Feminisme, Sumbangan Pemikiran Perempuan


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Perempuan, dari berbagai zaman terus bergerak. Ini menandakan bahwa sumbangan pemikiran perempuan sudah banyak dilakukan di Indonesia. Hal ini bisa dibuktikan dengan berbagai tulisan-tulisan perempuan yang tersebar dimana-mana.

Pemikiran perempuan ini ditulis sejak masa Kartini, Roehanna Koeddoes bahkan tulisan para perempuan di nusantara jauh sebelumnya.

Walau di zaman orde baru, tulisan perempuan banyak dibelokkan menjadi tulisan yang mendomestifikasi perempuan, namun perempuan selalu bangkit.

Di zaman reformasi hingga sekarang, tulisan perempuan ada dimana-mana, di media dan terutama sumbangan pemikiran melalui buku. Demikian diungkapkan Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi-Roosseno, dalam acara peringatan ulangtahun Jurnal Perempuan ke 23, pada 12 September 2018 lalu di Jakarta. Toeti Heraty merupakan salah satu pendiri Yayasan Jurnal Perempuan.

Berbagai tulisan penting tentang pemikiran perempuan ini kemudian ditulis oleh para penulis perempuan seperti NH Dini, Marianne Katoppo, Julia Suryakusuma, Ani Sekarningsih, Oka Rusmini, Hanna Rambe, Clara Ng, Linda Christanty, Leila S. Chudori, Tatiana Lukman, dan juga dari generasi baru penulis perempuan seperti Oki Madasari, Abidah el Khalieqy, Erni Aladjai, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Laksmi Pamuntjak.

Dalam kesempatan tersebut, Jurnal Perempuan juga mengadakan acara Peluncuran JP 98 Perempuan dan Kebangsaan.

Toeti Heraty juga memperlihatkan bagaimana relasi antara perempuan dengan kebangsaan dalam 4 periode besar, yaitu di zaman pergerakan anti-kolonial, zaman pada awal kemerdekaan 1945-1966 atau orde lama, zaman orde baru dan zaman pasca reformasi.

Pada zaman pergerakan anti kolonial misalnya, gerakan perempuan memiliki perspektif yang kuat untuk mempromosikan pendidikan, karena kita tahu bahwa pendidikan di masa itu hanya terbatas dimiliki oleh kaum aristokrat dan priyayi. Namun di masa ini justru perempuan menorehkan prestasi besar, yaitu menyelenggarakan kongres perempuan dimana perempuan berkumpul dan menolak poligami.

Kemudian, Toeti menjelaskan bahwa pada periode awal kemerdekaan 1945 hingga 1966 ada periode tentang  penolakan pada poligami yang menjadi sangat problematis, dimana Soekarno sebagai seorang presiden melakukan poligami. Kala itu, Soekarno mempunyai sejumlah istri dan ini jauh dari cita-cita para perempuan.

Zaman orde baru, zaman ini ditandai dengan para perempuan yang diidentifikasi dengan fungsi domestik. Pada periode orde baru ini, perempuan kemudian juga dipolitisasi untuk pembangunan.

Sementara di zaman sekarang, justru banyak perempuan dimobilisasi untuk kepentingan domestik, menikah muda, dan dikontrol secara ketat oleh agama. Perda-Perda yang diskriminatif terhadap perempuan adalah salah satu contoh dimana perempuan diperketat posisinya di ruang publik. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena justru disaat banyak pemikiran perempuan tertuang, di sisi lain, kondisi pembelengguan juga terjadi pada perempuan.

Feminisme, sebagai pemikiran perempuan harus mampu membebaskan para perempuan dari belenggu hidupnya. Pemikiran perempuan ini seharusnya selalu menjadi pengetahuan, alat pemersatu untuk berjuang.