Pekerjaan Rumah Laki-Laki Baru, Mengakhiri Kekerasan dan Berkontribusi dalam Kerja Rumah Tangga


Luviana- www.konde.co.

Jika di sebuah desa, ada laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, itu luar biasa. Apalagi jika mulai ada area dimana tak boleh melakukan pemukulan terhadap perempuan. Ini pasti sangat luar biasa.

Hal-hal inilah yang kemudian diinisiasi Oxfam Indonesia bersama organisasi Aliansi Laki-Laki Baru (ALB) di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sejumlah daerah di Indonesia, melakukan pemukulan terhadap perempuan masih menjadi budaya. Ada yang meyakini ini merupakan budaya yang boleh dilakukan turun-temurun, walaupun sudah ada yang mengakhirinya.

Program Director for Gender Justice Oxfam Indonesia, Antarini Arna menyatakan bahwa Oxfam sudah bekerja untuk mempromosikan isu gender bagi laki-laki sejak tahun 2013 lalu. di NTT dan NTB misalnya pada data 2017 lalu, mereka bekerja di desa-desa, bersama anak-anak muda dan di daerah-daerah yang menjadi wilayah buruh migran.

“Saat ini orang bisa melihat perbedaannya, mana desa yang laki-lakinya mempromosikan gender, mana yang tidak. Sebuah desa, yang di dalamnya ada sejumlah laki-laki yang ikut mempromosikan isu gender, kondisinya akan berbeda dengan desa yang laki-lakinya tidak ikut mempromosikan isu gender,” ujar Antarini Arna.

Aliansi Laki-laki Baru merupakan salah satu kelompok laki-laki pro-feminis yang aktif terlibat dalam gerakan untuk keadilan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Kehadirannya didorong oleh keinginan kuat untuk mengubah patriarki sebagai sistem dan laki-laki sebagai kelompok yang dianggap paling bertanggung jawab atas penderitaan yang ditanggung oleh perempuan di masyarakat, mulai dari diskriminasi sampai tindakan kekerasan.


Keterlibatan Laki-Laki dalam Rumah Tangga

Diar Ruly Juniari, Pegiat Aliansi Laki-laki Baru dan Gema Alam NTB dalam website Aliansi Laki-Laki Baru pernah menuliskan pengalamannya dalam mengadvokasi, bahwa sebelum ada kegiatan keterlibatan laki-laki dalam isu gender, perempuan dipandang sebagai manusia nomor dua, bila ia istri maka dia akan ditempatkan sebagai pelayan suami dan perawat rumah, bahkan di dalam relasi rumah tangga, perempuan tidak boleh terlibat dalam pengambilan keputusan karena konstruksinya berada di bawah kuasa laki-laki.

Apa yang terjadi di atas, itu dulu, tetapi sejak diselenggarakannya pelatihan tentang keterlibatan laki-laki pada isu gender, justru terjadi perubahan yang signifikan dalam perubahan perilaku, baik pribadi maupun sosial di desa dengan indikator diberikannya ruang untuk perempuan serta sikap menghargai keberadaan perempuan di ranah publik.

Perubahan perilaku laki-laki yang mengikuti kegiatan pelibatan laki-laki menjadi kian signifikan manakala adanya keterlibatan tokoh masyarakat, dan sejumlah aparatur desa yang terdiri dari Badan Permusyawaratan Daerah (BPD), Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), serta kelompok pemuda desa.

Kini, laki-laki yang sudah memiliki pengetahuan tentang konsep keadilan gender, turut terlibat dalam melakukan pekerjaan domestik bersama pasangannya, padahal sebelumnya, melakukan pekerjaan domestik selain dianggap sebagai domainnya perempuan, juga akan mendapatkan stigma dari masyarakat sebagai suami yang kalah dari sang istri, atau dalam istilah lokal disebut bawang belot.

Antarini Arna menyatakan bahwa perubahan yang sekarang terjadi antaralain, laki-laki di komunitas sudah mulai berbagi peran dengan istri dan mau melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik.

“Ada perempuan yang tidak usah mencuci karena sedang ada kegiatan, jadi selanjutnya suaminya yang mencuci.”

Laki-laki justru yang mendorong perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan di tingkat desa, serta mengajak masyarakat untuk menghargai peran perempuan. Ini sekaligus menghapus stigma bahwa tugas domestik merupakan tugas perempuan. Padahal tugas domestik bisa dilakukan siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan di rumah.


(Foto: Image: https://pixabay)
(Referensi: http://lakilakibaru.or.id/keterlibatan-laki-laki-dalam-merangkai-desa-adil-gender/)