Fitri Nganthi Wani: Wiji Thukul Adalah Peluruku


*Abdus Somad- www.Konde.co

Membuat sebuah karya dengan membayangkan sosok bapak yang tak pernah pulang ke rumah untuk melihat keadaan keluarga, tentu tak banyak yang bisa dilakukan seorang anak.

Meluapkan kemarahan, kesedihan maupun perasaan ditinggal orang yang disayang tak semudah membalikkan telapak tangan. Memang banyak cara dapat dilakukan untuk mengurai beban pedih yang dihadapi, setiap orang mempunyai caranya masing-masing, salah satunya dengan menulis.

Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan dalam sebuah catatan pada bukunya yang berjudul Bumi Manusia, “Jika hidup, haruslah berani”.

Kalimat ini menujukkan hakekat manusia dari sisi lain yang memotivasi diri untuk berani meninggalkan sebuah karya. Tentu saja makna berani tidak sesempit yang dibayangkan.

Bagi Pramoedya sendiri kalimat itu sangat luas, seperti berani melawan kekuasaan, berani melawan ketakutan sampai berani melawan diri sendiri. Pembelengguan atas tubuh sendiri karena rasa frustasi, marah dan sedih menurut Pram perlu dilawan, agar hidup menjadi lebih berarti. Sebab kekuasaan terbesar, adalah diri kita sendiri.

Fitri Nganthi Wani mencoba memberikan satu pandangan yang sangat luar biasa dalam menyampaikan kehidupannya, yakni melawan kesedihan karena ditinggal bapaknya sendiri.

Seperti diketahui, Fitri Nganti Wani ditinggal bapaknya, penyair dan aktivis buruh Wiji Thukul, sejak umur 9 tahun. Wani pernah merasa tak mampu melawan kepedihan dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Siapa yang tak rindu akan sosok bapak yang telah memberikan kasih sayang padanya? Semua mungkin tak rela kehilangan keluarga yang didambakan.

Himpunan buku ini memang sebagian besar bertema tentang bapak dan hiruk-pikuk kehidupan yang dilaluinya. Sang bapak hilang karena berjuang melawan ketidakadilan rezim bengis Indonesia di masa Orde baru. Wiji Thukul, sosok sastrawan dan tokoh perlawanan pada diktator Orde Baru. Terhitung sudah 22 tahun menghilang, dimulai tahun 1996-1997 menjelang reformasi tiba hingga sekarang tak ada kabarnya.


Tak jelas kapan dan di mana penyair cadel yang populer dengan sajaknya Hanya ada satu kata, lawan! itu menghilang.

Konon, ia hilang paska kerusuhan 27 Juli 1996 di Kantor Pusat Partai Demokrasi Indonesia Jakarta, meski sejumlah kawan mengaku masih melihatnya pada April 1998.

Dalam karya Wani, sosok bapak yang digambarkan dalam puisinya begitu kuat. Membaca puisi Wani, akan membawa kita lebih dekat ke sosok”Si Penyair Cadel” julukan Wiji Thukul.

Wani dalam puisinya memang sering memunculkan prasa bapaknya. Semakin nampak ketika ia menceritakan bagaimana bapaknya begitu sayang kepada dirinya apapun yang terjadi pada keluarga. Wani juga menunjukan rasa cintanya kepada Wiji Thukul yang begitu dalam. Bagian itu ia ulas pada karya,”Apa yang Berharga, Bapak?”.

Wani tak hanya mencoba menceritakan Wiji Thukul, luapan perasaan dan pikiran Wani lainnya dituliskannya dalam buku ini. Ia juga mengingat sang ibu dan adiknya yang menjadi sumber inspirasinya dalam menjalani kehidupan.

Kekaguman pada Ibu

Kekagumannya pada ibunya, Siti Dyah Sujirah atau yang dikenal sebagai Sipon, tercurahkan pada judul puisi “Difinisi Ibu”.

Wani mencoba menggambarkan bagaimana sang ibu merupakan sebuah keabadian yang mampu bertahan di atas hati yang kian lapuk. Ibu dalam pandangan Wani adalah sosok luka yang tak kunjung sembuh. Sebuah metafor yang begitu dalam akan sosok ibu bagi Wani. Sebuah penanda ketangguhan ibu walaupun ditinggal suami yang cukup lama, harus menjadi tulang punggung keluarga bagi Wani dan adiknya, Fajar Merah.

Sedangkan puisi untuk Adiknya, Fajar Merah, yang meneruskan cita-cita bapaknya untuk memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas, ia coba diekspresikan dalam sebuah puisi “Bersama Kita Menghasut Waktu,” puisi ini menjelaskan bagaimana ia begitu “iri” kepada adiknya yang tenang dan lebih pandai menjalani hidup.

Namun Wani juga memberikan pesan kepada Fajar Merah agar juga iri padanya, sebab waktu dulu, bapaknya lebih banyak bersamanya ketimbang adiknya.

Fajar Merah yang ketika itu masih relatif kecil umurnya, memang tak pernah tahu bagaimana sifat bapaknya yang tak pernah menyerah, penuh keberanian secara langsung, ia hanya tahu dari cerita orang lain dan puisi bapaknya sendiri.

Namun Wani tetaplah Wani, yang ia sendiri juga bagian dari puisi. Menulis puisi membuatnya menjadi lebih baik, lebih kuat dan melampaui seluruh rasa luka dan pedihnya atas orang yang ditinggalnya.

Bahkan ia menceritakan jika puisi merupakan sebuah terapi disaat ia ingin merindukan bapaknya. Ia mengaku kata-katanya keluar sendiri menjadi sebuah puisi.

Gunawan Maryanto dalam kata pengantar di buku tersebut mengatakan, bahwa membaca rangkaian bait-bait puisi yang tak pernah diam ini akan membawa anda jauh lebih mengenal Wani, lebih dari sekedar ia anak Wiji Thukul. Bahkan Wani adalah sumber puisi yang tak habis-habisnya.

Bahkan menurut Maryanto, lelaki yang pernah memainkan peran Wiji Thukul dalam film “Istirahatlah Kata-Kata,” ini ia mengatakan bahwa puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini hanya sebagian kecil dari karyanya Wani yang mengulas akan kisah bapak dan keluarganya.

Fitri Nganthi Wani sekali lagi adalah sosok yang tidak pernah lepas dari puisi. Ia menyampaikan kepada kita bahwa bapaknya telah menjadikan dirinya menjadi anak yang tangguh dan pemberani.

Pesan Wani dalam bukunya kepada Wiji Thukul,” Kau Berhasil jadi Peluru”.

Selamat membaca!


*Abdus Somad, aktivis lingkungan, penulis/ kontributor www.Konde.co di Jogjakarta. Bisa duhubungi melalui: twitter @asoemadh19 dan www.abdussomadh.com


Judul : Kau Berhasil Jadi Peluru
Penulis : Fitri Nganthi Wani
Cetakan : Pertama, Mei 2018
Penertbit : Warning Books
ISBN : 978-602-61975-3-5
Tebal Halm. : 113:13 X 19 cm
Presensi : Abdus Somad

(Foto: Abdus Somad dan Balairungpress)