Mama dan Saya


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Ada anak yang merasa kesal dengan ibunya karena ibunya mengungkit masalah percintaannya yang kandas. Sang anak merasa hubungannya gagal karena ibunya. Lalu ada juga anak yang merasa kesal karena ibunya terlalu mencampuri urusannya dan terlalu mengatur semuanya.

Komunikasi antara anak dengan ibu memang kadang sering tidak berjalan dengan baik. Ada gap komunikasi, jaman, budaya dan perbedaan yang kadang bisa menjadi kendala dalam komunikasi.

Saya sendiri pernah mengalami masa-masa sulit berelasi dengan mama saya. Apalagi mama saya dari keluarga yang perempuannya dominan dan punya otoritas yang sangat tinggi. Saya pernah merasa sangat marah, kesal dan merasa kenapa mama saya begini?. Saya kala itu juga merasa mama egois, berkuasa dan tidak cinta dengan saya.

Tapi seiring dengan waktu dan komunikasi mulai berjalan baik, banyak hal yang tidak seperti yang saya pikirkan, banyak salah sangka dan prasangka yang tidak benar.

Begitu juga dengan mama saya, beliau juga belajar banyak untuk reframe pemikirannya tentang anaknya. Dibalik semua yang terjadi, dia bercerita bahwa kemarahannya selama ini karena dia takut jika terjadi sesuatu dengan anaknya, dan dia juga bercerita tidak bisa mengekspresikan isi hatinya dengan positif.

Beliau juga pernah bercerita waktu saya kanak-kanak, mama sakit dan diramal tidak akan berumur panjang. Katanya dia sangat sedih memikirkan saya yang nakal dan tidak bisa diam. Bagaimana kalo dia meninggal dan papa saya menikah lagi. Apakah ibu tirinya akan sabar dengan semua kelakuan saya?.

Cerita ini tidak pernah saya ketahui hingga saya dewasa dan terus terang saya jadi malu karena selalu berpikir kalau mama saya tidak pernah mencintai atau perhatian dengan saya dan hanya bisa marah saja. Di luar itu, masih banyak cerita yang salah kaprah karena kesalahan persepsi antara saya dan mama.

Saya percaya semua ibu selalu mengkuatirkan anaknya dan berusaha melindungi anaknya. Anak yang dikandungnya dan dibesarkan dari kecil hingga dewasa, dengan segala kesenangan dan kesusahan yang harus ditanggung dan dirasakan sendiri. Dan sang anak sering tidak pernah mengetahui apa yang dirasakan ibu.

Ketika anak sudah mulai remaja dan mempunyai dunianya sendiri, Ibu jadi tergagap tanpa sadar memperlakukan anak masih sama dengan ketika kanak-kanak. Sehingga sering terjadi perbedaan pemikiran. Anak mempersepsi Ibu sebagai orang yang selalu salah, begitu juga sebaliknya.

Ini karena situasi yang dialami ibu bisa berbeda dengan anak. Dan keputusan anak bisa saja benar. Meskipun seandainya dia salah setidaknya dia bisa belajar dari kesalahannya dan ibu kemudian menyemangati anak agar dia bisa kembali lagi berdiri dan berusaha yang terbaik.

Buat saya, hubungan saya dan mama adalah hubungan yang sangat unik. Kami semakin dekat ketika saya sudah semakin dewasa dan menjadi semakin mengerti ketika mama banyak bercerita. Jika tidak ada komunikasi seperti saya dan mama, bisa jadi kami akan sulit menerima satu dengan yang lain. Namun mamalah yang memulai, mama juga yang selalu menyediakan ruang, sayapun mengikutinya.

Bagi saya, Mama tetaplah super one. Ia nomer satu, tak pernah kami saling meninggalkan. Pun ketika saya sedih dan sakit atau hingga mama sakit dan meninggal kemudian. Hubungan saya dan mama adalah yang terbaik. Mama adalah super one.