Kemana LGBT Harus Bekerja?


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Ino Shean tampak gusar, bagaimana mungkin kawan-kawannya sesama Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) akan pernah bisa memenuhi syarat yang ditentukan dalam lamaran kerja di hampir semua perusahaan, jika syaratnya adalah pelamar harus laki-laki atau perempuan.

Jika ada yang tomboy, tidak diterima, dan jika ada laki-laki yang dinilai kurang jantan, juga tidak diterima.

Hal seperti ini membuat Ino Shean frustasi. Jika syaratnya berwajah menarik, maka beberapa LGBT juga berwajah menarik. Namun mengapa perusahaan tetap tidak bisa menerima mereka?

Prasyarat perusahaan lainnya yang sulit dipenuhi kelompok LGBT yaitu persyaratan bahwa pelamar haruslah sarjana, syarat ini yang kemudian membuat mereka juga sulit untuk melamar pekerjaan, karena rata-rata mereka hanya sekolah sampai SD dan SMP.

Hal ini dibernarkan oleh Khanza Vina, salah satu LGBT yang aktif di Sanggar SWARA.

“Kami bukan S yang artinya sarjana, tapi kami hanya S yang lulusan SD. Bagaimana kami bisa memenuhi prasyarat ini jika kami juga didiskrimnasi dalam sekolah? Pengin lulus sekolah saja sulit,” ujar Vina

LGBT adalah kelompok yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak hanya harus memenuhi prasyarat yang panjang akan sebuah lamaran pekerjaan, namun juga ketika diterimapun, mereka harus menerima syarat lain, yaitu harus berpakaian atau bertingkah seperti laki-laki atau perempuan. Karena dalam sebuah pekerjaan, hanya ada laki-laki dan perempuan, tidak ada transgender. Jika tidak memenuhi persyaratan ini, maka mereka akan mendapatkan diskriminasi dibandingkan pekerja lainnya.

Hingga saat ini kelompok LGBT banyak yang terusir dari dunia kerja, dan akhirnya harus bekerja secara mandiri, mereka bekerja di salon atau bekerja secara freelance di lembaga yang sudah mengakui hak-hak mereka. Karena jika tidak, maka mereka tak bisa menyambung hidup.

Keterusiran dari kerja ini kemudian menghambat kehidupan LGBT. Pernyataan ini mereka ungkapkan dalam diskusi “Kemana LGBT harus Bekerja?” dalam acara Festival Pekerja yang diadakan pada Sabtu dan Minggu, 21-22 Aprl 2018 di Jakarta.

Maka Ino Shean menambahkan, jika ingin hidup secara layak, maka kelompok LGBT selanjutnya memutuskan untuk tidak menampakkan identitasnya, apalagi di sosial media. Banyak LGBT yang akhirnya memutuskan untuk tidak pernah menampakkan wajahnya atau nama sebenarnya di sosial media, karena jika melamar pekerjaan, mereka akan ditolak ketika HRD perusahaan mengecek nama mereka.

“Kalau kita melamar, maka akan di cek, siapakah kita? Jika ketahuan bahwa kita pernah menjadi pembicara LGBT misalnya, maka langsung dicoretlah nama kita. Tidak akan diterima,” ujar Ino Shean.

Maka mereka jarang yang akhirnya melamar di perusahaan karena selalu ditolak. Mereka juga tidak boleh bertato karena pasti ditolak. Maka kemudian mereka memutuskan untuk bekerja di salon, sebagai satpam atau make up artis.

Sedangkan di sisi lain, mereka juga tak boleh tampil di media karena tidak diperbolehkannya oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Prasayarat ini semakin menjauhkan LGBT dari pekerjaan mereka, ruang mereka untuk bergerak.

Di tahun 2016 lalu, KPI mengeluarkan edaran bagi kelompok LGBT untuk tak boleh masuk di TV dan radio. Hal ini semakin menunjukkan diskriminasi yang terus-menerus terjadi pada LGBT.

“Masuk TV susah, buat KTP susah, bahasa inggris susah. Hanya bisa yes dan no. Apakah mau bekerja di media kreatif? Mau, tapi kita gak bisa, dilarang sekolah, dilarang masuk kampus, tempat tinggal gak boleh, gak boleh kerja, gak boleh hidup,” ujar Ino Shean.

Data menunjukkan sampai dengan tahun 2017 lalu misalnya, banyak transgender perempuan atau waria yang tidak dapat bekerja di sektor formal seperti institusi pemerintahan dan sektor formal lain. Dan jika mereka bekerja di sector informalpun, gaji mereka berada di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Data Arus Pelangi menyatakan bahwa 60% buruh Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) mendapatkan gaji di bawah UMR.

Sanggar SWARA Muda sebuah organisasi waria muda di Jakarta mendampingi 300 lebih waria muda di Jakarta dan mencatat 55% dari mereka bekerja sebagai pekerja seks, 27% nya sebagai pengamen, 10% bekerja di salon rumahan, 11% dari mereka bekerja sebagai karyawan dan sisanya sebagai karyawan lepas seperti bekerja di make up artis dan penghibur di klub malam.

Persoalan LGBT yang tersingkir jauh dari pekerjaan dan kehidupan yang layak ini kemudian akan menjadi salah satu bagian dari kampanye aksi dalam aksi hari buruh 1 Mei 2018 di istana. Karena hingga saat ini, kelompok LGBT seolah selalu menjadi kelompok yang ingin disingkirkan, tak boleh hidup di Indonesia. Pintu untuk LGBT dalam mendapatkan pekerjaan seolah tertutup dimana-mana.


(Salah satu seminar yang menjadi rangkaian acara Festival Pekerja yang dilaksanakan di Gedung LBH Jakarta pada Sabtu dan Minggu, 21-22 April 2018)