*Sinta Paramita- www.Konde.co

Mengkonsep tentang bisnis ternyata tak semudah yang dibayangkan. Bisnis yang paling mudah dilakukan oleh ibu yang punya 1 anak seperti saya saat ini adalah bisnis rumahan. Semua bisa dilakukan secara online dan tinggal mengantarkan barang. Paling tidak ini yang saya pelajari setahunan ini.

Semuanya pasti butuh riset dan persiapan. Pertama yang saya lakukan adalah memetakan pasar, siapa konsumen yang akan saya tuju. Tidak lucu jika saya berjualan, namun yang membeli adalah teman-teman saya sendiri, keluarga sendiri dan kenalan yang saya telpon secara japri. Karena pasar ini market yang seharusnya luas jangkaunnya, jadi saya tak pusing lagi memikirkan siapa saja pembelinya.

Dan yang kedua, pastilah saya harus memilih apa yang akan saya jual. Mau makanan yang menjadi santapan sehari-hari atau mau menjual barang yang bukan menjadi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan sekunder dan tersier? Ini pasti membutuhkan treatmen yang berbeda.

Jika mau jualan makanan yang bisa kita santap sehari-hari, saya mesti sediakan sumber daya manusia alias orang-orang yang siap setiap saat memasak, dipikirkan bagaimana mengantarkannya, siapa yang berbelanja, dll.

Namun jika kita menjual barang-barang, ini akan lebih mudah karena kita tidak harus setiap harus stand by untuk menyediakan dan mengantarkannya ke konsumen.

Sejumlah kawan saya menjalankan usaha katering. Umumnya mereka melayani katering online yang konsumennya adalah mahasiswa karena rumahnya ada di antara kampus-kampus.

Yang harus dipelajari tentu saja bagaimana menyajikan makanan sehat yang bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan. Karena bisnisnya tetap alias sudah punya pelanggan tetap, maka ia kemudian mempekerjakan beberapa perempuan yang tinggal di dekat rumahnya untuk bekerja dan memasak.

Kawan saya yang lain berbinis kue, ia berjualan kue baik ketika kondisi lagi ramai maupun sepi. Kue yang ia jual macam-macam, dari kue bolu, lapis hingga kue tar. Kue-kue ini ia buat setelah dipesan oleh pelanggan.

Saat mau lebaran seperti ini, ia tak bisa bebas kemana-mana karena pesanan kue lebaran yang sangat banyak, begitu juga saat natal atau hari raya lainnya. Namun di hari biasa, ia bisa berbisnis kue dengan santai dan bisa mengatur waktu.

Jika ia sedang ramai oleh pelanggan dan pesanan banyak, maka ia akan meminta tetangganya untuk membantu, namun jika sedang sepi, semua akan dikerjakannya sendiri.

Bisnis seperti ini bagi perempuan atau ibu seperti kami memang menjanjikan, mereka bisa mengerjakannya dari rumah dan banyak mempekerjakan perempuan lain yang tinggal di dekat rumah.

Saya akhirnya memilih berbisnis makanan organik, bisnis yang belum banyak dilakukan di kota saya. Selain sebagai penyaji makanan, saya juga bisa melakukan edukasi tentang makanan sehat. Dalam bisnis ini karena saya sudah mempunyai pelanggan tetap, maka dalam sehari-hari saya dibantu oleh 2 perempuan yang bekerja di tempat saya.

Dari bisnis rumahan inilah, kami kemudian belajar banyak hal. Kami sama-sama belajar bagaimana mempekerjakan orang.

Memperlakukan tenaga kerja adalah hal penting yang kami pelajari, kami harus menggajinya secara layak dan memberikan waktu libur. Karena banyak bisnis katering makanan yang biasanya pekerjanya tidak mengenal libur dan di saat sabtu, Minggu dan hari besar justru sangat sibuk. Kami justru melakukan sebaliknya, jika ada hari-hari yang sibuk, hari libur tetap kami ganti di hari yang lain. Maka kami memutuskan dalam seminggu ada 1 hari libur alias tidak membuka jualan, yaitu di hari senin, dan pekerja lainnya akan libur di hari senin dan selasa. Jika hari Minggu tak banyak pesanan, maka pekerja akan libur di hari Minggu dan Senin.

Yang kedua yaitu waktu bekerja yang 8 jam, karena jika lebih dari 8 jam maka pekerja akan diberikan uang lembur. Bisnis makanan organik yang saya kelola sangat bisa diprediksi waktunya karena kami hanya melayani makan siang buat karyawan. Jadi jam-jam sibuknya otomatis hanya pagi hingga siang hari saja.

Walaupun bisnis kecil, kami membiasakan diri untuk membayar sesuai UMR. Namun jika teman kami belum bisa membayar secara UMR, maka dalam sehari, pekerja tidak boleh bekerja lebih dari 8 jam dan waktu bekerja dihitung secara terperinci dari gaji yang ada.

Kesulitan kami adalah, kami mengalami kesulitan jika mempekerjakan beberapa perempuan yang hanya bekerja di saat kami over order. Misalnya disaat mau lebaran atau hari raya saja. Belum ada hitung-hitungan soal ini karena kami juga masih kesulitan membayarnya seperti pekerja tetap lainnya.

Hal-hal inilah yang kami pelajari terus hingga sekarang. Saya bersama teman-teman yang lain lalu sengaja fokus untuk tidak mau menyasar semua konsumen jika kami tidak bisa memberikan gaji yang layak kepada para pekerja kami, ini salah satu cara kami agar tidak menambah pekerja yang tidak bisa diberikan gaji secara tetap.

Bisnis rumahan, kerja rumahan dan kerja-kerja yang dilakukan pekerja rumah tangga selama ini memang belum mempunyai peraturan. Jika sudah mempunyai peraturan, maka semua orang bisa langsung menerapkannya.

Dan tentu, ini bisa diterapkan pada pemilik bisnis rumahan yang sangat menjamur di Indonesia saat ini.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Sinta Paramita,
pengelola bisnis rumahan


*Muhammad Mahdi Hanur – www.Konde.co

"Ini adalah ingatan saya yang melekat tentang seorang ibu. Ketulusan, sekaligus kepasrahannya ketika melihat anaknya meninggal. Ia tak mampu berbuat banyak. Institusi bernama rumah sakit bergeming melihat anak kecil itu meninggal. Nasib seolah tak pernah berpihak pada orang yang miskin dan kalah."


"Tidakkk! Kamu jangan pergi, Nak!," teriakan histeris sambil menangis itu terdengar lantang di lorong rumah sakit.

Saya terkesiap mendengarnya. Seorang ibu, tak berhenti mendekap anaknya.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ajal begitu cepat menjemput sang anak. Sementara sang ibu, masih belum selesai menangis atas kematian anaknya.

Dada ini terasa sesak. Bagaimana perasaan sang ibu? Apakah nasib tak lagi bisa menolongnya untuk menyelamatkan anaknya?
Siapakah yang punya nasib? Siapakah yang berkuasa menentukan nasib?

Jelas saja, penyebabnya adalah pertolongan dari rumah sakit yang sangat lamban membuat anaknya meninggal begitu cepat. Tidak ada tindakan dari pihak rumah sakit. Sementara pada saat yang sama, pihak rumah sakit bersikeras menyuruh pihak keluarga membayar lunas terlebih dahulu.

Bagaimana mungkin? Masih ada saja yang mementingkan uang ketimbang nyawa. Di mana empati kalian semua? Apakah semua sudah dibutakan karena uang?

Apa kalian lebih pantas disebut sebagai pembunuh? Atau kalian pantas di sebut sebagai perampok? Saya kira, kalian begitu baik. Menolong orang-orang kesusahan yang sedang sakit. Tapi nyatanya? Kalian sangatlah tak beradab! Kalian lebih mementingkan uang ketimbang membantu seseorang.

Lantas, apakah kalian masih pantas disebut sebagai institusi perawatan kesehatan profesional? Selalu mengklaim dan menyatakan bekerja untuk melayani rakyat saja, tapi tetap saja uang yang terutama.

Memang saya sadar, urusan maut, siapa yang tahu? Tapi, bukankah lebih baik jika mengusahakannya terlebih dahulu? Berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya nanti, sudah menjadi takdir dari-Nya.

Yang pernah saya tahu, pekerjaan sangatlah nikmat dan bahagia ketika dilakukan menggunakan hati, bukan nafsu ataupun ego.

Saya tidak mau mendengar jeritan kesedihan terhadap penindasan lagi. Pada jeritan ibu-ibu yang lain yang harus kehilangan anaknya. Saya tidak mau mendengar keluh kesah keluarga akibat rasa empati yang telah tenggelam. Kita adalah makhluk sosial, sudah seharusnya saling tolong menolong. Bukannya menjadi tak acuh seperti itu. Bahkan punya naluri tak mau menolong nyawa yang sedang meregang.

Bagaimana manusia ini mau kembali bersatu? Kalau dari diri sendiri saja sudah tidak memperdulikan sekitarnya. Bagaimana manusia-manusia ini mau menjadi lebih baik, kalau diri kita belum mampu memberikan cinta, kasih sayang, dan kebaikan pada manusia lain.

Begitu banyak orang-orang yang terpinggirkan, bukan karena mereka salah. Tapi karena mereka kalah.

Rasa peduli ataupun hidup prihatin sudah tidak ada pada nurani kita? Sejatinya, kita harus memilih untuk menolong orang-orang yang kalah, orang-orang yang nasibnya sangat tergantung pada orang lain, yang tak berdaya. Bersama merekalah seharusnya kemanusiaan kita diletakkan. Bersama merekalah kita seharusnya berpijak.

Pada ibu, ketika ajal menjemput anakmu.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Muhammad Mahdi Hanur,
Masih kuliah di Jakarta. Punya hobby berkelana, merasakan, mengamati, menulis, menyesap kopi sambil mendengar musik. Bisa dihubungi di IG: @mahdihanur




*Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Kekerasan dan pelecehan seksual yang terus terjadi pada buruh perempuan terus menjadi pembahasan intensif dan penting.

Kekerasan seksual yang dialami para perempuan buruh garmen di Indonesia juga disoroti dalam Konferensi Pekerja Internasional yang diadakan International Labour Organisation (ILO) di Jenewa.

Sidang yang dilaksanakan pada 28 Mei hingga 8 Juni 2018 ini membahas persoalan-persoalan yang menimpa para buruh sedunia.

Pengamatan sidang yang diadakan koalisi serikat buruh/serikat pekerja bersama organisasi pembela HAM dan hak pekerja lainnya dalam pernyataan sikapnya menyebutkan mengenai risiko kekerasan yang ada di tempat kerja. Para aktivis menyebut bahwa koalisi kemudian mendesak ditetapkannya standar global mengenai kekerasan berbasis gender pada sidang Konferensi Pekerja Internasional (ILC) ILO tersebut.

Pada sidang tahunan tersebut, para pimpinan serikat pekerja dari seluruh dunia bersama dengan pemerintah dan kelompok bisnis akan bertemu untuk mendiskusikan standar global untuk perlindungan perempuan di berbagai sektor.

Salah satu sektor yang menjadi sorotan dalam sidang ILO kali ini berkaitan dengan industri garmen. Sektor yang banyak didominasi pekerja perempuan itu justru menempatkan perempuan sebagai korban dari berbagai praktek kekerasan.

Perempuan-perempuan itu umumnya terkonsentrasi di bagian produksi, sebagai operator mesin, pemeriksa-checker, dan helper. Mereka setiap harinya mengalami kekerasan fisik, verbal, seksual, mendapatkan ancaman, intimidasi dan pembalasan bila mereka melaporkan kekerasan yang mereka alami.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Perempuan Mahardhika di Kawasan Berikat Nusantara Cakung (KBN) di Jakarta Utara misalnya, menemukan bahwa 56,5 persen buruh garmen perempuan mengalami pelecehan seksual.

Dari 437 buruh perempuan korban pelecehan seksual, sebanyak 93,6 persen tidak melaporkan pelecehan yang dialaminya.

“Korban pelecahan seksual tidak hanya menerima perlakuan yang merendahkan, mengganggu dan mengusik martabat, namun juga harus berhadapan dengan ancaman berlanjut dan rasa takut. Pada akhirnya, pelecehan dianggap menjadi hal yang biasa. Sulit dihindari namun beresiko untuk disuarakan atau dinyatakan” ungkap Vivi Widyawati, Koordinator Program Penelitian Perempuan Mahardhika.

Syarif Arifin, Direktur Eksekutif LIPS dan juga Koordinator Asia Floor Wage Alliance (AFWA) Indonesia menjelaskan, kekerasan yang terjadi di industri garmen bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.

Kekerasan yang dialami pekerja perempuan merupakan dampak dari ketidakadilan gender, diskriminasi, stereotipe, patriarki dan relasi kuasa yang tidak seimbang. Di industri garmen, kekerasan merupakan cara yang digunakan pengusaha untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

“Industri garmen sangat bergantung pada tenaga kerja murah dan fleksibel. Para pemilik merek (brand) menekan pemasok untuk menurunkan harga sementara produksi yang dihasilkan tidak terprediksi dan bervariasi. Membayar pekerja kontrak biayanya lebih murah dibandingkan pekerja permanen. Upah mereka lebih rendah dan jarang sekali mendapat tunjangan, termasuk cuti dengan bayaran dan jaminan sosial,” ungkap Syarif.

Berdasarkan pengalaman Ketua Umum Serikat Pekerja Nasional (SPN), Iwan Kusmawan, yang banyak melakukan advokasi pekerja garmen perempuan mengatakan, praktek kerja di pabrik garmen sangat rentan menjadikan buruh perempuan sebagai korban kekerasan.

“Tingginya target produksi membuka peluang besar terjadinya kekerasan verbal, fisik bahkan seksual. Buruh dipaksa untuk mencapai target produksi yang tidak masuk akal sehingga kondisi kerja penuh tekanan dengan jam kerja yang panjang. Dan upah yang didapatkan tidak cukup buat kebutuhan keluarga sehari-hari,” terangnya.

Di tingkat nasional, Iwan mengatakan, ia dan organisasi-organisasi yang tergabung dalam AFWA Indonesia beserta organisasi pembela ham dan hak pekerja lainnya, mendesak ILO untuk mengesahkan standar perlindungan buruh perempuan.

“Untuk itu, kami mendesak agar pemerintah Indonesia, merek dan pemasok menyatakan dengan tegas dukungan terhadap Konvensi dan Rekomendasi Kekerasan Berbasis Gender di dalam sidang ILO dan menjalankannya di Indonesia,” jelas Iwan.

Lebih jauh, Andriko Otang, Direktur Eksekutif Trade Union Right Center (TURC) menjelaskan, kekerasan terjadi tidak hanya di ruang produksi saja tetapi juga pada perjalan pergi dan pulang kerja. Bahkan kekerasan masuk ke rumah ketika rumah menjadi tempat kerja bagi para pekerja rumahan.

“Pekerja rumahan merupakan mata rantai terbawah dalam proses produksi pada femonena rantai pasokan global. Target kerja berlebih dan rawan kekerasan verbal dari mandor apabila hasil kerjanya tidak sesuai. Upah yang mereka terima rendah akibat tidak terlindunginya pekerja rumahan dalam hukum nasional.

Anannya Bhattarcharjee, sekertariat AFWA Internasional menjelaskan, untuk menghapuskan kekerasan berbasis gender di tempat kerja, para pemilik merek harus turut mengambil tanggung jawab terhadap apa yang terjadi di rantai pasokannya. Mereka harus menghormati kebebasan berserikat dan perundingan bersama yang memberikan peluang kepada pekerja perempuan untuk menjadi agen perubahan dalam ekonomi global

AFWA internasional baru saja meluncurkan laporan penelitian mengenai kekerasan berbasis gender yang terjadi di rantai pasokan garmen Walmart di Asia. AFWA berharap laporan penelitiannya dapat menjadi rekomendasi dalam sidang tersebut.

Lebih jauh AFWA mendesak sidang ILO menghasilkan kerangka kerja yang kokoh sehinga menjadi cetak biru untuk penghapusan kekerasan berbasis gender. Rekomendasi ini selain diberikan kepada pemerintah, juga pada industri dan serikat-serikat pekerja.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Rohmatul Izad- www.Konde.co

Perbincangan tentang cadar bagi perempuan selalu menarik perhatian. Namun bagi saya cadar “hanyalah” tradisi dan ekspresi kebebasan berbudaya.

Sebab seseorang bebas mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang lain, atau kelompok yang berbeda sama sekali, sejauh kebiasaan itu baik dan tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebih-lebihan.

Seperti memakai cadar, seorang muslimah bebas memakai cadar, sebab tradisi pemakaian cadar, betapapun tak selalu identik dengan baik dan buruk, tetapi lebih karena dapat membuat seorang pemakaianya menjadi merasa nyaman dan aman, paling tidak menurut persepsi dan pengalamannya.

Sebagai ekspresi budaya, jelas bahwa cadar tak mungkin dapat mengukur kualitas dan kapasitas kesalehan religiusitas seseorang.

Budaya, dalam banyak ragamnya, selalu terikat dan mengikat dirinya sendiri dalam lokalitas tertentu dan ruang lingkupnya terbatas pada wilayah di mana sekelompok orang mempraktikannya. Meski budaya selalu berkembang dan ada banyak kemungkinan jenis budaya itu, sebagaimana cadar, mempengaruhi lingkungan luar secara geo-kultural. Jadi tidak ada kaitan sama sekali antara cadar dan agama.

Memang, di belahan dunia lain, termasuk nusantara, budaya dapat melahirkan agama atau keyakinan tertentu yang dihayati layaknya agama besar pada umumnya. Tapi orang akan tetap sadar bahwa keyakinan itu, betapapun sebuah ekspresi batin dalam sejarah yang panjang, tetap merupakan produk budaya dan tak akan pernah dipahami sebagai sesuatu yang benar-banar dari langit.


Sejarah dan Tradisi Cadar

Sebelum era Islam, tradisi cadar sudah menjadi hal lumrah yang dipakai dalam lingkup geo-kultural tertentu. Bahkan cadar bukan khas budaya Arab, melainkan budaya berkembang di Timur Tengah yang secara geografis wilayahnya membentang antara Asia Barat sampai Afrika Utara. Jadi cadar itu tidak selalu identik dengan budaya Arab, apalagi Islam. Sebagai ekspresi budaya, Arab hanya satu dari sekian banyak etnis yang mempraktikkan budaya cadar.

Di Timur Tengah, Arab juga bukan satu-satunya etnik yang populasinya besar, selain itu masih ada etnik Persi, Kurdi dan Azerbaijan. Arab juga bukan satu-satunya penduduk pribumi Timur Tengah, ada banyak etnis lainnya seperti Armenia, Aramik, Balochi, Berber, Koptik, Yahudi, Yazidi, Talishi, Assyria dan masih banyak lagi.

Ini menunjukkan bahwa betapa kawasan Timur Tengah memiliki ragam etnis dan tidak hanya agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) saja yang hidup di sana, tetapi keyakinan-keyakinan lokal lainnya juga tumbuh subur.

Bilamana Arab tidak selalu identik dengan Timur Tengah, maka menjadi jelas bahwa Arab juga tidak selalu identik dengan Muslim. Itu artinya keberadaan cadar sebagai satu dari sekian banyak tradisi yang hidup di Timur Tengah, juga tidak identik dengan ajaran-ajaran Islam.

Hanya, sebagian komunitas Muslim, mengakomodir cadar sebagai identitas yang mereka lekatkan dengan ekspresi agama, betapapun ia tak memiliki nilai teologis secara langsung dan tak akan pernah menjadi ajaran Islam yang baku.

Jika Islam sebagai agama bukan merupakan produk budaya, maka jangan pernah katakan bahwa cadar itu produk Islam. Sebab hal itu akan menciderai nilai-nilai kebermaknaan dalam beragama karena sudah salah kaprah dalam menempatkan posisi budaya sebagai agama atau ekspresi budaya sebagai ekspresi agama.

Siapapun bebas berbudaya, sesuai dengan norma-norma tertentu dan tidak melanggar kebebasan orang lain, tapi jangan pernah katakan hal itu sebagai bagian dari ajaran Islam jika agama-agama lain, suku-suku lain, atau penghayat kepercayaan lain, di banyak belahan dunia juga mempraktikkan cadar sebagai bagian penting dari identitas kebudayaan mereka.

Cadar sangat erat dengan kondisi geo-kultural Timur Tengah, melintasi berbagai suku-bangsa dan agama. Maka identitas cadar tak ada kaitannya dengan kualitas keimanan seseorang, juga tidak menunjukkan nilai kesalehan yang kompatibel. Ia lebih sebagai produk budaya dan barang tentu memiliki nilai penting sebagai kebiasaan yang hidup dalam komunitas tertentu, layaknya ekspresi budaya-budaya lain yang juga hidup dalam banyak masyarakat di belahan dunia lainnya.

Bahkan, menurut catatan sejarah, tradisi cadar sudah hidup jauh ribuan tahun sebelum Islam lahir di kawasan Arab. Mula-mula dari zaman Imperium Assyria kuno di kawasan Mesopotamia. Kemudian, tradisi cadar mempengaruhi era Byzantium dan menjadi populer di masa Imperium Persia.

Ketika tentara Muslim melakukan ekspansi kekuasaan dan berhasil menaklukkan Byzantium dan Persia, tradisi cadar ini lalu diadopsi oleh masyarakat Muslim Arab dan masyarakat Timur Tengah pada umumnya.

Oleh karena tradisi cadar sudah dipraktikkan jauh sebelum Islam, maka wajar jika perempuan-perempuan di Timur Tengah sebelum Islam sudah memakainya. Selain itu, pakaian cadar ternyata juga sangat cocok dikenakan di iklim padang pasir. Lagi-lagi, cadar terikat dengan lokalitas fungsional dari pemakainya. Mereka mengadopsi cadar bukan semata-mata karena agama dan nilai agung lainnya, tetapi hanya sebatas pakaian fungsional yang tampak cocok di lingkungan mereka.

Di antara sekian banyak perempuan yang memakai cadar, yang tak terbatas oleh suku-bangsa dan agama, mereka menfungsikan cadar secara berbeda-beda dan memiliki tujuan yang beragam. Perubahan-perubahan makna pun terjadi dari zaman ke zaman dan dari masyarakat ke masyarakat lain yang memakainya.

Sebagian umat Islam yang sejauh ini banyak menfungsikan cadar sebagai bermotif agama, juga merupakan bagian penting dari ‘evolusi makna cadar’ yang umumnya tak lebih hanya sebatas produk budaya.

Tetapi apakah bisa dibenarkan jika sesuatu yang datang dari budaya, lalu dimurnikan menjadi produk agama yang suci? Bukankan ajaran Islam berasal dari langit dan bukan produk buatan manusia sendiri?

Saya meyakini bahwa siapapun bebas mengekspresikan praktik beragama dan kebudayaan tertentu, selama ia tak melanggar prinsip umum dan kebebasan orang lain. Tetapi kita perlu memastikan mana wilayah budaya dan mana wilayah agama, agar kita tidak terjebak pada jaring-jaring ideologis dan politis yang hanya mengedepankan keyakinan buta tanpa didasari pengetahuan yang jelas dan mumpuni.

Apalagi, dengan bermodal pengetahuan yang dangkal, sudah berani menghakimi orang lain yang tak sepaham.

Silahkan bercadar, tapi jangan mengklaim seseorang yang berkerudung biasa atau bahkan perempuan yang tak berkerudung sebagai tidak Islami atau telanjang sama sekali. Mereka punya hak atas dirinya, Islam juga sangat fleksibel dalam mengakomodir umatnya, bukan malah mempersusah.

Tidak semua umat Islam sepakat dengan cadar dan tidak semua perempuan mau memakai cadar merupakan bukti bahwa cadar sama sekali bukan termasuk ajaran Islam.

Cadar hanya ekspresi budaya dan jika seseorang memakainya atas motif agama beserta seluruh nilai yang ia yakini, maka itu haknya dan ia tak punya hak untuk mengklaim eksistensi cadar sebagai doktrin Islam.

Karenanya cadar lebih tepat disebut sebagai ekspresi dan kebebasan berbudaya, bukan kebebasan beragama.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)


*Rohmatul Izad. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), Ketua Pusat Penelitian Studi Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial di Pesantren Baitul Hikmah Yogyakarta.

File 20180522 51098 12dsbj9.jpg?ixlib=rb 1.1

Gadis 14 tahun menikah dengan bocah laki-laki berusia sama di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 2014.
UN Photo/Armin Hari



Tatik Hidayati, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Madura

Tiadanya batasan yang definitif tentang usia minimal boleh nikah dalam hukum Islam, kerap dijadikan legitimasi oleh orang tua di Indonesia untuk menikahkan anak perempuan di bawah 16 tahun. Dampaknya di negeri ini, satu dari lima perempuan berusia 20-24 tahun telah menikah sebelum mereka berusia 18 tahun.


Survei UNICEF menunjukkan bahwa tradisi, agama, kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan ketidakamanan karena konflik adalah alasan utama tingginya jumlah perkawinan anak-anak di Indonesia. Secara struktural, advokasi untuk menaikkan batasan minimal usia nikah perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun menemui tembok buntu karena hakim Mahkamah Konstitusi cenderung konservatif.


Perkawinan anak-anak tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan, tapi juga terjadi Madura, daerah yang memiliki tingkat kawin anak-anak tinggi di wilayah Jawa Timur. Di Sampang terdapat 17,47% kasus kawin anak, Pamekasan 19,39%, dan Sumenep 41,72%. Dari 9.000 pernikahan per tahun di Sumenep, lebih 60% adalah praktik kawin anak.


Kawin anak merupakan tradisi buruk yang dianggap masyarakat harus diikuti oleh anak-anak perempuan di daerah ini sehingga mereka tidak boleh menolak. Orang tua akan menanggung aib jika mereka menolak perkawinan yang sudah diinginkan oleh orang tuanya. Keadaan ini diperburuk oleh budaya bahwa orang tua akan malu jika anak perempuannya sudah praban (gadis) tapi belum mendapatkan jodoh.


Anak-anak perempuan tidak hanya menerima pernikahan ini, tapi mereka juga melawan dengan berbagai cara untuk mengakhiri ikatan pernikahan.


Mengapa perempuan menerima praktik kawin anak?


Dalam riset saya di Kecamatan Dungkek Sumenep pada 2017 dengan data dari 25 informan yang menikah saat masih anak-anak menunjukkan hampir semua yang menjadi pengantin muda tersebut berakhir dengan perceraian. Mereka menikah pertama kali pada usia 7-15 tahun, baik secara bawah tangan (siri) maupun yang dicatatkan di pemerintah.


Anak-anak perempuan di kecamatan tersebut terpaksa menerima pernikahan anak, dengan berbagai alasan, baik yang diramaikan dengan pesta ngala’ tumpangan atau hanya selamatan.


Terungkap bahwa motif utama orang tua menikahkan anak-anak adalah ngala’ tumpangan, tradisi mengambil kembali sumbangan (dalam bentuk uang dan kebutuhan pokok seperti beras) yang sudah diberikan kepada saudara dan tetangga yang lebih dulu menggelar pesta pernikahan. Uang sumbangan yang didapat dari satu pesta nikah ini berkisar Rp 100-200 juta. Adapun orang biasanya menyumbang mulai ratusan ribu sampai jutaan rupiah.


Anak-anak dijadikan sebagai pengantin dalam hajatan tersebut untuk menarik kembali dana sumbangan yang telah dikeluarkan oleh orang tuanya. Ini terjadi karena orang tua begitu dominan dalam proses pengambilan keputusan untuk anak-anaknya.


Lalu apa alasan anak-anak menerima pernikahan yang tidak diinginkan tersebut? Setidaknya tiga alasan yang terungkap dari riset ini:


Pertama, bagi yang sudah memahami tentang pernikahan, mereka terpaksa menerima pernikahan dini karena menuruti kehendak orang tua atau neneknya. Bagi pengantin yang masih sangat belia, mereka menerima karena ketidaktahuan tentang pernikahan. Mereka hanya tahu bahwa saat dinikahkan semua keinginannya dipenuhi oleh orang tuanya.


Informan berusia 20 tahun, yang dinikahkan pada usia 7 tahun bercerita:


“Saya dulu mau dimantenin karena senang saja seperti jadi ratu. (Saya) didandani, duduk di pelaminan, dan minta apa saja pasti dikasih. Meski orang tua saya sudah banyak mengeluarkan banyak uang untuk pesta pernikahan tersebut, tapi saya tidak merasa bersalah karena pesta nikah itu untuk menarik barang (dan uang) dari luar (orang lain). Bahwa akhirnya cerai, ya mungkin itu bukan jodoh saya.”


Informan lainnya, yang dikawinkan pada usia 7 tahun, terpaksa mau menikah karena keinginannya neneknya. Rupanya, calon suaminya masih keluarga jauh dan neneknya ingin hartanya tidak jatuh ke orang lain.


Kedua, membahagiakan orang tua mereka dengan menjadi pengantin untuk menarik sumbangan yang telah diberikan kepada banyak orang di kampungnya. Kesediaan mereka menjadi menjadi pengantin dalam pesta ngala’ tumpangan, karena menyelamatkan muka orang tua.


Ketiga, mereka bersedia dinikahkan karena mereka menyadari bahwa pernikahan ini hanya formalitas dan mereka dapat mengakhiri pernikahan itu setelah pesta pernikahan. Mereka menjadi pengantin dengan berpura-pura menikmati pesta ngala’ tumpangan.


Bentuk-bentuk perlawanan


Pola relasi kuasa yang timpang antara anak-anak dan orang tua melahirkan “pemberontakan”. Perlawanan, sebagaimana diungkapkan oleh James Scott, diwujudkan dalam dua tataran yakni (1) public trancript, di depan banyak orang anak perempuan menerima dominasi dari pihak yang kuat (orang tua dan suami), dan (2) hidden transcript, di luar “panggung” anak perempuan melawan secara diam-diam atau tersembunyi terhadap pihak yang kuat.


Perempuan yang nikah dini ini lebih banyak melawan secara diam-diam.


Bentuk perlawanan ini tidak selalu menentang nilai budaya dan agama yang berkembang di masyarakat Madura. Seperti ditunjukkan penelitian Siti Kusujiarti, perempuan menjalani tradisi yang tidak mereka inginkan, tapi mereka senantiasa melawan secara tersembunyi dalam bentuk perkataan dan praktik seperti desas desus, gosip, dan cerita yang dilakukan oleh perempuan.


Bentuk-bentuk perlawanan terhadap perkawinan anak, setelah mereka dinikahkan dengan paksa, adalah bercerai. Menurut pengakuan mereka, pihak yang menginginkan untuk bercerai adalah dari pihak perempuan. Mereka tidak mencintai suaminya karena pernikahan itu keinginan sepihak orang tuanya dan keluarga besan yang sebelumnya sudah menjalin komitmen bersama untuk menikahkan anak-anak mereka. Perlawanan itu diekspresikan dalam beberapa bentuk:


Pertama, pernikahan tetap dijaga sampai mempunyai anak. Mereka menjalaninya dengan menunjukkan ekspresi penolakan melalui pertengkaran rumah tangga yang mereka tunjukkan sebagai bentuk ketidakcocokan. Ini sengaja dilakukan oleh anak perempuan supaya suaminya segera menceraikannya. Mereka ingin segera keluar dari belenggu pernikahan yang dipaksakan.


Kedua, mencintai laki-laki lain sebagai alasan untuk mengakhiri pernikahan. Sikap ini merupakan sebuah keberanian anak perempuan dalam mengekspresikan keinginan mereka. Seolah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mempunyai pilihan sendiri yang akan membuat hidupnya bahagia. Ungkapan ini terkadang tidak dalam bentuk ucapan, tapi sikap yang dipendam dan tetap memberontak.


Seorang informan, misalnya, membuat surat kepada suaminya yang isinya dia mencintai laki-laki lain dan meminta suaminya menceraikannya. Akhirnya keinginannya terkabul, keluarga suami datang dan mengurus perceraian. Akibatnya, orang tuanya marah besar, karena menganggap perempuan yang meminta cerai adalah suatu aib.


Ketiga, setelah pesta nikah usai, anak-anak perempuan ini dengan sengaja tidak mau melayani hubungan seksual yang diminta oleh suaminya. Bahkan ada yang mengatakan dia akan tetap berlaku seperti itu sampai laki-laki yang bukan pilihannya itu tidak tahan dan akhirnya menceraikannya. Biasanya orang tua mereka mencoba memberi pengertian supaya dia melayani suaminya.


Melayani suami adalah sebuah pemahaman yang sulit diterima oleh anak-anak. Mengapa ia harus melayani seseorang yang tidak ia sukai, bahkan tidak ia kenal sebelumnya. Pengetahuan tentang kewajiban suami istri memang tidak pernah ia peroleh sebelumnya.


Keempat, pergi dari rumah setelah acara pernikahan. Sebagian mereka kabur ke rumah neneknya karena anak tidak punya pilihan lain untuk menghindar dari perkawinan yang dipaksakan tersebut. Mereka akan tetap tinggal di tempat neneknya sampai suaminya menceraikannya. Tidak jarang mereka mendapat siksaan dari orang tuanya supaya kembali kepada suaminya.


Kelima, melanjutkan sekolah. Ini bentuk perlawanan yang paling tidak terlihat secara langsung sebagai sebuah perlawanan terhadap pernikahan. Hampir semua informan menjadikan sekolah sebagai alasan mereka tidak terdiam menjalani pernikahan. Di sekolah mereka dapat beraktivitas sebagai pelajar dan sekaligus dapat berkumpul dengan teman-teman sebaya mereka. Meski demikian kondisi tidak senantiasa berjalan lancar.


Faktanya beberapa dari mereka yang masih melanjutkan sekolah dipaksa untuk berhenti karena mulai kelihatan indikasi penolakan mereka terhadap pernikahan. Bahkan ada yang tinggal satu bulan ujian akhir mereka dipaksa berhenti sekolah, sebagaimana terjadi pada seorang informan.


Sedangkan dalam kasus gadis yang menikah siri pada usia 11 tahun, ia meminta orang tuanya mengirimnya ke pesantren setelah lulus sekolah dasar sebagai pelarian setelah dinikahkan secara siri tersebut. Menjelang lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA), orang tuanya meminta dia bersedia dinikahkan secara resmi di kantor urusan agama, tapi dia tolak. Tidak hanya sekali menolak, tapi dua kali menolak, dan setelah itu dia diceraikan oleh suami sirinya. Setelah lulus Madrasah Aliyah, dia melanjutkan kuliah ke universitas sehingga terlepas dari pernikahan dini.


Akibat perlawanan


Perlawanan ini dapat berdampak positif atau negatif bagi anak perempuan yang melawan. Positifnya, anak-anak terbebaskan dari pernikahan yang dipaksakan yang membuat mereka terbelenggu dan tersiksa oleh kondisi tersebut.


Perlawanan yang dilakukan oleh anak perempuan terhadap kawin anak mengandung berbagai risiko yang terkadang tidak terpikirkan. Dampak yang paling nyata adalah mereka menjadi janda pada usia muda, yang cenderung dinilai negatif oleh masyarakat. Ini belum termasuk dampak psikologis yang diekspresikan anak menjadi tidak percaya diri dan menarik diri dari pergaulan teman sebayanya.


Dampak lainnya adalah intimidasi baik dalam bentuk fisik maupun psikis, termasuk dikucilkan dan tidak diakui sebagai anak, dari orang tua dan saudara-saudaranya karena perlawanan yang mereka lakukan dianggap mempermalukan keluarga. Biasanya ini terjadi di awal perceraian, meski lambat laun orang tua mulai menerima dan dapat memaafkan anak perempuan berani melawan tersebut.


The ConversationKarena itu, kini seharusnya pemerintah melarang perkawinan anak-anak untuk menyelamatkan masa depan mereka.


Tatik Hidayati, Lecture, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Madura


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Kustiah- www.Konde.co

Mendengar kata kanker yang terbesit di kepala sebagian orang mungkin adalah perasaan ngeri. Lalu secara tak sadar akan muncul perasaan takut, cemas, dan bayangan kematian yang membuntuti.Itulah yang dirasakan Rahmi Fitria, penyintas kanker payudara stadium 3.

Meski ibunya meninggal karena kanker, kakak, sepupu, tante dari pihak ayah dan ibunya juga terkena kanker, Rahmi tetap saja shock begitu tahu hasil diagnosa dokter menyatakan bahwa benjolan di ketiaknya merupakan kanker payudara yang sifatnya agresif. Ia merasa tidak siap dengan vonis kanker yang menimpanya. Apalagi menerimanya. Sejumlah pertanyaan dan perasaan menyalahkan terus berkelindan hingga kemudian ia menemukan cara bagaimana harus ’berdamai’ dan menjinakkannya.

Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu 2 ( era Susilo Bambang Youdhoyono) Endang Rahayu Sedyaningsih sebelum meninggal karena kanker pernah bercerita tentang penyakit kanker. 

Dalam sambutannya untuk buku yang mengupas tentang kiat para survivor kanker ia menulis, siapa pun yang baru menerima diagnosa kanker dari dokter pertanyaan pertama yang akan terlontar dalam benak pasien adalah  “Kenapa??” “Kenapa SAYA” “WHY??” “WHY ME??”.

Menurut Endang perasaan “shock” ini tidak hanya akan dialami penderita, tetapi juga oleh keluarganya. Fase-fase penyangkalan, marah, kemudian depresi, sering dialami oleh para penderita dan/atau keluarganya. Padahal, menurutnya banyak hal positif yang bisa dilakukan dari sekadar mengeluh dan menyalahkan.

Hal positif yang dimaksud salah satunya adalah ’berdamai dengan kanker’ supaya penyakit mematikan ini bisa mengubah hidup pasien menjadi lebih baik. Di antaranya dengan melakukan introspeksi makanan, gaya hidup, dan cara memandang banyak hal dalam hidup.

Endang menerapkan teorinya dan membuktikan dengan kesanggupannya melewati masa berat mengemban amanat menjalankan tugas sebagai menteri seraya menjalani serangkaian pengobatan untuk penyakitnya.

Entah sejak kapan Endang divonis kanker, dari keterangan media ia didiagnosa penyakit kanker pada 2010 dan meninggal dua tahun kemudian setelah diagnosa kanker.

Menghalau Kanker dengan Perasaan Tenang
Rahmi mantan jurnalis. Saat menjadi jurnalis hidupnya penuh tekanan. Setiap hari tak ada istilah senang, santai atau ’leha-leha’, karena setiap waktu baginya adalah deadline.

Perjalanan hidupnya penuh warna.  Ia pernah merasa bahagia karena mampu menggapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis televisi, sebuah cita-cita yang ia pupuk semasa sekolah dan ia bisa mewujudkannya di kemudian hari.

Merasa jenuh dengan rutinitasnya di tengah perjalanan menjadi jurnalis, Rahmi kemudian tergoda untuk membangun bisnis sendiri. Ide dan semangat ia peroleh saat meliput dan menulis sosok Martha Tilaar yang membangun bisnisnya dari toko kecil hingga menjadi bisnis kosmetik besar seperti sekarang ini. Ia kemudian merintis bisnis kecantikan.

Tetapi, kenyataan tak selalu berbanding lurus dengan harapan.Bisnis yang ia rintis mengalami kemandekan selama bertahun-tahun. Hingga kemudian Rahmi memutuskan untuk  kembali bekerja kembali sebagai jurnalis di media televisi nasional sambil terus berusaha menjalankan usahanya.

Meski bisnisnya tak berkembang sebesar harapan Rahmi, namun ia selalu berupaya dan terus memupuk mimpinya. Ia yakin di kemudian hari akan menjadi pengusaha sukses salon atau produk kecantikan.

Usaha SPA dan produk kecantikan yang ia rintis dengan memanfaatkan garasi rumah orang tuanya itu ia gadang bisa menjadi bisnis spa dan kosmetik setidaknya terbesar di Bogor dan merambah ke skala nasional.

Dan benar, jalan menuju sukses bagi Rahmi kemudian mulai terbuka. Ia berkesempatan  bertemu dengan investor yang tertarik dengan usahanya. Seorang investor mengundangnya untuk menjelaskan skema bisnisnya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Di tengah usaha dan semangatnya yang sedang naik-naiknya justru ujian hadir tiba-tiba. Diagnosa dokter yang menyatakan Rahmi terkena kanker stadium 3 meluluhlantakkan mimpinya.

Persis yang dikatakan mantan Endang Rahayu, pertanyaan why me? selalu menjadi pertanyaan Rahmi. Dan perasaan menyalahkan diri sendiri akan terus berkelebat saat seseorang tak siap dengan musibah yang menimpanya.

Di tengah kegalauan dan ketakutan Rahmi bertanya-tanya, satu dari banyak pertanyaan yang berkelindan di kepalanya adalah, apakah bijak jika serta-merta menyalahkan faktor genetik jika ia divonis kanker? Mengingat ibu dan beberapa anggota keluarganya meninggal karena kanker, juga saudara perempuannya yang telah divonis kanker.

Rahmi menggali informasi dan mengkaji hasil penelitian para dokter, ilmuwan, dan penyintas kanker untuk mencari tahu apakah pemicu kanker berasal dari genetik dan hanya menyangkut persoalan fisik saja? Karena, menurut Rahmi, meski hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab kanker, ia menduga kanker yang ia alami bersumber dari emosi negatif dan stres berkepanjangan.

Mungkin terdengar sederhana. Atau sebagian orang mungkin menganggap Rahmi menyederhanakan penyebab atau pemicu penyakit  "kelas berat"?
Sebagai penyintas kanker dan berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah penyintas kanker perempuan diketahui bahwa faktor emosi, pikiran, dan hati diduga berperan memicu berkembangnya kanker, sekaligus berperan membantu proses penyembuhan kanker (hal xiv).

Menurut seorang ilmuwan dan psikiater asal Amerika, David R. Hawkins, atom, sel, elemen, elektron, dan segala hal yang membentuk tubuh manusia dipengaruhi oleh kesadarannya. Dengan kata lain, kesadaran seseorang terkait emosi, sikap, dan keyakinannya, dapat mempengaruhi kesehatannya.

Titik kesadaran positif yang membantu proses penyembuhan adalah keberanian untuk mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri untuk sembuh. Sebaliknya, keputusasaan dan ketidakberdayaan yang merupakan kesadaran negatif justru akan mempercepat perkembangan kanker dan menghambat proses penyembuhan.

Jadi, jika seorang penderita kanker memiliki keberanian maka dua jenis kesadaran negatif yang kerap dialami para pasien kanker bisa dihalau. Dampaknya, proses penyembuhan akan lebih cepat.

Proses "penerimaan" terhadap kanker memang tak semudah membalik telapak tangan. Ada yang menyalahkan Tuhan, mengapa harus dia yang dipilih menerima kanker? Ada yang menyalahkan diri sendiri, dan banyak lagi penolakan terhadap vonis kanker.

Hingga akhirnya para penyintas termasuk Rahmi, menemukan jalan bagaimana menerima kanker sebagai 'anugerah', teguran, dan teman. Rahmi bahkan menganggap bahwa sel kanker sebetulnya hidup dorman, berupa sel mikrotumor tak berbahaya, yang terdapat dalam tubuh semua manusia. Tergantung dari lahannya (tubuhnya), apakah berpotensi menyuburkan sel mikrotumor atau tidak. Semua tergantung dari kesadaran positif yang dimiliki setiap tubuh, kesadaran seseorang terkait emosi, sikap, dan keyakinannya, juga gaya hidup setiap orang.

Buku yang ditulis Rahmi dengan gaya bercerita ini menarik. Tak hanya menggugah emosi pembaca karena pengalaman Rahmi yang emosional sebagai jurnaalis, baik saat menghadapi lonceng kematian pertama yang hendak merenggut nyawanya saat kasus bom bunuh diri yang meledak di depan Kedutaan Australia pada 2004.

Juga vonis kanker yang ia terima saat ia merasa sedang sangat percaya diri bisa menggapai mimpi keduanya yakni menjadi pengusaha sukses SPA dan produk kecantikan.

Rahmi memperkaya bukunya ini dengan menuliskan kisah inspiratif para penyintas kanker. Di antaranya kisah Titiek Puspa, Shahnaz Haque, dan Indira Abidin yang berhasil 'berdamai' dengan kanker.

Banyak sekali informasi dan pesan yang bisa diambil dari para survivor di buku ini. Baik informasi seputar bagaimana menghadapi kanker, mengobati, dan bagaimana menyiapkan mental ketika seseorang didiagnosa kanker. Jadi, buku ini sangat recommended untuk dibaca siapa saja, khususnya para perempuan.



Judul : Berdamai Dengan Kanker
Pengarang : Rahmi Fitria
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2018
Ketebalan buku : 228 Halaman

 
*Kustiah, penyuka buku dan ibu dua anak yang suka belajar tentang banyak hal.


(Foto: Deskgram)

*Nena Zakiah - www.konde.co 

Jum'at 18 Mei 2018 adalah pengalaman pertamaku memasuki sebuah gereja, tepatnya di GKI Diponegoro, Surabaya. Bukan tanpa alasan, tetapi kedatanganku disana adalah untuk menghadiri acara 'Suroboyo Guyub' yang diinisiasi oleh Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. 

Dan hingga kini, bekas kehangatan dari acara tersebut masih terasa di dadaku. Bohong sekali jika aku berkata aku tidak terkesan oleh acara tersebut. Aku sungguh kagum, dan oh, aku menulis ini dengan tetesan air mata yang muncul tiba-tiba.

Sesuai undangan di poster, selain mengadakan doa bersama lintas iman, juga untuk mempererat tali persaudaraan antar umat beragama. Ya bisa dibilang kumpul-kumpul untuk mengakrabkan diri. 

Mengapa aku tertarik ikut? Pertama, turut mengungkapkan rasa belasungkawa terhadap kejadian teror bom yang terjadi di Surabaya, 13 Mei 2018 silam. Kedua, ini akan menjadi pengalaman pertamaku memasuki tempat ibadah umat agama lain (dulu di Bali pernah sebenarnya memasuki Pura, tapi kurasa ini akan menjadi the whole new thing). This could be new experience for me, so I take this chance. 

Karena kecil kemungkinan di masa depan aku punya kesempatan seperti ini lagi. Ketiga, ingin merasakan atmosfer persaudaraan dan simpati antar warga Surabaya. Ingin tahu, sekuat apa gerakan solidaritas yang ditunjukkan oleh mereka?.

Acara dimulai jam 19.30, tapi aku baru sampai jam 20.30. Tentunya acara sudah dimulai. Aku memarkirkan kendaraan di bangunan di sampingnya. Parkiran sangat penuh, dan banyak sekali polisi dan aparat gabungan yang berjaga-jaga di luar. 

Aku memasuki gereja, dan barang bawaanku diperiksa. Hal ini wajar sih, sebagai tindakan prosedural dan pencegahan. Setelah usai, aku mengisi absen di meja dekat pintu masuk gereja.  

Aku hendak memasuki bagian dalam gereja, tapi amat-sangat penuh orang, sehingga aku hanya bisa berdiri di depan pintu. Aku datang ketika sang pendeta masih memanggil satu-persatu komunitas yang berpartisipasi di acara ini. I don't quite remember, tapi ada dari media, ada dari komunitas Gusdurian dan Banser NU, ada dari umat agama Hindhu dan Budha, dan banyak lagi lainnya.

Acara waktu itu sangat melebur, beberapa kali pendetanya mengeluarkan candaan untuk meleburkan suasana. Setelah semua komunitas dan organisasi dipanggil, mereka melanjutkan dengan foto bersama terlebih dahulu, lalu meneriakkan yel-yel penuh semangat: " SUROBOYO??" "WANIIII!!!"(Surabaya? Berani)

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa. Suasana mendadak hening, senyap dan kelabu. Seseorang di altar gereja membacakan puisi dengan terisak, membuat batin kami terkoyak. "Tahan, Nen, tahaan. Jangan nangis dulu deh," sugestiku sendiri dalam hati. Berikut adalah cuplikan puisinya:



"Saudaraku...
Darahmu adalah darah kami.
Nyawamu adalah nyawa kami.
Kami tidak akan pernah takut meneruskan dan mengabarkan tentang persaudaraan.
Tentang kedamaian.
Tentang indahnya perbedaan.
Tentang mulianya kebhinekaan.
Kami tak pernah takut mengabarkannya.

Saudaraku...
Tak kan pernah surut perjuangan kami untuk mengasihi sesama.
Meski suara suram di belakang terus menggelegar.
Tak pantang mundur gerakan kami mengutuk kekerasan yang mengatasnamakan agama apapun!

Saudaraku...
Berbahagialah kamu bersama Tuhan diatas sana."

Setelahnya, ada ungkapan doa dari umat agama lain, seperti Hindhu dan Budha, lalu ucapan simpati, belasungkawa dan dukungan terus-menerus mengalir. 

Perasaan kami campur aduk. Lalu, acara dilanjutkan dengan musisi gereja yang membawakan lagu Anak-anak Persatuan (kalau nggak salah). Liriknya sungguh dalam, kuat dan penuh kasih. Apalagi, diiringi dengan musik yang lembut dan suara yang indah dari penyanyinya.

Semakin intens, kini lampu dimatikan. Kami berdiri di tengah kegelapan, beberapa ada yang memegang lilin, ada yang menyalakan flash smartphone, ada juga yang tidak menyalakan apapun. Musisi gereja kembali menyanyikan satu lagu lagi, lalu dilanjutkan dengan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. 

Di titik inilah, pertahananku runtuh. Air mata deras membasahi pipiku dalam kegelapan. Orang-orang di sekelilingku pun terisak pelan. Kami semua menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa dengan penuh penghayatan, sembari dalam hati bertekad bahwa persatuan ini haruslah dijaga selamanya. Tidak akan kami membiarkan pihak-pihak yang berniat jahat untuk merusaknya. We will fight together, sembari bergandengan tangan.

Jadi, begini ya rasanya? Kehangatan itu sungguh terasa. Aku merasa diterima dan disambut dengan ramah, tak peduli atribut apapun yang melekat di tubuhku (anyway, tentu saja saat itu aku memakai kerudung sebagai simbol agamaku). Solidaritas warga Surabaya terasa nyata, terlebih penerimaan yang tulus dari para jemaat gereja.  

I'm just wondering, how could they smiled ketika mereka sendiri disini menjadi korban teror? Mereka bisa saja masih trauma dengan apa yang telah terjadi barusan. Mereka bisa saja memilih untuk menutup diri dari dunia luar dan merasa paranoid. Tapi, mereka menampakkan ajaran agamanya dengan luar biasa, dengan kasih yang tulus ikhlas dan keterbukaan. I just don't know how they did it.

Selepas acara, dengan sisa-sisa air mata menggenang, kami beranjak pergi. Hampir semuanya menampakkan mata yang merah usai menangis, tetapi senyum lebar tetap tersungging di wajahnya. 

Kami bersalaman antara satu dengan yang lain. Beberapa laki-laki dewasa saling berpelukan. Aku bersalaman dengan ibu-ibu yang ada di sebelahku, lalu jemaat gereja yang lain sigap membentuk pagar betis untuk menyalami dan berterima kasih atas kehadiran kami disana. 

"Terima kasih telah hadir," ucap mereka, sembari bersalaman denganku. Aku hanya mengangguk sembari mengiyakan, karena tidak bisa berkata-kata lagi atas kehangatan yang kuterima malam ini.

Sembari berjalan keluar, aku menengok ke belakang untuk melihat GKI Diponegoro untuk terakhir kalinya malam itu. Things will never be the same again. Tentu saja luka itu masih ada, masih tersisa. Namun setidaknya, doa bersama malam ini mampu menghapuskan perlahan-lahan luka yang ada. 

Dengan teror ini, persaudaraan kami kian erat, solidaritas kami kian erat dan tak ada seorang pun yang bisa menghancurkannya lagi suatu saat nanti. Teroris memang bisa mengambil nyawa saudara kami, tapi tidak pernah bisa merebut persatuan dan persaudaraan ini. Selamanya.

*Nena Zakiah, Pendaki gunung dan freelance photographer di sela-sela waktu. Serta bekerja sebagai jurnalis media cetak di Surabaya. Mendambakan dunia yang damai, tenang dan menghargai perbedaan.

(foto : Widyanto Setiawan)


*Arya Beks- www.Konde.co

Banyak yang beranggapan bahwa semua orang harus menikah. Ini seperti wajib hukumnya.

Jika kita tidak menikah, maka kita seperti dikejar-kejar untuk segera menggenapi syarat kita sebagai manusia: menikah.

Benarkah semua orang harus menikah?

Pertanyaan ini selalu terngiang di benak saya, karena saya banyak melihat, selama ini banyak orang yang dikerjar-kejar untuk menikah, terutama perempuan. Jika tidak menikah, maka akan ada pertanyaan yang terus-menerus ditujukan untuk perempuan.  

Hal yang lain yaitu, dengan menikah, manusia seolah sudah ditentukan tujuan hidupnya, yaitu mempunyai keturunan. Jika tidak mempunyai keturunan, maka ia akan ditanya lagi secara terus-menerus. Adopsi adalah salah satu pilihan jika pasangan yang tidak menikah tidak punya anak. Begitu kira kira yang sering saya dengar.

Pernikahan juga sesuatu yang sangat sakral dalam perjalanannya, ini kata orangtua dulu. Ada banyak persyaratan yang harus kau temui.  Jika kau menikah, kau harus melihat bebet, bibit, bobot (keturunan siapa, asal usul darimana, kekayaan yang di punyai dan strata-strata  yang maha agung lainnya).

Jika ini tidak kau penuhi, maka kau tidak akan hidup bahagia. Lagi-lagi ini kata orangtua dulu.

Namun apakah benar bahwa ini merupakan bahagia versi kita? Ataukah ini bahagia versi orangtua kita? Sebuah tanda tanya yang maha dahsyat bukan?

Padalaha sejatinya, perkawinan adalah sebuah pilihan hidup masing-masing individu. Menikah seharusnya dilakukan karena saling mencintai dan ingin bersama-sama hidup di dunia. Inilah esensi sejati dari sebuah perkawinan menurut saya.

Menikah karena sebuah tuntutan status sosial dan society imagine?. Apakah ini juga harus kita penuhi? Tentu tidak, karena ini adalah sesuatu yang rumit, kita justru sibuk menyenangkan orang lain dan lupa bertanya: apakah kita bahagia dengan pilihan untuk menikah ini?

Beruntunglah jika kau menikah dengan orang yang kau cintai dan kau bisa bahagia bersamanya. Namun jika kau menikah hanya untuk sebuah image sosial, maka kau tidak akan pernah bahagia karena masyarakat akan menuntut lebih dan lebih, padahal kita mempunyai kapasitas sendiri.

Sebagai perempuan dewasa, saya berpendapat jika kebahagiaan individu adalah yang terpenting di atas kebahagiaan lain-lainnya. Karena yang menjalani adalah kita. Maka kita berhak dan berkewajiban membahagiakan diri kita. Itu yang harus menjadi pilihan.

Ada banyak hal yang harus diwaspadai dan dijaga, misalnya: apakah pasangan kita senang melakukan kekerasan? melakukan pelecehan? apakah ini akan membahagiakan kita? ini bagian yang harus kita lihat apakah kita akan bahagia untuk hidup bersama dengan pasangan seperti ini.

Berbahagia adalah tanggung jawab pribadi, bukan orang lain. Jadi, menikah adalah tanggungjawab kita. Pilihan kita. Bukan tanggungjawab atau pilihan orang lain.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Arya Bekz, penulis yang banyak berpikir apa arti kebahagiaan dan sebuah pilihan

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Bulan Mei 2018 merupakan masa penting bagi perempuan Indonesia. Karena di bulan dan tahun 2018 ini merupakan 20 tahun pasca reformasi dimana perempuan telah meletakkan tonggak yang sangat penting bagi perjuangan perempuan di Indonesia.

Tak mudah bagi perjuangan perempuan dalam masa 20 tahun ini, dimana sebelum memasuki masa reformasi, para perempuan harus menghadapi proses domestifikasi perempuan, pelarangan terhadap perempuan untuk masuk dalam ruang-ruang publik, pelarangan perempuan untuk berorganisasi dan hanya boleh masuk ke dalam organisasi seperti PKK dan Darma Wanita, juga pelarangan perempuan dalam berpendapat, berserikat dan berekpsresi.

Di masa sebelum Mei 1998, wacana dan narasi tentang perempuan tidak semarak sekarang, malah dibatasi dan dilarang. Hal ini yang membuat suara perempuan gaungnya tak sebesar dibandingkan di masa sekarang.  

Namun masa reformasi memberikan sejumlah catatan penting seperti kemunduran bagi perempuan, hal ini ditandai dengan menguatnya intoleransi, masuknya perempuan dalam fase demokrasi yang minus kepedulian dan bukan demokrasi substantif seperti cita-cita di awal reformasi.

Apa saja capaian dan kemunduran yang terjadi pada perempuan dalam 20 tahun masa reformasi?

Capaian 20 Tahun Reformasi: Catatan Komnas Perempuan dan Gerakan Perempuan


Komnas Perempuan mencatat, dari hasil pertemuan bersama gerakan perempuan yang  diadakan pada 11 Mei 2018 lalu, terungkap bahwa dalam 20 tahun reformasi,  gerakan perempuan telah membangun emosi politik, yaitu politik empati dan etika kepedulian untuk melawan otoritarianissme yang patriarkis.

Suara Ibu Peduli, organisasi dan jaringan perempuan yang peduli pada persoalan ekonomi perempuan kemudian lahir untuk memobilisasi massa perempuan dan membangun solidaritas terhadap para ibu yang tak sanggup membelikan susu untuk anaknya.

Pada peristiwa perkosaan dan kekerasan seksual yang terjadi pada 13-14 Mei 1998, gerakan perempuan kemudian berjuang melawan kekerasan dan stigma, dan menumbuhkan etika kepedulian untuk menjadi warna pada masa orde baru hingga masa reformasi.

Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah dalam konferensi pers pada Minggu, 20 Mei 2018 di Jakarta kemarin menyatakan bahwa setelah itu gerakan perempuan berhasil menuntut kepada negara untuk membentuk Komnas Perempuan, melahirkan gerakan women crisis center di Indonesia, ikut melahirkan Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK) yang berpihak pada saksi dan korban perempuan.

Pada 22 Desember 1998, juga melahirkan kongres perempuan di Yogyakarta  dimana dalam kongres tersebut telah memandatkan 30 persen suara perempuan di politik. Dan beberapa tahun kemudian, kuota 30 persen untuk perempuan berhasil masuk dalam kebijakan negara.

“Catatan lain, makin banyak jumlah perempuan yang masuk dalam ruang publik, masuk menjadi anggota parlemen dan masuk dalam kabinet pemerintahan, hal-hal yang tidak terjadi di masa orde baru,” ujar Yuniyanti Chuzaifah.

Capaian lain, yaitu disahkannya Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Kelahiran UU ini kemudian melindungi ranah privat perempuan dalam relasinya dengan pasangan dan anggota keluarga dalam memperjuangkan anti kekerasan dalam rumah tangga.

Capaian lain dalam kebijakan yaitu hadirnya rekomendasi umum 30 CEDAW tentang perempuan dan konflik.

Ketua Komnas Perempuan, Azriana menambahkan di masa 20 tahun reformasi, gerakan perempuan di Indonesia juga telah menyebar dari pusat hingga daerah, telah memunculkan banyak organisasi baru dan kelompok perempuan, kelompok ibu rumah tangga yang mengadvokasi jaminan sosial dan politik perempuan di desa.

“Selain itu makin tumbuhnya serikat buruh perempuan, serikat tani, serikat Pekerja Rumah Tangga (PRT), serikat kepala keluarga. Di kalangan generasi muda, banyak bermunculannya seni visual perempuan dan gerakan pop art yang menghasilkan karya-karya perempuan muda,” kata Azriana.

Yang Tidak Tercapai: Fundamentalisme dan Intoleransi yang Menguat

Selain mencatatkan capaian, Komnas Perempuan dan Gerakan Perempuan juga mencatat sejumlah hal penting yang belum tercapai, misalnya perjuangan kesetaraan perempuan yang belum mencapai keadilan. Hal ini disebabkan cuaca politik Indonesia yang justru terjebak dalam polarisasi politik yang mendukung dinasti dan oligarki politik untuk berkuasa.

Selain itu politik identitas juga tumbuh subur, terorisme, menguatnya kelompok fundamentalis yang kemudian menteror dan mendomestifikasi perempuan.

Dari kondisi ini, Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin mengatakan bahwa gerakan perempuan menghadapi tantangan berat oleh sikap intoleran, korupsi, maraknya teror bom, politik yang brutal yang menyebabkan perempuan dan anak menjadi martir politik.

Norma-norma intoleran ini telah menyebar ke kurikulum sekolah, pengajaran sastra dan ke dalam Peraturan Daerah (Perda) yang diskriminatif terhadap perempuan.

“Maka impian untuk membangun budaya politik baru yang berlandasakan etika kepedulian justru menghadapi tantangan yang berat,” ujar Mariana Amiruddin.

Ruang-ruang negosiasi di PBB dan forum negara lainnya juga berada dalam kondisi yang sama, yaitu nyaris tersandera oleh kelompok konservatif dan intoleran.

“Acapkali mereka mengatasnamakan perlindungan bagi keluarga dan menentang cara pandang tentang seksualitas yang manusiawi, tema tentang keluarga dijadikan alat politik global. Sekularisme yang seharusnya memberikan ruang budaya untuk pemikiran yang membebaskan dan melahirkan kesetaraan dan demokrasi, justru diganti dengan tema tunggal tentang keagamaan,” ujar Mariana.

Catatan lain juga menyebutkan bahwa, walaupun wacana dan narasi perempuan marak didengungkan melalui media terutama sosial media, namun narasi sosial media juga banyak berisi pesan intoleransi yang merugikan perempuan. Hal lain, kebebasan berpendapat yang dulu dilarang di jaman orde baru oleh pemerintah, saat ini kanal kebebasan berpendapat dikuasai oleh oligopoli para pemilik media, terutama di televisi yang dipunyai para pemilik media yang berpolitik. Dan juga adanya pembatasan oleh aturan UU ITE yang memenjarakan perempuan.

Sedangkan dalam politik, walaupun ada kebijakan 30 persen suara perempuan, namun tak semua perempuan yang telah duduk di parlemen memiliki kekuatan untuk memperjuangkan perempuan, hal ini karena dilemahkan oleh sistem politik yang oligarki.

Sejumlah hal lain yang belum diselesaikan misalnya Rancangan UU Pekerja Rumah Tangga (PRT), RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RKUHP dan UU MD3 yang membutuhkan perjuangan panjang.
  

Rekomendasi 20 Tahun Reformasi

Dengan sejumlah kemunduran bagi perempuan, maka Komisioner Komnas Perempuan, Indriyati Supeno mengatakan bahwa Komnas Perempuan dan gerakan perempuan kemudian menghasilkan sejumlah rekomendasi yaitu kepada legislatif agar mereka mendorong partisipasi perempuan dalam kebijakan dan menghapus peran perempuan.

Untuk lembaga eksekutif, agar mengembangkan tata kelola pemerintahan yan berkeadian gender dan kepada lembaga yudikatif agar mengembangkan tata kelola peradilan dan berkeadilan gender.

Sedangkan untuk institusi keamanan, Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Venny mengatakan agar institusi keamanan menjaga keamanan, memberikan perlindungan masyarakat termasuk perempuan dan anak anak dar ancaman teror dan ketakutan dan kepada aktor, politisi dan partai politik agar peduli pada keamanan, perdamaian, tidak menghasut dan mengedepankan keadilan bagi perempuan.

(Foto: Memoralisasi 1998 Komnas Perempuan)






*Fransisca Asri- www.Konde.co

Saya selalu berada dalam lingkungan yang berbeda-beda. Mungkin karena ayah saya dulu sering berpindah-pindah tempat bekerja.

Bagi kami anak-anaknya, ketika kami kecil dulu, menghadapi hidup dalam lingkungan yang berbeda ini agak sulit, karena kami harus berpindah tempat dan menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Mempunyai teman baru, berkenalan kembali pada rumah baru, masyarakat baru, sama sekali tak mudah bagi anak kecil. Yang saya rasakan dulu, saya sering merindukan teman-teman lama, lingkungan lama. Disinilah saya selalu merasakan kesepian.

Jika sudah begini, maka saya pasti mengajak ibu untuk pulang ke rumah yang dulu, menginap sebentar di rumah saudara. 2 hari saya disana saya bisa menghirup kesenangan lama yaitu bertemu dan bermain lagi dengan teman-teman lama.

Yang sering terjadi dan tak pernah saya lupakan adalah, saya harus menyesuaikan dengan lingkungan baru. Kakak saya yang pendiam membutuhkan waktu yang lama untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Ia pernah merasakan sedih karena kehilangan teman lama dan lagi-lagi harus menyesuaikan dengan teman baru, yang tak mudah bagi anak pendiam seperti dia.

Namun situasi ini justru berubah ketika ayah kami mulai berpindah lagi di tempat yang baru lagi, terlalu sering malah. Dan kondisi ini kemudian justru membuat kami dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Saya merasakan bahwa dengan banyaknya teman baru, jumlah teman saya semakin bertambah, dan kakak menjadi orang yang sangat senang berkorespondensi dengan teman-teman lamanya.

Kakak  juga mempunyai hobi baru, yaitu menuliskan apa yang ia rasakan di buku harian. Dalam buku diarynya ia banyak menuliskan apa yang ia pikirkan tentang lingkungan baru, tentang teman-teman barunya dan bagaimana dia selalu merasakan kehilangan teman-teman lama.

Jika saya semakin senang menambah teman baru, kakak lebih senang menceritakan hal-hal yang sulit ia alami pada 1 atau 2 teman dekatnya, dan setelah itu menulis.
Ibu selalu mengatakan bahwa kami harus sabar menghadapi lingkungan baru, kebiasaaan-kebiasaan baru di lingkungan kami.

Banyak hal yang saya pelajari dari kebiasaaan ini. Jika di rumah lama, setiap subuh kami selalu berangkat ke gereja bersama, karena lingkungan kami dulu adalah lingkungan gereja dimana semua orang beribadah ke gereja seiap pagi. Hal-hal yang kami sukai adalah kami bisa bertemu dengan teman-teman lama di saat pagi, setelah itu kami akan berangkat sekolah bersama-sama. Bagi anak-anak, suasana ini menyenangkan karena kami menjadi lebih akrab satu sama lain. Hampir semua keluarga selalu beribadah secara bersama-sama.

Di lingkungan kami yang baru, kami hidup bersama dalam berbagai perbedaan. Ada banyak agama dan kebiasaan berbeda dengan lingkungan lama. Ada suara kotbah di Masjid setiap pagi, ada teman yang merayakan Waisak, kami juga tahu ada yang merayakan hari raya Nyepi dimana teman kami sekeluarga harus masuk ke dalam rumah dalam satu hari dan tidak menyalakan apapun.

Awalnya kami merasa bahwa lebih menyenangkan tinggal dengan kelompok yang sama karena kami bisa selalu bersama-sama. Namun ibu selalu menerangkan kepada kami bahwa menyesuaikan diri adalah salah satu cara bagi kami agar kami bisa berteman dengan lebih banyak orang lagi.

Dan ternyata memang benar, berteman dengan lebih banyak orang lagi dengan orang yang berbeda-beda justru membuat kami tak lagi asing dengan lingkungan baru.
Ketika kami menginjak universitas dan kami harus kuliah keluar dari kota kami, saya dan kakak tak pernah kesulitan untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru. Teman kami bertambah banyak, dan kami mengikuti sejumlah ritual, kebiasaan yang dilakukan banyak orang di sekitar kami.

Saya ingat, ketika masuk dalam bulan puasa seperti ini, saya melakukan puasa seperti yang lain. Karena buat kami, senangnya bisa melakukan solidaritas, merasakan tidak makan dan minum seperti orang lain.

Ketika hari raya Nyepipun, kami beberapakali pernah melakukan ritual yang sama, yaitu di rumah seharian tanpa menyalakan api. Ternyata hal ini bisa membuat kami mempunyai waktu untuk merenung, kontemplasi.

Dan ketika natal tiba, saya bisa kembali pulang ke kampung halaman ibu dan merasakan lagi kebiasaan lama yaitu ke gereja bersama-sama ketika subuh tiba.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa dalam masa-masa sulit kami dulu, dalam masa penyesuaian, ibu selalu mengajari kami tentang satu hal: bahwa dalam lingkungan yang berbeda, kami diajari untuk menerima, mendengarkan dan bergaul dengan banyak orang. Karena ini adalah salah satu cara kami agar kami belajar menerima perbedaan.

Ibu selalu mengatakan bahwa ketika kita menerima perbedaan orang lain, kita akan lebih mudah untuk bersyukur karena bisa menerima hal-hal baru. Buat saya, kita harus siap dengan lingkungan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda. Dengan lingkungan di Indonesia yang beragam bahasa, kebiasaan, ritual, nyaris kita akan menemui perbedaan ini di setiap waktu.

Justru disinilah letak keindahannya.


*Fransisca Asri, saat ini bekerja untuk perempuan dan kemanusiaan, tinggal di ujung timur Indonesia.

Poedjiati Tan - www.konde.co

Tekanan terhadap LGBT di Indonesia makin lama makin kuat, hampir semua orang menganggap bahwa LGBT adalah penyakit yang harus disenbuhkan. 

Bahkan di sebuah apartemen di Jakarta memasang larangan terhadap LGBT. Banyak orang yang tidak paham mengenai LGBT dan membuat stigma. Homophobia seperti penyakit menular yang diajarkan dari satu orang ke orang lain.

Homophobia tidak hanya ada di Indonesia saja tetapi juga terjadi di semua belahan dunia ini. Oleh sebab itu setiap tanggal 17 Mei selalu diadakan perayaan IDAHOTB.  

Perayaan IDAHO (International Day Against Homophobia) yang dalam perkembangannya sekarang menjadi IDAHOTB (International Day Against Homophobia Transphobia and Biphobia) masih belum terlalu popular di masyarakat umum apalagi di Indonesia. Banyak orang yang belum mengerti apakah IDAHOTB itu. 

Tidak seperti perayaan international lainnya yang lebih familiar. IDAHOTB sendiri secara internasional baru digagas tahun 2003 di Kanada dan baru dilaunching tahun 2004 bulan Agustus. Lalu beberapa organisasi mengusulkan untuk IDAHO ditetapkan menjadi tanggal 17 May, dimana pada tanggal 17 May 1990 tersebut WHO (World Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia secara resmi menyatakan bahwa homoseksual bukan penyakit/gangguan kejiwaan.

Pada tahun 2018 perayaan IDAHOTB mengusung tema ‘“alliances for solidarity”. Tidak ada perjuangan  yang bisa dilakukan sendirian. Kita semua perlu terus memperkuat aliansi, terutama ketika kita membutuhkan kepastian keamanan, memerangi kekerasan, melobi untuk perubahan hukum, dan/atau kampanye untuk mengubah hati dan pikiran pada masyarakat yang homophobia.

Banyak cerita mengenai Homophobia dan Transphobia yang dialami teman teman LGBTI. Diskriminasi terhadap kelompok LGBTI masih sering terjadi di segala sector termasuk layanan kesehatan, pendidikan akses pekerjaan dan perumahan.  

Peringatan IDAHOTB bukan hanya sekedar perayaan hura-hura tetapi bagaimana kita diingatkan bahwa masih banyak teman teman Lesbian, gay, Biseksual, Interseks dan transgender/transeksual yang mendapakat perlakuan sangat tidak manusiawi, sering  mendapatkan diskriminasi, dan mendapatkan kekerasan karena identitas mereka.

Kami mengajak untuk ikut serta merayakannya IDAHOTB dengan #HugNotHate. Pelukan merupakan ekspresi paling murni dari Cinta dan persahabatan. 

Menurut beberapa penelitian pelukan juga punya dampak yang sangat besar bagi perasaan Dan kesehatan seseorang. Pelukan begitu sederhana namun sangat menyenangkan. Kami ingin kalian membantu kami menyebarkan pesan ini. Hentikan kekerasan dan Mari berpelukan.


Mari bergabung dalam kampanye ini!.

1. Peluk teman LGBTI mu (tentunya harus dengan konsen mereka)

2. Abadikan momen Indah ini secara visual (bisa dalam bentuk foto, video, boomerang, dll)

3. Post di semua media sosial mu di tanggal 17 Mei ini ( pilih angle favorite mu, tapi jangan lupa perhatikan keamanan kawan mu yaa)

4. Kasih caption yang paling strong and powerfull dan jangan lupa beri tagar

#HugnotHate #HijrahMenujuCinta #IDAHOT2018ID