Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.


*Kustiah- www.Konde.co

"Kekerasan terhadap perempuan tak akan terjadi jika semua orang menganggap perempuan sebagai ibu kita".

Demikian dikatakan aktor Indonesia Lukman Sardi kepada penulis usai acara pembacaan '16 Sumpah Hentikan Kekerasan Berbasis Gender& Seksual melalui 16 Film Festival' yang dilakukan di Art Soceity Kemang, Jakarta Jumat (17/11).

Luman Sardi, aktor Indonesia, adalah salah satu volunteer ambasador untuk EnamBelas Film Festival. Sebuah gerakan yang berjejaring dengan Jaringan #GerakBersama, Kalyanahira Film &100% Manusia yang fokus turut serta mengampanyekan Hari Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HKATP) yang berlangsung mulai 25 November hingga 10 Desember.

Aktor yang membintangi film Sang Pencerah ini mengaku prihatin dengan sejumlah peristiwa kekerasan dan pembunuhan terhadap perempuan yang belakangan marak terjadi. Kasus pembunuhan dan kekerasan di muka bumi ini menurutnya tak perlu terjadi. Apalagi terhadap perempuan.

"Kita lahir dari tubuh seorang perempuan. Dan perempuan adalah ibu kita. Jika semua orang menganggap perempuan sebagai ibu kita maka kekerasan itu tak akan terjadi," ujar Lukman.

Penghargaan terhadap tubuh, menurut Lukman harus ditanamkan sejak dini. Ini menjadi pekerjaan rumah dan tugas semua manusia. Bagaimana mengajarkan kepada anak supaya menghargai dan menghormati tubuh supaya kelak ketika dewasa tak menjadi pelaku kekerasan.

Kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi, kata Lukman karena kesalahan dan paradigma berpikir masyarakat terhadap perempuan. Paradigma yang salah, yang sering terjadi di masyarakat misal menganggap perempuan sebagai mahkluk subordinat, makhluk nomor dua, mahkluk lemah dan tak berdaya, obyek seks, terjadi karena budaya patriarkhi dan minimnya edukasi.

Tak perlu jauh-jauh melihat masyarakat yang ada di daerah pelosok yang kerap disebut sebagai masyarakat yang tidak memiliki pendidikan memadai. Di Jakarta, ibu kota Indonesia sendiri menurut Lukman masih sering terjadi.

"Untuk itu, edukasi perlu dilakukan secara kontinyu," ujarnya.

Bagi Lukman, sangat mudah untuk berpikir menghargai seorang perempuan. Lukman punya tips, ia selalu ingat ibunya.

“Lihat saja ibu kita, jika kita mencintai dan menghargai ibu kita, maka kita harus mencintai dan menghargai perempuan lain.”

Melalui festival film yang mengangkat tema perempuan, Lukman berharap masyarakat bisa memperoleh pesan tentang salah satunya bagaimana menghargai perempuan dan ajakan menghentikan kekerasan terhadap perempuan. Karena, film dianggap sebagai medium paling mudah untuk menyampaikan pesan:

"Sebagian besar film-film yang aku perankan adalah film-film yang memiliki pesan atas anti kekerasan dalam berbagai bentuk. Profesi sebagai aktor yang aku jalani sejak usia dini hingga sekarang buat aku juga alat dalam menyuarakan dan menyeru pentingnya kehidupan yang harmoni dan bebas dari kekerasan termasuk kekerasan berbasis gender dan seksual. Untuk itu aku mengajak kita semua dan generasi muda untuk dapat bersuara dan mengkampanyekan penghapusan kekerasan dengan berbagi macam bentuk dengan menggunakan apapun alatnya. Salah satunya kita semua bisa memulai langkah kita dengan mendukung kampanye."


* Kustiah, Pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mantan jurnalis www.Detik.com


Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.


*Kustiah- www.Detik.com

Jakarta, Konde.co- Ucapan Melissa Karim, salah satu volunteer ambasador festival film 16 hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan membuat saya terhenyak dan ingat akan beberapa hal. Bahwa kata Melisa, sesama perempuan seharusnya kita bersaudara dan saling menguatkan.
Mau mendengar, menjadi teman baik, dan berempati dengan orang lain. Karena, salah satunya dengan berbicara dan berbagi, kasus bunuh diri, pembunuhan, dan kekerasan terhadap perempuan bisa dihindari.

"Kasus bunuh diri, pembunuhan, dan kekerasan terhadap perempuan biasanya tidak terjadi tiba-tiba. Ada cerita panjang di balik itu semua. Dan kejadian yang tidak kita inginkan itu bisa kita hindari jika ada teman baik yang mau mendengar dan ikut ambil bagian," ujarnya kepada saya saat usai konferensi pers peluncuran pemutaran film 16 HKATP di Art Soceity, Kemang, pekan lalu.

Saat ini perempuan modern sudah berani tampil di depan publik. Dan sebagian besar dari mereka tampak tangguh. Padahal, kata Melissa, tak jarang dari mereka, yang disebut sebagai perempuan modern dan tangguh itu, tengah menghadapi persoalan berat akibat paradigma yang salah tentang perempuan. Mulai dari perlakuan diskriminatif, korban labeling, dan korban kuatnya budaya patriarkhi di dalam dunia kerja maupun di lingkungan keluarga.

Sesuai dengan tema kampanye festival film bahwa the future is equal, penyiar radio dan mantan presenter televisi ini berharap tak ada lagi diskriminasi terhadap perempuan.


Pengalaman Tidak Mengenakkan

Melissa sendiri pernah punya pengalaman tak mengenakkan selama menjadi 'teman baik', teman berbagi saat mendampingi temannya yang sedang menghadapi masalah berat. Ia juga tak jarang mencari tahu atau bahasa anak sekarang disebut 'kepo' untuk memastikan temannya yang dalam masalah itu baik-baik saja.

"Tak jarang saya 'ikut campur' urusan orang. Karena niat saya baik. Saya tidak mungkin diam sementara saya tahu bahwa teman saya itu sedang dalam masalah," ujarnya.

Saya sependapat dengan Melissa. Dua tangan kita tak cukup kuat untuk menghadapi persoalan yang menimpa perempuan di mana pun dan kapan pun. Kita perlu banyak tangan yang terulur, yang saling berempati manakala melihat perempuan lainnya sedang menghadapi kesulitan. Tangan-tangan kuat itu bisa saling menguatkan untuk bersama-sama mendorong kebijakan yang sensitif terhadap perempuan. Salah satunya memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) untuk segera disahkan.

Suatu kali saat di sebuah stasiun seorang perempuan yang tengah hamil besar menangis saat saya memberinya minum dan menawarinya mengantar pulang. Dia tak henti-hentinya mengucap terima kasih sambil mengusap air mata. Padahal saya hanya membantu menenangkan anaknya saat rewel menangis dan teriak memukul-mukul ibunya. Anaknya berumur sekitar tiga tahunan. Menurut penuturan ibunya, anaknya dalam kondisi tidur saat mereka hendak turun. Dan dia memaksa anaknya bangun.

Saya pernah mengalami yang ibu itu alami. Jadi, melihat kondisinya yang tengah hamil besar, bepergian dengan anak yang rewel sendirian bukanlah perkara mudah. Jika di dalam rumah mungkin kita bisa membiarkan anak menangis hingga dia merasa tenang dan lega. Namun, di tempat umum jangan harap bisa demikian.

Yang ada kita malah diomeli, 'dipencurengi', disalahkan karena dianggap tidak bisa mengurus anak dan 'slentingan' kata "kasihan ya, anak masih kecil sudah hamil besar" oleh orang-orang di sekitar kita yang terdengar di telinga, yang justru bukan menyelesaikan persoalan. Tetapi malah membuat telinga merah dan membuat saya kala itu seperti perempuan yang paling malang sedunia.

Di lain waktu, masih di sebuah stasiun juga, saya melihat seorang perempuan menangis sesenggukan sambil menggendong anaknya yang berumur sekitat setahu. Tak jauh dari tempat ia duduk seorang lelaki berdiri sambil 'mencap-mencep' seperti menahan marah.

"Aku nggak akan pulang sebelum kamu memberi uang. Selama ini kerjamu untuk siapa? untuk minum, main dengan perempuan itu?" ujar perempuan itu setengah berteriak sambil mengusap air matanya yang bercucuran. Aku yang tak sengaja lewat di depannya kaget. Tentu saja orang-orang yang lewat, adik dan saudaraku yang jalan bersamaku juga tampak kaget.

Kuperhatikan mereka melihatnya sepintas sambil lalu.

Kukatakan kepada adikku supaya ia menunggu dan aku menghampiri perempuan yang berteriak tadi. Kulihat perempuan itu sudah menarik-narik dan memukuli badan suaminya.

"Aku sudah nggak kuat kamu beginikan terus mas. Sampai kapan mau begini terus," teriak perempuan itu.

Kudekati keduanya. Anak perempuan cantik berpipi gembil yang ada di gendongan tampak ketakutan. Karena keduanya sedang emosi aku mendekat dengan basa-basi terlebih dulu bertanya tentang umur anak, jenis kelamin, dan tempat tinggal mereka. Pekerja Rumah Tangga yang duduk di sebelahnya mengusap air mata. Tanpa kutanya ia mengatakan kesusahan yang ia alami. Lelaki yang disebut suami mengambil jarak, menjauhi istrinya. Kupegang bahu suaminya. Kukatakan betapa cantik dan sehat anak perempuan yang digendong istrinya.

"Banyak orang berjuang untuk memiliki anak dan tak sedikit orang tua yang berjuang supaya anak-anak mereka yang sakit lekas pulih mas. Anak mas sehat dan cantik. Jaga dia mas ya. Sayangi dia dan ibunya supaya kelak kalau dewasa jadi anak hebat," kataku yang entah mengapa tiba-tiba mendadak dari mulutku meluncur kata-kata seperti seorang motivator ulung sekelas David Pranata.

Dari pembicaraan antara suami istri itu, sepintas kuketahui betapa menderitanya seorang perempuan yang hidupnya diombang-ambingkan oleh suami. Dia menghadapinya sendirian. Sambil menangis dia bercerita bagaimana ia tak henti-hentinya berjuang dan bersabar. Bahkan ketika hamil besar ia memilih tinggal di depan kantor sebuah partai di kawasan Sudirman karena ia dan suaminya tak memiliki untuk mengontrak. Dan saat ini, ketika anaknya telah lahir dan berusia setahun suaminya masih tak berubah. Sering tak memberi istrinya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sore itu ia mengatakan tak berani pulang karena ibu pemilik rumah petak yang ia sewa mengancam akan mengusirnya keluar jika pulang tak membawa uang. Jujur air liur tercekat dan dada saya mendadak sesak.

"Tak ada yang mustahil dalam hidup ini mbak. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya," entah bualan apalagi yang kukatakan.

Kusarankan keduanya berembuk dengan kepala dingin dan tidak menyelesaikannya dengan kekerasan. Kuberikan nomor teleponku kepada perempuan itu. Dan saat suaminya menghilang entah kemana kuulurkan uang yang tak seberapa untuk membelikan makanan anaknya dan ongkos untuk pulang.

Sepanjang perjalanan pulang hati saya pedih. Entah sudah berapa banyak perempuan yang sudah saya temui sedang dalam kondisi menderita secara fisik dan psikis. Mereka menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Mereka korban patriarkhi yang oleh sebagian orang anggap biasa.

(Melissa Karim Foto: Detik.com)


* Kustiah,
Pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Mantan jurnalis www.Detik.com


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Pemutaran EnamBelas Film Festival dilakukan untuk memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan yang akan diadakan pada 25 November – 10 Desember 2017. Inisiator pemutaran film sekaligus sutradara film, Nia Dinata menyatakan memang sengaja memutar 16 film panjang, 16 film pendek di 12 kota di Indonesia dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. 16 film ini sebagai penanda untuk mengajak semua orang menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

Acara peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan ini diadakan atas kerja bersama antara #GerakBersama, Komnas Perempuan, Kalyanashira, 100% Manusia, The Body Shop, Aliansi Satu Visi, Amartha bersama Cine Space, Art Society, Kineforum, Galeri Indonesia Kaya, Paviliun 28, Kopi Kohlie, Sae Institute, @america, dimana www.Konde.co, www.magdalene.co dan Vice juga terlibat di dalamnya.


Berikut jadwal pemutaran 16 film festival:

JADWAL PEMUTARAN FILM JAKARTA

Kineforum:
Senin, 27 November 2017 | 18.00 | Buang

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Masih Ada Asa

Selasa, 28 November 2017 | 18.00 | Calalai

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Rabu, 29 November 2017 | 18.00 | Perempuan Kisah dalam Guntingan

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | Perempuan Punya Cerita

Kamis, 30 November 2017 | 18.00 | Raga Te Anak

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | Ca Bau Kan

Jumat, 1 Desember 2017 | 18.00 | Purnama di Pesisir

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Salawaku

Sabtu, 2 Desember 2017 | 14.00 | Lewat Sepertiga Malam

Sabtu, 2 Desember 2017 | 15.30 | The Window

Sabtu, 2 Desember 2017 | 18.00 | Waiting Room

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.30 | Selamat Pagi, Malam

Minggu, 3 Desember 2017 | 14.00 | Angka Jadi Suara

Minggu, 3 Desember 2017 | 15.30 | Kisah Tiga Titik

Minggu, 3 Desember 2017 | 18.00 | Mengusahakan Cinta

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.30 | 7 Hari 7 Cinta 7 Wanita
.............................................................

Grand Indonesia Kaya

Senin, 27 November 2017 | 16.00 | Lanang

Senin, 27 November 2017 | 17.30 | Calalai

Senin, 27 November 2017 | 19.00 | Salawaku

Kamis, 30 November 2017 | 16.00 | Lewat Sepertiga Malam

Kamis, 30 November 2017 | 17.30 | Maryam

Kamis, 30 November 2017 | 19.00 | Demi Ucok

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.00 | Kebaya Pengantin

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.00 | Nokas

Senin, 4 Desember 2017 | 16.00 | Buang

Senin, 4 Desember 2017 | 17.30 | Raga Te Anak

Senin, 4 Desember 2017 | 19.00 | HUsH

.............................................................
Paviliun 28

Senin, 27 November 2017 | 18.30 | Purnama Di Pesisir

Senin, 27 November 2017 | 20.00 | 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Selasa, 28 November 2017 | 18.30 | Pertanyaan untuk Bapak

Selasa, 28 November 2017 | 20.00 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Minggu, 3 Desember 2017 | 17.00 | Guk

Minggu, 3 Desember 2017 | 18.30 | Langit Masih Gemuruh

Minggu, 3 Desember 2017 | 20.00 | The Window

Senin, 4 Desember 2017 | 18.30 | On Friday Noon

Senin, 4 Desember 2017 | 20.00 | Madame X

Selasa, 5 Desember 2017 | 18.30 | Mengusahakan Cinta

Selasa, 5 Desember 2017 | 20.00 | Di Balik Frekuensi

.............................................................

Art Society

Senin, 27 November 2017 | 18.00 | Angka Jadi Suara

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Madame X

Selasa, 28 November 2017 | 18.00 | Maryam

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | HUsH

Rabu, 29 November 2017 | 18.00 | Waiting Room

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | Nay

Kamis, 30 November 2017 | 18.00 | Guk

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | Masih Ada Asa

Jumat, 1 Desember 2017 | 18.00 | Perempuan Kisah Dalam guntingan

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Perempuan Punya Cerita

Sabtu, 2 Desember 2017 | 17.00 | Nay

Sabtu, 2 Desember 2017 | 20.00 | Ca Bau Kan

Senin, 4 Desember 2017 | 18.00 | Kebaya Pengantin

Senin, 4 Desember 2017 | 19.30 | Demi Ucok

Selasa, 5 Desember 2017 | 18.00 | Lanang

Selasa, 5 Desember 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Rabu, 6 Desember 2017 | 17.00 | Pertanyaan untuk Bapak

Rabu, 6 Desember 2017 | 19.30 | Nokas

Kamis, 7 Desember 2017 | 18.00 | Langit Masih Gemuruh

Kamis, 7 Desember 2017 | 19.30 | Di Balik Frekuensi

Jumat, 8 Desember 2017 | 18.00 | On Friday Noon

Jumat, 8 Desember 2017 | 19.30 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Sabtu, 9 Desember 2017 | 17.00 | Selamat Pagi, Malam

Sabtu, 9 Desember 2017 | 20.00 | Kisah 3 Titik
.............................................................

CineSpace

Minggu, 26 November 2017 | 14.30 | Madame X

Minggu, 26 November 2017 | 17.00 | Kisah 3 Titik

Minggu, 26 November 2017 | 19.30 | Selamat Pagi, Malam

Senin, 27 November 2017 | 17.00 | Mengusahakan Cinta

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Di Balik Frekuensi

Selasa, 28 November 2017 | 17.00 | Perempuan Punya Cerita

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | Perempuan Kisah dalam Guntingan

Rabu, 29 November 2017 | 17.00 | Angka Jadi Suara

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | On Friday Noon

Kamis, 30 November 2017 | 17.00 | Langit Maish Gemuruh

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | The Window

Jumat, 1 Desember 2017 | 17.00 | Kebaya Pengantin

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Nokas

Sabtu, 2 Desember 2017 | 14.30 | Guk

Sabtu, 2 Desember 2017 | 17.00 | Buang

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.30 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Minggu, 3 Desember 2017 | 17.00 | Pertanyaan untuk Bapak

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.30 | Salawaku

Senin, 4 Desember 2017 | 17.00 | Maryam

Senin, 4 Desember 2017 | 19.30 | 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Selasa, 5 Desember 2017 | 17.00 | Lewat Sepertiga Malam

Selasa, 5 Desember 2017 | 19.30 | Demi Ucok

Rabu, 6 Desember 2017 | 17.00 | Raga Te Anak

Rabu, 6 Desember 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Kamis, 7 Desember 2017 | 17.00 | Purnama Di Pesisir

Kamis, 7 Desember 2017 | 19.30 | Nay

Jumat, 8 Desember 2017 | 17.00 | Waiting Room

Jumat, 8 Desember 2017 | 18.30 | Masih Ada Asa

Sabtu, 9 Desember 2017 | 14.00 | Ca Bau Kan

Sabtu, 9 Desember 2017 | 17.00 | Lanang

Sabtu, 9 Desember 2017 | 19.30 | Calalai


JADAWAL PEMUTARAN MITRA FESTIVAL LUAR JAKARTA

1. Kota Bengkulu

Oleh : Yayasan PUPA

6 Desember 2017 | Purnama di Pesisir & Nay

2. Kota Jambi

Oleh : PKBI Jambi & Sikok Jambi

5 Desember 2017 | Langit Masih Gemuruh & The Window

29 November 2017 | Maryam & 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

3. Kota Bandar Lampung

Oleh : PKBI Lampung

29 November 2017 | Perempuan Punya Cerita

4. Kota Depok

Oleh : BEM FH UI

Desember 2017 | hUSh

5. Kota Bandung

Oleh : @LayarKita & JAKATARUB

4 Desember 2017 | Guk, Buang & The Sun The Moon & The Hurricane

6. Kota Yogyakarta

Oleh : PKBI DIY, Rifka Annisa & CD Bethesda Yogyakarta

27 November 2017 | Pertanyaan untuk Bapak

2 Desember 2017 | Salawaku

27 November 2017 | Ragat’e Anak & Tanah Mama

2 Desember | Waiting Room & Masih Ada Asa

7. Kota Semarang

Oleh : PKBI Jawa Tengah

6 Desember 2017| Perempuan Punya Cerita & Perempuan Kisah dalam Guntingan

8. Kota Surabaya

Oleh : PKBI Jawa Timur

27 November 2017 | Lewat Sepertiga Malam & Selamat Pagi Malam

9. Kota Denpasar

Oleh : LBH Bali, PKBI Bali & Taman Baca Kasiman

2 Desember 2017 | Angka Jadi Suara & Ca Bau Kan

3 Desember 2017 | Tanah Mama

6 Desember 2017 | Pertanyaan untuk Bapak & Kebaya Pengantin

8 Desember 2017 | Kisah 3 Titik

9 Desember 2017 | Madame X & On Friday Noon

10 Desember 2017| Perempuan Punya Cerita


10. Kota Makassar

Oleh : Aliansi Remaja Independen (ARI) Sulsel


9 Desember 2017 | Kebaya Pengantin & Nokas

Oleh : Komunitas Sehati Makassar

26 November 2017 | Calalai in-betweness

11. Kabupaten Keerom

Oleh : PKBI Papua

2 Desember 2017 | Perempuan Punya Cerita
Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.



Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Berlari bersama merupakan salah satu cara untuk mengajak. Kali ini, berlari untuk melawan kekerasan seksual.

Ajakan bersama ini dilakukan oleh sejumlah jaringan masyarakat sipil untuk perempuan yang tergabung dalam aksi “Gerak Bersama” dan LSM Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kegiatan Fun Run bertajuk “FightBack Run” #GerakBersama #AgainstSexualViolence ini dilakukan pada Minggu, 26 November 2017 kemarin di Jakarta.


Kegiatan ini bertujuan untuk menggalang dukungan masyarakat luas untuk bersama-sama mendesak pemerintah mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual. Ini dilakukan agar kebutuhan korban untuk mengakses keadilan dan pemulihan dapat segera terwujud. Bersamaan dengan hal tersebut, para peserta lari kemudian akan diajak untuk berdonasi kepada Pundi Perempuan.


“Kegiatan ini digagas oleh Indonesia untuk Kemanusiaan sebagai organisasi pengelola Pundi Perempuan. Didasari fakta bahwa banyak korban belum tertangani karena terbatasnya pendanaan pendampingan korban kekerasan.” Kata Anik Wusari, Direktur Eksekutif IKa.


Maka berlari juga merupakan salah satu cara untuk untuk menggalang dana hibah pundi perempuan dan menjadi bagian dari gerakan sosial. Fun Run adalah salah satu media yang dipilih pada tahun ini untuk mengkombinasikan kampanye 16 hari, dukungan pada 16 RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan penggalangan dana.

"Kami berharap untuk memperjuangkan perempuan dan dilakukan secara meluas dan bersama-sama," kata Anik Wusari.


Menteri Agama, Lukman Saifuddin hadir dalam acara ini, juga band Shymphoni dan sejumlah artis turut berpartisipasi dalam acara ini, Dimas beck, Lala Karmela dan Nova Eliza. Ketiganya akan meneruskan penggalangan dana ini melalui website www.kitabisa.com hingga 30 Desember 2017.


(Menteri Agama, Lukman Saifuddin dan sejumlah artis turut berpartisipasi yang dalam acara ini, Dimas beck, Lala Karmela dan Nova Eliza: Foto/ Dokumen FightBack Run)


Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.


Berpartisipasi sebagai salah satu dari 16 ambassador 16 Hari Film Festival yang diadakan kerjasama jaringan masyarakat sipil #GerakBersama, Komnas Perempuan, The Body Shop, Aliansi Satu Visi (ASV), AMARTHAaid, CineSpace, Art Society, Paviliun 28, Galeri Indonesia Kaya (GIK), KineForum dimana www.konde.co terlibat di dalamnya menjadikan artis Chelsea Islan sebagai salah satu artis yang ikut berkampanye menolak kekerasan terhadap perempuan.

"Tumbuh dalam keluarga yang menghargai keterbukaan dan keragaman membuka mata saya bahwa di luar sana banyak sekali keterbatasan bersuara terutama mengenai hal yang menyangkut masalah sosial. Berkesempatan menjalani passion saya dalam berakting dan menjadi seorang aktris memberi saya peluang untuk menyuarakan kepedulian saya terhadap isu-isu sosial yang terjadi di sekitar kita.Untuk itu saya mendukung kampanye penghapusan kekerasan berbasis gender & seksual lewat kampanye global #16DaysofActivism yang dikenal di Indonesia sebagai #16HAKTP dengan agendanya #EnamBelasFFest @enambelasffest."

Kalian juga bisa, menyatakan kepedulian. Ayo #GerakBersama #HapusKekerasanSeksual melalui #EnamBelasFFest #WomenEmpowerment #KesetaraanGender 💜.

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Para buruh perempuan datang ke balaikota DKI Jakarta, tepat di hari anti kekerasan terhadap perempuan. Mereka menuntut upah padat karya. Peringatan ini digelar pada 25 November setiap tahunnya untuk mengingatkan pentingnya menghapus kekerasan pada perempuan. Buruh menganggap upah padat karya merupakan bentuk kekerasan sistemis pada perempuan.

Penolakan itu diwujudkan dalam aksi unjuk rasa tersebut untuk menolak upah murah. Peraturan upah padat karya di empat kabupaten/kota di Jawa Barat memungkinkan pengusaha membayar upah buruh hingga Rp 600 ribu lebih murah dari upah minimum. Berdasarkan Permenperin 51/2013 menetapkan upah padat karya diperuntukan bagi industri makanan, minuman, tembakau, tekstil, pakaian jadi, kulit, alas kaki, mainan anak, dan furnitur dengan buruh lebih 200 dan komponen upah lebih 15 persen

Para buruh tersebut berasal dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Kelompok Kerja Buruh Perempuan, Federasi Serikat Umum Indonesia, Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (Jala PRT), Perempuan Mahardhika, Gabungan Serikat Buruh Mandiri, dan SBSI92.

Ketua Bidang Perempuan KPBI Dian Septi menekankan buruh menolak Upah Padat Karya karena menganggapnya sebagai bentuk dukungan negara untuk pemiskinan sistematis, terutama pada perempuan.

“Mayoritas buruh di sektor padat karya merupakan perempuan,” jelasnya. Alhasil, buruh perempuan menjadi korban utama dari pemiskinan dengan alasan “untuk investasi ini.”

Dukungan politik pada upah murah itu bahkan muncul dari pucuk pimpinan pemerintahan.

“Tidak tanggung-tanggung, rapat pemutusan UPK ini langsung dikoordinasikan oleh Wapres JK dan Gubernur Jawa Barat,” kata Ketua Umum KPBI Ilhamsyah.

Selain itu, turut disesalkan juga adanya kelompok buruh yang memberi legitimasi pada penerapan upah padat karya.

Ilhamsyah menganggap penetapan Upah Padat Karya bertentangan dengan Undang-undang. Undang-undang 13/2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 90 sudah menegaskan sanksi hingga 4 tahun dan denda hingga 400 juta bagi yang membayar buruh di bawah upah minimum.

Aksi ini juga untuk mengingatkan bahwa ke depannya penerapan upah murah bisa terjadi tidak hanya di Jawa Barat. Upah murah bisa diterapkan lintas sektor dan provinsi dengan alasan yang mengada-ada untuk kepentingan pemilik modal.

Di Bojonegoro, buruh bahkan mesti mendapat imbalan jauh dari layak berupa Upah Umum Pedesaan sebesar Rp 1,050 juta atau lebih rendah 500 ribu dari UMP.
“Ini bentuk kongkrit dari politik upah murah yang terus dijalani pemerintah dalam melayani dan mengikuti keinginan pemilik modal,” katanya.

Perwakilan Pokja Buruh Perempuan dari FSUI Ajeng Pangesti Anggriani menyebutkan bahwa Jakarta sangat berpeluang menjadi sasaran berikutnya.

“Kalau berhasil di Jawa Barat, saya yakin akan diterapkan di Jakarta. Buruh akan ditakut-takuti dengan banyaknya pabrik yang pindah ke daerah,” kata Ajeng.

Ia menjelaskan pengusaha saat ini terus meneror buruh-buruh perempuan di sektor padat karya di Jakarta.

“Sampai-sampai tidak istirahat makan mengejar target. Ini menjadi kesempatan pengusaha menerapkan upah padat karya,” imbuh pekerja di KBN Cakung ini.

Selain itu, wilayah-wilayah lain tempat sasaran relokasi pabrik seperti Jawa Tengah juga berpeluang menerapkan ini jika tidak segera dibendung. “Pemimpin daerah seakan-akan sedang bersaing daerahnya punya upah buruh lebih murah. Sudah terjadi,” jelasnya. Sementara, upah minimum di Jawa Tengah sudah tergolong rendah yaitu Rp 1,48 juta.

Buruh juga terus memprotes penerapan PP Pengupahan 78/2015 untuk menentukan besaran upah minimum. Buruh menolak PP Pengupahan untuk segera dicabut. Selain menghilangkan hak berunding buruh, produk hukum itu memangkas daya beli buruh dan bertentangan dengan Undang-undang 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Undang-undang tersebut mewajibkan penentuan upah berdasarkan survey Komponen Hidup Layak, bukan berdasarkan inflasi nasional dan pertumbuhan ekonomi.

Setiap tahunnya, pada 25 November- 10 Desember Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.



Kustiah- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- EnamBelas Film Festival atau 16FF dibuka di SAE Institute Jakarta, pada Sabtu 25 November 2017. Pemutaran ini sebagai penanda dimulainya kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan.

Pengagas acara 16 FF, Nia Dinata dan Lini Zurlia menyatakan bahwa melalui 16FF akan mengajak semua pihak untuk menyeru sumpah secara bersama-sama mengambil andil dalam menghentikan kekerasan berbasis gender dan seksual.

“Dan sudah seharusnya hidup dengan penuh rasa aman dan damai adalah kehidupan yang sama-sama kita cita-citakan. Mengutip Lukman Sardi ‘Manusia lahir dari perwujudan cinta dan cinta itu tidak mengenal kekerasan. jadi apakah kita manusia kalo masih melakukan kekerasan? End This!,” kata Nia Dinata.

Salah satu artis, Happy Salma juga menyampaikan nada serupa, "Bila dalam situasi hidup mampu berdamai dan penuh kasih, tentu kekerasan dan kesakitan bukanlah pilihan".

Untuk itu 16FF mengajak semua pihak untuk menyeru 16 Sumpah Hapus Kekerasan berbasis Gender dan Seksual (16 Pledges of END THIS!).

Mari:
1. Menyadari bahwa kehidupan di muka bumi beragam
2. Menerima fakta atas keberagaman dalam kehidupan
3. Mengedepankan cinta kasih seluruh makhluk hidup tanpa pandang bulu
4. Menghargai perbedaan setiap identitas manusia
5. Mencegah tindakan kekerasan terhadap siapapun
6. Memberikan ruang aman dan nyaman bagi sesama manusia
7. Mendorong negara untuk memastikan tersedianya ruang aman tanpa ancaman bagi seluruh warganegara
8. Menolak untuk hidup menggunakan ancaman, penghakiman, kekerasan, bullying, dan provokasi
9. Mengajak publik untuk tidak menjadi berang dan penuh penghakiman
10. Memelihara keberagaman dengan keterbukaan dan ;
11. Tidak menjadi pelaku kekerasan berbasis identitas ras & kelas
12. Tidak menjadi pelaku kekerasan berbasis identitas politik
13. Tidak menjadi pelaku kekerasan berbasis identitas agama
14. Tidak menjadi pelaku kekerasan berbasis identitas gender
15. Tidak menjadi pelaku kekerasan berbasis identitas seksual
16. Membangun kerja #GerakBersama mengakhiri dan menghapus kekerasan apapun bentuknya!

“Festival ini bertujuan untuk menggaet publik yang lebih luas, utamanya anak muda. Ada banyak film lama yang mengulas tentang kekerasan seksual dimana mungkin waktu pembuatannya anak-anak muda ini belum lahir, namun filmnya masih relevan hingga situasi hari Sumpah ini adalah sumpah yang menjadi komitmen bersama mulai dari sekarang untuk selama-lamanya. Momentum 16FF adalah momen untuk meneguhkan diri,” kata Lini Zurlia.

16FF ini juga dikampanyekan bersama oleh 16 Volunteer Ambasador yang terdiri antaralain sejumlah artis antaralain: Ananda Sukarlan, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan, Chicco Kurniawan, Hannah Al Rashid, Happy Salma, Karina Salim, Lukman Sardi, Putri Ayudya, Refal Hady, Reza Rahadian, Richard Kyle, Rio Dewanto, Tara Basro, Tatyana Akman, Vivi Yip.

Sedangkan 16 film yang akan diputar selama 16 hari anti kekerasan antaralain:

16 Film Panjang dengan jadwal:

JADWAL PEMUTARAN FILM JAKARTA

Kineforum:
Senin, 27 November 2017 | 18.00 | Buang

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Masih Ada Asa

Selasa, 28 November 2017 | 18.00 | Calalai

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Rabu, 29 November 2017 | 18.00 | Perempuan Kisah dalam Guntingan

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | Perempuan Punya Cerita

Kamis, 30 November 2017 | 18.00 | Raga Te Anak

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | Ca Bau Kan

Jumat, 1 Desember 2017 | 18.00 | Purnama di Pesisir

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Salawaku

Sabtu, 2 Desember 2017 | 14.00 | Lewat Sepertiga Malam

Sabtu, 2 Desember 2017 | 15.30 | The Window

Sabtu, 2 Desember 2017 | 18.00 | Waiting Room

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.30 | Selamat Pagi, Malam

Minggu, 3 Desember 2017 | 14.00 | Angka Jadi Suara

Minggu, 3 Desember 2017 | 15.30 | Kisah Tiga Titik

Minggu, 3 Desember 2017 | 18.00 | Mengusahakan Cinta

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.30 | 7 Hari 7 Cinta 7 Wanita
.............................................................

Grand Indonesia Kaya

Senin, 27 November 2017 | 16.00 | Lanang

Senin, 27 November 2017 | 17.30 | Calalai

Senin, 27 November 2017 | 19.00 | Salawaku

Kamis, 30 November 2017 | 16.00 | Lewat Sepertiga Malam

Kamis, 30 November 2017 | 17.30 | Maryam

Kamis, 30 November 2017 | 19.00 | Demi Ucok

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.00 | Kebaya Pengantin

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.00 | Nokas

Senin, 4 Desember 2017 | 16.00 | Buang

Senin, 4 Desember 2017 | 17.30 | Raga Te Anak

Senin, 4 Desember 2017 | 19.00 | HUsH

.............................................................
Paviliun 28

Senin, 27 November 2017 | 18.30 | Purnama Di Pesisir

Senin, 27 November 2017 | 20.00 | 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Selasa, 28 November 2017 | 18.30 | Pertanyaan untuk Bapak

Selasa, 28 November 2017 | 20.00 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Minggu, 3 Desember 2017 | 17.00 | Guk

Minggu, 3 Desember 2017 | 18.30 | Langit Masih Gemuruh

Minggu, 3 Desember 2017 | 20.00 | The Window

Senin, 4 Desember 2017 | 18.30 | On Friday Noon

Senin, 4 Desember 2017 | 20.00 | Madame X

Selasa, 5 Desember 2017 | 18.30 | Mengusahakan Cinta

Selasa, 5 Desember 2017 | 20.00 | Di Balik Frekuensi

.............................................................

Art Society

Senin, 27 November 2017 | 18.00 | Angka Jadi Suara

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Madame X

Selasa, 28 November 2017 | 18.00 | Maryam

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | HUsH

Rabu, 29 November 2017 | 18.00 | Waiting Room

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | Nay

Kamis, 30 November 2017 | 18.00 | Guk

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | Masih Ada Asa

Jumat, 1 Desember 2017 | 18.00 | Perempuan Kisah Dalam guntingan

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Perempuan Punya Cerita

Sabtu, 2 Desember 2017 | 17.00 | Nay

Sabtu, 2 Desember 2017 | 20.00 | Ca Bau Kan

Senin, 4 Desember 2017 | 18.00 | Kebaya Pengantin

Senin, 4 Desember 2017 | 19.30 | Demi Ucok

Selasa, 5 Desember 2017 | 18.00 | Lanang

Selasa, 5 Desember 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Rabu, 6 Desember 2017 | 17.00 | Pertanyaan untuk Bapak

Rabu, 6 Desember 2017 | 19.30 | Nokas

Kamis, 7 Desember 2017 | 18.00 | Langit Masih Gemuruh

Kamis, 7 Desember 2017 | 19.30 | Di Balik Frekuensi

Jumat, 8 Desember 2017 | 18.00 | On Friday Noon

Jumat, 8 Desember 2017 | 19.30 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Sabtu, 9 Desember 2017 | 17.00 | Selamat Pagi, Malam

Sabtu, 9 Desember 2017 | 20.00 | Kisah 3 Titik
.............................................................

CineSpace

Minggu, 26 November 2017 | 14.30 | Madame X

Minggu, 26 November 2017 | 17.00 | Kisah 3 Titik

Minggu, 26 November 2017 | 19.30 | Selamat Pagi, Malam

Senin, 27 November 2017 | 17.00 | Mengusahakan Cinta

Senin, 27 November 2017 | 19.30 | Di Balik Frekuensi

Selasa, 28 November 2017 | 17.00 | Perempuan Punya Cerita

Selasa, 28 November 2017 | 19.30 | Perempuan Kisah dalam Guntingan

Rabu, 29 November 2017 | 17.00 | Angka Jadi Suara

Rabu, 29 November 2017 | 19.30 | On Friday Noon

Kamis, 30 November 2017 | 17.00 | Langit Maish Gemuruh

Kamis, 30 November 2017 | 19.30 | The Window

Jumat, 1 Desember 2017 | 17.00 | Kebaya Pengantin

Jumat, 1 Desember 2017 | 19.30 | Nokas

Sabtu, 2 Desember 2017 | 14.30 | Guk

Sabtu, 2 Desember 2017 | 17.00 | Buang

Sabtu, 2 Desember 2017 | 19.30 | The Sun, The Moon & The Hurricane

Minggu, 3 Desember 2017 | 17.00 | Pertanyaan untuk Bapak

Minggu, 3 Desember 2017 | 19.30 | Salawaku

Senin, 4 Desember 2017 | 17.00 | Maryam

Senin, 4 Desember 2017 | 19.30 | 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Selasa, 5 Desember 2017 | 17.00 | Lewat Sepertiga Malam

Selasa, 5 Desember 2017 | 19.30 | Demi Ucok

Rabu, 6 Desember 2017 | 17.00 | Raga Te Anak

Rabu, 6 Desember 2017 | 19.30 | Tanah Mama

Kamis, 7 Desember 2017 | 17.00 | Purnama Di Pesisir

Kamis, 7 Desember 2017 | 19.30 | Nay

Jumat, 8 Desember 2017 | 17.00 | Waiting Room

Jumat, 8 Desember 2017 | 18.30 | Masih Ada Asa

Sabtu, 9 Desember 2017 | 14.00 | Ca Bau Kan

Sabtu, 9 Desember 2017 | 17.00 | Lanang

Sabtu, 9 Desember 2017 | 19.30 | Calalai

JADAWAL PEMUTARAN MITRA FESTIVAL LUAR JAKARTA

1. Kota Bengkulu
Oleh : Yayasan PUPA

6 Desember 2017 | Purnama di Pesisir & Nay

2. Kota Jambi
Oleh : PKBI Jambi & Sikok Jambi

5 Desember 2017 | Langit Masih Gemuruh & The Window
29 November 2017 | Maryam & 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

3. Kota Bandar Lampung
Oleh : PKBI Lampung

29 November 2017 | Perempuan Punya Cerita

4. Kota Depok

Oleh : BEM FH UI
Desember 2017 | hUSh

5. Kota Bandung
Oleh : @LayarKita & JAKATARUB

4 Desember 2017 | Guk, Buang & The Sun The Moon & The Hurricane

6. Kota Yogyakarta
Oleh : PKBI DIY, Rifka Annisa & CD Bethesda Yogyakarta

27 November 2017 | Pertanyaan untuk Bapak

2 Desember 2017 | Salawaku

27 November 2017 | Ragat’e Anak & Tanah Mama

2 Desember | Waiting Room & Masih Ada Asa

7. Kota Semarang
Oleh : PKBI Jawa Tengah

6 Desember 2017| Perempuan Punya Cerita & Perempuan Kisah dalam Guntingan

8. Kota Surabaya
Oleh : PKBI Jawa Timur

27 November 2017 | Lewat Sepertiga Malam & Selamat Pagi Malam

9. Kota Denpasar
Oleh : LBH Bali, PKBI Bali & Taman Baca Kasiman

2 Desember 2017 | Angka Jadi Suara & Ca Bau Kan

3 Desember 2017 | Tanah Mama

6 Desember 2017 | Pertanyaan untuk Bapak & Kebaya Pengantin

8 Desember 2017 | Kisah 3 Titik

9 Desember 2017 | Madame X & On Friday Noon

10 Desember 2017| Perempuan Punya Cerita


10. Kota Makassar
Oleh : Aliansi Remaja Independen (ARI) Sulsel

9 Desember 2017 | Kebaya Pengantin & Nokas
Oleh : Komunitas Sehati Makassar

26 November 2017 | Calalai in-betweness

11. Kabupaten Keerom
Oleh : PKBI Papua

2 Desember 2017 | Perempuan Punya Cerita


(Deklarasi 16 Sumpah Hapus Kekerasan Gender dan Seksual di Jakarta/ Foto: Luviana)


Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.


Luviana – www.konde.co

Tiga perempuan Mirabal adalah sebuah tonggak. Tonggak, sebuah simbol dari para perempuan yang berani untuk melawan. Atas kediktatoran yang terjadi pada rakyat, atas kesewenang-wenangan yang terjadi pada Dominika kala itu.

Sejak 25 November di tahun 1960 tepat di hari kematian para perempuan keluarga Mirabal, seluruh dunia kemudian memperingati setiap tanggal 25 November sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan. Di hari ini kita juga memperingati kematian dan darah pengorbanan Mirabal. Darah Mirabal adalah penyambung kisah-kisah kekerasan perempuan yang terjadi dari dulu hingga kini.


Insiden Pembunuhan


Malam itu, 25 November 1960, Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal sedang dalam perjalanan menuju Puerro Plata. Mereka akan menuju sebuah penjara dimana suami Patria dan Minerva ditahan di penjara La Cuarenta.

Namun mobil Jeep yang mereka tumpangi dihentikan paksa oleh antek-antek Trujillo. Saat itulah terjadi pembunuhan atas ketiganya.

Karena kekejaman yang terjadi, warga Dominika kemudian memperingati hari ini sebagai hari penyiksaan terhadap perempuan. PBB selanjutnya menetapkan tanggal 25 November sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan.


Gerakan Mirabal

Minerva, Maria dan Patria terlahir dari keluarga petani yang berpikiran maju. Ibu mereka, Marcedes Reyes merupakan perempuan buta huruf. Dari sinilah, ia kemudian berpikir bahwa anak-anak perempuan mereka harus sekolah dan berpendidikan tinggi, ia tak mau mereka mempunyai nasib sama seperti dirinya.

Minerva disebut sebagai perempuan paling pemberani di keluarga ini. Semenjak remaja, ia beberapakali berhadapan langsung dengan diktator. Ia juga menjadi pelopor gerakan bawah tanah yang kemudian disebut “The movement of the Fourteenth of June” yang menentang kediktatoran Trujillo.

Minerva, Maria dan Patria kemudian juga terlibat dalam gerakan revolusioner bawah tanah di Republik Dominika. Gerakan Mirabal bersaudara ini merupakan perlawanan terhadap rezim diktator Rafael Trujllo (1930-1961) yang menebarkan rasa takut, kebencian, kediktatoran diantara rakyat Republik Dominika kala itu.

Trujillo menjadi presiden di Dominika pada tahun 1930-1938, 1942-1952, dan kemudian meneruskan pemerintahan secara diktator dan menghabisi siapa saja yang menentang dirinya. Selama lebih dari 30 tahun memerintah, rezim Trujillo menghabisi 50.000 bangsa Haiti dan Dominikan.

Pada tanggal 14 Juni 1960 , Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal bergabung dengan Gerakan 14 Juni yang diketuai oleh Manolo. Mereka bertiga kemudian dikenal sebagai para kupu-kupu Dominika, ini sebagai sebuah simbol keikutsertaan aktif mereka bersama kaum buruh disana kala itu.

Gerakan revolusi ini pada akhirnya bocor ke telinga pemerintah rezim Rafael Trujllo, hingga berujung pada penangkapan dan penahanan para aktivis ke penjara yang memiliki fasilitas penyiksaan paling lengkap di Republik Dominika.

Penangkapan dan penyiksaan kepada para aktivis muda ini menyulut kemarahan rakyat Republik Dominika. Mereka menuntut pembebasan para tahanan politik. Dunia Internasional juga menyampaikan kecaman-kecaman keras. Karena tekanan bertubi-tubi inilah Trujillo kemudian membebaskan para tahanan perempuan.

Gerakan melawan rezim semakin meluas di kalangan rakyat. Trujillo menaruh dendam pada Minerva Mirabal dan berniat membunuh Minerva Mirabal bersaudara.

Malam itu, 25 November 1960, Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal yang sedang dalam perjalanan menuju Puerro Plata tempat suami Patria dan Minerva ditahan di penjara La Cuarenta. Jeep yang mereka tumpangi dihentikan paksa oleh antek-antek Trujillo. Saat itulah terjadi pembunuhan atas ketiganya.

Jenazah Mirabal bersaudara dikumpulkan di sepanjang sisi jalan mendaki antara Puerto Plata dan Santiago. Mobil Jeep mereka sendiri didorong ke dalam jurang, untuk membuatnya seakan-akan sebagai sebuah kecelakaan. Waktu tragedi pembunuhan itu terjadi, Patria masih berusia 36 tahun, Minerva berusia 34 tahun, dan Maria Teresa yang paling termuda berusia 24 tahun.

Mirabal bersaudara menjadi simbol perjuangan kaum feminis paling popular di negeri-negeri Amerika Latin. Kisah Mirabal bersaudara dimasukkan ke dalam buku-buku teks pelajaran sejarah di Dominika.

Pada 25 November 1981, kemudian dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama. PBB kemudian menyatakan 25 November sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia.

Dan kini, darah perjuangan Mirabal merupakan penyambung bagi perempuan-perempuan korban di seluruh dunia yang berani untuk melawan.


Sumber:
1. http://www.kanisiusmedia.com/inspirasi/grid/471
2. http://my-classic-books.blogspot.co.id/2012/11/facts-behind-mirabal-sisters.html
(Tiga perempuan Mirabal/ Foto: House of Question)

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.do – Bagaimana cara meningkatkan partisipasi perempuan? Apalagi yang dilakukan adalah meningkatkan partisipasi perempuan dalam politik lokal.

Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. Namun, perempuan dan anak perempuan secara signifikan tetap terpinggirkan karena upaya yang terbatas untuk membela hak dan kebutuhan mereka.

Apalagi saat ini Indonesia adalah negara dengan rasio kematian ibu hamil tertinggi di Asia Tenggara, dengan 125 kematian ibu dari setiap 100.000 persalinan. Kejadian kematian ibu secara signifikan terkait dengan akses perempuan terhadap layanan kesehatan reproduksi.

Bagi perempuan, ini artinya mereka harus dilibatkan dalam ruang politik dan ruang kewarganegaraan agar perempuan dapat melakukan advokasi untuk layanan kesehatan reproduksi yang dibutuhkan.

Global Affairs Canada dan Oxfam baru-baru ini meluncurkan PowerUp, sebuah platform atau aplikasi untuk memperkuat partisipasi perempuan dengan teknologi. PowerUp dirancang untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan lokal, dan meningkatkan akses perempuan terhadap layanan kesehatan.

Program ini berfokus pada penggunaan teknologi agar perempuan sebagai individu dan kolektif dapat melakukan aksi sebagai warganegara bersama-sama. Dengan akses teknologi maka diharapkan dapat meningkatkan layanan kesehatan yang memadai.Program juga menargetkan 12.000 perempuan dan laki-laki yang tinggal di 52 desa terletak di empat kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Ini kesempatan yang baik bagi keterlibatan perempuan dan kelompok perempuan untuk mengungkapkan opini mereka secara strategis dan praktis di desa,” kata Siti Rohana, seorang fasilitator pendamping warga desa dari Lombok Utara.

Perempuan yang berperan memegang kendali dan dapat bertindak bersama adalah kekuatan penentu yang dapat mengatasi ketimpangan dan mengakhiri kemiskinan.

PowerUp berupaya agar semakin banyak perempuan terlibat dalam pengambilan keputusan. Meskipun telah ada kuota pemerintah untuk partisipasi perempuan dalam politik dan upaya berkelanjutan untuk memperkuat partisipasi masyarakat sipil, masih banyak hal yang mesti dilakukan.

Di seluruh Indonesia, partisipasi perempuan dalam arena pengambilan keputusan sangat rendah.

PowerUp akan dilaksanakan di empat kabupaten yang memiliki angka kematian ibu hamil tertinggi dan angka partisipasi politik perempuan yang rendah (4-15 persen).
Untuk tiga tahun ke depan Oxfam bersama mitra lokal dan kelompok perempuan akan bekerja sama melibatkan lebih banyak perempuan untuk berpartisipasi dalam politik local seperti Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Koslata, Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Partisipasi (Konsepsi) dan Koalisi Perempuan Indonesia (KPI).

"PowerUp bertujuan memperbaiki kehidupan perempuan dan anak perempuan dengan tiga cara: memberdayakan perempuan untuk berpartisipasi dalam demokrasi lokal, meningkatkan akses perempuan terhadap layanan kesehatan yang penting, dan dapat menyumbang mengembangkan literasi digital bagi kaum perempuan," kata Julie Delahanty, Direktur Eksekutif Oxfam Canada.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Achmad Muchtar- www.Konde.co

Judul film: Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak | Durasi: 93 menit | Sutradara: Mouly Surya | Pemain: Marsha Timothy, Egi Fedly, Dea Panendra, Yoga Pratama | Produksi: Cinesurya, Kaninga Pictures, Shasha&Co., Astro Shaw | Tahun: 2017

PERJUANGAN orang-orang marginal atau terpinggirkan selalu mencuri perhatian. Biasanya mereka digambarkan tidak berdaya atas struktur sosial yang mengungkungnya. Seolah menjadi manusia yang serba salah pun dapat menjadi drama yang menyedihkan.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak bertutur mengenai manusia marginal, yaitu perempuan, yang seolah menjadi kelompok yang harus kalah dalam kungkungan kultur sosialnya. Seolah sejak lahir, perempuan harus menjalankan kodratnya seperti itu. Harus menerima segalanya seperti itu.

Dalam Marlina, Mouly Surya ingin menggugat mengenai ketidakadilan gender yang seperti itu. Yang sangat merugikan bagi dirinya sebagai perempuan.

Sejak menit-menit awal, Marlina menyuguhkan keadaan Sumba yang kelihatannya indah karena bentangan alamnya yang luas bak daerah di Texas, Amerika Serikat, tetapi sebenarnya kering kerontang. Jarak antar-rumahnya sangat jauh sehingga di suatu bentangan sabana yang luas, tak mengherankan jika hanya terdapat satu rumah mungil.

Hal itulah yang membuat Marlina (Marsha Timothy), seorang janda yang baru saja ditinggal mati oleh suami, tak bisa berkutik ketika kepala perampok, Markus (Egi Fedly), berencana merampok dan memerkosanya secara terang-terangan. Markus tiba-tiba saja masuk sebagai tamu tak diundang.

Hal ini seolah menggambarkan bahwa dalam dunia patriarkal, laki-laki bebas menjamah perempuan. Sebagai tamu, Markus bebas meminta hidangan karena ia menyebutkan dirinya sebagai tamu. Dalam kultur di Indonesia, khususnya, tamu adalah raja. Mereka harus diperlakukan sebaik mungkin. Karena hal itulah, sebagai sosok perempuan, yang sejatinya harus bisa masak sebagai kodratnya melayani laki-laki,

Marlina tidak menolak ketika Markus menginginkan dibuatkan makan malam berupa sop ayam. Apalagi ketika Markus berkata bahwa, ia tak sendirian karena ada enam perampok lagi yang akan datang. Pun juga ketika Markus berkata bahwa ia akan memerkosanya, Marlina seolah tak berdaya. Marlina bisa saja lari, tetapi hal itu urung dilakukan mengingat walaupun bentangan alam di luar sangat luas, tetapi sebenarnya itu mengimpit.

Jika saja Marlina lari untuk menghindari perkosaan terhadap dirinya, ia tidak bisa lari jauh karena sudah pasti Markus dan kawan-kawannya bisa dengan cepat mengejarnya. Apalagi transportasi di daerah itu minim sekali. Digambarkan dengan orang-orang menunggu truk yang lewat di adegan-adegan film Marlina ini. Salah satu cara yang tepat untuk menghindari perkosaan terhadap dirinya adalah meracuni mereka.


Marlina tahu, sebagai janda yang tinggal sendirian di sebuah rumah, ia tidak mungkin terbebas dari bahaya. Makanya, buah saga sebagai racun pun sudah ia siapkan di lemari rias di kamarnya. Empat perampok datang menunggu hidangan makan malam di ruang tamu, yang juga terdapat mumi suami Marlina. Markus masuk kamar Marlina. Sebagai kepala perampok, ia ingin dilayani secara istimewa.

Dengan sungguh-sungguh, Marlina menyiapkan hidangan makan malam. Saat ia memasak, dua perampok datang lagi, mencuri hewan-hewan ternaknya, berupa sapi, babi, dan ayaam. Mereka mengangkutnya entah ke mana. Marlina tetap saja pasrah. Hingga tinggal lima orang saja yang ada di rumah Marlina.

Empat orang di ruang tamu sudah berhasil diracuni, sedangkan Markus belum berhasil diracuni karena hidangan tiba-tiba terjatuh saat Markus bangun di kamar Marlina. Saat itu juga Markus ingin memerkosa Marlina. Marlina tak berkutik. Markus berhasil memerkosa Marlina dan di sinilah perkosaan secara fisik terjadi.

Ketika Markus dalam kondisi keenakan, Marlina pun segera meraih parang Markus, dan memenggal kepala Markus setelah ia ejakulasi.

Di sini, dapat ditarik sebuah tafsir bahwa perempuan jika ingin “menang” dari laki-laki, mereka harus melayaninya sampai kepuasan puncak, karena pada saat-saat seperti itu, laki-laki bisanya lengah sehingga mudah dilawan atau jatuh.

Demi memperoleh keadilan atas apa yang telah menimpanya. Marlina berniat ke kantor polisi yang letaknya sangat jauh, dengan membawa barang bukti berupa kepala sang perampok, Markus. Saat menunggu transportasi datang,

Marlina berjumpa dengan sahabatnya, Novi (Dea Panendra), yang tengah hamil 10 bulan. Awalnya, Novi ingin mengajak Marlina pergi bersamanya, termasuk ke gereja untuk melakukan pengakuan dosa. Namun, secara lantang Marlina menyatakan bahwa dirinya adalah korban dan dia merasa tidak bersalah sedikit pun. Marlina tetap ingin mencari keadilan dengan mendatangi kantor polisi, lembaga yang dipercayai Marlina akan menjadi pelindung dan penegak keadilan atas sesuatu yang telah dan akan terjadi pada dirinyaa.

Kontradiksi terjadi, Marlina yang merasa tidak bersalah, malah selalu dihantui Markus tanpa kepala. Hal tersebut menandakan tingkat kesensitifan perempuan dan posisi Marlina sebagai manusia. Walau bagaimanapun, Marlina adalah manusia, yang tahu bahwa memenggal kepala manusia adalah tindakan yang tidak manusiawi. Hantu tubuh tanpa kepala Markus seolah-olah merupakan tanda bahwa dalam diri Marlina, masih tersisa rasa penyesalan atas tindakannya itu.

Setelah mencapai tujuannya, Marlina masih bimbang. Apakah ia akan datang ke kantor polisi dengan membawa barang bukti atau tidak. Di sinilah perempuan lagi-lagi kalah. Setiba di kantor polisi, bukannya langsung menerima tindakan, Marlina justru harus menunggu para polisi yang sedang bermain pingpong. Dan, lagi-lagi juga Marlina harus kalah setelah ia mengetahui bahwa ekspektasinya untuk segera memperoleh keadilan masih saja terhambat.


Birokrasi yang rumit, tidak tersedianya alat karena terpencil, hingga hukum yang menangani kasus pemerkosaan yang lamban membuat Marlina yang notabene tidak sabaran membuatnya berpikir ulang. Apalagi, di luar sana masih berkeliaran dua perampok lainnya yang mengincar agar kepala Markus dikembalikan. Marlina kembali terpojok setelah mengetahui bahwa salah satu perampok itu mengancam nyawa sahabatnya, Novi, yang tertawan di rumahnya.

Dalam menghadapi berbagai cobaan yang harus dihadapi, Marlina hanya bisa menerimanya. Kalaupun ia tidak bisa membendungnya, ia akan meluapkannya dengan cara perempuan, yaitu menangis.

Lalu, yang bisa mengerti perempuan hanyalah perempuan lainnya.

Dalam film ini dihadirkan pula karakter anak kecil bernama Topan, yang mempunyai nama yang sama dengan anak laki-laki Marlina yang sudah meninggal, yang kemudian memeluknya. Hal yang sama juga terjadi pada babak terakhir: “Tangisan Bayi”.

Marlina si Pembunuh Empat Babak (2017) tayang kali pertama di Cannes Film Festival 2017 dalam sesi Directors’ Fortnight pada Mei 2017. Setelah itu, film ini melanglang buana ke berbagai festival film internasional, seperti Melbourne International Film Festival, Toronto International Film Festival, Busan International Film Festival, hingga Sitges International Fantastic Film Festival yang memenangkan Marsha Timothy sebagai Aktris Terbaik, mengalahkan Nicole Kidman.

Tak dapat dimungkiri, Marsha Timothy memang bermain cemerlang dalam film ini. Ia berhasil menampilkan raut wajah getir, bimbang, hingga pasrah. Pujian juga hadir untuk aktris pendatang baru, Dea Panendra, yang bermain bagus. Tak dapat diacuhkan juga akting Egy Fedly yang kendati porsinya singkat, tetapi menohok. Pun juga sebagian besar pemain lainnya.

Dalam departemen akting, Marlina sangat bagus. Hal itu dibarengi dengan sinematografi yang juga cukup baik. Alam Sumba disajikan sedemikian menawan dengan pemilihan palet warna yang tepat, juga shot-shot panjang yang artistik.

Jika diamati, tidak ada pergerakan kamera sama sekali. Dalam artian, adegan-adegannya disajikan dengan kamera statis atau diam, dalam artian dalam objeknya saja yang bergerak. Music score film ini juga sangat merdu, yang menyuarakan kegetiran sekaligus kebimbangan, yang juga jika diperhatikan dapat mengingatkan pada film-film western.

Hal inilah yang membuat kritikus film dari Variety, Maggie Lee, menyebut bahwa Marlina adalah film bergenre satay western. Hal ini membuat Marlina dapat disejajarkan dengan film dunia lain yang lebih dahulu populer dengan genre yang disebut bersama nama makanan khas, seperti spagheti western dari Italia, dengan film Django (1966) dan The Good, The Bad and the Ugly (1966). Hanya saja, dalam film Marlina, tidak ada aksi tembak-tembakan seperti di film-film western. Marlina lebih ke genre drama. Beberapa hal itu akan menjadikan Marlina sebagai film yang akan menjadi klasik untuk bertahun-tahun mendatang.

Sebagai sebuah film, Marlina si Pembunuh Empat Babak (2017) sangat kuat dalam hal kontennya, dalam hal apa yang ingin disampaikan. Tentang perjuangan untuk melawan ketidakadilan gender. Juga tentang nasib orang-orang marginal. Termasuk birokrasi di negara ini yang menyulitkan.

Namun, Marlina tampaknya lebih ke karya yang personal dari Mouly Surya. Dalam film, Mouly Surya membabat habis semua karakter laki-laki. Seolah laki-laki tidak diberi kesempatan untuk “berbicara”. Di luar itu, sebenarnya Marlina berhasil menyampaikan secara lantang mengenai ketidakadilan yang dialami oleh kaum perempuan.

Dalam film ini perempuam digambarkan lemah dan tak berdaya dengan pusaran lingkungan yang patriarkal. Marlina berjuang untuk melawan, bahkan dengan cara yang tidak manusiawi sekalipun. Hal itu sebagai gugatan atas kaumnya, yang marginal, yang seolah terlahir untuk didominasi oleh laki-laki.

Suara feminisme sangat kencang dilontarkan oleh Mouly Surya, sang sutradara. Ditambah akting yang bagus dari para pemainnya. Juga, secara teknis film ini berkualitas nomor wahid. Sajian lanskap Sumba yang eksotis dihadirkan dengan artistik, termasuk pemilihan palet warna yang menawan. Pun juga music score yang sungguh merdu.

Film ini memang membuat film Indonesia berada di level puncak dalam sajian sinema. Sungguh film yang mengagumkan.


(Gambar 1. Marsha Timothy berperan sebagai Marlina (marlinathemurderer.com)
(Gambar 2. Perjalanan Marlina untuk memperoleh keadilan (marlinathemurderer.com)
(Gambar 3. Marlina dan Novi (Dea Panendra) (marlinathemurderer.com)


Achmad Muchtar
, lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 26 Oktober 1991. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Penyuka buku, sastra, film, dan sepi. Tinggal di Yogyakarta. Bisa disapa di Twitter: @achmadmuchtar.

*Ega Melindo- www.Konde.co

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang digelar di Philipina 13-14 November 2017 baru saja usai. Konferensi yang dihadiri para kepala negara di ASEAN ini ternyata mempunyai agenda tersembunyi perdagangan bebas yang sangat merugikan perempuan.

Sejumlah Organisasi masyarakat sipil (OMS) dari negara-negara anggota ASEAN juga berpartisipasi dalam Forum Rakyat ASEAN 2017 atau ASEAN People’s Forum 2017 yang diadakan di kota Quezon, Philipina, 13 November 2017 lalu.

Organisasi masyarakat sipil dalam forum tersebut menyatakan prihatin dengan adanya agenda perusahaan dan perjanjian perdagangan bebas ASEAN seperti TPP dan RCEP. Agenda ini dipastikan akan merugikan perempuan.

ASEAN People Forum merupakan forum tahunan Organisasi Masyarakat Sipil di negara-negara anggota Asean, yang diselenggarakan secara bersamaan sebagai pertemuan paralel dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang dhadiri oleh para Kepala Negara di Quezon, Philipina 13-14 November 207 lalu.

Aktivis perempuan dalam forum tersebut juga juga melakukan aksi melawan kesepakatan perdagangan bebas dengan secara simbolis mencabut pasal kesepakatan TPP dan RCEP agreement chapters and the ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint yang diputuskan dalam KTT ASEAN.

"Perjanjian Perdagangan Bebas seperti TPP dan RCEP akan memaksa privatisasi layanan publik kita, meroketnya harga obat-obatan kita, mendorong upah pekerja turun dan membatasi ruang pembuatan kebijakan dari pemerintah kita, mencegah negara-negara berkembang menggunakan kebijakan yang sama dengan negara maju telah menggunakan jalan mereka sendiri untuk pembangunan," Kata Diyana Yahaya, Programme Officer at Asia Pacific Forum on Women, Law and Development (APWLD).

APWLD adalah jaringan organisasi feminis dan aktivis akar rumput terkemuka di Asia Pasifik. Sebanyak 200 anggota APWLD mewakili kelompok perempuan beragam dari 27 negara di Asia Pasifik. Selama 30 tahun terakhir, APWLD telah secara aktif bekerja untuk memajukan keadilan perempuan dan keadilan perempuan.

Di banyak negara Asia Tenggara, upah murah perempuan adalah sumber keunggulan kompetitif perusahaan dan ketika sebuah negara memutuskan untuk menaikkan upah minimum, perusahaan-perusahaan tersebut berkemas dan pindah ke negara lain dengan memberikan standar upah lebih murah.

“Di Kamboja kita melihat perusahaan asing mengancam untuk pergi setiap kali pekerja menuntut upah yang lebih tinggi. Kebijakan anti-rakyat ini dan berpacu ke bawah dengan upah buruh dan hak buruh hanya akan berlanjut di bawah TPP dan RCEP, "tambah Reasey Seng, dari SILAKA, Kamboja.

Masyarakat di Jakarta, terutama perempuan yang mengandalkan layanan air telah menderita selama bertahun-tahun di tangan kontraktor air swasta kota yang mengenakan biaya tinggi dan gagal memasok air bersih secara konsisten.

Bahkan setelah 13 tahun pertempuran hukum dan keputusan Mahkamah Agung bahwa privatisasi air adalah pelanggaran hak asasi manusia. Pemerintah kota Jakarta sejauh ini menolak untuk melakukan keputusan pengadilan.

“Perjanjian perdagangan seperti TPP dan RCEP akan mempromosikan privatisasi lebih lanjut, dan membuat sulit untuk membalikkannya," Kata Arieska Kurniawaty dari Solidaritas Perempuan, Indonesia.

Koalisi masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Ekonomi sebelumnya juga pernah mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk tidak melanjutkan perundingan perdagangan bebas Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Hal ini dikarenakan perundingan perdagangan bebas RCEP ini hanya akan merugikan Indonesia ditengah berbagai negara mitra ekonomi ASEAN masih menerapkan tindakan proteksi terhadap pasarnya.

Perundingan Putaran ke-20 RCEP telah berlangsung di Incheon, Korea Selatan pada 17-28 Oktober 2017. Pada penutupan perundingan dikabarkan perundingan gagal mencapai beberapa target.

Tingginya komitmen yang ingin disepakati untuk membuka market akses perdagangan barang dan jasa hingga mencapai 90% sangat sulit untuk disepakati. Masing-masing negara memiliki kepentingan untuk menjaga pasarnya agar tidak dibanjiri oleh produk import.

Kerjasama perdagangan bebas RCEP ini pada dasarnya hanya akan menguntungkan negara mitra ekonomi ASEAN ketimbang masing-masing negara anggota ASEAN itu sendiri.

Kelompok masyarakat sipil mengeluarkan sebuah pernyataan kolektif yang mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk mengambil pendekatan yang berpusat pada manusia, memperjuangkan manusia dan tidak memperjualbelikan hak asasi manusia perempuan dan harus mengambil jalan menuju pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

Mereka menuntut langkah-langkah maju untuk diambil yang mengurangi ketidaksetaraan kekayaan, kekuatan dan sumber daya di dalam negara, di antara negara-negara dan antara kaya dan miskin.


(Referensi: https://igj.or.id/rilis-koalisi-masyarakat-sipil-untuk-keadilan-ekonomi/)
(Foto/ Ilustrasi: Pixabay.com)


*Ega Melindo, Aktivis Solidaritas Perempuan Jakarta

File 20171106 1046 12j07j7.jpg?ixlib=rb 1.1

Belajar dari satu sama lain.
www.shutterstock.com



Balawyn Jones, University of Melbourne

Di Bali pada 5 September 2017, seorang pria memotong kaki istrinya menggunakan golok. Sang korban, Ni Putu Kariani, selamat dari serangan mengerikan tersebut tapi akan menderita cacat seumur hidup.


Sekitar sebulan setelah Putu mengalami serangan, Rachael Anne di Sydney digorok, diduga pelakunya adalah pasangannya. Seperti Putu, Rachael akan mengalami cacat dalam jangka waktu yang lama. Kita masih belum tahu apakah dia akan menderita lumpuh seluruh badan akibat serangan tersebut.


Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menimpa perempuan baik di Australia maupun Indonesia. Menurut Badan Statistik Australia, satu dari empat perempuan di Australia pernah menderita kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan oleh pasangan. Di Indonesia, satu dari tiga perempuan telah mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam kehidupan mereka.




Baca juga: ‘Pengabdi Setan’ dan kisah hantu perempuan: simbol adanya kekerasan terhadap perempuan




Australia dan Indonesia perlu bekerja sama untuk mengatasi masalah universal ini. Dana bantuan dari Australia semakin sedikit dan mungkin menyulitkan adanya kerja sama di tingkat antarpemerintah. Namun, aktivis di lapangan sebaiknya mengeksplorasi kemungkinan kerja sama untuk belajar dari satu sama lain dalam hal melawan KDRT.


Menghitung pembunuhan perempuan


Pada 2016, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melaporkan ada 13.602 kasus kekerasan terhadap perempuan, kebanyakan KDRT (75%). Namun, angka ini hanya mewakili sebagian dari kekerasan yang terjadi pada 2016 karena pelaporan rendah dan pengumpulan data tidak begitu baik.


Kasus Putu adalah satu dari banyak kejadian KDRT di Indonesia yang dicatat oleh aktivis hak perempuan Kate Walton dalam inisiatif “Menghitung Pembunuhan Perempuan” (Counting Dead Women). Ia memantau pemberitaan mengenai KDRT untuk menciptakan basis data mengenai kejadian KDRT. Ia juga membagi informasi yang terkumpul ke pemerintah dan LSM untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu ini.


Data statistik tepercaya penting untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Namun, menghitung jumlah perempuan yang telah diserang, dilukai, atau dibunuh oleh pasangan hanya satu bagian dari usaha melawan kekerasan.


Terlalu sedikit dan terlambat


Pada 2004, Indonesia menetapkan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Undang-Undang ini secara umum mendefinisikan KDRT sebagai kekerasan yang tidak hanya mencakup kekerasan fisik, tapi juga psikis, ekonomi, dan seksual.


Namun, 12 tahun sejak pengesahannya, berbagai halangan untuk menjalankan Undang-Undang tetap ada. Proses hukum yang berbelit, sulitnya mendapatkan bukti medis, dan biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pengadilan pidana dan agama dapat menjadi halangan bagi perempuan yang ingin bercerai untuk lari dari KDRT atau yang ingin melaporkan KDRT.


Tingkat pendidikan yang rendah atau kurangnya pemahaman soal hak, hambatan geografis dan ekonomi, dan perilaku atau budaya yang negatif terhadap hak perempuan dalam masyarakat juga membatasi akses terhadap keadilan. Lebih jauh lagi, perempuan yang mengalami KDRT mungkin takut adanya balasan atau stigma dari keluarga atau masyarakat.




Baca juga: Laki-laki harus dilibatkan dalam memerangi kekerasan terhadap perempuan




Di Indonesia, kebanyakan laporan KDRT ditangani melalui cara-cara non-hukum. Di tingkat lokal, keluarga atau pemimpin masyarakat sering menengahi melalui resolusi konflik tradisional. Ada juga laporan bahwa polisi sering tidak mengindahkan pengaduan perempuan mengenai KDRT ketimbang menyelidiki terduga pelaku.


Kebanyakan kasus tidak sampai ke pengadilan. Kasus KDRT yang masuk ke meja hijau, kebanyakan diselesaikan di persidangan perceraian, ketimbang pengadilan pidana.


Di tingkat kelembagaan, penanganan KDRT di Indonesia bisa digambarkan sebagai terlalu sedikit dan terlambat. Saat ini, lubang-lubang di kebijakan dan program pemerintah diisi oleh LSM sesuai kemampuan terbaik mereka.


Pelayanan garda depan


Program-program untuk korban yang diberikan oleh Yayasan Pulih di Jakarta dan Rifka Anisa di Yogyakarta menyediakan pelayanan garda depan untuk perempuan Indonesia. Namun, kegiatan berbasis masyarakat untuk korban KDRT sebagian besar mengalami keterbatasan pendanaan. Skala dan kapasitas program-program seperti ini harus diperluas sesegera mungkin.


Pelayanan garda depan di Australia juga terus menerus mengalami pemotongan pendanaan dan kapasitas yang ada seringkali kewalahan menangani banyaknya perempuan yang membutuhkan bantuan.


Namun, seperti disorot dalam penemuan Royal Commission into Family Violence (2016), respons terhadap KDRT di Australia telah meningkat secara signifikan sepanjang dekade terakhir. Meski masih ada kegagalan dan keterbatasan, sistemnya membaik. Saat ini laporan ke polisi mengenai KDRT telah meningkat dan ada kesadaran masyarakat dan lembaga yang lebih besar mengenai dinamika KDRT.


Ada banyak hal yang Indonesia bisa pelajar dari Australia dalam melawan KDRT. Sayangnya, dengan terus menurunnya dana bantuan Australia, kerja sama dalam hal penanganan KDRT kemungkinan besar tidak akan meningkat di tingkat antarpemerintah. Namun, ada peluang untuk LSM dan aktivis Australia untuk bekerja sama secara langsung dengan LSM Indonesia untuk membantu mengatasi KDRT di tingkat masyarakat.


“Kerja sama” tidak berarti ekspor pengetahuan dan pendekatan Australia terhadap KDRT. Namun, kerja sama bermakna integrasi pengetahuan dari Australia dan Indonesia serta adaptasi pendekatan Australia ke dalam konteks budaya Indonesia. Kate Walton, yang berasal dari Australia, menjelaskan ketika bekerja dalam isu gender di Indonesia, organisasinya harus menimbang beragam elemen, tidak hanya gender tapi isu yang bertautan seperti agama, budaya, geografi, etnis, dan kelas sosial.


Bagaimana sebaiknya respons kita?


Perempuan, terlepas dari kekayaan, status sosial, tingkat pendidikan, agama atau etnis, terus menghadapi risiko tinggi KDRT. KDRT tidak hanya berbahaya bagi perempuan secara individual tapi juga memiliki dampak buruk bagi masyarakat Australia dan Indonesia.


Respons kita terhadap kekerasan menentukan kita sebagai sebuah masyarakat. Mungkin lebih mudah untuk memperlakukan kasus-kasus seperti Putu dan Rachael sebagai kasus unik, atau mengecilkan kasus-kasus tersebut sebagai masalah psikologis pelaku kekerasan. Namun itu salah.


KDRT cerminan relasi hubungan yang tak setara antara laki-laki dan perempuan. Struktur sosial patriarkis dan norma-norma gender baik di Australia dan Indonesia melanggengkan kekerasan terhadap perempuan.


Sementara tidak ada jawaban mudah untuk mengatasi KDRT, kerja sama antara Australia dan Indonesia dapat mengisi kurangnya pengetahuan serta meningkatkan kualitas praktik penanganan KDRT di masing-masing negara.


The ConversationKolaborasi antara aktivis di tingkat masyarakat memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mencegah dan merespons KDRT. Perempuan dan laki-laki Australia dan Indonesia harus bekerja sama untuk mengakhiri KDRT.


Balawyn Jones, PhD Candidate and Research Fellow, University of Melbourne


This article was originally published on The Conversation. Read the original article.


*Kustiah- www.Konde.co

Dari pengalaman merawat anaknya, Arkana, Shafiq Pontoh bersama 7 laki-laki lainnya, antara lain Pandu Gunawan, Dipa Andika Nurprasetyo, A.Rahmat Hidayat, Aditia Sudarto, Syarief Hidayatullah, Ernest Prakasa, Sogi Indra Dhuaja kemudian menjadi inisiator gerakan Ayah Air Susu Ibu atau Ayah ASI.

7 orang laki-laki lainnya juga punya pengalaman yang sama dengan Shafiq, yaitu peduli pada kebutuhan anaknya.

Sejak itulah mereka memulai pertemuan secara kopi darat. Kadang komunikasi dilakukan melalui sosial media.

Gerakan pertama yang mereka lakukan adalah menggali informasi seputar ASI dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Termasuk mengecek kebenaran informasi yang mereka anggap meragukan. Dan memilah mana mitos yang sengaja dibentuk, dan mana yang fakta.

Dari pertemuan-pertemuan itu Shafiq Pontoh semakin yakin bahwa peran ayah dalam pemberian ASI sangat penting:

1.Pertama, dalam pemberian ASI sebenarnya ada sebuah ikatan batin yang terbentuk antara ayah-ibu-anak, tidak hanya ibu-anak.

Bagi Shafiq, melihat anak yang sedang asyik menyusu di pelukan ibunya adalah memberikan kebahagiaan tak terkira.

"Rasanya luar biasa damai," ujarnya.

Karena, di situlah family bonding itu terbentuk.


2. Kedua, salah satu yang bisa membuat ASI melimpah adalah kondisi psikologis ibu yang bahagia.


Peran ayah sangat penting bagi pasangan untuk senantiasa membahagiakan si ibu menyusui. Caranya bisa dengan berbagai hal, misalnya berbelanja, atau menampakkan perhatian lewat hal-hal kecil. Atau membahagiakan lewat hal-hal sederhana, seperti memeluk dan sering menanyakan keperluannya.

Shafiq dan kawan-kawannya menggunakan keahlian mereka masing-masing untuk kampanye. Kampanye pertama mereka lakukan melalui sebuah buku. Dan kedua melalui media sosial.

Buku pertama mereka buat “Catatan Ayah ASI”, sedangkan di media sosial mereka aktif di akun Twitter @AyahASI.


Tak disangka dukungan masyarakat ternyata sangat besar. Buku tersebut sudah beberapa kali cetak ulang, dan @AyahASI mendapat kurang lebih 1.000 followers sepekan setelah akun itu dibuat.

Kini di berbagai daerah sudah terdapat agen yang ikut mengampanyekan gerakan Ayah ASI.

Shafiq mengakui bahwa kampanye ASI yang ia lakukan bersama rekan-rekannya di awal-awal tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi dalam image masyarakat sudah kadung terbentuk bahwa urusan ASI adalah urusan ibu.

Jadi, berbagai 'ledekan' sudah sering Shafiq terima. Namun ia tak patah semangat karenanya.

Di antara serentetan persoalan seputar sufor juga sempat membuat Shafiq geli. Ia menganggap peristiwa traumatik ketika mengetahui anaknya dicekoki sufor oleh suster sebagai sebagai bentuk karma. Shafiq ingat bahwa ia pernah menjadi 'think thank'-nya perusahaan sufor ketika masih bekerja di bidang periklanan.

Dari tangannya iklan sufor yang ia garap mendapat berbagai penghargaan dan penjualnnya cukup signifikan. Dan ternyata sufor yang ia garap itulah yang diberikan suster ke anaknya. Setelah peristiwa itu Shafiq memutuskan untuk tak meng-handle lagi pengerjaan iklan sufor.

"Peristiwa itu seperti mengingatkan dan menyadarkan saya," katanya.

Kedepan, Shafiq berharap kampanye yang terus ia lakukan bersama kawan-kawannya bisa menjadi sebuah gerakan kesadaran. Sehingga ia tak perlu lagi bicara soal pentingnya ASI karena semua ayah telah memiliki kesadaran yang sama soal ASI.


(Foto:ayahasi.org dan the Susanto's fam/ blogger)

*Kustiah,
mantan jurnalis www.Detik.com. Kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

*Kustiah- www.Konde.co

Apa makna ayah bagimu? Itu adalah pertanyaan yang saya dengar dari seorang guru kepada seorang siswinya di hari ayah atau Father’s Day kemarin. Di Indonesia, hari ayah ini banyak diperingati setiap tanggal 12 November.

Baru-baru ini saya juga membaca pertanyaan yang sama di sebuah majalah anak-anak. Pertanyaan yang paling banyak ditulis adalah: apakah kamu dekat dengan ayah? Sedekat apa? Dalam sehari, kamu berbicara berapa jam dengan ayahmmu? Apa saja isi pembicaraanmu? Apakah ayahmu selalu ada di dekatmu ketika kamu punya masalah? Lalu apa yang sering kalian kerjakan bareng?

Di koran, saya juga membaca pertanyaan tentang bagaimana ayah, perlakuan seorang suami buat istrinya. Apakah ia memperlakukanmu secara baik? Tidak membentakmu, mau sama-sama mengurus rumahtangga bersamamu?

Jika ayah sedunia seperti Shafiq Pontoh yang berusaha memberikan yang terbaik bagi anak, mungkin anak-anak akan hidup sehat dan bahagia. Begitu pula bagi istri atau ibu yang melahirkan anak-anaknya. Mereka pasti akan merasa menjadi perempuan yang beruntung karena memiliki pasangan yang mengerti kebutuhan istri.

Seharusnya hari itu, Minggu, 25 Oktober 2009 Shafiq Pontoh bahagia tak terkira ketika menyaksikan putra pertamanya Arkana Mashka Yusuf Ahmad Pontoh lahir. Apalagi istrinya telah melewati masa kritis selama proses persalinan.

Namun, kebahagiaan dan rasa haru yang ia rasakan tak berlangsung lama ketika Shafiq menyaksikan beberapa rentetan peristiwa yang membuatnya geram dan meradang.

Jauh hari sebelum proses persalinan Shafiq dan istri melahap berbagai informasi seputar air susu ibu (ASI) dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dari berbagai sumber. Begitu tahu tentang pentingnya manfaat ASI keduanya berniat memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, ternyata mudah dikatakan dan sulit dilakukan. Karena begitu persalinan usai, semua yang ia dan istrinya pahami mendadak hilang semua.

"It's easier said than done. Yang kami baca dan pelajari tiba-tiba blank," kata Shafiq kepada penulis beberapa waktu lalu di kantornya di Kawasan Pondok Indah.


Berjuang untuk Arkana


Arkana, meski lahir tak prematur, berat badannya hanya 2,250 gram sehingga IMD hanya dilakukan sekitar 15 menit. Suster dan dokter memutuskan memisahkan anak dari ibunya untuk segera dimasukkan ke dalam inkubator.

Dari sinilah satu per satu masalah muncul. Bilirubin anaknya dinyatakan melebihi ambang batas. Menurut dokter Arkana kuning dan harus disinar.

Dan yang membuat Shafiq dan istri meradang adalah ketika suster memberikan susu formula ke anaknya tanpa seizinnya. Suster dan dokter berasalan sufor diberikan kuatir bayi dehidrasi karena usai disinar. Padahal, sejak awal ia dan istrinya sudah merencanakan hanya akan memberikan ASI untuk anaknya. Tetapi pihak rumah sakit keukeh menjejali anaknya dengan sufor yang mereka sebut sebagai 'cairan'.

Peristiwa kedua yang membuat hati Shafiq hancur manakala pihak rumah sakit mempersilakan istrinya pulang sementara anaknya harus ditinggal karena harus melalui proses penyinaran terlebih dulu sampai bilirubinnya berada pada batas normal.

"Hati saya terasa rontok saat melihat anak saya telanjang, hanya mengenakan popok dengan mata ditutup dan badannya terlihat kurus. Dunia seperti mau runtuh," ujarnya.

Setelah menyadari bahwa upaya istrinya untuk IMD gagal dan upaya menyusui ASI dihalang-halangi, Shafiq tak menyerah. Setelah melalui serangkaian perlawanan terhadap pihak RS akhirnya istrinya bisa tetap memberikan ASI untuk anaknya. Dengan nada sedikit mengancam ia menyampaikan kepada suster dan pihak RS bahwa istrinya hanya ingin anaknya mendapatkan ASI, bukan dicekoki sufor.

Yang membuat Shafiq heran RS tempat istrinya melahirkan merupakan RS Ibu dan Anak. Tetapi anehnya RS seolah tak mendukung pemberian ASI untuk bayi.

Bahkan istrinya sempat diintimidasi suster yang meragukan ASI-nya keluar.

"Mereka bilang di depan istri saya 'paling ASI nya ibu juga nggak keluar'," kata Shafiq menirukan.

Peristiwa traumatik itulah yang kemudian membuat Shafiq berkomitmen kembali mencari tahu tentang ASI dan informasi seputar modus RS menjejali sufor ke bayi yang baru lahir. Ia rajin mendatangi berbagai forum yang membahas soal ASI salah satunya yang diadakan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Awalnya pekewuh, ada perasaan sungkan saat hadir mendampingi istrinya bergabung dalam forum yang lebih banyak membahas organ perempuan. Apalagi yang datang semua ibu-ibu.

Tetapi, kehadiran Shafiq yang mendampingi istrinya justru disambut hangat oleh ibu-ibu karena ia dianggap peduli dengan upaya istri yang hendak memberikan ASI untuk bayinya. Ternyata pertemuan demi pertemuan Shafiq mulai melihat ada beberapa bapak-bapak yang juga turut hadir mendampingi istrinya. Dan dari pertemuan itulah cikal bakal lahirnya gerakan Ayah ASI dimulai.

Rasa risih mendengar kata puting, aleora, dan organ tubuh lainnya di antara ibu-ibu perlahan mulai sirna. Karena, kata-kata itu berulang kali ia dengar dan ucapkan. Ia mencoba mencari tahu bagaimana menggunakan kata-kata yang dianggap tabu menjadi bahasan yang cair dan komunikatif.

Akhirnya, karena biasa dan sering dikatakan kata-kata yang awalnya membuat Shafiq dan ketuju bapak-bapak yang biasa mendampingi istrinya hadir dalam forum AIMI risih perlahan hilang (Bersambung).


(Foto/Ilustrasi: pixabay.com)


*Kustiah,
Pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta. Mantan jurnalis www.Detik.com


Kustiah dan Luviana – www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Anda pernah nonton film “Perempuan Punya Cerita’? Jika belum kita akan diingatkan tentang persoalan-persoalan dan perjuangan para perempuan di beberapa daerah di Indonesia, karena film ini sangat kental dengan perspektif perempuan.

Film Perempuan Punya Cerita merupakan kumpulan 4 film pendek yang sarat dengan persoalan perempuan Indonesia. Film ini menjadi salah satu film yang akan diputar dalam EnamBelas Film Festival (16FF) di 12 kota di Indonesia.

Sutradara Nia Dinata, salah satu inisiator pemutaran EnamBelas Film Festival ini memang sengaja akan memutar 16 film panjang, 16 film pendek dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan, yaitu dari tanggal 25 November sampai 10 Desember 2017. 16 film ini sebagai penanda untuk mengajak semua orang menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

“Tidak ada kata kadaluarsa untuk kasus kekerasan seksual, kita dilahirkan secara merdeka dan sama, maka ini perjuangan kita, untuk menolak segala bentuk kekerasan seksual,” ujar Nia Dinata pada konferensi pers 16 hari anti kekerasan anti kekerasan terhadap perempuan yang diadakan di Art Society, Kemang, Jakarta pada Jumat, 17 November 2017, kemarin.

Acara peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan ini diadakan atas kerja bersama antara #GerakBersama, Komnas Perempuan, Kalyanashira, 100% Manusia, The Body Shop, Aliansi Satu Visi, Amartha bersama Cine Space, Art Society, Kineforum, Galeri Indonesia Kaya, Paviliun 28, Kopi Kohlie, Sae Institute, @america, dimana www.Konde.co, www.magdalene.co dan Vice juga terlibat di dalamnya.

Peringatan hari anti kekerasan terhadap perempuan setiap tanggal 25 November tak pernah lepas dari perjuangan Mirabal bersaudara, 3 aktivis perempuan Amerika Latin, Minerva Mirabal, Maria Mirabal dan Patria Mirabal yang dibunuh dengan sangat keji.

Gerakan Mirabal bersaudara ini merupakan perlawanan terhadap rezim diktator Rafael Trujllo (1930-1961) yang menebarkan rasa takut di antara rakyat Republik Dominika kala itu. PBB kemudian menetapkan tanggal di hari Mirabal dibunuh sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia. Darah Mirabal bersaudara adalah penyambung kisah-kisah kekerasan perempuan yang terjadi dari dulu hingga kini.

Ide tersebut lalu tertuang dalam bentuk agenda bernama EnamBelas Film Festival (16FF). Sebuah kampanye yang menggunakan media film digelar bertepatan dengan kampanye global 16 Days of Activism atau dikenal di Indonesia sebagai Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16HAKTP).

“Ke-32 film pilihan kami adalah film-film yang sesuai dengan tema dan komitmen untuk penghapusan kekerasan berbasis gender dan seksual. Film-film ini adalah hasil karya anak bangsa dimana para produser, sutradara hingga pemain filmnya memiliki kepedulian yang sama tingginya atas sumpah dan komitemen dalam penghapusan kekerasan. Film-film ini akan diputar dan didiskusikan di Jakarta & 11 kota lainnya,” kata Nia Dinata.

Ketua Komnas Perempuan, Azriana menyatakan bahwa film merupakan media yang bisa mengajak masyarakat secara luas untuk berkampanye anti kekerasan terhadap perempuan.

“Ini merupakan kolaborasi yang menyenangkan yang dilakukan oleh banyak pihak, semakin banyak terlibat, semakin banyak yang memperjuangkan Rancangan Undang-Undang Kekerasan Seksual menjadi Undang-Undang.”

Festival film ini juga didukung oleh 16 Volunteer Ambasador yang terdiri dari kalangan seniman yang memiliki kepedulian yang sama. Mereka adalah: Ananda Sukarlan, Atiqah Hasiholan, Chelsea Islan,  Chicco Kurniawan, Hannah Al Rashid, Happy Salma, Karina Salim, Lukman Sardi, Putri Ayudya, Refal Hady, Reza Rahadian, Richard Kyle, Rio Dewanto, Tara Basro, Tatyana Akman,  Vivi Yip.

“Jika kita mencintai ibu kita, kita harus mencintainya, menjaganya. Ini merupakan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan yang harus didukung,” kata Lukman Sardi.

Manager 16FF, Lini Zurlia dari Arus Pelangi menyatakan bahwa melalui 16FF juga mengajak semua pihak untuk menyeru sumpah secara bersama-sama mengambil andil dalam menghentikan kekerasan berbasis gender dan seksual.

“Dan sudah seharusnya hidup dengan penuh rasa aman dan damai adalah kehidupan yang sama-sama kita cita-citakan. Jadi apakah kita manusia kalau masih melakukan kekerasan? End This!.”

16FF secara resmi akan dibuka pada tanggal 25 November 2017 pukul 14.00 di SAE Institute Jakarta Jl. Pejaten Raya No.31 dan ditutup pada tanggal 10 Desember 2017 pukul 14.00 di CineSpace, Ruko Summarecon Digital Center, Scentia Square Park Garden View 01, Jl. Scentia Boulevard, Curug Sangereng, Klp. Dua, Tangerang.

Sejumlah film yang akan diputar misalnya: Cau Bau Kan dan Kebaya Pengantin karya Nia Dinata, Perempuan Kisah dalam Guntingan, Di Balik Frekuensi karya Ucu Agustin, Waiting Room karya Joko Anwar, Purnama di Pesisir karya Chairun Nissa, Selamat Pagi Malam karya Lucky Kuswandi, Demi Ucok karya Sammaria Simanjuntak, Tanah Mama karya Asrida Elisabeth dan sejumlah film lainnya.

Setiap pemutaran yang diselenggarakan akan diakhiri dengan diskusi-diskusi bersama dengan filmmaker dan ahli di isu-isu yang relevan dengan film maupun tema 16FF untuk menghapus dan menghentikan kekerasan berbasis gender dan seksual.


(EnamBelas Film Festival, Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan/ Foto: Kalyanashira)