Suara diantara Rasa Pahit


*Damai Mentari- www.Konde.co

Bagaimana menerima rasa pahit? Salah satu teman bercerita tentang bagaimana menerima rasa pahit dengan perasaan lega. Ada berbagai macam cara. Minum kopi lalu hang out bersama teman, bercerita dengan kawan baik, atau membantu orang lain yang membuat kita bersyukur.

Tentu saya pilih yang pertama. Karena nonton dan hang out bersama teman dekat adalah sesuatu yang menyenangkan.

Namun pada saat pergi bersama teman-teman itulah saya mulai berpikir sesuatu, bagaimana jika ada banyak orang, banyak perempuan yang tidak bisa menceritakan apa yang ia alami pada orang lain? Korban kekerasan, korban pelecehan seksual. Para korban biasanya harus didampingi, diajak bicara bahkan diajak melakukan rutinitas yang agak berbeda dan sedikit bisa meringankan beban yang ia rasakan. Tak semudah saya dan teman-teman yang bisa bercerita tentang hal yang membuat sumpek dalam seminggu ini.

Sambil minum kopi dan tertawa bareng.

Tentu menjadi korban kekerasan adalah sesuatu yang sangat jauh berbeda.

Baru-baru ini saya mendapati banyak perempuan yang dengan susah payah bisa menceritakan tentang pelecehan seksual yang ia alami di masa lalu. Buat saya ini merupakan hal yang memberikan semangat dimana ada perempuan yang kemudian dengan berani menceritakan hal yang tersulit bagi hidupnya.

Bagaimana dulu ia bisa menyembunyikan hal yang paling sulit ini? Apakah ia tidak pernah menceritakan apapun pada orang terdekatnya?

Masa itu pasti tidak begitu saja berlalu dengan mudah. Sudah banyak kita dengar cerita tentang bagaimana perempuan korban yang sedang berjuang namun malah dicemooh sebagai orang yang dianggap mengarang cerita, sebagai perempuan yang dianggap mencari perhatian atau sedang dalam posisi menggoda laki-laki pelaku, sehingga ia menjadi korban. Jika bukan perkataan yang buruk ini, maka yang ada adalah lontaran yang ada di belakang korban.

“Dimana posisinya waktu itu? Datang ke tempat laki-laki itu? Pantas jika dia menjadi korban.”

Kalimat patriarkhi itu yang sering saya dengar. Padahal perempuan yang berani untuk bercerita dan merangkai sebuah keberanian untuk mengakui dan melaporkan adalah perempuan feminis yang sudah berhasil membangun teori feminis dan perjuangan feminis.

Salah satu feminis, Kate Millet menyatakan bahwa kekerasan merupakan sesuatu yang dilanggengkan dalam hubungan politik. Orang-orang yang melawan korban dan mencemooh korban adalah orang yang menyerang feminisme, mengontrol korban agar tidak bisa berbuat sesuatu.

Tentu ini ramai kami bicarakan hari ini karena justru yang mencemooh biasanya adalah teman kita sendiri, orang dekat yang tak pernah kita bayangkan akan berjarak ketika kita mempercayainya sebagai teman untuk bercerita.

Namun kami sepakat bahwa kita jangan pernah lupa pada suara, suara perempuan, suara korban. Jika tidak bersuara, maka suara korban akan tenggelam pada hiruk-pikuk cemooh dan perlakuan buruk lainnya. Maka suara kemudian menjadi salah satu bahasa tubuh kita untuk melakukan perlawanan. Ini adalah suara perempuan yang mencintai kebenaran, kesungguhan hati untuk berjuang.

Jadi dimana kita akan minum kopi hari ini?

Rasa-rasanya, saya harus cepat bergegas untuk segera mendampingi banyak perempuan yang mau berjuang untuk melawan.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Damai Mentari,
mahasiswa pascasarjana sebuah universitas di Jakarta, senang berorganisasi dan berada dalam kerumunan.