Revolusi Industri 4.0, Bagaimana Nasib para Pekerja?


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Sejarah, kini mencatat perkembangan teknologi telah mengubah proses produksi manusia. Proses ini dikenal dengan istilah revolusi industri. Hal ini dimulai dari temuan mesin uap, listrik hingga kecerdasan buatan berbasis aplikasi digital yang kita kenal sebagai revolusi industri 4.0.

Revolusi industri saat ini diwarnai dengan datangnya teknologi baru, banjir informasi. Dan kini revolusi industri kerap dianggap sebagai sebuah arena ekonomi baru.

Namun sayangnya narasi mengenai revolusi industri yang digambarkan pemerintah sebagai era ekonomi digital cenderung menjadi narasi hegemoni khususnya di kalangan pekerja industri kreatif. Perbincangan mengenai big data, kecerdasan buatan. algoritma, teknologi baru kian dominan dalam diskursus revolusi industri saat ini.

Namun perbincangan yang riuh masih berkutat melalui otomasi dengan konsekuensi para pekerja yang resah, sehingga ada narasi tentang tenaga kerja manusia yang akan diganti dengan mesin. Ini adalah narasi yang banyak ditulis oleh negara dan pemilik modal.

Padahal otomasi kerja juga bisa bermakna lain, yaitu penguasaan alat teknologi oleh pekerja untuk mempermudah kerja, bukan justru mengganti pekerja dengan mesin. Hal ini juga berdampak pada pekerja perempuan.

Penguasaan narasi revolusi industri 4.0 oleh negara dan pemilik modal tidak saja berdampak pada prioritas negara, kebijakan pemerintah serta pendidikan yang hanya berpusat pada peningkatan teknologi dan keahlian, juga pada tersembunyinya ekspolitase para pekerja.

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Serikat SINDIKASI) merasakan bahwa narasi inilah yang kini terjadi. Padahal di satu sisi, nasib pekerja di dalam sektor industri media dan kreatif juga masih mendapat eksploitase sehingga mempengaruhi kesehatan fisik maupun mental. Selain kondisi kerja yang kurang istirahat, para pekerja di industri tersebut tidak memiliki kejelasan karir di masa depan.

Atas dasar ini, Serikat Sindikasi akan menggelar acara Festival Work Life Balance pada Sabtu, 9 Februari 2019 besok pukul 13.00-21.00 WIB di CoHive D.Lab, Jalan Riau No.01, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Acara tersebut merupakan kelanjutan dari Work-Life Balance Festival yang digelar perdana pada 2018.

Dalam Work Life Balance Festival 2019, SINDIKASI kembali mengangkat isu kesehatan mental dan pekerja ekonomi digital. Ketua SINDIKASI Ellena Ekarahendy mengatakan bahwa SINDIKASI telah berhasil membawa rekomendasi kesehatan mental sebagai bagian dari K3 yang disampaikan lewat kertas posisi “Kerja Keras Menukar Waras” pada Januari 2018. Kesehatan mental sebagai bagian dari K3 telah diakui lewat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 yang terbit pada akhir April 2018.

"Kegiatan festival tahun ini dimaksudkan sebagai langkah tindak lanjut untuk mendorong implementasi Permenaker No.5/2018, sekaligus menjadi ruang aspirasi antara pemangku kepentingan terutama pekerja untuk mewujudkan area kerja yang ramah kesehatan mental," ujar Ellena dalam pernyataan pers, Jumat (8/2).

Menurut Ellena, fleksibilitas yang menjadi ciri khas dalam era ekonomi digital telah berdampak pada kondisi kerja pekerja kognitif atau mereka yang bekerja memproduksi pengetahuan. Fleksibilitas tersebut membuat pekerja lepas, pekerja mandiri, atau pekerja independen semakin relevan dalam era yang kerap disebut sebagai revolusi industri 4.0. Individualisasi pekerja dan semakin tidak jelasnya hubungan kerja membuat para pekerja di dalamnya berada dalam kondisi rentan yang mengancam kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental.

Acara Work Life Balance Festival 2019 ini akan diawali dengan pemaparan hasil dan analisis survei yang dilakukan oleh Divisi Riset dan Edukasi Sindikasi. Survei tersebut menggunakan instrumen "Survei Faktor Psikologi Kerja" yang terdapat dalam Permenaker No.5/2018. Hasil survei akan disampaikan dalam talkshow "Kerja Keras, Kerja Waras" yang akan menghadirkan Fathimah Fildzah Izzati dari SINDIKASI, Ir Amri AK,MM dari Dewan K3 Nasional RI, dan dr. Jiemy Ardian yang merupakan seorang Praktisi Kesehatan Mental.

Kegiatan tersebut akan dilanjutkan dengan talkshow yang mengangkat mengenai perspektif pekerja terhadap revolusi industri 4.0. Talkshow bertema "Bolong-Bolong Industri 4.0" akan menghadirkan Ketua SINDIKASI Ellena Ekarahendy, Syarif Arifin dari Lembaga Informasi Perburuhan (LIP) Sedane, Imanzah Nurhidayat yang merupakan praktisi ekonomi digital, dan Ilhamsyah dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI). Work Life Balance Festival 2019 juga akan dimeriahkan penampilan pemusik dan pegiat seni lainnya.

Pelaksana Program Festival ini, Raisya Maharani mengatakan kegiatan festival tersebut diharapkan menjadi ruang bersama untuk mengetengahkan permasalahan kondisi ketenagakerjaan.

“Pengakuan kesehatan mental sebagai bagian dari K3 dalam Permenaker No.5/2018 perlu dikawal agar implementasinya bisa maksimal di era ekonomi digital.”