Perempuan Buruh Migran yang Pergi Jauh dari Persoalan


Kustiah- www.Konde.co

Kisah pilu buruh migran yang bekerja di luar negeri, bukanlah isapan jempol. Sudah banyak kasus yang diberitakan, dari mulai gaji yang tak dibayar, bekerja melebihi kapasitas, hingga tindak kekerasan.

Itu pula yang menimpa Darwinah, kala berangkat ke Singapura pada 2000 silam.

"Saya baru lulus SMP waktu itu," katanya kepada penulis belum lama ini mengenang.

Wina, demikaan sapaan akrabnya, tak pernah membayangkan  menjadi buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tapi yang jelas, keluarga dan tetangganya di Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat sudah lama mengadu nasib ke luar negeri, terutama Arab, Singapura dan Hongkong. Wina bahkan tak tahu sejak kapan kampungnya dikenal sebagai kampung pemasok TKI.

Kisah pilu para TKI bukan saja dia dengar, tapi dia alami sendiri. Saat berangkat, usia Wina yang terbilang belia, kemudian "dituakan" atau ditambah umurnya, agar meyakinkan majikan yang akan mempekerjakannya.

Sesampainya di negera tujuan, Wina tak menerima gaji selama tiga tahun. Bukan hanya itu, seluruh dokumen pun disita oleh majikan sehingga Wina tak bisa pulang.

"Saya ini pernah dianggap meninggal oleh keluarga," katanya.

Saking frustrasinya, Wina pun nekat untuk melakukan bunuh diri.

"Saya melakukan tindakan yang dilarang agama, tapi untungnya nyawa saya masih tertolong," katanya.

Sepulang dari Singapura, Wina mengadu nasib ke Hongkong. Di Hongkong kondisi TKI memang lebih baik. Ada hari libur dan tidak ada tindakan kekerasan. Selama 2004-2008, dia habiskan menjadi TKI di sana.

Meski kondisi bekerja di Hongkong lebih baik, bukan berarti persoalan selesai. Dia menyaksikan, sahabat dan tetangga di kampungnya menghadapi persoalan rumah tangga yang rumit. Uang remitansi para perempuan TKI teman-temannya ini, banyak yang dipakai foya-foya bahkan kawin lagi oleh suaminya. Sementara anak-anak TKI terlantar, bahkan banyak yang putus sekolah.

Sepulang sekolah banyak perempuan TKI yang kemudian menceraikan suaminya. Bahkan, saat masih bekerja di Hongkong pun banyak yang sudah mengirimkan surat cerai buat suami di kampung.

Buat Wina, kondisi ini tidak menyelesaikan soal TKI. Para TKI yang sudah pulang kampung akan kembali ke luar negeri.


Membangun Usaha untuk Peruntungan Ekonomi

Karena itu, dengan modal sendiri hasil bekerja di Hongkong, Wina berusaha menghimpun para mantan TKI dan keluarganya agar tak kembali ke luar negeri.  Mereka membuat kelompok usaha dengan memanfaatkan potensi desa yakni membuat manisan mangga dan kerupuk ikan.

Pada 2012 usaha ini dirintis. Banyak yang menentang karena dianggap hanya menjual kemiskinan untuk mencari sponsor.Wina tak patah semangat, dengan uang pribadinya dia bangun tempat berkumpul, dan tempat usaha. Di tempat yang sama dia juga membuat tempat mengaji dan belajar buat anak-anak TKI yang ibunya sedang di luar negeri.

Kini dibantu sang suami, Wina berhasil merebut kepercayaan masyarakat setempat. Usaha manisan dan jus mangga dari para mantan TKI lumayan berkembang. Begitu pula kerupuk ikan. Setiap sore anak-anak TKI belajar mengaji, belajar komputer dan bahasa Inggris.

Wina hanya bercita-cita, para TKI yang sudah kembali ke kampung tak perlu balik ke luar negeri. Dia ingin menghapus pengalaman buruk jadi  TKI yang pernah dia alami sendiri.


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com. Kini pengelola www.Konde.co dan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.