Ibu, Ketika Ajal Menjemput


*Muhammad Mahdi Hanur – www.Konde.co

"Ini adalah ingatan saya yang melekat tentang seorang ibu. Ketulusan, sekaligus kepasrahannya ketika melihat anaknya meninggal. Ia tak mampu berbuat banyak. Institusi bernama rumah sakit bergeming melihat anak kecil itu meninggal. Nasib seolah tak pernah berpihak pada orang yang miskin dan kalah."


"Tidakkk! Kamu jangan pergi, Nak!," teriakan histeris sambil menangis itu terdengar lantang di lorong rumah sakit.

Saya terkesiap mendengarnya. Seorang ibu, tak berhenti mendekap anaknya.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ajal begitu cepat menjemput sang anak. Sementara sang ibu, masih belum selesai menangis atas kematian anaknya.

Dada ini terasa sesak. Bagaimana perasaan sang ibu? Apakah nasib tak lagi bisa menolongnya untuk menyelamatkan anaknya?
Siapakah yang punya nasib? Siapakah yang berkuasa menentukan nasib?

Jelas saja, penyebabnya adalah pertolongan dari rumah sakit yang sangat lamban membuat anaknya meninggal begitu cepat. Tidak ada tindakan dari pihak rumah sakit. Sementara pada saat yang sama, pihak rumah sakit bersikeras menyuruh pihak keluarga membayar lunas terlebih dahulu.

Bagaimana mungkin? Masih ada saja yang mementingkan uang ketimbang nyawa. Di mana empati kalian semua? Apakah semua sudah dibutakan karena uang?

Apa kalian lebih pantas disebut sebagai pembunuh? Atau kalian pantas di sebut sebagai perampok? Saya kira, kalian begitu baik. Menolong orang-orang kesusahan yang sedang sakit. Tapi nyatanya? Kalian sangatlah tak beradab! Kalian lebih mementingkan uang ketimbang membantu seseorang.

Lantas, apakah kalian masih pantas disebut sebagai institusi perawatan kesehatan profesional? Selalu mengklaim dan menyatakan bekerja untuk melayani rakyat saja, tapi tetap saja uang yang terutama.

Memang saya sadar, urusan maut, siapa yang tahu? Tapi, bukankah lebih baik jika mengusahakannya terlebih dahulu? Berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya nanti, sudah menjadi takdir dari-Nya.

Yang pernah saya tahu, pekerjaan sangatlah nikmat dan bahagia ketika dilakukan menggunakan hati, bukan nafsu ataupun ego.

Saya tidak mau mendengar jeritan kesedihan terhadap penindasan lagi. Pada jeritan ibu-ibu yang lain yang harus kehilangan anaknya. Saya tidak mau mendengar keluh kesah keluarga akibat rasa empati yang telah tenggelam. Kita adalah makhluk sosial, sudah seharusnya saling tolong menolong. Bukannya menjadi tak acuh seperti itu. Bahkan punya naluri tak mau menolong nyawa yang sedang meregang.

Bagaimana manusia ini mau kembali bersatu? Kalau dari diri sendiri saja sudah tidak memperdulikan sekitarnya. Bagaimana manusia-manusia ini mau menjadi lebih baik, kalau diri kita belum mampu memberikan cinta, kasih sayang, dan kebaikan pada manusia lain.

Begitu banyak orang-orang yang terpinggirkan, bukan karena mereka salah. Tapi karena mereka kalah.

Rasa peduli ataupun hidup prihatin sudah tidak ada pada nurani kita? Sejatinya, kita harus memilih untuk menolong orang-orang yang kalah, orang-orang yang nasibnya sangat tergantung pada orang lain, yang tak berdaya. Bersama merekalah seharusnya kemanusiaan kita diletakkan. Bersama merekalah kita seharusnya berpijak.

Pada ibu, ketika ajal menjemput anakmu.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Muhammad Mahdi Hanur,
Masih kuliah di Jakarta. Punya hobby berkelana, merasakan, mengamati, menulis, menyesap kopi sambil mendengar musik. Bisa dihubungi di IG: @mahdihanur