Mitos, Perempuan dengan Baju Terbuka Adalah Perempuan yang Merangsang Pelecehan Seksual


Luviana- www.Konde.co

Siapa bilang baju terbuka menjadi alasan bagi orang untuk melakukan pelecehan pada orang lain? Selama ini, banyak anggapan yang mengatakan bahwa perempuan yang mengenakan baju terbuka akan menjadi korban pelecehan. Atau yang lebih mengenaskan lagi, adanya mitos bahwa perempuan dengan baju terbuka adalah perempuan yang merangsang pelecehan seksual.

Survei yang dilakukan Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JFDG), dan Change.org Indonesia tentang survei pelecehan seksual di ruang publik menepis anggapan itu semua.

Hasil survei tentang pelecehan seksual di ruang publik ini yang diikuti oleh 62 ribu orang ini kemudian menyanggah mitos-mitos tentang pelecehan seksual yang selama ini banyak dipercaya orang.

Rastra dari Lentera Sintas Indonesia dalam konferensi pers survey ini di Jakarta, 17 Juli 2019 kemarin mengatakan bahwa survey ini dilakukan di ruang-ruang publik karena banyaknya pelecehan seksual yang menimpa perempuan selama ini.

“Pernah ngalamin pelecehan seksual oleh orang nggak dikenal di tempat umum? Kayaknya kasus-kasus pelecehan gitu sering banget terjadi. Ada yang terjadi di ruang publik seperti alun-alun kota, transportasi umum, sekolah atau kampus, pusat perbelanjaan, bahkan tempat kerja. Tapi coba deh perhatiin reaksi orang waktu tahu ada pelecehan seksual. Nggak jarang kan yang komentar, duh, pasti ceweknya pakai baju seksi. Atau makanya jangan jalan malam-malam sendirian. Sudah jadi korban, disalahkan pula!,” ujar Rastra.

Survei yang diikuti lebih dari 62 ribu orang ini bermaksud agar kita lebih paham tentang bagaimana pelecehan seksual di ruang publik terjadi, perspektif korban dan orang yang menyaksikan pelecehan, serta mengecek kebenaran mitos-mitos tentang pelecehan seksual di ruang publik seperti jenis pakaian korban dan waktu terjadinya pelecehan.

Ternyata banyak mitos yang keliru yang selama ini beredar di masyarakat. Selama ini korban pelecehan seksual banyak disalahkan karena dianggap ‘mengundang’ aksi pelecehan dengan memakai baju seksi atau jalan sendiri di malam hari. Tapi itu semua bisa dibantah dengan hasil survei ini yang jelas menunjukkan bahwa perempuan bercadar pun sering dilecehkan, bahkan pada siang hari.

Menurut hasil survei, mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami pelecehan seksual melainkan memakai celana/rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%). Hasil survei juga menunjukkan bahwa waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%).

Berbeda dengan mitos, survei ini juga membuktikan bahwa pelecehan seksual tidak selalu dialami oleh perempuan, namun juga laki-laki. Karena itu isu mengenai pelecehan seksual di ruang publik ini tidak hanya menjadi kepedulian perempuan, tapi juga laki-laki. Apalagi untuk orang-orang yang telah memiliki anak karena hasil survei ini menunjukkan bahwa satu dari dua korban mengalami pelecehan seksual saat masih di bawah umur. Mayoritas korban mengaku mengalami pelecehan secara verbal seperti komentar atas tubuh (60%), fisik seperti disentuh (24%) dan visual seperti main mata (15%).

Selama ini mitos bahwa perempuan dengan baju terbuka adalah perempuan yang ingin dilecehkan telah lama diyakini masyarakat. Bahkan ketika ada yang mendapatkan pelecehan selalu yang ditanya adalah: dia memakai baju apa? pulangnya pasti malam ya? habis, pulang sendiri sih, perempuan khan tidak boleh pulang sendiri, maka wajar jika dilecehkan. Mitos ini kemudian diyakini turun-temurun dan tidak membuat banyak perempuan. Perempuan juga seolah diatur dari cara berpakaiannya, hal ini kemudian merembet ke kebijakan-kebijakan atau peraturan daerah yang mengatur baju yang menjerat perempuan.

Salah satu temuan penting dari survei ini, yaitu soal reaksi para saksi (bystander) saat terjadi pelecehan seksual di ruang publik. Korban mengaku banyak saksi yang mengabaikan (40%) dan bahkan menyalahkan korban (8%) ketika pelecehan terjadi. Namun banyak pula yang membela korban (22%) dan berusaha menenangkan korban (15%) setelah kejadian. Sebanyak 92% korban pun mengaku merasa terbantu setelah dibela.

Jadi, pelecehan seksual ini murni terjadi 100% karena niat pelaku. Tidak ada korban yang “mengundang” untuk dilecehkan. Tidak seharusnya korban pelecehan seksual disalahkan karena kejahatan yang dilakukan orang lain.

Rika Rosvianti, founder perEMPUan mengatakan bahwa sudah saatnya kita ubah pola pikir kita yang malah sering melakukan viktimisasi korban.

“Karena kalau kita tidak bertindak, pelecehan seksual ini akan terus terjadi dan menghasilkan lebih banyak korban yang bisa jadi adalah orang yang penting dalam hidup kita.”

(Foto: Luviana)