Jokowi banyak bangun jalan desa. Riset buktikan ini dapat dukung pemberdayaan perempuan



File 20190507 103071 r2pd7f.jpg?ixlib=rb 1.1

Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia terbukti memberikan manfaat bagi perempuan.
www.shutterstock.com



Dinar Dwi Prasetyo, SMERU Research Institute

Selama empat tahun pemerintahannya, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengklaim telah berhasil membangun 3,387 kilometer jalan nasional di berbagai wilayah, atau sekitar tiga kali pulau Jawa.


Sedangkan, jaringan jalan desa sudah terbangun sepanjang 191,600 kilometer di 74,957 desa.


Dengan adanya kesenjangan infrastruktur antara desa dan kota, Jokowi menegaskan pentingnya infrastruktur jalan di pedesaan dan wilayah pinggiran Indonesia demi pembangunan ekonomi yang merata.


Berbagai penelitian memang telah menunjukkan hubungan yang kuat antara ketersediaan akses jalan dan transportasi di desa dengan akses terhadap pasar, peluang kerja, dan pengentasan kemiskinan.


Namun, belum banyak penelitian di Indonesia yang menyoroti dampak sosial dari pembangunan jalan di desa ini. Terlebih tentang bagaimana pembangunan jalan dapat berpengaruh pada kehidupan perempuan.


Lembaga Penelitian SMERU memiliki beberapa penelitian di berbagai wilayah Indonesia yang dapat mengisi kekosongan ini. Hasil dari beberapa penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan jalan di pedesaan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke berbagai layanan publik dan juga berpotensi mendukung agenda pemberdayaan perempuan.


Temuan menarik


Berdasarkan hasil olahan data Badan Pusat Statistik ada sekitar 62 juta perempuan yang tinggal di wilayah pedesaan.


Beberapa penelitian SMERU yang dilakukan dalam kurun waktu 2014-2017 di total sembilan kabupaten dan 19 desa di Indonesia mengindikasikan bahwa ketersediaan infrastruktur jalan dapat mendukung kegiatan perempuan desa. Dengan melakukan wawancara mendalam dan diskusi kelompok yang melibatkan lebih dari 200 perempuan desa, kami menemukan arti penting dari pembangunan jalan terhadap kehidupan perempuan di desa, di antaranya:


1. Akses terhadap layanan kesehatan.


Pada tahun 2017, salah satu penelitian SMERU menemukan bahwa kondisi infrastruktur jalan yang buruk merupakan salah satu faktor terbatasnya akses perempuan desa terhadap layanan kesehatan.


Sebagai contoh, sebagian perempuan desa lebih memilih melakukan persalinan di rumah yang lebih berisiko, daripada di fasilitas kesehatan karena tidak tersedianya akses jalan yang memadai.


Perbaikan kondisi jalan yang menghubungkan permukiman dan fasilitas kesehatan dasar di desa, seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dapat memberikan akses yang lebih baik terhadap perempuan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.


2. Akses terhadap layanan pendidikan dan pelatihan.


Seringkali di wilayah pedesaan, jarak sekolah dari permukiman cukup jauh. Sementara itu dengan waktu tempuh yang lama, risiko perempuan terhadap bahaya dan kekerasan semakin meningkat. Mereka bisa saja diculik dan menjadi korban kekerasan seksual di tengah jalan.


Penelitian SMERU lainnya pada 2016 menemukan bahwa kondisi jalan yang lebih baik mempersingkat waktu tempuh siswa dan guru perempuan untuk pergi dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Kondisi jalan yang lebih baik dapat menghemat 30%-50% waktu perjalanan mereka.


Bukan hanya mengurangi risiko dalam perjalanan, kemudahan akses menuju fasilitas pendidikan, dalam beberapa kasus, juga mengurangi jumlah orang tua yang tidak mengizinkan anak perempuannya bersekolah.


3. Akses terhadap pasar.


Meningkatnya mobilitas dan transportasi di wilayah desa, bukan hanya mempermudah perempuan untuk bepergian dan melakukan jual beli di pasar, tetapi juga dapat mengundang pembeli dari berbagai wilayah untuk masuk ke desa dan membeli komoditas lokal. Kesempatan ini menguntungkan perempuan desa karena seringkali mereka berperan sebagai penjual.


Salah satu studi SMERU menemukan bahwa terbukanya akses jalan dan transportasi turut merangsang pertumbuhan usaha-usaha kecil yang dimiliki perempuan di sepanjang jalan yang diperbaiki. Sebagai contoh, studi tersebut menemukan kios kecil yang menjual bahan makanan pokok dan makanan, sebagian besar dikelola oleh perempuan.


4. Akses terhadap kegiatan sosial dan politik desa.


Bagi perempuan, terutama yang aktif dalam kegiatan desa, kondisi jalan yang baik sangat penting untuk mendukung mobilitas mereka.


Temuan SMERU menunjukkan akses jalan yang baik turut mendukung kegiatan sosial perempuan di desa. Mereka biasanya menggunakan jalan tersebut untuk menghadiri arisan desa, kegiatan agama, maupun berkunjung ke desa-desa tetangga untuk melakukan kegiatan dan berbagi pengetahuan. Dengan terlibat dalam kegiatan sosial dan politik, perempuan desa dapat mengalami peningkatan kapasitas dan kepercayaan diri, terutama dalam hal pengambilan keputusan.


Mendukung penelitian sebelumnya


Temuan SMERU di atas senada dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui dampak pembangunan infrastruktur terhadap pemberdayaan perempuan.


Perlu kita pahami bahwa pola mobilitas perempuan cenderung berbeda dibanding laki-laki. Perempuan menghadapi beberapa kendala seperti adat dan norma sosial, beban rumah tangga, maupun keamanan sarana transportasi, yang membatasi mobilitas mereka. Misalnya, perempuan biasanya masih terkendala untuk bepergian karena tersandera pekerjaan rumah tangga yang harus mereka selesaikan.


Membangun akses jalan berarti menghilangkan salah satu hambatan mobilitas perempuan. Waktu perjalanan yang lebih singkat akibat kondisi jalan dan transportasi yang baik juga berpotensi mengentaskan kemiskinan waktu yang sering dialami perempuan. Pembangunan jalan memungkinkan perempuan lebih mudah melakukan kegiatan di luar peran domestik mereka.


Berbeda dengan riset sebelumnya yang mungkin fokus pada manfaat pembangunan infrastruktur jalan pada perempuan secara general, penelitian SMERU setidaknya dapat menangkap realitas kehidupan perempuan desa yang berbeda dengan perempuan di perkotaan. Dengan kekhasan lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya, perempuan desa memiliki pola mobilitas dan kebutuhan transportasi yang berbeda.


Dengan gencarnya pembangunan jalan di desa di bawah Jokowi, perempuan desa tentunya akan merasakan dampak baik tidak hanya dari kemudahan mobilitas tapi juga peningkatan kualitas hidup lewat pemberdayaan perempuan.


Peluang bagi pemberdayaan perempuan


Dalam jangka panjang, pembangunan infrastruktur jalan juga dapat memberi kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan perempuan yang lebih strategis. Kemudahan mobilitas dan akses perempuan desa nantinya akan berdampak pada meningkatnya kualitas kesehatan, kapasitas kognitif, dan kepercayaan diri perempuan desa. Ini merupakan modal penting bagi agenda pemberdayaan perempuan.


Namun, pembangunan infrastruktur jalan tidak dapat menjadi faktor tunggal. Pemerintah perlu menyadari keberadaan faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap kehidupan perempuan seperti, perspektif lokal soal pembagian peran domestik, kepemilikan dan kontrol sumber daya rumah tangga, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Berangkat dari pemahaman tersebut, pemerintah perlu memfasilitasi ketersediaan layanan pendukung yang lebih sensitif gender, salah satunya layanan modal dan perizinan usaha yang mudah diakses perempuan.


Lebih jauh, pemberdayaan perempuan bisa dilakukan dengan melibatkan perempuan dalam proses pembangunan jalan di berbagai level. Bukan hanya melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait desain dan fasilitas jalan yang sesuai dengan pola mobilitas perempuan, tetapi juga dengan mendukung perempuan untuk terlibat dalam pekerjaan konstruksi dan perawatan jalan. Harapannya, kesempatan ini, selain meningkatkan kapasitas perempuan, juga akan memperluas jaringan perempuan di pasar tenaga kerja.The Conversation


Dinar Dwi Prasetyo, Researcher, SMERU Research Institute


Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.