Potret Perempuan yang Mengambil Semua Tanggungjawab Keluarga


Poedjiati Tan -www.konde.co

Karena mama saya yang sedang sakit dan kondisi kesehatannya makin menurun dan makin sulit untuk bisa melakukan aktivitas sendiri, saya memutuskan untuk menggunakan jasa perawat atau pendamping untuk mama saya.

Namanya sebut saja Ai. Ai, perempuan berumur 43 tahun dan sudah mempunyai cucu. Dia mengenal kami dengan baik.

Pada hari pertama dia bekerja kami sempat ngobrol.  Dia bercerita kalau dia “digantung” sama suaminya selama 3 tahun ini. Maksudnya suaminya tidak memberikan kontribusi untuk keluarga dan hubungan mereka juga tidak cerai. Status perkawinannya tidak jelas.

Sebetulnya dia sudah lama ingin menggugat cerai suaminya. Tetapi anaknya yang pertama melarang dia bercerai.

Padahal dia tahu kalau suaminya itu “nakal”.

“Saya tahu kalau “barangnya” itu sudah rusak tapi gitu masih nggak ngaku! Wong dokter aja sudah bilang kalau dia itu kena penyakit kok!,” Ceritanya.

“Saya juga dengar kalau dia suka main dengan perempuan. Sekarang ini tubuhnya sudah kurus kering, mungkin dia kena AIDS!,” Lanjut Ai.

“Sekarang saya sudah bertekad bulat untuk cerai dan anak saya juga sudah setuju!,” Katanya

Lalu dia menlanjutkan cerita tentang anak perempuannya. “Mbak tahu kalau saya habis kena masalah, soal Ira (bukan nama sebenarnya) anak saya?.”

“Lho, Masalah apa?," Tanya saya.

“Anak saya itu khan hamil! Waktu sekolah di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dia itu kenalan sama laki-laki di Facebook. Trus ternyata sering ketemu waktu sekolah! Dan tenyata diajak macem-macem. Ira itu khan orangnya lugu, dibujuki ya nurut aja!,” Ceritanya dengan agak emosi.

“Trus hamil sampai lima bulan baru saya tahu, nah laki-laki yang hamili itu sudah lari. Rumahnya ya nggak tahu dimana, Facebooknya juga sudah hilang! Ya sudah, saya bilang sama anak saya nggak usah digugurkan biar ibu aja yang ngewarat! Jadi anaknya Ira saya masukkan ke kartu keluarga, saya akui sebagai anak saya sendiri!

“Terus Ira sekarang nasibnya bagaimana?,” Tanya Saya

“Dia sekarang kerja di Pasar Atum jaga toko! Tapi anaknya ya saya yang biayai, beli susunya dan makannya semua saya yang nanggung!,”Jawabnya.

“Sebentar lagi adiknya Ira juga mau menikah. Jadi tinggal Ira saja yang belum menikah, karena suaminya lari.”

Aku jadi terdiam, mbak Ai cerminan masyarakat yang menganggap perempuan belum utuh atau belum sempurna kalau belum menikah. Jenjang pendidikan yang lebih bukanlah prioritas utama. Pemikiran bahwa perempuan harus memenuhi kewajibannya yaitu menikah dan memiliki anak adalah yang utama. Yang penting lulus SMA sudah cukup lalu bekerja dan menikah.

Mbak Ai dengan segala keterbatasannya belum memikirkan agar pendidikan anaknya lebih tinggi atau lebih baik. Memikirkan masa depan atau kehidupan yang lebih baik dari sekarang.

Kemiskinan seperti ini sering kali melekat dan akrab dengan perempuan yang menyebabkan kerugian pada perempuan itu sendiri. Dampak kemiskinan antara lain : tingginya angka kematian ibu dan anak waktu melahirkan, balita yang kekurangan gizi, menurunnya anak perempuan yang mengikuti pendidikan formal di tingkat sekolah lanjutan; terpusatnya pekerja perempuan di sektor yang rendah pendidikan, rendah ketrampilan dan rendah upah.

Kesemuanya secara tersendiri maupun bersama-sama menggambarkan bahwa kemiskinan masih melekat dan akrab dengan perempuan. Karena dalam keluarga miskin yang terdorong keluar dari jalur pendidikan formal biasanya adalah anak perempuan. Faktor sosial-budaya seperti agama, tradisi dan jender mempunyai implikasi terhadap kemiskinan perempuan yang sulit  dihapuskan. Selain itu susahnya akses bagi perempuan untuk mendapatkan kredit usaha.

Karena kebanyakan perempuan miskin  menekuni usaha yang sangat-sangat kecil, dan perempuan miskin biasanya juga miskin pendidikan, miskin ketrampilan, miskin modal, dan miskin pengalaman untuk dapat memahami aturan dan ketentuan yang akan ditentukan oleh pemerintah tentang usaha kecil.

Modal utama perempuan miskin adalah keuletan dan kegigihannya untuk mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya.

Saya bangga dengan perjuangan mbak Ai, dengan segala keterbatasan ia kemudian tetap bekerja, mengasuh cucunya dari laki-laki menantu yang tak bertanggungjawab dan tetap hidup baik dengan anak-anak perempuannya. Ai adalah potret perempuan yang mengambil semua tanggungjawab keluarga.