Saatnya Merayakan Perbedaan


*Fransisca Asri- www.Konde.co

Saya selalu berada dalam lingkungan yang berbeda-beda. Mungkin karena ayah saya dulu sering berpindah-pindah tempat bekerja.

Bagi kami anak-anaknya, ketika kami kecil dulu, menghadapi hidup dalam lingkungan yang berbeda ini agak sulit, karena kami harus berpindah tempat dan menyesuaikan dengan lingkungan baru.

Mempunyai teman baru, berkenalan kembali pada rumah baru, masyarakat baru, sama sekali tak mudah bagi anak kecil. Yang saya rasakan dulu, saya sering merindukan teman-teman lama, lingkungan lama. Disinilah saya selalu merasakan kesepian.

Jika sudah begini, maka saya pasti mengajak ibu untuk pulang ke rumah yang dulu, menginap sebentar di rumah saudara. 2 hari saya disana saya bisa menghirup kesenangan lama yaitu bertemu dan bermain lagi dengan teman-teman lama.

Yang sering terjadi dan tak pernah saya lupakan adalah, saya harus menyesuaikan dengan lingkungan baru. Kakak saya yang pendiam membutuhkan waktu yang lama untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Ia pernah merasakan sedih karena kehilangan teman lama dan lagi-lagi harus menyesuaikan dengan teman baru, yang tak mudah bagi anak pendiam seperti dia.

Namun situasi ini justru berubah ketika ayah kami mulai berpindah lagi di tempat yang baru lagi, terlalu sering malah. Dan kondisi ini kemudian justru membuat kami dengan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Saya merasakan bahwa dengan banyaknya teman baru, jumlah teman saya semakin bertambah, dan kakak menjadi orang yang sangat senang berkorespondensi dengan teman-teman lamanya.

Kakak  juga mempunyai hobi baru, yaitu menuliskan apa yang ia rasakan di buku harian. Dalam buku diarynya ia banyak menuliskan apa yang ia pikirkan tentang lingkungan baru, tentang teman-teman barunya dan bagaimana dia selalu merasakan kehilangan teman-teman lama.

Jika saya semakin senang menambah teman baru, kakak lebih senang menceritakan hal-hal yang sulit ia alami pada 1 atau 2 teman dekatnya, dan setelah itu menulis.
Ibu selalu mengatakan bahwa kami harus sabar menghadapi lingkungan baru, kebiasaaan-kebiasaan baru di lingkungan kami.

Banyak hal yang saya pelajari dari kebiasaaan ini. Jika di rumah lama, setiap subuh kami selalu berangkat ke gereja bersama, karena lingkungan kami dulu adalah lingkungan gereja dimana semua orang beribadah ke gereja seiap pagi. Hal-hal yang kami sukai adalah kami bisa bertemu dengan teman-teman lama di saat pagi, setelah itu kami akan berangkat sekolah bersama-sama. Bagi anak-anak, suasana ini menyenangkan karena kami menjadi lebih akrab satu sama lain. Hampir semua keluarga selalu beribadah secara bersama-sama.

Di lingkungan kami yang baru, kami hidup bersama dalam berbagai perbedaan. Ada banyak agama dan kebiasaan berbeda dengan lingkungan lama. Ada suara kotbah di Masjid setiap pagi, ada teman yang merayakan Waisak, kami juga tahu ada yang merayakan hari raya Nyepi dimana teman kami sekeluarga harus masuk ke dalam rumah dalam satu hari dan tidak menyalakan apapun.

Awalnya kami merasa bahwa lebih menyenangkan tinggal dengan kelompok yang sama karena kami bisa selalu bersama-sama. Namun ibu selalu menerangkan kepada kami bahwa menyesuaikan diri adalah salah satu cara bagi kami agar kami bisa berteman dengan lebih banyak orang lagi.

Dan ternyata memang benar, berteman dengan lebih banyak orang lagi dengan orang yang berbeda-beda justru membuat kami tak lagi asing dengan lingkungan baru.
Ketika kami menginjak universitas dan kami harus kuliah keluar dari kota kami, saya dan kakak tak pernah kesulitan untuk menyesuaikan dengan lingkungan baru. Teman kami bertambah banyak, dan kami mengikuti sejumlah ritual, kebiasaan yang dilakukan banyak orang di sekitar kami.

Saya ingat, ketika masuk dalam bulan puasa seperti ini, saya melakukan puasa seperti yang lain. Karena buat kami, senangnya bisa melakukan solidaritas, merasakan tidak makan dan minum seperti orang lain.

Ketika hari raya Nyepipun, kami beberapakali pernah melakukan ritual yang sama, yaitu di rumah seharian tanpa menyalakan api. Ternyata hal ini bisa membuat kami mempunyai waktu untuk merenung, kontemplasi.

Dan ketika natal tiba, saya bisa kembali pulang ke kampung halaman ibu dan merasakan lagi kebiasaan lama yaitu ke gereja bersama-sama ketika subuh tiba.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa dalam masa-masa sulit kami dulu, dalam masa penyesuaian, ibu selalu mengajari kami tentang satu hal: bahwa dalam lingkungan yang berbeda, kami diajari untuk menerima, mendengarkan dan bergaul dengan banyak orang. Karena ini adalah salah satu cara kami agar kami belajar menerima perbedaan.

Ibu selalu mengatakan bahwa ketika kita menerima perbedaan orang lain, kita akan lebih mudah untuk bersyukur karena bisa menerima hal-hal baru. Buat saya, kita harus siap dengan lingkungan yang berbeda, kebiasaan yang berbeda. Dengan lingkungan di Indonesia yang beragam bahasa, kebiasaan, ritual, nyaris kita akan menemui perbedaan ini di setiap waktu.

Justru disinilah letak keindahannya.


*Fransisca Asri, saat ini bekerja untuk perempuan dan kemanusiaan, tinggal di ujung timur Indonesia.