Pelecehan Seksual, Kami Mengalaminya dan Selalu Tergetar Mengingatnya



“Ketika saya membaca sebuah tulisan yang bercerita tentang pelecehan seksual yang dituliskan oleh seorang perempuan di media, saya langsung tergetar untuk menuliskannya. Inilah saya, pengalaman perempuan dan ibu dari 2 anak perempuan yang juga pernah menjadi korban pelecehan seksual.”


*Rimba Raya- www.konde.co

Tulisan ini saya buat setelah membaca tulisan Ully Siregar di BBC tentang kasus pelecehan seksual yang pernah dialaminya bertahun-tahun lalu. Ully menulis pengalaman kelamnya karena terpantik kasus seorang pasien yang menyatakan dilecehkan oleh seorang perawat di rumah sakit tempat ia menjalani pengobatan.

Saya juga mengalaminya. Juga keponakan saya yang kala itu, saat menjadi korban pelecehan seksual, berumur 11 tahun.

Saat menceritakannya pun, selalu diiringi isakan tangis dan rasa takut. Saya melihat dari tangisannya, mendengar suaranya bergetar saat bercerita, dan saya hanya bisa memeluknya untuk menenangkannya.

Sore itu kami, saya beserta dua keponakan, sedang berbincang tentang rencana berlibur ke luar kota. Kami bersepakat untuk naik kereta. Selain karena keponakan kecil mabuk darat jika naik bus, kereta menurut kami lebih longgar dan lebih menyenangkan jika kami naik kereta.

Keponakan yang besar lebih fleksibel, senang naik kereta tapi juga tak menolak jika naik bus. Yang penting bagi dia jalan-jalan ke luar kota.

Tetapi, sore itu tiba-tiba, seperti marah, dia mengatakan menolak menggunakan bus. Saya penasaran. Saya, yang beberapa kali menjadi korban pelecehan seksual ketika masih kanak-kanak, remaja, dan dewasa paham betul bagaimana rasanya dilecehkan. Dan saya berpikir pasti tak mudah bagi anak- anak menceritakan kejadian memalukan dan menakutkan kepada orang lain bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Malu, takut disalahkan, dan banyak perasaan campur aduk berkecamuk.

Saya lantas meminta adiknya yang sedang berbaring di samping untuk keluar membelikan susu di warung samping rumah. Saya beranggapan mungkin keponakan besar bisa bicara jika hanya berdua dengan saya.

Dan dalam keadaan menangis dia mulai bercerita. Saya memeluknya dan tidak memaksanya untuk bercerita.

Pertanyaan saya, " Kenapa tidak mau naik bus mbak? (saya memanggil keponakan saya mbak untuk memanggilkan anak-anak saya. Karena dia anak kakak saya)."

Namun pertanyaan ini justru dijawab panjang lebar dengan berurai air mata.

"Saya nggak mau naik bus tante. Seminggu lalu, di bus pas perjalanan dari kampung ke Jakarta pahaku digerayangi bapak-bapak yang duduk di sampingku. Aku sudah mengibaskan tangannya, tapi dia mengancam. Aku ketakutan tante. Aku nggak berani bilang ke ibu. Karena dia mengancam".

Katanya laki-laki itu duduk di samping kanannya. Ibu dan adik laki-lakinya duduk di sebelah kirinya. Jadi, keponakan duduk di tengah.

Lelaki itu mulai menggerayangi saat hari mulai gelap. Ibunya yang diberi sinyal dengan dicubit, disenggol dengan badan tak merspon. Ibunya mengira anaknya yang besar sedang sakit kepala, sehingga hanya menyuruhnya menyandarkan kepalanya.

Dan menurut keponakan besar, ibunya memang terlampau sibuk mengurus adiknya yang mabuk sejak naik bus hingga hendak turun. Akhirnya keponakan mendiamkan perbuatan lelaki di sampingnya menggerayangi pahanya sampai dia bersama ibu dan adiknya turun dari bus.

Pengalaman pahit yang dialami keponakan saya tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Karena saya pun pernah merasakan ketakutan seperti yang keponakan saya alami.


Saya Juga Mengalaminya

Saya pun pernah menjadi korban kekerasan seksual. Saat itu saya berusia sekitar 8 tahun. Di suatu siang, usai pulang sekolah seorang tetangga yang usianya 10 tahun lebih tua dari saya menggandeng dan mengajak saya pergi ke halaman belakang rumah tetangga. Dalam perjalanan, yang mengendap-endap, dia meraba dada. Karena kaget saya melepaskan pegangannya dan lari terbirit ketakutan.

Saya tak pernah menceritakan peristiwa ini. Baik kepada keluarga atau teman. Karena, lelaki itu anak seorang guru yang dihormati dan disegani di desa saya. Orang-orang di desa saya juga menilai lelaki itu orang baik-baik, kalem, ramah, santun. Saya takut dianggap mengada-ada jika menceritakan kelakuannya yang sebenarnya.

Saya sering melihatnya, karena rumahnya memang tak jauh dari rumah saya. Yang membuat saya merasa aneh dan miris, jika bertemu saya, lelaki itu seperti merasa tak bersalah dan seperti tak pernah melakukan dosa. Mungkin dia menganggap saya kala itu anak ingusan yang akan mudah lupa.

Pelecehan sekual kembali saya alami saat duduk di kelas tiga sekolah menengah atas. Saya ingat betul, pelakunya adalah teman kakak sepupu.
Sambil menunggu kelulusan sekolah, kakak sepupu saya yang menjadi anggota TNI mengajak saya, dua tetangganya laki-laki dan perempuan dan seorang teman yang juga tetangganya seorang anggota polisi untuk camping di hutan sekitar 25 kilometer dari rumah saya.

Saat itu hutan di dekat tempat saya tinggal masih lebat, pohon jatinya besarnya empat pelukan orang dewasa menjulang tinggi.

Di hari terakhir saat menyalakan api unggun teman kakak sepupu saya yang anggota polisi tiba-tiba duduk di samping saya. Saya masih ingat, betapa kaget dan takutnya saya ketika tangannya mengelus paha saya. Saat itu saya mengenakan celana jins. Tetapi, meski paha terbungkus bahan jins, kekagetan yang tiba-tiba menjalar ke kepala tetap tak bisa saya hindari.

Saya shock, ingin marah, teriak, tapi suara seperti tercekat. Saya hanya refleks mengibaskan tangannya. Pelaku menarik tangannya ketika kakak saya mendekat hendak memberikan kopi.

Sejak peristiwa itu, saya tak pernah bersedia menemui pelaku ketika beberapa kali masih berani-beraninya mendatangi rumah saya yang entah apa tujuannya. Saya tak menceritakan peristiwa malam itu bahkan ke kakak atau ibu saya.

Sama seperti yang dikatakan Ully Siregar, andai saja kita diberikan keberanian untuk memberitahukan pengalaman pahit kepada orang terdekat, baik itu keluarga atau teman, mungkin setidaknya korban kejahatan seksual bisa dihindari. Bisa jadi jika saya bercerita, maka tak akan ada korban lagi. Karena, pelaku kejahatan seksual tak akan diam begitu saja tanpa memangsa korban berikutnya.

Saat dewasa saya sering berpikir, pasti banyak predator seks yang mengintai anak-anak yang lepas dari pantauan keluarga di luar sana. Jadi, jika kita sudah waspada menghindari kejahatan seksual seharusnya pemerintah memayungi semua warganya dengan regulasi.

Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual mestinya segera disahkan untuk memberikan perlindungan kepada semua warga negaranya.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Rimba Raya (bukan nama sebenarnya),
ibu dari 2 anak perempuan.