Tak Ada yang Lebih Sedih Ketika Melihatnya Menangis



Saya selalu melambaikan tangan dan tersenyum, menahan diri agar air mata saya tak menetes keluar. Tak ada yang lebih sedih ketika melihatnya menangis. Tulisan ini merupakan karya Leni Suryani, Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang harus berpisah jarak dengan anaknya karena harus bekerja di Jakarta. Leni hanya bisa pulang 3 bulan sekali menjumpai anaknya. Ia selalu berharap, anaknya suatu saat bisa memahami keputusan ibunya bekerja. 


Leni Suryani- www.Konde.co

Aku kadang memanfaatkan libur mingguanku untuk bertemu anakku, menengok Dhiva di kampung. Sepertinya aku termasuk Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang cukup beruntung karena mendapatkan hari libur. Tak semua PRT mendapatkan libur.

Padahal jika semua PRT mendapatkan hari libur seperti halnya buruh lainnya, waktu liburnya bisa digunakan untuk menengok anak di kampung. Jika sama sekali tak ada waktu libur, maka baru setahun sekali para PRT bisa pulang menengok anaknya, seperti libur lebaran. Kondisi ini menyiksa para PRT. Karena libur merupakan hak seluruh pekerja, bukan merupakan belas kasihan.

Kepulanganku ke kampung selalu menjadi harapan baru bagiku karena aku bisa bertemu anakku, Dhiva.

Rabu, 30 Agustus 2017 merupakan hari dimana aku bisa merasakan libur 4 hari,karena libur idul adha, saya sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk mudik. Keluarga pun di kampung sudah menunggu dan senang mendengar aku mau pulang, apalagi ada sesosok yang bertubuh mungil dan cantik yang selalu mengunggu kepulanganku.

Apalagi ketika itu, kita sudah 2 bulan tidak bertemu.

Semalam Dhiva telpon, bertambah sedih pula perasaanku karena Dhiva belum tahu kalau aku tidak bisa pulang. Setahu Dhiva, besok saya juga libur panjang untuk 4 hari, namun saya tak bisa pulang.

Di dalam telpon, Dhiva bercerita tentang kejadian di sekolah bersama teman-temannya, disitu perasaan saya yang sedih langsung buyar, menjadi senang, mendengar kesibukan Dhiva di sekolah bersama teman-temannya.

Di sekolah, sekarang Dhiva sibuk dengan kegiatan tambahan les. Saya membayangkan dia mungkin lelah karena sibuk dengan kegiatan di sekolah, belum waktu main bersama teman-teman sebayanya, ditambah waktu untuk mengaji juga. Tapi dari cerita Dhiva tidak terdengar keluh kesah capek dan dia senang melakukan itu semua.

Dia juga cerita bahwa dia punya keinginan kalau mendapatkan peringkat satu di sekolah, Dhiva akan minta sesuatu yang baru. Saya pun menjanjikan kalau peringkat satu akan membelikan apa yang Dhiva mau. Ini sudah berlangsung lama dan hampir menjadi tradisi semenjak Dhiva masuk sekolah.

Dalam kondisi jarak jauh seperti ini, saya menjadi sangat bangga dengan prestasi dan kemandirian dhiva, karena dia sudah membuktikan walaupun jauh ditinggal orang tua, tapi dia tetap belajar mandiri. Dan disekolah dia termasuk murid yang berprestasi. Kadang saya sebagai ibu merasa sedih, sedih karena tidak bisa melakukan apa yang biasanya ibu lakukan terhadap anak nya.

Percakapan pun diakhiri karena Dhiva sudah mengantuk dan pengin tidur, akhirnya obrolan pun kita akhiri. Saya pun akhirnya memberitahu Dhiva kalau tidak bisa mudik bulan ini, maka bulan depan saya bisa mudik.Ada rasa sedih dan bersalah yang saya rasakan tapi saya mencoba untuk menepisnya.

Namun yang sebenarnya membuat saya paling sedih adalah,  ketika saya mau pulang ke Jakarta dan  Dhiva mengantarkan saya ke terminal.  Dia selalu tersenyum, memegang tangan saya sambil berkata,” Ibu, hati-hati di jalan ya.”

Sambil tersenyum dan mencium pipinya saya bisikkan, " Dede doain terus buat ibu ya.”

Karena saya selalu melihat airmatanya yang menetes, maka saya menahan diri agar airmata saya tidak menetes. Saya harus terus tersenyum untuk memberikan harapan baru bagi Dhiva. Saya memperhatikannya, digendong neneknya, sampai bus yang membawaku pergi meninggalkan Dhiva.

Hatiku sangat sedih, sedih meninggalkannya. Tapi apa mau dikata, ini semua juga demi masa depan dan pendidikan Dhiva.

Semoga kelak Dhiva bisa mengerti keputusan orang tuanya untuk bekerja di Jakarta dan jauh darinya (Selesai).


*Leni Suryani, Aktif di organisasi Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Sapu Lidi di Jakarta. Penulis di blog dan sosial media. Baginya menulis adalah sebagai bagian dari perjuangan untuk mngubah nasib para PRT di Indonesia.