Saya Adalah Korban Pelecehan Seksual, Kita Akan Diam atau Melawan? (1)




Bukannya saya tak menikmati saya yang terlahir sebagai seorang perempuan. Hanya saja, saya tak bisa memungkiri pernah berada pada titik di mana saya sangat benci dengan tubuh saya ini. Tubuh yang menunjukkan bahwa saya seorang perempuan, dan saya seperti terjebak di dalamnya.



*Luluk Khusnia- www.Konde.co

Januari, dua tahun lalu. Di sebuah kampus, menjelang akhir masa liburan.Ingatan saya masih terasa begitu segar terhadap kejadian itu. Seperti baru saja terjadi. Saya masih bisa merasakannya. Dua telapak tangan yang mendarat tepat di payudara saya dan dengan cekatan meremasnya. Dua telapak tangan yang lantas turun dan berganti memegang bagian pantat saya. Semua itu terjadi begitu saja dalam sekejap mata.

Seorang laki-laki yang tiba-tiba memeluk saya dari arah belakang dan memegang kedua bagian tubuh saya itu. Sejurus kemudian, laki-laki itu melepaskan tangannya dari tubuh saya dan berdiri tak jauh dari tempat saya berdiri. Laki-laki itu diam menatap ke depan, seolah-olah tak ada yang terjadi beberapa menit sebelumnya.

Apa yang saya lakukan saat itu? Saya tidak mampu melawan laki-laki itu, hanya bisa secara refleks berteriak lalu menangis. Kejadian itu terjadi tiba-tiba dan saya tidak memiliki pertahanan apapun untuk melawan. Tak ada satu orang pun yang menolong saya saat itu. Meskipun seingat saya, ada seorang perempuan yang melihat saya berlari menghindar sambil menangis.

Saya tidak tahu harus berlari ke mana. Saya hanya mengikuti ke mana kaki saya ingin berlari. Bodohnya, saya justru berlari ke sebuah lorong yang gelap dan jarang dilewati orang. Dalam kondisi ketakutan, saya duduk meringkuk sambil menangis.

Dan beberapa puluh menit kemudian, laki-laki itu sudah berdiri tepat di hadapan saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ingin berlari mencari perlindungan, tapi rasanya sulit sekali untuk menggerakkan kaki ini. Saya pun mengecilkan suara tangisan saya dan merapatkan kedua tangan saya di depan dada. Saya tidak ingin laki-laki itu meremas payudara saya yang masih terasa sakit ini untuk kedua kalinya. Untungnya, laki-laki itu langsung pergi setelah menatap saya selama beberapa detik.

Berjam-jam lamanya, saya masih bertahan di tempat yang sama. Otak saya seolah-olah tidak mau diajak bekerjasama untuk memikirkan apa yang seharusnya saya lakukan. Lagi-lagi, saya hanya bisa menangis ketakutan dan merasa jijik dengan tubuh saya sendiri. Hingga pada akhirnya, tiga teman perempuan saya datang dan membawa saya pergi dari tempat itu.


Laki-Laki Pelaku Pelecehan Seksual


Singkat cerita, beberapa hari kemudian, sebuah pesan tersebar di hampir semua grup WhatsApp saya. Pesan itu berisi foto seorang laki-laki. Seorang penjahat kelamin yang sudah meresahkan warga kampus. Beberapa mahasiswa baru yang tinggal di asrama putri pun telah menjadi korban laki-laki itu. Bahkan, sebagian di antara mereka mengalami trauma.

Saat itulah, baru saya tahu bahwa si penjahat kelamin itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang telah memperlakukan saya dengan buruk beberapa hari sebelumnya. Dan itu artinya, saya juga telah menjadi korban laki-laki itu.

Saya hanya bisa diam dan menangis sambil mengamati setiap obrolan yang mengomentari pesan siaran itu. Saya tidak ingin mereka tahu bahwa saya juga telah diperlakukan dengan sangat menjijikkan olehnya. Rasa malu dan kehilangan harga diri benar-benar menguasai diri saya saat itu.

Dan tiba-tiba emosi saya mulai membuncah, ketika obrolan di grup WhatsApp justru malah menyudutkan korban-korban penjahat kelamin itu. Mereka mengatakan, seharusnya perempuan-perempuan itu bisa melawan. Apa sulitnya melawan ketika ada seorang laki-laki memperlakukanmu seperti itu? Hanya perlu berteriak, memukul, atau bahkan menendang penisnya. Ambil foto laki-laki itu, laporkan, lalu sebarkan, agar ia malu dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Jika kamu tidak melawannya, maka kamu sudah membiarkan laki-laki itu menang dan memberinya peluang besar untuk menikmati tubuhmu.

Ahh… Sial. Bukankah secara tidak langsung, mereka juga menyalahkan saya? Iya, karena saya yang tidak bisa melawan ketika diperlakukan demikian oleh laki-laki tak dikenal. Ingin rasanya saya membalas pesan mereka dan mengatakan betapa mudahnya berkata demikian, sementara mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya berada dalam kondisi seperti itu. Tapi saya urungkan niat membalas obrolan mereka.

Saya tidak ingin mereka semakin curiga kepada saya dan akhirnya tahu bahwa saya juga pernah diperlakukan buruk oleh penjahat kelamin itu. Saya tidak memiliki cukup keberanian untuk menanggung rasa malu, apalagi kalau mereka nantinya semakin menyalahkan saya atas kejadian tersebut.

Apakah tidak ada perasaan menyesal dalam diri saya? Jelas ada. Menyesal lantaran tidak melawan dan melaporkan kejadian itu. Terlebih, selang beberapa hari kemudian, selama berminggu-berminggu, penjahat kelamin itu masih bebas berkeliaran di sekitar saya. Di dekat kelas kuliah, di dekat tempat kos. Entah itu pagi, siang, sore, ataupun malam. Dan saya terjebak dalam situasi yang sangat tidak aman.


Masih ada Pelecehan Lain

Ini bukan pertama dan terakhir kalinya saya diperlakukan demikian. Si penjahat kelamin itu bukan satu-satunya laki-laki yang pernah menggerayangi tubuh saya. Jauh sebelum dan sesudah itu, saya juga pernah diperlakukan yang sama oleh beberapa laki-laki.

Semua itu terjadi sejak saya masih berada di bangku sekolah dasar. Bahkan, hingga saya kuliah pun, saya masih mengalaminya. Tapi saya tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menceritakannya kepada orang lain, termasuk orang tua saya sendiri.

Tidak hanya secara fisik, saya juga pernah dilecehkan secara nonfisik. Saya sering mendapatkan paksaan untuk berhubungan seks melalui telepon, atau yang lebih dikenal dengan istilah phone sex. Saya tidak tahu siapa mereka. Nomor-nomor yang digunakan untuk menghubungi saya selalu dirahasiakan. Kejadian serupa tetap terjadi, meskipun saya sudah berkali-kali mengganti nomor handphone. Seperti sebuah teror, sungguh…

Saya kerap bertanya, apa yang salah dari diri saya hingga sering diperlakukan seperti itu. Apakah ada yang salah dengan pakaian saya? Entahlah. Tapi, pada kenyataannya, perbuatan-perbuatan tidak menyenangkan dari laki-laki, justru semakin sering saya dapatkan ketika saya sudah memutuskan berjilbab sehari-hari.

Lantas, apakah benar yang dikatakan orang-orang bahwa perempuan tidak boleh keluar malam hari agar tidak ada laki-laki yang berbuat buruk padanya? Saya akui, memang saya sering pulang malam. Melewati jalanan seorang diri pun sering. Tapi, saya kira semua sama saja. Mulai dari siulan, rayuan, hingga ajakan berhubungan seksual pun masih saya dapatkan. Bahkan, beberapa kali saya juga pernah dibuat ketakutan oleh laki-laki ekshibis yang tiba-tiba muncul di hadapan saya, lalu dengan bangga mempertontonkan kemaluannya kepada saya. Tidak peduli itu terjadi siang ataupun malam, di jalanan yang sepi ataupun yang ramai, saya pernah mengalaminya.

Bukankah itu berarti saya tidak bisa menyalahkan pakaian, malam, ataupun jalanan? Iya. Dan saya masih mencari jawaban, apa yang secara tidak sadar telah saya lakukan, hingga memberikan celah bagi para laki-laki untuk memuaskan dirinya dengan melakukan semua perbuatan itu kepada saya. Namun bukan itu, yang salah tetalah laki-laki yang melakukan kekerasan, bukan perempuan yang menjadi korban. Saya selalu meyakinkan diri saya atas pertanyaan- pertanyaan yang menyudutkan korban (Bersambung).

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Luluk Kusnia, Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang yang sedang menempuh semester akhir S1. Aktif di pers mahasiswa universitas.