*Fransisca Asri- www.Konde.co

Setiap melihat telur paskah yang dihias anak-anak, setiapkali itu pula saya mengingat cita-cita kami dulu.

Setelah melukis telur paskah, kami lalu membagikannya pada anak-anak yang lain. Pada anak-anak di gereja, di jalan, di lingkungan kami, semua anak akan senang mendapatkan telur paskah yang dihias warna-warni. Kami menggunakan kertas krep warna-warni untuk menghiasnya satu hari sebelum jumat paskah. Kakak-kakak kami yang mengumpulkan dan kemudian mengajarkan ini. Tentu saat seperti itu adalah saat yang ditunggu anak-anak, kami belanja telur, memasaknya lalu menghiasnya.

Hingga dewasa, kami baru mengetahui makna mendalam dalam setiap telur paskah yang kami hias.

Inti dari paskah yang kami pelajari kemudian yaitu bagaimana kita memberi pada orang lain, memberikan waktu dan ruang pada orang lain, juga harus berkorban pada manusia yang lain. Dalam masa-masa itulah kemudian kami belajar tentang sisi lain. Sisi lain ini yaitu: siapakah korban, apa yang harus kita lakukan untuk korban, serta dimana kita menempatkan diri jika ada korban?

Ini pula yang kemudian memberikan kami pelajaran bagaimana menempatkan pelaku dan korban. Dari sanalah kami mengetahui bahwa kami harus berpihak pada korban, menolong mereka dan memberikan ruang pada kehidupan kami.

Kami lama mempelajari ini di tempat kami ibadah dan di lingkungan kami. Dan percaya ataukah tidak, bahwa sejak itulah awal mula kami belajar tentang cita-cita untuk pekerjaan kami.

Saya dan beberapa teman kemudian mempunyai cita-cita untuk bekerja pada lembaga kemanusiaan. Disana, saya menjadi tahu ada seorang teman yang ditinggalkan pacar laki-lakinya pergi begitu saja, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya dan harus merawat anaknya sendiri, juga seorang anak yang berada dalam masa sulit menghadapi perpisahan orangtuanya.

Kami jadi banyak belajar bagaimana harus berpihak, harus belajar soal pembelaan pada korban dan membantunya untuk berani menyelesaikan persoalan. Karena pada intinya, bagi perempuan: hidup adalah bagaimana memutuskan untuk berani. Termasuk berani untuk memimpin.

Disanalah kami kemudian memperjuangkan perempuan untuk berani dalam memimpin, termasuk dalam gereja, dalam lingkungan kami.

Karena inti dari paskah juga berarti memberikan ruang bagi yang lain untuk memimpin dan dipimpin. Dari sinilah saya kemudian belajar soal diskriminasi. Diskriminasi adalah sesuatu yang dilakukan ketika kita melakukan pembedaan manusia lain yang membuat tidak nyaman orang lain.

Saya menjadi mengerti, ternyata dari kecil, kami sudah belajar soal simbol-simbol kemanusiaan. Telur paskah ternyata merupakan simbol kemanusiaan pertama yang kami pelajari kala kami kecil. Telur ini selalu mengingatkan kami akan makna untuk memberikan sesuatu, berkorban bagi orang lain, memberikan kasih sayang dan ruang yang lebar bagi korban.

Setiapkali saya mengingat ini, setiap kali melihat ini, telur-telur paskah yang selalu datang seperti hari-hari ini, ini yang membuat kami belajar banyak. Masa kanak-kanak kami, telur-telur ini mengingatkan bagaimana pembelaan kita pada korban, pada perempuan yang menjadi korban yang terlalu sering kami temui, memperjuangkan mereka secara bersama-sama.

Karena bagi kami, paskah adalah simbol, alat, praktik, pilihan kami untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Fransisca Asri, pekerja kemanusiaan di pelosok negeri.

Hari kemarin, 28 Maret 2018, meriam Belanda yang dipajang dengan moncongnya diarahkan kepada rakyat, telah kami balik dan arahkan ke dalam, ke Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Rodanya kami buang di got. Catatan ini adalah pledoi tentang aksi pembalikan mulut meriam Belanda yang kami arahkan ke kantor Gubernur NTT ketika berkunjung ke Kantor Gubernur NTT untuk meratapi matinya saudara-saudari kami, perempuan buruh migran yang dipulangkan dalam peti mati dan tidak satupun dipedulikan.


*Elcid Li- www.Konde.co

Hario Kecik salah seorang pelaku perang tiga bulan di Surabaya 1945 atau yang dikenal sebagai perang 10 November 1945 mengatakan ada kecenderungan elit-elit Indonesia senantiasa mengarahkan meriam kepada rakyatnya sendiri, daripada mengarahkan meriam kepada musuh-musuh negara yang berasal dari luar negara. Tanda-tandanya jika ada ‘ajang adu ayam’ sudah bisa dipastikan itu kerjaan bangsa sendiri yang mengadopsi devide et impera.

Model kolonialisme internal semacam ini dilanggengkan oleh para elit lokal. Mereka gemar sekali berpesta seperti layaknya para londo dulu. Mereka gemar dipuji oleh anak-anak yang mereka bina. Sebaliknya mereka amat alergi terhadap kritik. Meskipun jika kritik itu menyangkut nyawa rakyat. Di era yang orang sebut sebagai post truth dengan mudah para centeng menggadaikan harga diri dan logika untuk menyembah tuannya.

Jangan heran meskipun proklamasi 1945 sudah dikumandangkan berulang-ulang namun konsep rakyat (the people) tidak pernah bisa diturunkan dalam gerak kolektif.

Sebaliknya yang terjadi adalah para elit berpestapora, dan rakyat pulang dalam peti mati. Jangan heran jika meriam Belanda dipakai bertahun-tahun dan diarahkan moncongnya selama sekian tahun kepada rakyat. Simbol-simbol penjajah yang dipakai dan dianggap biasa merupakan bukti bahwa kolonialisme bukan lah soal warna kulit.

Para elit baru (new class) hidup terasing di negeri yang kemiskinan menjadi kutukan untuk orang miskin. Bahkan orang kaya maupun investor menjadi dewa-dewa baru yang amat peduli dengan sopan santun yang dibuat-buat, tetapi mengabaikan kemanusiaan yang hakiki. Regulasi tetap menyimpan unsur penindasan. Logika ekonomi, cenderung mengabaikan kematian orang kecil. Uang adalah panglima. Memburu rente adalah bahasa kompeni.

Ratusan orang yang pulang mati di NTT hanya dianggap lelucon. Sukarnois macam apa kalian, jika membaca teks Sukarno pun tak mampu, tetapi sebaliknya gemar sekali bersembunyi di balik ketiak kekuasaan. Ah, Bung Karno, putrimu pun mengecewakan kami! Si kurus ceking pun tak peduli pada perempuan-perempuan kami yang dijual.

Di Timor hari-hari ini kelaparan adalah hal yang biasa. Di desa orang disebut punya pekerjaan, tetapi amat minim uang tunai. Sebaliknya di kota pekerjaan bertaburan, dan uang pun seolah tidak mengenal etika, akal budi ditelan aturan untung-rugi (cost and benefit). Jika memangsa manusia lain adalah cara hidup, dan seolah dihalalkan. Maka jangan heran kisah tentang mewahnya perilaku elit-elit di Kota Kupang sudah menjadi rahasia umum. Mereka hidup dari ‘uang tim sukses’, entah wartawan, entah aktivis kampret. Sementara kasta paling bawah dihuni oleh mereka yang menyambung nyawa untuk hidup. Mereka yang pergi dan tak peduli apakah bisa kembali dalam keadaan bernyawa. Pertanyaannya, pejabat-pejabat daerah macam apakah yang ada di NTT dan di Indonesia yang tidak mampu melihat derita kaum marhaen semacam ini.

Slogan marhaen di Provinsi NTT hanya jadi judul kosong, tanpa paham isinya. Bahkan ini berlaku bagi mereka yang mengaku anak idiologis Bung Karno. Mana ada kaum marhaen di negeri yang para perempuannya mati dan pulang, namun sekedar untuk mendapatkan ambulance saja agar dapat mengantarkan tubuh mereka ke rumah dan liang lahat pun harus dilalui dengan mengemis? Mana ada pemimpin kaum marhaen yang bersembunyi di ruang ber-AC ketika para korban tiba dan hendak bertanya dimanakah letaknya keadilan dalam dinding kekuasaan? Dimanakah rasa manusia yang masih tersisa di ujung mesin-mesin birokrasi?

Meriam Belanda kau puja, dan kau arahkan moncongnya kepada rakyat. Retorika kompeni kau pakai hari-hari ini. Kau katakan mereka yang berdaulat hanya lah mereka yang berduit. Sedangkan kalian rakyat sebaiknya diam dan jangan ribut. Ikut saja aturan--meskipun aturan-aturan itu mematikan. Meskipun aturan-aturan itu terbukti gagal. Meskipun penderitaan yang kalian suarakan hanya menjadi proyek baru untuk pejabat-pejabat partai politik. Meskipun harga dirimu diinjak hingga kalian tak mampu bersuara.

Di titik ini. Ketika kematian menjadi hal yang sengaja dilupakan. Dan tubuh yang ditinggalkan di cargo bandara adalah  hal yang kurang penting. Dan sebongkah roda meriam menjadi lebih penting untuk pedagog-pedagog yang mengaku Sukarnois. Maka sudah tepat lah, rakyat Indonesia di NTT menggulingkan meriam itu, dan mengarahkan moncong meriam Belanda itu ke dalam rumah elit kolonial baru. Kulit kita memang sama. Bung Karno juga sudah memperingatkan di era neo kolonialisme penjajah yang datang kulitnya berwarna sama denganmu, namun berwatak penghisap yang sama.

Meriam sebaiknya tidak diarahkan kepada rakyat. Sebaliknya ini lah saatnya rakyat memberi makna atas tafsir meriam yang hari ini kami balik dan arahkan pada elit sontoloyo yang tidak mau peduli dengan dukacita kaum marhaen. Apa program emergency yang kalian buat untuk perempuan-perempuan kita yang mati? Apa program perlindungan untuk anak-anak kita yang dikirim dan dijual ibarat ayam potong?

Dengan bambu dan kayu para pemuda membalikan meriam penjajahan Belanda yang moncongnya bertahun-tahun diarahkan pada rakyat. Dengan bambu dan kayu kami ingat bahwa nenek moyang kami pun merebut kemerdekaan dengan cara melawan senapan mesin dengan bambu runcing. Pemimpin yang tidak peduli dengan penderitaan warganya sendiri adalah penjajah.

Jika di tahun 1930 Bung, pernah menulis pledoi Indonesia menggungat. Di tanggal 28 Maret 2018, kami para pemuda di Kupang, NTT, menuliskan Rakyat NTT Menggugat. Dalam teks Indonesia Menggungat Bung Karno (1978 [1930]), hal.107 menulis tentang kromo-isme. Patut lah itu kalimat putra fajar itu dikutip dengan utuh:

Siapa dari kaum pergerakan Indonesia menjauhi atau tak mau bersatu dengan saudara-saudara “rakyat rendah” yang sengsara dan berkeluh kesah itu, siapa yang menjalankan politik ‘salon-salonan’ atau ‘menak-menakan’, siapa yang tidak memperusahakan marhaenisme atau kromoisme,--walaupun ia seribu kali sehari berteriak cinta bangsa cinta rakyat, ia hanya lah menjalankan politik yang….cuma politik-politikan belaka!

Selama ini di kantor Gubernur NTT meriam yang pernah menembakan peluru Belanda kepada rakyat dipajang sebagai barang angkuh yang moncongnya diarahkan kepada rakyat. Entah berapa banyak sudah rakyat di Pulau Timor yang mati akibat tembakan meriam Belanda ini. Entah kenapa meriam yang menembakan pelurunya kepada bangsa Timor ini kemudian dipakai sebagai simbol kantor Gubernur NTT. Entah kenapa congkaknya penjajah masih kau wariskan pada generasi ini. Entah mengapa watak kolonialisme masih teramat kental diwarisi oleh pejabat-pejabat bangsa ini.

(Aksi rakyat NTT menggugat karena banyaknya kematian buruh migran pada 28 Maret 2018 di Kupang, NTT/ Foto: Elcid Li)


*Elcid Li, Rakyat Indonesia di Nusa Tenggara Timur

*Jumiyem dan Sargini- www.konde.co

Jogjakarta, Konde.co- Jika anda memasuki di sejumlah kawasan pasar tradisional di Jogjakarta, anda pasti pernah menjumpai para perempuan pembawa beban, yang naik turun tangga pasar.

Sebelum membawa barangnya, biasanya para pembeli bertransaksi untuk menentukan berapa upah yang harus dibayarkan para perempuan buruh gendong ini.  Pekerjaan buruh gendong adalah pekerjaan yang berat mengangkut beban dari 50 kg hingga lebih dari 100 kg untuk sekali angkut tanpa bantuan alat. Mereka juga mengangkut beberapa kali barang turun naik dari pasar ke jalan raya dalam 1 hari. Begitulah keseharian dan kerja-kerja buruh gendong.

Perempuan buruh gendong ini bisa dijumpai di beberapa pasar tradisional di Yogyakarta, seperti di Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, Pasar Gamping, dan Pasar Giwangan. Jasa yang ditawarkan adalah memberikan pelayanan pengangkutan barang kepada konsumennya.

Dalam keseharian, pekerjaan para perempuan ini dianggap biasa. Selalu dianggap sebagai orang yang harus bersyukur karena mendapatkan pekerjaan dari pada tidak, daripada tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Tapi merasakah kita, bahwa karena peran pekerja ini maka roda perekonomian dari keluarga hingga kota dan negara bisa berjalan?.

Mereka adalah perempuan buruh gendong, para pekerja perempuan di pasar-pasar tradisional yang selama ini berperan penting dari produksi di dalam rumah dan di luar rumah hingga distribusi barang dan sampai ke rumah tangga lagi dan dikonsumsi.

Buruh gendong di pasar tradisional ini mengangkut barang-barang dari buah, sayur, Sembako sehingga sampai ke pedagang di pasar atau pun ke pembeli. Semua bekerja, berperan besar dalam sistem perekonomian. Namun bagaimana situasi mereka? Sudahkah sebagai warga negara dan pekerja mereka dihargai dan mendapat perlindungan untuk situasi pekerjaan dan penghidupan yang layak?

Perempuan buruh gendong adalah yang bekerja menurunkan dan membawa barang dari angkutan pemasok ke pedagang dan pembeli, namun, situasi kerja dan penghidupannya masih jauh dari kata layak.

Kami ingin berbagi perjuangan luar biasa dari para pekerja perempuan seperti Bu Endah, Mbak Musinem, Mbak Yatmi, yang merupakan buruh gendong dari Jogjakarta. Kemudian juga Mbak Warisah, seorang pekerja rumahan dari Yogyakarta, dan Mbak Juju, seorang buruh konveksi dari Tangerang Selatan. Berikut ini kisah-kisah mereka:


Bu Endah, Buruh Gendong dari Pasar Buah Pelem Gurih, Gamping, Sleman, DIY


Bu Endah berusia 50 tahun,  berasal dari Klaten, bekerja sebagai buruh gendong di Pasar Pelem Gurih, Gamping, Sleman DIY. Kami menjumpainya di sela-sela kerjanya. Bu Endah melakoni pekerjaan buruh gendong sejak tahun 1991. Ketika ditanya mengapa menjadi buruh gendong.

“Pendidikan saya hanya lulus SD, mau membuka usaha sendiri tidak punya modal, penghasilan suami sebagai tukang ojek juga tidak tentu. Pernah pula menjadi buruh cuci baju (PRT), namun tidak bertahan lama.”

Akhirnya  buruh gendonglah menjadi pilihannya. Setiap hari Bu Endah harus naik bus pulang-pergi Klaten – Jogjakarta. Bekerja di salah satu juragan pedagang buah dengan 7 teman sekerja,  baik perempuan dan laki-laki. Bukan hal yang mudah menjalani pekerjaan ini. Dijelaskan pula bahwa pada awal-awal bekerja menjadi buruh gendong, tentu upahnya jauh lebih kecil.

Sekarang, setiap hari Bu Endah harus mengangkat puluhan kilogram buah untuk bisa mendapatkan upah. Bu Endah bersama 7 buruh gendong mempunyai sistem kerja borongan. Jadi ketika buah datang sebanyak satu (1) ton, dibayar oleh Juragan Rp. 700.000,- dan dikerjakan bersama 8 orang tadi. Bu Endah dan para buruh gendong lainnya sudah terbiasa menggendong 70 kg sekali angkut. Bisa selesai sekitar 2-3 hari. Sehingga perorang buruh gendong mendapat rata-rata Rp. 100.000,- untuk 2-3 hari. Untuk hasil rata-rata setiap harinya selain upah borongan gendong buah Rp. 30.000- 35.000,-.

“Pekerjaan Buruh Gendong sering tidak dianggap, mbak,” ungkap Ibu dari 2 anak ini.

Dia bersama teman buruh gendong lainnya tidak bisa masuk menjadi anggota koperasi pasar. Jika mau mengajukan pinjaman ke koperasi pasar, bunga yang dibebankan tidak sama dengan yang menjadi anggota koperasi, tempat parkir dibedakan dari pekerja lainnya (buruh penataan barang, buruh bongkar barang).

Pernah suatu ketika teman Bu Endah sudah minta ke manajer pasar untuk dibuatkan tempat parkir bagi buruh gendong, dan dijawab dengan “Ya, nanti kami buatkan.”
Akan tetapi sampai sekarang parkir itu juga belum kunjung dibuatkan jelasnya.

Meskipun sudah 27 tahun menjadi buruh gendong, perempuan yang punya hobi menyanyi tersebut belum berpikir kapan mau berhenti.

“Belum mau berhenti dan buka usaha sendiri. Senang dengan semua ini, banyak teman, apalagi saat menjelang dan sesudah lebaran bisa mencari penghasilan yang lebih dibanding hari-hari biasa karena ramai konsumen yang datang. Meski kadang juga ada saat-saat sedih yaitu ketika barang datang di tengah suasana hujan, dan barang tetap dibongkar. Otomatis sebagai buruh gendong tetap bekerja, tetap ngangkut barang, susah untuk minta ijin,” tuturnya.

Meskipun demikian perempuan yang selalu ceria dalam pembawaanya ini mempunyai harapan agar buruh gendong bisa menjadi anggota Koperasi Pasar, ada tempat parkir, setelah tua dan sudah tidak kuat menggendong ingin punya usaha sendiri harapannya.

Karena itulah untuk memperjuangkan perbaikan situasi, Bu Endah bersama teman-temannya sesama buruh gendong memiliki Paguyuban/organisasi buruh gendong”Gemah Ripah” sejak tahun 2009.


Mbak Musinem, Buruh Gendong dari Pasar Gamping, Sleman, DIY

Lain halnya dengan Mbak Musinem, (52 th) yang berasal dari Sedayu, Gayam, Bantul. Mbak Musinem menjadi buruh gendong sekitar 30 tahun. Nenek dari 5 cucu ini kemudian menceritakan secara singkat kisah hidupnya. Karena desakan ekonomi keluarga, banyak kebutuhan, tapi tidak punya uang. Dengan mengandalkan penghasilan suami sebagai loper koran, itu sangat berat.

Dengan bekal lulusan SD, Mbak Musinem mencoba mengadu nasib ke Pasar Gamping sebagai buruh gendong. Berangkat dari rumah sekitar jam 06.30 dengan sepeda motornya dan pulang sekitar jam 4 sore. Menggendong sebagai layanan ke pembeli/konsumen di tempat juragannya, para buruh gendong tidak mematok harga jasa. Kebanyakan para pedagang/pembeli yang meminta jasanya itu memberi upah Rp. 3.000,- sampai Rp.5.000,- untuk sekali angkut dengan beban lebih dari 50 kilogram. Kalau lagi ramai pasarnya, sehari Mbak Musinem bisa mendapat Rp. 30.000,-. Tetapi  kalau sedang “sepi” malah pulang tidak bawa uang sama sekali.

Meski sibuk menjalani hari-harinya sebagai Buruh Gendong, seperti halnya Bu Endah, Mbak Musinem tidak mau melewatkan diri untuk bergabung di Paguyuban Buruh Gendong Gemah Ripah di Pasar Gamping. Yang setiap satu bulan sekali diadakan pertemuan dengan anggota sekitar 24 orang. Meski jumlah anggotanya sekitar 44 tapi yang aktif 24 orang buruh gendong. Paguyuban ini memperjuangkan bagaimana ada perubahan dalam standar pengupahan buruh gendong, tempat toilet, dan parkir supaya tidak dibedakan. Mbak Yatmi, Buruh Gendong dari Pasar Beringharjo, Yogyakarta

Perempuan berusia 42 tahun dari Kulonprogo ini, dipanggil Mbak Yatmi. Sehari-hari bekerja sebagai buruh gendong di pasar yang sangat terkenal di kota Gudeg, yaitu Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Mbak Yatmi bekerja di bagian belakang pasar di sekitar bagian buah, sembako dan barang lainnya yang terdiri 3 lantai. Pada saat wawancara 27 Februari 2018, dia terlihat sangat senang. 

“Tapi sayang, jarang ada yang mau tahu persoalan buruh gendong.”

Mbak Yatmi, bercerita, pekerjaan ini sudah ditekuninya  selama 29 tahun. Bayangkan, sejak usia 13 tahun, masih anak-anak. Lulus Sekolah Dasar (SD), dia sudah harus membantu keuangan orang tua. Meskipun demikian Yatmi kecil tidak pernah mengeluh karena sangat paham dengan kondisi keuangan keluarga yang tergolong kurang mampu.

Sehari-hari, upah yang diterima Mbak Yatmi sebesar Rp. 5.000,- untuk sekali angkat barang seberat 50 kg dengan naik turun tangga dari lantai 1 ke lantai 2 dan juga ke lantai 3 Pasar Beringharjo. Sehari kalau situasi baik, dia bisa membawa pulang uang Rp. 30.000,-. Tapi kalau pasar sepi, misal tidak ada penurunan barang atau pasar di tanggal tua, sepi pembeli, maka tidak ada order orang yang menggunakan jasanya. Alias tidak ada uang sama sekali. Sehingga harus mencari penghasilan lain. Upaya untuk menambah penghasilan, dilakukannya dengan berjualan.

“Sebelum berangkat bekerja, saya membuat masakan, kayak bakmi goreng, capjae, siomay untuk dijual dengan cara dititipkan ke pedagang makanan maupun dijual keliling sendiri sambil mencari orang yang butuh gendongan,” ceritanya.

Dari hasil berjualan makanan tersebut, hasilnya lumayan untuk membeli biaya transport dari rumahnya ke tempat kerja. Mengingat jarak tempuh antara tempat tinggal dengan tempat kerja sangatlah jauh. Pada saat badannya sedang tidak capek, maka dia bekerja ditemani motor kesayangnnya, tetapi jika badan sedang capek, buslah yang menjadi penggantinya.

Mbak Yatmi sungguh hebat, di sela-sela kesibukannya dia sangat aktif berorganisasi di Paguyuban Buruh Gendong Sayuk Rukun. Dia aktif di paguyuban tersebut sudah 10 tahun.  Selama 7 tahun (sudah 2x periode) dia dipercaya oleh teman-temannya menjadi ketua paguyuban. Dengan adanya paguyuban ini, kawan-kawan buruh gendong bisa memperjuangkan kenaikan upah jasa gendong dan mendapatkan fasilitas kegiatan di Pasar Beringharjo.

Kegiatan Paguyuban Buruh Gendong mendapat sambutan bagus dari Disperindag dan organisasi ini diberi ijin untuk menggunakan fasilitas ruang pertemuan dari dinas pasar sebagai tempat pertemuan kegiatan paguyuban. Seperti yang dilakukan siang itu, ketika reporter Tungku Menyala menemui, teman-teman buruh gendong sedang ada kegiatan bersama.


Warisah, Pekerja Rumahan dari Jogjakarta
Warisah, 42 tahun,salah satu  Perempuan Pekerja Rumahan (PPR) yang kami wawancara. Perempuan hebat ini sudah menggeluti pekerjaan sebagai pekerja rumahan selama 10 tahun. Jenis pekerjaan yang dilakukan setiap hari sebagai pekerja rumahan yaitu menjahit baju dan tas dari kain perca. Dia mengambil bahan dari UMKM di wilayahnya. Sedangkan upah yang diterima tergantung dari kemampuan dia menghasilkan jumlah jahitan dalam sehari atau dalam sebulan. Ketentuan pengupahannnya: upah dalam menjahit 1 potong baju sebesar Rp. 3.000,- sampai Rp. 4.000,. Untuk 1 tas kain batik perca sebesar Rp. 3.500,-.

Jika dalam sehari Warisah mampu menjahit 5-6 potong baju atau buah tas, dia akan mendapatkan upah Rp.20.000,- sehari. Upah rata-rata dalam satu bulan sebesar Rp. 600.000,-. Dengan catatan, upah sebesar itu jika ada order menjahit dalam waktu satu bulan. Akan tetapi order tidaklah  pasti. Artinya dalam sebulan penghasilan yang didapat bisa kurang dari Rp. 600.000,00.

Menjadi pekerja rumahan tidaklah mudah. Karena hak-hak sebagai pekerja tidak jelas. Sering dilihat sebagai borongan saja, upah rendah dan tidak ada jaminan apapun termasuk jaminan kesehatan. Pemberi kerja memandang karena pekerjaan ini dikerjakan di rumah pekerja, maka seakan bebas dari tanggungjawab dan biaya lain-lain.

Karenanya untuk memperjuangkan hak pekerja rumahan, perempuan asal dari Dusun Bojong, Kelurahan Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul ini selain sibuk menjahit baju batik dan tas dari kain perca, juga aktif dalam kegiatan di Serikat Pekerja Rumahan. Mbak Warisah, bertambah  sibuk lagi setelah diberi mandat sebagai Ketua Federasi Serikat Perempuan Pekerja Rumahan di wilayah Bantul pada tahun 2017.


*  Jumiyem dan Sargini, adalah reporter News letter Pekerja Rumah Tangga (PRT), sehari hari aktif di Serikat PRT Tunas Mulia DIY

(Artikel disadur dari blog/ news letter PRT https://tungkumenyala.blog/ dan diedit sesuai kebutuhan www.konde.co)



Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co- Cut Sri Rozanna, Programme Director Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit(GIZ), salah satu LSM internasional Jerman mengalami keresahan sekaligus geram ketika sedang berada dalam beberapa forum, ia mendapati, selalu saja ada laki-laki yang menyapanya dengan:

“Ruangan jadi berbeda ya karena ada perempuan.”

Atau perkataan lain seperti,” Ruangan jadi wangi jika ada perempuan.”

Begitu kebanyakan laki-laki menyapa Cut Sri Rozzana atau Aya. Namun justru pernyataan ini yang membuat ia selalu geram, karena itu sejatinya bukan pernyataan ramah, namun justru malah memojokkan perempuan. Perempuan selalu dimitoskan sebagai: orang yang wangi, yang memberikan warna berbeda, yang selalu membuat cerah ruangan.

“Padahal saya akan lebih senang jika perempuan dilihat dari pemikirannya, dari ide brilian yang ia hasilnya dan dari solusi yang ia tawarkan. Namun yang terjadi sebaliknya, justru perempuan dihargai karena penampilan fisiknya.”

Maka jika ada pernyataan seperti ini, Aya tak segan untuk menjawabnya langsung agar semua laki-laki menghargai perempuan dan memandang dari perspektif yang berbeda

”Hargai pemikiran perempuan pak, jangan dari wanginya. Atau, hargai ide-ide kami dong mas, jangan dari baju yang kami pakai,” ujar Aya.

Aya mengakui bahwa penghargaan terhadap perempuan seharusnya mulai dirubah, hal ini dibutuhkan untuk mengubah struktur yang selama ini sudah terbentuk dimana perempuan selalu dilihat secara fisiknya saja.

Jika perempuan dihargai hanya secara fisik, maka dengan sendirinya ini akan mendiskriminasi perempuan lain yang dianggap secara fisik kurang menarik menurut pandangan laki-laki.

Hal tersebut merupakan salah satu persoalan yang dialami para perempuan yang hidup di perkotaan, bertemu dengan banyak orang yang berbeda dan pada banyak kesempatan. 

Tantangan ini mengemuka dalam talkshow "Urban Activism and More Opportunities for Women's Empowerment" yang diadakan UN Women di Jakarta pada 14 Maret 2018.

Dalam talkhsow ini dibahas apa saja tantangan perempuan urban yang hidup di kota besar seperti Jakarta. Tantangan tersebut ada di tempat bekerja, di ruang terbuka hingga sampai dalam kehidupan sehari-hari.

Dayu Dara, senior vice president dan head Go Life Gojek menyatakan bahwa dalam perusahaan transportasi, juga terdapat banyak tantangan yang dihadapi perempuan, yaitu perusahaan transportasi umumnya dipadati oleh pekerja laki-laki, sangat sedikit perempuan yang bekerja di sektor ini. Namun baginya, ini adalah tantangan yang harus dijawabnya ketika ia terjun dalam bisnis transportasi.

Hal lain yang dihadapi yaitu ketika adanya mitos bahwa bisnis transportasi adalah melulu milik laki-laki, dari tantangan akan mitos inilah ia kemudian tergerak untuk mewarnai perusahaan di tempat ia bekerja untuk menghadirkan perempuan.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu memperbanyak perempuan untuk menjadi bagian dari perusahaan transportasi dan memberikan perspektif perempuan di tempat kerja,” kata Dayu Dara.

Alanda Kariza, penulis buku Sophismata and Beats Apart menceritakan keinginannya dalam menulis beberapa buku yaitu ingin menuliskan persoalan yang dialami perempuan. Selama ini menurutnya banyak persoalan yang dialami perempuan, menulis kemudian dilakukan untuk memberikan sharing cerita perempuan.

Alanda Kariza mulai menulis sejak ia sekolah SD hingga ia menjadi kontributor majalah remaja. Ia kemudian menulis sejumlah buku tentang apa yang menjadi amatannya selama ini. Ketika menginjak SMP ia kemudian mendirikan The Cure For Tomorrow (TCFT), organisasi yang fokus pada pengolahan sampah. Tahun 2009 Alanda mewakili Indonesia di Global Guildford British Council Changemakers,  One Young World, High Level Panels on Youth: “Global Youth, Leading Change” (2011), 100th Session of the International Labour Conference 2011 (Jenewa). Kehidupannya sebagai anak muda urban perkotaan memicunya untuk melakukan sesuatu.

Saat ini menurutnya melalui beberapa kesempatan, banyak anak muda yang sudah berbicara soal isu perempuan, beberapa perempuan muda juga sudah mengikuti aksi perempuan. Alanda mengatakan bahwa penting untuk menjadikan anak muda perempuan sebagai bagian dari perjuangan perempuan.

Lily Puspasari, Programme Specialist UN Women Indonesia menyebutkan bahwa ini merupakan tantangan perempuan urban di perkotaan. Selama ini di desa, banyak sekali persoalan yang menimpa perempuan seperti akses untuk pendidikan dan kesehatan, pernikahan usia anak. Namun di perkotaan bukan tanpa persoalan, perempuan mempunyai persoalan di rumahnya, di jalanan hingga ke tempat kerja.

Forum ini juga untuk mengetahui problem apa yang dialami perempuan urban saat ini, misalnya dengan adanya internet, dengan wajah perkotaan yang berubah, Fotum seperti ini dilakukan untuk mengetahui apa yang sudah dilakukan perempuan dan respon apa yang sudah diberikan dari lingkungan terdekat mereka.

(Foto/Ilustrasi)


*Trias Yuliana Dewi- www.Konde.co

Aku kenal seorang anak. Hobinya bermain perang-perangan. Bukan perang macam Starwars atau Starship Troopers. Bukan perang bintang yang menggunakan pedang dan sepatu lampu menyala-menyala. Bukan perang yang laju kendali kau pegang dalam sebuah ruang dingin terang yang bisa terbang ke utara atau selatan sekejapan kedip mata. Bukan. Bukan yang seperti itu. Anak itu tidak hobi perang seperti itu.

Anak itu hobi bermain perang kerusuhan, karena ia sudah dijejali soal kebencian pada agama lain sejak ia masih bayi, juga tentang agamanya yang dianggap lebih hebat dari agama lain.

Ia, sebut saja namanya: baby X. 

Sesekali ia main perang dan berperang dengan teman-teman satu pengungsian, jika mulai bosan ia menunggu kapan akan dijemput. Kadang kala ia berperan menjadi seorang yang mengaku sebagai pejuang yang memiting kepala dan ketiak temannya yang tidak satu agama. Sesekali ia mencari pelepah pisang digunakannya serupa AK 47 bertempur melawan kelompok lain agama. Mau sesekali ia serupa angkatan bersenjata.

Baby X lalu menembak mati. Kadang membunuh pura-pura. Teman satu pengungsiannya tergelepar seperti ikan sepat habis kena serok satu kali ciduk.

“Baby X..!”

Kakek memanggil. Baby X harus mandi. Badannya penuh debu lapangan setelah habis ia berguling dalam perang kerusuhan.

Selepasnya kalau malam sudah mulai datang kasih gelap kembali. Ia harus rapat-rapat meringkuk di ketiak kakek. Baby X sebenarnya ketakutan. Tempat ibadah itu gelap. Baby X takut bukan pada gelap. Tapi pada suara ketika tidak ada lagi suara. Ia terkurung dan dilarang kakek keluar tempat ibadah. Sesekali Baby X beramai keluar tempat ibadah. Berlari dengan gerombolan anak lainnya menuju pohon ketapang, menurunkan celana, dan mengencingi pohon beramai-ramai. Sebuah tanda teritori. Ini wilayah kami. Kami anak sini.

Sesekali Baby X dan gerombolannya perlu menandai wilayah. Ia tidak ingin lagi kecolongan. Ada bom diledakkan di depan rumahnya. Berkali-kali begitu. Ia kemudian harus lari dan berdiam di tempat ibadah. Bukan untuk berdoa, namun untuk bersembunyi.

Setelahnya, gerombolan dan Baby X kembali ke tempat ibadah, mereka berlari kencang. Seperti tikus harus masuk lubang.

Baby X yang cengeng juga hobi berkelahi. Ia yang manja suka menempeleng. Ia terlalu banyak menonton kekerasan. Serupa opera dalam gedung teater rakyat. Terbuka dan tanpa sensor. Tidak dipungut bayaran dan tanpa membeli karcis.

Ada yang aneh. Ada yang aneh. Ini bukan sebuah cerita pendek. Baby X adalah anak Indonesia. Dua puluh sekian banyak tahun lalu. Baby X yang anak-anak, hampir mati ketakutan. Hanya karena ia beragama minoritas. Hanya karena ia menunduk dan menutup mata menderas berdoa.

Ia hampir mati tercekik habis napas karena ada kain menyumpal mulutnya. Mulut liarnya yang menangis menjerit akan membahayakan dirinya sendiri.

Ia beragama minoritas. Ia takut diteriaki kafir.

Kalimat yang mereka teriakkan bukan lagi menjadi puja dan puji. Tapi terdengar serupa seruan ancaman. Isi semesta ketakutan.

Baby X kecil hampir mati ketakutan. Kuberitahu: masa kecilku dan masa kecil kalian terlalu indah.

Baby X kecil hampir mati ketakutan.

Ia masih hampir mati ketakutan meski dia sudah pindah pengungsian. Aku tidak akan menyalahkan Baby X, jika saat kami pertama bertemu ia melirikku sinis bahkan meludahi. Aku juga tidak akan marah jika memang perlakuan dia akan paling beda ketika aku bertamu ke tempat ibadahnya.

Perlu kalian tahu: aku tinggal dengan teman teman-temanku yang berbeda agama. Dan di lingkunganku.  Tapi mereka menyayangiku lebih dari apapun dan siapapun. Aku diantar dan dijemput jika aku ingin beribadah dan bermain. Aku selalu dimasakkan sesuatu. Mereka mengecilkan suara ketika aku beribadah. Ketika musim kering dan tidak datang hujan, mereka menyisihkan air agar aku tetap bisa berdoa meski badan kami semua bau busuk tidak mandi. Mereka menemaniku menjalankan keyakinanku.

Dimanapun dan menjadi siapapun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat.  Selalu akan ada yang berteriak paling kencang: kalian sesat. Kalian tidak suci. Kalian tidak akan pernah selamat.

Tapi bukan mereka yang berbeda dengan kita cara merapal doanya. Atau yang berbeda mengucap salam pada semesta. Monster itu tidak terlihat. Tidak memiliki nurani dan cinta kasih. Tidak memiliki justifikasi tidak bisa dipersonifikasi. Monster itu tidak terlihat. Masuk ke dalam sel-sel dan dinding pembuluh darah. Ia menjalar seperti hemlock yang begitu cepat mematikan otak. Ia menciptakan kebencian yang menyala-nyala dan membuat merasa paling benar.

Ia seperti serupa virus. Yang mengendap dalam darah manusia dengan antibodi lemah. Yang hati nurani dan kasihnya ia hemat-hemat berikan hanya pada yang mereka pilih.
Selalu ada yang seperti virus dan monster itu.

Tapi selalu ada juga penawar bagi setiap racun. Yang menakutkan bagi monster jahat: kasih.

Tapi aku, aku sampai sekarang masih mau akan menganggap monster itu hanya legenda masa lampau. Karena aku selalu dikelilingi manusia sehat tidak terinfeksi. Yang kasih dan cintanya begitu berlimpah tidak pernah berkesudahan. Yang mungkin sama isi kepalanya denganku, yang selalu yakin: Tuhan akan berhenti senang kalau kita menghemat-hemat kasih.

Mereka orang yang berteriak “kafir…kafir…” harus sesekali pergi makan malam denganku. Hidup dalam rumah yang kutinggali. Kami berdoa makan secara bersama-sama. Hidup dalam heterogenitas tidak menjadikanku pudar apalagi tercemar. Hidup dalam perbedaan dan keberagaman justru semakin menegaskan identitasku. Keyakinanku. Bukan dan tidak pernah menegasi.

Lagi-lagi, aku yakin Tuhanku penguasa semesta tidak akan marah jika kita berbagi sedikit kasih. Apalagi banyak. Baby X selalu mengajarkan kami, para perempuan untuk mengambil kasih dalam relasi kami, untuk menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban dari sebuah konflik yang mengikutsertakan negara, manusia, keserakahan.

(Tulisan ini untuk Baby X,  yang mengajarkanku pengampunan dan kematangan spiritualitas)

*Trias Yuliana Dewi, seorang perempuan yang terlalu rumit dan membelok isi kepalanya, oleh karenanya lah ia menulis.

Poedjiati Tan- www.konde.co

Jakarta, konde.co- 18 Maret 2018 lalu merupakan masa kelam bagi buruh migran Indonesia. Indonesia kembali berduka dengan berakhirnya hidup buruh migran, M Zaini Misrin Arsyad, dengan cara yang tidak bisa diterima akal nurani, melalui eksekusi mati pada tanggal 18 Maret 2018 oleh pemerintah Arab Saudi. Zaini didakwa membunuh majikannya sejak tahun 2004.

Dan sebelumnya ada sejumlah buruh migran perempuan juga mengalami nasib yang tak jauh beda.

Hasil pemantauan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa hukuman mati tidak hanya membunuh yang dipidana mati, tapi juga seluruh keluarganya.

Komnas Perempuan memantau 3 cluster, yaitu buruh migran yang sedang menanti eksekusi, sudah dieksekusi dan yang berhasil dibebaskan. Dampak-dampaknya antaralain: rapuhnya daya bertahan keluarga akibat ketakutan masa menanti dan perasaan gagal melindungi, sehingga mudah mengundang kematian dan sakit anggota keluarga, gangguan kejiwaan, padam harapan hidup anak-anak mereka yang membuat anak-anak tersebut buta huruf, jadi kuli, dll.

Menurut komisioner Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah ada yang berdampak pada keretakan rumah tangga, karena saling menyalahkan dan rasa bersalah, ada beberapa sejarah perempuan terpidana mati “dimatikan” sebelum kematian fisik, karena ketidaksanggupan keluarga menghadapi eksekusi, pemiskinan akut untuk proses penyelamatan baik untuk mobilitas atau untuk biaya perlindungan spiritual yang cenderung “lapar” biaya.

“Yang pasti perempuan-perempuan terpidana mati tersebut mayoritas korban Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan korban kondisi kerja domestik yang represif, sehingga dakwaan kriminal yang dilakukan juga tak lepas dari upaya menyelamatkan diri dari kekerasan seksual yang mengancamnya,” kata Yuniyanti.

Komnas Perempuan juga melihat bahwa Indonesia akan semakin kehilangan justifikasi moral untuk melindungi warga negaranya di luar negeri yang terancam hukuman mati, apabila Indonesia masih gencar melakukan eksekusi dimana sejumlah kasus yang sudah dan nyaris dieksekusi, padahal terindikasi korban unfair trial dan korban trafficking.

Kasus-kasus hukuman mati, selalu sangat berkait erat dengan kesigapan negara untuk cepat dan gigih melindungi. Sejumlah kasus terjadi karena keterlambatan rezim masa lalu, juga alasan yang dikemukakan negara, karena terlambat atau tidak adanya notifikasi otoritas lokal pada konsuler Indonesia, dimana negara baru tahu setelah ada putusan inkracht

“Eksekusi Zaini Misrin Arsyad, jangan sampai disusul dengan eksekusi lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Setidaknya dua perempuan pekerja migran Indonesia di
Arab Saudi sedang  dalam posisi di ujung tanduk  eksekusi, walaupun negara  menginformasikan berbagai upaya tengah dan telah dilakukan.”

Komnas Perempuan dalam pernyataan sikapnya  menulis surat kepada Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) dan mendapatkan balasan tentang informasi perkembangan kasus dan upaya yang tengah dilakukan negara atas 3 kasus genting yang ditanyakan. Informasi tersebut, juga dilanjutkan ke PBB yang turut mengkhawatirkan situasi 3 kasus ini.

Pada intinya, Komnas Perempuan mendapatkan informasi posisi kasus dan sejumlah upaya yang tengah dilakukan pemerintah Indonesia, termasuk kasus Zaini yang sebetulnya tengah diajukan peninjauan hukum kembali untuk memastikan prinsip fair trial.

Panduan Jaminan Perlindungan bagi mereka yang Menghadapi Hukuman Mati (Resolusi Dewan Ekonomi Sosial PBB 1984/50, tertanggal 25 Mei 1984) yang mengacu pada Kovenan Sipil Politik menegaskan bahwa: “Hukuman mati hanya boleh diterapkan ketika kesalahan si pelaku sudah tidak sedikitpun ada celah yang meragukan dari suatu fakta atau kejadian”.

Komisioner Komnas Perempuan, Sri Nurherwati menyatakan bahwa Komnas Perempuan akan mendorong pemerintah Arab Saudi meratifikasi konvensi Wina tentang relasi konsuler, yang dalam artikel 36 menyatakan bahwa otoritas lokal harus menginformasikan segera apabila ada warna negara  asing yang berhadapan dengan hukum kepada konsuler warga negara tersebut. Ketidakmauan untuk ratifikasi, menandakan rendahnya penghormatan pada negara-negara lain, juga rendahnya penghormatan pada hak dasar seseorang yang dieksekusi.

“Kami juga mendorong Presiden Joko Widodo, Kementerian Luar Negeri dan organ-organ strategis lain untuk saling bersinergi menyelamatkan daftar/ list Buruh Migran Indonesia (BMI) di Arab Saudi yang terancam hukuman mati dengan segala upaya yang maksimal. Selain itu, mendesak pemerintah Arab Saudi untuk bertanggungjawab atas eksekusi Zaini dimana yang bersangkutan masih menempuh peninjauan kembali proses hukum.”

Selain itu mendorong PBB untuk mendesak Arab Saudi meninjau dengan cermat kasus-kasus kekerasan berbasis gender untuk jadi pertimbangan pembebasan hukuman mati, termasuk mendorong penghapusan hukuman mati di Arab Saudi dan seluruh dunia dengan penghukuman yang lebih manusiawi, menyerukan pada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan seluruh dunia termasuk Indonesia untuk bersama-sama melakukan penghapusan hukuman mati.

Dan terakhir meminta pemerintah daerah untuk memberikan hak pemulihan keluarga korban terpidana mati baik pemulihan psikis, fisik, ekonomi dan hak rehabilitatif.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)


Estu Fanani- wwww.konde.co

Jakarta, Konde.co- Jika kita mengunjungi beberapa kampung di Jakarta, di pedesaan di wilayah-wilayah Indonesia, kita akan melihat praktek program Posyandu. Ada sejumlah kegiatan yang dilakukan seperti menimbang bayi, mengetahui kesehatan status ibu hamil.

Namun pemetaan yang dilakukan Kalyanamitra menyebutkan bahwa praktek program Posyandu tidak mendapatkan dukungan maksimal dari pemerintah. Hasil ini merupakan pemetaan yang dilakukan Kalyanamitra selama melakukan audit gender terhadap  layanan Posyandu di tiga wilayah dampingan di antaranya Kel. Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur, Kel. Penjaringan, Jakarta Utara, dan Desa Banjaroya, Kec, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta terkait ketepatan kebijakan, program, dan anggaran Posyandu.

Sejak dicanangkan pada tahun 1986, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menjadi garda terdepan dalam pemantauan dan peningkatan status gizi dan kesehatan ibu dan anak di masyarakat. Kebijakan dan program ini tetap dipertahankan hingga saat ini, hal ini terlihat dari banyaknya program Posyandu yang terjadi di Indonesia.

Namun organisasi perempuan Kalyanamitra melihat bahwa program ini tidak mendapat dukungan maksimal dari pemerintah.

Padahal pos pelayanan terpadu ini memiliki peran penting sebagai ujung tombak layanan kesehatan dan sosial dasar masyarakat untuk pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan tujuan ketiga dan kelima, terutama menyasar pada penurunan Angka Kemarian Ibu dan Bayi (AKI/AKB). Namun ternyata dukungan dari pemerintah sangatlah minim.

Saat ini Posyandu dituntut untuk melaksanakan sebanyak 15 Program  yang mencakup 5 layanan kesehatan dasar dan 10 layanan sosial dasar yang dimandatkan pemerintah melalui Peraturan Dalam Negeri No. 19/2011 tentang Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Pos Pelayanan Terpadu. Hampir semua instansi pemerintah (SKPD/Kementerian) menggunakan Posyandu sebagai sarana implementasi program-programnya dan menjadi sumber data kesehatan masyarakat tanpa disertai anggaran yang memadai.

Kader-kader Posyandu, yang mayoritas adalah perempuan ibu rumah tangga menjadi tenaga pelaksana di lapangan.

Direktur Kalyanamitra, Listyowati menyatakan bahwa selama ini para kader yang mayoritas ibu rumah tangga dituntut untuk menjalankan program pemerintah dengan keterbatasan anggaran, kapasitas, serta sarana dan prasarana. Namun pemerintah dalam kondisi ini juga memanfaatkan konsep swadaya masyarakat dan semangat kerelawanan kader Posyandu untuk mengalihkan tanggung jawabnya dalam pemenuhanan hak dasar warganya terkait bidang kesehatan ibu dan anak  kepada Posyandu.

Karena tidak mendapatkan dukungan maksimal inilah, munculah permasalahan yang krusial. Pemetaan yang dilakukan Kalyanamitra menyebutkan bahwa kader Posyandu dibebani tuntutan untuk mengisi dokumen-dokumen dan laporan untuk kebutuhan data pemerintah yang sangat banyak dan rumit.

“Hasil laporan dan pendataan dari kader Posyandu tersebut digunakan oleh instansi pemerintah untuk kepentingannya masing-masing. Namun sayangnya tidak ada instansi pemerintah yang benar-benar bertanggung jawab atas kelembagaan Posyandu,” ungkap Listyowati.

Hal lainnya, yaitu adanya kebijakan tumpang tindih dan koordinasi antar instasi pemerintah yang lemah. Program ini kemudian justru menyulitkan perempuan dalam pelaksanaannya. Dalam pernyataan sikapnya Kalyanamitra menyebutkan temuan ini  berdasar atas hasil audit layanan Posyandu. 

Maka program yang seharusnya memberikan ruang pengelolaan untuk kesehatan perempuan dan anak ini sudah seharusnya dimaksimalkan oleh pemerintah.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

Apa yang terjadi kemarin, jadikan pelajaran untuk hari ini. 

*Cinta Ariana- www.konde.co

Kalimat ini sering saya dengar sebagai nasehat sehari-hari di rumah. Tapi apa mau dikata, jika saya tak lagi mengingatnya di saat kondisi saya sangat buruk dan tak biasa:

Saya menemuinya kembali setelah ia meninggalkan saya dulu, laki-laki itu, selepas masa usai kuliah.

Dulu kami kuliah di kota yang sama, kemudian dia pergi, berjanji untuk kembali. Tapi yang terjadi, sejak janji itu dikatakan, ia tak pernah datang lagi.

Saya menjadi perempuan yang paling sulit menghubunginya. Bahkan saya pernah menanyakan kabarnya di sosial media, hal terakhir yang saya lakukan ketika saya sudah putus asa menghubunginya.

Banyak teman yang kemudian tahu, dan tentu saja kaget dengan pertanyaan saya di facebook itu. Mereka semua bertanya: apa yang terjadi? Mereka pikir kami baik-baik saja.

Saya jawab: tidak pernah baik-baik saja, sejak dia meninggalkan kota ini, negeri tempat kami tumbuh.

Beberapa teman pernah menyarankan agar saya mendatanginya, walau jauh dan tak pernah murah hingga bisa ke salah satu wilayah di Eropa itu.

Namun karena keyakinan saya pada sesuatu lebih besar daripada rasa ingin tahu, akhirnya saya urungkan niat saya kesana. Buat apa kesana jika saya tak akan mendapatkan hasil seperti yang saya harapkan? Membalas telpon dan email saja sulit dilakukan. Waktu itu saya merasa akan sia-sia saja dan menghabiskan banyak energi melakukannya.

Lalu saya putuskan untuk tidak lagi berkomunikasi dengan laki-laki itu, sejak itu.

Saya putuskan untuk tidak lagi mengingatnya: hal paling berat dalam hidup saya kala itu, harus melupakan orang yang dulu tiap hari selalu ada dalam waktu-waktu saya sedih dan senang.

Tapi apa mau dikata, toh, dunia tak boleh berhenti berputar. Hidup saya juga harus terus berputar. Ini lebih mirip kata-kata di film-film buatan hollywood yang sering saya tonton.

Setelah itu, hidup saya tak pernah benar-benar baik saja.

Akan saya sematkan dimana janji-janjinya untuk kami akan menikah sesudah itu? Akan saya buang kemana harapan yang tidak akan datang? Akan saya usir kemana kesepian-kesepian yang tidak ada ujungnya? Akan saya usir kemana rasa marah, jengkel, kecewa yang akan menghantui seumur hidup saya?

Saya merasakan menjadi orang yang kalah. Menjadi orang yang paling kalah karena tidak bisa menuntut sesuatu. Tidak bisa melapangkan jalan keadilan untuk menuntut kasus ini, karena kasus relasi pacaran tidak ada undang-undangnya. Jika ada undang-undangnyapun, maka sulit untuk menembusnya. Saya menjadi orang yang tak bisa keluar dari stress dan depresi, karena tak bisa menuntaskan peristiwa yang saya alami ini.

Penyebabnya karena satu hal: janji.

Sejak itulah saya belajar pada janji, tentang janji yang didalamnya terdapat penghormatan pada sesuatu, pada sebuah relasi. Siapa yang menyangka jika sebuah janji, kemudian bisa menghancurkan kepercayaan diri seseorang? Kepercayaan orang pada sesuatu? Karena janji adalah penghormatan pada sesuatu yang pernah kita ucapkan dan harus kita yakini.

Tak pernah mudah bertemu dengannya lagi setelah 6 tahun kami tak bertemu.

Kami bertemu secara tak sengaja. Tentu saja saya marah mendengar semua alasannya: ingin konsentrasi belajar dulu waktu itu, oleh karena itu dia meninggalkan saya. Begitu saja.

Padahal buat saya, bukan itu. Persoalannya adalah pada janji yang ingkar, dan hal-hal yang tak mudah diterima setelah itu.

Saya hanya bilang ke laki-laki tak bertanggungjawab ini, juga sekaligus kepada pasangannya sekarang: bahwa kekerasan, ingkar janji yang dia lakukan, tak bisa ditebus dengan permintaan maaf. Apa yang ia lakukan ketika ribuan hari saya tak benar-benar bisa melupakan keyakinan pada janji itu? Apa yang telah ia lakukan dengan depresi saya, pulang pergi ke psikolog, hanya untuk menerima kondisi buruk itu dan mengubahnya menjadi kondisi yang harus baik baik saja?

Mana janji-janji dan omong kosongnya dulu? Apakah ia berani mengatakan saat ini, di depan pasangannya yang sekarang ini?

Beberapa detik saya tunggu agar dia mengucapkan kesalahan-kesalahannya yang dulu.

Namun tak juga ada ucapan itu.

Saya lalu memberikan pelajaran bahwa: laki-laki seperti ini, tak pantas untuk dijadikan pasangan.

Kalimat itulah saya ucapkan di telinga pasangannya.

Saya bilang bahwa saya akan memberikan bukti-bukti padanya, tentang janji itu, tentang uang yang saya habiskan untuk pergi ke psikolog, ke dokter kandungan, tentang hidup saya yang tak pernah baik-baik saja sampai sekarang.

Saya katakan pada pasangannya: Tidakkah kamu tahu, bahwa saya pernah hamil dan mengalami keguguran oleh laki-laki ini, dan kemudian dia meninggalkan saya begitu saja? Tak pantas laki-laki ini mempunyai pasangan, perempuan sebaik kamu.

Agar ia menjadi tahu, agar semua orang menjadi tahu apa yang sudah laki-laki ini lakukan terhadap saya:

Pada laki-laki yang tak mengenal janji.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Cinta Ariana, bukan nama sebenarnya. Seperti diceritakannya kepada www.konde.co

Gerakan perempuan seharusnya tak lupa bahwa gelombang pertama gerakan perempuan pada awal 1900-an adalah memperjuangan hak pilih perempuan di Pemilu. Hari Perempuan Internasional yang pertama kali dirayakan pada 28 Februari 1909 juga berdasar perjuangan partai politik yang berpihak pada perempuan buruh pabrik yang berdemonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York, Amerika Serikat. Lalu akankah agenda membangun politik berperspektif perempuan ini menjadi agenda gerakan perempuan di masa-masa Pemilu dan Pilkada di Indonesia di tahun 2018-2019?


*Usep Hasan Sadikin- www.Konde.co

Tahun 2018 merupakan tahun penyelenggaraan Pilkada serentak. Ini merupakan Pilkada gelombang tiga yang keserentakannya bertujuan menyamakan periode pemerintahan daerah sehingga seluruh Pilkada provinsi, kabupaten, dan kota bisa diserentakan dalam satu kali pemungutan suara pada 2024.

Namun sayang, saya melihat bahwa tuntutan yang menghubungkan politik kultural dan struktural ini banyak yang hilang dari tuntutan perempuan, padahal tahun 2018 adalah tahun politik lokal yang juga menghubungkan tahun politik nasional 2019.

Pilkada Serentak 2017 sebagai gelombang dua setelah 2015 seharusnya mendapat perhatian lintas daerah dan negara karena Pilkada Ibu Kota Indonesia berlangsung, namun Pilkada serentak di tahun 2018 merupakan pesta demokrasi lokal terbanyak yang akan diikuti warga/ para pemilih.

Ada 171 daerah berpilkada dengan rincian 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Provinsi berpilkada di antaranya merupakan provinsi terbesar Indonesia seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Tahun 2018 juga merupakan tahun yang menjadi bagian tahapan Pemilu 2019. Ada tahap rekrutmen calon legislator untuk Pemilu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Pemilu Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Pemilu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi, Pemilu DPRD Kota, dan Pemilu DPRD Kabupaten. Negara melalui Undang-undang No.7/2017 tentang Pemilu telah memfasilitasi afirmasi perempuan dalam pencalonan minimal 30 persen di daftar calon untuk Pemilu DPR dan DPRD.

Dalam pemilihan kepala daerah, solidaritas antar perempuan sangatlah dibutuhkan untuk melakukan negosiasi agenda kepada calon kepala daerah. Terhubungnya solidaritas perempuan aktivis, perempuan pemilih berbasis kelompok/organisasi masyarakat, dan politisi yang berkepentingan dengan agenda perempuan akan menjadi satu jaminan untuk bisa digenapkan dengan kebijakan adil gender pasca keterpilihan.

Namun, ada kebutuhan nyata yang belum cukup dipenuhi dalam afirmasi perempuan di tahap pencalonan Pemilu DPR dan DPRD. Semua partai politik masih buruk berkaderisasi sehingga kesulitan menyusun Caleg perempuan baik secara kuantitas maupun kualitas. Ini seharusnya menjadi ruang strategis yang harus diisi solidaritas antar perempuan aktivis dan perempuan dalam organisasi masyarakat. Ada sumberdaya perempuan dengan kualitas yang baik dan ada dukungan masa menyertakan kebutuhan agenda dalam organisasi masyarakat, namun hal ini belum disuplai optimal kepada partai politik.


Sinergi Agenda Perempuan dan Partai Politik 

Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikejar di 2018 ini adalah mensinergikan agenda perempuan yang terputus itu. Dalam Tuntutan aksi di beberapa hari perempuan internasional, saya mencatat ada dua agenda yang tak pernah hilang dan makin banyak diperjuangkan perempuan aktivis. Pertama, perjuangan hak perempuan buruh. Kedua, perlawanan terhadap intervensi negara dan masyarakat terhadap tubuh perempuan dan kebebasan berekspresi.

Pertanyaannya, apakah dua agenda gerakan perempuan itu juga sudah diperjuangkan oleh partai politik dan perempuan di bidang politik? Dan apakah dua agenda gerakan perempuan yang disuarakan sebagian besar perempuan aktivis itu pun dipahami organisasi masyarakat yang punya basis warga berhak pilih? Jawaban kedua pertanyaan ini adalah “belum”.

Tampaknya ini yang membuat perempuan aktivitis yang berdasar pengalaman dan perjuangan kultural makin tak percaya dengan politik struktural, khususnya Pemilu dan partai politik. Jika tak dibilang belum setuju, pemangku kepentingan Pemilu dan partai politik belum memahami dua agenda besar gerakan perempuan yang selalu diingatkan setiap 8 Maret.

Semoga makin ragu tak berarti menjadi tak percaya terhadap Pemilu dan partai politik. Jika gerakan perempuan merupakan bagian warga yang bersyahadat pada negara demokrasi, konsekuensinya harus menerima Pemilu sebagai satu syariat kekuasaan menyerta partai politik sebagai wasilah.

Jika gerakan perempuan tak percaya dengan Pemilu dan partai politik, gerakan perempuan menjadi pada asal gerakan perempuan dimulai. Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada 28 Februari 1909 berdasar perjuangan partai politik yang berpihak pada perempuan buruh pabrik yang berdemonstrasi pada 8 Maret 1857 di New York, Amerika Serikat. Dari konteks era industri hingga kini, perempuan buruh menjadi bagian warga yang mengalami diskriminasi kultur dan struktur.

Gerakan perempuan pun seharusnya tak lupa bahwa, gelombang pertama gerakan perempuan pada awal 1900-an adalah memperjuangan hak pilih perempuan di Pemilu. Pada 26 Agustus 1920, amandemen ke-19 Amerika Serika memberikan perempuan hak pilih dan ditetapkan menjadi hukum konstitusional.

Perempuan saat ini memang sudah mendapatkan hak politiknya, memilih dan dipilih. Tapi gerakan perempuan seharusnya selalu mengingat dasar dari pentingnya mendapatkan hak politik itu, menghapuskan diskriminasi dan kekerasan oleh negara dan masyarakat terhadap tubuh perempuan yang masih terjadi hingga kini.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Artikel ini merupakan program kolaborasi antara www.konde.co dan rumahpemilu.org)

*Usep Hasan Sadikin, aktivis rumahpemilu.org dan Perludem
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:


"Selamat ulangtahun Konde.co, bayi gerakan yang kini berusia 2 tahun. Teruslah berdiri dengan kaki kecilmu yang kokoh, jangan ragu melangkah lebar. Terimakasih sudah mencerdaskan  masyarakat Indonesia dalam usiamu yang masih belia. (Azriana R. Manalu/ Ketua Komnas Perempuan)"
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:



"Selamat ulangtahun Konde.co yang kedua, semoga selalu menyuarakan suara para perempuan untuk tidak lelah berjuang. Terimakasih telah menjadi media alternatif yang berperspektif gender. Semoga ke depannya Konde.co semakin sukses dan mencerdaskan pembacanya melalui berita dan informasinya (Siti Zuma, Direktur LBH APIK, Jakarta)"
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:




"Selamat ulangtahun Konde.co yang kedua. Semoga semakin banyak memberikan untuk informasi mendalam tentang perempuan Indonesia (Leni Suryani, Pekerja Rumah Tangga/ JALA PRT)"


Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:


"Selamat ulangtahun Konde.co. Terimakasih telah memberikan warna seputar isu gender di media online yang terkadang kita kesulitan untuk mencari sumber informasinya. Namun Konde.co kemudian hadir memberikan informasi mendalam dengan menggunakan perspektif perempuan yang tajam dan mudah dipahami. Konde selama ini juga telah menjadi media untuk berbagi informasi dan pengalaman. Teruslah berkarya, mari kita wujudkan kesetaraan gender bersama-sama (Joko Sulistyo/ organiser perempuan, Yogyakarta)"
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:



"Perjuangan kesetaraan gender sering kali diuji oleh orang terdekat kita sendiri. Sebagai perempuan, saatnya kita bersolidaritas, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa musuh kita sebenarnya bukanlah orang tertentu saja.Tapi musuh kita adalah ketidakadilan pada perempuan yang dilanggengkan oleh sistem kemasyarakatan patriarki dan kekuasaan.Terus berjuang ya, Konde. Nafas perjuanganmu masih panjang (Syahar Banu/ Keluarga Korban Pelanggaran HAM Berat Tanjung Priok 1984)"


Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:


"Selamat untuk www.Konde.co, semoga tetap menyuarakan hati para perempuan dan selalu menginspirasi para perempuan Indonesia (Suraya/ Dosen, Jakarta)"
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:




"Selamat ulangtahun buat Konde.co, semoga tetap menjadi media alternatif untuk advokasi isu perempuan dan memberikan inspirasi bagi media lainnya (Listyowati/ Ketua Kalyanamitra, Jakarta)"

Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:
"Hi Konde, selamat sudah memasuki usia 2 tahun semoga semakin berani, tetap menyuarakan suara kaum perempuan dan selalu menjadi inspirasi perjuangan untuk semua perempuan Indonesia. Selamat dan sukses untuk www.konde.co (Yashinta Nova/ perempuan pengusaha)"

Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:




Dirgahayu konde.co, semoga tetap menjadi bagian penghapusan marjinalisasi, diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan demi kesetaraan dan keadilan seutuhnya (Usep Hasan/ Rumahpemilu.org/ Perludem)
Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:




"Thank you so much Konde.co for your hard work in fighting for freedom of marginal women through media.  Because we believe that a freedom cannot be achieved unless the women have been emancipated from all forms of oppression including the right to self-determination, to participation, to consent or dissent; to live and participate, to interpret and narrate. Hope you be more creative and productive and have a very happy birthday!” (Titik Rusmiati/ Founder Grow to Give)"

Para sahabat Konde.co ini, selama ini membaca dan menulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, dan selalu tertawa bersama. Berikut ucapan, ungkapan di ulangtahun kedua www.Konde.co pada 8 Maret 2018:



"Selamat ulangtahun Konde.co, semoga semakin Bernas dan menjadi bacaan alternatif untuk perjuangan kesetaraan dan keadilan (Budhis Utami, Feminis dan aktif di gerakan perempuan, deputy Institut Kapal Perempuan)"

Para sahabat Konde.co adalah para pembaca dan penulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, sekaligus kawan yang baik untuk tertawa bersama. Berikut adalah ungkapan dan ucapan ulangtahun bagi konde.co:


"Selamat ulangtahun Konde.co, terimakasih telah menjadi kawan berbagi peran untuk menyampaikan berita-berita aktual berperspektif perempuan. Panjang umur untuk Konde.co dan selalu menjadi bagian dari gerakan rakyat Indonesia (Jumisih/ Ketua Federasi Buruh Lintas Pabrik/ FBLP)"


Dua tahun ini bukan merupakan waktu yang pendek bagi www.Konde.co untuk mempersiapkan, tumbuh dalam cita-cita bersama untuk memperjuangkan perempuan di Indonesia.

Kami memulainya dengan merancang website pada tanggal 8 Maret 2016, berjaringan, melakukan aksi serta banyak berkolaborasi dengan pihak dan ruang-ruang yang bersama-sama memperjuangkan perempuan.

Para sahabat ini datang dari lembaga-lembaga perempuan, aktivis organisasi, komunitas para perempuan, penulis, para ibu di desa hingga di penjuru nusantara, di luar negeri, mahasiswa dan banyak pihak yang mendukung kemajuan perempuan dari segala penjuru, adik perempuan kami, ibu kami, tetangga, teman bermain, teman sekamar, teman minum kopi. Kami membuat koneksi di taman bermain, tempat kerja, di rumah kami.

Para sahabat Konde.co ini, selama ini membaca dan menulis untuk Konde.co, memberikan banyak masukan, mendengarkan, menghibur, dan mendorong. Bagi kami, sahabat adalah pemandu sorak paling keras, melakukan kritik, dan tertawa bersama.

Bulan Maret selalu mengingatkan kami pada banyak hal: selain peringatan hari perempuan internasional, pada tanggal 8 Maret 2018, Konde.co berulangtahun yang kedua. Selain mengelola website, dalam 2 tahun ini kami mengadakan diskusi penulisan perempuan, kelas menulis perempuan, mengajak kelompok perempuan dan para ibu untuk menulis, ikut menyelenggarakan festival-festival perempuan, melakukan berbagai aksi turun ke jalan, mengisi penelitian-penelitian mahasiswa, dan memfasilitasi banyak kelompok marjinal untuk menggunakan media sebagai bagian dari perjuangan literasi di media.

2 tahun ini selalu menjadi pemicu kami untuk semakin kencang mengisi ruang-ruang bersama para perempuan di Indonesia.

Terimakasih untuk semua dukungannya pada kami: bayi konde.co yang baru 2 tahun ini.



Poedjiati Tan, www.konde.co


Love is an active power in man; a power which breaks through the walls which separate man from his fellow men, which unites him with others. ~ Erich Fromm

Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam dalam diri manusia; kekuatan yang mengatasi tembok yang memisahkan manusia dengan sesamanya, kekuatan yang menyatukan manusia dengan yang lainnya. 72 penulis menyatukan dirinya dalam sebuah tulisan dan menjadi buku “Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia. Buku yang menyuarakan cinta, kebersamaan, bertoleransi, dan bagaimana perbedaan itu menjadi indah penuh kasih. 

Sebuah pengalaman yang membanggakan bisa terlibat dalam sebuah proyek kebersamaan mewujudkan kebhineka tunggal-ikaan. Pembuatan buku yang digagas oleh Aan Anshori ketika melihat tergerusnya rasa persaudaraan berbangsa dan menjadikan perbedaan etnis sebagai alat penyebar kebencian.

Buku yang ditulis oleh 72 orang dengan latar belakang yang berbeda. Dalam buku ini, kita bisa membaca bagaimana pengalaman pribadi para penulis dalam bertetangga, berteman, berelasi, berhubungan dengan orang lain terutama antara ethnis Tionghoa dan bukan ethnis Tionghoa. Selain itu, juga terkait dengan bagaimana penilaian dari beberapa penulis tentang gambaran warga Tionghoa atau pengalamannya sebagai warga Tionghoa di beberapa wilayah di Indonesia.

Yang menarik dari semua itu, para penulis buku ini memeiliki latarbelakang yang sangat beragam. Dari yang pemula menulis, sampai dengan yang sudah menulis dengan sangat baik. Dari teman yang kegiatan sehari-hari di rumah dengan kegiatan domestik, sampai dengan yang memiliki kegiatan publik yang sangat luar. Perbedaan latar belakang, perbedaan yang berkembang karena konstruksi sosial sehingga ada anggapan yang stereotipe berbeda yang berkonotasi negatif dan memojokkan sampai dengan yang sangat mengharu biru karena persahabatan yang erat terjadi karena perbedaan yang ada. Dari yang seniman, akademisi, pegiatan sosial keagamaan, sampai yang ilmuwan.

Ranah perbedaan itu, menggambarkan bahwa pengalaman berhubungan dengan sesama, sama sekali tidak dibatasi dengan jurang perbedaan, baik itu secara fisik sampai perbedaan secara agama dan kepercayaan, atau secara ethnis dengan akar budaya yang sangat berbeda. Jadi dalam buku ini, menggambarkan dengan sangat tegas bahwa interaktif, hubungan sosial bisa dibangun dari mana saja, kapan saja dan dari keadaan apa saja namun melengkapi.

Tentu, bahwa rasa sakit karena berpedaan dan rasa lelah karena harus berhadapan dengan pemojokan karena berbeda juga digambarkan. Namun itu semua adalah pembelajaran yang penting bagi kita agar bisa merajut kebangsaan dan persaudaraan. Di mana berhubungan antar sesama yang digambarkan dari sudut pandang posisi ethnis Tionghoa memberikan banyak pelajaran yang berharga, bagaimana seharusnya sesama manusia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bisa menghargai, dipersatukan dalam suatu masyatakat yang saling menolong dan memberi.

Seperti yang disampaikan Anita Wahid dalam kata pengantar buku “Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia”

Saya bahagia sekali berkesempatan mengenal banyak orang Cina. Sama bahagianya dengan mengenal banyak orang Jawa, orang Padang, orang Manado, orang Timor, orang Sunda, orang Madura, orang Bugis, dan orang-orang suku dan ras lain. Juga orang-orang dengan agama yang berbeda dengan saya. Karena perkenalan dengan banyak orang yang berbeda ini mengajarkan saya satu hal: suku dan ras hanya menjelaskan dari mana asal seseorang, tapi tidak menjelaskan apapun mengenai karakter orang tersebut. Agama hanya menjelaskan apa yang dia yakini, tetapi sama sekali tidak menjelaskan mengenai bagaimana dirinya sebagai seorang manusia.

Dan satu-satunya cara untuk benar-benar tahu mengenai orang-orang dari suku, ras, dan agama lain adalah dengan membuka diri terhadap mereka. Dan ketika kita melakukannya, kita akan menemukan bahwa di balik semua identitas suku, ras, dan agama, setiap orang sama dengan kita. Sama-sama menginginkan hidup dalam damai, sama-sama bisa bekerja dalam rasa aman, sama-sama ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga, sama-sama ingin menjadi bermanfaat untuk orang lain, sama-sama ingin menyayangi dan disayangi, sama-sama ingin menjadi bagian dari masyarakat, dan sama-sama ingin membawa perubahan positif dalam dunia.

Karena suku, ras, dan agama bukanlah siapa mereka sesungguhnya. Karena siapa mereka sesungguhnya adalah sesama anak manusia. Begitu juga dengan mereka, orang-orang keturunan Tionghoa.

Buku yang diterbitkan secara mandiri dan dikerjakan secara kerelawanan, serta dibiayai oleh para donatur yang peduli dengan keberagaman. Buku “Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia”  merupakan wujud nyata bahwa masih banyak orang yang peduli dengan persaudaraan dan berbangsa, bahwa perbedaan itu alat pemersatu seperti semboyan kita Bhineka Tunggal Ika. Buku ini akan di launching serentak di 20 Kota di Indonesia pada tanggal 21 Maret 2018, bertepatan dengan hari anti diskriminasi. 


“Perempuan-perempuan penembus batas adalah perempuan yang berjuang dalam ruang-ruang yang tak terbatas untuk melawan ketidakdilan.”

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co - Batas yang dimaksud disini ialah batasan yang dimunculkan di berbagai ruang baik publik maupun domestik, serta sistem kenegaraan, sistem hukum, sistem ekonomi serta budaya yang melahirkan ketidakadilan serta kekerasan bagi perempuan di seluruh pelosok negeri. Ini merupakan ungkapan yang terjadi dalam acara perayaan perempuan batas yang diadakan di LBH Jakarta pada 4 Maret 2018 lalu.

Leni Suryani, wakil dari Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah potret satu dari perempuan penembus batas yang bercerita tentang perjuangannya sebagai PRT. Ia meninggalkan anaknya di desa, kemudian bekerja di kota Jakarta, untuk membiayai hidup anaknya.

Perjuangan lain ditunjukkan oleh perempuan PRT buruh migran yang bekerja di luar negeri untuk menyelamatkan keluarga dari kemiskinan.

Citra Referendum, Project Manager acara perempuan penembus batas menyebutkan bahwa tema ini diambil untuk mengajak publik supaya terinspirasi dari hal-hal hebat yang sudah dilakukan oleh perempuan di berbagai bidang.

“Acara ini juga merupakan satu dari berbagai upaya kreatif dan ruang alternatif yang dicipkatan bagi para perempuan dan laki-laki pro feminis untuk memberikan sanjungan dan penghargaan bagi para perempuan penembus batas,” kata Citra Referendum.

Perempuan-perempuan yang selama ini telah berandil besar di perjuangan akar rumput, memberikan inspirasi bagi kerja masa depan gerakan dan menghimpun kekuatan perempuan berbagai lintas sektor, bakat dan kreatifitas.

Selain itu ruang ini juga merupakan ruang edukasi bersama antara para korban, penyintas, aktivis serta komunitas masyarakat untuk saling menguatkan dan mendukung serta membangun sinergi yang lebih solid lagi kedepannya dalam memperjuangkan keadilan.

Dari ruang ini diharapkan lahir soliditas masyarakat sipil untuk berjuang bagi keadilan secara umum dan keadilan bagi perempuan secara khusus dalam berbagai isu seperti keadilan hukum dalam gerakan perempuan seperti: menolak Revisi KUHP yang berpotensi kuat mengkriminalisasi perempuan dan anak, gerakan mendesakan lahirnya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, gerakan melawan perebutan ruang dan lahan dari petani dan nelayan perempuan, gerakan memperjuangkan keadilan dan pemenuhan hak-hak normatif bagi buruh perempuan, gerakan melawan diskriminasi bagi kelompok disabilitas; gerakan melawan kriminalisasi berbasiskan kondisi minoritas agama/keyakinan atau ras, gerakan merebut keadilan bagi para korban pelanggaran HAM masa lalu, dan berbagai gerakan perjuangan bagi keadilan lainnya di seluruh nusantara.

Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan seperti Women Talk (Tutur Para Perempuan), lapak dagangan komunitas korban, layanan konsultasi hukum, layanan kesehatan reproduksi, layanan konseling psikologis, layanan konsultasi kecantikan dan pertunjukan seni. Pengisi acara lainnya yaitu: perempuan seniman Melanie Subono, Retno Listyarti, guru dan aktivis anak, kelompok paduan suara penyintas Tragedi 1965 Dialita.

Kesemuanya adalah perempuan yang telah berjuang selama bertahun-tahun, memupuk solidaritas bersama para perempuan lain dengan menembus batas, bersolidaritas dengan banyak kelompok dan jaringan untuk memperjuangkan keadilan. Penyintas 65 dan Dialita adalah para perempuan yang selama ini berjuang dari stigma yang dilekatkan seumur hidup mereka. Namun patah untuk berjuang bukanlah ciri perjuangan yang telah mereka pilih. Hingga sekarang perjuangan demi perjuangan telah dilakukan. Begitu juga Sumarsih, ibu dari Wawan, korban HAM 1998. Setiap Kamis melakukan aksi Kamisan di depan istana. Sumarsih adalah tonggak perjuangan seorang ibu terhadap anaknya, perlawanan perempuan pada kuasa yang tak berpihak pada korban.

“Keseluruhan acara ini dilakukan oleh, dari dan kepada para korban dan komunitas masyarakat yang konsisten memperjuangkan keadilan gender bagi perempuan. Seluruh layanan disediakan dengan gratis dari jaringan LBH Jakarta - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Inez Kristanti feat. Angsa Merah, Komunitas Millah Abraham -sebagai wujud solidaritas dan perjuangan bersama dalam merebut keadilan.”

Acara perempuan menembus batas ini sebagai pengingat bahwa LBH Jakarta menyerukan dan mengajak seluruh perempuan dan korban bersatu bergandengan tangan dari berbagai latar belakang dan isu menyerukan keadilan juga kesetaraan bagi perempuan.


(Perempuan penembus batas, foto: LBH Jakarta)

Luviana – www.Konde.co

Jika berbicara soal media, maka tak cukup bagi kita hanya berbicara soal isi/ content media, namun juga kepemilikan media. Karena siapakah pemilik media tersebut, sedikit banyak akan mempunyai pengaruh pada content media tersebut.

Dalam persepektif ekonomi politik, media merupakan wadah dimana terjadi tarik-menarik antara kepentingan ekonomi (pemilik modal) dan politik (permainan kekuasaan). Pakar komunikasi Golding dan Murdock melihat bahwa produk media merupakan hasil konstruksi yang disesuaikan dengan dinamika ekonomi yang sedang berlangsung dan struktur-struktur dalam institusi yang menyokong berputarnya roda institusi media. Jadi dalam perspektif ekonomi politik, media tak pernah lepas dari kepentingan kekuasaan pemilik, politik dan struktur yang ada.

Di luar itu, pertanyaan lainnya yaitu: apakah media tersebut sudah memberikan porsi bagi para jurnalis atau pekerja media perempuan? Seberapa persen mereka mempekerjakan perempuan?

Pertanyaan lain yang harus dijawab selanjutnya adalah: apakah ada content yang dibuat untuk publik atau kelompok marjinal? Bagaimana media memberikan ruang untuk kelompok marjinal seperti perempuan, buruh, miskin kota, LGBT, disable, korban HAM?


Pelibatan Pekerja Perempuan dan Content Media

Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Women's Media Center (WMC) terhadap media di Amerika menyebutkan bahwa suara perempuan kulit berwarna sering hilang di media di Amerika.

Gloria Steinem, salah satu pendiri The Women's Media Center dan Ms menuliskan bahwa perempuan kulit berwarna (bukan kulit putih) hanya diwakili sebanyak 7,95 persen staf di ruang berita cetak. Sedangkan hanya 12,6 persen staf berita di TV lokal dan 6,2 persen staf di radio lokal di Amerika.

Laporan tersebut memperluas data yang berasal dari penelitian industri tentang jenis kelamin dan ras oleh industry research on gender and race by the American Society of News Editors and the Radio Television Digital News Association dengan kesaksian dari perempuan kulit berwarna di media berita - termasuk jurnalis dan penulis Dana Canedy, perempuan kulit hitam pertama dan orang termuda yang memimpin organisasi Pulitzer; pakar dan jurnalis siaran seperti Soledad O'Brien, Ann Curry, Maria Hinojosa dan Joy Reid; dan MacArthur pemenang Nikole Hannah-Jones.

Mereka yang diwawancarai karena laporan tersebut terus terang berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi tentang menjadi jurnalis dan perempuan yang bukan kulit putih.

Perempuankulit berwarna masih berjuang melawan rasisme sistemik dan seksisme di media berita, dan sangat penting bahwa perempuan kulit hitam, Asia, Hispanik harus terlihat di media. Tanpa kehadiran perempuan, dan terutama perempuan kulit berwarna di ruang berita, akan terjadi masalah krisis dimana media akan diwarnai perspektif kebanyakan laki-laki kulit putih. Itu adalah tantangan di Amerika yang terjadi saat ini.


Media Komunitas

Lalu bagaimana kondisi secara umum di Indonesia? Ketua Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Serikat SINDIKASI), Ellena Ekarahendy menyatakan tentang pentingnya mengajak banyak perempuan yang kritis terhadap media untuk masuk dan bekerja di media agar bisa menjadi penjaga content di media. Apapun kondisi medianya, tetap membutuhkan perempuan yang tak kenal lelah memperjuangkan content dan keberagaman di media, sekaligus perspektif mereka sebagai pekerja media dan media kreatif.

Penelitian tentang content buruh dan media yang dilakukan oleh aktivis buruh, Guruh Riyanto salah satunya menyebutkan bahwa minimnya berita tentang buruh masuk di media mainstream. Jika masuk di media mainstream, maka hanya berita ‘besar’ misalnya soal kasus yang dibicarakan banyak orang atau soal aksi hari buruh. Ini menunjukkan pentingnya organisasi buruh dalam memproduksi sendiri informasi dan jangan menggantungkan diri pada media lain.

Dalam sebuah diskusi yang diadakan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) pada 5 Maret 2018 di Jakarta, ketua KSPI Said Iqbal menyatakan soal pentingnya bagi buruh untuk mengelola medianya sendiri, ini karena sangat minimnya berita tentang buruh masuk di media mainstream. Said Iqbal menyebutkani soal media yang dimiliki pemilik industri media dan menjadikan banyak berita buruh yang kemudian sulit menembus ruang-ruang berita.

Dian Septi pemimpin redaksi media komunitas Marsinah FM menyatakan bahwa selama hampir 6 tahun ini Marsinah FM mengelola radio komunitas secara mandiri. Radio ini kemudian digunakan untuk menyuarakan suara buruh dan di luar itu untuk berkegiatan para buruh perempuan. Mereka memproduksi acara sendiri, merancang acara hingga mempublikasikannya. Hal ini semakin menandaskan soal pentingnya mengelola media sendiri dan tidak mengandalkan media lain dalam memproduksi informasi.

Di Marsinah FM, para buruh perempuan kemudian belajar untuk bersiaran dan merancang acara melalui radio ini. Hal ini menunjukkan tentang pentingnya untuk tidak tergantung pada media mainstream dalam melakukan peliputan dalam kegiatan para buruh. Di luar itu, buruh perempuan kemudian bisa belajar dan memproduksi informasi sendiri. Hal ini penting selain untuk memproduksi content, juga para buruh perempuan diajarkan untuk memperoleh ketrampilan teknis bagaimana cara memproduksi dan kritis terhadap informasi.

Keberadaan media komunitas menjadi sangat penting karena bisa memegang mandat hak masyarakat untuk mengetahui dan memberitakan informasi. Hal ini bisa menjadikan masyarakat perempuan untuk menyuarakan suara mereka dan memecahkan persoalan-persoalan mereka.

“Menyuarakan suara perempuan sebagai bagian dari sebuah gerakan masyarakat untuk ikut dalam proses komunikasi dan pengambilan keputusan di tengah masyarakat. Media komunitas bisa membangun kesadaran sebagai warga negara, untuk mengetahui hak dan kewajiban perempuan sebagai warga negara,” kata Dian Septi.

Yang lebih penting lagi yang harus dilakukan adalah memproduksi content tentang keberagaman informasi. Sehingga informasi tentang masyarakat marjinal bisa masuk ke dalam semua media.

Tantangan pertama adalah bagaimana menciptakan media alternatif dengan pelibatan perempuan, termasuk memasukkan konsep citizen journalism di dalam media mainstream dan media komunitas.

Tak hanya pelibatan perempuan secara lebih meluas di media, namun produksi content sebagai media untuk suara perempuan ini sangat penting agar content marjinal bisa menjadi penyeimbang di media mainstream.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Referensi How We’re Doing: The Voices of Women of Color are Missing from U.S. Newsrooms: http://msmagazine.com/blog/2018/03/07/women-of-color-are-still-vastly-underrepresented-in-the/)