Kami Tak Ingin Tenun Hanya Menjadi Sejarah di Kampung Kami


*Kustiah- www.Konde.co

Saya mempercayai anggapan ini: bahwa nasib hidup atau matinya tradisi berada di tangan anak muda.

Maka saya percaya, jika anak muda mau menjaga dan merawat, maka tradisi tak akan lekang oleh waktu. Sebaliknya, jika anak muda menganggap tradisi hanya sebagai masa lalu, maka nasibnya hanya akan dikenang dan mati digerus jaman.

Di galeri Nusa Gastronomy, Kemang Raya 81, Jakarta Selatan awal Oktober lalu, beberapa perempuan perajin tenun dan aktivis yang fokus terhadap tenun dan batik berkumpul. Semua sudut ruang penuh sesak dengan hasil karya para perempuan yang apik dan yang pengerjaannya sudah mulai langka.
Mereka adalah para perempuan penenun dan anak-anak muda dari masyarakat Suku Dayak Benuaq di Kutai Barat, Kalimantar Timur.


Tenun Ulap Dayo dan Perjuangan Menghidupkan Tradisi

Di dalam galery tersebut tedapat para perempuan penenun pembuat tenun Ulap Doyo. Ada Pekunden Pottery, karya keramik yang pengerjaannya sangat rumit yang dikerjakan oleh generasi kedua dari Pekunden Pottery, Brahman Tirta Sari; batik yang mengangkat tradisi dan kearifan lokal, Batik Kanawida yang menggunakan bahan pewarna alami yang terbuat dari bagian tumbuhan seperti kulit atau daging buah dan daun tanaman, Tafean Pah; tenun yang benangnnya berasal dari benang kapas yang dihasilkan dari kebun sendiri dan menggunakan warna alami, dan beberapa produk karya perempuan yang ada di daerah-daerah.

Ada juga batik Marenggo Natural Dyes yang bahan pewarnanya juga menggunakan bahan alami, Omah Batik SekarTuri, dan Wiru.

Semua karya tangan baik dalam bentuk batik atau keramik hadir dengan kekhasannnya masing-masing.

Namun, pesan pameran tersebut bukan hanya soal mengenalkan batik kepada masyarakat luas. Tetapi juga memasyarakatkan batik, menghidupkan tradisi yang di beberapa daerah sudah mulai punah, dan yang lebih penting soal batik adalah adanya upaya mengangkat kaum perempuan untuk keluar dari kemiskinan yang melilit kehidupan mereka melalui karya tenun dan batiknya.

Seperti yang sampaikan Talita Renata (27), generasi ketiga perajin tenun Ulap Doyo. Dulu di kampungnya di Tanjung Isuy, Kutai Barat, Kalimantan Timur, menurut ibu dan neneknya hampir sebagian besar perempuan menenun.

Hasil tenunnya untuk hidup sehari-hari juga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Para ibu dan nenek bisa menyimpan uang karena tenun yang proses pembuatannya lama berharga mahal.


Perempuan Muda dan Promosi Tenun

Namun, saat ini tenun tak lagi menjadi tradisi yang diminati generasinya. Bisa dikatakan tradisi menenun dan pengetahuan tentang tenun hampir dikatakan punah karena tak ada yang mewarisi dan mengembangkannya.

Anak muda seusianya, menurut Talita lebih memilih pergi ke kota dan mencari uang dengan menjadi karyawan salah satunya di perusahaan batu bara yang saat ini berkembang pesat. Karena tenun dianggap tak menghasilkan uang lebih banyak, selain pengerjaannya yang lama, produk tenun kurang diminati karena pemasarannya kurang.

Berbeda dengan baju atau produk pabrikan yang dijual dengan harga murah dan dengan pemasarannya yang gemerlap.

Dalam sehari para pekerja pabrik bisa mendapatkan upah kisaran Rp75-80 ribu. Sementara tenun kain besar satu lembar yang pengerjaannya memakan waktu sebulan dihargai Rp400-500 ribu, itu pun jika ada yang membeli.

Talita mengaku sedih. Bukan hanya sulitnya memasarkan tenun yang membuat tradisi menenun ditinggalkan. Tetapi juga karena para penenun menganggap tenun tak dilirik karena masyarakat memilih yang murah dan cepat.

Maka, ada sejumlah pekerjaan rumah bagi generasi saat ini. Menurut Talita, sebenarnya merawat tradisi dan budaya di daerahnya tak harus melulu dengan menenun seperti yang dia lakukan.

Talita sendiri tak menenun setiap hari. Dia menenun di sela-sela kesibukannya bekerja di Puskesmas Tanjung Isuy di bagian farmasi.

Yang dilakukan Lita adalah mempromosikan dan mengenalkan kepada dunia luar bahwa tenun yang menjadi identitas daerahnya masih ada dan masih hidup. Salah satu caranya dengan memposting karya tenun, menjualkan produk tenun, menceritakan sejarah pembuatannya, dan memasarkannya di sosial media.

"Saya tidak ingin tenun hanya menjadi sejarah dan hanya dikenang bahwa tenun pernah ada dan pernah menjadi milik kami," ujarnya kepada penulis.

Beberapa penenun yang usianya sudah tak muda lagi menurut Lita masih ada beberapa yang produktif. Sejak diterapkannya peraturan bupati tentang penggunaan pakaian tradisional bagi pegawai negeri sipil di daerahnya geliat tenun mulai bangkit. Alat-alat tenun yang sebelumnya lama tersimpan kini mulai digunakan kembali dan berproduksi.

Pengerjaan tenun memang memakan waktu lama. Untuk menghasilkan selembar kain tenun membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Namun, tenun Doyo ini istimewa karena dibuat dari serat daun doyo. Seperti kain tradisional pada umumnya, proses tenun ulap doyo dimulai dari pemetikan daun doyo yang kemudian diolah menjadi benang lalu ditenun menjadi selembar kain.

Pewarna tenun menggunakan pewarna alami dari tumbuhan sekitar seperti batang elai, daun teruja, juga serbuk gergaji dari kayu ulin.
Dalam pamerannya daun doyo mewujud menjadi sebuah tas, pakaian, syal, dompet, dan berbagai jenis produk yang laik pakai yang berkualitas dan pengerjaannya ramah lingkungan karena tak menggunakan bahan kimia sedikit pun.

Geliat anak-anak muda yang memasarkan tenun adalah geliat mereka dalam melestarikan tradisi.


(Foto/ Pinterest)

*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com, kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.