Putus Cinta, apa yang Harus Dilakukan?


Luviana- www.Konde.co

Putus dari pacar. Teman saya yang seorang dosen baru saja mendengarkan curhat dari mahasiswinya. Nilai mahasiswinya menurun dan ia juga jarang aktif di kampus lagi. Ternyata, ia baru saja putus dari pacarnya.

Bagi banyak orang, putus atau berpisah merupakan saat-saat yang sulit. Bahkan pada beberapa orang, ini bisa menjadi masa tersulit dalam hidupnya. Karena dengan tiba-tiba orang yang selalu ada di dekat kita harus hilang, pergi dan tak kembali. Suasana yang dulu dilakukan bersama-sama, kini dilakukan sendirian.

Putus memang tak pernah mudah.

Apalagi jika putus dan harus berpisah karena kita menjadi korban kekerasan. Dilema yang terjadi, kehilangan hingga proses keberanian untuk melawan dan menolak kekerasan. Beberapa teman yang mengalami hal ini harus melakukan banyak hal, dari menemukan teman curhat, harus konseling ke psikolog dan melewati masa pahit dalam suasana yang berganti-ganti.

Putus atau berpisah memang membenamkan diri kita pada hal yang sangat tidak enak.

Dan putus, ternyata selalu membutuhkan perencanaan yang baik. Karena pertanyaan yang selalu mengintai ketika kita putus adalah:

1. Apa yang harus kita lakukan setelah ini?
2. Sampai kapan kita akan menuntaskan ini?
3. Bagaimana cara kita mengakhiri persoalan ini?
4. Lalu siapa saja orang yang bisa kita hubungi?
5. Ruang mana saja yang bisa kita masuki untuk mengakhiri persoalan ini?

Dalam situsnya, Help Nona sebuah organisasi yang berinisiatif bagi anak-anak muda perempuan Indonesia menuliskan soal putus ini. Astrid Wen MPsi, dari Help Nona menuliskan perencanaan yang harus perempuan lakukan ketika putus:

1. Yakinkan Diri Kita
Apakah Nona siap untuk berpisah dengan pasangan? Lebih lanjut, bagaimana Nona akan menyampaikan keputusan Nona ini padanya? Nona bisa menimbang hal baik dan buruk apa saja yang ada pada hubungan kalian. Ini akan mengingatkan Nona pada alasan awal mengapa Nona memutuskan untuk berpisah.

2. Sampaikan Pada Orang Terdekat

Biarkan orang terdekat tahu apa yang ada di benak Nona. Buat mereka paham bahwa Nona ingin berpisah dengan pasangan Nona. Sampaikan kebutuhan Nona untuk didukung oleh mereka, sehingga mereka juga bisa membantu bila ada hal yang tidak diinginkan terjadi.

3. Minta Ditemani
Jika Nona merasa penting untuk putus sambil bertatap muka, minta teman atau keluarga Nona untuk menemani. Mereka bisa memantau dari kejauhan sehingga Nona merasa aman. Apabila Nona merasa tidak aman untuk memutuskan langsung secara tatap muka, jangan mengabaikan perasaan tersebut, ya. Hindari memaksakan diri untuk bertemu langsung, apalagi di tempat sepi yang hanya berdua. Pertimbangkan kemungkinan putus lewat telepon atau lewat pesan.

Saya mencoba bertanya pada beberapa teman yang mengalami putus atau patah hati. Macam-macam yang mereka lakukan. Ada yang memilih untuk keluar kota dalam waktu yang lama, mencari suasana baru, kesibukan baru, saat inilah ia bisa menemukan banyak hal yang menyenangkan dan berbeda dari hidupnya.

Ada juga yang memilih untuk menulis, membuat film dan bermain musik, karena cara inilah yang dianggap paling ampuh. Dengan bermain musik dan menulis misalnya, mereka menjadi lebih produktif.

Namun ada juga yang memilih harus berada diantara banyak teman sehingga mereka mempunyai ruang untuk bercerita.

Dan jika kita sudah memutuskan sesuatu, penting untuk belajar agar kita selalu konsisten, misalnya: hindari bertemu atau berkomunikasi dengan pacar atau pasangan yang melakukan kekerasan. Karena ini merupakan cara yang ampuh agar kita cepat keluar dari persoalan. Inilah problem yang tak mudah, mengakhiri sesuatu yang sebenarnya sulit, lalu keluar dari semua ini.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)
(Referensi: helpnona.com)