Perjumpaan Kebetulan, Cerita Sore Hari di Sudirman


Sica Harum- www.Konde.co

Pernahkah kamu berada dalam kondisi sulit gara-gara kehabisan paket data internet? Ini adalah cerita saya di sore hari di Kawasan Sudirman, Jakarta.

Kira-kira sebulan lalu, saya terjebak di area Sudirman pada jam sore menjelang buka puasa, jam kritis untuk mendapatkan sarana transportasi. Sementara paket data menipis, sisa bulan tinggal dua hari dan tidak bisa updgrade karena plafon budget telepon dan data sudah mencapai budget listrik bulanan.

Jadi, saya bertahan di area perkantoran demi Wifi gratis untuk order ojek online. Mau enggak mau, itu pilihan paling realistis. Saya bertahan di sana sampai kantornya mau tutup, dan saya tidak enak sendiri. Aplikasi masih terus bekerja. Beberapa kali dapat driver di lokasi yang jauh dan mereka minta cancel.

“Macet banget, sampai tidak bisa bergerak.”

“Mau hujan banget nih mbak, kesana pasti lama banget. cancel aja ya. saya mau buka puasa.”

Saya enggak berasa, ternyata awan hitam udah tebel banget. Sore jelang buka, dan besoknya long weekend pula.

Saya kemudian turun dan keluar gedung. Coba jika saya masih punya paket data, pasti tak sesulit ini pesan ojek online yang lain.

Jalan keluar gedung, semua warung pinggir jalan udah penuh dengan karyawan perusahaan ini yang buka bareng. Minggir dikit, nemu es campur sinar garut. Penuh juga dengan piring-piring pecel lele peserta buka bersama. Hanya tersisa 1 tempat duduk. Pas untuk saya.

Duduk berhadapan dengan saya, ada seorang perempuan yang ramah dan sedang asyik memainkan handphonenya. Dia membawa koper make-up warna pink.

“Habis make up in di mana Mbak?,” kata saya membuka obrolan. Jika menunggu seperti ini, sangat enak jika ada teman ngobrol.

“Bukan make up. Ini aku baru saja selesai menyambung bulu mata. Baru saja turun dari atas,” katanya sambil menunjuk apartemen yang letaknya tak jauh dari tempat kami duduk.

Dia juga menunjukkan akun instagramnyanya dan langsung menawarkan sesuatu kepada saya, “Mbak tertarik manjangin bulu mata? kalau panjangin bulu mata pasti bagus. Yang natural aja, nanti dipanjangin satu-satu gitu, mbak.”

Saya memang tidak terbiasa menyambung bulu mata, malah baru kali ini mendengar ada jasa penyambungan bulu mata.

Saya tersenyum kecil, belum bisa membayangkan bagaimana caranya menyambung bulu mata.

Lalu dia cerita, kalau sudah empat tahun ini bekerja sebagai penyambung bulu mata.

“Sebulan bisa tahan kok mbak. Habis itu perlu diisi lagi biar keliatan lebat.”

Selama ini ia punya 9 klien yang rutin memanggil jasanya tiap bulan. Selain itu ada klien-klien baru. Dari rumahnya di daerah Grogol Jakarta Barat, ia rajin mendatangi klien di mana saja.

“Depok, Bekasi, enggak apa-apa mbak. Semua saya datangi.”

Jasa yang ia pasarkan mulai Rp.250 ribu per-klien dalam satu kali tindakan.

Tak berapa lama kami mengobrol, tentang pekerjaannya ini. Saat ini ia juga mengeluhkan susahnya cari ojek online, padahal ada klien yang ingin cepat didatangi.

Saya jadi ingat, saya juga belum order ojek lain. Obrolan dengan perempuan yang saya kenal dan manisnya es campur sinar garut sempat bikin saya lupa diri.

“Mbak, saya telepon suami saja deh, siapa tahu bisa dijemput, karena mencari ojek online saat buka puasa memang susah mbak,” katanya.

Saya kembali menelan potongan alpukat dan menikmati manisnya es campur warna pink.

“Makasih Mbak. Suami saya masih di sekitaran sini. Saya jadi bisa pulang sama dia.”

Saya tersenyum dan ikut senang. Tinggal saya mesti mikir pulang. Sambil menunggu sang suami, perempuan yang bekerja sebagai penyambung bulu mata pun bercerita banyak hal. Tentang klien-klien dia di apartemen dekat kami makan es campur. Tentang stok bulu mata sintetis impor China yang sedang susah dicari di mana-mana. Tentang jungkir balik dia empat tahun kerja sampai dia bisa beli motor dan melunasinya. Dia bercerita tentang bagaimana bekerja kerasnya di Jakarta, sulitnya mencari klien, hingga bisa mendapatkan 9 klien sampai saat ini.

Saya mulai merasa dia cocok jika punya channel Youtube untuk promosi jasanya. Saya sarankan dia untuk mulai menjual jasa penyambungan bulu mata melalui youtube agar bisa memperluas promosinya.

Jelang jam 7 malam, iapun pamit karena suaminya sudah datang. Semangkuk es campur yang dari tadi bikin seger kerongkongan juga sudah sudah tandas. Hiruk pikuk para karyawan yang sedang bukber mulai mereda.

Hp berdering saat saya menyiapkan uang buat bayar es campur. Dari nomor tak dikenal. Biasanya saya jarang terima, tapi malam itu saya terima.

“Mbak, posisi saya dekat Setiabudi. Sekitar 15 menit mau nunggu gak?”

Saya kaget. Data saya habis, tapi mengapa tiba-tiba ada tukang ojek online menelepon?. Tapi ini rezeki. Langsung saja saya iyakan.

Selesai bicara, baru saya cermati ada sms masuk dari provider komunikasi langganan. “Selamat, Anda baru saja mendapatkan bonus 50 MB untuk panggilan yang anda lakukan.”

Saya tertawa dan bersyukur. God, you rock!

Ya barangkali hidup adalah deretan keberuntungan dengan algoritma yang kadang tidak bisa kita prediksi karena cara memang sepenuhnya otoritas Tuhan dan semesta. Karena kita tidak selalu paham caranya itu, maka kita sebut sebagai “kebetulan”.

Saya juga merasa senang, karena bisa merasakan semangat dari perempuan yang bekerja sebagai penyambung bulu mata. Saya menjadi tersemangati kembali dalam bekerja. Ada banyak cerita-cerita seperti ini yang saya dapatkan di jalanan, di tempat saya menunggu, dimana-mana.