Rosita, Perempuan Di Balik Hutan Organik




“Ia tak hanya membuat hutan organik, namun ia juga melawan para calo tanah. Keberaniannya membuat banyak orang tidak takut untuk berjuang.”


*Kustiah- www.Konde.co

Bogor, Konde.co - Memiliki banyak materi belum tentu bisa mengubah situasi buruk jika tak memiiki keinginan untuk mengubahnya. Itulah yang coba dilakukan Rosita (55), ibu dua anak kelahiran Cimande, Bogor yang mengubah lahan tandus menjadi hutan lebat.

Berawal dari keinginan suaminya yang ingin tinggal di tempat dingin dengan pemandangan hutan lebat Rosita justru bisa membuktikannya. Bahwa hutan bisa dibuat jika memiliki komitmen kuat


Keinginan untuk Membuat dan Memelihara Hutan Organik

Sekitar tiga kilometer dari Jalan Raya Megamendung-Puncak terdapat hutan lebat seluas hampir 23 hektare yang dinamai Hutan Organik. Pemiliknya adalah Rosita dan suaminya, Bambang Istiawan (64).

Suatu kali, pada tahun 90-an suaminya berbicara kepada Rosita ihwal keinginannya tinggal di hutan saat sudah tua. Ada dua tempat impian yang ia incar yakni Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan.

Namun seiring waktu berjalan ternyata hutan di Kaltim sudah jadi pemukiman. Sementara hutan di Sumsel sudah jadi kebun sawit. Lalu ia berangan-angan untuk tinggal di Malang, Jawa Timur. Namun, rupanya Rosita bukannya mendukung malah menantangnya.

"Kalau hutan sudah tidak ada, ya, ayo bikin hutan," kata Rosita kepada suaminya kala itu menuturkan kepada penulis.

Tuhan tampaknya mendengar doa Ita, panggilan Rosita.

Pada tahun 1997, saat krisis melanda lahan teh di puncak Mega Mendung milik Probosutedjo ikut terkena imbasnya. Lahan seluas 12 hektare ini setahun terbengkalai, tandus, gersang ditumbuhi ilalang. Ita yang kebetulan warga Cimande, Bogor, mendengar bahwa lahan yang tak terurus itu akan dijual.

Ita saat itu berhasil membeli lahan seluas sekitar 3 ribu meter dengan harga Rp1.000 rupiah per meter. Mendapatkan lahan tak mudah. Ita harus berhadapan dengan para calo tanah yang sudah mengkapling dan menawarkan tanah kepada pembeli.

"Jangankan membeli lahan baru, yang sudah dibeli kalau tidak dijaga saja bisa dikapling sama biong, (sebutan calo tanah)" ujarnya.

Akhirnya, bertahap tanah sedikit demi sedikit terbeli dari tangan pertama. Inilah yang membuat Ita mendapatkan harga miring karena tak membeli dari calo.
Suaminya tak tahu banyak soal proses pembelian tanah, karena bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan minyak. Dan ketika pulang ia kaget istrinya telah memiliki tanah yang luas.


Membuat Hutan

Di sinilah proses pembuatan hutan dimulai. Pada tahun 2000 Rosita bersama suami dan anak bungsunya melakukan penelitian kecil-kecilan. Dia terkejut, lahan yang 70 persen ditumbuhi alang-alang ini kondisi tanahnya memprihatinkan. PH tanah hanya 2,5-4, di tanah tak ditemukan cacing, dan tak ada mata air. Menurut warga sebenarnya ada satu mata air di lahan tersebut namun sudah mati.

Pada tahun 2001 mereka memulai proses penanaman, memetakan lahan dengan menanam pohon keras (endemik) dan tanaman yang bisa memberikan nilai manfaat (pohon frontir) atau tumpang sari supaya tetap bisa merawat pohon keras. Komposisinya 2/3 ditanam pohon frontir dan 1/3 nya ditanam pohon endemik dan buah-buahan supaya lahan bisa hijau lebih dulu.

Supaya subur Rosita dan suaminya mengandalkan pupuk organik dari peternakan dengan memelihara sepasang kambing. Ia baru tahu di kemudian hari bahwa supaya hasil pupuk lebih banyak dan ternak berkembang lebih cepat mereka memasangkan kambing 4 betina dengan satu jantan.

"Itulah, karena bodohnya saya kira kalau mau cepat beranak ya pelihara sepasang. Padahal bisa 4 banding satu," ujar Bambang menimpali sambil terkekeh.

Perlahan tanaman mulai tumbuh. Rosita beserta anak dan suaminya selama mengolah lahan berpuasa tak menggunakan pupuk unorganik.


Tanaman yang Mulai Menghijau

Berkat ketelatenannya, tanaman sudah terlihat mulai menghijau meskipun tak secepat bayangan Rosita. Mereka beberapa kali disergap rasa bosan dan tergoda menggunakan pupuk unorganik supaya tanamannya lekas hijau dan tumbuh lebat.

Beruntung orang tuanya menasehatinya saat ia mengutarakan meminjam uang untuk membeli pupuk. Yang diingat dari kata-kata bapaknya, Tuhan menciptakan hutan lebat tanpa dipupuk. Kalau lahan kritis mau direhabilitasi harus jadi hutan alam dulu, jadi hutan organik seperti Tuhan menciptakan hutan. Manjur.

Nasihat bapaknya perlahan memudarkan kebosanannya apalagi saat itu Ita dan suaminya juga sudah tak memiliki uang untuk membeli pupuk selain menggunakan kotoran ternaknya yang perlahan juga mulai bertambah jumlahnya. Tak disangka, kesabaran berbuah manis. Pada 2003 muncul mata air di dekat daerah cekungan.

Sejak saat itu pula Ita dan suaminya menggunakan air dari mata air untuk kebutuhan rumah tangga. Setelah sebelumnya menggunakan air hasil mengebor sumur sedalam 400 meter.

Yang menenteramkan, tanaman tumpangsari juga memberikan hasil yang memuaskan. Tiap panen tanaman seperti sawi, lobak, bayam, cabai, terong, jagung, dan aneka tanaman tumpang sari lainnya berlimpah. Dan hasilnya bisa dijual untuk membayar para petani yang membantu.

Dan yang membuat Ita dan suaminya bernapas lega, kini aneka satwa telah mampir dan tinggal di hutan miliknya. Mulai dari burung elang hingga diduga harimau. Akhir 2014 empat kambing miliknya menjadi korban. Menurut suaminya, berdasarkan identifikasi gigitan beberapa ahli menyimpulkan bahwa gigitan yang biasa mengoyak muka dan perut kambing adalah harimau.


Luas lahan bertambah


Pada 2005 belasan perwakilan masyarakat yang tinggal di bawah puncak yang berbatasan dengan Sentul mendatangi rumah Rosita.

Keberanian Rosita menghadapi calo tanah rupanya telah terdengar di mana-mana. Selain masyarakat mengenal Rosita sebagai perempuan yang ulet merawat lahannya dan mencintai lingkungan.

Masyarakat mengadu bahwa ada seorang pengusaha yang berencana membuat penangkaran buaya di bukit tak jauh dari hutan milik Ita. Bukit itu sebelumnya merupakan bekas potongan yang rencananya akan digunakan sebagai pemukiman. Karena tak berizin pengembang meninggalkan begitu saja bukit yang di lerengnya terdapat semacam setu. Masyarakat keberatan jika ada penangkaran buaya di sana. Apalagi di bawahnya terdapat perumahan warga.

"Mereka keberatan karena pasti akan ada bau bangkai dan kotoran yang akan mengalir ke permukiman warga," kata Ita.

Akhirnya karena desakan masyarakat Rosita menggunakan tabungan yang rencananya akan dibelikan mobil dikuras habis untuk membeli lahan seluas 11 hektare. Kini lahan itu ditanami aneka tanaman tumpang sari dan tanaman keras seperti ketika Ita dan suaminya memulai menanami lahan tandus miliknya terdahulu.

Pohon di lahan seluas 12 hektare kini tumbuh rimbun, sementara di lahan 11 hekatare dipenuhi aneka tanaman tumpangsari dan sisanya tanaman endemik yang juga tak kalah rimbunnya.

Lahan kedua ini sengaja digunakan sebagai green living area. Di atas lahan ini pula Ita dan suaminya berhasil menggunakan teknik hidram, dengan menaikkan air ke atas lahan dengan ketinggian sekitar 100 meter. Ke depan ia berencana menggunakan air untuk menghasilkan listrik rumah

Berkat kesuksesannya membuat hutan organik Ita bersama suami dan anaknya sering diundang ke seminar-seminar baik di dalam dan mancanegara. Di Sudan metode yang digunakan Ita dan suaminya dijiplak dan berhasil diterapkan.

"Saya tak punya background, tak punya uang banyak dan dukungan politik. Yang saya punyai hanyalah semangat. Dan itulah yang bisa saya bagikan," kata Ita.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay.com)

*Kustiah, mantan jurnalis www.Detik.com, kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.