Ode Tusuk Konde, Ruang Bagi Perempuan Korban Kekerasan untuk Bercerita


Setiap tahun pada 25 November- 10 Desember, Indonesia memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Ini sebagai bagian dari kampanye internasional menolak kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. 16 hari ini sebagai penanda masih banyak terjadinya kekerasan yang menimpa perempuan. www.konde.co menjadi bagian dari kampanye jaringan masyarakat sipil dan Komnas Perempuan #GerakBersama dan 16 FilmFestival. Dalam waktu 16 hari ini, kami akan menuliskan berbagai persoalan, ide dan perlawanan perempuan terhadap kekerasan. Selamat membaca.


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Dengan cara apa para perempuan melakukan healing terhadap kekerasan yang ia alami? Ada sejumlah cara, namun Ida bersama para korban dan penyintas memilih cara lain, yaitu bermain drama. Karena drama, ternyata adalah ruang yang tepat untuk bercerita.

Ida dan sejumlah teman penyintas lain menyadari ini setelah mereka melakukan latihan drama yang berisi cerita-cerita para penyintas.

Drama ini merupakan drama musikal yang diadakan LBH APIK Jakarta bersama 16 film festival, #GerakBersama dan Komnas Perempuan. Dengan mengambil judul Ode Tusuk Konde, para penyintas kemudian berlatih selama 3 bulan. Dalam berbagai latihan inilah mereka kemudian menumpahkan perasaan, curhat tentang apa yang selama ini dialami korban.

Agustian adalah sutradara pementasan ini. Agustian menyatakan bahwa ia merasa surprise ketika selama pelatihan , para korban dan penyintas bisa menceritakan kasusnya. Cerita-cerita inilah yang kemudian mereka rangkai dalam drama musikal ini.

“Drama Ode Tusuk Konde ini seolah berjalan tanpa skenario yang direncanakan, semuanya mengalir dari cerita-cerita selama latihan yang kami adakan. Jadlah kemudian cerita yang sangat kuat, yang menampilkan persoalan yang dialami perempuan korban.”

Cara-cara seperti ini memang dianggap efektif, Veni Siregar Direktur LBH APIK Jakarta menyatakan bahwa drama ini memang diadakan karena para korban kekerasan sendiri yang meminta, dan ternyata dalam perjalanannya sangat baik karena semua bisa bercerita. Dan kemudian proses berikutnya adalah saling menguatkan. Karena umumnya korban biasanya sangat sulit unuk cerita, jika berceritapun masih menghadapi tabu. Belum lagi jalan penyelesaian yang sangat panjang bagi korban.

“Drama musikal ini justru bisa menjadi tempat healing bagi para penyintas unuk bercerita dan memberikan jalan baru,” kata Veni Siregar.

Inisitiator 16 film festival sekaligus sutradara film, Nia Dinata menyatakan bahwa bermain dalam sebuah pertunjukan memang bisa menjadi ruang tersendiri bagi korban. Panggung kesenian bisa mengajak korban untuk berani berbicara, membuat percaya diri bahwa kasus yang mereka alami sangat layak untuk dibagi. Ia juga mengusulkan bahwa drama ini bisa difilmkan dan kemudian dibawa ke pemerintah dan anggota DPR untuk advokasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual.

“Drama ini bisa menjadi  media kampanye yang baik, dibuat film dan dibawa untuk kampanye RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan keberpihakan pada korban,” ujar Nia Dinata.

Artis Angie “Virgin” adalah salah satu yang bermain dalam drama musikal ini. Ia memainkan monolog drama. Angie merasa senang terlibat dalam pementasan drama dimana ia bisa mendukung para korban dan penyintas.

“Ini permainan saya keduakalinya dalam sebuah pementasan drama. Semua saya lalukan untuk mendukung para korban dan penyintas yang ingin bersuara,” kata Angie.

Drama musikal Ode Tusuk Konde akan dipentaskan pada Minggu, 10 Desember 2017 hari ini pukul 19.00 WIB bertempat di Goethehause, Jakarta.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)