Belajar dari Mbok Jamu, Mendekatkan diri Dengan Alam


Melly Setyawati- www.Konde.co

Pagi itu, saya bertemu dan sempat ngobrol dengan salah seorang mbok (ibu) jamu langganan saya sedari kecil. Dia senantiasa melewati depan rumah, namun sudah tidak lagi menggendong bakulan jamu tapi menggunakan gerobak botolan jamu.

Muncul pertanyaan iseng saya, “ Jenengan pinter ndamel jamu, mesti anake luwih pinter njih?” (Anda pintar membuat jamu, pasti anaknya lebih pintar ya buat jamu)

“Anak kulo dados perawat kok mbak, wis mboten mudeng.” (anak saya jadi perawat jadi sudah tidak paham membuat jamu)

Aduh, saya pikir pengetahuan-pengetahuan alami ini merupakan pengetahuan yang khas dari kita, yang rempah-rempahnya sangat kaya. Saya akui, saya dibesarkan dengan perobatan kimia, sakit sedikit ke dokter dan minum obat kimia. Tapi itu justru menjadikan saya sangat tergantung dengan hal-hal kimiawi. Buat saya, ini tidak bagus.

Bukan berarti saya antipati terhadap dokter, saya masih membutuhkan peran fungsi dokter dan pengetahuannya untuk mengatasi ketidaktahuan saya akan kesakitan tubuh secara medis.

Kembali ke mbok jamu tadi, disitu saya seperti tersentil. Ada pengetahuan yang terputus dan tidak mengalir seperti para leluhur kita mengatasi sakit secara turun-temurun dengan menggantungkan diri pada alam, yakni rempah-rempah serta tanaman obat lainnya.

Pada sebuah kesaksian di Inkuiri Adat yang diselenggarakan oleh Komnas HAM pada 3 tahun lalu, seorang nenek bernama Saidah dari desa Punan Dulau Kalimantan Utara mengatakan tentang hidup bersama di hutan.

“Hutan adalah tempat makan kami sekaligus apotik.”

Nenek Saidah dan beberapa penduduk desa, merupakan korban resettlement dari perkampungan adatnya di tengah hutan ke kampung buatan pemerintah jaman Orba.

Betapa dungu nya saya, bahwa penggundulan hutan itu tidak hanya sekedar mengurangi kadar air dan erosi tetapi juga memutuskan rantai pengetahuan. Yang lambat laun bisa membuat manusia hidup dengan alam beton seperti rancangan kota imajinasi Meikarta. Sebab pohon, hutan sudah tidak ada lagi.

Pengetahuan-pengetahuan tradisional, yang diperoleh secara turun temurun karena kedekatan dengan alam sudah terputus satu generasi. Satu generasi diperhitungkan sama dengan usia anaknya mbok jamu yakni sekitar 25 an tahun. Jadi tahu kan siapa pembuat kebijakan 25 tahun lalu?.

Kebijakan yang tidak bernurani, tidak mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat dan alam, memang berpotensi membunuh manusia pelan-pelan serta membesarkan berbagai industri yang dimiliki oleh orang itu-itu saja. Entah dari industri perkebunan sampai dengan industri farmasi dan industri kesehatan.

Ada upaya pembodohan sistimatis yang tengah dirangkai sedemikian rupa, dengan menciptakan mimpi-mimpi materialisme sebagai kehidupan yang sukses dan prestisius. Menjadi dokter atau pegawai yang ada di dalam ruangan adalah pekerjaan membantu manusia lain, namun pekerjaan ini selalu dianggap lebih prestisius oleh banyak orang dibandingkan sebagai mbok jamu. Tempat yang tidak kena panas, tidak berkeringat, bersih dan baju yang rapi. Dibandingkan mbok jamu yang lebih rekoso (susah) berkeringat, bau, berat, jalan kaki dan kena panas.

Cukup diakui hingga sekarang cara pandang ini masih berlaku. Dan semakin berjarak dengan alam, yang telah menyediakan seluruhnya kebutuhan manusia.

Industri mencoba mengambil alih peran alam, dengan memutuskan rantai pengetahuan dan keintiman manusia dengan alam. Seperti pembuatan jamu instant, bumbu instant, serta perobatan dan lain-lainnya.

Berapa banyak generasi Dilan dan Milea bisa mengetahui cara memasak rendang? Padahal jika mengetahui soal ini, maka kita akan terus berelasi dengan alam, bersetubuh bersama alam, mengelola dan hidup bersama alam.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)