Jangan Lecehkan Tubuhku


Luviana- www.Konde.co

Komentar-komentar yang ditujukan pada tubuh perempuan dan eskpresi gender seperti tak ada habisnya. Ada saja komentar yang terlontar seperti :

“Tege atau tete gede”

“Jilboobs”

“Papan Setrikaan”

“Pantat Tepos”


Ada lagi komentar untuk laki-laki feminim seperti “jeruk makan jeruk.”

Di kalangan mahasiswa, komentar ini sering terjadi di kantin kampus, di ruangan kelas, organisasi mahasiswa dan lingkungan kost. Pelakunya mayoritas adalah teman sebaya.

Tak hanya menyebut soal bentuk badan, namun ada lagi seperti godaan dan candaan seksual seperti manis, cantik, sayang, siulan-siulan, gangguan secara verbal suara lainnya (catcalling).

Demikian temuan Jaringan Muda Melawan Kekerasan Seksual. Temuan ini dituliskan dalam buku berjudul “Aku, Kamu, Lawan Kekerasan Seksual” bersama FRIDA, The Young Feminist Fund.

Buku yang disusun oleh Lathiefah Widuri dari Jaringan Muda Melawan Kekerasan Seksual ini juga menuliskan tentang serangan pandangan nakal terhadap bagian tubuh tertentu yang menyebabkan perempuan menjadi tidak nyaman dan selalu merasa risih. Pelaku biasanya adalah seseorang yang memiliki kuasa lebih tinggi di kampus seperti senior, kakak kelas, dosen.


Stigma pada Perempuan Muda

Buku ini juga menuliskan tentang stigma yang seringkali diterima mahasiswi di kampus seperti :

“Cewek gampangan”

“Cewek sabi”
yang merupakan kebalikan dari bisa, artinya “Cewek bisa dipakai”

Hal lain yang juga kadang terjadi yaitu menyentuh atau menyenggol tubuh tertentu seperti menyenggol pantat, payudara bahkan hingga memeluk dan mencium paksa. Lathiefah Widuri menuliskan bahwa seringkali hal ini dilakukan dengan dalih “tidak sengaja” atau “hanya becanda” atau “sudah merasa akrab.”


Pelecehan di Media Sosial

Dan tak hanya dilecehkan secara langsung, buku ini juga menuliskan tentang pelecehan seksual yang terjadi di media sosial atau melalui chat media sosial. Seringkali terdapat gambar dan obrolan yang melecehkan seperti meme yang memperlihatkan tubuh perempuan, video yang melecehkan tubuh perempuan sebagai obyek seksual dan menyebarkan foto pribadi tanpa ijin pemilik.

Banyaknya pelecehan ini umumnya tidak tercatat karena dianggap sudah biasa terjadi, penyebab lain korban yang takut untuk melaporkan dan tidak adanya perlindungan hukum untuk korban, maka buku ini penting untuk mengajak setiap orang untuk mengetahui pelecehan seksual dan bisa menjadi ruang pemersatu bagi korban dan yang mengadvokasi korban di kampus.

Buku ini juga menuliskan tips apa yang harus dilakukan para korban? Yang paling penting yaitu bahwa korban tidak boleh diam, karena jika diam maka tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan pelecehan yang terjadi. Dan berikutnya harus bersama-sama menggalang kekuatan untuk menolak pelecehan dan kekerasan seksual.

Kampanye soal jangan melecehkan tubuh perempuan seharusnya menjadi awal perlawanan terhadap para pelaku pelecehan seksual, setelah itu melakukan perlawanan di ruang yang lain misalnya bersama-sama melaporkan kekerasan dan pelecehan seksual hingga ke tingkat hukum di kampus, juga ke pengadilan. Menghimpun bersama ini sangat penting untuk mengubah rasa kesal dan marah menjadi sebuah perlawanan.

Buku disusun oleh Jaringan Muda Melawan Kekerasan Seksual pada September 2017 melalui proses pendataan, pembagian kuisioner, melalui pertemuan dan diskusi di kampus- kampus bersama dengan Perempuan Mahardhika.