Pelecehan yang Sering Menimpa Anak Perempuan di Sekolah Kami


Ketika menginjak sekolah menengah pertama, anak laki-laki di kelas saya sering memainkan tali bra anak-anak perempuan. Entah kenapa saya merasa bahwa saat itu, bermain tali bra sudah menjadi hal biasa bagi teman laki-laki di kelas. Ini adalah bentuk keisengan yang berujung pada pelecehan yang dulu banyak dialami anak-anak perempuan di kelas kami.


*Luluk Khusnia- www.Konde.co

Suatu hari, saat saya bersama sejumlah teman memberikan pendidikan tentang seksualitas di sebuah sekolah SMP. Saya bertanya pada seorang siswa laki-laki di sekolah tersebut.

“Kamu tahu apa yang disebut sebagai seksualitas?,” tanya saya.

Dengan wajah polosnya, anak itu menoleh ke arah saya sambil tertawa geli dan menjawab, “Seks itu ya gitu-gituan, Kak”.

“Gitu-gituan gimana?” tanya saya lebih lanjut.

Anak itu pun menjawab lagi, “Gitu-gituan, cowok dan cewek”.

“Oh. Terus, apa lagi?” sambung saya.

“Gak ada. Apa sekarang kita mau diajarkan gitu-gituan, Kak?”

Saya mengajarkan pendidikan seksualitas jelas bukan akan menerangkan soal hubungan seks, melainkan mengajarkan mereka untuk menghindari terjadinya kekerasan seksual.

Saya akhirnya mengerti. Ternyata, anak laki-laki itu menganggap bahwa seksualitas adalah hubungan atau terjadinya penetrasi antara penis dan vagina yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Pemahaman yang sama mungkin juga ada dalam pikiran beberapa anak lainnya.

Menurut saya, itu bukanlah pemahaman yang salah. Tapi, pada usianya yang masih anak-anak sekarang, apakah sebatas itu saja pemahaman mereka mengenai seksualitas?

Jika memang seksualitas hanya diartikan sebagai aktivitas berhubungan antara laki-laki dan perempuan, maka tak heran rasanya apabila kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak di bawah umur kerap terjadi.

Saya lantas berpikir, sejauh apa anak-anak dibekali pendidikan seksual?


Pelecehan yang Kami Alami Dulu

Menyaksikan anak-anak itu, ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam. Dulu, ketika saya seusia mereka, rasanya saya belum pernah mendapatkan pendidikan seks yang memadai, baik itu dari orang tua maupun guru. Saya tidak mengenal anggota tubuh saya sepenuhnya.  Saya tidak tahu bagaimana semestinya memperlakukan anggota tubuh saya sendiri.

Ketidaktahuan itulah yang kemudian membuat saya tidak sadar bahwa tubuh saya sering menjadi mainan bagi sebagian teman laki-laki seusia saya.

Saat di bangku sekolah dasar misalnya, seorang teman laki-laki pernah berusaha menggesekkan penisnya ke paha saya. Bahkan, pernah tiba-tiba tangan saya diraih secara paksa untuk memegang penisnya. Jelas saya jengkel ketika diperlakukan demikian. Namun, semakin saya menunjukkan kejengkelan, teman saya itu malah tertawa dan berusaha mengulangi perbuatannya yang sama pada kemudian hari.

Demikian halnya ketika payudara saya mulai tumbuh. Keisengan beberapa teman laki-laki saya rupanya semakin menjadi. Tangan-tangan jahil mereka sering tiba-tiba memegang payudara saya, lantas mereka berlari menghindar –lagi-lagi sambil tertawa puas.

Bahkan terkadang, ketika jam kosong di kelas, mereka biasa bermain-main dengan tali bra yang saya gunakan. Mereka menariknya dari belakang punggung saya.

Untuk perbuatan yang satu ini, sepertinya bukan hanya saya yang menjadi sasaran keisengan mereka. Beberapa teman perempuan saya juga pernah diperlakukan demikian. Entah kenapa saya merasa bahwa saat itu, bermain tali bra sudah menjadi hal biasa bagi teman laki-laki di kelas.

Tak hanya itu, ketika teman laki-laki saya sudah mulai dewasa, mereka tidak segan mengajak saya berciuman, bahkan berhubungan badan. Walaupun ajakan-ajakan itu biasa dilontarkan dalam gurauan, tapi saya merasa sewaktu-waktu mereka bisa benar-benar melakukannya kepada saya ataupun teman-teman perempuan saya yang lain.

Dan bodohnya, semua perbuatan itu saya biarkan begitu saja. Saya tidak melawan dan tidak menceritakannya kepada orang tua ataupun guru. Saya menganggap semua perbuatan itu adalah hal yang biasa, hanya gurauan, dan tidak perlu dipermasalahkan. Ya, semua masih saya anggap biasa, meskipun mereka melakukannya berulang kali hingga membuat saya merasa sangat marah.

Melalui sebuah video Childline dari India, saya kemudian tahu bahwa perbuatan beberapa teman laki-laki saya itu adalah bentuk pelecehan seksual. Setiap anak, baik itu perempuan maupun laki-laki, masing-masing memiliki bagian tubuh pribadi yang harus dijaga dan tidak boleh disentuh oleh sembarang orang; mulut, dada, alat kelamin dan pantat.

Seandainya saat itu saya tahu bahwa ada anggota-anggota tubuh yang tidak seharusnya disentuh oleh sembarang orang, mungkin dari dulu saya sudah berusaha melindunginya dari tangan jahil laki-laki.

Pun seandainya saat itu teman laki-laki saya tahu bagaimana seharusnya menghargai lawan jenis, mungkin mereka tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, walaupun hanya sebatas gurauan.

Saya benar-benar terlambat menyadarinya. Tepatnya ketika saya sudah berada di bangku kuliah, saya baru menyadarinya. Penyesalan itu jelas ada. Ke mana saja saya selama ini? Pendidikan seks yang saya dapatkan saat masih anak-anak hingga remaja, hanya berkutat soal menstruasi dan perubahan fisik ketika memasuki masa pubertas.

Namun, penyesalan itu kemudian membuat saya menyadari pentingnya memberikan pendidikan seks sejak dini. Pendidikan seks usia dini diberikan bukan untuk mengajarkan anak bagaimana melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Mereka yang berada pada usia anak-anak dan remaja perlu diberi pendidikan seks agar mereka mengenal anggota tubuhnya, memahami kondisi tubuhnya secara utuh, dan tahu bagaimana cara memperlakukan anggota tubuhnya.

Pendidikan seks usia dini dapat membantu anak mengenal dirinya sendiri, sehingga nantinya dapat menjalankan fungsi serta perannya sesuai gender.

Anak akan diajarkan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan orang lain, bagaimana menjaga diri sendiri, bagaimana seharusnya memperlakukan lawan jenis, dan bagaimana bertindak ketika ada orang lain yang berusaha menyerang secara seksual.

Pada intinya, pendidikan seks bagi anak menjadi salah satu cara yang seharusnya ditempuh berbagai pihak agar menurunkan tingkat kekerasan seksual terhadap anak yang kian marak terjadi. Memberikan pendidikan seks pun tak bisa secara instan, tetapi harus kontinyu sesuai dengan tahap perkembangan si anak.

Kepada anak laki-laki yang duduk di dekat saya itu, saya lantas menjelaskan perlahan, “Kami bukan ingin mengajarkan kalian gitu-gituan cowok dan cewek. Di kantor polisi sana, ada anak-anak seusiamu yang dihukum karena gitu-gituan dengan pacarnya. Ada juga yang ceweknya sampai hamil. Memangnya kamu mau seperti mereka? Sudah siap punya anak?”

“Enggak. Hehehe…,” jawab anak itu.

“Sama. Kami juga gak ingin kamu dan teman-temanmu yang di sini bernasib sama seperti mereka,” pungkas saya sambil tersenyum pada anak laki-laki itu.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Luluk Khusnia, Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menempuh semester akhir S1. Aktif sebagai jurnalis di pers mahasiswa.