Sumilah, Narasi Perempuan Yang Terus Hidup (1)


*Abdus Somad- www.Konde.co

Seorang perempuan itu berkeliling di sekitar area pementasan untuk menawarkan snack kripik singkong kepada penonton untuk dinikmati bersama. Setiap makanan yang diterima, penonton diajak untuk menyampaikan kalimat, “Ajal Untuk Kami Kehormatan Untuk Anda Tuan Pangemanan.”

Di panggung itu terdapat dua alat pembakar sate, dua orang perempuan terlihat sedang membakar sate dengan khusus berlatar belakang papan bertuliskan “Warung Sate Kambing, Gule Tongseng Bu Milah” di pojok panggung.

Tak ada yang bisa menjadi bagian dari kedua perempuan tersebut, mereka seperti masyarakat pada umumnya, membicarakan sesuatu yang sedang ramai dibicarakan atau membicarakan sesuatu yang ganjil dari roda kehidupan ini. Pembicaraan keduanya menyinggung perihal Minke, sosok yang dikaitkan dengan penulis naskahnya, Pramoedya Ananta Toer.

“Begini mas Tuan Pangeman, setahu saya mas Minke pada akhirnya meninggal dunia tidak lama setelah pulang dari pengasingannya. Kalau boleh tahu bagaimana ceritanya kok mas Minke bisa meninggal dunia secepat itu?,” kata salah satu perempuan pedagang di pasar, yang diperankan oleh Svetlana.

Ini adalah sekelumit pementasan teater berjudul “Selamatan Anak Cucu Sumilah” yang diadakan Teater Selasar, Teater Tamara atau Kipper, Studio Malya, teater Gajah Mada yang didukung IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan), , Fopperham dan program Peduli di Fisipol Universitas Gajah Mada, 30 November 2018 lalu. Pementasan ini mengisahkan seorang perempuan yang tak pernah menyerah bernama Sumilah.


Sumilah, Perempuan Tak Pernah Menyerah

Lalu, siapakah Sumilah? Sumilah adalah sosok penyintas yang menjadi korban salah ditangkap pada peristiwa kelam di tahun 1965. Ia dibawa ke penjara Wirogunan, di tempat itu ia ditahan selama 6 bulan, selanjutnya ia dipindah ke penjara Bulu dan terakhir dibawa ke Camp Plantungan yang merupakan penampungan para penderita penyakit Lepra. Selama 14 tahun lamanya ia dipenjara.

Saat ditangkap, Sumilah masih kelas 4 Sekolah Dasar yang umurnya saja masih 14 tahun, ia sendiri tidak mengerti gejolak politik yang ada kala.

Selepas dari penjara, ia mencoba untuk bertahan hidup dengan berjualan sate kambing di pasar Prambanan. Dari jualan itu ia mendapatkan kesempatan untuk bisa menjajaki kehidupan lebih baik, rasanya tidak ada yang ingin memilihan untuk bisa bertahan hidup dengan stigma sebagai tahanan politik, namun Sumilah memilih untuk terus hidup. Walaupun stigma tersebut selalu mengakar sampai ke anak-anaknya.

Pementasan tersebut berupaya memperingati perjuangan hidup Sumilah yang diberi judul ”Selamatan Anak Cucu Sumilah”.

Pertunjukan yang dirancang sebagai pertunjukan interaktif dengan desain panggung panoptikon sebagai ide utamanya. Sebuah menara pengawas diletakkan di tengah panggung selama pertunjukan berlangsung. Dari pertunjukan ini disusun sebuah peristwa yang dimulai dari pengolahan masakan daging kambing dan pembacaan nukilan novel “ Rumah Kaca” karya Pramoedya Ananta Toer yang kelindannya dengan narasi perjuangan hidup Sumilah.

“Kami ingin menunjukan korban 65 selama ini ditarik masalah politik hukum yang berujung pada diskriminasi, itu begitu kerasnya kepada korban penyintas, kita ingin menunjukan ini lo Sumilah salah satu contoh dia tidak tahu apa-aap yang kemudian menjalani 14 tahun kurungan, dia gak ngerti apa-apa,’’ kata Svetlana aktor Kipper II, di Fisipol UGM, Jum’at (30/11/2018).

Svetlana mengungkapkan pada adegan penyesetan daging kambing itu adalah sebuah simbol kekerasan yang terjadi pada korban 65 yang menurutnya perlu disampaikan kepada publik. Bagi Svet sendiri, sudah jelas para penyintas 65 adalah korban kekerasan para penguasa yang hendak mengambil alih tahta kekuasaan kala itu, “Itu ada penyesatan daging, itu menunjukan kekerasan terhadap para penyintas,’’ ujar Svetlana.

Menurutnya, banyak korban 65 selepas dari penjara terus mendapat stigma dari masyarakat, pernyataan bahwa mereka adalah kelompok orang jahat dan pemberontak seolah tidak pernah usai menusuk-nusuk tubuh para penyintas. Padahal menurut Svet, hal tersebut tidaklah benar, tidak semua orang yang ditangkap pada tahun 1965 adalah orang yang memberontak.

“Korban tidak hanya mendapatkan stigma sebagai orang jahat tapi juga memberontak, mereka gak tahu apa-apa dari desa gak tahu apa-apa ditangkap dimasukkan ke penjara belum lagi di luar mengalami stigma yang kuat,’’ terangnya.

Ghozali selaku sutradara pementasan mencoba memberikan penjelasan latar belakang pementasan Sumilah, menurutnya sejak awal sudah berkeiinginan mengangkat hidup Sumilah. Ghozali menilai ada yang berbeda dari kisah Sumilah, menurutnya, selama ini narasi yang muncul tentang 65 itu kebanyakan dari tokoh terkanal, seniman besar, tokoh intelektual jarang ada kisah dari orang biasa seperti Sumilah.

“Ketika diceritakan Sumilah, ini harus diceritakan karena peristiwa 65 sangat komplek sekali bahkan orang gak tahu menjadi korban seperti ibu Sumilah,’’ ujar Ghozali.

Ghozali menyampaikan alur pertunjukan yang dipilih pun menyesuaikan kehidupan sehari-hari Sumilah saat berjualan sate kambing di Prambanan yang kemudian diulas dengan memperlihatkan adanya praktek kekerasan yang sampai hari ini terus dilakukan.

“Kegiatan yang sering digunakan Bu Sumilah, itu kegiatan yang disukai bu Sumilah, namun metafornya pencacahan, kita ingin menjelaskan kekerasan melalui performanya seperti menyayati daging, menusuki, sampai menggoreng ini menunjukan korban menjadi korban karena gorengan isu ini terus digoreng, kita ingin gambarkan lewat itu,’’ kata Ghozali.

Dari pertunjukan ini, Ghozali mendapatkan sebuah energi baru yang hanya muncul saat pertunjukan para korban penyintas. Bagi Ghozali saat ibu-ibu penyintas pentas, ada aura spiritual yang hidup kembali dari masa-masa kelamnya. Energi itu terus muncul menjadi bara penyemangat bagi para penyintas untuk terus betahan hidup di tengah kerasanya stigma masyarakat sampai hari ini.

“Kita sampaikan itu monumen sejarah hidup, ibu-ibu adalah momen hidup yang energinya ingin kami tularkan, energi itu yang ingin kami sampaikan lebih spiritual sifatnya. Saya percaya bahwa ketika banyak hal buntu, pencarian spiritualah yang harus ditempuh,’’ ungkapnya.


Penolakan Masih Melekat, Pentas Sempat Tidak Direstui

Naskah dan pertunjukan “Selamatan Anak Cucu Sumilah” sebelumnya hendak dipentaskan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Namun sebelum proses pementasan itu terjadi, penolakan sudah dilakukan pihak pengelola TBY dengan alasan naskah tersebut sangat sensitif untuk disampaikan kepada publik.

“Sempat ditawarakan ke TBY tapi dicancel karena isunya sensitif di bulan september,’’ kata Ghazali yang langsung mengerti apa maksud penolakan itu.

Bagi Ghozali sendiri, proses pementasan dengan melibatkan ibu-ibu korban kekerasan 1965 dengan konsep teater kerap mengalami penolakan sebelum pentas, bahkan ia pernah mengalami proses pembatalan oleh panitia H-3 sebelum pementasakan dilakukan. Meskipun demikian Ghozali ingin karyanya bisa dinikmati masyarakat dengan luas.

“Menampailkan ini ternyata tidak mudah, karena selalu ada kontekstualisasi, pertimbangan dialog, saya ingat pada saat H-3 panitia batalkan kami harus meresponya,’’ kata Ghozali.

Di balik proses tersebut, ada hal yang dipetik dari Ghozali sendiri, ia menyaksikan sendiri bagaimana-ibu-ibu penyintas terus kuat dan bahkan terus hendak melakukan kumpul bersama setelah melakoni pementasan pertama teater Tamara di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM.

Menurut Ghozali hal itu merupakan sebuah keajaiban, dimana pertunjukan menjadi medium bagi ibu-ibu penyintas untuk saling merawat dan menguatkan antar sesama (bersambung)


*Abdus Somad, penulis dan aktivis lingkungan. Koresponden www.Konde.co di Yogyakarta