Bisnis Rumahan


*Sinta Paramita- www.Konde.co

Mengkonsep tentang bisnis ternyata tak semudah yang dibayangkan. Bisnis yang paling mudah dilakukan oleh ibu yang punya 1 anak seperti saya saat ini adalah bisnis rumahan. Semua bisa dilakukan secara online dan tinggal mengantarkan barang. Paling tidak ini yang saya pelajari setahunan ini.

Semuanya pasti butuh riset dan persiapan. Pertama yang saya lakukan adalah memetakan pasar, siapa konsumen yang akan saya tuju. Tidak lucu jika saya berjualan, namun yang membeli adalah teman-teman saya sendiri, keluarga sendiri dan kenalan yang saya telpon secara japri. Karena pasar ini market yang seharusnya luas jangkaunnya, jadi saya tak pusing lagi memikirkan siapa saja pembelinya.

Dan yang kedua, pastilah saya harus memilih apa yang akan saya jual. Mau makanan yang menjadi santapan sehari-hari atau mau menjual barang yang bukan menjadi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan sekunder dan tersier? Ini pasti membutuhkan treatmen yang berbeda.

Jika mau jualan makanan yang bisa kita santap sehari-hari, saya mesti sediakan sumber daya manusia alias orang-orang yang siap setiap saat memasak, dipikirkan bagaimana mengantarkannya, siapa yang berbelanja, dll.

Namun jika kita menjual barang-barang, ini akan lebih mudah karena kita tidak harus setiap harus stand by untuk menyediakan dan mengantarkannya ke konsumen.

Sejumlah kawan saya menjalankan usaha katering. Umumnya mereka melayani katering online yang konsumennya adalah mahasiswa karena rumahnya ada di antara kampus-kampus.

Yang harus dipelajari tentu saja bagaimana menyajikan makanan sehat yang bisa mendapatkan kepercayaan pelanggan. Karena bisnisnya tetap alias sudah punya pelanggan tetap, maka ia kemudian mempekerjakan beberapa perempuan yang tinggal di dekat rumahnya untuk bekerja dan memasak.

Kawan saya yang lain berbinis kue, ia berjualan kue baik ketika kondisi lagi ramai maupun sepi. Kue yang ia jual macam-macam, dari kue bolu, lapis hingga kue tar. Kue-kue ini ia buat setelah dipesan oleh pelanggan.

Saat mau lebaran seperti ini, ia tak bisa bebas kemana-mana karena pesanan kue lebaran yang sangat banyak, begitu juga saat natal atau hari raya lainnya. Namun di hari biasa, ia bisa berbisnis kue dengan santai dan bisa mengatur waktu.

Jika ia sedang ramai oleh pelanggan dan pesanan banyak, maka ia akan meminta tetangganya untuk membantu, namun jika sedang sepi, semua akan dikerjakannya sendiri.

Bisnis seperti ini bagi perempuan atau ibu seperti kami memang menjanjikan, mereka bisa mengerjakannya dari rumah dan banyak mempekerjakan perempuan lain yang tinggal di dekat rumah.

Saya akhirnya memilih berbisnis makanan organik, bisnis yang belum banyak dilakukan di kota saya. Selain sebagai penyaji makanan, saya juga bisa melakukan edukasi tentang makanan sehat. Dalam bisnis ini karena saya sudah mempunyai pelanggan tetap, maka dalam sehari-hari saya dibantu oleh 2 perempuan yang bekerja di tempat saya.

Dari bisnis rumahan inilah, kami kemudian belajar banyak hal. Kami sama-sama belajar bagaimana mempekerjakan orang.

Memperlakukan tenaga kerja adalah hal penting yang kami pelajari, kami harus menggajinya secara layak dan memberikan waktu libur. Karena banyak bisnis katering makanan yang biasanya pekerjanya tidak mengenal libur dan di saat sabtu, Minggu dan hari besar justru sangat sibuk. Kami justru melakukan sebaliknya, jika ada hari-hari yang sibuk, hari libur tetap kami ganti di hari yang lain. Maka kami memutuskan dalam seminggu ada 1 hari libur alias tidak membuka jualan, yaitu di hari senin, dan pekerja lainnya akan libur di hari senin dan selasa. Jika hari Minggu tak banyak pesanan, maka pekerja akan libur di hari Minggu dan Senin.

Yang kedua yaitu waktu bekerja yang 8 jam, karena jika lebih dari 8 jam maka pekerja akan diberikan uang lembur. Bisnis makanan organik yang saya kelola sangat bisa diprediksi waktunya karena kami hanya melayani makan siang buat karyawan. Jadi jam-jam sibuknya otomatis hanya pagi hingga siang hari saja.

Walaupun bisnis kecil, kami membiasakan diri untuk membayar sesuai UMR. Namun jika teman kami belum bisa membayar secara UMR, maka dalam sehari, pekerja tidak boleh bekerja lebih dari 8 jam dan waktu bekerja dihitung secara terperinci dari gaji yang ada.

Kesulitan kami adalah, kami mengalami kesulitan jika mempekerjakan beberapa perempuan yang hanya bekerja di saat kami over order. Misalnya disaat mau lebaran atau hari raya saja. Belum ada hitung-hitungan soal ini karena kami juga masih kesulitan membayarnya seperti pekerja tetap lainnya.

Hal-hal inilah yang kami pelajari terus hingga sekarang. Saya bersama teman-teman yang lain lalu sengaja fokus untuk tidak mau menyasar semua konsumen jika kami tidak bisa memberikan gaji yang layak kepada para pekerja kami, ini salah satu cara kami agar tidak menambah pekerja yang tidak bisa diberikan gaji secara tetap.

Bisnis rumahan, kerja rumahan dan kerja-kerja yang dilakukan pekerja rumah tangga selama ini memang belum mempunyai peraturan. Jika sudah mempunyai peraturan, maka semua orang bisa langsung menerapkannya.

Dan tentu, ini bisa diterapkan pada pemilik bisnis rumahan yang sangat menjamur di Indonesia saat ini.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Sinta Paramita,
pengelola bisnis rumahan