Apa Arti Sebuah Nama?


Luviana- www.Konde.co

“Jika di rumah saya dipanggil bu Andre, jika disekolah anak saya, saya dipanggil bunda Rendra. Siapa nama saya sebenarnya, orang tidak pernah tahu.”

Keluhan ini pernah dilontarkan salah satu kawan perempuan saya. Karena lama-lama ia merasa risih dengan sebutan panggilan yang sebenarnya tak pernah menyebut namanya. Ketika ia di sekolah anaknya, ia dipanggil bunda Rendra, karena nama anaknya adalah Rendra. Ketika di rumah, ia akan dipanggil bu Andre, karena nama suaminya adalah Andre. Demikian juga dalam pertemuan-pertemuan besar lainnya. Hingga orang tak tahu bahwa nama dia sebenarnya adalah Santi.

“Hanya Santi. Santi saja. Tolong panggil aku Santi,” begitu keluhnya di suatu siang.

“Mungkin ini tidak penting bagi banyak orang, tapi buatku, nama tetap akan menggambarkan siapa kita di masa lalu dan apa yang aku lakukan di masa sekarang.”

Itu Santi. Ia merasa risih karena sejumlah teman perempuan lainnya mulai mengeluhkan ini.

“Cuma aku loh yang dipanggil Tika, ini karena aku lajang. ..”.

Tika, teman perempuan lainnya tampak tersenyum.

Benar saja, hanya kawan kami yang lajang yang dipanggil sesuai namanya. Jika ia sudah menikah atau punya anak, pasti identitasnya jadi berubah. Akan dipanggil dengan nama anaknya atau nama suaminya. Padahal kawan-kawan kami lebih senang jika mereka dipanggil dengan namanya saja, tak larut oleh sebutan-sebutan dan identitas baru yang melekat. Karena konsekuensinya, jika ia menjadi nyonya Andre, maka ia harus merepresentasikan siapa suaminya, demikian juga pelekatan identitas lainnya.

Identifikasi ini kemudian juga menimbulkan pembedaan identitas atas perempuan yang masih lajang dengan perempuan yang sudah tak lajang. Orang jadi mengenali jika ia lajang atau sudah menikah. Padahal identitas ini sering malah membelenggu perempuan.

Feminis Mary Daly mengatakan bahwa penyebutan nama baru ini, sudah mencuri kekuatan perempuan. Hal ini seringkali juga tidak lagi menyebutkan pengalaman dan kehidupan perempuan itu sendiri. Pengalamannya sebagai seorang individu/ pribadi menjadi dihilangkan begitu saja.

Feminis Susan Grifin dalam Maggie Humm (Dictionary of Feminist Theoty) menyebutkan bahwa penamaan (pengidentifikasian) ini bisa membekukan pengalaman perempuan dan memisahkan segala sesuatu yang berkaitan satu sama lain tanpa namanya. Hal inilah yang kemudian mematikan kesadaran perempuan atas dirinya sendiri.

Sebuah identitas bagi sebagian feminis memang bukanlah tujuan, namun ini adalah sebuah titik awal bagi keberangkatan dari sebuah proses kesadaran diri.


(Foto/Ilustrasi: Pixabay.com)