Rasa Sakit yang Saya Alami Karena Terjerat Narkoba


Tak ada yang mau terjerat narkoba. Del, diajak teman sekelasnya mengonsumsi benzo, sejenis narkotika dalam bentuk tablet, saat duduk di bangku kelas menengah atas di sebuah pondok pesantren modern di Jawa Tengah. Rasa mual, muntah dan pusing tak hilang, tapi tubuhnya bertambah seperti melayang, enteng dan ringan. Perlahan pula Adel merasa makin berani dan sensitif. Ini adalah cerita perempuan yang kemudian berjuang untuk keluar dari narkoba:


*Kustiah- www.Konde.co

Mata Del (38) atau biasa disapa Adel masih terlihat cekung. Beruntung kulitnya putih sehingga cekungan di sekitar mata tak begitu kentara dibandingkan kelima kawannya yang juga sama-sama pernah menjadi pecandu narkoba. Adel satu-satunya perempuan yang hadir dalam acara seminar 'smart parenting' tentang narkoba yang diadakan wali murid SMP 8 dan 9 Al Azhar, Bekasi.

Para peserta tak beranjak dan beberapa bahkan terlihat mengusap air mata saat mendengar testimoni para mantan pecandu narkoba.

Keenam mantan pengguna narkoba yang tergabung dalam Yayasan Sahabat Rekan Sebaya (SR) bercerita bahwa mereka mengonsumsi narkoba pertama kali karena diberi cuma-cuma oleh teman dekat dan oleh guru les gitar.

Del, diajak teman sekelasnya mengonsumsi benzo, sejenis narkotika dalam bentuk tablet, saat duduk di bangku kelas menengah atas di sebuah pondok pesantren modern di Jawa Tengah. Pertama kali minum Adel mual, muntah, dan pusing. Oleh temannya ia disarankan minum benzo lagi supaya rasa mual, muntah, dan pusing reda. Satu per satu enam tablet benzo ia habiskan dalam sehari.

Rasa mual, muntah dan pusing tak hilang, tapi tubuhnya bertambah seperti melayang, enteng dan ringan. Perlahan pula Adel merasa makin berani dan sensitif. Akhirnya ia kembali meminta kepada temannya. Kali ini tak gratis, Adel harus membayar dengan sejumlah uang. Sampai kemudian ia menjadi tergantung dengan benzo dan selalu berusaha mencari cara supaya bisa membeli.

"Apa pun saya lakukan termasuk berbohong ke orang tua. Meminta uang alasannya untuk bayar sekolah padahal untuk beli 'obat'," katanya.

Ada beberapa jenis narkoba yang dikonsumsi Adel. Mulai benzo, ganja, inex, acid, putaw, hingga shabu. Semua ia konsumsi tanpa sepengetahuan orang tua. Sampai kemudian hari orang tuanya curiga karena semua barang yang diberikan kepada Adel hilang. Mulai motor orang tuanya yang dijual, motor kakaknya yang digadaikan, hingga semua barang yang dibelikan untuk kos. Rice cooker, lemari, LCD, dan barang lainnya habis ia jual.

Yang tersisa di kamar kosnya hanya sebuah kasur.

Ternyata Adel tak sendiri. Dari lima saudara kandungnya hanya satu kakak yang tak mengonsumsi narkoba. Adel makin menjadi-jadi. 2009, dalam satu tahun berselang empat bulan satu kakak dan adiknya meninggal karena narkoba. 2011 disusul saudara sepupunya.

Namun, Adel bergeming. Ia tak bisa melepaskan dirinya dari jerat narkoba. Jika telat mengonsumsi narkoba tubuhnya panas dingin, hidung meler, batuk-batuk, tenggorokan gatal, kuping pengan, tulang ngilu, dan badan terasa sakit.

"Saat itu saya berpikir  tak mungkin berhenti karena rasa sakit yang saya alami," katanya.


Mencoba Cara Lain

Hingga akhirnya pada 2011 orang tua Adel memaksanya pulang ke rumah dan meninggalkan kos-kosannya di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Saat itu ayahnya mengancam akan meminta polisi menangkapnya. Namun Adel tetap menolak.

Sampai di kemudian hari ia mendapat kabar dari kakaknya bahwa ayah dan ibunya sakit parah. Adel mulai berpikir apalagi saat itu ia juga dalam kesulitan mencari uang untuk membeli narkoba. Tawaran orang tuanya yang ingin membantunya lepas dari narkoba ia terima.

"Orang tua konsultasi ke dokter Aisah yang menyarankan untuk merehabilitasi ke Lido, BNN," katanya.

Kebetulan orang tua Adel saudara sepupu dengan Aisah Dahlan. Akhirnya pada akhir 2010 hingga 2012 Adel menempati panti rehabilitasi di Lido. Satu hal yang membuat Adel berpikir menerima tawaran orang tuanya untuk rehab salah satunya karena diagnosa HIV/AIDS. Saat tes darah pada 2010 Adel dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.

Adel mengaku telah 'taubat' tak mengonsumsi narkoba lagi. Jika ingat masa kelamnya telah mengonsumsi narkoba selama 17 tahun, Adel sering diliputi perasaan bersalah.

"Sudah cukuplah yang kemarin-kemarin. Saya menyesal, di saat orang lain sudah berbuat banyak hal saya baru akan memulai langkah baru," ujar ibu satu anak ini.

Beruntung upayanya untuk pulih didukung tak hanya oleh suaminya yang juga mantan pengguna narkoba, tapi juga oleh keluarganya, dan sahabatnya di Yayasan SRS.


*Kustiah, mantan jurnalis Detik.com. Saat ini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta