempat suaminya ikut transmigrasi.

Karena tak mampu memberi uang kakak Isah berencana menyerahkan Isah kepada pihak pesantren. Yang entah apa maksudnya.

Tapi, saat saya tanya kepada ibu apa maknanya, ibu saya menjawab "Kira-kira, karena pengasuhan dan tanggung jawab kakaknya diserahkan kepada pesantren maka pesantrenlah yang mengambil alih atas hidup Isah".

Betapa sedih hati saya mendengarnya. Lalu, kemana ayah ibu Isah?

Ayahnya, masih menurut ibu saya dari cerita kakak Isah, menikah untuk yang ketiga kalinya dengan perempuan Purwodadi, Jawa Tengah.

Baik Isah maupun ketiga kakak laki-lakinya tak mengetahui rimbanya. Ayahnya dalam beberapakali sambungan telepon kepada anak tertuannya hanya mengatakan kalau dia menikah lagi dan tinggal di Purwodadi.

Ayahnya tak mengurus anak-anaknya pun Isah. Sementara ibu Isah meninggal sekitar tiga tahun lalu karena penyakit lupus.

Sebelum meninggal, ibu Isah, sakit-sakitan. Dalam kondisi sakit ia sering ditinggal suaminya ke Riau, tempat mereka dulu transmigrasi, untuk menjenguk dan bahkan lama tinggal bersama istri keduanya.

Ibu Isah atau yang sering kupanggil Bu lek menolak dipoligami, begitu juga keluarga besar bu lek. Tetapi, suaminya bergeming. Dia tetap nekat menikah lagi hingga kemudian bu lek bersama anak-anaknya memilih pulang ke kampung di Blora.

Meski telah mengambil sikap dengan pulang ke kampung, untuk pendidikan anak-anaknya tetap saja suami bu lek yang pelaku poligami yang menentukan. Ketiga anak laki-lakinya dimasukkan ke pondok pesantren pilihannya. Bukan ke pesantren Nahdlatul Ulama seperti pilihan bu lek dan keluarganya.

Begitu juga ketika memutuskan melanjutkan sekolah untuk Isah. Ayahnya tetap ngotot memondokkan anak perempuan satu-satunya ke pesantren pilihannya. Meskipun setelahnya ayahnya tak mengurusi anaknya.

Dan tiga tahun setelah Isah masuk ke pesantren ibunya meninggal dunia.

Setelah istrinya meninggal dunia ayah Isah makin sering bersama istri keduanya dan entah bagaimana ceritanya kemudian menikah lagi, tinggal di Purwodadi, dan melupakan anak-anaknya.

Tak mudah perjuangan ini bagi bu lek, Isah dan keluarganya. Keluarga yang tercerai hingga ayah yang menentukan masa depan seriap orang. Bu lek meninggal tanpa pernah mendapat keadilan. (Bersambung)

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com, saat ini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.