*Luviana - www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Memperjuangkan penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan di Indonesia selama 20 tahun bukan hal yang mudah.

20 tahun ini ditandai dengan maraknya gerakan buruh perempuan dan petani perempuan. Namun ini juga ditandai dengan maraknya jumlah peraturan daerah yang diskriminati terhadap perempuan.

Hal lain, yaitu pengaturan terhadap tubuh dan keputusan perempuan yang makin marak, misalnya pemakaian baju yang diatur, perkawinan yang diatur dan pilihan-pilihan hidup perempuan yang diatur. Hidup perempuan menjadi tidak mudah dalam kondisi ini.

Sebelumnya, sejumlah peristiwa kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di wilayah konflik bersenjata pada masa Pemerintahan Orde Baru, telah membuka kesadaran berbangsa bahwa segala bentuk ketidakadilan termasuk Kekerasan terhadap Perempuan harus dihentikan.
Kesadaran ini semakin menguat dan terkonsolidasi pada saat terungkapnya peristiwa kekerasan seksual yang dialami oleh sejumlah perempuan etnis Tionghoa dalam Kerusuhan Mei 1998.

Tuntutan masyarakat agar negara bertanggungjawab atas kekerasan seksual yang terjadi dalam Kerusuhan Mei 1998, adalah puncak konsolidasi kesadaran berbangsa untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Kala itu Presiden RI memutuskan untuk mendirikan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sebagai respon terhadap tuntutan masyarakat agar Pemerintah proaktif terhadap penghentian segala bentuk kekerasan terhadap seluruh perempuan di Indonesia, bukan saja terhadap kasus kekerasan seksual pada Tragedi Mei 1998.

Sebagai putri sulung Reformasi, Komnas Perempuan memandang momentum 20 tahun Reformasi sekaligus 20 tahun kelahiran Komnas Perempuan, adalah tonggak penting untuk merefleksikan seluruh upaya yang telah dilakukan oleh Negara, masyarakat dan juga Lembaga HAM dalam memajukan, memenuhi dan melindungi HAM perempuan, khususnya penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Refleksi ini akan melengkapi refleksi yang telah dilakukan Komnas Perempuan bersama gerakan perempuan pada bulan Mei 2018. Secara khusus refleksi ini memberikan perhatian pada perkembangan reformasi hukum dan kebijakan untuk pemenuhan HAM perempuan, pengembangan sistem pemulihan bagi perempuan korban kekerasan dan perlindungan bagi Perempuan Pembela HAM.

Ketua Komnas Perempuan, Azriana Manalu menyatakan hal ini dalam acara peringatan ulangtahun Komnas Perempuan pada Selasa, 31 Oktober 2018. Azriana menyatakan bahwa dalam 20 tahun perjalanan Reformasi, ada kemajuan yang dicapai dari sisi reformasi hukum dan kebijakan. Namun ada tantantang lain yang harus dihadapi.

Sejumlah kebijakan yang melindungi HAM Perempuan telah diterbitkan, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Pada level nasional, tercatat telah diterbitkan 20 kebijakan yang secara langsung berkontribusi pada upaya penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Kebijakan tersebut antara lain, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, UU Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang, UU Perlindungan Saksi/Korban, dan sejumlah regulasi lainnya terkait layanan terpadu bagi perempuan korban kekerasan serta pengarusutamaan gender. Situasi yang sama juga ditemukan di level daerah. Tidak kurang dari 349 kebijakan yang kondusif bagi pemenuhan HAM perempuan telah diterbitkan di sejumlah daerah.

“Namun demikian, 20 tahun perjalanan reformasi juga membuka ruang terjadinya kekerasan atas nama agama, fundamentalisme, radikalisme dan populisme. Komnas Perempuan juga menemukan 421 kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok rentan lainnya, yang tersebar dari tingkat nasional maupun daerah. Keberadaan 421 kebijakan diskriminatif ini menjadi penghambat bagi upaya penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan dan pemenuhan hak asasi perempuan. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa Prinsip Non Diskriminasi dan Kesetaraan Substantif yang dimandatkan oleh UU Nomor 7 Tahun 1984, belum dikenali secara utuh dan mendalam oleh para pengambil kebijakan,” kata Azriana.

Bagian lain dari upaya penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan yang penting untuk direfleksikan pada momentum 20 tahun perjalanan Reformasi adalah, pengembangan sistem pemulihan bagi perempuan korban kekerasan. Salah satu temuan penting Komnas Perempuan terkait isu ini adalah, paska 10 tahun peristiwa kekerasan seksual dalam Tragedi Mei 1998, korban tetap membungkam dan tidak mau memberikan kesaksian di hadapan publik.

“Berdasarkan informasi dari Pendamping Korban, Komnas Perempuan mengidentifikasi 7 faktor yang menjadi alasan korban bungkam yaitu sikap negara yang dianggap melanggengkan impunitas pelaku dengan membiarkan kontroversi ada tidaknya kasus kekerasan seksual terkait Peristiwa Mei 1998 berlangsung di masyarakat, lalu substansi maupun praktik hukum di Indonesia diragukan akan memberikan keadilan bagi perempuan korban kekerasan seksual.”

Jaleswari Pramodhawardhani dari Kantor Staf Presiden (KSP) menyatakan dalam acara ini bahwa Komnas Perempuan dalam perjalanannya tetap berdiri tegak dengan banyaknya tantangan, Komnas Perempuan juga dinilai telah memberikan masukan yang baik bagi kebijakan-kebijakan negara.

Jaleswari mengungkapkan ada berbagai hal yang sudah berubah pada pemerintahan Presiden Jokowi, misalnya pembangunan air bersih, dibangunnya pasar desa, infrastruktur, angka kematian ibu dna bayi yang menurun dan kemandirian ekonomi.

Untuk itulah kehadiran Komnas Perempuan dinilai efektif dalam memberikan masukan soal kebijakan bagi perempuan.

(Foto/Ilustrasi:Pixabay)


Poedjiati Tan dan Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Apakah yang dimaksud dengan dunia kerja? Dunia kerja adalah ruang yang terdiri ruang produksi dan ruang reproduksi. Artinya, ruang itu ada di rumah, di jalan, di tempat kerja.

Namun selama ini yang diakui sebagai ruang kerja hanyalah ruang produksi dimana para pekerja bekerja di luar atau secara publik. Dan ruang reproduksi atau ruang di rumah dimana biasanya banyak perempuan yang bekerja secara domestik, melakukan kerja-kerja pengasuhan anak, membereskan rumah, tak pernah diakui sebagai ruang kerja.

Hal inilah yang membuat Internasional Labour Organisation (ILO) kemudian membuat kategori soal dunia kerja, yaitu ruang kerja dimana para buruh atau pekerja bekerja di rumah hingga ia pulang kembali ke rumah.

Mutiara Ika Pratiwi dari Perempuan Mahardhika dalam konferensi pers dan pernyataan gerakan bersama akhiri kekerasan di dunia kerja di LBH Jakarta, Selasa 30 Oktober 2018 yang dilakukan oleh organisasi buruh dan masyarakat sipil hari ini, menyatakan bahwa sejatinya ruang lingkup dunia kerja itu mencakup dalam tempat kerja secara fisik dan psikis, termasuk ruang publik dan domestik di mana ruang-ruang itu adalah tempat kerja, di tempat-tempat di mana pekerja dibayar atau mengambil makan, perjalanan dari dan ke tempat kerja, selama perjalanan yang berhubungan dengan pekerjaan, di acara-acara atau aktivitas sosial yang berhubungan dengan pekerjaan, dan selama training yang berhubungan dengan pekerjaan dan melalui komunikasi yang berhubungan dengan pekerjaan yang difasilitasi oleh teknologi informasi dan komunikasi.

Disanalah dimungkinkan ada banyak lagi persoalan seperti kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang dilakukan secara fisik dan psikis.

Pada waktu perekrutan misalnya, perempuan pekerja sering mendapatkan pelecehan hanya karena ia cantik atau karena ia kurang cantik. Hal ini banyak terjadi dalam perekrutan yang mensyaratkan wajah cantik dan menarik dalam lowongan pekerjaan.

Hal lain, pelecehan juga dilakukan ketika tubuh perempuan dianggap kurang tinggi dan bentuk badan yang kurang proporsional. Ada lagi syarat lain yaitu harus sehat jasmani dan rohani dimana para diffable sulit memenuhi kriteria ini.

Di tempat kerja, macam-macam kekerasan yang terjadi yaitu dari pelecehan hingga ancaman tidak diangkat sebagai pegawai tetap jika tidak mau diajak kencan. Jumisih dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) misalnya menyatakan bahwa banyak buruh di pabrik yang kemudian mendapatkan kata-kata kasar dari mandor di pabrik.

“Ini merupakan bentuk kekerasan psikis yang menimpa buruh, seperti buruh perempuan yang berambut cepak yang kemudian dilecehkan dengan pertanyaan, hei, jadi kamu bisa hamil tidak? Ini bentuk pelecehan psikis,” kata Jumisih.

Hal lainnya, bekerja lembur tak dibayar, tak diupah baik, sampai mendapatkan kekerasan dalam rumah seperti yang dialami para Pekerja Rumah Tangga (PRT).

Dalam perjalanan pulang, pekerja perempuan yang pulang malam banyak mengalami ketidaknyamanan karena merasa ketakutan pulang malam, takut berada di angkutan umum, takut mendapatkan kekerasan, perkosaan dan label buruk ketika pulang malam.

Di rumah, para ibu yang bekerja masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menemani anak belajar, menyelesaikan pekerjaan rumah. Padahal ketika semuanya bekerja di luar rumah, maka tanggungjawab di rumah ini adalah tanggungjawab laki-laki dan perempuan. Di luar ini, banyak pekerjaan ibu yang tidak pernah dianggap sebagai pekerjaan.

Banyaknya kekerasan yang menimpa pekerja perempuan ini, maka International Labour Organisation (ILO) berencana membuat sebuah konvensi untuk melindungi semuapekerja. Konvensi ini bertujuan untuk mengakhiri kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, LGBT dan laki-laki di dunia kerja, agar mereka mempunyai hak yang sama.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Indonesia seperti JALA PRT, Kalyanamitra, Perempuan Mahardhika, Federasi Buruh Lintas Pabrik, SAPA Indonesia, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), www.Konde.co, LBH Jakarta, KSBSI, KSPI, KSBI, serta organisasi masyarakat sipil lainnya melakukan advokasi terhadap kekerasan di dunia kerja.

Organisasi masyarakat sipil sudah bertemu dengan pemerintah untuk mengusulkan pembuatan konvensi mengakhiri pelecehan dan kekerasan di dunia kerja ini. Dalam konferensi di Genewa yang membahas konvensi ini di tahun 2018 lalu, Elly dari KSBSI menyatakan bahwa baru sedikit negara yang mendukung konvensi ini. Indonesia termasuk negara yang abstain menyatakan dukungan. Maka organisasi buruh dan masyarakat sipil harus bekerja keras agar konvensi ini menjadi konvensi yang disetujui negara-negara lain.

Lita Anggraini dari JALA PRT menyatakan bahwa negara sudah seharusnya memiliki tanggungjawab untuk mempromosikan situasi dunia kerja yang inklusif, bebas dari diskriminasi, kekerasan dan pelecehan, serta memfasilitasi adanya instrument pencegahan perilaku tersebut dalam berbagai elemen, sektor dan situasi.

“Namun, realita yang ditemukan secara global menunjukkan situasi yang jauh dari inklusifitas, terjadinya pelecehan dan kekerasan yang dipandang sebagai situasi normal. Menyikapi besarnya tindak diskriminasi, kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, khususnya kekerasan berbasis gender, ILO menyerukan perlunya diambil langkah fundamental situasi tersebut, melalui peraturan universal. Pada Sesi ke-325 (Oktober 2015), ILO memutuskan untuk menyusun standar tentang perlindungan dari kekerasan dan pelecehan di di dunia kerja. Konvensi ini sedang dan akan memasuki pembahasan final dalam 3 kali Sidang Perburuhan Internasional dari tahun 2018 sampai dengan 2020. Sementara prosesnya sangat alot karena mendapat pertentangan khususnya dari kelompok pengusaha. Karenanya Negara dalam hal ini pemerintah, serikat pekerja/buruh dan semua warga Negara harus memperjuangkannya dan termasuk mendesak kelompok pengusaha untuk memberikan dukungan.”

Bahwa negara harus mengembangkan hukum, regulasi, dan kebijakan yang menjamin hak atas kesetaraan dan non-diskriminasi bagi seluruh pekerja, termasuk pekerja perempuan dan sekaligus pekerja yang masuk termasuk dalam satu atau lebih kelompok yang secara tidak proporsional terpengaruh oleh kekerasan dan pelecehan, di antaranya: pekerja muda, buruh migran, pekerja dengan disabilitas, pekerja dari masyarakat adat dan kesukuan, pekerja minoritas dari latar belakang yang berbeda.

Konvensi ini tentu saja sangat mendasar dan mendesak untuk diadvokasi bersama antar secara terintegrasi, antar isu, segmen, baik dari level lokal, nasional hingga internasional dan berbagai pemangku kepetingngan. Karena akses pekerjaan, ha katas pekerjaan dan kesejahteraan dalam situasi kerja yang bebas dari diskiminasi, kekerasan dan pelecehan adalah hak semua umat manusia.


Mengapa Kita Membutuhkan Konvensi ILO tentang Mengakhiri Kekerasan dan Pelecehan dalam Dunia Kerja?


1. Karena kekerasan dan pelecehan dalam dunia kerja merupakan ancaman terhadap martabat, keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan semua orang. karena tidak hanya akan menimpa calon pekerja, pekerja, tetapi juga akan menimpa keluarganya, komunitasnya, dan masyarakat secara keseluruhan.

2. Karena kekerasan dan pelecehan juga mempengaruhi kualitas publik dan layanan pribadi, dan dapat mencegah warga Negara untuk mendapat akses kesempatan dan perlakuan yang sama terutama perempuan, disabilitas dan berbagai kelompok minoritas karena suku, ras, keyakinan, orientasi, ranah pekerjaan

3. Karena kekerasan berbasis gender yang terjadi dalam dunia terjadi dalam berbagai bentuk, seperti; kekerasan fisik, kekerasan seksual (termasuk perkosaan dan serangan seksual), kekerasan verbal, bullying, kekerasan psikologi dan intimidasi, pelecehan seksual, ancaman kekerasan, kekerasan ekonomi dan keuangan, dan memata-matai, selama ini masih dibiarkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender yang terjadi dalam dunia kerja memberikan dampak negatif yang serius pada partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dan produktifitas kerja.

4. Pentingnya inklusifitas, pendekatan yang terintegrasi, pendekatan responsif gender mengakhiri kekerasan dan pelecehan di dunia kerja. Termasuk memperhatikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat mempengaruhi pekerjaan, produktivitas dan kesehatan dan keamanan. Oleh karenanya dunia kerja, lembaga dan pemerintahnya dapat membantu dengan tindakan nasional lainnya, untuk mengenali, mencegah, menanggapi, dan mengatasi terjadinya dan akibat dari kekerasan dalam rumah tangga.

5. Pentingnya cakupan mengenai dunia kerja, sebagai situasi yang merupakan salah satu ruang yang rawan terjadinya kekerasan dan pelecehan karena ada relasi kuasa; tempat kerja secara fisik public hingga domestik, tempat dalam jangkauan waktu antara seperti saat dalam perjalanan dari dan ke tempat kerja, kegiatan di luar tempat kerja yang berhubungan dengan kerja, termasuk melalui wujud dalam sarana komunikasi.

6. Pentingnya cakupan yang disebut sebagai pekerja, mencakup orang-orang dalam pekerjaan jenis apapun, terlepas dari status kontrak, dan sektor ekonominya—formal maupun informal—termasuk: pekerja yang sedang training, magang, sukarelawan, pencari kerja, dan pekerja yang sudah terPHK atau yang ditangguhkan.

7. Memiliki sebuah Konvensi dan Rekomendasi tentang kekerasan dan pelecehan dalam dunia kerja, memberikan landasan hokum dan jaminan perlindungan bagi semua pihak baik itu pekerja, manajemen dan serikat pekerja/serikat buruh untuk menghadapi masalah ini


8. Pentingnya peraturan dari pencegahan, penerapan hingga monitoring evalausi. Negara harus mengadopsi hukum-hukum dan peraturan nasional yang melarang segala bentuk kekerasan dan pelecehan di dunia kerja, dan khususnya segala bentuk kekerasan berbasis gender, termasuk harus mengembangkan hukum, regulasi, dan kebijakan yang menjamin hak atas kesetaraan dan non-diskriminasi bagi seluruh pekerja


File 20180125 107943 v0sk1f.jpg?ixlib=rb 1.1

Jejak digital bisa jadi beban tetapi bisa juga malah menjadi aset masa depan anak.
Shutterstock



Rachel Buchanan, University of Newcastle

Ketimbang hanya mengajarkan anak-anak mengenai keamanan internet dan mengurangi jejak digital mereka, kita harusnya juga mendorong mereka untuk mengelola jejak digital positif yang akan menjadi aset bagi mereka di masa depan.


Anak-anak zaman sekarang adalah pengguna internet yang produktif. Orang-orang semakin mencemaskan dampak jejak digital di masa depan yang sedang mereka buat sekarang. Sementara banyak diskusi soal ini fokus pada menjaga anak-anak tetap aman, hanya sedikit yang diketahui tentang bagaimana anak-anak mengelola jejak digital mereka.


Meski jejak digital dianggap sebagai beban, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi aset. Jejak digital bisa menunjukkan identitas, keterampilan, dan minat. Ini penting dalam era di mana perusahaan “meng-google” pelamar untuk memeriksa identitas mereka dan memverifikasi kesesuaian data mereka. Dalam konteks ini, tidak memiliki jejak digital bisa sama tidak menguntungkannya dengan jejak digital yang dikelola dengan buruk.


Proyek “Best Footprint Forward” menyelidiki apa yang anak-anak ketahui soal jejak digital. Dibuat grup fokus yang terdiri dari 33 anak berusia 10-12 tahun dari tiga sekolah di daerah NSW. Analisis pada grup fokus mengungkapkan, anak-anak memiliki strategi untuk tetap aman dalam jaringan, tapi mereka memerlukan pedoman lebih jauh tentang bagaimana membangun jejak digital yang positif.


Apa yang anak-anak ketahui dan lakukan soal jejak digital


Proyek ini menemukan, meski anak-anak menggunakan internet untuk berbagai tujuan (misalnya mengerjakan PR, bermain, menonton video), aktivitas daring yang paling populer adalah berkomunikasi dengan teman.





Sebagian besar anak di grup fokus menggunakan Instagram untuk mengobrol dengan satu sama lain.
Shutterstock



Anak-anak tahu bahwa jejak digital itu:


  • apa yang kamu taruh di jaringan akan tetap berada di sana

  • orang bisa menemukanmu bila kamu meninggalkan informasi yang mengidentifikasi, seperti alamat atau nama lengkap

  • bos akan memeriksa media sosialmu.


Mereka membicarakan soal keamanan kata sandi, jangan menempatkan detail pribadi daring (seperti nama, alamat dan tanggal lahir mereka), memblok orang yang mengganggu mereka, mendapatkan saran dari orang tua, tidak mengklik sesuatu yang bodoh, tidak mengunggah foto wajah mereka. Mereka menunjukkan kesadaran akan kemungkinan konsekuensi dari tindakan mereka.


Implikasi dari kesadaran jejak digital membuat mereka mencoba meminimalkannya, mencoba tidak terlihat daring. Mereka utamanya berkomunikasi dengan satu sama lain melalui Instagram, menggunakannya sebagai layanan pesan. Semuanya kecuali satu anak, mengatur akun mereka privat, dan mengunggah foto yang sangat sedikit. Mereka menggunakannya hanya untuk berbicara.


Sementara anak-anak dalam studi memiliki tingkat kesadaran jejak digital yang tinggi, mereka hanya menyadarinya sebagai liabilitas. Respons mereka tidak meliputi diskusi apa pun tentang manfaat yang ditawarkan oleh jejak digital. Penggunaan ulang mereka pada Instagram sebagai layanan pesan menunjukkan pendekatan yang cerdas dan pragmatis terhadap masalah ini, seperti yang dikatakan oleh seorang anak perempuan dalam studi, “internet selalu menyimpannya”.


Bagaimana cara mengajarkan soal jejak digital yang positif


Anak-anak bisa diajarkan untuk mengkurasi kehadiran daring mereka. Mereka bisa diajarkan secara eksplisit bahwa tidak semua yang mereka lakukan daring perlu disembunyikan. Kurasi adalah soal mengetahui apa yang perlu ditampilkan di publik, dan apa yang harus tetap pribadi.


Sementara ini sudah banyak yang tahu tindakan yang tepat adalah menyimpan percakapan dengan teman dari publik. Tetapi anak-anak juga harus diajarkan bahwa artefak digital yang menunjukkan minat, pencapaian, dan keterampilan mereka bisa bersifat publik dan bisa dikenali. Proyek sekolah, penghargaan, potongan tulisan, dan karya seni digital adalah contoh hal yang baik untuk ditampilkan.





Menempatkan proyek sekolah daring bisa menambah jejak digital positif untuk anak-anak.
Shutterstock



Mengajari anak-anak untuk mengkurasi pencapaian mereka, keterampilan dan beberapa aspek dari identitas digital mereka akan membantu mereka bersiap untuk kebebasan daring yang lebih luas, yang akan datang bersamaan dengan sekolah menengah.


Kapan edukasi jejak digital positif sebaiknya dimulai?


Ada empat alasan mengapa dua tahun terakhir sekolah dasar akan menjadi waktu yang ideal untuk mulai mengajari anak tentang jejak digital positif:


  1. mereka kekurangan informasi mengenai hal ini dan tidak sadar bahwa jejak digital bisa menjadi aset positif untuk masa depan mereka.

  2. anak-anak di usia ini sedang bertransisi dari yang tadinya dominan main game dan menonton video ke penggunaan internet dan media sosial yang lebih kreatif dan menghasilkan karya.

  3. gaya pengasuhan yang berbeda berarti tidak semua anak akan mendapatkan informasi ini di rumah.

  4. kekuatan dari [pesan keamanan siber] yang mereka dapatkan dari sekolah menunjukkan bahwa pengetahuan ini bisa dibangun sehingga anak-anak diberikan pilihan tentang aktivitas daring mana yang sebaiknya tetap tidak terlihat, dan mana yang akan menguntungkan bila ditampilkan.


Ketika ditanya apa yang ingin kamu ketahui tentang internet, seorang anak perempuan di studi ini bertanya:


Bagaimana internet bisa mengubah masa depan kamu?


Ini tepat kena ke jantung masalah. Jejak digital bisa menjadi aset atau beban untuk anak-anak. Membangun pengetahuan dengan memberi mereka pedoman untuk mengkurasi kehadiran daring yang positif bisa sangat membantu mereka membentuk masa depan mereka sendiri.The Conversation


Rachel Buchanan, Senior Lecturer in Education, University of Newcastle


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


File 20180918 146148 9s8jah.jpg?ixlib=rb 1.1

Gambar dari sebuah pernikahan di Cambridge, Kanada.
Anne Edgar/Unsplash, CC BY-SA



Yue Qian, University of British Columbia

Bagi kebanyakan orang punya pasangan yang setia dan hubungan keluarga yang baik itu sangat penting. Tak terhitung banyaknya novel, cerita dongeng, dan juga film yang telah mengangkat cerita romantis sehingga membuat kita jatuh cinta dengan kisah asmara.


Namun, para sosiolog merupakan golongan yang kurang romantis. Dalam hal jatuh cinta, bukan cuma takdir atau kebetulan yang indah yang menyatukan pasangan, faktor-faktor sosial juga penting.


Bagaimana mungkin? Penelitian saya menggambarkan bagaimana sikap kita terhadap sang kekasih dipengaruhi norma sosial.


Meskipun beberapa dari kita masih terlalu muda untuk mengingat hal ini, namun sekitar tiga dekade yang lalu, prospek perempuan berpendidikan tinggi untuk dapat menikah menjadi tajuk utama dan bahkan menjadi bahasan utama majalah Newsweek pada 1986.


Banyak perempuan dibuat cemas karena pesan-pesan media tersebut. Seperti yang diceritakan dalam film komedi romantis berjudul “Sleepless in Seattle” yang salah seorang tokohnya bilang: “Lebih memungkinkan untuk dibunuh oleh teroris dibandingkan menemukan seorang suami setelah berumur 40 tahun.”










Kesimpulan umum saat itu adalah bahwa perempuan berusia di atas 40 tahun yang telah mencapai tingkat profesi (dan pendidikan) yang tinggi memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk menikah.


Apa benar? Apakah perempuan yang menghabiskan bertahun-tahun bersekolah untuk mendapatkan pendidikan yang baik mengorbankan kesempatan mereka untuk menikah?


Sebenarnya, tidak. Penelitian secara konsiten menemukan bahwa perempuan Amerika yang bergelar setidaknya sarjana S1 punya kemungkinan lebih besar untuk menikah dan dan mempertahankan pernikahan mereka dibandingkan perempuan dengan tingkat pendidikan lebih rendah.


Bahkan, hanya beberapa tahun setelah cerita Newsweek tersebut, sosiolog keluarga Andrew Cherlin membantah pesan-pesan yang keliru mengenai prospek menikah perempuan karir.


Kesenjangan pendidikan suami-istri


Di Amerika Serikat, sebelum tahun 1980-an, perempuan tertinggal dibelakang laki-laki dalam menyelesaikan pendidikan tinggi, namun pada 2013, perempuan memperoleh kurang lebih 60% gelar sarjana dan gelar master dan setengah dari semua gelar doktor.


Penelitian saya mengambil data dari sensus AS tahun 1980 dan survei komunitas Amerika 2008-2012 untuk meneliti pasangan suami istri, dan mengamati pendidikan dan tingkat pendapatan pasangan yang baru menikah. Saya menemukan di antara tahun 1980 dan 2008-2012, kemungkinan perempuan menikah dengan laki-laki yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah dari mereka meningkat.





Pada 2013, perempuan di AS meraih 60% gelar sarjana S1.
Andre Hunter/Unsplash



Jumlah pasangan yang suaminya memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari sang istri menurun hampir 10% dari 24% pada 1980 menjadi 15% di tahun 2008-2012 (lihat garis biru di diagram). Pada periode yang sama, pasangan yang istrinya memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dari sang suami meningkat dari 22% menjadi 29% (garis merah).


Jadi, selama 2008-2012 di AS, lebih besar kemungkinan perempuan menjadi pasangan yang memiliki edukasi yang lebih tinggi dalam pernikahan dibandingkan laki-laki.


Karena sejak dulu laki-laki diharapkan untuk menjadi pencari nafkah dan menjadi “kepala” keluarga, saya ingin tahu apakah hal terkait pendidikan pasangan ini mengubah peran mereka?




Apakah pendidikan memberi lebih banyak kuasa dalam perkawinan?


Bersatunya perempuan berpendidikan lebih tinggi dengan laki-laki dengan pendidikan lebih rendah dalam sebuah pernikahan tidak berarti sang istri memiliki kekuasaan yang lebih dalam pernikahan.


Secara umum, perempuan masih menikahi laki-laki yang berpenghasilan lebih besar darinya. Hal ini tidak mengejutkan, mengingat bahwa perempuan mendapat penghasilan lebih rendah daripada laki-laki dan status pencari nafkah pada suami tetap ada.





Perempuan cenderung menikahi laki-laki yang pendapatannya melebihi pendapatan mereka.
Sebastian Pichler/Unsplash



Penelitian saya menemukan bahwa kecenderungan perempuan untuk menikah dengan laki-laki yang memiliki penghasilan di atas mereka itu lebih besar dibandingkan kecenderungan perempuan menikah dengan pria yang memiliki pendidikan lebih rendah. Dengan kata lain, pria dan wanita masih sering bersatu dalam pernikahan ketika status ekonomi perempuan tidak melebihi laki-laki.


Meskipun laki-laki lebih memprioritaskan prospek keuangan dari calon pasangan hidup dari waktu ke waktu, mereka mungkin menilai status wanita hanya sampai pada titik di mana status pasangan mereka melebihi status mereka sendiri. Dalam hal ini, pria mungkin ragu untuk menikahi wanita yang memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi dari mereka.


Sementara itu, karena kesetaraan pendapatan telah meningkat secara drastis dalam beberapa dekade terakhir, wanita mungkin akan rugi lebih banyak apabila mereka menikah dengan pasangan yang kemampuan ekonominya lebih rendah.


‘Perempuan sisa-sisa’ di Cina


Jadi, di AS, laki-laki dan perempuan berpendidikan tinggi lebih cenderung untuk menikah dibandingkan mereka yang berpendidikan rendah. Sebaliknya, di China, perempuan yang berpendidikan tinggi (tapi bukan laki-laki yang berpendidikan tinggi) mungkin akan kesulitan mencari pasangan hidup.


Para perempuan di Cina telah melampaui para laki-laki dalam jumlah perkuliahan. Penelitian saya sebelumnya mengenai Cina urban kontemporer menemukan bahwa semakin tinggi pendidikan wanita, maka kemungkinan mereka menemukan pasangan hidup semakin menurun, sebaliknya kemungkinan ini meningkat bagi pria.


Media dan publik di Cina menggunakan istilah yang derogatif, “perempuan sisa” untuk mendeskripsikan para perempuan urban yang berpendidikan tinggi ini. Di Cina, prospek rendah untuk menikah bagi perempuan berpendidikan tinggi berkaitan erat dengan peran yang seharusnya dimainkan suami istri dalam keluarga.





Dengan meningkatnya tingkat pendidikan perempuan di Cina, kemungkinan mereka menemukan pasangan hidup menurun. Photo: Shandong Middle Rd, Shanghai.
Yiran Ding/Unsplash



Peran pencari nafkah pada suami dan peran ibu rumah tangga pada istri masih sangat kuat di keluarga-keluarga di Cina. Dalam konteks ini, wanita yang berorientasi pada karir dianggap “egois,” “tidak feminin” dan “tidak bertanggung jawab atas kebutuhan rumah tangga,” sedangkan kegagalan suami untuk memenuhi perannya sebagai pemberi nafkah sering kali menjadi sumber utama konflik dalam pernikahan.


Berbeda dengan AS, di mana laki-laki sekarang cenderung menikahi perempuan yang berpendidikan lebih tinggi dari mereka, praktik tradisional di mana laki-laki menikahi perempuan yang memiliki pendidikan lebih rendah dari mereka bertahan di Cina.


Meskipun baik Cina dan AS mengalami berbaliknya kesenjangan gender di tingkat pendidikan tinggi, perbedaan antara AS dan China dalam pola pernikahan mengisyaratkan bahwa faktor struktural, seperti norma gender di masyarakat, memainkan peran penting dalam membentuk prospek pernikahan seseorang.


Laki-laki menikahi perempuan dengan pendidikan yang lebih rendah dari mereka merupakan sebuah norma sosial yang diterima secara luas. Norma ini bekerja dengan baik di masa lalu saat pendidikan perguruan tinggi masih jarang dan laki-laki umumnya lebih berpendidikan daripada perempuan. Di AS, evolusi budaya dalam preferensi pasangan sesuai dengan perubahan dalam tingkat pendidikan pria dan wanita.


Namun di Cina urban, tidak demikian. Perubahan menuju peran gender yang lebih setara tidak berjalan bersama-sama dengan perubahan sosial yang pesat. Jenis pernikahan tipe laki-laki pencari nafkah-perempuan ibu rumah tangga memberi sedikit keuntungan bagi perempuan Cina yang berpendidikan tinggi. Malah mereka justru mungkin menunda atau bahkan tidak menikah.


Berbaliknya kesenjangan gender dalam pendidikan terjadi hampir secara global, maka ada baiknya mendapatkan informasi lebih agar kita dapat memahami bagaimana meningkatnya pendidikan perempuan berdampak pada pernikahan dan kehidupan berkeluarga.


Dalam hal pernikahan, bukan hanya takdir dan cinta yang menyatukan pasangan–faktor-faktor sosial seperti pendidikan dan aturan-aturan gender yang berlaku juga memainkan peran penting.The Conversation


Yue Qian, Assistant Professor of Sociology, University of British Columbia


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.


Luviana - www.konde.co

Di kampus tempat saya mengajar, ada sebuah klub perempuan- perempuan mahasiswa.Namanya women ‘s club. Kelompok ini bertemu tiap jumat siang dan ngobrolin apa saja soal perempuan, dari buku sampai film hingga diskusi kecil. Pokoknya apa saja tentang perempuan.

Seru.

Dulu waktu kuliah awal- awal semester, saya juga pernah membuat klub perempuan. Namanya kelompok studi gender Kalinka.

Awalnya kelompok yang kami bikin ini juga berdiskusi soal film dan buku-buku perempuan. Lama lama kami berdiskusi soal sulitnya menjadi perempuan. Harus menjadi mahasiswa yang dituntut untuk selalu tampil cantik, harus dandan dan terlihat menarik. Padahal dulu kami tidak terlalu suka dandan.

Dari sinilah maka kami kemudian berdiskusi tentang apa yang sebenarnya kami inginkan dan apa yang sebenarnya tidak kami inginkan. Juga tentang apa yang kami butuhkan dan tidak kami butuhkan. Dari sini kami jadi belajar tentang mengenali diri kita sendiri. Disini kita juga belajar bagaimana kami boleh menolak atas hal-hal yang tidak kami sukai.

Teman saya yang lain punya cerita tentang women’s club yang dahsyat. Ia sudah mendirikan Kelompok studi gender waktu SMA. Lucu memang ada anak anak perempuan berbaju abu-abu sudah ngomong tentang gender.

Dimulai dari sesama teman di pers siswa di sekolah tersebut, maka kelompok studi gender ini kemudian berdiri yang anggotanya kebanyakan adalah anggota pers siswa atau kelompok pembuat majalah dinding siswa.

Dari cerita teman-teman saya, mereka sering mengadakan diskusi kelompok dengan banyak topik yang seru. Misalnya ngobrolin tentang risihnya dapat haid ketika pelajaran olahraga, malesnya ke sekolah ketika lagi haid, sampai diskusi soal bagaimana kalau perempuan nembak pacar duluan?

Dari sinilah kemudian mereka ngobrol tentang gender dan konstruksinya yang melekat pada perempuan. Lalu lama-lama berdiskusi soal tubuh perempuan. Dari ngobrol soal wajah, kaki, penilaian atas baju yang mereka kenakan hingga perlakuan apa saja yang tidak membuat nyaman perempuan.


Women’s Club di Sejumlah Negara

Women’s club atau kelompok perempuan seperti ini memang banyak sekali berdiri di dunia dengan berbagai macam type dan kegiatan yang berbeda. Di University of California Santa Cruz misalnya, women’s club di sini dibentuk untuk komunitas pemimpin dan perempuan pebisnis. Kegiatan mereka adalah mengumpulkan dana/ fundraising untuk memberikan beasiswa bagi para mahasiswa disana.

Di Genewa, Swiss, para perempuan Amerika yang tinggal disana membentuk The American International of Women’s club. Kegiatannya karena mereka berada di perantauan, maka belajar bahasa menjadi salah satu kegiatan women club ini. Selain itu ada belajar cara membuat berbagai ketrampilan, nonton film, diskusi buku, olahraga dan juga menjadi volunteer. Setiap hari Rabu di minggu kedua setiap bulan mereka akan bertemu dalam acara Welcome Coffee. Dalam acara ini mereka akan saling ngobrol sambil diperkenalkan jika ada anggota baru.

Di Belanda, ada women’s club yang terdiri dari perkumpulan perempuan-perempuan yang berasal dari negara yang sama. Mereka bertemu sekali dalam sebulan sambil minum kopi dan makan kue. Acaranya sederhana, ngobrol dan saling membantu kesulitan teman-temannya.

Womens’s club pada masa masa awal banyak dibuat di Amerika, yaitu pada tahun 1860an. Kelompok perempuan ini biasanya diinisiasi oleh kelas menengah perempuan. Mereka awalnya banyak berdiskusi buku dan film. Lalu lama-lama mereka juga membantu secara sosial seperti menjadi volunteer di rumah sakit atau di perpustakaan. Mereka mengajak masyarakat untuk datang ke perpusatakaan dan mengunjungi komunitas-komunitas masyarakat dan mengajak mereka untuk membaca. Mereka juga mencari dana untuk pembangunan dan pengembangan perpustakaan.


Untuk Solidaritas Perempuan

Sejumlah aktivis perempuan melihat pentingnya untuk menumbuhkan rasa solidaritas antar perempuan. Mulanya bisa dari berdiskusi atau bertemu, namun yang paling penting yaitu menumbuhkan solidaritas antar perempuan (in sisterhood) untuk menyelesaikan persoalan persoalan perempuan. Jadi pertemuan yang dilakukan diharapkan akan menjadi ruang untuk bersolidaritas terhadap perempuan lainnya untuk keluar dari kekerasan dan diskriminasi.


(Foto/ Ilustrasi: Ucgluzon.org)

Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Mencermati siapa presiden Indonesia selanjutnya adalah hal penting yang harus dilakukan perempuan Indonesia. Dari sinilah kita bisa melihat, siapa presiden yang punya keberpihakan pada perempuan?
\
Namun ternyata, untuk mendapatkan data ini tidaklah mudah. Data yang terpampang di laman website Komisi Pemilihan Umum Indonesia (KPU) tidak memperlihatkan bagaimana visi dan misi calon presiden/ calon wakil presiden dalam pekerjaannya mendatang. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, bagaimana kita bisa melihat perspektif kedua calon pada perempuan?

Sebelumnya KPU telah menetapkan dua pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, yaitu Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Sdr. Ir. H. Joko Widodo dan Sdr. Prof. Dr. KH. Maruf Amin; dan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Sdr. H. Prabowo Subianto dan Sdr. Sandiaga Salahuddin Uno (Sandiaga Uno), pada 20 September 2018 dan penentuan nomor urut pasangan pada 21 September 2019.

Sesuai Jadwal dan tahapan Pemilu 2019 yang diunggah dalam website https://infopemilu.kpu.go.id/, tanggal 23 September 2018 merupakan waktu dimulainya Kampanye Calon Angota DPR, DPD dan DPRD serta Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden hingga 13 April 2019 nanti.

Ini merupakan waktu penting bagi calon untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, program dan /atau citra diri peserta Pemilu.

KPU telah mengunggah visi dan misi kedua calon pasangan ke website KPU, sehari setelah penetapan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden, sebagai wujud keterbukaan Informasi. Namun informasi ini tidak utuh dibuka secara keseluruhan bagi publik. Karena KPU hanya mempublikasikan visi dan misi, tetapi tidak dilengkapi dengan program milik kedua pasangan calon Presiden/Wakil Presiden.

Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menyakini bahwa KPU telah memiliki naskah lengkap tentang visi, misi dan program dari kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Karena penyerahan naskah visi, misi dan program calon presiden dan wakil presiden merupakan syarat yang ditentukan dalam Pasal 169 dan Pasal 229 Undang-Undang No 7 Tahun 2017.

Namun Koalisi Perempuan Indonesia menilai bahwa visi dan misi kedua pasangan calon presiden, yang dimuat dalam laman (website) KPU masih netral gender dan belum menunjukkan keberpihakan terhadap berbagai kelompok yang rentan, terpinggirkan dan minoritas.

Sekjend Koalisi Perempuan Indonesia, Dian Kartikasari menyatakan bahwa dengan melihat ini, sangat tidak cukup untuk menentukan pilihan calon pasangan Presiden dan wakil Presiden yang layak untuk dipilih.

“Visi dan misi yang tertulis ini adalah rumusan rangkaian kata dan kalimat yang bersifat abstrak dan tidak menggambarkan komitmen pasangan calon dalam menjawab berbagai tantangan dan rintangan yang sedang dan akan dihadapi bangsa ini.”

Karena itu bagi perempuan, yang jumlahnya mencapai lebih dari 50% dari total seluruh pemilih, harus memahami visi, misi, dan program pasangan calon adalah juga untuk memastikan bahwa kebutuhan dan kepentingan perempuan telah terintegrasi, dan kedua pasangan calon akan memiliki program kerja yang berpihak pada perempuan dan kelompok minoritas

Bagi pemilih, mamahami Visi, Misi dan Program yang ditawarkan oleh kedua calon psangan presiden, adalah merupakan satu kesatuan yang utuh. Karena Program, merupakan penjabaran dari visi dan misi, yang bersifat lebih konkrit, yang berguna untuk mengukur keberpihakan serta harapan yang ditawarkan oleh kedua calon pasangan tersebut, sehingga pemilih dapat dengan cermat menentukan pilihannya.

Lebih dari itu, Visi, Misi dan Program, merupakan alat ukur untuk memantau kinerja pasangan Presiden/wakil terpilih, sekaligus sebagai alat tagih kepada Presiden/wakil Presiden terpilih, manakala yang bersangkutan abai atau ingkar janji.

“Namun, pantauan Koalisi Perempuan Indonesia menunjukkan hingga 17 Oktober 2018 ini KPU hanya mencantumkan visi dan misi pasangan calon, baik dalam laman utama maupun tautan yang diberikan. Tanpa mencantumkan Program pasangan calon.”

Tidak adanya akses publik terhadap Visi, Misi dan Program dalam satu kesatuan yang utuh yang disediakan oleh KPU, mengakibatkan Calon Pasangan, Partai Politik Pendukung Calon serta pemilih dan simpatisan terjebak pada praktek kampanye yang tidak sehat dan tidak mendidik, seperti Hoax, Kampanye Hitam dan Kampanye negatif.

“KPU berkewajiban melakukan pendidikan politik bagi masyarakat dan Pemili. Salah satunya, dengan menyebarluaskan Visi, Misi, dan Program Pasangan Calon Presiden melalui laman KPU dan lembaga penyiaran publik. Apalagi saat ini di media sosial telah beredar, Visi, Misi, dan Program kedua pasangan Calon Presiden yang tidak jelas sumbernya dan juga sulit dipastikan keabsahannya.”

Ketidakjelasan ini dapat mengarahkan masyarakat pada kekeliruan dan kesimpangsiuran informasi. Serta sulit dijadikan sebagai rujukan untuk menganalisa materi kampanye kedua pasangan calon.

Menanggapi situasi ini, Koalisi Perempuan Indonesia mendesak pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Sdr. Ir. H. Joko Widodo dan Sdr. Prof. Dr. KH. Maruf Amin; dan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Sdr. H. Prabowo Subianto dan Sdr. Sandiaga Salahuddin Uno untuk melengkapi Visi dan Misi yang telah diserahkan ke KPU.

*Shofin Azimah Qolbi- www.konde.co

Akhir-akhir ini, di Queensland, Australia diramaikan dengan aksi masyarakatnya yang mendesak legalisasi aborsi.

Sejak 1899, sudah banyak aktivis Australia terutama negara bagian Queensland yang mendesak dekriminalisasi atau dihapusnya peraturan tentang aborsi yang mengkriminalkan perempuan. Namun selama itu pula usaha mereka tak membuahkan hasil.

Sejak tahun itu, para perempuan yang melakukan aborsi selalu mendapatkan hukuman, tak peduli perempuan yang melakukan aborsi karena ia merupakan korban perkosaan, bayi yang dikandungnya tidak berkembang, dll. Yang jelas secara hukum dan stigma kriminal selalu dilekatkan pada perempuan yang melakukan aborsi.

Namun kini terdapat suatu hal yang sangat berbeda dalam diskursus dekriminalisasi aborsi di parlemen di Queensland Australia disana, sebab legislator perempuan berperan lebih dalam memimpin perdebatan.

Hasil akhirnya, proposal dekriminalisasi aborsi itu berhasil lolos dengan mendapat dukungan suara mayoritas 41 dari 50 suara di parlemen.

Tulisan ini akan membahas mengapa representasi perempuan turut berpengaruh dalam menentukan nasib kebijakan aborsi di sebuah Negara:


Perdebatan Aborsi yang Selalu Terjadi


Aborsi, berikut prosesnya legalisasinya, seakan menjadi perdebatan kontroversial tak berujung di berbagai negara. Terdapat setidaknya 4 perspektif dalam memandang aborsi yang turut melanggengkan perdebatan tersebut, yaitu perspektif medis, hukum, agama dan yang terakhir perspektif feminis.

1. Perspektif Medis
Masalah yang dilihat dari perspektif medis adalah terkait proses pengguguran dan penyelamatan nyawa seseorang.

2. Perspektif Hukum
Sedangkan masalah di bidang hukum adalah terkait legalisasinya secara konstitusional, apakah negara sudah mengakui aborsi ataukah tidak.

3. Perspektif Agama
Perspektif agama mempermasalahkan aborsi karena dianggap bertentangan dengan dalil kepercayaan/ keyakinan agama yang diyakini penganut agama bahwa aborsi adalah tindakan pembunuhan dan ini tidak boleh dilakukan secara agama.

4. Perspektif Feminis
Perspektif lain yang sangat penting dan kerap luput dibicarakan dalam memandang aborsi adalah etika feminis. Etika feminis dapat menjadi solusi sebab memiliki landasan yang mengutamakan care, love, connections, dan relationship yang kemudian memperhatikan keinginan, kebutuhan, dan kepentingan orang perorang.

Sehingga kemudian etika feminis menganalisis masalah aborsi sebagai masalah perempuan dan memberinya pilihan atas tubuhnya (Wurjantoro, 2001). Kecil kemungkinannya seorang perempuan mengambil langkah aborsi hanya karena ia menyukainya. Lebih dari itu, banyak pertimbangan berat nan dilematis yang dilewati perempuan untuk sampai pada keputusan aborsi. Sehingga aborsi merupakan sebuah jalan yang benar-benar dibutuhkan untuk mempertahankan hidup dan menyelamatkan dirinya.


Bagaimana Langkah yang Harus Ditempuh?


Langkah politis yang dapat ditempuh dalam mengupayakan dekriminalisasi dan legalisasi aborsi adalah dengan melibatkan perempuan dalam perdebatan terkait aborsi di parlemen. Hal tersebut dibutuhkan sebab aborsi memang hanya terjadi di kelompok perempuan.

Dengan memaksimalisasi representasi perempuan di parlemen, diharapkan legislator perempuan dapat mengangkat dan mengupayakan segala kebutuhan dan keprihatinan perempuan secara konkret, termasuk kebutuhan legalisasi aborsi.

Namun luasnya pengaruh yang dibuat oleh legislator perempuan akan sangat banyak tergantung pada jumlah perempuan yang ada di parlemen yang memiliki motivasi untuk menghadirkan isu-isu dan kepentingan perempuan (Lovenduski & Karam, 2002).

Kehadiran perempuan sebagai legislator diyakini dapat meruntuhkan dinding pembatas gender, bahkan kehadiran satu perempuan akan dapat mengubah kebiasaan laki-laki. Maka mari membayangkan signifikansi jangka panjang yang akan terwujud apabila jumlah perempuan yang memadai di parlemen sepenuhnya termotivasi untuk mewakili kepentingan perempuan.

Parlemen Queensland, yang selama ini terkenal akan konservatismenya, pada periode ini justru mencetak angka representasi perempuan yang cukup tinggi. Terhitung sejak 2017 hingga sekarang, jumlah perempuan dalam Parlemen Queensland mencapai 30 orang dari 93 total anggota. Belum mencapai 50 persen memang, namun angka tersebut merupakan jumlah yang patut diapresiasi sebab sejak awal terbentuknya Parlemen Queensland pada 1929 hingga 2001, jumlah perempuan dalam parlemen masih bisa dihitung dengan jari tangan manusia.

Tak hanya di parlemen, bahkan komposisi kabinet pemerintahan Queensland periode 2015–sekarang telah mencapai jumlah keseimbangan gender pada kuotanya yang mana jumlah menteri perempuannya mencapai 50 persen dari keseluruhan jumlah menteri. Tepatnya, delapan dari lima belas menteri adalah perempuan, termasuk Perdana Menteri Annastacia Palaszczuk dan Wakilnya Jackie Trad yang juga perempuan. Terlebih, para perempuan pengisi kabinet tersebut masuk melalui sistem merit yang cukup kuat, sehingga dapat dipastikan memiliki kapabilitas yang mumpuni.

Di Indonesia sendiri, regulasi tentang aborsi dimuat dalam Undang-Undang tentang Kesehatan No. 36 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Kedua aturan tersebut tak mengizinkan aborsi kecuali bagi korban pemerkosaan dan jika alasaannya adalah keselamatan si ibu dan bayi yang dikandungnya.

Seharusnya, aborsi dapat menjadi pilihan bagi perempuan manapun yang ingin melakukannya, terlepas dari kedua syarat tersebut. Perempuan, sebagaimana manusia, memiliki otoritas penuh atas tubuhnya. Dengan landasan inilah perempuan seharusnya memiliki hak untuk menentukan nasib bayi yang ada di dalam tubuhnya sendiri.

Sebagai seorang perempuan, Perdana Menteri Annastacia dengan bangga mengangkat urgensi penghapusan aborsi dari pasal pidana yang ada di bawah undang-undang. Menurutnya, masalah aborsi adalah masalah kesehatan yang krusial bagi perempuan di Queensland. Jika proposal dekriminalisasi aborsi tersebut berhasil disahkan, New South Wales akan menjadi satu-satunya negara bagian di Australia yang masih menganggap aborsi sebagai sebuah praktik kriminal.

Selama ini, perempuan Queensland harus menghadapi hukuman penjara hingga 7 tahun jika mengakhiri kehamilannya, dan dokter yang bersangkutan hingga 14 tahun.

Terdapat 7 klinik yang memiliki layanan aborsi di Queensland, namun kelompok anti-aborsi kerap menentang keberadaan klinik-klinik tersebut. Adanya undang-undang yang mempidana aborsi juga menjadi hambatan bagi perempuan untuk mengakses layanan aborsi.

Rancangan proposal yang telah disetujui memungkinkan perempuan Queensland untuk mengakhiri kehamilan hingga usia 22 minggu, dan membuat zona aman yang melarang aktivis anti-aborsi untuk melakukan aksi protes di 150 meter di sekitar klinik aborsi, serta meminta dokter yang enggan melakukan layanan aborsi untuk dapat merujuk pasien ke tempat aborsi lainnya. Namun poin paling penting dalam keberhasilan dekriminalisasi aborsi ini adalah bahwa setiap perempuan berhak memilih untuk melakukan aborsi dalam keadaan apapun.

Keberadaan perempuan dalam jumlah yang signifikan tentu memiliki pengaruh terhadap hasil pemungutan suara pada perdebatan aborsi, yang diharapkan dapat mewadahi kebutuhan perempuan akan aborsi. Tak hanya itu, perempuan dalam parlemen juga dapat memberikan nuansa dan pemahaman yang berbeda dengan parlemen yang didominasi oleh laki-laki.

Freklington contohnya, ia membandingkan ketika parlemen negara mempertimbangkan undang-undang kekerasan domestik, yang mana pada saat itu ada anggota perempuan yang mampu menjelaskan pelecehan dengan menggunakan kasus yang ia alami secara pribadi.

Bahkan dalam perdebatan mengenai aborsi, beberapa anggota parlemen turut menyampaikan pendapatnya dengan begitu emosional hingga menjatuhkan air mata. Dengan demikian, jelas bahwa kehadiran perempuan dapat mengatakan hal-hal hingga ranah personal yang berada di luar kapabilitas laki-laki.

Keberhasilan Perdana Menteri dan Parlemen Queensland dalam memodernisasi hukum tentang aborsi merupakan cerminan dari representasi perempuan yang berkualitas di parlemen Queensland. Anggota parlemen perempuan di Queensland sepenuhnya sadar bahwa seluruh perempuan di Queensland harus memiliki hak untuk membuat keputusan aborsi tanpa takut akan dipidana. Gebrakan dekriminalisasi aborsi ini adalah langkah reformasi yang melepaskan Queensland dari belenggu konservatisme pro-life yang selama ini mengekang hak otonomi perempuan atas tubuh mereka sendiri.

Indonesia merupakan negara dengan suara pro-life atau anti-aborsi yang cukup dominan. Kebijakan yang terus-terusan melarang praktik aborsi adalah buah dari representasi perempuan di perpolitikan Indonesia yang belum cukup berkualitas dan memperjuangkan hak-hak perempuan. Sampai kemudian hadirlah Undang-Undang tentang Kesehatan No. 36 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang tidak mengkriminalkan perempuan yang melakukan aborsi.

Perlu adanya kesadaran dari anggota legislatif perempuan bahwa affirmative action yang membawanya masuk ke parlemen itu bukan sekadar jumlah semata. Etika feminis dapat menjadi solusi bagi anggota legislatif perempuan dalam merumuskan sebuah kebijakan yang ramah perempuan.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

Referensi:

Lovenduski, J., & Karam, A. (2002). Perempuan di Parlemen: Membuat Suatu Perbedaan. dalam International IDEA, Perempuan di Parlemen: Bukan Sekedar Jumlah (hal. 158). Jakarta: AMEEPRO.
Wurjantoro, S. (2001). Penempatan Masalah Aborsi dalam Etika Feminis. Depok: Universitas Indonesia.


*Shofin Azimah Qolbi, Mahasiswa Ilmu Politik, Fisipol, Universitas Indonesia

*Novi Septiana Pasaribu- www.Konde.co

Pernah enggak merasa bangga kalau saudara perempuan kita bisa berprestasi atau cerdas? Dengan senyumnya melambai atau mengucapkan terimakasih pada keluarga yang dukung dan mengusahakan yang terbaik buat dia sehingga melakukan sesuatu yang membanggakan banyak orang, Bisa saja ketika dia menjadi juara kelas atau menang kompentisi nyanyi antar sekolah atau gereja.

Atau orangtua kalian berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan kalian semua bersaudara (baik laki-laki atau perempuan) karena menyadari pendidikan penting untuk masa depan kalian masing-masing?

Mungkin ada yang pernah senang lihat bapaknya atau bapak orang lain ngasih kebebasan untuk berkesempatan untuk mamak kita ya atau mamak orang lain untuk berkegiatan yang mengembangkan dirinya, Hal ini juga terjadi di beberapa desa di Dairi, Sumatera Utara.

Disana ada kelompok perempuannya (yang isinya ibu-ibu karena anak gadis banyak tidak di desa lagi) yang sekali sebulan diskusi soal organisasi, membahas soal kerusakan lingkungan, perpolitikan daerah atau nasional. Ingatkah kalian, siapa yang kemudian mendukung si ibu meninggalkan rumah untuk ikut pelatihan selama berhari-hari ?

Untuk yang laki-laki yang punya saudara atau teman perempuan , pernah tidak curhat atau minta pendapat bahkan berdiskusi sama mereka soal apapun seperti sekolah, ideologi atau masa depan. Kalian sepakat dan senang karena kalian boleh dapat masukan dari mereka?

Atau kalian (laki atau perempuan) pernah juga merasa marah, terluka dan mengutuki saat tahu teman atau saudara perempuan kalian dilecehkan secara verbal, non verbal atau daring dan tidak menyalahkan mereka.

Mungkin kalian juga kemarin sepakat dan dukung dengan tindakan berani Via Vallen yang men-Screenshot DM pesepak bola yang melecehkan dia.

Merasa heran atau sedih saat teman perempuan kita terlalu memaksaan diri untuk terlihat wow, cantik, menawan kayak suntik putih, ngak makan berhari-hari, berdandan berlebihan kayak apa gitu, jadi konsumerisme untuk produk pabrikan. Semuanya itu dilakukan untuk pacar, gebetan, atau pandangan umum, bisa juga bukan hanya sedih atau heran tapi kita berusaha untuk menghentikan kegilaannya.

Apa itu semua pernah terjadi sama kalian semua? Mungkin ngak semua tapi beberapa ada lah dialami. Terus kenapa? Bukan itu hal yang wajar ? Yah itu benar sekali, itu wajar sekali dan memang seharusnya setiap kita bisa seperti itu.

Tapi tahu tidak bahwa itu juga hal yang sama dialami sama mereka yang sepakat kalau perempuan itu juga manusia dan harus diperlakukan dengan setara.

Tapi ternyata kita sama dengan mereka yang memperjuangkan kesetaraan perempuan. Dan nyatanya kita tidak rugi apa-apa, malah kita merasakan hal postitif baut kita.

Lalu kenapa kita harus menolak ataupun anti dengan kata kesetaraan? Kita sudah melalukan hal-hal dasar dengan pengakuan dalam hati masing-masing. Tinggal menjadikan ini perjuangan bersama karena nyatanya ada banyak perempuan diluar sana yang tertindas oleh system partiarki.

Seperti para buruh perempuan yang mendapat upah lebih rendah karena dia peremuan, tidak dapat cuti haid atau melahirkan, jam kerja yang lebih panjang. Setelah lelah dari perkerjaannya harus dipaksa untuk membersihkan rumah, memasak, memperhatikan anak karena stigma yang ditanamkan bahwa itu adalah pekerjaan perempuan.

Para anak perempuan yang tidak diperbolehkan sekolah, tidak boleh keluar rumah tanpa ada laki-laki disampingnya mau siang atau malam. Diasingkan saat sedang menstruasi atau baru melahirkan karena dianggap najis.

Korban pelecehan atau kekerasaan seksual akibat salah pandang pelaku, yang sialnya diiyakan banyak orang, bahwa perempuan itu lemah, posisinya ada dibawah laki-laki, sebagai bahan candaan-hiburan, atau malah tidak dianggap berharga. Mereka yang mencoba bangkit dari traumatic yang mereka alami.

Tentu ini hanya sebagian dari banyak masalah lainnya. Lalu kenapa kita harus menolak dan membenci mereka yang berjuang untuk kesetaraan perempuan? Bagaimana jika kita saling bergandeng tangan untuk menghancurkan system yang menindas kemanusiaan kita untuk melawan si patriaki itu.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Novi Septiana Pasaribu, penulis, mahasiswa pendidikan sejarah di Medan

*Ariasnyah- www.Konde.co

Setiap orang tentunya diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya tersendiri karena No Body is perfect.

Adakah manusia yang terlahir tanpa kekurangan sedikitpun? Kekurangan dan kelebihan dua hal yang akan saling melengkapi jika kita mampu memahaminya. Namun apa yang terjadi apabila kekurangan yang selama ini kalian miliki dijadikan bahan leluconan di depan banyak orang?

Saya tidak habis pikir jika sampai saat ini masih saja ada orang yang menggunakan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan dan itu terjadi tidak hanya di lingkungan bebas akan tetapi juga terjadi di lingkungan akademik. Seseorang yang berpendidikan masih saja menggunakan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan. Serendah itukah selera humor mahasiswa saat ini?

Pernahkah kalian merasakan bagaimana rasanya ketika kekurangan kalian dijadikan bahan lelucon di depan banyak orang? Pernah ngebayangin bagaimana dia menyiapkan mental agar bisa bertahan dalam lingkungan yang selalu membuatnya tidak nyaman? Pernah berpikir jika candaan dan ledekan kalian selama ini bisa membuat orang lain depresi?

Melalui tulisan ini saya kan menuliskan pengalaman mewakili para objek, para perempuan yang kalian jadikan bahan candaan untuk menyuarakan isi hati mereka walau tidak sepenuhnya tersuarakan. Karena selama ini objek tersebut tidak tahu harus kemana dia menyuarakan apa yang dia rasakan. Tidak ada yang peduli padanya, tidak ada yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Dia merasa sendiri dan tidak memiliki seseorangpun yang bisa dia jadikan tempat untuk bercerita.

"Biarkan aku hidup tenang
Aku sadar jika aku tak sesempurna kalian.
Kulitku hitam sedangkan kalian tidak
Rambutku ikal sedangkan kalian tidak
Kakiku tidak bisa berfungsi sebaik kaki kalian
Aku juga tidak bisa melihat seperti kalian
Mataku hanya bisa ku gunakan untuk mengeluarkan air mata
Air mata kekecewaan atas kondisiku saat ini
Sedangkan telingaku masih berfungsi dengan benar
Aku masih bisa mendengar
Mendengar suara merdu kicauan burung
Mendengar gelak tawa kalian
Mendengar lontaran candaan kalian
Andai kalian tahu bagaimana usahaku bertahan hidup dalam kekurangan ini
Setiap waktu yang kumiliki kugunakan untuk terbiasa dengan kondisiku saat ini
Aku harus terbiasa hidup tanpa bisa melihat apa yang kalian lihat
Aku harus terbiasa mendengar bisikan-bisakan kalian mengenai aku
Aku juga harus terbiasa mendengar canda tawa kalian
Canda tawa yang terjadi karena kekuranganku
Kenapa kalian setega itu padaku?
Tidak bisakah kalian berhenti tertawa karena kekuranganku ini?
Andai kalian tahu aku tidak meminta dilahirkan dalam kondisi seperti ini
Andai kalian tahu dengan kondisiku saat ini aku berusaha keras agar aku bisa menjadi teman kalian
Aku hanya ingin berteman dengan kalian
Tetapi apakah kalian berkenan menjadi temanku?
Tidak apa
Namun jika aku boleh meminta
Tolong berhentilah membicarakan kekuranganku ini
Tolong berhentilah berbisik-bisik mengenai kondisiku ini
Hatiku hancur mendengar itu semua
Mentalku down mendengar itu semua
Semangat hidupku memuai bersama dengan canda tawa kalian
Cobalah melihatku dari sisi lain
Aku lelah jika setiap malam aku harus menangis
Menangisi kondisiku ini
Jika kalian tidak bisa berhenti membicarakan kekuranganku
Berhentilah menganggapku ada
Dan izinkan aku hidup tenang bersama kekuranganku ini
Maaf jika adanya aku membuat kalian tidak nyaman."

Apa yang kalian rasakan? Masih merasa hidup kalian paling sempurna? Bagaimana bisa kalian tertawa diatas penderitaan seseorang? Pernahkah kalian berfikir jika dibalik canda tawa kalian ada seseorang yang sedang berusaha menahan air matanya. Tawa kalian menggoreskan luka mendalam bagi seseorang, pernah terpikir akan hal tersebut?

Manusia tercipta sebagai makhluk sosial, tidak ada manusia yang selama hidupnya tidak membutuhkan orang lain. Si kaya tetap membutuhkan si miskin, pembeli tetap membutuhkan penjual, dokter tetap membutuhkan pasien, guru tetap membutuhkan murid.

Kita disini hanya sementara, kita disini hanya menumpang untuk kurun waktu yang tidak kita ketahui. Selama itu tidak bisakah kalian membuka mata hati kalian, untuk hidup lebih manusiawi. Untuk hidup lebih peduli dengan sesama. Untuk hidup yang lebih berguna.

Hidup ini bukan hanya soal fisik belaka. Kecantikan, ketampanan, kepintaran, ketenaran tidak akan bermanfaat apabila kalian tidak memiliki rasa peduli pada sesamanya. Semua itu akan mulai bersamaan terik matahari yang tiada henti memancarkan cahayanya.

Sampai saat ini masih saja berterbangan kabar mengenai kefrustasian para korban bullying, bahkan ada seseorang yang sampai bunuh diri karena tidak tahan dengan ujaran-ujaran negatif dari orang lain untuk dirinya. Pernah terpikir jika ucapan kalian bisa menghilangkan 1 nyawa seseorang?

Suatu saat jika manusia ini telah meninggal yang akan dikenang adalah karya-karyanya. Sudahkah kalian berkaya hari ini? Jika belum, mari kita berkarya bersama karena itu lebih bermanfaat dari pada menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan.

Mari bersama kita berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, kesahalan bisa saja berasal dari ketidak tahuan. Jika sudah mengetahui ada baiknya jika menyegerakan untuk memperbaiki. Karena kita tidak pernah tau sampai kapan kita diberi waktu untuk berada di dunia ini.

Jadi, sudahkah anda bahagia hari ini? Mari tersenyum dan katakana pada dunia bahwa aku tidak sendiri hidup di dunia ini.


*Ariasnyah,
mahasiswa Sosiologi Universitas Trunojoyo, Madura.


File 20180903 41735 1rj27xd.jpg?ixlib=rb 1.1

Astronot Sunita Williams – bukan seorang laki-laki.
NASA, CC BY-NC



Dr Susan Wilbraham, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, University of Huddersfield

Tanyakan kepada anak kecil ingin menjadi apakah mereka ketika mereka sudah besar. Kemungkinannya pekerjaan ilmiah seperti astronot dan dokter akan menjadi pilihan paling teratas dalam daftar pekerjaan. Namun minta mereka menggambar seorang ilmuwan dan ada kemungkinan dua kali lebih besar mereka menggambar sosok laki-laki daripada perempuan.


Anak-anak bisa membentuk bias tersebut dari berbagai sumber. Tapi mungkin kita seharusnya tidak terlalu terkejut melihat absennya ilmuwan perempuan dalam gambar anak-anak ketika ilustrasi yang kita perlihatkan kepada mereka juga seringkali sama buruknya.


Studi kami tentang gambar dalam buku-buku sains anak-anak mengungkapkan bahwa perempuan secara signifikan kurang terwakili. Kami memeriksa foto-foto dan ilustrasi dalam buku anak-anak. Dalam dunia fisika khususnya, gambar seringkali gagal mengkomunikasikan kemampuan teknis atau pengetahuan perempuan. Gambar yang ada dalam buku tersebut memberikan impresi bahwa sains adalah subjek untuk laki-laki dan bahwa karir dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) tidak memberikan penghargaan kepada perempuan.


Teori-teori perkembangan menjelaskan bahwa anak-anak mempelajari harapan gender untuk membantu mereka merespons sesuai dengan lingkungan sosial mereka. Hal ini mempengaruhi pemahaman mereka akan siapa mereka dan mendorong mereka untuk berperilaku dengan cara yang konvensional bagi gender mereka.


Gambar-gambar laki-laki dan perempuan dalam buku sains anak berkontribusi dalam harapan tersebut dengan mengajarkan mereka ‘aturan’ mengenai pekerjaan yang cocok bagi tiap gender. Hal tersebut mendorong mereka untuk mematuhi stereotip karir gender yang berlaku.


Untuk mengatasi hal ini, tokoh panutan perempuan harus terlihat dalam buku-buku untuk membantu mengembangkan minat anak-anak perempuan dalam sains selama mereka bertambah dewasa, dan mengatasi persepsi negatif tentang ilmuwan perempuan.


Di mana perempuan dalam sains?


Penelitian kami menganalisis buku-buku sains bergambar untuk anak-anak di dua perpustakaan publik di Inggris. Pertama kami menghitung frekuensi gambar laki-laki, perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan dalam 160 buku yang tersedia. Lalu kami melakukan analisis visual detail pada dua profesi ilmiah: astronot dan dokter. Dalam bagian dengan 26 buku ini, kami memeriksa apa yang astronot dan dokter laki-laki maupun perempuan lakukan, kenakan, dan genggam dalam gambar-gambar tersebut.


Kami menemukan bahwa, secara keseluruhan, buku-buku sains anak menampilkan laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan perempuan, menguatkan stereotip bahwa sains adalah pencarian laki-laki. Kurang terwakilinya perempuan semakin diperparah dengan bertambahnya usia target tujuan buku. Para perempuan secara umum digambarkan sebagai pasif, berstatus rendah dan tidak terlatih – atau keberadaan mereka tidak diketahui sama sekali.


Contohnya, satu buku anak-anak tentang eksplorasi luar angkasa menampilkan apa saja yang dibutuhkan dalam berjalan di luar angkasa. Dengan gambar astronot dalam baju ruang angkasa putihnya, kita diberitahu bahwa “without a spacesuit an astronaut’s blood would boil and his body would blow apart atau tanpa pakaian luar angkasa, darah astronot akan mendidih dan tubuhnya (astronot laki-laki) akan meledak”. Penggunaan kata ganti laki-laki ( his) menunjukkan bahwa orang yang ada di dalam pakaian luar angkasa tersebut adalah laki-laki.


Tidak disinggung tentang 11 perempuan berani yang telah berjalan di luar angkasa, termasuk astronot Sunita Williams yang gambarnya digunakkan dalam montase tersebut. Dengan tertutupnya muka William dengan helm dan teks yang hanya menyebutkan laki-laki, akan menjadi mudah bagi anak-anak untuk berpikir bahwa perempuan tidak berjalan di luar angkasa.





Anak perempuan dipengaruhi oleh gambaran mereka tentang ilmuwan.
Shutterstock



Dalam halaman di buku lain, kami melihat seorang astronot perempuan digambarkan sedang melayang di dalam stasiun luar angkasa dan tersenyum kepada kamera. Kualifikasi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk astronot pada titik ini melebar. Tempat-tempat program pelatihan astronot NASA sangat kompetitif dengan ribuan lamaran setiap tahunya. Namun dalam buku tersebut, pelatihan, keahlian, dan pengetahuan perempuan tersebut tidak disinggung.


Sebagai gantinya, keterangan gambar tersebut justru berbunyi “Dalam gravitasi 0, setiap hari adalah hari tatanan rambut yang buruk.” Komentar seperti itu yang terfokus pada penampilan perempuan gagal menganggap serius kontribusi mereka. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa penekanan penampilan pada ilmuwan panutan dapat mengurangi penilaian kemampuan diri murid perempuan atau membuat pekerjaan sains tampak tidak terjangkau bagi mereka.


Studi kami juga menunjukkan perbedaan penting antara disiplin ilmu. Dalam buku fisika, 87% gambar yang ada adalah laki-laki atau anak laki-laki, dan beberapa gambar tempat astronot perempuan digambarkan, mereka tidak pernah digambarkan sedang mengemudikan wahana, melakukan percobaan, atau berjalan di luar angkasa.


Buku tentang biologi, kebalikannya, memiliki gambaran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan – dan dokter perempuan digambarkan melakukan aktivitas dan memiliki status yang sama dengan dokter laki-laki.


Mengapa hal ini penting


Anda mungkin berpikir bahwa citra atau gambar tidaklah penting, bahwa pesan dalam foto atau ilustrasi adalah sepele. Industri periklanan multimiliar pound sterling tidak sepakat dengan Anda. Iklan jarang menyediakan argumen yang detail tentang sebuah produk atau jasa, tapi hal ini tidak membuat pesannya menjadi kurang kuat. Sebaliknya, periklanan bergantung pada persuasi melalui penanda pinggiran seperti mencontohkan gaya hidup yang menarik dan menggunakan citra untuk menggambarkan penghargaan status atau rasa hormat.


Dengan cara sama, buku-buku anak-anak mengiklankan pilhan karir, dan gambar-gambar tersebut mengkomunikasikan apa artinya bagi perempuan dan laki-laki pada kaitannya dengan pekerjaan tersebut. Perempuan perlu hadir dalam buku-buku sains anak untuk mendemonstrasikan bahwa seluruh bidang sains juga dapat dicapai oleh perempuan.


Penelitian menunjukkan, bahkan sebelum anak-anak pergi ke sekolah, mereka telah memiliki ide bahwa laki-laki lebih baik dalam profesi yang didominasi oleh laki-laki. Mengingat fakta bahwa anak perempuan, bahkan sejak berumur delapan tahun, seringkali menolak matematika dan sains dari orang tua dan gurunya, mungkin tidak mengejutkan bahwa hanya 20% siswa dengan nilai A yang mengambil fisika adalah perempuan.


Wawancara dengan ilmuwan perempuan yang sukses menunjukkan bahwa anak perempuan mencari role model dalam sains, tapi mereka seringkali tidak bisa menemukannya.


Dengan begitu, maka penting bahwa gambar dalam buku anak-anak diberikan perhatian yang lebih besar. Editor dan ilustrator buku perlu untuk melakukan usaha signifikan untuk menggambarkan perempuan sebagai berkualitas, ahli, dan mampu secara teknis. Mereka perlu digambarkan secara aktif terlibat dalam kegiatan ilmiah dan menggunakan alat dan perlengkapan yang sesuai, bukan hanya dihadirkan sebagai asisten atau pengamat.


Perempuan juga perlu direpresentasikan dalam jumlah besar sehingga anak perempuan bisa melihat panutan mereka dalam profesi ilmiah dan melihat karir tersebut bisa bermanfaat.


Para orang tua, guru, dan pustakawan – bersama dengan penulis, ilustrator dan penerbit – perlu meninjau kembali buku-buku mereka untuk pesan-pesan bergender. Tanyakan apa yang yang diajarkan oleh gambar-gambar tersebut dan tanyakan apa aspirasi karir yang mungkin didorong atau dihancurkan oleh buku-buku tersebut.The Conversation


Dr Susan Wilbraham, Senior Lecturer in Applied Psychology, University of Cumbria dan Elizabeth Caldwell, Academic Skills Tutor, School of Art, Design and Architecture, University of Huddersfield


Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.


*Ruby Astari- www.Konde.co

Satu malam, saya pergi ke sebuah warung mie instan dan roti bakar. Saat itu memang sedang cukup ramai, sehingga butuh waktu agak lama untuk mendapatkan roti bakar cokelat favorit saya.

Malam itu, saya duduk di antara dua pengunjung yang kebetulan sama-sama menjengkelkan. Lelaki besar di samping kanan saya merokok sambil bercanda dengan teman-teman se-gengnya. Tidak masalah sih, namun nggak perlulah sampai harus heboh menggebrak-gebrak meja beberapa kali.

Sialnya, lelaki itu tidak peduli saat saya meliriknya dengan tatapan sinis, sambil berusaha memastikan teh hangat saya tidak tumpah oleh ulahnya. Apalagi, kaki mejanya juga sudah agak reyot. Dasar sial, lelaki itu malah balas melirik saya dengan ekspresi terganggu. Huh!

Di bangku yang lain saya juga mendengar bahwa perempuan juga menjadi bahan candaan:

“Jangan mau dateng sendirian ke rumah cowok itu kalo diundang. Ntar diperkosa, lho!”

Entah apa mereka sedang mengejek teman lelaki mereka. Yang pasti, saat itu juga saya gatal ingin langsung menegur:

“Pemerkosaan bukan bahan bercandaan!”

Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mau ribut sama orang yang nggak dikenal, bahkan meskipun saya yakin saya benar.

Dengan miris saya harus menerima, bahwa masih banyak sekali manusia Indonesia yang tidak peka.

Motif perkosaan sebenarnya adalah relasi kuasa. Saya harap banyak yang mau lebih membuka mata, hati, dan berempati pada perempuan korban.

Cobalah mendengarkan cerita mereka tanpa interupsi. Kurangi menghakimi. Para perempuan korban adalah individu yang harus dibela.

Karena tidak ada yang minta diperkosa. Bayangkan anda dipaksa melakukan sesuatu oleh orang lain dengan ancaman dan hinaan, hanya karena mereka merasa bisa dan berkuasa.

Bayangkan tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan anda dijajah dan disakiti sedemikian rupa, hanya demi kesenangan mereka. Bayangkan perjuangan mereka untuk merebut hidup kembali. Transisi dari merasa malu, menuju rasa benci dan amarah hingga usaha berdamai dengan diri sendiri.

Jadilah manusia yang baik dengan tidak lagi menertawakan penderitaan sesama. Sekali lagi, jangan jadikan pemerkosaan, pelecehan seksual, dan isu kekerasan lainnya sebagai bahan bercandaan.

Buat yang berprofesi sebagai komedian, semoga bisa mencari topik yang lebih cerdas dan tidak menyakiti perasaan sesama. Saya tahu, profesi anda harus selalu punya bahan bercandaan yang up-to-date atau sebisa mungkin lebih kekinian.


Kalau sudah kehabisan bahan, mungkin bisa beralih profesi. Pasti juga sudah pada tahu ‘kan, pepatah ini?

“Diam saja bila tidak yakin bisa berbicara yang baik.”

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ruby Astari, Translator, blogger, author


“If you believe that you are the victim of domestic violence, you should know: you are not alone, it’s not your fault and you can get help.”

Luviana – www.konde.co

Sejumlah orang menyatakan bahwa jika perempuan mendapatkan kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga, maka ia bisa pergi ke rumah aman dan tinggal disana untuk sementara waktu. Disana ia akan ditemani dan tidak akan pernah merasa sendirian.

Apakah sebenarnya rumah aman itu? Apa fungsinya bagi perempuan korban kekerasan?

Rumah aman atau safe house atau biasa disebut sebagai women’s shelter memang berdiri bagi para korban maupun penyintas (survivor) kekerasan berbasis gender. Rumah aman atau safe house artinya: rumah perlindungan bagi perempuan.

Di sejumlah negara di Eropa dan Amerika, rumah aman sudah berdiri sejak tahun 1970an. Di Amerika, rumah aman berdiri pada tahun 1974 di Boston. Sedangkan di Inggris dibangun di tahun 1971.

Awalnya rumah aman ini memberikan support bagi korban-korban kekerasan berbasis gender yang tidak punya keluarga dekat dan dikelola oleh komunitas masyarakat setempat. Rumah aman kemudian menjadi tempat yang tepat untuk tinggal sementara waktu agar para perempuan di korban merasa aman dari pelaku kekekerasan.

Dulu, rata-rata para korban di Amerika akan tinggal di rumah aman paling tidak selama 9 bulan yang akan ditemani para psikolog dan voluteer-volunteer. Di Inggris sejak parlemen disana menyepakati keberadaan rumah aman ini, maka para korban bisa tinggal di rumah aman dalam waktu yang lama.

Di tahun 1977, di Amerika terdapat 9 shelter atau rumah aman, dan di tahun 2000, mereka sudah mempunyai sekitar 2 00 shelter. Safe house Denver misalnya berdiri di tahun 1978 dan hingga kini sudah menjadi rumah aman bagi ratusan perempuan dan anak. Safe house ini berdiri antaralain untuk mengajak perempuan dan anak membangun kesadaran menolak kekerasan.

Rumah aman ini rata-rata terbuka setiap hari dan pada jam kerja. Beberapa juga menerima hotline, masyarakat bisa menghubungi dan berkonsultasi melalui telepon. Rata-rata rumah aman tersebut dikelola oleh para volunteer dan aktivis perempuan yang sangat peduli pada para korban kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Kelangsungan hidup rumah aman ini juga disupport oleh sejumlah lembaga dan individu yang peduli.

The women safe house di St. Louise misalnya menuliskan dalam websitenya yang membuat perempuan korban menjadi merasa tenang: If you believe that you are the victim of domestic violence, you should know:

• You are not alone.
• It’s not your fault.
• You can get help.

Psikolog Universitas Indonesia dan aktivis perempuan, Kristi Poerwandari merupakan pendiri dan pengelola rumah aman: Utama yang terletak di Jakarta. Kristi menyatakan bahwa rumah aman pada dasarnya didirikan untuk memberikam rasa aman bagi korban dan survivor, sekaligus pendampingan, pemberdayaan serta advokasi dan menyediakan sumber daya yang diperlukan para perempuan korban atau survivor.

“Rumah aman merupakan tempat tinggal sementara bagi perempuan dan anak-anak yang mengalami eksploitase seksual, kekerasan domestik dan juga perdagangan manusia,” ujar Kristi Poerwandari.

Rumah aman umumnya didirikan karena ingin memfasilitasi korban agar hidup tanpa kekerasan, dapat keluar dari persoalan dan lebih baik hidupnya.

Di rumah aman Utama misalnya, para korban atau survivor akan diberikan pendampingan pribadi berupa konseling untuk penguatan psikologis, pelayanan kesehatan bagi korban sekaligus mengatasi kekerasan. Umumnya dalam masa-masa berada di rumah aman ini, mereka akan diajak untuk bercerita agar memulihkan luka-luka hatinya.

Sejumlah korban atau survivor yang bisa tinggal di rumah aman rata-rata merupakan: korban kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan di masa pacaran), korban perdagangan manusia (trafficking), korban kekerasan seksual dan korban kekerasan gender yang mengalami kehamilan tidak diinginkan. Mereka akan tinggal sementara di rumah aman dan selanjutnya ada individu-individu yang akan membantu para korban.

Sejumlah negara sudah mendirikan rumah-rumah aman ini. Di Jepang didirikan di tahun 1993 dan saat ini sudah terdapat 13 safe house disana. Sedangkan di Indonesia baru sedikit rumah aman yang berdiri dan hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta. Namun di sejumlah daerah, terdapat Forum Pengada Layanan LSM yang dibuat untuk membantu para korban kekerasan untuk menyelesaikan persoalan mereka.


(Foto: ilustrasi/ pixabay.com)
(Sumber: safehouse-denver.org, http://twsh.org/who-we-are)

*Zur’ah Budiarti- www.Konde.co

Persoalan seksisme, sekaligus diskursus tentang perjuangan feminisme sebenarnya sudah banyak ditulis dan diperbincangkan. Seperti jika kita membaca tulisan dan kisah para feminis Naomi Wolf, Julia Kristeva. Bahkan yang cukup sering didengar masyarakat Indonesia, adalah penulis-penulis Indonesia. Kartini, Roehanna Koeddoes, SK Trimurti adalah beberapa perempuan yang kemudian banyak menuliskan gagasan soal perjuangan perempuan di Indonesia.

Sejak membawa isu ini, baik ke dalam karyanya juga sisi kehidupannya, gagasan feminisme menjadi lebih banyak dikenal dan diperhatikan masyarakat. Namun, persoalan seksisme memang selalu terlihat bahkan di era sekarang dimana media banyak bermunculan. Ini menunjukkan bahwa perempuan tak pernah lepas dari obyek seksisme.

Di industri musik pop, Emma Watson, Emma Stone, sampai penyanyi lagu All About That Bass yakni Meghan Trainor, secara kritis juga melakukan pembelaan pada tubuh perempuan. Mereka yang tumbuh, dan besar di Industri layar kaca ini, mengkampanyekan ide soal tubuh dan nilai-nilai kecantikan yang menjerat perempuan. Sesuatu yang sangat diagungkan justru oleh dunia entertainment itu sendiri.

Pada akhirnya, hal itu menjadi dualisme yang menohok perempuan. Bagaimana tidak? realita kehidupan sosial masyarakat rasanya juga masih menyuguhkan kalimat basa basi.

“Jangan gendut – gendut nanti susah dapat pacar.”

Ataupun, “Kurus banget sih? cacingan ya?.”

Body Shaming yang berarti segala bentuk tindakan, atau komentar terhadap penampilan fisik, secara sadar maupun tidak sadar mendominasi pembicaraan kita, hampir di semua level pergaulan.

Isu tentang diskrimasi gender yang berakibat pada subordinasi perempuan di ruang publik misalnya, seperti pada sektor pendidikan dan lingkungan kerja, maupun beban kerja ganda bagi seorang perempuan adalah salah satu contoh yang menimpa perempuan hingga sekarang ini.

Hal lain yaitu, kerap kita temui candaan, lelucon, tertawaan yang lakukan itu untuk menyapa teman – teman lama, atau di era baru seperti sekarang, semakin mudah menemukan body shaming dalam interaksi – interaksi di media sosial. Hampir semua orang, jika saja mau mengakui, pasti pernah sekali atau dua kali mempraktikkan body shaming walau mungkin ada beberapa yang tidak dimaksudkan ke arah situ.

Misalnya pada pola kerja satu platform social media yang mengedepankan foto. Seseorang kerap dengan entengnya menggerakkan jempol untuk mengetik kalimat yang sifatnya candaan, hiburan, bahkan pujian pada penampilan atau fisik dalam foto yang diunggah di kolom komentar.

Sebagian orang percaya dan menilai bahwa candaan ini bukanlah hal yang dianggap terlalu substansial, hingga seringkali korban body shaming yang berani protes atau melawan, dianggap terlalu baper menyikapi guyonan.

Tapi maukah kita sedikit lebih berhati – hati memilih konteks pembicaraan saat bercengkrama, dan tidak menjadi pelaku body shaming? Sebab jika berusaha memahami, kita tentu sepakat bahwa pelaku body shaming secara tidak langsung turut menurunkan level ketidakpercayaan diri, menyumbang kestressan pada seseorang bahkan bisa sefatal menyebabkan depresi.

Dua dari tiga selebriti asal Amerika yang disebutkan sebagai contoh, Meghan Trainor dan Emma Stone mempunyai cerita yang berangkat dari pengalaman pribadi. Saat keduanya yang sering wira – wiri di bawah lampu kamera, mereka mengalami stigma untuk ukuran tubuh dan penampilan mereka. Padahal parameter ideal bagi kecantikan dan proporsional tubuh itu selamanya tidak akan bisa ditemukan. Manusia hanya akan terus menerus mengatai sesamanya sejak perbedaan itu menjadi keniscayaan. Meghan, mendapat cibiran dengan bentuk tubuhnya yang oversize, sementara Emma dinilai terlalu kurus dan sering dikira sakit dengan bentuk tubuh yang dimilikinya.

Masyarakat kita kebanyakan terjebak, dengan gambaran yang dibuat secara seragam oleh pihak – pihak kapitalis, untuk memudahkan mengontrol dan mengeruk keuntungan dengan memperdayai pemikiran dan selera.

Padahal sebenarnya tubuh dan kecantikan terus menerus mengalami pergeseran tren, bergantung pada dominasi pasar. Industri fashion dan kosmetik adalah alat – alat yang menggerakkan perempuan untuk bergaya seperti barbie.

Di masa semua hal terlihat sama ini, kita akan berdiri pada kondisi yang sulit untuk tampil sebagai diri sendiri. Hal ini menunjukka bahwa perempuan yang berbeda dengan entitas lain harus siap untuk di-bully.

Emma Stone dan Meghan Trainor mereka berdua tak jarang mendengar ujaran – ujaran yang ditujukan langsung kepada mereka untuk memperbaiki body mereka agar terlihat menarik/sama dengan kebanyakan orang. Kalimat “We're shaming each other and we're shaming ourselves, and it sucks." yang kemudian diucapkan Emma Stone untuk mewakili diskursus ini.



*Zur’ah budiarti, a learner and freelancer graphic designer yang senang mengamati society. Memperlakukan blognya sebagai ruang privat, sedang concern belajar memahamkan banyak perempuan dan laki – laki soal feminisme. Salah satu cara yang sudah ditempuh, ialah menelurkan novel yang diterbitkannya secara independen berjudul SEMU.
http://zurahsukasuka.blogspot.co.id/