Menjadi Partner yang Baik


Sica Harum – www.Konde.co

Beberapa hari ini saya banyak membaca slogan: change. Dimana-mana. Anak muda yang mau berubah. Mari berubah.

Berani berubah. Berani. Berubah. Apa makna ini bagimu?

Ini mengandung makna “mendobrak”, sesuatu yang bisa saja dilakukan secara ekstrim.

Ekspresi “Berani Berubah” bisa macam-macam. Termasuk berani ambil keputusan dengan cepat, dengan pertimbangan sematang mungkin.

Kalau yang memimpin sebuah kantor, kadang-kadang malah mengambil keputusan dengan mengandalkan intuisi saja. Kadang membutuhkan waktu yang cepat.

Ini mengingatkan saya pada tempat kerja, waktu kerja, dan hidup di Jakarta. Semuanya serba cepat. Bangun harus cepat, mengejar kemacetan, mengejar ketertinggalan. Deadline.

Buahnya ialah, tim berproses menjadi lebih mature, dengan berani ambil keputusan dan bertanggungjawab untuk itu. Tim juga punya “sense of belonging” lebih tinggi kepada tim yang kita bangun.

Bagaimana menerapkan kebijakan ini dalam personal life, dalam kehidupan rumah tangga, misalnya?

Perempuan single, menurut pengalaman saya, mungkin bisa lebih cepat ambil keputusan. Saya ingat dulu, semua keputusan yang saya ambil setelah lepas kuliah, selalu diputuskan sendiri.

Apakah semua keputusan tepat?

Tentu saja tidak. Banyak yang salah dan merugikan. Tapi kesalahan itu pada akhirnya mendewasakan.

Bagaimana dengan rumah tangga?

Saat menikah, mungkin ada keputusan-keputusan yang harus diputuskan bersama. Tapi, coba pikirkan, siapa yang sebetulnya mendominasi pengambilan keputusan?

Apakah perempuan? Atau lelaki?

Yang penting, tidak ada yang merasa harus mendominasi.

Tidak harus menunggu ijin dari suami.

Ini sering saya dengar ketika apapun, perempuan, istri harus meminta ijin suami, pacar. Jika mereka tidak mengijinkan, maka selesailah angan-angan untuk mengerjakan sesuatu.

Apakah laki-laki juga selalu meminta ijin untuk melakukan sesuatu? Karena seharusnya apa saja dibicarakan berdua, agar tidak ada lagi salah satu mendominasi yang lain, yang satu harus meminta ijin yang lain, sedangkan yang lain tak pernah  melakukannya. Padahal kita harus menjadi tim yang handal, baik dalam pekerjaan maupun dalam relasi personal. Karena yang sering terjadi di lingkungan saya, istri dibiarkan untuk melakukan pekerjaan rumah sendiri, setelah itu ia mesti pontang-panting mengantar anak sekolah, bekerja di kantor, dan pulang masih harus membereskan rumah, menemani anak tidur. Pertanyannya: akan menjadi tim dengan type apa ini, jika yang satu masih banyak melakukan pekerjaan sedangkan yang lain tak mau membantu. Percaya, bahwa jika dengan tim seperti ini, maka tim seperti ini tidak akan berjalan lama.

Begitu juga dalam tim kerja. Pekerjaan dengan job discription yang jelas akan mengenakkan teman kerja yang lain, karena yang sering terjadi, yang satu harus bekerja keras, dan yang lainnya justru mengelak dari tanggungjawab. Mau tanya tidak enak, mau memprotes takut dipecat.

Maka seharusnya tak boleh ada dominasi. Termasuk dalam pekerjaan rumah tangga tentu saja, karena pekerjaan di rumah, harusnya dilakukan suami dan istri, tidak hanya dilakukan istri saja, karena istri juga harus bekerja di luar rumah, di luar itu, bertanggungjawab pada anak. Ini seharusnya menjadi tanggungjawab antar partner.

Membebani pekerjaan pada orang lain dimana kita justru kita sangat santai dalam bekerja, tidak membantu, ini menunjukkan bahwa kita tak bisa menjadi partner kerja yang baik.

Apakah ini bagian yang harus segera kita ubah? Tentu saja, ini adalah bagian dari perubahan. Jangan ragu untuk cepat berubah, mengambil keputusan, mengambil inisiatif, dan menjadi rekan yang mendukung dan bekerjasama, agar pekerjaan cepat selesai, komitmen berjalan dengan baik.

Karena pada intinya menurut hemat saya, jangan pernah terjadi dominasi karena ini akan berujung pada diskriminasi pada yang lain.

Jadi, mari kita berubah, berani berubah dan mengambil tanggungjawab dalam relasi apapun.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)