Suffragette, Cerita Tentang Gerakan Perempuan di Inggris untuk Mendapatkan Hak Pilih Politik


Febriana Sinta, www.konde.co

Konde.co – Apakah anda sudah pernah mendengar film berjudul Suffragette ?. Film ini adalah film dengan genre drama dimana anda dapat melihat keadaan politik, ekonomi , dan gerakan perempuan di negara Inggris sekitar tahun 1900-an.

Film yang sudah tayang perdana tahun 2015 ini adalah film yang mengangkat kisah nyata kehidupan perempuan di Inggris tepatnya di tahun 1912 .

Film bercerita tentang gerakan perempuan disana untuk mendapatkan kesetaraan hak pilih perempuan dalam politik.

Dalam film tersebut, para perempuan sehari-harinya hanya dapat bekerja sebagai penjahit, tukang masak dan menjadi buruh cuci. Di era tersebut sangat susah bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak bagi mereka.

Film yang disutradai oleh Sarah Gavron, awalnya menampilkan kehidupan seorang perempuan yaitu Maud Watss (yang diperankan Carrey Mulligan) yang banyak menerima perlakuan tidak adil dalam pekerjaannya. Selain terkena eksploitasi dalam bekerja, pemberian upah yang tidak jelas, di tempat kerja, Watss juga terjadi kekerasan seksual yang dilakukan oleh oleh atasannya (laki – laki) terhadap temannya.

Suffragette sendiri adalah gerakan yang dilakukan oleh perempuan di abad ke-20 yang menuntut agar hak pilih para perempuan dapat digunakan. Gerakan ini digambarkan sebagai kekuatan yang besar dan masif yang dipimpin oleh seorang perempuan yang bernama Emeline Pankhurst (diperankan oleh Meryl Streep).

Suffragette yang dilakukan oleh anggotanya digambarkan sebagai gerakan yang besar yang diikuti oleh banyak perempuan dari berbagai daerah dan pekerjaan yang berbeda-beda. Mereka memprotes kebijakan pemerintah yang tidak pernah mengijinkan perempuan untuk menggunakan hak pilih.

Aksi pertama dilakukan dengan melakukan aksi turun ke jalan. Namun karena tidak didengarkan suara dan aspirasinya, mereka melakukan aksi untuk menarik perhatian media dan pemerintah.

Dalam aksinya mereka menuliskan coretan di dinding, dan beberapa aksi lainnya yang ternyata dianggap sebagai tindakan anarkis oleh Polisi.

Dianggap melakukan gerakan anarkhi, pihak kepolisian dan Pemerintah Inggris justru melakukan kekerasan dengan memukul demonstran perempuan dan menjebloskan mereka ke dalam penjara.

Film dengan durasi 1 jam lebih 17 menit ini ingin mengajak melihat kembali gerakan perempuan pertama yang menginginkan sebuah perubahan hidup. Fase-fase perjuangan perempuan yang sulit dan tidak dianggap ada.

Dalam sejarahnya gerakan hak pilih atau Suffragette di negara Inggris berhasil menekan pemerintah Inggris. Di tahun 1918 atau 6 tahun setelah dilakukan gerakan Suffragette, semua perempuan yang berusia di atas 30 tahun akhirnya berhak menggunakan hak pilihnya.

Kemudian di tahun 1928, aturan tersebut direvisi, dan semua perempuan yang berusia di atas 21 tahun akhirnya berhak menggunakan hak pilihnya.

(Sumber foto : www.telegraph.co.uk)