Perempuan dan Musim Muram


“Pagi ini musim muram kembali datang.”


Luviana – www.konde.co

Begitu pesan dari Gadis dalam pesan pendeknya. Ia adalah teman perempuan kami.
Ia tak bisa bangun lebih cepat. Matanya sembab dan berkabut, setelah laki-laki itu pergi dari sini semalam.

“Laki-laki yang tak peduli pada musim muram,” katanya.

“ Apa yang dilakukan laki-laki itu sekarang?,” tanyaku.

“Pasti saat ini, dia sedang merokok di sepanjang trotoar jalan, dengan musik di mobil kencangnya, dan gadget yang selalu menemaninya.”

Laki-laki ini tak pernah peduli pada musim muram. Ia akan bergegas pergi, tak sejengkalpun ia tengok si gadis musim muram teman kami. Karena ia harus terus melanjutkan hidupnya, itu katanya. Yang jelas ia tak mau bersentuhan dengan musim muram.

Musim ini memang muram. Banyak kabut menghalangi jalan. Di kegelapan, semua terkadang merepotkan. Gadis di tepi jendela itu selalu menangis ketika musim muram datang. Ia ingat laki-laki ini dulu sering mengkhianatinya, ia ingat petaka asmara yang dulu pernah menimpanya. Ia ingat bagaimana laki-laki ini telah melacurkan janjinya.

Namun laki-laki ini selalu datang lagi. Memohon maaf.

Namun tetap tak pernah ada perubahan.

Si gadis, selalu sedih dan menyebut ini sebagai musim muram. Laki-laki itu tak pernah mau mendengarkan ceritanya. Ia bosan dengan musim muram, ia selalu melacurkan janjinya di musim muram. Ia selalu ingin pergi, mencari musim yang baru, yang bukan musim muram. Ia terus bergegas pergi padahal si gadis selalu menunggunya di pinggir jendela. Tak ada cerita itu, tak ada yang mau mendengarkan cerita musim muram.

“Apa yang bisa kau lakukan di musim muram?,” Tanyaku pada Gadis.

Jendela masih terus berkabut, tak ada lalu lalang orang. Tukang roti hanya mau lewat sesekali di jalanan muram, hanya di siang hari ketika matahari sudah makin tinggi. Si tukang air, hanya dua kali melewati jalan ini, karena ia harus menampung air di musim muram.

Si Gadis hanya bisa menenangkan pikirannya.

Jendelanya kini ia tutup, ia tak lagi berharap, pada laki-laki yang meninggalkannya ketika musim muram.

Jalanan kota kini memang sedang sunyi, tak banyak orang yang singgah. Hanya sesekali orang yang keluar masuk toko makanan.

Laki-laki itu kemudian turun dari mobilnya, masuk ke sebuah kedai kopi. Tangannya masih menyulut rokok. Minuman di gelas ada di tangan kanannya. Ia masuk dan merasakan kegembiraan itu. kegembiraan yang tentu berbeda dengan musim muram.

Kota ini makin senyap. Hanya ada sesekali lolongan anjing, laki-laki itu masih menghisap rokoknya dalam-dalam.

Dan si Gadis, menutup jendelanya.

“Kabut tak akan selalu begini, selalu ada jalan keluar dari musim muram. Jika Tuhan tak membukakan pintu, ia akan membukakan jendela,” ujar Gadis.

Bagaimana dengan laki-laki yang menolak musim muram? Apa peduliku, tanya Gadis setelah itu. Akan ada laki-laki lain yang datang ketika musim lain datang.

Si Gadis lalu memasang lampu, di dalam cahaya itu ia melihat masih ada harapan baru.


(Gadis, adalah salah satu kawan perempuan kami. Ia merupakan salah korban dari komitmen atau relasi dalam pacaran. Pacarnya bisa datang, atau pergi begitu saja. Dulu, Gadis selalu berharap laki-laki ini bisa berubah. Namun ternyata sia-sia. Kini hidupnya sudah jauh lebih baik, ia bisa melepas traumanya secara perlahan).


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)