SK Trimurti, Ingatan Tentang Pena dan Perjuanganmu


Luviana- www.Konde.co

Setiap memasuki bulan Mei, ingatan saya tak pernah lepas dari SK Trimurti. Jurnalis, pejuang buruh perempuan, hingga menjadi menteri perburuhan pertama di Indonesia.

Ingatan di bulan Mei ini bukan saja karena SK Trimurti lahir di tanggal 11 Mei, namun kegigihannya selalu membuat para buruh perempuan tak pernah lupa akan tonggak yang pernah ia letakkan di negeri ini.

Ani Ema Susanti, sutradara film “SK Trimurti”, selalu mengingatkan saya akan kebesaran SK Trimurti. Film SK Trimurti karya Ani Ema Susanti ini juga diputar dalam rangkaian acara Festival Pekerja yang dilaksanakan di Jakarta pada 21-22 April 2018 lalu.

Berkenalan dengan ibu Tri dengan semangat membuat riset tentang kondisi perempuan dan media di Indonesia pada tahun 2002 silam, kemudian mengantarkan saya ke rumah ibu Tri di daerah Kramat, Jakarta. Rumah berwarna putih, cat pintu dan jendela berwarna hijau selalu terlihat rapi dan sederhana.

Bu Tri, di usianya yang waktu itu sudah menginjak 90 tahun, sesekali masih membaca. Matanya sudah tidak begitu awas untuk melihat, namun ia kadang masih memaksakan diri untuk membaca. Ia masih mengingat sejumlah peristiwa penting dalam hidupnya. Perjuangannya sebagai aktivis buruh, menjadi wartawan di kala itu, hingga ia harus menghadapi berbagai persoalan yang menderanya.

Trimurti dalam hidupnya kemudian juga lebih memilih hidup sebagai aktivis pergerakan, menyebarkan pamflet agar Indonesia segera merdeka, dipenjara, merawat anaknya dalam penjara.

Seorang teman perempuan menyatakan bahwa Trimurti adalah perempuan hebat yang pernah ia kenal selama ini.

Soerastri Karma Trimurti lahir di Boyolali, 11 Mei 1912. Ayahnya adalah seorang carik/ perangkat desa di wilayahnya.

Tamat Sekolah Ongko Loro (dulu Tweede Inlandsche School), Trimurti meneruskan ke Sekolah Guru Puteri, Meisjes Normaal School di Jebres, Solo, Jawa Tengah. Di sekolah ini, dia lulus dengan peringkat pertama. Di sanalah Trimurti mulai aktif berorganisasi. Awalnya dia menjadi anggota Perkumpulan Rukun Wanita dan kadang mengikuti rapat-rapat Boedi Oetomo. Dia mulai aktif membaca dan rajin mengikuti perkembangan gerakan kemerdekaan. Akhirnya, Trimurti memutuskan berhenti menjadi guru dan mengabdikan diri menjadi aktivis kemerdekaan. Ia menjadi anggota Partai Indonesia (Partindo).

Pasca keputusan itu, Trimurti pindah ke Bandung untuk mengikuti kursus kader Partindo. Selain itu, dia juga mengajar di Sekolah Dasar Perguruan Rakyat yang didirikan Partindo. Walau sebentar, Trimurti sempat tinggal di rumah Inggit, istri pertama Soekarno. Sejak itu, dia mulai akrab dengan Bung Karno.

Pada 1933, Bung Karno meminta Trimurti menulis untuk majalah Pikiran Rakyat. Awalnya Trimurti menolak karena merasa bukan pengarang dan belum berpengalaman.
Tetapi Bung Karno mendesak. “Tentu bisa!” ujar Bung Karno. Akhirnya, Trimurti mau mencoba. Itulah awal perkenalan Trimurti dengan dunia jurnalistik.

Melihat dedikasi dan semangatnya, Bung Karno meminta Trimurti menjadi Pemimpin Redaksi majalah Pikiran Rakyat. Majalah ini secara khusus menyebarluaskan gagasan bahwa kaum perempuan Indonesia akan dapat meraih nasib baik hanya di dalam suatu masyarakat yang merdeka, adil dan makmur.

Sebagai Pemimpin Redaksi, mau tak mau, Trimurti harus mencantumkan namanya di bagian depan majalah. Karena tak mau keluarganya tahu dan khawatir, dia menyembunyikan nama aslinya: Soerastri. Sejak itu, dia menggunakan nama samaran: Trimurti. Dia juga pernah menggunakan nama lain: Karma, ketika mengirim artikel ke media lain. Lama kelamaan, jurnalis perempuan ini mulai dikenal dengan nama S.K. Trimurti.

Tahun 1934, di usia 22 tahun, dia pulang ke Klaten, ke rumah orangtuanya. Namun, ketaksetujuan keluarga pada aktivitas politiknya, membuat Trimurti tak betah. Dia makin tak nyaman karena penjajah Belanda seringkali menggeledah rumah anggota Partindo dan PNI di Jawa Tengah. Ketika itulah, pada awal 1935, dia diminta membuat keputusan sulit: memilih keluarga atau aktivitas kemerdekaan. Trimurti memilih terus berjuang, dan karena itu harus meninggalkan rumahnya.

Trimurti kemudian pindah ke Solo dan terus aktif menulis. Bersama rekan seperjuangannya, dia mendirikan majalah Bedug sebagai alat komunikasi gerakan kemerdekaan. Bedug ditulis dalam bahasa Jawa, namun hanya terbit sekali. Alasannya, media itu harus berbahasa Indonesia, sehingga namanya diganti menjadi Terompet. Akibat kekurangan modal dan pengelolaan yang masih berdasarkan idealisme semata, hanya dalam beberapa edisi, Terompet pun ditutup.

Selain aktif sebagai wartawati, Trimurti juga sibuk berorganisasi. Dia bergabung dengan perkumpulan Mardi Wanita, yang belakangan berganti nama menjadi Persatuan Marhaeni Indonesia. Uang kas perkumpulan ini disisihkan untuk menerbitkan majalah organisasi bernama Suara Marhaeni. Trimurti dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi majalah ini.

Selain di Mardi Wanita,. SK Trimurti juga membangun Barisan Perempuan Wanita yang banyak memperjuangkan nasib para buruh perempuan. Setelah itu ia juga aktif di Gerwis (Gerakan Wanita Sedar). Di sinilah ia kemudian banyak menulis tentang nasib perempuan di Indonesia. SK Trimurti banyak menulis di majalah Api Kartini, Berita Gerwani dan menulis kolom khusus untuk perempuan setiap kamis di Koran Harian Rakyat. Di media-media inilah kita bisa melihat bagaimana SK Trimurti kemudian memperjuangkan nasib para perempuan di Indonesia, tulisannya soal buruh perempuan, kesehatan reproduksi perempuan, pendidikan kaum perempuan, kemiskinan bisa dibaca di dalam setiap tulisannya.

Pada usia 25 tahun, Trimurti dipenjara untuk pertamakalinya. Pasalnya, Trimurti menyebarkan pamflet anti-imperialisme dan anti-kapitalisme yang berisi informasi tentang ketidakadilan Belanda. Selama sembilan bulan, dia mendekam di Penjara Bulu, Semarang.

Lepas dari penjara, pada 1937, dia menjadi wartawati di Harian Sinar Selatan. Di koran inilah, Trimurti berkenalan dengan Sayuti Melik, yang belakangan menjadi suaminya. Ada satu peristiwa yang menguatkan ikatan di antara mereka. Suatu hari, Sayuti menulis satu artikel yang menganjurkan rakyat Indonesia tidak usah membantu Belanda, jika Jepang menyerbu. Ketika itu, ancaman imperialisme Jepang memang mulai terasa, dan ketegangan Perang Dunia II mulai mengancam tanah air.

Akibat artikel itu, penjajah Belanda merasa terganggu dan mencari-cari si penulis artikel. Kebetulan, nama Sayuti memang tak tercantum sebagai penulisnya. Untuk melindungi kekasihnya yang saat itu dibutuhkan pergerakan kemerdekaan, Trimurti mengaku sebagai penulis artikel itu. Trimurti dipenjara, ia juga melahirkan di penjara. Di balik terali besi, Trimurti merawat bayinya, Musafir Karma Budiman.

Setelah keluar dari bui, suami istri Sayuti-Trimurti menerbitkan majalah bulanan sendiri bernama Pesat. Modalnya didapat dari penjualan tempat tidur tidur besi milik mereka satu-satunya. Awalnya pasangan ini bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Baru kemudian, setelah Pesat makin berkembang, mereka merekrut beberapa wartawan untuk menjadi staf redaksi.

Walaupun hubungan Sayuti dan Trimurti menjadi tidak harmonis pada akhirnya, karena Sayuti memilih untuk berpoligami dan Trimurti memutuskan untuk menolak dipoligami.

Trimurti juga memperjuangkan para buruh di Indonesia dan aktif di Partai Perburuhan Indonesia. Selama berada di Partai Buruh Indonesia, ia memimpin Barisan Buruh Wanita (BBW) yang tergabung dalam beberapa kelompok pekerja wanita. Kemudian Barisan Buruh Wanita menjadi sayap perempuan Partai Buruh Indonesia. Dalam kabinet Amir Sjarifuddin, pada 3 Juli 1947. SK Trimurti kemudian dilantik menjadi menteri perburuhan pertama di Indonesia. Trimurti disebut sebagai perempuan yang berhasil meletakkan tonggak penting bagi buruh secara nasional.

Trimurti meninggal di Jakarta pada 20 Mei 2008 di usianya yang ke 96 tahun karena sakit. Trimurti, dalam akhir hidupnya, tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Bekasi. Ia meninggal secara sederhana, dan telah memberikan tonggak penting dalam perjuangan pers dan buruh perempuan di Indonesia.

(Foto: wanita.me)