Cerita dari Pertemuan Dengan Pelaku Sejarah Pemogokan Pelabuhan Liverpool


*Suryansyah- www.Konde.co

Buruh pelabuhan di seluruh dunia kerap berkumpul di Liverpool setiap tanggal 29 September untuk memperingati mogok terpanjang di sejarah industri pelabuhan Inggris yang pecah pada 24 tahun silam.

“Mogok di pelabuhan Liverpool ini terjadi selama 850 hari atau 28 bulan melibatkan buruh pelabuhan laki-laki dan wanita, anak-anak, bintang sepakbola, musisi bahkan komedian yang tak henti-henti memberikan solidaritas dari seantero dunia,” ujar Tony Nelson mantan buruh pelabuhan Liverpool. Ia merupakan salah satu dari pelaku pemogokan bersejarah tersebut.

Saking meluasnya, bahkan merek pakaian dunia Calvin Klein mengeluarkan kaos edisi khusus bertuliskan “doCKers, dukung 500 buruh pelabuhan yang dipecat”. Huruf C dan K melambangkan merek Calvin Klein yang menjadi bagian dari dockers atau pekerja pelabuhan.

Perbincangan menarik ini terjadi saat saya bertemu dengan Tony disela-sela rehat konferensi buruh pelabuhan sedunia di Perth, Australia Barat, Februari silam.

Kami berdiskusi singkat dan saling bertukar cerita tentang perlawanan buruh di Indonesia dan Tony membalas saya dengan cerita yang tidak kalah menginspirasi.

Cerita ‘epic’ pemogokan buruh pelabuhan Liverpool berawal saat 80 pekerja outsourcing dipecat oleh Firma Bootle Dock. Lalu Toni bersama buruh lain bersolidaritas dengan membagikan pamflet bertuliskan “Selamatkan 80 Pekerja, Katakan Tidak Pada Outsourcing” di tenda perjuangan.

“Selang satu hari, 329 buruh pelabuhan dipecat oleh perusahaan Mersey Dock and Harbour Company (MDHC) karena kami menolak untuk meninggalkan tenda perjuangan,” ujar Tony.

Perusahaan tempat Tony dan kawan-kawan bekerja hanya datang dengan penjelasan bahwa buruh-buruh tersebut melanggar kontrak dan wajib dipecat.
Tidak mudah saat itu karena banyak yang mengira para buruh masuk jebakan perusahaan. Betapa tidak, parah buruh di-phk dalam hitungan sekejap.
Banyak pertanyaan kenapa buruh-buruh yang bersolidaritas tersebut tidak meninggalkan saja tenda perjuangan.

“Tapi kami tetap melakukan apa yang kami yakini. Dan kami tetap melakukan itu,” ujar Tony.

Bagaimana Dukungan Meluas?

Kawan lain Terry Teague yang juga mantan buruh pelabuhan Liverpool menjelaskan bahwa di awal perjuangan terasa berat karena mereka merasa terisolasi.

“Kami pikir tidak akan ada yang mendukung. Saat ada konferensi solidaritas dan ternyata dihadiri 80 delegasi internasional untuk mendukung perjuangan kami, disitu kami sadar bahwa kami tidak sendirian,” kata Terry.

Dukungan yang mengalir bahkan dari para bintang sepakbola. Pemain Liverpool Robbie Powler bahkan menunjukan kaos bertulisan “doCKers” setelah mencetak goal. Alex Ferguson, manager Manchester United, musuh abadi Liverpool, memberikan barang-barangnya untuk dilelang di sebuah acara demi membantu pemogokan. Tidak mengejutkan apa yang dilakukan Ferguson, dia putera seorang buruh rigger gas Mossmorran. Sebelum memasuki karir sepakbolanya Ferguson bekerja sebagai pelayan toko di galangan kapal Clyde.

Setelah kejadian besar tersebut, perusahaan yang menjalankan pelabuhan Liverpool seperti Peel Ports tidak lagi anti kepada serikat dan mendukung adanya perjanjian kerja bersama. Bahkan sebagian hasil dana solidaritas digunakan untuk membeli kedai minuman sekaligus pusat pelatihan buruh yang bernama ‘The Casa’ dan dijadikan “Tugu Peringatan” perlawanan buruh pelabuhan Liverpool.


Pelajaran dari Liverpool

Banyak hikmah yang saya dapat dari cerita Tony dan Terry. Sebuah perbincangan singkat namun kaya akan nilai perjuangan dan perlawanan. Walaupun pemogokan buruh pelabuhan Liverpool tidak berakhir baik, namun mereka telah menunjukkan apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “Kita telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”.

Pada akhirnya, buruh mengambil pesangon. Tapi, perusahaan Mersey Docks harus menelan kerugian jutaan poundsterling akibat blokade buruh selama mogok. Perusahaan kehilangan waktu dan mengakibatkan keterlambatan pengiriman. Pada 1995, laba turun hingga 1,9 juta pounds dan 2,1 juta pounds pada tahun berikutnya. Ini merupakan penurunan pertama laba sejak perusahaan itu beroperasi.

Dan saya teringat sebuah buku berjudul “Confession of a Union Buster” karya Martin J Levitt, seorang pelaku pemberangus serikat yang belakangan tobat dan membeberkan taktik busuk anti-serikat.

Martin mengatakan hal yang paling ditakuti perusahaan adalah “Persatuan” dan “Solidaritas” buruh. Itulah senjata mematikan kelas pekerja. Itulah kenapa, perusahaan melakukan PHK pada buruh-buruh pelabuhan Liverpool yang memberikan solidaritas pada buruh outsourcing.

Pelajaran lain dari pemogokan itu adalah bagaimana sebuah pemogokan dapat menarik dukungan sebegitu luas. Selain bintang bola yang hadir di tenda juang, bahkan para selebirits seperti Jo Brand dan Noel Gallagher membantu penggalangan dana. Dukungan yang luas datang dalam bentuk kiriman-kiriman dana, seringkali anonim, dan uang. Bahkan, seorang janda dari buruh tambang menyerahkan tabungan suaminya pada akhir 97 demi membantu dana mogok.

*Suryansyah (Uyan), Deputi Serikat Pekerja (SP JICT)/Wakil Ketua Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI)

(Tulisan ini ditulis ulang dari www.buruh.co)