Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Siang itu kurang lebih 2 tahun yang lalu, para aktivis buruh berkumpul, kebanyakan adalah perempuan. Para perempuan buruh ini tergabung dalam Aliansi Stop Kekerasan, Pelecehan dan Diskriminasi di dunia Kerja. Aliansi ini terdiri dari serikat-serikat buruh dan sejumlah organisasi buruh.

Hari itu mereka berkeliling untuk menemui Menteri Tenaga Kerja, Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo juga menemui sejumlah kementrian terkait yang berhubungan dengan buruh.

Pertemuan itu dilakukan agar pemerintah, asosiasi pengusaha maupun DPR sepakat untuk menyetujuinya Konvensi ILO untuk stop diskriminasi, pelecehan dan kekerasan di dunia kerja. Para aktivis buruh merasa gerah, jika terjadi kekerasan, diskriminasi dan pelecehan pada buruh maka untuk menuntut pelaku sampai pengadilan menjadi sangat sulit. Selalu ada jawaban bahwa: tidak ada mekanisme hukum khusus yang mengatur kekerasan yang menimpa buruh.

Kekerasan di dunia kerja adalah kekerasan yang terjadi pada para pekerja dari dan di rumah, di jalan, hingga di tempat kerja. Pelecehan dan kekerasan serta diskriminasi juga banyak menimpa perempuan pekerja, Pekerja Rumah Tangga atau PRT, buruh dan semua sektor kerja di Indonesia.

Lita Anggraini dari JALA PRT mengatakan bahwa aliansi ini tidak menggunakan kata: tempat kerja, namun menggunakan kata dunia kerja. Karena dunia kerja adalah ruang atau situasi dimana para pekerja bekerja di rumah, di jalan, hingga ke tempat kerja. ILO juga menggunakan terminologi ini bagi pekerja.

Pelecehan ini bisa saja terjadi saat buruh melakukan wawancara kerja, di transportasi menuju kantor, di saat workshop atau ketika magang. Banyak data menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya terjadi di tempat kerja.

“Bisa saja pekerja mendapatkan kekerasan di jalan, dilecehkan atau tidak ada pembagian kerja antara istri dan suami di rumah. Ini juga merupakan persoalan dunia kerja.”

Akhirnya perjuangan ini setahun kemudian membuahkan hasil. Jumat, 21 Juni 2019 International Labour Organisation (ILO) Conference atau Konferensi Perburuhan The Convention on Violence and Harrasment in the World Work atau Konvensi ILO 190 mengeluarkan rekomendasi tentang mengakhiri Kekerasan dan Pelecehan di dunia kerja.

Konvensi ini selanjutnya sangat penting untuk segera diratifikasi pemerintah Indonesia mengingat banyaknya kekerasan, pelecehan dan diskriminasi dunia kerja.

Aliansi Stop Kekerasan, Pelecehan dan Diskriminasi di dunia Kerja yang terdiri dari berbagai jaringan serikat buruh dan organisasi masyarakat sipil di Indonesia memandang bahwa hasil konvensi ini merupakan hal yang signifikan bagi perjuangan buruh selama ini.

Aliansi selama 2 tahun ini melakukan advokasi pada pemerintah, Apindo, DPR agar segera disyahkannya konvensi.

Dari Konferensi Perburuhan Internasional Sesi 108 di Jenewa, Swiss 9-21 Juni 2019 telah diadopsi atau lahir Konvensi ILO No. 190 disertai Rekomendasi  ttg Mengakhiri Kekerasan & Pelecehan di Dunia Kerja.

Para peserta konvensi dari Aliansi Stop Kekerasan, Diskriminasi dan Pelecehan di Dunia Kerja Indonesia yang hadir disana mencatat perdebatan terjadi di banyak pihak terutama kelompok pengusaha serta negara ketika memperdebatkan masuknya klausul Lesbian, gay, biseksual, transgender, queer abd interseksual (LGBTQI) di dunia kerja. LGBTQI selama ini banyak mendapatkan kekerasan dan diskriminasi.

“Perdebatan ini kemudian harus diakhiri dengan voting yang menghasilkan kesepakatan bahwa semua orang tidak terkecuali tidak boleh mendapatkan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja,” kata Emma dari KSBSI.

Isu lain yang cukup alot adalah tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga/ KDRT (domestic violence) yang dianggap banyak kalangan sangat  relevan dengan dunia kerja, terutama saat korban menjadi terganggu bekerja karenanya.

Aliansi melihat bahwa konvensi ini merupakan angin segar bagi para pekerja di Indonesia krn konvensi ini melindungi para pekerja, termasuk pencari kerja di semua sektor baik formal dan informal di wilayah dan sektor seperti Pekerja Rumah Tangga atau PRT, pekerja rumahan, pekerja hiburan, pekerja di kaki lima, di semua wilayah baik publik, tempat kerja ataupun privat.

“Kita mendorong dan mendesak agar Pemerintah Indonesia yg sudah melakukan vote dalam konferensi mendukung Konvensi ILO 190 dan DPR untuk meratifikasinya. Pekerjaan rumah berikutnya adalah mendorong pemerintah untuk meratifikasi ini,” ujar Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Kustiah- www.Konde.co

Pernyataan Yonky Karman, dosen Perjanjian Lama di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta dalam pengantarnya di buku "Homoseksualitas dan Kekristenan, Sebuah Perdebatan" cukup menarik untuk direnungkan.

Di antara hiruk pikuk penolakan terhadap LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/ Biseksual) Yonky mengajak (untuk tidak dikatakan menyuruh) bersama menempatkan saudara kita yang LGBT dalam kehidupan bermasyarakat, untuk menghormati keberadaan LGBT seperti halnya manusia lain.

"Apabila gereja melihat kaum LGBT sebagai tercipta menurut citra Allah, gereja memiliki tanggung jawab untuk menolong mereka hidup bermartabat menurut kodratnya itu. Apabila negara melihat LGBT sebagai warga negara, maka negara memiliki tanggung jawab untuk menolong mereka hidup bermartabat menurut status hukumnya itu."

Yang dikatakan Yonky bukan tanpa dasar. Selama ini ia melihat kaum LGBT di Indonesia masih menghadapi banyak kendala untuk sekadar hidup laiknya warga negara berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Sebagian dari mereka masih hidup di bawah bayang-bayang stigma negatif yang kuat sehingga rentan terdiskriminasi. Pun di gereja, jika jemaat terendus (menjadi seorang LGBT), ia akan menjadi bahan pergunjingan dan tak jarang mendapat tekanan sosial dan dihakimi.

Hal ini menjadi pembicaraan penting dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul : “Homoseksualitas dan Kekristenan, Sebuah Perdebatan” terbitan Bentara pada Mei 2019 lalu di Jakarta.

Pendapat yang sama disampaikan pendiri GAYa Nusantara Dede Oetomo. Menurut Dede, pendidikan seksualitas masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Hal itu diindikasikan dari mereka yang menganggap LGBT sebagai manusia abnormal. Bukan sebagai manusia yang memiliki orientasi seksual berbeda.

"Mereka bilang LGBT itu sejenis penyakit yang harus diobati, korban kekerasan seksual di masa lampau, atau pengaruh lingkungan dan masih banyak stigma negatif yang kami terima akibat pemahaman yang keliru," ujar Dede dalam diskusi peluncuran dan bedah buku "Homoseksualitas dan Kekristenan, Sebuah Perdebatan" di Jakarta, Sabtu (18/5).

Pegiat HAM Yuyun Wahyuningrum, Wakil Indonesia untuk Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) periode 2019-2021 mengatakan, diskriminasi tidak boleh ada berdasarkan gender, orientasi seksual dan atau atas alasan apa pun.

Adapun dalam kasus LGBT, ia menyebut bahwa LGBT menjadi kelompok minoritas seksual. Dan dari perspektif HAM, menurut Yuyun, minoritas itu diperlukan. Karena, kebijakan negara sama dengan penggunaan istilah disable, bukan difable. Artinya, penggunaan kata minoritas untuk memberikan tugas kepada negara supaya yang disebut minoritas bisa setara dengan yang mayoritas.

"Minoritas bisa berarti jumlah, tapi juga bisa berarti konsep," ujarnya. Ia mengakui perjuangannya menyuarakan minoritas seperti LGBT di tingkat ASEAN tidaklah mudah. Apalagi pernah terjadi kontroversi yakni sikap pemerintah Brunei Darusalam yang berencana menghukum mati LGBT meski kemudian direvisi dan keputusan itu ditangguhkan.

"Jangankan di ASEAN, di dalam sendiri (di pemerintahan) pandangan soal LGBT saja kita masih belum selesai. Jadi memang bukan perkara mudah. Tetapi, kita harus berjuang dan tetap optimistis dalam memperjuangkan penegakan HAM, " kata Yuyun.

UU Pernikahan Sesama Jenis di Taiwan dan Gereja Memandang LGBT

Undang-undang pernikahan sesama jenis yang disahkan di Taiwan Jumat (17/5) seharusnya bisa menjadi angin segar bagi para aktivis LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender/biseksual) di dunia, termasuk di Indonesia. Setidaknya di Asia telah ada satu negara yang mengakui keberadaan LGBT dengan memiliki payung hukum.Taiwan menjadi satu-satunya negara di Asia yang melegalkan pernikahan sesama jenis.

Untuk menjadi negara seperti Taiwan yang mengakui keberadaan LGBT dan memiliki UU pernikahan sesama jenis meman bukan perkara mudah diterapkan. Meski menurut Dede Indonesia menjadi negara dengan gerakan LGBT ketiga terbesar di dunia, justru sikap sebagian besar masyarakat cenderung menunjukkan penolakan terhadap LGBT. Begitu juga dalam ruang ibadah seperti gereja.

Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Samanhudi, Juswantori Ichwan mengatakan, seharusnya gereja menjadi tempat aman bagi siapa saja. Pun LGBT. Karena, Tuhan Yesus dalam kitab-kitabnya tidak pernah menyinggung soal LGBT. Gereja seharusnya menjadi tempat aman, tempat kudus bagi LGBT.

"Yang dilarang Tuhan kan kebejatan seksual yang menggunakan hawa nafsu. Dan seksualitas sendiri pemberian Allah. LGBT bukan penyakit dan dia nyata ada di tengah-tengah kita, " kata Pendeta Juswantori.

Jika gereja tidak bisa menjadi ruang aman bagi LGBT, lanjut Juswantori, berarti ada yang keliru di gereja itu sendiri. Karena, yang diharapkan LGBT, sebagai makhluk Tuhan, mereka diterima laiknya manusia lainnya.

Lulusan program studi doktoral dari St Stephen's College, University of Alberta, Edmonton, Canada ini mengatakan, di Indonesia LGBT menjadi kelompok minoritas seksual. Dan di geraja khususnya, topik LGBT dianggap tabu sehingga tidak pernah diangkat di permukaan dan tidak pernah dibahas. Akibatnya, karena ketertutupan dan menganggap LGBT sebagai hal yang tabu, masyarakat menganggap LGBT tidak ada.

“LGBT dianggap hidden community. Berbeda dengan di luar negeri. Masyarakat di Eropa memiliki pemahaman yang luas tentang gender. Sementara di Indonesia, masyarakat tidak hanya memiliki pemahaman yang sempit tentanggjender, tetapi juga menutup diri salah satunya dengan cara misal memboikot film-film soal gender dan menutup diri untuk berdiskusi.

"Bagaimana bisa maju, pemahaman tentang jender saja minim dan pemahamannya biner, hitam putih, " ujarnya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Kustiah,
Setelah menjadi jurnalis di Detik.com dan Jurnal Nasional, saat ini Kustiah menjadi pengelola www.Konde.co


“Karena memprotes persyaratan berat badan awak kabin pesawat yang kegemukan, Bonitha harus di PHK. Perusahaan Garuda Indonesia memberhentikan Bonitha. Bonitha tak mau tinggal diam. Ia memprotes Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak yang menimpanya.”


Guru Riyanto- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Pekan lalu di tengah suasana lebaran, Bonitha Sary, perempuan pramugari berhadap-hadapan dengan Garuda Indonesia, maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia. Kami menemui Bonitha Sary.

Kisah yang menimpa Bonitha, begitu perempuan 51 tahun ini biasa dipanggil, terbilang tidak lazim. Pada 14 November 2018, Bonitha digugat pihak PT Garuda Indonesia di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri (PN) Serang Kelas IA, Bateng. Gugatan kepada Bonitha bertujuan untuk memperoleh dasar hukum yang kuat demi memutus hubungan kerja/melakukan PHK.

“Dalam gugatannya, Garuda Indonesia menyatakan saya tidak fit untuk terbang sejak 11 Juli 2013. Tapi bisa saya bantah dengan buku FAC (Flight Attandant Certificate) terakhir saya, ada catatan soal pendidikan perpanjangan sertifikat hingga bulan Oktober 2013. Lalu Garuda dari mana mendapatkan data bahwa sejak 11 Juli 2013 saya sudah tidak fit dan sudah tidak bisa terbang? Sangat mengada-ada untuk mem-PHK saya”, ujar Bonitha sembari menunjukkan FAC yang dimaksud.

Garuda Indonesia melakukan PHK pada pramugarinya, Bonitha karena Bonitha dinilai kelebihan berat badan sekitar 4 kilogram dari batas maksimal yang ditentukan pihak Garuda Indonesia. Sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Surat Keputusan EVP Business Support & Corporate Affairster tanggal 30 Agustus 2005, bahwa batas maksimum toleransi penyimpangan persyaratan berat badan bagi awak kabin perempuan yang berusia 31-50 tahun dan memiliki tinggi badan 160 cm adalah 56,32 kg. Bonitha memiliki tinggi badan 160 cm dan berat badannya 60 kg.

“Surat EVP itu kan peraturan perusahan (PP). Masa berlaku PP hanya 2 tahun menurut UU Ketenagakerjaan no 13 tahun 2003?. Ketika sudah ada Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang kami lakukan, maka otomatis peraturan perusahaan itu sudah tidak berlaku lagi, bukan hanya sudah kadaluarsa, tapi sudah tidak boleh digunakan lagi.”

Bonitha juga menjelaskan ketidakberesan proses mediasi yang terjadi antara dia dan pihak Garuda Indonesia.

“Saya cross check ke Disnaker Tangerang ternyata Disnaker mengundang mediasi di alamat yang keliru yaitu di Jalan Getinting II no 20. Mediator tidak cermat dalam melakukan mediasi, karena di dalam risalah bipartit ada alamat saya sesuai Kartu Tanda Penduduk (KTP), jadi ketidak hadiran saya kemarin bukan karena saya tidak mau hadir mediasi, tetapi mediator keliru dalam mengirimkan undangan mediasi.”

Sebelum berbenturan dengan Garuda Indonesia, sulung dari enam bersaudara ini, dikenal aktif di Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi) sejak 2004 hingga 2015. Pada periode 2012-2015 Bonitha menjabat sebagai Ketua Umum Ikagi. Perihal aktifitasnya di Ikagi, dia menjelaskan,

“Saya membela teman-teman sesuai aturan yang berlaku saja. Diantaranya membantu awak kabin membatalkan usia pensiun dari 46 tahun ke 56 tahun. Membatalkan PHK karena berat badan. Membantu pramugari agar tidak dimutasi, Masa Persiapan Pensiun (MPP) yang tidak sesuai aturan, dan banyak lagi. Banyak yang berhasil.”

Keganjilan lain dalam kasus yang dialami perempuan kelahiran Jakarta ini, risalah rapat Sumber Daya Manusia tertanggal 25 April 2014 yang menyatakan bahwa Bonitha di PHK. Namun pada 2 September 2014 Bonitha menandatangani Perjanjian Kerja Bersama di Garuda.

“Jadi Garuda Indonesia kala itu berunding PKB dengan orang yang sudah mereka PHK.”

Dalam perjuangannya ini Bonitha ingin mendapatkan keadilan dan kepastian hukum bagi pekerja sektor penerbangan, khususnya pramugari.

“Kita perempuan jangan takut berjuang untuk hak kita. Garuda Indonesia itu BUMN, bagian dari negara, seharusnya lebih taat hukum.”

Bonitha Sary, seorang pramugari masih memperjuangkan haknya hingga kini.


(Foto/ilustrasi: Pixabay)

(Ditulis ulang dari www.buruh.co)


*Ruby Astari- www.Konde.co

Mengapa perempuan yang tinggal sendiri selalu menjadi pembicaraan banyak orang? Apa yang salah dengan perempuan yang tinggal sendiri? Mengapa laki-laki yang memilih tinggal sendiri tidak mendapatkan stigma ini? Sedangkan perempuan yang tinggal sendiri selalu mendapat stigma yang buruk.

Singkat cerita, saya pernah bercerita pada seorang rekan kerja lelaki. Saya sudah lama memilih tinggal di kost, meskipun rumah keluarga juga masih berada di kota yang sama.

“Lho, kenapa nggak tinggal bareng keluarga?” tanya lelaki itu heran. Lalu, seringai jahil terbentuk di wajahnya. “Hayooo, pasti mau liar, yaaa?”

Saya tidak ikut tertawa. Saya tahu, teman saya ini pasti bermaksud untuk bercanda. Tapi dari sana pertanyaan saya timbul: memangnya mengapa bila seorang perempuan yang kebetulan masih muda dan lajang memilih untuk tinggal sendiri? Kenapa tidak mau sama keluarganya atau setidaknya menunggu sampai dilamar suami sebelum keluar meninggalkan rumah orang tuanya? Pertanyaan lain yang sering muncul pasti: apakah kamu tidak takut kesepian tinggal sendiri?

Lalu apa artinya stigma liar ini? Saya tidak pernah mengerti stigma ini. Meskipun sudah lama menetap di ibukota, masih saja banyak yang selalu mempertanyakan dan bahkan mengecam pilihan-pilihan perempuan. Perempuan yang masih tinggal bersama keluarganya, baik masih lajang atau saat sudah menikah, cenderung dianggap lebih baik. Lebih baik lagi bila mau ikut keluarga suami dan mengurus keperluan semua orang di rumah.

Bagi saya, tidak ada yang salah dengan semua pilihan tersebut. Namun, sayangnya ada dua kata yang seringkali dimanipulasi masyarakat untuk membuat perempuan merasa bersalah dan ‘patuh’ dengan tuntutan sosial mereka, yaitu: ‘sabar’ dan ‘ikhlas’.

Makanya, banyak perempuan yang sebenarnya diam-diam merasa tertekan tinggal dengan keluarga suami mereka yang ternyata membuat tidak nyaman.

Bila lelaki yang memilih untuk tinggal seorang diri bahkan tidak menikah, tidak banyak yang menghakimi. Mereka selalu dianggap lebih bisa menjaga diri dan mandiri.
Bila lelaki mau berbuat sesuatu selalu ada anggapan: wajar. Bahkan, ada yang menilai mereka sebagai sosok jantan. Bagi saya, paham yang jelas-jelas salah ini sungguh memprihatinkan.

Sementara itu, perempuan yang (memilih) tinggal sendiri dianggap menyimpang dari idealisme ala masyarakat patriarki. Meskipun keluarga biologis si perempuan sudah berpikiran lebih terbuka, perempuan ini masih akan selalu dipandang egois dan tidak sayang keluarga di mata masyarakat. Pasti ada yang salah dengan perempuan ini hingga memilih tinggal sendirian.

Tentu stigma ini juga saya dapatkan ketika saya memilih untuk tinggal sendiri. Stigma sebagai perempuan yang dianggap tidak wajar dan cap sebagai perempuan kurang baik. Padahal stigma ini tidak disematkan pada laki-laki yang tinggal sendiri.

Tentu saja, saya tidak perlu membuktikan apa pun, terutama pada mereka yang merasa sudah mengetahui segalanya tentang saya. Meskipun misalnya saya seperti yang mereka bayangkan, namun buat saya itu bukan urusan mereka.

Saya merasa tidak perlu menjelaskan bahwa pengalaman hidup sendirian bagi seorang perempuan sama pentingnya dengan hal serupa bagi lelaki. Ingin bertahan hidup, manusia harus belajar mandiri. Bukan berarti tidak butuh siapa-siapa, namun belajar tetap berdaya meskipun sedang sendiri.

Pada kenyataannya, terlalu bergantung pada siapa pun bisa berbahaya. Manusia bisa menjadi lemah dan daya nalarnya menurun, kecuali bila relasinya setara. Tidak hanya keinginan satu orang yang selalu dituruti.

Justru, dengan pengalaman tinggal sendiri, perempuan juga belajar bertanggung jawab atas nasibnya sendiri. Jadi, bila saatnya memutuskan untuk berkeluarga dan bahkan mempunyai anak, mereka sudah siap bertanggung jawab untuk orang lain.

Saya malas menjelaskan semua hal itu pada si rekan lelaki. Saya hanya tersenyum geli dan menjawab begini:

“Mengapa selalu ada yang bertanya jika ada perempuan yang tinggal sendiri? Bagaimana dengan laki-laki? Apakah orang lain juga sibuk membicarakan sesibuk mereka membicarakan perempuan?.”

Lelaki itu hanya nyengir. Dia tahu saya benar. Tidak ada lagi yang perlu dibahas.

(Ilustrasi/ Foto: Pixabay)

*Ruby Astari, aktivis sosial dan penulis

Siapa tak kenal Helen Keller? Ia adalah aktivis, penulis dan dosen di Amerika yang mengalami kebutaan dan tuli atau disable buta dan tuli yang menyerangnya ketika ia masih bayi. Ia menjadi salah satu tokoh kemanusiaan ketika ia menjadi aktivis pertama disable yang berhasil menuangkan pemikirannya tentang kemanusiaan dan perjuangannya bagi para disable dalam tulisan-tulisannya, dalam perjuangan kelas. Helen Keller adalah bukti, bagaimana perempuan tunanetra dengan segenap hati memperjuangkan sosialisme tanpa paksaan, melainkan kesadaran. Helen tidak pernah mengeluh dan takluk akan keterbatasan fisiknya.

Kabut tebal perbudakan tengah disapu di daratan Amerika. Daerah jajahan Inggris tersebut mulai beranjak, dari kebiadaban menuju negara tanpa perbudakan. Itu adalah tahun 1865, ketika langit-langit kegelapan dicat ulang oleh gagasan emansipasi. Lima belas tahun berselang, tepatnya 1880, Amerika membangun jalur kereta api yang sangat panjang, sekitar 200 mil. Pembangunan itu menandai dan diikuti kemajuan teknologi lain dalam masyarakat.

Di waktu yang hampir sama, setelah Perang Saudara berkecamuk, seorang bayi lahir di dataran Alabama. Bayi bernama Helen Keller. Dia lucu, menggemaskan, berambut ikal. Sayangnya saat usianya menginjak 19 bulan Helen menjadi buta dan tuli karena sebuah penyakit, kemungkinan karena rubella atau demam scarlet. Pada saat itu, dokter keluarganya menyebut penyakit yang menyerang Helen sebagai “demam otak” sehingga membuat suhu badannya tinggi.

3 Maret 1887, menjadi hari yang kelak mengubah hidup Helen ketika dewasa. Hari itu, Anne Mansfield Sullivan tiba di Tuscumbia untuk menjadi gurunya. Berkat bimbingan Anne, Helen Keller berhasil diterima di Radcliffe pada musim gugur 1900. Kemudian di usia 24 tahun menerima gelar Cum Laude Bachelor of Arts pada 1904. Pendidikan membuat mata Helen yang buta mampu melihat banyak hal. Setelah lulus kuliah, Helen ingin mengetahui lebih banyak tentang dunia dan bagaimana bisa membantu kehidupan orang lain.

Di saat itulah Helen Keller mulai mengenal dan bersentuhan dengan ide-ide sosialisme. Bagi dia, sosialisme adalah keadilan dan pemberi kehidupan. Helen keller menjadi sosialis karena membaca, setidaknya seperti apa yang dia tulis dalam “How I Became a Sosialist”.

“Pertama, Bagaimana saya menjadi seorang Sosialis? Dengan membaca. Buku pertama yang saya baca adalah Wells New World for Old. Saya membacanya berdasarkan rekomendasi Ny. Macy. Dia tertarik dengan kualitas imajinatifnya, dan berharap gaya kejutnya dapat merangsang dan menarik minat saya. Ketika dia memberi saya buku itu, dia bukan seorang Sosialis dan dia bukan seorang Sosialis sekarang.”

Sosialisme bagi Hellen mengajari bagaimana beramal dalam tingkat paling tinggi. Sosialisme membuatnya belajar tentang penyebab-penyebab kemiskinan. Hingga bagaimana dia dengan keras mengkritik koran yang mengabdi kepada pemodal.

“Tetapi sosialisme – ah, itu masalah yang berbeda! Itu menunjukan ke akar dari semua kemiskinan dan semua amal tertinggi. Kekuatan uang di balik koran telah menentang sosialisme, dan para editor, yang taat pada tangan yang memberi mereka makan, akan berusaha sekuat tenaga untuk meletakkan sosialisme dan merusak pengaruh sosialis.”

Keller adalah anggota Partai Sosialis dan aktif berkampanye dan menulis untuk mendukung kelas pekerja dari tahun 1909 hingga 1921. Banyak pidatonya dan tulisannya tentang hak perempuan untuk memilih dan pembelaannya pada korban dampak perang. Hellen juga aktif dalam upaya mengurangi kebutaan dan memberikan bantuan kepada orang-orang buta.

Kebencian kepada kapitalisme bagi Helen Keller adalah bagian dari intuisi manusiawi, sebab sistem itulah yang membuat kehidupan manusia tidak menentu. Gigihnya Helen dalam menentang perang di ungkapkan pada artikelnya “Strike Againts War”. Analisa yang tajam terhadap memanasnya Perang Dunia I pada tahun 1915.

“Setiap perang modern berakar pada eksploitasi. Perang Sipil diperjuangkan untuk memutuskan apakah pemilik budak di Selatan atau kapitalis dari Utara harus mengeksploitasi Barat. Perang Spanyol-Amerika memutuskan bahwa Amerika Serikat harus mengeksploitasi Kuba dan Filipina. Perang Afrika Selatan memutuskan bahwa Inggris harus mengeksploitasi tambang intan. Perang Rusia-Jepang memutuskan bahwa Jepang harus mengeksploitasi Korea. Perang saat ini adalah untuk memutuskan siapa yang akan mengeksploitasi Balkan, Turki, Persia, Mesir, India, Cina, Afrika. Dan kami sedang mencambuk pedang kami untuk menakuti para pemenang agar berbagi rampasan dengan kami. Sekarang, para pekerja tidak tertarik pada rampasan; mereka tidak akan mendapatkannya.”

Keterbatasan fisik Hellen Keller, tidak membuatnya buta dan tuli terhadap peristiwa politik. Baginya, memperjuangkan sosialisme adalah perjuangan untuk membebaskan belenggu kehidupan manusia. Sosialisme adalah tentang keadilan ekonomi, politik, hukum dan kebudayaan terhadap kelas pekerja dan rakyat miskin secara umum. Sosialisme tidak pernah merusak kehidupan, ia memberi kehidupan bagaikan musim semi. Tidak merusak rumah tangga, tidak pernah merusak agama apalagi merusak kehidupan. Semua omong kosong tentang sosialisme yang merusak dan anti agama adalah propaganda kapitalis bersama sekutunya.

Helen Keller adalah bukti, bagaimana perempuan tunanetra dengan segenap hati memperjuangkan sosialisme tanpa paksaan, melainkan kesadaran. Helen tidak pernah mengeluh dan takluk akan keterbatasan fisiknya. Dengan teguh dia membela sosialisme sampai akhir hayat. Helen menulis dalam “Spirit of Lenin” perihal apa yang tengah terjadi di Russia kala itu.

“Saya sangat yakin bahwa cinta pada akhirnya akan membawa segalanya, tetapi saya tidak bisa tidak untuk bersimpati kepada mereka yang tertindas yang merasa terdorong untuk menggunakan kekuatan demi mendapatkan hak-hak milik mereka. Itulah salah satu alasan mengapa saya berbalik dengan penuh minat kepada eksperimen hebat yang sekarang sedang dicoba di Rusia. Rakyat beralih ke revolusi hanya ketika setiap mimpi lainnya telah memudar menjadi kesedihan demi kesedihan.”

Demikian Helen Keller, perempuan yang selalu memperjuangkan nilai-nilai sosialisme dalam hidupnya.


(Ditulis oleh: Muhammad Imam Muzaqqi/ Koordinator FBTPI Jawa Timur di www.buruh.co)

Tumbuhnya media menjadi sesuatu yang tak terbendung sejak masa reformasi. Data Dewan Pers menunjukkan jumlah media yang meningkat tajam di Indonesia, yaitu sebanyak 47 ribu media di Indonesia. Belum lagi tumbuhnya sosial media, ada website, blog dan vlog yang jumlahnya hingga jutaan.

Tumbuhnya media ini kemudian memberikan catatan penting tentang bagaimana media memotret perempuan. Beberapa media bertumbuh secara positif, ini terlihat dari komitmen beberapa media dalam menuliskan persoalan kekerasan yang menimpa perempuan.

Namun banyak media yang lebih senang menuliskan sensasionalisme tubuh perempuan. Media seperti ini juga tumbuh subur. Sensasi ini tidak hanya ada dalam tulisan, namun juga merambah pada bagaimana cara pandang media terhadap pekerja perempuannya. Juga bagaimana orang-orang dan kebijakan yang kemudian mengatur tubuh perempuan

Dan dalam kepesatan jumlah media ini, nasib perempuan pekerja media perempuan ini tak banyak diperbincangkan. Mereka seolah tenggelam oleh hiruk-pikuk media yang banyak tumbuh.

Para perempuan pekerja media misalnya banyak mendapatkan penilaian atas tubuhnya. Konstruksi budaya inilah yang kemudian menjadikan orang-orang terbiasa melakukan penilaian terhadap tubuh perempuan.

Sebuah film yang berjudul “More Than Work” (2019) karya Luviana akan dilaunching pada:

Sabtu, 15 Juni 2019
jam 16.00
di IFI atau pusat kebudayaan Perancis di Indonesia- Jl. Thamrin, Jakarta Pusat.

Isi form nya disini jika ingin datang menonton:
https://bit.ly/2WoKbnP
.
Atau kontak nomer berikut:
Masboi 087865822233
Yoanne ‭081211790151

Launching film ini diselenggarakan Jakarta Feminist Discussion Group (JFDG) dan didukung oleh IFI. Film "More than Work" adalah film yang bercerita tentang bagaimana kondisi perempuan di media. Bagaimana perubahan media baru, conten media yang banyak diperbincangkan saat ini, jarang membicarakan tentang potret perempuan di media. Juga jarang membicarakan persoalan yang menimpa pekerja-pekerja perempuan di media.

Film ini banyak menceritakan kisah potret buram tubuh perempuan di media: Dhiar, pekerja media yang bercita-cita bekerja di media namun akhirnya mendapatkan kekerasan seksual oleh jurnalis atasannya, Kumalasari yang harus mengeluarkan banyak uang agar bisa tampil sebagai pemeran utama sinetron di televisi, serta kisah-kisah lain tentang sensasionalisme tubuh perempuan di media

Film produksi Konde Production ini merupakan bagian dari Program Cipta Media Ekspresi dan mendapat dukungan dari Ford Foundation dan Wikimedia. Film selanjutnya akan diputar secara berkeliling di kota-kota di Indonesia.

Trailer: https://www.youtube.com/watch?v=o23G752aH-E

Email: morethanworkfilm@gmail.com

HP: 0816-4809-844

Poedjiati Tan- www.Konde.co

Dua minggu lalu kita disibukkan dengan poster yang tiba-tiba dikeluarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Saya membaca dengan cermat ketika poster ini mulai diprotes di sosial media.

Beberapa tulisan dalam poster pada 25 Mei 2019 di instagram tersebut berbunyi:

“Istri idaman adalah yang agamanya sama, taat beribadah, sopan, perhatian dan cara berpakaian, bertanggungjawab, bisa akrab dengan keluarga pria, penampilan yang baik, cerdas, mandiri.”

Dengan mengambil judul: istri idaman, istri yang beruntung, poster ini kemudian mendomestifikasi perempuan dan melakukan konstruksi buruk terhadap perempuan. Konten-konten ini menggambarkan bahwa perempuan adalah obyek yang harus diatur yaitu cara berpakaiannya, penampilannya.

Poster lain juga menunjukkan bahwa perempuan bekerja di domestik sedangkan laki-laki sudah diatur bekerja di publik dengan sejumlah stereotype lain yang melekat pada perempuan.

Sekitar 87 organisasi dan sejumlah individu kemudian melakukan protes keras atas poster tersebut. Sejumlah poster ini dianggap sangat subyektif, menegaskan mitos tentang perempuan serta melanggengkan stereotipe gender

Poster adalah salah satu alat komunikasi yang mempunyai kelebihan. Poster sifatnya komunikatif, cepat untuk dibaca dan dimengerti. Poster juga menarik karena pesannya singkat dan mudah dimengerti. Di zaman sekarang dimana semua orang sibuk bermedia, poster menjadi alat kampanye yang efektif karena menarik dan mudah dimengerti.

Sebagai alat komunikasi dan menjadi bagian dari perjuangan literasi, seharusnya poster bisa memberikan pendidikan bagi publik. Tentu pendidikan yang tak melecehkan perempuan, tidak mendomestifikasi perempuan dan tidak menyebarkan mitos subyektif.

Tujuan media menurut salah satu ahli komunikasi Denis McQuail adalah memberikan pelayanan informasi isu-isu dan problem universal, tidak sektoral dan primordial. Selain itu mengembangkan budaya interaksi yang pluralistik, untuk penguatan eksistensi kelompok minoritas dalam masyarakat dan memfasilitasi atas proses menyelesaikan masalah.

Jika yang terjadi adalah praktek komunikasi yang bias gender, ini malah kemudian mengajak masyarakat untuk tidak keluar dari persoalannya, tidak kritis terhadap lingkungannya. Padahal seharusnya tulisan atau poster seharusnya memberikan ruang untuk bertindak secara politik.

Bagi feminis, literasi kemudian digunakan sebagai kritik untuk melihat naskah-naskah yang patriarkhi dan tidak berpihak pada perempuan. Kritik sastra feminis misalnya digunakan untuk mendekonstruksi politik patriarkhi yang sebagaimana sering direpresentasikan dalam tulisan-tulisan atau bahasa yang misoginis atau membenci perempuan.

Poster sebagaimana kelahirannya sebagai salah satu alat komunikasi, hendaknya tidak berargumen sebagai sesuatu yang justru malah melanggar instrumen yang telah ada di Indonesia, dalam hal ini misalnya Undang-Undang Pengesahan Konvensi Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, UU Perkawinan, UU Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), UU Perlindungan Anak.

Undang-undang ini sudah lahir untuk membela perempuan agar keluar dari mitos, subyektifikasi dan kekerasan yang membelenggu perempuan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

"Ia mengalami kekerasan seksual di masa kanak-kanak. Di masa remaja, ketika melamar menjadi kondektur mobil, ia ditolak karena ras dan kulit hitamnya."

Luviana- www.konde.co

Siapa yang tak kenal Maya Angelou? Para feminis dan aktivis hak asasi manusia menyebut Angelou sebagai perempuan yang dalam hidupnya mempunyai sikap gigih dalam melawan rasisme, ketidakadilan dan perjuangannya terutama terhadap diskriminasi yang menimpa para perempuan kulit hitam di Amerika. Tulisan, pidatonya selalu bergema pada setiap orang dari semua lapisan masyarakat Afrika dan Amerika.

Maya Angelou, lahir dengan nama Marguerite Annie Johnson pada 4 April 1928, sejumlah tulisan menyatakan bahwa Angelou telah lahir dan ditakdirkan untuk mengubah dunia. Ini bisa dilihat melalui karyanya dalam puisi untuk mendorong gerakan HAM dan gerakan hak sipil.

Terlahir dengan nama Marguerite Annie Johnson, Maya Angelou kecil harus mengalami banyak masa-masa pahit, pernikahan orangtuanya yang berujung pada perceraian, Angelou pergi untuk tinggal bersama neneknya di Stamps, Arkansas sejak usia dini. Kakaknya, Bailey,kemudian memberi Angelou julukannya "Maya".

Kembali ke perawatan ibunya secara singkat pada usia tujuh tahun, Angelou kemudian mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh pacar ibunya. Pacar ibunya ini kemudian dipenjara dan kemudian terbunuh ketika dibebaskan dari penjara. Karena kekerasan yang dialami dan dilihatnya ini, Angelou memutuskan untuk tidak mau berbicara selama 6 tahun. Selama masa-masa pahit dalam hidupnya ini dan hingga masa remajanya, dia kembali tinggal bersama neneknya di Arkansas.

Ketertarikan Angelou pada kata-kata tertulis dan bahasa Inggris terbukti sejak usia dini. Sepanjang masa kecilnya yang pahit, dia menulis esai, puisi, dan membuat jurnal. Da tertarik pada puisi dan menghafal karya-karya Shakespeare dan Poe.

Sebelum dimulainya Perang Dunia II, Angelou pindah kembali dengan ibunya, yang saat itu tinggal di Oakland, California. Dia bersekolah di Mission High School, dan mengambil kursus tari dan drama di Sekolah Buruh California.

Ketika perang pecah, Angelou melamar untuk bergabung dengan korps tentara perempuan. Namun, permohonannya ditolak karena keterlibatannya di Sekolah Buruh California.

Bertekad untuk mendapatkan pekerjaan, meski baru berusia 15 tahun, ia memutuskan untuk melamar posisi sebagai kondektur mobil jalanan. Namun, Angelou dilarang melamar pada awalnya karena rasnya. Tapi dia tidak terpengaruh. Setiap hari selama tiga minggu, dia mencoba untuk meminta lamaran kerja, tetapi ditolak karena umurnya masih kanak-kanak. Akhirnya, perusahaan itu mengalah dan memberikan pekerjaan padanya. Karena dia berada di bawah usia kerja yang sah, dia menulis di aplikasinya bahwa dia berusia 19 tahun. Dia diterima untuk posisi itu dan menjadi perempuan pertama Afrika Amerika yang bekerja sebagai konduktor trem di San Francisco. Angelou dipekerjakan selama satu semester dan kemudian memutuskan untuk kembali ke sekolah.

Setelah lulus, Angelou melakukan banyak kegiatan hak-hak sipil. Dia adalah koordinator Christian Leadership Conference. Organisasi ini, yang diciptakan pada tahun 1957 oleh Martin Luther King Jr. dan awalnya dikenal sebagai Southern Leadership Conference, mengadvokasi hak-hak orang Afrika-Amerika di Amerika Serikat.

Sejak itulah Angelou banyak menyuarakan suara-suara warga kulit hitam di Amerika. Selama tahun-tahun ini, Angelou mulai menulis karyanya yang paling terkenal. Otobiografinya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dalam perjuangan untuk hak masyarakat sipil, Angelou bukan termasuk orang yang menghindar dari politik sepanjang hidupnya, ia bersahabat dengan para aktivis terkemuka seperti Martin Luther King dan Malcolm X.

Angelou juga seorang penulis perempuan yang mempunyai perspektif, ia menuliskan soal perempuan dari persoalan mendalam yang dialami perempuan. Ia menulis tentang perkosaan seorang anak dan tahun-tahun kemurkaan yang dialami korban dan menyebabkan kematian. Dalam Gather Together in My Name, yang diterbitkan pada tahun 1974, ia juga menulis tentang hidup sebagai ibu tunggal di California. Dia juga menuliskan soal hak-hak pekerja seksual.

Singkatnya, ia memiliki banyak bakat kemampuan untuk melihat semua sisi dari suatu masalah. Dia terkenal karena gaya penulisan autobiografi yang unik. Ia berbicara tentang feminisme sebagai seperangkat kualitas termasuk kekuatan, komitmen, pemenuhan hak seksual dan pemahaman yang mendalam tentang kesetaraan gender , yang ia lihat terutama di kalangan perempuan kulit hitam.

"Saya berbicara dengan pengalaman sebagai perempuan berkulit hitam, tetapi saya selalu berbicara tentang kondisi manusia - tentang apa yang bisa kita tanggung, mimpi, gagal, dan bertahan."

Dalam sebuah wawancara tahun 2008 untuk Feminist.com, Angelou ditanya apa keinginannya bagi anak-anak di masa depan, dan dia berkata: "Saya berharap kita bisa saling melihat wajah satu sama lain, di mata masing-masing, dan melihat diri kita sendiri. “

Angelou juga terkenal karena gaya bernyanyi dan menarinya yang banyak dan beragam, termasuk pertunjukan musik kalipso-nya. Dia telah menulis banyak puisi. Dia juga telah merekam album puisi yang diucapkannya, termasuk “On the Pulse of the Morning”, yang menangkan Grammy untuk Album Best Spoken pada tahun 1994. Puisi itu aslinya ditulis untuk dan diserahkan pada pelantikan Presiden Bill Clinton pada tahun 1993. Dia juga memenangkan Grammy pada tahun 1996 dan lagi pada tahun 2003 untuk album puisi yang diucapkannya.

Angelou juga melakukan berbagai kegiatan di panggung dan layar sebagai penulis, sutradara, dan produser. Pada tahun 1972, ia menjadi perempuan Afrika Amerika pertama yang karyanya diputar dalam produksi film "Georgia, Georgia".

Angelou meninggal pada 28 Mei 2014. Beberapa peringatan diadakan untuk menghormatinya termasuk di Wake Forest University dan Glide Memorial Church di San Francisco. Di akhir hidupnya, ia telah menorehkan banyak hal penting untuk melawan rasisme, perjuangan untuk perempuan dan hak masyarakat sipil.

Angelou juga dinobatkan sebagai Woman of the Year dalam Komunikasi oleh Ladies 'Home Journal, 1976, dan salah satu dari 100 perempuan paling berpengaruh oleh Ladies' Home Journal, 1983.


Disadur dari berbagai sumber:

http://www.womensviewsonnews.org/2014/06/maya-angelou-on-feminism/

http://www.streetsheet.org/?p=3006

https://www.womenshistory.org/education-resources/biographies/maya-angelou

www.feminist.com

(Foto: The Shakespeare Standard)

Komnas Perempuan membuka seleksi anggota baru untuk periode 2020-2024. Proses seleksi sudah diawali dengan pembentukan Panitya Seleksi (Pansel) yang terdiri dari 5 anggota Pansel antaralain Ahmad Junaidi, dari unsur media, Kamala Chandrakirana, dari unsur komisioner purnabakti Komnas Perempuan, Mamik Sri Supatmi, dari unsur akademisi, Miryam S. V Nainggolan, dari unsur pendamping korban dan Usman Hamid, dari unsur pegiat hak asasi manusia pada Mei 2019 lalu.

Proses selanjutnya seperti tertulis dalam pernyataan pers Komnas Perempuan adalah pendaftaran secara terbuka pada publik yang bisa mendaftar sebagai anggota Komnas Perempuan. Pendaftaran ini dibuka dari tanggal 25 Mei hingga 31 Juli 2019.

Sejumlah kriteria yang ditetapkan yaitu calon anggota tidak boleh memiliki rekam jejak dalam melakukan poligami, korupsi, pelaku kekerasan dan perusakan lingkungan. Kemudian juga bukan merupakan anggota atau pengurus partai politik.

Selanjutnya calon anggota memiliki rekam jejak dalam memperjuangkan perempuan selama kurang lebih 10 tahun dan memiliki integritas pada perjuangan keberagaman dan kebhinnekaan.

Bagi para pendaftar sejumlah syarat yang harus disertakan seperti daftar riwayat hidup, surat rekomendasi, menyertakan makalah tentang HAM perempuan, Kartu Tanda Penduduk, pasfoto, fotokopi ijasah terakhir dan pernyataan bermaterai.

Dalam persyaratan calon anggota, tidak tertulis bahwa calon anggota harus lulusan sarjana dan tidak ada persyaratan umur. Ini menunjukkan bahwa pendaftaan dibuka secara meluas pada publik, tanpa ada batasan umur maupun tingkat kelulusan.

Perkenalkan, nama saya Ida Laela. Saya adalah buruh perempuan yang bekerja di PT. Hansae Indonesia Utama di Cakung, Jakarta selama kurang lebih 8 tahun.

Saya dikontrak selama 5 tahun, baru kemudian diangkat jadi buruh tetap kurang lebih 3 tahun. Setelah 3 tahun menjadi buruh tetap, perusahaan menyatakan bahwa mereka tutup dengan alasan merugi, tepatnya pada 8 Mei 2019.

Pemberitahuan tutup perusahaan baru disampaikan 8 hari sebelumnya sehingga buruh menjadi semakin terdesak, seolah tiada pilihan lain kecuali menerima tawaran pesangon perusahaan yang rendah. Terlebih penutupan perusahaan tepat di bulan Ramadan dimana umat muslim menjalankan ibadah, bulan dimana kami yang terbiasa membelanjakan uang untuk keperluan hari raya karena bulan ini datangnya hanya satu bulan dalam setahun. Namun parahnya pihak perusahaan hanya memberikan kami uang kebijakan 1 kali Peraturan Menteri Tenaga Kerja (PMTK) terkait Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari masa pengangkatan. Ini menyalahi aturan ketenagakerjaan.

Sungguh tidak manusiawi. Saya telah bekerja disini selama 8 tahun di PT. Hansae tapi jasa – jasa kami tidak dihargai.

Bayangkan, saya selalu berangkat pagi – pagi buta, pulang larut malam, tanpa punya waktu untuk keluarga. Itu semua saya lakukan demi keberlangsungan perusahaan, tempat saya bekerja. Sakit, sedih, kecewa hanya itu yang tersisa dalam batin saya. Sampai pada akhirnya serikat pekerja yang saya ikuti, hak – hak saya, di situlah saya punya semangat. Apalagi perjuangan saya ini juga didukung oleh suami dan keluarga.

Saya merasa beruntung karena masuk serikat pekerja jauh sebelum perusahaan tutup, sehingga saya sempat memperoleh pendidikan tentang perburuhan, terkait hak dan kewajiban kami sebagai buruh. Disitulah saya kemudian mulai memperjuangkan hak – hak kami.

Yang kami tuntut adalah kami menuntut pesangon 2 kali PMTK dari awal masuk kerja sampai dengan kami melakukan pemogokan pada 30 April 2019.

Dari pemogokan tersebut, kami lalu berunding dengan perusahaan. Dari hasil perundingan, pihak perusahaan menyatakan akan membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) seluruh buruh, namun mereka tidak mau menguah kebijakan terkait pesangon.

Terhitung kami sudah melakukan perundingan sebanyak 8 kali dari sebelum mogok mempertanyakan kapan perusahaan akan tutup karena banyak line dibubarkan dan order yang jauh berkurang.

Selama pemogokan berjalan, kami bahkan mencoba mencari titik temu, namun perusahaan demikian arogan, mereka tak mau mencari titik temu dari niat baik yang kami ajukan. Deadlock pun tidak terhindarkan dan kami kembali pada tuntutan awal 2 PMTK.

Dengan sombongnya pengusaha mengatai kami tidak konsisten dengan tuntutan, lalu bagaimana dengan pihak perusahaan yang mengeluarkan total Rp 8 miliar bagi 108 buruhnya yang bertahan saja tidak mau?.

Padahal kami tahu pasti uang sejumlah itu bukanlah jumlah yang besar bagi perusahaan sebesar PT. Hansae yang memiliki cabang di berbagai negara. Sungguh aneh, perusahaan mengaku merugi dan bangkrut, padahal lihatlah yang bangkrut justru buruhnya seperti kami ini. Mereka mengaku bangkrut dan miskin karena merugi tanpa mempunyai empati bagi kami yang lebih akrab dengan kemiskinan.

Betul, pihak perusahaan bersedia memberikan kami THR, tapi itu pun di tgl 29 Mei 2019, waktu yang terlalu mepet dengan hari raya lebaran, padahal untuk keperluan hari raya harus disiapkan jauh – jauh hari.

Saya misalnya, belum pun sempat membelikan baju lebaran bagi anak- anak saya yang terus merengek tiap malam untuk baju baru, sebagaimana teman – temannya yang lain. Baju baru buat kami, tentu bukan baju mahal seperti yang kami jahit setiap hari, baju baru buat anak – anak saya tak jauh dari hitungan langkah kaki saya dengan harga diskon, kualitas sederhana.

Sementara bagi pengusaha, memberi THR seolah kebaikan yang ternilai. Bagi kami THR itu sudah jadi kewajiban perusahaan Karena sesuai dengan peraturan pemerintah.

Mereka apa pernah merasakan diupah rendah, dimaki – maki karena target dianggap tak masuk akal padahal ini karena target yang demikian tinggi yang tak mungkin dicapai oleh buruh sekuar apapun, menangis sedih karena biaya pendidikan tak terjangkau?

Tidak, mereka adalah para bos, yang gemar menginjak harga diri buruh. Kami hanya dianggap benda yang bisa menghasilkan uang dan pundi – pundi keuntungan, dalam hitungan bisnis mereka. Mereka tidak pernah menganggap kami mahkluk hidup, sama seperti mereka yang juga ingin mengembangkan diri, menimba ilmu dan menyediakan hal – hal terbaik bagi anak – anak kami.

Di tengah bulan puasa, kami tetap berjuang. Kami mengawal mediasi di Pemerintah Sudinakertrans Jakarta Utara sebanyak dua kali, yang mana Kasudinaker Jakarta Utara, Untoro mengeluarkan pernyataan dukungan bahwa 2 PMTK dari awal masuk bekerja adalah hak kami.

Karena tak kunjung ada hasil, kami pun membangun tenda juang buruh Hansae 3 untuk menjaga aset supaya tidak keluar dari perusahaan selama perselisihan masih berlangsung. Jika kami tidak lakukan itu, kami kuatir pengusahaa akan kabur dan tidak membayarkan perusahaan kami.

Sudah berapa kali saya hitung pengusaha yang kabur dari Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung Jakarta tanpa diketahui rimbanya dengan menelantarkan buruhnya?. Sudah menjadi hal umum di KBN Cakung buruh ditinggalkan dan tidak dibayarkan hak – haknya.

Setelah membangun posko untuk perjuangan, kami pun membuat jadwal piket pagi dan malam. Saya juga merasa senang dengan berdirinya tenda juang. Dengan adanya tenda juang, saya masih bisa berkumpul dan berbagi bersama kawan – kawan. Kami saling bercerita dan bertukar pikiran, saya pun berpikir walah sudah tidak bekerja karena PHK, saya masih belum ingin bekerja dulu.

Saya ingin fokus terlebih dahulu di tenda juang bersama kawan – kawan juang. Saya juga berharap, perusahaan mau terbuka hatinya dan membayarkan apa yang sudah menjadi hak kami.

Selama kami bekerja, kami selalu mengikuti peraturan dari Perusahaan. Jadi saya meminta kepada pihak perusahaan untuk mengikuti peraturan yang ada di negara kami. Untuk kawan – kawan yang kini masih bertahan berjuang, jangan menyerah, harus saling menguatkan satu sama lain dan saling merangkul. Ingatlah kawan, tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil.

(Dirangkum oleh Evi, disadur dari www.MarsinahFM.com)
(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Luviana – www.konde.co

Dalam keluarga besar kami, makanan dalam tradisi lebaran tak ubahnya dengan makanan yang selalu terhidang ketika natal tiba. Jika pada natal ada kacang dan kue-kue natal, maka dalam lebaran di rumah kami, selalu tersedia ketupat, opor, rendang dan sayur.

Tak hanya memasak sendiri, namun selalu ada makanan yang dikirimkan oleh tetangga kepada kami. Di Yogyakarta tempat saya tinggal dulu, tradisi membuat dan mengirimkan makanan ini seolah selalu mengiringi tradisi dalam bersilaturahmi. Tidak peduli apapun agamanya. Pemeluk agama Kristen selalu datang ke rumah tetangga Muslim ketika lebaran tiba sambil membawa kue-kue kering. Dan tetangga yang muslim menghidangkan ketupat dan opor ayam.

Hampir semua makanan yang terhidang pada saat lebaran dipenuhi dengan rempah-rempah seperti lengkuas, kunyit, jahe, kencur, dll.

Sejarawan JJ Rizal, dalam sebuah acara TV pernah mengungkap bahwa makanan Indonesia adalah makanan yang diramu dengan berbagai bumbu. Ini menunjukkan bahwa makanan Indonesia mempunyai cita rasa yang diramu dari berbagai daerah di Indonesia, atau yang kemudian disebut makanan nusantara.

Makanan dalam sejarahnya memang tak pernah lepas darimana ia dihasilkan, siapa masyarakat yang meramunya dan bagaimana kemudian ia diperkenalkan pada masyarakat. Makanan tidak pernah terlahir secara tunggal, namun datang dari berbagai pengaruh yang datang ke Indonesia. Dalam perjalanannya, makanan kemudian telah mengalami perubahan zaman. Ada strategi rasa sekaligus strategi penyajian.

Opor dan sayur yang dihidangkan pada saat lebaran ini juga tak lepas dari sejarah makanan di Indonesia. Makanan yang dipenuhi dengan rempah-rempah pada saat lebaran ini menjadi bukti tentang perjalanan sebuah tradisi, perjalanan rempah-rempah, penjajahan yang dulu dilakukan kolonial terhadap bangsa Indonesia, bagaimana Indonesia mempertahankannya dan kemudian penyebaran ramuan rempah-rempah itu hingga kini.

Kami meyakini bahwa makanan selalu tak bisa lepas dari zaman, ada strategi rasa, penyajian, pengiriman hingga siap untuk dihidangkan. Anak-anak muda di tempat tinggal kami makin yakin bahwa makanan bisa memperkuat persaudaraan dan nilai silaturahmi.

Walau dari sejumlah catatan kritis kemudian juga menunjukkan bagaimana makanan kemudian dikuasai oleh alat-alat kapital, kepentingan pengusaha besar dimana masyarakat penghasil makanan hanya bisa menjadi penonton saja. Perempuan yang dikenal sebagai subyek penghasil makanan kemudian hanya menjadi obyek dari pertumbuhan rantai kapitalisasi makanan.

Dalam konsep ekofeminisme, perempuan adalah orang yang berpikir keras bagaimana mengusahakan makanan dalam keluarga. Tak hanya itu, perempuan juga mengusahakan dan menanam alam sekaligus menyuburkannya.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat ketika ada satu krisis lingkungan yang hebat misalnya banjir, bencana alam atau sumber makanan yang dikuasai oleh pengusaha-pengusaha yang membuat masyarakat tersingkir dari hidupnya, para perempuan segera mengubah jenis tanaman dan tetap berjuang untuk menghasilkannya bagi keluarga.

Khalisah Khalid dari Walhi pernah mengungkapkan bahwa pengelolaan perempuan dalam pengelolaan makanan dan sumber daya alam sudah terjadi sejak dulu kala. Para perempuan paham kapan waktu untuk menanam, kapan waktu untuk memetik dan bagaimana melakukannya ketika krisis. Karena gerakan ekofeminisme memang mencuat ketika ada relasi yang kuat antara perempuan dan sumber daya alam.

Dari sini kami menjadi tahu satu hal, siapa orang yang selama ini selalu mengiringi dalam silaturahmi yang kami bangun? Jawabannya adalah perempuan. Karena perempuan selalu mempunyai banyak cara untuk tetap bersilaturahmi, mendatangi tetangga, mempertahankan keberagaman diantara kami, termasuk mengusahakan makanan sebagai teman dalam bersilaturahmi.


(Referensi: rahima.or.id)
(Foto/ Ilustrasi: Wikipedia)

Poedjiati Tan – www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Masih ingat kasus kekerasan seksual yang dilakukan seorang penyair Indonesia berinisial SS?

Sudah hampir 6 tahun berjalan laporan terhadap pelaku SS dilayangkan ke Kepolisian RI, status SS juga telah menjadi tersangka, tetapi perjuangan menuju pengadilan masih sedemikian berat.

Tim pendamping korban, RW dari Universitas Indonesia juga menemukan adanya dua korban lain selain RW yang tidak mau disebutkan namanya. Ini artinya tidak hanya RW yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan SS, namun diduga ada 2 perempuan lainnya.

Sampai saat ini, menurut jaringan advokasi baik dari pengacara maupun solidaritas mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, informasinya berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari kasus RW sudah bolak balik masuk di kepolisian dan kejaksaan, namun hingga sekarang tidak ada kepastian.

Kemudian, pada 27-28 April 2019, tersangka kekerasan seksual SS, justru menjadi bagian dari penulis pentas/ penyelenggaraan pentas teater Srinthil, yang juga bekerjasama dengan beberapa seniman yang menyewa tempat di Komunitas Salihara, Jakarta.

Acara ini bukanlah acara pertama yang melibatkan SS sebagai kolaborator. Di tengah ketidakjelasan penyelesaian kasus, SS masih terlibat di banyak kegiatan kesenian baik sebagai seniman utama maupun pendukung, termasuk satu festival di Yogyakarta yang akan digelar pada pertengahan Juni 2019 yang memberikan ruang bagi pelaku kekerasan seksual.

Jaringan Solidaritas untuk Korban Kekerasan Seksual (JSKKS) dengan diwakili oleh aktivis perempuan, Olin Monteiro menyatakan mengecam penyelenggaraan acara yang melibatkan SS ini, karena memberikan ruang dan panggung pada pelaku kekerasan seksual.

“Kami mengerti bahwa ada proses kreatif seni, kolaborasi seniman-seniman dan jaringan seni yang ada, tetapi acara ini tidak melihat bagaimana dampak dari pembiaran pelaku kasus kekerasan seksual untuk tetap berkiprah dalam komunitas seni. Ini sama seperti pernyataan kami sebelumnya kepada galeri lukisan di Yogyakarta yang 2 tahun lalu sempat memberikan tempat kepada pelaku untuk berpameran. Maka kami menuntut keadilan bagi korban yang sampai saat ini hidup di dalam trauma dan penderitaan. Sejatinya seni memiliki fungsi-fungsi untuk mengabarkan dan memperjuangkan keadilan. Apakah pantas ada perhelatan seni, yang merayakan SS, seseorang yang masih menyandang status tersangka kekerasan seksual?,” ujar Olin Monteiro dalam pernyataan sikapnya.

Ada berargumentasi dan bersembunyi dibalik retorika kebebasan ekspresi seorang seniman, sesungguhnya bisa menyalahgunakan pengertian seolah-olah karya seni dapat dilepaskan dari konsekuensi etisnya, dan karya seni dapat begitu saja dimaknai terlepas dari sikap si seniman.

Pandangan-pandangan ini dinilai menyesatkan, dan mengkerdilkan seni demi kepentingan hiburan kosong saja.

“Hal yang terlebih penting, banyak yang memakai istilah kebebasan ekspresi dan kemanusiaan bagi seorang SS, pernahkah mereka memikirkan, dimanakah kebebasan dan kemanusiaan bagi korban-korban yang sudah menderita?.”

Maka jaringan solidaritas untuk korban kekerasan seksual meminta kepada para pemilik dan pengelola komunitas seni dan galeri seni di Indonesia untuk membuat kode etik terkait penghapusan kekerasan seksual di tempat acara dan galeri masing-masing, termasuk memastikan tidak ada pelaku kekerasan seksual yang diberikan akses pada pertunjukan kesenian. Kode etik ini harus disosialisasikan kepada semua pihak terkait dan juga pihak kedua atau ketiga yang akan bekerjasama dengan komunitas.

Jaringan juga meminta adanya Standar Operasional (SOP) atau mekanisme kerja dalam komunitas seni, terutama untuk semua pihak terlibat, untuk melindungi semua orang yang beresiko mendapatkan perlakuan pelecehan seksual atau kekerasan seksual, terutama dalam pola relasi kekuasaan yang terjadi di dalam komunitas, contoh guru kepada murid, pemimpin pada staf, seniman lama kepada seniman baru, pekerja kepada murid magang, pekerja pada relawan dan lainnya. Karena dari pengalaman kasus ini, maka relasi kuasa ini menyebabkan kekerasan seksual terjadi.

“Kami menuntut adanya dialog antara tim kurator seni, pekerja seni, pengelola komunitas seni bersama-sama aktivis gerakan perempuan untuk membuat memorandum penanganan kerjasama penghapusan kekerasan seksual, sebagai bentuk nyata kerjasama dalam kegiatan berkesenian kedepannya. Memorandum bisa dibuat dalam lintas lembaga di tingkat nasional, atau bersama aktivis di tingkat propinsi,” ujar Olin Monteiro

Jaringan juga menuntut kepada Dinas Kebudayaan, Kedutaan Besar, perusahaan atau penyandang dana untuk kesenian dan budaya di Indonesia agar memiliki kebijakan dan SOP, mungkin dewan kurasi, untuk memastikan dana tidak diberikan pada seniman dari kelompok seni atau komunitas seni yang memiliki permasalahan terkait kekerasan seksual.
Selain itu juga menuntut sikap Kepolisian RI untuk segera meneruskan dan memproses sesuai dengan kaidah hukum pelaporan yang telah dilakukan oleh korban.

Selanjutnya jaringan solidaritas untuk korban kekerasan seksual meminta kepada Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, untuk membantu diskusi dan dialog kedepanmya untuk kasus-kasus kekerasan seksual yang melibatkan seniman seperti ini.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Alea Pratiwi – www.Konde.co

Yang paling bahagia dibayangkan ketika dalam perjalanan pulang adalah saat membayangkan senyuman ibu.

Namun ada banyak hal yang tak mengenakkan ketika harus bertemu saudara lain dan yang tak bosannya menanyakan: Kapan Kawin?

Pertanyaan ini selalu menjadi momok bagi kami, aku dan adik perempuanku setiap tahunnya. Seolah jika tak menikah, ini akan menjadi sesuatu yang tabu. Dan, kali inipun ketika baru beranjak ke bandara, hal ini pula yang ditanyakan saudara di kampung. Apalagi om-ku, orang yang paling semangat untuk menjodohkanku dengan teman-temannya.

Sebenarnya bukan perjodohan, ini hanya untuk perkenalan biasa. Siapa tahu kamu cocok. Begitu ulangnya berkali-kali. Dan aku juga tak pernah bosan untuk menolaknya.

Di group Whats App keluarga, obrolan tentang siapa yang belum menikah ini selalu datang ketika lebaran tiba. Entah mengapa, apakah ini karena begitu dekatnya hubungan keluarga kami, ataukah sudah menjadi tradisi bahwa sesama keluarga harus saling memperhatikan. Termasuk menentukan kapan seseorang harus menikah.

Namun perhatian macam apa kalau ini sudah tak membuat kita nyaman untuk pulang saat lebaran kak? begitu kata adikku.

Di usia kami yang menginjak angka 30, memang tak lumrah bagi keluarga kami, ketika kami tak pulang dengan pacar kami masing-masing, masih pulang sendirian, dan tiba-tiba semua orang kuatir jika kami kena rampok di jalan karena tak ada laki-laki yang mendampingi. Oh, My God!

Jika saya ditanya, apa momokmu ketika lebaran? Jawaban saya selalu sama 5 tahun ini: bertemu saudara. Ketemu saudara menjadi tak nyaman karena pertanyaan kapan nikah ini selalu dilontarkan.

Belum lagi nanti kalau datang ke reuni sekolah. Yang pertama ditanyakan pasti: sekarang tinggal dimana? Bekerja dimana? Sudah menikah belum?

Menikah memang sepertinya sudah menjadi tujuan semua orang. Seolah jika sudah menikah, sudah tergenapilah hidup di dunia ini. Padahal tak semua orang menjadikan pernikahan sebagai titik akhir perjalanan hidup.

Ada banyak orang yang ingin berkarir, ada yang ingin mengadopsi anak saja cukup, ada yang ingin tetap sekolah setinggi mungkin dan ada yang ingin menghabiskan hidupnya dengan menjadi macam-macam, traveller, mengajar di sebuah universitas di luar negeri, menjadi pekerja dan aktivis di daerah konflik, dan tentu masih banyak lagi. Inilah orang-orang yang tinggal di sekeliling saya sekarang ini di Jakarta. Teman-teman yang menjadikan pernikahan bukan sebagai titik akhir perjalanan hidup. Kalaupun ada yang memutuskan menikahpun, mereka juga tak repot jika tidak mempunyai anak atau hidupnya serba kekurangan sekalipun.

Karena, toh, semua orang tak pernah punya standar yang sama tentang hidup. Apakah orang harus menikah, hidup makmur dan bahagia selamanya?

Sumber kebahagiannpun tidak hanya itu. Ada banyak hal yang membuat saya bahagia. Ada banyak hal yang membuat adik saya bahagia. Lihat saja, dua minggu lalu ia baru saja menerima kabar bahagia ketika karyanya menang dalam sebuah penghargaan internasional rumah sehat. Menurut saya, ia tetaplah adik saya, seorang arsitek yang handal yang mendesain semua rumah kami, kakak-kakak kami dari dulu. Apakah jika ia belum menikah di usianya yang ke-31 tahun, lantas kami menyebutnya sebagai adik yang kurang beruntung? Tidak. Saya tetap beruntung mempunyai adik yang perhatian kepada keluarga, setiap saat bisa pulang menengok ibu karena pekerjaannya yang sangat fleksibel.

Saya tak pernah bosan mengingatkan tentang hal ini pada yang lainnya. Namun jika ingatan ini tak merubah semua orang, saya cukup titip pesan ke ibu:

“Ibu mestinya bangga punya anak yang perhatian pada keluarga, saudara dan orang-orang yang kesusahan.”

Dan ibupun mengangguk,” Apapun, kalian semua adalah anakku.”

Inilah yang membuat saya, adik saya selalu mengingat bahwa pulang kampung di saat lebaran adalah: mengingat ketulusan ibu menerima kami apa adanya.

Dan yang paling penting, lupakan momok lebaran. Ini kepo banget, dan tak penting bagi kami.


(Di Bandara, Saat Mau Terbang)

*Alea Pratiwi, Pustakawan, senang menulis dan beraktivitas sosial. Tinggal di Jakarta.