Film Dua Garis Biru: You Are Part of Something Beautiful


"You are part of something beautiful".

*Alfa Gumilang- www.Konde.co

Kutipan itu tertulis kecil di kaos Dara dalam satu adegan beberapa detik dalam film “Dua Garis Biru (DGB)”. Lantas saja saya berfikir bahwa itu sebuah simbol yang ingin disampaikan oleh Gina S. Noer dalam film perdananya sebagai sutradara. Entah benar atau tidak, atau isi kepala saya saja yang kerap mencari-cari simbol ketika menonton film.

Seorang perempuan muda yang hamil di luar pernikahan, terlebih ketika masih sekolah mungkin dianggap sebagai hal yang memalukan. Terlepas dari apakah itu sebuah kesalahan dalam nilai-nilai moral tertentu, atau itu “sekadar” kecerobohan anak muda. Tapi saya menilai bahwa Dara tetaplah bagian dari keindahan sebagai perempuan yang harus menghadapi konsekuensi besar.

Ketika film ini masih dalam proses produksi, sebuah petisi muncul di change.org yang meminta kepada Lembaga Sensor Film (LSF) agar film ini tidak diloloskan. Namun saat ini petisi tersebut telah dicabut oleh pembuatnya, Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia. Sial memang, menonton filmnya saja belum, tapi sudah bisa menyimpulkan bahwa film ini akan menjerumuskan.

Kembali lagi ke film DGB, premis film ini mungkin terlihat sederahana. Dua remaja yang masih menggenakan baju putih abu-abu dimabuk asmara, hingga kemudian melakukan hubungan seksual dan berujung pada kehamilan. Namun alur dari film ini ternyata tak sesederhana premisnya, bahkan juga akhir dari cerita film ini juga jauh dari kata klise.

Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara, salah satu personil dari JKT 48, bersepakat dengan pacaranya, Bima yang diperankan oleh Angga Yunanda untuk menyembunyikan kehamilannya. Setelah sebelumnya sempat berencana menggugurkan janinnya, namun ragu dan urung melakukan hal itu. Bagi saya, sutradara ingin memperlihatkan bagaimana Dara yang seorang perempuan mempunyai hak atas apa yang ada di dalam tubuhnya.

Rahasia besar dua remaja itu tak sengaja terbongkar dalam sebuah peristiwa yang terjadi ketika pelajaran olahraga. Pihak sekolah kemudian menghubungi kedua orang tua mereka. Pertemuan antara Dara dan Bima, beserta kedua orang tua mereka terekam dalam satu adegan yang cukup panjang dalam satu shoot di ruang Unit Kesehatan Siswa.

Ini adalah salah satu adegan indah yang ada di dalam film DGB. Ketika sutradara mempertemukan dua keluarga dalam satu ruangan untuk merespon satu peristiwa besar yang menimpa anak-anaknya. Di ruangan itu terbentur emosi-emosi di antara dua keluarga, terbentur sikap di antara dua keluarga. Pihak lain yang kemudian ikut serta mengambil sikap adalah sekolah yang menyatakan dengan terpaksa harus mengeluarkan Dara, sekalipun ia adalah siswi yang cerdas. Sementara Bima yang prestasinya berbanding terbalik dari Dara, tetap bisa melanjutkan sekolahnya.

Dalam hal ini mungkin sutradara ingin menggambarkan satu fakta yang hidup. Siswi yang hamil adalah hal yang memalukan bagi sekolah, harus menerima konsekuensi dari perubahan fisiknya sebagai hal yang memalukan, sementara Bima tetap diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah. Menunjukan bahwa diskriminasi masih dirasakan oleh perempuan di negeri ini, tak terkecuali perempuan yang masih dalam kategori anak. Tubuh perempuan yang tak pernah lepas dari penilaian, pun ketika hamil dengan perut membesar tetap dianggap sebagai tubuh yang aib.

Selanjutnya benturan pandangan dan sikap yang harus diambil dari kehamilan Dara menjadi menu yang disuguhkan di film ini hingga film berakhir. Tentu saja bukan hanya benturan pandangan dari orang tua mereka saja, namun juga Dara dan Bima yang sekalipun masih anak, namun harus juga mengambil sikap selayaknya orang dewasa, akibat dari apa yang pernah mereka lakukan. Di tengah pertentangan itu, sutradara tetap menyajikan kepolosan dari dua bocah ini, menunjukan mereka tetaplah seorang anak-anak, sekalipun mereka harus menghadapi sesuatu yang besar.

Kerumitan yang dihadapi Dara dan Bima benar-benar tergambarkan, membayangkan dua orang anak harus menghadapi situasi yang berat dan mungkin membuat kepala mereka berdenyut. Sebagaimana tergambarkan ketika dua keluarga itu bertemu di kemudian hari, dan GPS dari gawai Bima masih menyala dan mengeluarkan suara di tengah perbincangan. “Jalan buntu, harap putar balik.”

Pergulatan pandangan dan sikap itu yang mampu menghidupkan film ini sehingga tidak berjalan dengan klise. Emosi penonton juga benar-benar dimainkan oleh film ini. Di tengah menonton film ini, rasanya juga ingin ikut serta memberikan pandangan atas situasi yang terjadi.

DGB sangat berkebalikan dengan petisi dan penolakan dari sebagian orang, justru di film ini syarat dengan pendidikan seksual. Tak hanya pada orang tua saja, namun juga bagi anak-anak muda. Hal ini tercermin dalam beberapa adegan di film, seperti ketika Ibu Bima merasa menyesal tidak dari dulu membicarakan tentang kehidupan seksual, atau ketika Dara dan Bima berkomunikasi dengan dokter kandungan. Nampak bagaimana mereka tak tahu apa yang terjadi dari situasi yang dialami oleh Dara.

Dari aspek teknis saya kira film ini juga digarap dengan detail. Bima yang dari keluarga sederhana tinggal di perkampungan yang padat, dapat digambarkan dengan baik. Bocah yang berlarian dan bermain di sungai berwana coklat, orang-orang bertengkar, suara musik dangdut yang keras, dll. Begitu pula acting dari para pemain yang saya rasa cukup bagus, tak menyangka Zara JKT48 dan Angga Yunanda bisa dengan baik memerankan karakter Dara dan Bima dengan manis.

Lalu solusi apa yang diambil dari kerumitan ini? Pilihan dan sikap seperti apa yang akhirnya diputuskan oleh Dara dan Bima beserta keluarga mereka? Andai saja alur dan akhir cerita di film ini klise adanya, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan saya langsung jawab. Demikian baiknya pertanyaan-pertanyaan itu biarlah dijawab oleh Dara dan Bima di bioskop karena merekalah yang menghadapi situasi itu. Nikmati dan rasakan part of something beautiful dari film Indonesia ini.

(Foto: 21cineplex.com)

*Alfa Gumilang,
penulis dan publishis film di Amygdala Publicist