Perempuan Hebat


*Ika Ariyani- www.Konde.co

Seperti apakah perempuan hebat? Perempuan hebat dalam anggapan banyak orang ternyata hanya label saja yang justru menjerumuskan para perempuan. Label ini yang kemudian membuat para perempuan justru menjadi takut untuk berjuang. Inilah pengalaman yang saya alami:

Dulu, lingkungan pergaulan saya adalah lingkungan yang mewarnai hari-hari dengan mengomentari hidup orang lain, hidup para perempuan di sekitar kami. Sering ngotot dan berapi-api saat mengutarakan opini, tidak ingin disanggah dan hanya ingin didukung.

Saya pikir, mungkin mereka inilah yang berperan menciptakan perkembangan (atau kemunduran?) peradaban manusia, soalnya jumlah mereka banyak sekali, sehingga pendapat mereka bisa saja berubah menjadi kesepakatan bersama dan kemudian akan diyakini sebagai kebenaran absolut. Untung sekarang saya sudah bertobat dari pergaulan yang melelahkan itu.

Saat mereka melihat seorang perempuan beranak tiga, bekerja, mertuanya yang kerap membela anak laki-lakinya, suaminya pun tidak setia, lingkungan sekitar saya dulu malah menyebutnya sebagai perempuan hebat, karena dianggap sabar dan tidak pernah mengeluh.

“Mama A (menyebut nama anak pertama perempuan itu) itu hebat ya, meskipun suaminya selingkuh, tapi dia tabah dan tetap mengurus anak-anaknya dengan baik, nggak minta cerai. Pasti Tuhan akan kasih rejeki buat dia karena kesabarannya.”

Dan semua yang mendengar mengangguk setuju. Begitulah contoh perempuan hebat bagi mereka. Padahal semua ini hanya palsu. Mereka tidak pernah tahu bagaimana sejatinya kehidupan perempuan.

Hai para laki-laki yang senang bergunjing, sebenarnya para perempuan ini ingin lari dari kekerasan ini, tetapi mereka memilih bertahan karena ingin berjuang memperbaiki keadaan. Bukan hanya diam. Ada anak yang harus mendapat makan dan perlindungan. Bukankah ini bagian dari perjuangan?

Mari kita bayangkan hidup yang sebenarnya yang dijalani oleh perempuan ini.

Pagi-pagi sekali ia harus bangun menyiapkan masakan, menjemur pakaian, dan keperluan keluarganya sendirian karena suaminya masih tidur. Di rumahnya, dan sebagian besar keluarga di daerah saya, pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban perempuan, sehingga anak laki-laki tidak diajarkan memasak, dll. Setelah itu, ia berangkat ke kantor dengan tanggungjawab yang lain.

Memulai pekerjaan dengan perasaan tidak enak disebabkan pertengkaran tadi malam akibat perselingkuhan suami. Sebagai pekerja profesional, tentu tidak bisa dengan mudah menunjukkan mood yang buruk di kantor, maka sedapat mungkin ia tetap harus merasa tenang.

Kemudian setelah pulang kantor, ia harus cepat-cepat mandi untuk menghadiri acara persiapan pernikahan kerabatnya, arisan, rapat-rapat di tempat tinggalnya.

Kemudian sampai di rumah, ia kembali mengurus rumah dan anak-anaknya yang sudah ditinggal seharian. Sang suami bahkan tidak memberi kabar pada hari itu, entah kemana. Hal yang dia ketahui adalah banyak orang yang mendukung dan memujinya, sehingga setiap kali ia ingin berpikir bahwa hidupnya menderita, ia menghibur dirinya sendiri dengan mengingat nasihat orang-orang di sekelilingnya yang memintanya bertahan.

“Perempuan yang kuat, adalah perempuan yang tetap tersenyum walau dalam hatinya menangis.”

Kata-kata bijak (racun) itulah yang selalu menjadi andalan para perempuan saat hatinya sedang hancur ketika menghadapi pengkhianatan atau ketidakadilan dalam perkawinannya.

Kontruksi ini yang membuat beberapa perempuan kemudian memilih bersabar dan diam karena yakin Tuhan berada di pihak perempuan.

Perempuan yang setia pada janji perkawinan, apapun badai rumah tangga yang dihadapinya, akan menuai banyak pujian sebagai perempuan hebat, wonder woman, perempuan tangguh. Padahal label ini adalah label yang palsu. Label yang dilekatkan laki-laki ini justru semakin menjerumuskan perempuan ke dalam kekerasan berikutnya.

Lalu bagaimana jika perempuan ini memutuskan untuk pergi membawa anak-anak meninggalkan suami, atau memilih untuk mengusir suami dari rumah? Atau ia kembali ke rumah orangtuanya untuk menyembuhkan diri dan memulai hidup baru, apakah ia masih tetap dianggap sebagai perempuan hebat?

Saya marah dengan ukuran yang tidak masuk akal untuk perempuan hebat yang juga kadang tercermin di iklan, siaran-siaran di TV, drama-drama yang menyesatkan. Semua beban ditumpukan kepada perempuan.

Jika perempuan gagal memenuhinya, lalu bagaimana? Bagaimana seperti saya ini, yang memilih tetap single dan berbuat hal lebih seperti menyekolahkan adik-adik dan bersenang-senang menikmati hidup daripada memilih berumahtangga? Apakah tidak ada tempat bagi saya sebagai perempuan hebat di tengah masyarakat?


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Ika Ariyani, Blogger dan aktivis sosial. Tinggal di Surabaya, Jawa Timur.