Hari Perempuan dan Panggung Politik Perempuan



Melly Setyawati- www.Konde.co


Jakarta, Konde.co- Jumat 8 Maret 2019. Jakarta, siang sangat terik. Namun ini tak pernah menyurutkan suara para perempuan, orasi para buruh perempuan, para pekerja rumah tangga, aktivis Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang tergabung dalam Komite International Women’s Day (IWD) untuk turun ke jalan menuju istana.


Mengambil tema panggung politik independen perempuan, para peserta aksi mengkritisi sejumlah hal untuk dibukanya ruang partisipasi perempuan yang selama ini belum mampu dijawab pemerintah.


Hari perempuan yang diperingati setiap tanggal 8 maret secara internasional di seluruh dunia tak pernah lepas dari peluh para pekerja pabrik yang menuntut kesejahteraan dan pilihan politik sejak tahun 1903 lalu.


Maka, panggung politik perempuan ini menjadi sebuah panggung pertunjukan dimana kritik kemudian disampaikan kepada pemerintah yang mempunyai pekerjaan rumah untuk menyelesaikan persoalan perempuan dan buruh perempuan.


Ada Gung Gunarti yang menyuarakan pedihnya pembangunan semen di Kendeng, Jawa Tengah. Ada Sumarsih, seorang ibu yang kehilangan anaknya ketika peristiwa kejamnya orde baru di tahun 1998, seorang pelopor aksi kamisan di depan istana. Ada Lenny suryani, seorang pekerja rumah tangga bersama para buruh pabrik yang merindukan upah layak dan hidup yang layak. 


Ada Ryan Kobari yang mempunyai kerinduan yang sama agar kelompok LGBT dihargai sebagai manusia lainnya, juga ada panggung media dimana Serikat Sindikasi dan Aliansi Jurnalis Independen merindukan media yang ramah pada perempuan. Yang lainnya, ada kelompok Lansia, disable, miskin kota yang dimiskinkan oleh situasi.



Tuntutan Komite IWD antaralain agar pemerintah mendukung Konvensi International Labour Organisation tentang penghapusan dan pencegahan kekerasan berbasis gender di tempat kerja, sahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pekerja Rumah Tangga, perlindungan pekerja migran dan hapus sistem outsourching, magang dan bentuk-bentuk yang tidak melindungi buruh. 


Tak hanya kampanye dan gembar-gembor di panggung massa menuju Pilpres dan Pileg 2019, namun ini adalah pekerjaan rumah tangga yang harus dicatat dan diselesaikan pemerintah yang akan datang. Panggung ini, yang penuh dengan dinamika ekspresi perempuan seharusnya menjadi dorongan perubahan bagi masyarakat.