Bagaimana Sebaiknya Kita Memperlakukan Orang Lain?


Melly Setyawati- www.Konde.co

Mengapa Attitude itu lebih Penting daripada IQ? Pertanyaan ini beberapa bulan belakangan menjadi pemikiran saya terus.

Pertanyaan ini saya adopsi dari artikel di World Economic Forum, cukup menyentil diri sendiri dan menjadi dasar saya ingin mendalaminya:

Sebulan lalu, Nizar, anak tetangga curhat ke saya “Iya tante, apalagi kalau pas dapat customer di Kelapa Gading”.

Iya, Nizar baru saja diterima oleh manajemen rumah makan cepat saji. Kebetulan ditempatkan di wilayah Kelapa Gading, yang dikenal dengan kawasan elite di Jakarta.

Karier Nizar lumayan berkembang, mulai bekerja di bagian dapur hingga dirinya sekarang sudah berada di depan, sebagai Kasir. Nizar sudah tidak tahan bekerja, dan ingin segera diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Pemerintah kota DKI Jakarta.

Sebab Nizar sering merasa deg-degan jika menghadapi pelanggan yang suka marah-marah kalau pesanan yang diinginkan tidak ada. Inilah yang membuatnya ingin c epat keluar dari profesi yang digelutinya saat ini.

Meskpun kita tahu marah bisa saja dimaknai sebagai salah satu bagian dari ekspresi manusiawi.

Seorang supir angkot pernah memarahi saya sebab saya meletakkan uang ke dashboard mobil tanpa berkata-kata lalu pergi nyelonong begitu saja.

Lalu saya balik lagi bertanya, “Ada apa pak?.”

Dia dengan marah berkata “harusnya tidak dilempar begitu, saya memang supir angkutan tapi jangan begitu  caranya”.

Saya heran, maklum sebagai orang daerah yang menjadi urban di Jakarta, saya belum pernah dimarahi orang di depan umum di daerah saya.

Bagi saya menaruh uang tanpa berkata itu hal biasa, penumpang lain juga melakukannya tetapi bagi bapak supir itu bukan hal yang biasa.

Saya tidak mau bikin tambah panjang, khawatir mood pagi hari terganggu. Akhirnya, saya meminta maaf saja. Meskipun tidak ada balasan respon dari bapak, beliau langsung menjalankan mobilnya.

Sikap pelanggan Nizar dan supir angkut tadi apakah bentuk attitude problem?

Mirriam webster, mendefinisikan attitude problem sebagai bentuk unfriendly and uncooperative behaviora. Bisa anda bayangkan dalam situasi pertemanan dan situasi kerja, adakah problem tersebut?

Penelusuran dari mesin google menunjukkan, ada beberapa tanda attitude problem, ada yang menyebutkan 10, terus 6 dan 20. Yang pastinya, bentuk attitude problem ini seringkali kita hadapi dalam keseharian, mulai dari ungkapan merendahkan kompetensi orang, bahasa tubuh yang sinis, nada yang kasar, merasa dirinya lebih benar serta sikap yang tidak apresiatif.

Saya pernah mengalaminya.  Kog, saya merasa capek ya, mendengarkan dan membuat sumpek di dada. Meskipun di kepala saya masih menolerir sikap-sikap itu, maklum anak tahan banting.

Dalam salah satu artikel di situs World Economic Forum,  disana mencantumkan tentang mengapa attitude lebih penting daripada kecerdasan intelektual (IQ)?

Worl Economic forum menganggap, attitude  itu bisa mendorong seseorang untuk lebih berkembang dan produktif serta tidak menyerah pada kegagalan dan keputusasaan. Itulah mengapa, orang-orang kelas dunia seperti Steven Spielberg, Oprah Winfrey dan Walt Disney bisa sukses. Mereka semua pernah mengalami kegagalan seperti Oprah Winfrey dan Walt Disney pernah dipecat dari pekerjaan, Steven Spielberg pernah ditolak masuk sekolah sinematografi.

Beberapa perusahaan sudah mulai mengembangkan pendekatan mindful leadership dalam tata kelola kelembagaannya, wujudnya bisa kita lihat pada manajemen GOOGLE, PT. Kereta Api Indonesia (KAI) yang memulai tradisi menundukkan kepala kepada penumpang, serta masinis yang melambaikan tangannya kepada seorang anak balita yang juga melambaikan padanya, pegawai bank yang menjabat erat seorang nasabah yang hadir, juga seorang pejabat yang menundukkan kepala kepada rakyat.

Forbes mengungkapkan bahwa ribuan orang yang mengikuti program mindful leadership  merasakan dampaknya seperti :
Produktifitas meningkat
Meningkatkan peran diri dalam pengambilan kebutusan
Lebih banyak mendengarkan pendapat orang
Stressnya bisa berkurang drastis

Pendekatan ini juga bisa meminimalisir proses kecurangan dalam manajemen dan kompetisi yang tidak sehat. Sehingga kelembagaan bisa meraih keuntungan lebih sebab bisa mengurangi biaya – biaya tidak terduga.

Begitupula dalam relasi pertemanan, mungkin bisa mengurangi angka tingkat patah hati dan juga baperan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Sumber :

1.Here's why your attitude is more important than your intelligence; World Economic Forum
2.How To Create Mindful Leadership, Forbes