Anak-Anak Tak Pernah Lepas dari Serbuan Rokok


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Anak-anak, sejumlah diantaranya adalah anak perempuan tak pernah terlepas dari serbuan industri rokok yang sangat masif. Maraknya iklan, promosi dan sponsor rokok meningkatkan persepsi positif anak-anak terhadap rokok dan mempengaruhi keinginan anak-anak untuk merokok.

Sehingga 46% remaja berpendapat, iklan rokok mempengaruhi mereka untuk mulai merokok, hal ini pernah terungkap dalam penelitian yang dilakukan Uhamka dan Komnas Anak tahun 2007.

Selain itu, harga rokok yang murah, bisa dibeli ketengan dan tersedia di mana saja semakin mempermudah keterjangkauan anak-anak terhadap rokok. Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia termasuk harga rokoknya lebih terjangkau.


Komnas Pengendalian Tembakau menyatakan bahwa prevalensi perokok anak di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat; yaitu dari 7,2% pada 2013 menjadi 8,8% pada 2016 (Sirkesnas, 2016).

Sebanyak 75,7% perokok mulai merokok sebelum usia 19 tahun, jumlahnya mencapai 16,4 juta dan yang paling tinggi adalah kelompok usia 15-19 tahun. Namun kecenderungan ini mulai bergeser ke usia yang lebih muda, yaitu kelompok usia 10-14 tahun.

Dalam kurun waktu 10 tahun ini, trennya meningkat dua kali lipat. Padahal sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar 1% setiap tahunnya.

“Dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan saat ini agar pemerintah tidak ragu-ragu mengambil keputusan yang tegas dan segera dalam melindungi anak dari serbuan rokok,” ajak Mia Hanafiah, Ketua Harian Komnas Pengendalian Tembakau, kepada seluruh peserta saat membuka diskusi publik Jumat, 3 Agustus 2018 hari ini di Jakarta.

Sudah banyak bukti yang memperlihatkan bahwa anak-anak menjadi target industri rokok, untuk menjadikan mereka sebagai pelanggan setia di masa depan.

Pada tahun 2014, secara mencengangkan Yayasan Lentera Anak, Smoke Free Agents, dan Yayasan Pemerhati Media Anak (YPMA) menerbitkan hasil penelitian mereka yang menunjukkan bahwa industri rokok sengaja menarget anak-anak dengan meletakkan iklan-iklan produk mereka di sekitar sekolah.

Pada 2017, Lentera Anak kembali menerbitkan hasil observasi mereka yang menunjukkan bahwa industri rokok saat ini memakai strategi berpromosi mengiklankan produknya dengan mencantumkan harga rokok (82%) bahkan mencantumkan harga rokok per batang (79%) untuk memperlihatkan betapa murahnya harga produk mereka sehingga terjangkau kantong anak-anak sekolah.

Belum lama ini, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) juga menerbitkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa rokok juga memicu stunting atau gagal tumbuh. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor langsung konsumsi rokok yang dilakukan oleh orang tua anak stunting dan faktor tidak langsung akibat belanja rokok yang menyebabkan berkurangnya asupan gizi keluarga terutama pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

“Industri rokok punya dua senjata dalam menargetkan anak dan anak muda, pertama dengan iklan yang megah, yang kedua dengan harga yg murah meriah. Bujuk rayu melalui dua instrumen tersebut yang membuat prevalensi perokok anak tak kunjung turun sampai detik ini. Harus ada regulasi kuat untuk menghentikan bidikan industri kepada anak-anak. Kalau tidak, bonus demografi atau indonesia emas 2045 hanya akan menjadi diksi indah pemerintah saja,” jelas Iman Mahaputera Zein, Yayasan Lentera Anak.

Kesulitan terberat adalah ketika orang tua justru gagal menjadi role model tentang perilaku anti rokok. Kampanye antirokok sedahsyat apa pun bakal terkulai ketika orangtua merokok.

Maka Yayasan Lentera Anak kemudian menyerukan agar ada peraturan tentang larangan anak merokok dan menaikkan cukai rokok agar harganya tidak terjangkau oleh anak-anak