Sejumlah individu dan organisasi yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Anti Korupsi (PIA) mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi. PIA menyatakan kekecewaannya pada situasi akhir-akhir ini, juga atas pelemahan terhadap keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jakarta, Konde.co- Kepada yang terhormat bapak Presiden Jokowi, dengan surat ini kami ingin menyatakan bahwa kami kecewa atas gelombang demonstrasi yang memprotes revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang direspon dengan tindakan represif oleh negara.

Tindakan represif ini telah merenggut nyawa 5 demonstran, yakni Yusuf Qardawi, Bagus Putra Mahendra, Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah, dan Randy. Kematian kelima demonstran ini adalah tanda bahaya pada demokrasi kita.

Bapak Presiden yang kami hormati, sebagaimana yang kita ketahui bersama, korupsi adalah kanker yang menghancurkan seluruh sendi berbangsa dan bernegara sebuah bangsa. Karena itu perang melawan korupsi adalah kewajiban dan tanggung jawab kita bersama. Dan kami masih mengingat bahwa di awal kepemimpinan bapak presiden, bapak telah berkomitmen penuh mendukung agenda-agenda pemberantasan korupsi. Akan tetapi hari-hari terakhir ini kami melihat dan merasakan bahwa ada upaya yang sistematis untuk melakukan perlawanan terhadap upaya pemberantasan korupsi.

Kami adalah individu yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA) serta lembaga/organisasi yang tergabung dalam Komunitas Antikorupsi dari berbagai kota di Indonesia, menyatakan kekecewaan dan keprihatinan mendalam atas melemahnya perang melawan korupsi yang puncaknya ditandai dengan disahkannya UU KPK yang baru tanpa melalui proses pelibatan publik secara terbuka, partisipatif dan inklusif.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai amanat reformasi dan lembaga yang lahir pada era Presiden Megawati Sukarnoputri, terus dilemahkan oleh elite politik. Meskipun lembaga ini sejak pendiriannya 17 tahun lalu, terus mendapat kepercayaan publik tertinggi atas kinerjanya memberantas korupsi. Melalui revisi UU KPK, yang telah disahkan menjadi UU, lembaga antirasuah ini terus dikerdilkan mandat dan kewenangannya untuk melakukan pemberantasan korupsi.

Bapak Presiden yang kami hormati, pelemahan KPK adalah bukti ragunya kami atas lurusnya niat dan komitmen penyelenggara negara pada upaya pemberantasan korupsi. Masyarakat telah bereaksi. Ketegangan dan keresahan bersambut, yang puncaknya adalah demonstrasi ribuan mahasiswa di berbagai kota. Tuntutan mereka semua sama, yakni menolak pelemahan KPK. Gelombang demonstrasi yang direspon dengan tindakan represif oleh negara, telah merenggut nyawa lima demonstran, yakni Yusuf Qardawi, Bagus Putra Mahendra, Maulana Suryadi, Akbar Alamsyah, dan Randy. Kematian kelima demonstran ini adalah tanda bahaya pada demokrasi kita. Panggilan dan alarm yang sangat kuat, yang sama sekali tak boleh disepelekan apalagi diabaikan. Nyawa mereka tak boleh hilang dalam kesia-kesiaan oleh sikap abai para pemimpin. Duka cita kami yang mendalam bagi gugurnya pahlawan reformasi ini.

Berbagai peristiwa, ketegangan, dan keresahan masyarakat ini menunjukkan bahwa semua elemen masyarakat berbagi kerisauan yang sama tentang masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia. Keprihatinan ini pula yang disuarakan para tokoh bangsa yang beraudiensi dengan bapak presiden di istana, akhir September 2019 lalu.

Namun, harapan itu kian redup. Hari-hari terakhir ini ruang-ruang publik di tanah air kita, dipenuhi dengan polusi narasi-narasi kelam para pelayan rakyat (pemerintah dan DPR) yang memanipulasi nalar dan nurani publik. Kami mengecam sikap, keputusan, dan kalimat-kalimat yang mempertontonkan kesewenang-wenangan para pelayan rakyat. Sikap dan narasi-narasi yang menunjukkan rendahnya kemampuan para pelayan rakyat dalam merasakan dan menangkap aspirasi publik yang memberinya mandat untuk melayani.

Bapak Presiden yang kami hormati, kami juga menyoroti komunikasi politik yang buruk dari para pelayan rakyat dalam mensikapi aspirasi-aspirasi rakyat hari-hari belakangan ini; serta pudarnya komitmen moral dan etika para pelayan rakyat untuk menjaga, merawat, dan memperjuangkan nilai-nilai luhur untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari korupsi. Lebih dari itu, sikap para pelayan rakyat ini telah merampas harapan, rasa keadilan dan cita-cita Indonesia yang berkeadilan. Hari-hari terakhir ini para pelayan rakyat telah mengkorupsi kekuasaan dan menyalahgunakannya untuk melindungi kepentingan kelompoknya, bukan untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara.

Pada titik ini bukan hanya korupsi merajalela yang kami takutkan, tapi kami bertambah takut melihat betapa nyamannya para pelayan rakyat bersekutu melemahkan upaya-upaya pemberantasan korupsi di tanah air ini. Seolah-olah kesadaran dan pemahaman bahwa korupsi sebagai penghambat laju pembangunan tidak dimiliki oleh mereka.

Atas segala keprihatinan tersebut, kami Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA) & Komunitas Antikorupsi bersama ini menyampaikan 2 butir tuntutan nurani kepada bapak selaku pemimpin tertinggi bangsa dan negara Indonesia ini agar bapak presiden untuk memimpin upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Bapak telah dipilih oleh lebih dari 87 juta rakyat Indonesia dengan ongkos uang rakyat triliunan rupiah, bukan dengan mandat melindungi kepentingan oligarki atau sekelompok elit, tapi untuk membela kepentingan bangsa dan negara. Kami percaya bapak adalah pemimpin yang amanah yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia. Atas kepercayaan itu, kami menuntut Bapak menjalankan amanah yang kami titipkan kepada Bapak selaku Presiden Republik Indonesia 5 tahun ke depan.

Yang kedua kami juga menuntut agar bapak mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) atas revisi UU KPK. Kami memahami satu-satunya kewenangan penuh yang Bapak miliki adalah dengan mengeluarkan Perpu tersebut sebagai upaya mengatasi kebuntuan sosial dan politik saat ini.

Bapak Presiden yang kami hormati, Perpu ini memang tidak akan langsung menyelesaikan masalah bangsa, tapi setidaknya Perpu merupakan simbol komitmen bahwa Bapak Presiden bersama rakyat yang ingin KPK tetap berfungsi membasmi korupsi, menjaganya dari oligarki yang kian membelit bangsa ini. Keberpihakan ini kami nantikan.

Saat ini kami belum melihat komitmen itu secara jelas dan tegas dari bapak, khususnya dari elit partai dimana bapak berasal. Bapak bukan petugas partai. Bapak adalah presiden seluruh rakyat Indonesia, bukan presiden partai apalagi petugas partai. Terlalu mahal harga yang harus bangsa ini bayar, jika Bapak hanya menjalankan tugas bapak sebagai petugas partai. Saatnya bapak mendengar hati nurani bapak, bukan mendengarkan kepentingan sekelompok elit.

Dan kami, atas nama Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA) dan Komunitas Antikorupsi lainnya, menunggu sikap Bapak selaku Presiden Republik Indonesia yang merupakan pelayan rakyat untuk menunjukkan posisi yang jelas dan tegas sebagai pemimpin terdepan atas segala upaya pemberantasan korupsi di tanah air.

Jangan matikan harapan kami pak, karena tugas utama dari seorang pemimpin adalah penyambung harapan, dealer of hope, bagi rakyat Indonesia. Bukan menjadi dealer of hope bagi sekelompok elit semata. Mari bersama-sama kita putuskan rantai korupsi ini. Perpu ini adalah langkah awal penting menunjukkan keberpihakan bapak. Rakyat akan bersama Bapak.

Dan kami percaya, bapak ingin dikenang sebagai presiden yang berada di belakang rakyat, bukan di belakang para koruptor dan pelindung oligarki.

Semoga surat terbuka ini menggugah nurani bapak presiden dan orang-orang disekitar Bapak bahwa Indonesia bukanlah milik sekelompok orang, tapi milik seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Perjalanan politik bapak dan apa yang telah Bapak torehkan bagi negeri ini, jangan dibiarkan hapus oleh kepentingan kelompok yang mengkorupsi agenda-agenda reformasi.

Hari ini #IndonesiaMemanggil!
Jakarta, 13 Oktober 2019
Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA) & Komunitas Antikorupsi

*Adinda – www.Konde.co

Selamat pagi Mr. Charles,

Ini hari Minggu pagi dan saya baru bangun tidur. Saya bangun kira-kira sekitar jam 9 pagi lalu. Tubuh saya sakit dan itu karena udara dingin tadi malam ditambah tidur di permukaan yang lurus dan keras selama 12 hari berturut-turut.

Ya, saya punya bantal kecil, selimut tipis botak, masker mata dan satu-satunya cardigan yang pernah anda gunakan malam itu ketika anda merasakan kedinginan.

Pagi ini satu demi satu perempuan-perempuan muda di sini pergi dan dipindahkan atau biasanya mereka bertemu jaksa terlebih dahulu kemudian pergi di karantina selama beberapa minggu dan pindah ke penjara perempuan di tempat dimana dulu mereka pertamakali disana setelah ditangkap.

Nah, hari ini adalah hari latihan dan kita diizinkan keluar di tempat parkir dan berolahraga atau sekadar menghirup udara segar.

Biasanya saya akan melakukan squat jump, bermain papan, mendorong, duduk, menjalankan olahraga yang biasanya dilakukan di musim panas. Itu saja sudah membakar kalori saya dan membuat saya berkeringat. Lalu setelah itu saya akan melakukan beberapa tendangan dan pukulan.

Semua penghuni penjara itu menatapku aneh. Ya, sepertinya saya adalah satu-satunya orang aneh di sini. Badan penuh tatto, rambut pendek, kulit gelap, dan mereka mengira aku adalah seorang lesbian, seperti biasanya.

Ngomong-ngomong, aku mewarnai rambutku di sini menggunakan Heena Coloured Burgundy dan ini memang menjadikanku terlihat berbeda. Mereka bilang itu cocok untukku dan aku terlihat jauh lebih segar dengan warna baru tapi setidaknya bukan pirang. Ach.

Disini aku mendapatkan tiga kali makan dan ini membuatku mudah bosan. Kita bisa saja membeli kopi, teh, milk, dan mie instan tapi harganya cukup mahal. Saya kira semuanya di sini sangat mahal. Saya tidak tahu berapa lama saya dapat memiliki uang karena saya tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan. Saya agak frustrasi di sini.

Biasanya setelah olahraga selesai, saya lalu mandi kemudian minum dan tidur siang.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di sini, Mr. Charles. Berat badan saya mungkin bertambah saat saya keluar dari sini. Tapi sebenarnya itu tergantung juga. Meskipun saya makan banyak dan tidak melakukan apa-apa, tetapi jika saya sedang stres dan terlalu banyak berpikir, saya tidak akan bertambah berat, tetapi justru akan kehilangan berat badan.

Selamat pagi Mr. Charles, itulah aktivitas saya setiap hari disini. Di balik penjara. Dan saya masih menulis surat untuk anda di sini.


*Adinda, bukan nama sebenarnya, warga binaan.

Tulisan ini merupakan bagian dari #Surat atau Suara dari Balik Sekat Project, sebuah program pelatihan penulisan deskriptif yang dilakukan bagi para perempuan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atas kerjasama LBH Masyarakat bersama 3 media perempuan: www.Konde.co, www.Magdalene.co dan Jurnal Perempuan yang memberikan pelatihan menulis disana selama 8 minggu. Tulisan ini diterbitkan untuk memperingati hari kesehatan mental dunia.

*Sari Mentari- www.Konde.co

Bagaimana perasaanmu jika menonton film yang mengingatkanmu pada semaraknya persahabatanmu saat SMA? Jika kamu ingin merasakan sensasi ini, tontonlah film “Bebas.”

Film “Bebas” mampu membius penonton untuk tertawa, menyanyi bahkan menari di sepanjang film. Sesekali ada perasaan sedih, tapi justru disitulah kekuatannya.

Di sepanjang film “Bebas” kita juga akan diberikan perenungan soal pelecehan terhadap perempuan, pertanyaan tentang mengapa perempuan harus mandiri, juga bagaimana perempuan yang menjadi sulit untuk mengekspresikan keinginannya. Di film “Bebas” kamu juga akan mendapatkan gemuruh perlawanan pada pemerintahan orde baru yang dilakukan anak-anak muda.

Teman saya yang aktivis 98 di sosial medianya menuliskan ingatannya ketika pertamakali melakukan demonstrasi setelah menonton film ini. Atau teman perempuan saya yang lain ingat bagaimana perjuangannya saat dibully ketika SMA. Nostalgia bahkan keinginanmu yang belum bisa terwujud waktu itu, bisa kamu ekspresikan lewat film ini.

Keluar dari bioskop dan ingin melakukan sesuatu yang berarti juga dirasakan kawan saya yang lain. Banyak perasaan yang muncul setelah menonton film garapan Riri Reza dan Mira Lesmana ini.

Merasakan sakit dan akan meninggal 2 bulan lagi, Kris Dayanti (Susan Bachtiar) lalu secara tak sengaja bertemu dengan Vina Panduwinata (Marsha Timothy) yang merupakan sahabatnya ketika SMA. Mereka adalah anggota gang bebas, gang anak SMA yang bersahabat, menyelesaikan persoalan bersama dan mengalami problem khas remaja tahun 90-an.

Walaupun ada pertengkaran antar geng cewek yang khas anak SMA, namun film ini menyelipkan banyak pesan seperti mengajak untuk stop pelecehan yang dilakukan siswa laki-laki SMA terhadap Vina Panduwinata yang mengakibatkan imbas, gang Bebas harus dikeluarkan dari sekolah. Film ini juga menitipkan pesan soal keresahan dalam rumah tangga yang menimpa perempuan.

Atas permintaan Kris Dayanti yang sebentar lagi akan meninggal, maka Vina Panduwinata kemudian mengumpulkan semua anggota gang bebas yang semuanya telah menjadi dewasa, beberapa diantaranya sudah menjadi orangtua.

Film ini merupakan adaptasi dari film “Sunny” yang merupakan film Korea, namun beberapa penonton berkomentar bahwa film ini lebih seru dan kocak, banyak penonton dibuat tak mau beranjak dari tempat duduknya hingga film ini selesai. Musik yang ditampilkanpun merupakan musik yang banyak didengarkan anak-anak 90-an pada masanya. Jadilah film ini diberikan predikat film untuk anak 90-an.

Gang Bebas adalah gang anak SMA yang anggotanya antaralain Kris Dayanti(Sheryl Sheinafia) sebagai pemimpin gang, Jessica (Agatha Pricilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Luthesha) dan Jojo (Baskara Mahendra).

Vina Panduwinata (Maizura) adalah anak baru pindahan dari Sumedang yang kemudian ke Jakarta dan kemudian diajak bergabung di Gang Bebas.

Ketika dewasa, “Bebas” juga menuliskan sejumlah hal penting lain seperti Vina Panduwinata yang selama ini kurang berekspresi dalam hidupnya, padahal ini bukan sesuatu yang diinginkannya. Vina yang selalu memendam apa yang dirasakannya, sampai jatuh cintapun ia tak sanggup mengatakannya. Ketika menjadi orangtua, akibatnya Vina Panduwinata menjadi orang yang sangat hati-hati dengan hidupnya, terlalu halus karena takut menyakiti sampai ia selalu merasa canggung di depan suami dan anaknya.

Bertemu kembali dengan Kris Dayanti di masa dewasa ternyata bisa membuatnya seperti hidup kembali. Pertemanan, persahabatan, rasa percaya dan hal-hal bahagia yang pernah dirasakan bersama ketika masa SMA ternyata tak pernah mati diantara mereka.

Banyak orang mengatakan bahwa kita bisa kembali di satu titik, ketika titik itu mengantarkan pada hal-hal yang menyenangkan, menyedihkan, menggetarkan. Begitulah gang Bebas yang sudah 23 tahun tak bertemu. Mereka kembali bertemu di titik dimana mereka sedang melakukan pencarian tentang berbagai makna hidup. Jessica (Indy Barends), Jojo (Baim Wong), Gina (Widi Mulia), Kris Dayanti, Vina Panduwinata dan Putri.

Film ini juga bertabur bintang. Oka Antara yang hanya tampil sekilas juga ada Reza Rahadian yang juga tampil hanya beberapa menit di akhir film.

Buat saya, film ini memberikan haru biru tentang perjalanan hidup dan pengalaman-pengalaman personal yang tak terlupakan, Ini merupakan kekuatan "Bebas."

Saya juga menjadi tahu satu hal bahwa persahabatan itu tak mengenal waktu, sahabat seperti menjadi pengingat tentang hidup yang harus terus diperjuangkan.

(Foto: 21cineplex.com)

*Sari Mentari, penulis dan dosen di Jogjakarta.

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Apakah kamu pernah berpikir, siapa yang menjahit baju-bajumu tiap hari? Siapa yang memasang kancingnya? Siapa yang mencuci dan mengemasnya sehingga menjadi baju yang siap kamu pakai?

Pertanyaan ini sangat mengganggu saya. Banyak perempuan yang bekerja di belakang baju-baju yang kita pakai, namun tak pernah tertulis namanya. Mereka berada di belakang deretan baju-baju yang dipajang di mall-mall atau pusat perbelanjaan. Padahal jerih payahnya tak terhitung banyaknya. Kerja kerasnya yang sering tak tercatat, mereka juga bekerja tak kenal lelah di tengah hiruk-pikuk suara mesin pabrik setiap harinya.

Yang mengerjakan baju-baju yang kita pakai ini adalah para pekerja garmen yang rata-rata pekerjanya adalah perempuan. Ingin tahu apa saja problem yang menimpa mereka? Penelitian yang pernah dilakukan Perempuan Mahardhika terhadap para buruh perempuan di Kawasan pabrik Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta di tahun 2017 menemukan fakta bahwa 50% dari mereka menyatakan rasa takut atau rasa khawatir saat mengetahui dirinya hamil, karena lingkungan Kerja yang Tidak Ramah pada Buruh Hamil.

Apa saja persoalan yang menimpa para perempuan pekerja garmen?


1. Kehamilan yang Tak Mudah

Bagi buruh hamil, rasa tidak aman muncul tatkala pekerjaan yang menjadi sumber dan daya hidupnya berada dalam ruang ketidakpastian. Tidak pasti keberlangsungan menjalani pekerjaan, atau hasil dari kerja tersebut tidak mampu mencukupi dan menjamin kesejahteraan sang buruh ibu. Semakin tidak aman, tatkala pekerjaan ternyata meningkatkan ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan janin sang buruh.

Kekhawatiran dan ketakutan adalah wujud rasa tidak aman bagi pekerja perempuan garmen yang sedang hamil, terhadap hal yang dihadapinya saat ini, ataupun terhadap ketidakpastian akan masa depan sang buruh dan janin yang dikandungnya.

Peneliti dan Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika, Mutiara Ika pernah menyebutkan bahwa banyak faktor yang memunculkan rasa khawatir pada mereka, dan inilah yang mendorong Perempuan Mahardhika untuk melakukan sebuah studi tentang kondisi kerja buruh garmen perempuan terkait dengan masa kehamilannya.

Sebanyak 59 (50%) pekerja perempuan yang sedang maupun yang pernah hamil menyatakan takut mengalami keguguran saat bekerja. Buruh hamil selayaknya mendapatkan beberapa kemudahan dan keringanan dalam bekerja, terutama dari aktivitas atau situasi yang bisa berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Namun hasil kajian ini mendapati bahwa sebagian besar (60%) buruh yang sedang dan pernah hamil tidak mendapati adanya perubahan beban kerja sehari-hari, artinya beban dan target kerja tetap sama dengan buruh lain yang tidak hamil.

2. Takut Kehilangan Pekerjaan

Kenyataan bahwa sebagian besar pekerja garmen di KBN Cakung berstatus buruh kontrak, berdampak pada tingginya ketidakpastian (dan masa depan) kerja buruh. Bagi para pekerja kontrak ini, menjawab pertanyaan tentang masa depan kerjanya di perusahaan (sekarang) adalah hal yang sangat sulit atau bisa dibilang hampir mustahil. Tercatat ada 177 (22.9%) buruh perempuan yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja di KBN Cakung, namun tetap saja berstatus kontrak.

Dalam belenggu ketidakjelasan status (kontrak), para pekerja ini tentu berupaya segala cara untuk tetap bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Kajian ini menemukan adanya fenomena menyembunyikan kehamilan pada sebagian pekerja perempuan.

3. Rentan Keguguran
Tingginya beban kerja dan sikap pengawas yang kurang kooperatif ternyata meningkatkan kerawanan pada buruh hamil, sampai bisa menyebabkan keguguran. Hasil kajian mendapati tujuh (7) buruh yang mengalami keguguran saat bekerja dan tiga (3) dari tujuh (7) buruh yang keguguran tidak mendapatkan cuti. Ketiga buruh tersebut berstatus kontrak.

Sesuai ketentuan perundangan, seorang pekerja perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan lamanya sesuai dengan surat keterangan kesehatan yang diterbitkan . Kabar baiknya, beberapa perusahaan di KBN Cakung bahkan bersedia memberikan cuti keguguran setara dengan melahirkan, yakni selama tiga (3) bulan. Namun beberapa perusahaan yang lain, memilih untuk mengabaikan hak cuti tersebut.

4. Melahirkan dan Sehat, Belum Tentu Aman
Hasil kajian ini mendapati adanya 93 pekerja perempuan yang pernah melahirkan antara tahun 2015 – 2017 ketika bekerja di wilayah KBN Cakung, dan perusahaan bersangkutan di tahun 2017 masih beroperasi.

Dari 86 responden yang melahirkan selamat, sebagian besar (70 orang atau 79.6%) mendapatkan cuti melahirkan dari perusahaan sesuai dengan ketentuan undang-undang. Sisanya sebanyak sejumlah 20,4% (16 orang) tidak mendapatkan cuti melahirkan.

Walaupun mendapatkan cuti melahirkan sesuai dengan ketentuan undang-undang tetapi belum sepenuhnya menjamin keamanan untuk tetap bekerja jika dikaitkan dengan status kerja karena 86 dari responden 44 orang berstatus kontrak, yang sewaktu-waktu habis dan tidak dilanjutkan.

5. Sulitnya Akses Menyusui
Pentingnya ASI eksklusif bagi seorang bayi tentu tidak dapat disangkal lagi, bahkan pemerintah dengan berbagai peraturan menyatakan pentingnya menjamin kesempatan seorang bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif, serta pentingnya melindungi ibu yang menyusui. Dalam penelitian ini Perempuan Mahardhika menemukan fakta:

Tidak adanya ijin menyusui. Sebagian besar responden menyatakan tiadanya ijin menyusui dari perusahaan (86%), yang artinya mereka hanya bisa menyusui dengan memanfaatkan waktu istirahat siang. Lalu juga terbatasnya akses terhadap ruang laktasi. Sebanyak 52,3% buruh perempuan mengetahui keberadaan ruang laktasi di pabriknya dan 47,7% tidak mengetahui keberadaan ruang laktasi di pabriknya. Dari 52,3% yang mengetahui ada sebanyak 23,3% yang menggunakannya.

Dari hasil penelitian maka ada beberapa rekomendasi yang disodorkan Perempuan Mahardhika sebagai upaya untuk mewujudkan ruang kerja yang aman bagi perempuan, yaitu untuk Pemerintah, supaya meningkatkan pengawasan terhadap implementasi Undang-Undang Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003, serta menjalankan fungsi pengawasan bidang ketenagakerjaan dengan meningkatkan perhatian pada hak maternitas di tempat kerja, karena masih cukup banyak perusahaan yang belum patuh dan konsisten menjalankan hal-hal yang diatur dalam UUK terkait perlindungan maternitas buruh perempuan.

Kemudian menciptakan dasar hukum yang lebih komprehensif dalam melindungi hak maternitas buruh perempuan, maka Pemerintah didukung untuk meratifikasi Konvensi ILO nomor 183, tahun 2000. Ketentuan tentang waktu istirahat, layanan kesehatan dan tunjangan sangat diperlukan buruh perempuan dalam menjamin keberlanjutan dan kelayakan kehidupannya bersama sang anak.

(Foto/Ilustrasi:Pixabay.com)

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Bagaimana mengubah kebijakan pemerintah dan kelompok masyarakat yang masih anti pada Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau LGBT?

Pertanyaan dari publik soal bagaimana komitmen calon komisioner Komnas Perempuan dalam mengubah kebijakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender ini ditanyakan oleh salah satu perwakilan anggota Sanggar Swara yang selama ini banyak memperjuangkan LGBT.

LGBT merupakan tantangan yang harus banyak dihadapi calon komisioner. Selama ini LGBT selalu ditolak kehadirannya dalam berbagai kebijakan negara dan aktivitasnya di masyarakat, maka penting bagi publik untuk bertanya soal ini pada calon komisioner.

Ini merupakan pertanyaan dari publik pada para calon komisioner Komnas Perempuan 2020- 2024 pada acara uji publik di Jakarta. Komnas Perempuan melakukan uji publik calon komisioner pada 14 Oktober dan 15 Oktober 2019 esok. Uji publik ini merupakan salah satu mekanisme yang digunakan untuk melakukan uji bagi para calon komisioner.

Khariroh Ali, calon komsioner yang juga merupakan incumbent anggota Komnas Perempuan misalnya menjawab bahwa akan melakukan terobosan seperti akan banyak mengadakan pertemuan, diskusi dengan kelompok-kelompok radikal yang selama ini anti pada LGBT untuk bertemu.

Selama di Komnas Perempuan beberapakali pertemuan ini sempat diinisiasi Komnas Perempuan namun selalu gagal. Maka untuk yang akan datang ini akan dilakukan Khariroh Ali karena ini merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberikan ruang penerimaan yang lebih luas pada kelompok LGBT.

“Ini sangat penting karena selama ini ada jarak antara kelompok radikal dan kelompok moderat. Ini merupakan tantangan yang harus disikapi secara strategis dan tetap menggunakan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).”

Pertanyaan penting lain datang dari Wakil Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Khalisah Khalid yang menyatakan soal masih cukup rendahnya komitmen lembaga termasuk Komnas Perempuan dalam menyikapi kasus-kasus yang melibatkan perusahaan sebagai pelakunya. Selama ini banyak kasus lingkungan yang terbengkalai karena kuatnya kekuataan perusahaan. Namun banyak lembaga yang seringkali belum menjadikan ini sebagai titik penting dalam menyelesaikan persoalan perempuan atau terkesan belum menjadikan ini sebagai poin penting perubahan kebijakan.

“Saya masih melihat ini belum banyak dilakukan dalam perubahan kebijakan lembaga, maka pertanyaan saya bagaimana penyelesaian kasus lingkungan yang melibatkan banyak perusahaan besar karena korbannya kebanyakan adalah perempuan?.”

Sejumlah calon komisioner mengatakan bahwa persoalan lingkungan harus menjadi pekerjaan rumah mendatang, walaupun jawaban ini belum menyentuh persoalan. Hal ini karena minimnya waktu untuk menjawab. Namun beberapa komisioner sempat menjelaskan soal ecofeminisme yaitu bagaimana tanah yang selama ini dikelola perempuan telah banyak dicerabut oleh kebijakan yang tak berpihak pada perempuan.

Hal lain yang banyak ditanyakan adalah soal Rancangan Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga (RUU PRT) yang sudah mangkrak 10 tahun lamanya. Pertanyaan ini diajukan aktivis JALA PRT yang sudah memperjuangkan RUU PRT selama 10 tahun, namun hingga kini terhenti di DPR. Masalah seperti inilah yang sering membuat panjangnya perjuangan perempuan.

Pekerjaan rumah yang lain juga datang dari publik yaitu tentang kewenangan Komnas Perempuan yang dianggap kecil, yaitu sebagai lembaga yang tidak mempunyai kekuatan seperti pemerintah namun harus menyelesaikan beragam persoalan perempuan. Padahal di satu sisi ada persoalan lain seperti minimnya dana yang dimiliki Komnas Perempuan dalam bekerja, posisinya yang masih menginduk pada Komnas HAM juga problem lain seperti banyaknya pekerjaan yang membuat badan pekerja atau staff Komnas Perempuan melakukan kerja-kerja yang tak sedikit jumlahnya. Pertanyaan ini diajukan pada publik yang selama ini memetakan kerja-kerja Komnas Perempuan.

Pertanyaan-pertanyaan dari publik ini semakin menjelaskan tentang banyaknya persoalan yang menimpa perempuan di Indonesia dan ini merupakan persoalan lintas isu yang tidak bisa ditinggalkan satu sama lain. Misalnya persoalan hak asasi manusia seperti persoalan Papua dan persoalan Lanjut Usia (Lansia).

Calon komisioner, Andy Yentriyani mengatakan bahwa persoalan Papua harus diselesaikan dengan jalan damai tanpa kekerasan, karena jika dengan kekerasan maka tidak akan menyelesaikan persoalan disana. Tantangan lain karena luasnya wilayah Indonesia, ini yang membuat usaha lebih keras untuk mengatasi persoalan di Papua dan wilayah lain di Indonesia.

Sedangkan persoalan lain yang mengemuka dalam uji publik ini adalah tentang Lansia 65 dan persoalan HAM yang saat ini secara politik belum ditemukan solusi kebijakannya. Secara ekonomi sosial dan budaya, hak para Lansia korban sudah ada titip cerah penyelesaiannya dengan diberikannya hak kesehatan, namun secara politik masih jauh perubahannya.

Dosen Universitas Indonesia, Ani Sutjipto yang bertindak sebagai moderator uji publik menyatakan bahwa dari uji publik ini disadari bahwa Komnas Perempuan mempunyai mandat yang banyak dan penuh tantangan. Maka ini merupakan tantangan bagi para calon komisioner Komnas Perempuan, karena sebenarnya bagaimana Komnas Perempuan walaupun bukan menjadi pengambil kebijakan pemerintah, namun bisa menjadi fasilitator bagi lembaga-lembaga dan masyarakat untuk mengubah kebijakan negara.

Sejumlah aktivis perempuan menyatakan akan memprioritaskan isu yang selama ini mereka perjuangkan, Dewi Kanti aktivis masyarakat adat akan memperjuangkan perempuan masyarakat adat, Yenni Sucipto, aktivis anti korupsi akan memperjuangkan korupsi di Indonesia, juga aktivis lain yang memperjuangkan perempuan dalam politik.

Publik yang hadir dalam acara uji publik nampak sangat antusias dalam mengajukan pertanyaan pada para calon komisioner. Ini karena banyaknya pekerjaan rumah yang akan dititipkan pada para calon komisioner.

Uji publik selama 2 hari ini dilakukan pada 50 calon komisioner yang sudah dinyatakan lulus secara administratif rekam jejaknya. Uji publik akan dilanjutkan 15 Oktober 2019 di tempat yang sama, di Hotel Sari Pan Pacifik, Jakarta. Uji publik ini disiarkan Komnas Perempuan melalui live melalui facebook Komnas Perempuan.

Peserta uji publik yang lolos akan melakukan wawancara dengan panitya seleksi untuk tahap berikutnya.


(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

*Nunu Pradya Lestari- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Tak mudah bagi Sabrina, Riska, Wafi, Naura dan Manda untuk terpilih menjadi pemimpin. Walaupun hanya diberikan waktu sehari saja, namun ini merupakan pengalaman berharga bagi mereka.

Bagaimana rasanya menjadi pemimpin sehari? Pastinya deg-degan.

Untuk menjadi pemimpin bukanlah mudah. Kelima anak perempuan ini harus melalui proses seleksi ketat oleh Plan Indonesia dan Youth Coalition for Girl. Kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun ini ditujukan untuk menyampaikan pesan ke publik bahwa anak perempuan juga bisa memimpin.

5 anak perempuan ini mengambil alih posisi Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Pimpinan Google Indonesia, dan dua pimpinan redaksi surat kabar di Indonesia selama 1 hari pada 9 Oktober 2019 di Jakarta.

Mereka menjadi peserta kegiatan #GirlsTakeover atau 'Sehari Jadi Pemimpin' yang digagas Plan Indonesia dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional.

Menurut Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti, tema ini sangat strategis untuk membangun opini publik yang positif tentang perempuan maupun pemimpin perempuan di media.

Sejak pendaftaran event ini dibuka, antusiasme anak perempuan Indonesia untuk menunjukkan potensi dirinya cukup besar. Hal ini terbukti dari banyaknya pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengirimkan tulisan dan video tentang isu gender di media.

Salah satu peserta #GirlsTakeover, Sabrina (15 tahun) dari Blitar menggantikan posisi Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf. Dalam event workshop bertajuk "#JagaPrivasimu Untuk Perempuan Indonesia", yang merupakan event kolaborasi antara Plan Indonesia dan Google Indonesia, Sabrina berkesempatan untuk memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya menjaga privasi di media sosial.

"Yang pertama, jangan menggunakan satu kata sandi untuk berbagai akun. Kalo alasannya biar mudah diingat, ya jangan gitu, nanti kan mudah diretas," tutur Sabrina bak CEO Google. Para undangan yang hadir dalam event tersebut menyambut dengan tepuk tangan.

Gagasan untuk memperingati Hari Anak Perempuan Internasional pun mendapat apresiasi dari banyak pihak.

Ditemui media, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengakui peran sentral media untuk narasi yang positif tentang anak perempuan.

"Mereka berjuang untuk mendapatkan kesempatan yang setara. Tugas kita adalah bersinergi untuk mewujudkan media massa dan media sosial yang aman dan positif, terutama bagi anak perempuan. Kami sangat mendukung kegiatan ini agar berkelanjutan, sehingga dapat menginspirasi anak-anak perempuan lainnya," pungkas Rudiantara

Gagasan untuk memperingati hari anak perempuan internasional ini datang setiap tanggal 11 Oktober seperti hari ini dimana seluruh dunia memperingatinya. Pada hari ini sejumlah organisasi yang bekerja untuk anak-anak di dunia kemudian meminta agar anak-anak perempuan dibebaskan dari banyaknya tuntutan masyarakat dan dibebaskan untuk meraih cita-cita mereka.

Selama ini banyak permintaan dari orang dewasa yang ditujukan untuk anak-anak perempuan, misalnya agar mereka selalu mematuhi cara-cara tertentu yang dikatakan orang dewasa, bertindak dengan cara tertentu dan harus menjadi anak-anak yang diinginkan oleh orang dewasa. Padahal anak-anak perempuan harus dibebaskan dalam memilih, mereka harus diajak untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan mereka.

Maka setiap tanggal 11 Oktober ini, yaitu sejak tahun 2011, United Nations (UN) kemudian mengkampanyekan soal Girls Progress=Goal’s Progress, artinya kemajuan untuk anak perempuan dan tindakan bagi perjuangan anak-anak perempuan.

Dalam UN. Org misalnya ditulis bahwa kita harus memperhatikan kesenjangan yang terjadi pada anak-anak perempuan, harus ada data dan analisis yang sistematis tentang mereka. Hal ini diperlukan untuk memastikan program-program, kebijakan dan layanan secara efektif yang bisa merespon kebutuhan khusus anak perempuan.

Peringatan hari anak-anak perempuan ini dalam kelahirannya ingin memperjuangkan kesetaraan pada anak-anak perempuan seluruh di dunia.

Di tahun 2016 misalnya terdapat data yang menunjukkan ada 100 juta anak perempuan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah yang tidak bisa membaca, maka perlu perjuangan untuk ini. Plan Internasional misalnya pernah menuliskan bahwa diskriminasi terhadap perempuan dimulai pada usia muda. Ada kendala kemiskinan, lokasi, stereotipe jender, norma dan kebiasaan sosial yang menghambat anak-anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan.

Pendidikan adalah alat transformasional untuk anak perempuan. Ini adalah kunci untuk membuka potensi mereka. Anak perempuan yang berpendidikan lebih tinggi, akan cenderung untuk menikah di usia dewasa dan memiliki sedikit anak yang dijaga kesehatannya. Maka, anak-anak ini kemudian akan memiliki kesempatan yang lebih baik.

*Nunu Pradya Lestari, penulis dan aktivis buruh. Sedang menyelesaikan kuliah akhir di IISIP Jakarta dan menjadi pengelola www.Konde.co

*Anita- www.Konde.co

Ini adalah kali pertama aku masuk penjara. Sebelumnya, membayangkanpun tidak. Kini aku menjadi salah satu penghuni didalamnya.

Tahun telah berlalu sejak kejadian pilu yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, inilah yang membuat aku sampai di tempat ini. Kejadian yang berhasil memporak-porandakan hidupku. Satu-satunya kata yang terlintas di kepalaku ketika aku mulai memilih untuk membenturkan kepalaku di tembok berkali-kali atau menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi.

Awalnya aku selalu menghibur diriku bahwa semua akan berlalu dan segalanya akan kembali baik-baik saja. Namun yang terjadi, sangat jauh dari yang kubayangkan. Orang-orang yang kupercaya meninggalkanku begitu saja. Mereka menganggap aku adalah aib dalam keluarga dan lingkunganku. Padahal, mereka tahu dengan jelas, mengapa saat itu aku memilih untuk melakukan kesalahan ini yang akhirnya membuatku menyesal seumur hidupku.

Aku lelah jadi orang yang terus-terusan mengalah. Aku merasakan lelah jadi orang baik.

Kuberitahu seperti apa rasanya meregang nyawa. Hanya sebentar. Kau merasakan sakit akibat luka. Setelah itu tidak akan ada lagi yang dirasa. Tubuh ini memiliki batas dalam merasakan kepedihan dan ketika batas itu terlampaui, aku tidak dapat merasakan apapun lagi. Dan, menurutku kematian lebih baik dari siksa panjang yang tak juga menyentuh ambang akhir kepedihan. Berkali-kali mencoba mengakhiri hidup dan terus gagal, membuatku menyadari bahwa rencana Tuhan lebih indah untuk hidupku.

Walaupun dalam perjalanannya aku juga menjadi tahu bahwa ternyata berusaha yang terbaik untuk menjadi kuat itu tidaklah mudah. Apalagi saya tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Itu adalah bagian tersulit saat ini.

Untung para perempuan yang ada di sini bersama saya memberi saya dukungan dan kenyamanan. Kami biasanya bermain kartu untuk menyibukkan diri. Hari ini, seorang teman perempuan membeli spidol permanen dan kami mulai menulis apa yang menjadi milik kami. Tidak hanya itu. Mereka juga bertanya apakah saya bisa menggambar atau membuat tato di lengan atau kaki mereka?.

Hal lain, kami juga bernyanyi bersama disini. Kami menyanyikan beberapa lagu tetapi kebanyakan dari mereka hanya tahu lagu Indonesia dan dangdut. Bukan jenis musik saya, tetapi hanya itu yang bisa kamu dapatkan di sini. Kami juga terkadang mendengarkan musik yang diputar di telepon penjaga keamanan. Bukan lagu bahasa Inggris seperti yang saya sukai selama ini

Yo, bocah rumahan, itu sebutan untuk saya disini. Sudah berhari-hari saya di sini dan saya tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi, apa yang semua orang lakukan di luar sana. Dan jika berpikir seperti itu, itu selalu membuatku sedih. Aku mudah bosan dan ketika itu terjadi, pikiranku pergi kemana-mana dan air mata perlahan turun ke wajahku. Saya tidak bisa menghentikannya. Rasanya jauh di lubuk hati saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi atau apa yang direncanakan untuk saya di luar. Saya banyak stres, frustrasi.

Saya tidak bermaksud bergumam dan membuat anda sedih dengan membaca ini. Tapi, ada banyak orang yang memiliki hubungan yang mendalam dengan saya. Itu harus berakhir dengan cara yang buruk seperti ini.

Ini salah saya dan saya bersalah karena ini terjadi. Saya harus mengambil konsekuensi dari tindakan saya walaupun itu sangat sulit. Yang jelas, saya menyesal. Sangat menyesal.

*Anita, bukan nama sebenarnya, warga binaan.

Tulisan ini merupakan bagian dari #Surat atau Suara dari Balik Sekat Project, sebuah program pelatihan penulisan deskriptif yang dilakukan bagi para perempuan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atas kerjasama LBH Masyarakat bersama 3 media perempuan www.Konde.co, www.Magdalene.co dan Jurnal Perempuan yang memberikan pelatihan menulis disana selama 8 minggu

*Aulia Rizky- www.Konde.co

Teman perempuan saya bernama Marina, bukan nama sebenarnya, hari ini bangun terlalu pagi. Sangat tidak enak memang kalau selalu berpindah kantor seperti ini, begitu gumam Marina. Hari ini Marina akan berpindah di kantornya yang baru.

Ini adalah kantor ketiga yang ia masuki dalam setahun ini. Bayangkan dalam waktu 1 tahun ia sudah berpindah kantor selama 3 kali. Banyak orang kesulitan mencari kerja, namun tidak bagi Marina.

Banyak yang mengatakan bahwa Marina adalah perempuan yang sangat beruntung karena bisa berpindah kantor selagi dia mau. Namun jarang orang yang bertanya: mengapa Marina selalu berpindah kantor?

Padahal situasi di kantor baru selalu tidak mengenakkan, rata-rata mereka harus bekerja sangat keras, menyesuaikan dengan lingkungan baru dan kebiasaan baru. Dari mengenalkan ruangan baru sampai teman-teman baru hingga problem dan persoalan baru. Siapa sih yang mau berpindah-pindah kerja terus?

“Namun untuk bertahan di tempat lama sangat tidak mungkin. Tidak semua orang mengerti bahwa dalam bekerja mestinya semua berkomitmen untuk membangun budaya kerja dan lingkungan kerja yang nyaman bagi orang lain, Jika ini tidak dilakukan, maka sulit sekali untuk bermimpi berlama-lama bekerja disana,” begitu kata Marina ketika kami bertemu, sesaat sebelum ia memutuskan keluar dari tempat kerjanya yang lama.

Umumnya, perusahaan tempat kita bekerja selalu mempunyai permintaan sama: yaitu yang penting semua orang mengejar pada hasil begitu Marina pernah bercerita. Jadi semua orang ditarget pada hasil. Di pabrik garmen, jika dalam 1 hari tidak bisa mengerjakan 20 baju baru, maka ini tidak dianggap sebagai kerja. Demikian juga di perusahaan-perusahaan yang lain. Dan inilah yang kemudian diyakini banyak orang bahwa hasil adalah sesuatu yang utama yang mesti dikejar para pekerja. Jika hasilnya tak memadai, maka para pekerja akan dianggap sebagai bukan bekerja.

Padahal kerja bukanlah hanya soal hasil. Ada persoalan bagaimana membangun budaya kerja dan lingkungan kerja yang nyaman. Ada kebutuhan mental yang harus dipenuhi dalam bekerja.

Seperti apakah ini? Budaya dan lingkungan kerja yang nyaman yaitu yang memberikan ruang untuk berpendapat, ruang untuk yang satu menghargai yang lain. Karena penghargaan mestinya tidak hanya dari perusahaan namun juga bagaimana manajemen berkontribusi pada kenyamanan para pekerja, komunikasi yang dibangun para pekerja.

Ada banyak cara untuk menyelesaikan persoalan yang dialami pekerja. Jika selama ini perusahaan selalu mentargetkan pada hasil kerja dan buruh seperti dikejar hanya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Lalu bagaimana dengan kebutuhan buruh? Marina misalnya, sebagai pekerja ia selalu tak bisa mengambil cuti haid karena jika ia mengambil cuti haid maka tak ada orang yang menggantikan pekerjaannya. Padahal cuti haid resmi boleh diambil menurut undang-undang.

Alasan ini juga terjadi ketika Marina sakit, ia hanya boleh izin sakit selama 1 hari dengan alasan tidak ada orang di kantor. Hal lain jika para pekerja ingin mengembangkan diri misalnya ingin ikut seminar atau diskusi yang membuat pekerja bisa meningkatkan kemampuannya, selalu saja ada alasan bahwa tidak ada orang yang menggantikan mereka bekerja di kanot. Alasan ini yang selalu dikatakan perusahaan.

Padahal izin sakit, untuk mengikuti diskusi sesekali adalah bagian dari menjaga agar pekerja sehat secara mental. Namun hal-hal ini sulit diterima pekerja. Apalagi izin sakit adalah hak pekerja yang sudah diperjuangkan sejak dahulu kala.

Marina memang tak membayangkan tempat kerja yang muluk-muluk, ia tak mengharapkan ada gaji ke-13, bisa jalan-jalan bersama di akhir tahun. Namun yang ia inginkan bahwa semua pekerja tak hanya dituntut pada hasil kerja, namun juga didengarkan pendapatnya dan ditanya apa kebutuhannya. Hal ini sangat penting ketika pilihan untuk bekerja di Jakarta yang tak pernah mengenal waktu. Bangun subuh dan pulang sampai rumah jam 9 malam. Hidup hanya dihabiskan di jalanan dan bekerja.

“Jadi sekarang paham khan kenapa aku pindah-pindah tempat kerja?,” Tanya Marina.

Usulan untuk membangun serikat pekerja merupakan sesuatu yang harus dilakukan pekerja untuk mensiasati jalan buntu komunikasi antara perusahaan dan pekerja.

Pengaturan mengenai serikat pekerja diatur terutama dalam UU 21/2000 menyatakan bahwa serikat pekerja/buruh diatur dalam Pasal 1 angka 1 UU 21/2000 yaitu: organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/ buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/ buruh dan keluarganya.

Dengan adanya serikat pekerja maka pekerja bisa melakukan negosiasi terhadap perusahaan, mereka bisa minta perusahaan tak hanya menjadikan buruh sebagai target pemasukan uang, namun juga kesehatan dan psikologi yang harus diperhatikan. Semua menjadi paham apa kewajiban dan hak dari pekerja dan perusahaan.

Jika seperti itu, maka Marina tak akan berhenti kerja.


*Aulia Rizky, pemerhati buruh

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Setelah menulis, pagi-pagi kawan baik saya lalu merekam puisi hasil tulisannya itu melalui podcast.

Awalnya, saya yang dulu pernah menjadi penyiar radio di Yogyakarta dan Jakarta menyimpulkan bahwa podcast tak ada bedanya dengan radio.

“Hujan. Bagaimana dengan rindu yang kau janjikan? Apakah setebal hujan yang datang pagi ini? Bagaimana dengan gerimis?”

Itu puisi teman saya. Di lain waktu saya juga mendengar podcast yang berisi tentang konten sandiwara yang ditulisnya. Jadilah podcast adalah proses kegilaannya pada puisi dan drama, begitu dia sering berkelakar.

Namun semakin lama semakin saya mendengarkan podcast, saya semakin tahu apa yang ditawarkan oleh podcast. Jika di radio, pendengar atau publik ditawari konten yang sudah dibuat oleh tim radio dan kita tinggal menikmatinya, namun di podcast kita bisa menentukan kontennya sendiri kemudian memproduksinya. Ada proses berkreasi, kita juga bisa memproduksi konten tentang isu-isu yang jarang dimunculkan di media mainstream.

Podcast adalah episode digital yang dibuat untuk individu yang mau bersuara. Jadi individu bisa menjadi produsen bagi dirinya sendiri. Ruang berkarya dan bersuara makin lebar dengan hadirnya podcast. Jika dulu penyebaran informasi, data melalui audio menyebar kemana-mana, sekarang bisa diwadahi dalam podcast. Orang bisa mengirimkan informasi konten ke orang lain dan dinikmati karena diolah untuk didengarkan oleh banyak orang selayaknya konten di radio.

Pada Oktober 2003, Matt Schichter meluncurkan acara obrolan mingguannya The BackStage Pass. Ini adalah wawancara umum yang disebarkan melalui online. Saat itulah podcast kemudian mulai dikenalkan. Pada Agustus 2004, Adam Curry meluncurkan acaranya Daily Source Code. Itu adalah acara yang berfokus pada pencatatan kehidupan sehari-hari, menyampaikan berita, dan diskusi tentang pengembangan podcasting, serta mempromosikan podcast baru dan yang baru muncul.

Sejak itu podcast kemudian semakin banyak diproduksi. Media-media mainstream di Amerika juga memproduksi podcast sejak awal tahun 2010. Sejak itulah podcast kemudian semakin populer. Banyak individu memproduksi podcast talkshow, kemudian sastra yaitu dengan membacakan novel-novel secara berseri atau membacakan puisi-puisi, dll.

Di Indonesia dalam acara podcast party yang diadakan Kantor Berita Radio (KBR) Prime pada 3 Oktober 2019 lalu di Jakarta tercatat ada berbagai macam topik podcast yang muncul di Indonesia. Ada podcast dengan format talkshow dengan isu sosial politik terkini, ada podcast puisi, podcast analisa media sampai podcast drama dan podcast yang kontennya khusus hantu-hantuan.

Para podcaster ini rata-rata ada yang ingin menyalurkan hobi atau memang membuat konten yang berbeda dari isi media mainstream. Hal lainnya karena podcast lebih simple jika dibandingkan dengan menulis untuk menuangkan pemikiran. Dalam proses menulis, penulis terlebih dahulu akan menuliskan pemikirannya, kemudian mengeditnya, jika sudah selesai baru kemudian menyebarkannya. Dalam podcast, orang langsung mendaftar ke aplikasi dan langsung ngobrol disana, ditambah musik lalu jadilah podcast. Selanjutnya tinggal menyebarkan. Simpel dan sederhana.

Iqbal Hariadi, pengelola podcast "Subjective" misalnya mengatakan bahwa podcast ini sangat personal dan sifatnya intim.

“Kita bisa membuat podcast dengan bicara dengan berbagai intonasi suara, menyapa secara langsung agar kita menjadi dekat dengan pendengar kita.”

Hal ini memang berbeda dengan menulis yang kita bisa berjarak dengan pembaca. Jadi ada kebutuhan untuk bisa berkomunikasi dengan publik secara lebih meluas, ada kebutuhan untuk berbincang dengan individu-individu yang berbeda. Ini khas Indonesia, dimana individu pada umumnya senang mengobrol dan berbagi cerita. Ada juga kebutuhan psikologis juga disana dimana orang menjadi punya banyak teman, diakui, punya konten informasi yang didengarkan orang lain.

Sejumlah topik sensitif kemudian juga dibahas di podcast di Indonesia. Podcast “Disko” atau Diskusi Psikologi yang dikelola Benny Siauw misalnya membahas soal kesehatan mental yang banyak dialami para urban. Disitu bisa membahas soal kesehatan jiwa, mengapa orang bunuh diri atau sekitar kesehatan mental yang banyak dialami pekerja.

Podcast “Love Buzz” juga membicarakan hal-hal yang sensitif seperti cinta. Jika rubrik atau konten cinta kebanyakan berisi tentang kisah asmara-asmara yang sudah banyak dibicarakan, di “Love Buzz” kamu akan mendapatkan cerita tentang cinta tak hanya dialami dalam kelompok heteroseksual, namun juga homoseksual. Juga tentang persahabatan, cinta pada alam semesta.

Dena Rahman, salah satu artis yang diwawancara dalam podcast “Love Buzz.” Dena mengatakan bahwa Love Buzz mengingatkan tentang makna cinta yang merupakan ruang yang sangat luas, tak bersekat-sekat.

“Ini adalah sesuatu yang baru, cinta yang luas, ada juga cinta pada diri sendiri yang jarang dibicarakan.”

Asrul Dwi pengelola podcast “Love Buzz” mengatakan bahwa ia memang ingin membuat “Love Buzz” berisi tentang kisah cinta yang berbeda yang tak banyak dibicarakan orang. Hal inilah yang membuat orang kemudian tertarik untuk mendengarkan podcast, mereka bisa membuat konten dan memproduksi sendiri.

Podcast dalam perjalanannya kemudian juga melakukan koreksi pada media mainstream yang selama ini hanya sedikit memberikan ruang pada isu minoritas.

Namun semakin banyaknya podcast yang bermunculan di Indonesia di awal tahun 2019 ini, semakin membuat banyak orang bertanya: apakah podcast menawarkan model bisnis yang artinya podcaster mendapatkan pemasukan uang dari konten yang ia buat?

Dalam diskusi di acara podcast party tersebut, sejumlah podcaster mengatakan bahwa keuntungan berupa uang masih jauh dari yang diharapkan. Namun podcaster umumnya mendapatkan apresiasi dari publik, bisa bertemu dengan publik pendengarnya. Beberapa dari podcaster kemudian diendors untuk beberapa produk barang yang diiklankan. Keuntungan uang yang banyak tentu masih jauh dari harapan karena di Indonesia podcaster sebenarnya masih dianggap baru yaitu banyak bermunculan di tahun 2018, belum selama para youtuber atau vlogger dalam bermedia.

Di Indonesia diskusi soal produksi konten yang dibayar juga belum menjadi diskusi yang umum, berbeda dengan di Amerika misalnya dimana sekali mempublikasikan di media seperti di youtube atau sosial media mereka langsung mendapatkan share uang konten yang sepadan.

Di Indonesia diskusi ini hanya beberapakali dilakukan namun belum menjadi advokasi yang dilakukan secara konstan. Umumnya publik masih senang menjadi youtuber, vlogger dan sekarang podcaster, namun belum mendapatkan royalti, kecuali ia mampu mendatangkan subscriber hingga 1 juta subsribe. Jumlah ini tentu masih jauh dari sepadan dengan apa yang telah dilakukan para pemroduksi konten.

Padahal jika membicarakan konten, seharusnya sudah mulai membicarakan keberagaman kepemilikan karena produksi konten ini seharusnya menjadi milik bersama antara penyedia konten dan pemroduksi konten. Jika ini dibiarkan, maka pemilik bisnislah yang akan kembali berkuasa memiliki konten dan menikmati ‘pasar’ konten tersebut.

Maka jika ingin cepat ‘dikenal’ dengan kondisi ini, maka para podcaster harus memproduksi konten yang berbeda dari yang lain, karena semakin banyak podcaster tantangannya adalah bagaimana menciptakan konten yang berbeda dari konten yang lain.

Mizter Popo misalnya, ia memproduksi podcast “Do you See what I See” ini merupakan podcast tentang konten mistis dan hantu. Topik ini dirasakan berbeda dari konten-konten lainnya. Konten seperti inilah yang kemudian menjadi khas dibanding konten lain.

Tapi intinya podcast adalah ruang baru untuk individu. Hadirnya internetlah yang menjadikan siapa saja kemudian bisa memproduksi konten media sendiri, bisa ngobrol dengan banyak orang dan membawa isu-isu yang tak banyak dibicarakan di publik misalnya isu-isu sensitif seperti perempuan, minoritas maupun isu yang tak umum lainnya.

Hadirnya podcast juga memberikan angin segar bagi semua orang agar bisa bermedia.

Walaupun selalu ada pertanyaan penting: sudahkah keberagaman konten dalam podcast ini dibarengi dengan keberagaman kepemilikan atas produksi konten? Ini adalah hal-hal yang harus menjadi catatan bagi para podcaster dan calon podcaster di Indonesia.

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Sebanyak 13 lukisan terpasang rapi di dinding Ke:Kini ruang bersama di Jakarta. Lukisan-lukisan itu memiliki kesamaan, semuanya coklat. Semakin dekat dilihat, semakin jelas guratan warna coklat itu melukiskan sosok perempuan. Inilah yang dilakukan Aji Yuhuti yang melukiskan perjuangan perempuan dengan kopi di kanvasnya.

Siapa sangka semua lukisan berwarna coklat itu didapatkan dari kopi instan yang sehari-hari kita minum. Kopi ternyata bisa menginspirasi karya- karya perempuan.

Aji Yahuti memamerkan lukisan koleksi pribadinya sejak 23 September sampai 5 Oktober 2019 lalu . Pameran bertema Perempuan dalam Kopi merupakan alah satu rangkaian acara 100% Manusia Film Festival.

Ide melukis dengan kopi didapatkan Aji Yahuti pada 2015. Saat itu ia sedang mencari medium warna yang mudah didapat. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada kopi.

Setiap guratan kopi membentuk pola atau bentuk-bentuk tertentu yang tersusun hingga menjadi sebuah gambar yang dapat dikenali. Salah satunya gambar perempuan dengan menggunakan pakaian yang tersusun dari pola batik Kawung.

Motif Batik Kawung merupakan salah satu motif batik tertua di Indonesia. Motif Kawung adalah gambaran dari buah kawung atau lebih dikenal sebagai buah aren. Pada zaman dahulu motif batik ini hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan saja.

Dengan menggunakan sanggul dan elang yang bertengger di sebuah ranting di belakangnya, lukisan ini menyiratkan keanggunan dan keberanian perempuan Indonesia.

Lukisan yang tak kalah menarik lainnya adalah lukisan perempuan berkacamata hitam yang terletak di dinding sebelah kanan. Masih menggunakan motif batik kawung dipadukan dengan beberapa gambar bungan dan pola-pola yang beraturan, Aji Yahuti kali ini berhasil menampilkan sosok perempuan modern.

“Gambar ini mengingatkan saya pada peristiwa aksi Suara Ibu Peduli menjelang reformasi 1998. Saat itu beberapa tokoh perempuan melakukan aksi yang akhirnya memicu demostrasi besar mahasiswa dan masyarakat sipil lainnya di kemudian hari.”

Beberapa tokoh perempuan yang turun aksi saat itu menggunakan pakaian dengan kacamata hitam. Ada Gadis Arivia, Karlina Supeli, dan Julia Suryakusuma yang nampak menggunakan pakaian seperti itu.

Saya tidak tahu apakah maksud dari lukisan-lukisan Aji Yahuti sama dengan yang saya pikirkan. Semua lukisan yang dipamerkan tidak diberikan judul dan deskripsi. Tapi memang kekuatan karya Aji Yahuti di situ. Ia mampu membawa imajinasi semua orang yang melihat lukisannya dalam intepretasi yang tak terbatas. Aji Yahuti berhasil melukis perempuan dalam berbagai cerita dan makna.

*Aprelia Amanda,
biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Lina, bukan nama sebenarnya sehari-hari bekerja sebagai seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT) di sebuah rumah di Jakarta.

Sudah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai PRT, namun Lina tidak pernah tahu soal jaminan kesehatan kerja dan jaminan ketenagakerjaan yang harus diterima PRT. Mendengarnyapun belum pernah. Ia mengira bahwa jaminan sosial seperti itu hanya diterima oleh para karyawan di perusahaan.

Padahal jaminan sosial termasuk jaminan ketenagakerjaan dan jaminan kesehatan wajib diterima oleh seluruh pekerja di Indonesia, tak terkecuali para PRT.

Di tengah PRT di Indonesia yang masih digaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR), maka jaminan sosial ini sangat penting untuk sekaligus diperjuangkan. Jika tidak maka kehidupan para PRT sangat jauh dari layak.

Menurut data International Labour Organisation (ILO) berdasarkan survey di tahun 2015, jumlah PRT di Indonesia sudah mencapai 4,2 juta orang. Sebagai PRT mereka rata-rata hanya mendapatkan pendapatan sekitar 20%-30% dari upah minimum regional (UMR). Sehingga bisa dikatakan PRT masih jauh menerima jauh dari upah yang layak. Selain tidak mendapatkan upah yang layak, PRT juga belum mendapatkan hak jaminan sosial, yakni jaminan kesehatan maupun jaminan ketenagakerjaan.

Dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, Pasal 11 Huruf g, disebutkan bahwa Pengguna Jasa PRT/Majikan wajib mengikutsertakan PRT dalam Jaminan Sosial.pekerja rumah tangga (PRT) berhak mendapatkan perlindungan jaminan sosial.

JALA PRT suatu jaringan nasional yang bergerak untuk pengorganisasian dan advokasi perlindungan kerja layak PRT kini tengah memperjuangkan akses dan hak PRT untuk mendapatkan jaminan sosial yaitu jaminan kesehatan dan jaminan ketenagakerjaan.

JALA PRT bersama anggota Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) di DKI Jakarta mulai menginisiasi sosialisasi, kampanye dan melakukan pendaftaran kepesertaan PRT dalam Jaminan Ketenagakerjaan dengan beberapa gelombang/tahapan pendaftaran.

Pendaftaran PRT yang dilakukan JALA PRT dan SPRT untuk mendapatkan jaminan sosial gelombang/ tahap ke 1 sudah dilakukan pada bulan September 2019 dan sudah sekitar 308 PRT mendaftar, baik yang masih membayar sendiri ataupun yang dibayarkan oleh majikan sebagai kewajiban majikan/ pengguna jasa.

Atas hal tersebut, untuk tindak lanjutnya sosialisasi dan terus meningkatkan kepesertaan PRT dan pemenuhan hak dan kewajiban majikan terhadap PRT dalam jaminan ketenagakerjaan maka akan diadakan dialog sosial kepesertaan PRT dalam jaminan etenagakerjaan pada:

Hari & Tanggal:Minggu, 6 Oktober 2019
Pukul: 10.00 s.d. 12.00
Tempat : Jl. Kemang Barat Raya No. 114 Jakarta Selatan

Acara ini sekaligus memperingati Hari Kerja Layak Dunia yang jatuh pada 7 Oktober 2019. Bagi yang ingin hadir bisa menghubungi Lita Anggraini, Koordinator Nasional JALA PRT dengan nomer telp. 081247200500 dan 08170701040

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)

*Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Kabar itu pertama kami dengar dari unggahan Chungyan chow di sosial media. Dalam lamannya Chungyan Chow mengabarkan tentang penembakan yang menimpa jurnalis perempuan asal Indonesia yang saat ini bekerja di Hongkong, Veby Mega Indah ketika ia sedang melakukan peliputan disana.

Veby terkena tembakan tepat di bagian mata kanan. Ia adalah warga negara Indonesia yang saat itu sedang meliput aksi unjuk rasa di Kawasan Wanchai, Hong Kong pada 29 September 2019. Proyektil diduga berasal dari tembakan polisi, padahal saat kejadian Veby Mega Indah berdiri bersama kelompok jurnalis lainnya dengan menggunakan identitas PRESS yang terlihat jelas di helm pelindung kepala, rompi warna mencolok, dan kartu identitasnya.

Sampai saat ini Veby masih dalam perawatan di Rumah Sakit Pamela Youde Nethersole dan dokter masih mendiagnosa tingkat cedera pada mata kanan Veby.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dalam pernyataan sikapnya mengatakan pihak pengacara yang ditunjuk Veby melalui Hong Kong Journalist Association, Vidler & Co Solicitor, menduga bahwa tembakan ke Veby sangat berbahaya dan berpotensi mematikan.

“Ms Veby sangat beruntung masih hidup dan jika tidak dilindungi oleh kacamata pelindung, dia pasti sudah mengalami kebutaan karena tembakan tersebut. Pada saat ini, masih tetap ada kemungkin adanya kerusakan penglihatan yang parah,” kata Michael Vidler.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak kuasa hukum, proyektil yang ditembakkan berasal dari senapan gentel polisi yang berpeluru kaliber 12 gauge. Proyektil tersebut dipercayai adalah bean bag round (peluru pundi kacang) (peluru Tipe 12 Gauge Drag Stabilised Round, dengan proyektil seberat 40 gram yang dengan kecepatan halaju 270fps/82mps) atau peluru karet (12 gauge Rubber Fin Rocket (berkemampuan Direct Fire), Halaju Tinggi (ALS120HV) dengan kecepatan 650fps (198m/s) yang selongsong-selongsongnya ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

AJI Jakarta mendapat laporan bahwa pihak Kepolisian Hong Kong berusaha menemui Veby Indah di Rumah Sakit ketika keadaan Veby masih cedera dan sakit. Beruntung pihak Rumah Sakit menolak kedatangan Polisi karena alasan kesehatan. AJI Jakarta menilai niat kunjungan itu berpotensi megintimidasi korban.

“Kami meminta Konsulat Jenderal Republik Indonesia atau KJRI Hong Kong memberikan perlindungan hukum dan menjamin keselamatan dan keamanan Veby. Sebagai Warga Negara Indonesia, Veby berhak mendapatkan pendampingan baik jaminan kesehatan, hukum, dan keselamatan jiwa”, kata Asnil Bambani, Ketua AJI Jakarta.

AJI juga mendesak Kepolisian Hong Kong mengadili pelaku penembakan terhadap Veby hingga ke pengadilan.

“Kepolisian setempat harus bertanggung jawab atas cedera yang dialami Veby. Ini bukan hanya ancaman bagi Veby tetapi juga mengancam wartawan lokal dan internasional yang meliput aksi-aksi massa di Hong Kong”, ujar Asnil.

AJI juga mendesak Kepolisian Hong Kong menghentikan intimidasi kepada Veby. Tim Dokter masih membutuhkan waktu setidaknya 7 hari sejak peristiwa penembakan terjadi untuk mengetahui tingkat cedera yang dialami Veby Indah.

“Kami meminta KJRI melakukan pendampingan dan perlindungan kepada Veby Indah sebagai Warga Negara Indonesia termasuk menyampaikan keberatan kepada Kepolisian Hong Kong atas intimidasi yang terjadi pada Veby Indah dan mendesak Kepolisian Hong Kong mengusut tuntas peristiwa kekerasan yang terjadi pada Veby Indah saat meliput aksi unjuk rasa.”

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Trend buku mewarnai untuk orang dewasa beberapa tahun belakangan ini sedang naik daun. Penerbit Qbukatabu kemudian berinisiatif meluncurkan sebuah buku mewarnai untuk menyampaikan misinya untuk membicarakan feminisme dan seksualitas yang selama ini dianggap tabu.

Qbukatabu merupakan jawaban dari keresahan Vica Larasati, Direktur Qbukatabu. Diawali dengan sebuah perbincangan santai di Solo antara Vica dan seorang sahabatnya, mereka lalu membicarakan mengapa diskusi tentang seksualitas sulit sekali dilakukan di sini.

Vica ingin mencoba menghadirkan satu platform tempat dimana orang-orang dapat membicarakan seksualitas secara asyik dan menarik. Qbukatabu merupakan jawaban dari keinginan Vica.

Awalnya Qbukatabu dibuat secara online mengingat saat ini hampir semua orang punya akses internet. Nama Qbukatabu sebenarnya sesuai dengan misi didirikannya organisasi ini. Q yang artinya aku. Qbukatabu maksudnya aku yang membuka tabu. Persis dengan tujuan Vica mendirikan Qbukatabu, ingin membuka tabu dalam membicarakan tentang seksualitas.

Selain memberikan informasi tentang seksualitas, Qbukatabu juga mempunyai layanan konseling secara online melalui whats app dan email yang dinamai “Buka Layanan”. Vica sendiri tidak mengangka banyak orang yang kemudian tertarik memanfaatkan layanan ini untuk bercerita.

“Ini menandakan bahwa banyak orang memiliki masalah dalam seksualitas atau yang berhubungan dengan itu yang selama ini dianggap tabu oleh masyarakat. Namun tidak semua orang punya tempat untuk bercerita karena persoalan ini dianggap tidak layak untuk diperbincangkan. “Buka Layanan” menjadi tempat aman di mana semua orang dapat bercerita apapun tanpa penghakiman,” ujar Vica Larasati.

Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner


Setelah terbukti bahwa banyak orang memanfaatkan layanan ini, kemudian dibuatlah ide untuk membuat buku yang berjudul “Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner.” Buku ini terlahir dari perjalanan sang penulisnya, Yulia Dwi Andriyani yang merupakan sahabat Vica Larasati.

Saat Yulia Dwi Andriyani berada di Chiang Mai, Bangkok untuk menghadiri sebuah pertemuan aktivis, ternyata negara-negara di Asia punya masalah yang sama dalam membicarakan seksualitas yang rata-rata masih sulit dan dianggap tabu.

Dari situ Yulia mencoba bertemu dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun bergelut dalam gerakan seksualitas khususnya gerakan perempuan. Yulia mencoba berbincang dengan santai untuk membuka pengalaman-pengalaman dari orang-orang yang ia ajak berbicara.

Dalam buku “Tutur Feminis: Meluruhkan yang Biner” ini ada 5 tokoh perempuan yang kemudian menuturkan pengalamannya. Mereka adalah mantan ketua Komnas Perempuan, Kamala Chandrakirana, aktivis buruh perempuan Lely Zailani, penulis Intan Darmawati dan Okky Madasari juga ulama perempuan Hindun Anisah. Pengalaman ini kemudian ditulis Yulia dari hasil perbincangan dengan mereka.

“Tulisan ini sekaligus menjadi pengantar pada gambar yang merepresentasikan cerita-cerita tiap tokohnya,” kata Yulia Dwi Andriyani.

Secara spesifik buku Tutur Feminis ini memotret perbincangan tentang perjuangan keadilan bagi kelompok Lesbian, Biseksual, dan Transgender (LBT) di Indonesia. Semua yang tertuang dalam buku ini adalah refleksi dari nilai-nilai feminisme yang dibawa oleh 5 tokoh tersebut.

Tantangan besar dialami Rainbow. Sebagai illustrator buku, ia ingin memvisualisasikan sebuah cerita menjadi gambar. Namun ia juga harus memberikan ruang lebih banyak bagi semua orang untuk mewarnai dalam buku. Intinya semua yang membaca buku ini boleh menambahkan apapun sesuka hatinya. Entah berupa gambar juga ataupun quotes.

“Intinya buku ini dibuat agar menjadi media bagi semua orang untuk bisa berekspresi,” ujar Rainbow.

Dalam sebuah diskusi yang digelar 100% Manusia Film Festival pada 28 September 2019 lalu di Jakarta, dimana buku Tutur Feminis ini kemudian diluncurkan, seseorang bertanya tentang apa yang dimaksud biner? Mengapa harus meluruhkan yang biner?

Penulis Intan Darmawati menjawab, bahwa selama ini kita hidup di dalam masyarakat yang hanya mengenal laki-laki dan perempuan. Laki-laki menyukai perempuan begitu juga sebaliknya. Bentuk seksualitas lain seperti lesbian, gay, dan biseksual selama ini tidak dikenalkan karena dianggap menyimpang.

“Padahal di dunia ini tidak ada yang hitam putih termasuk soal seksualitas,” ujar Intan Darmawati.

Meluruhkan yang biner artinya melepaskan pandangan sempit soal seksualitas. Semua orang harus mengenal dirinya sendiri lebih dari kontruksi sosial yang dibangun. Menjadi berbeda bukan sebuah kesalahan. Semua orang memiliki pengalaman yang berbeda. Mengenali dan memahami ketertarikan seksual dapat ditemukan melalui perjalanan yang panjang.


*Aprelia Amanda,
biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

“Gapapa Make-up ku Luntur, Asal Bukan Keadilan yang Luntur”

*Nunu Pradya Lestari- www.Konde.co

Kalimat yang tertulis di poster salah satu peserta aksi mahasiswa di Jakarta ini, mendadak viral. Terkesan jenaka dan kemudian menjadi banyak pembicaraan.

Para mahasiswa dari berbagai kampus tersebut mengekspresikan poster-poster tersebut dalam aksi mahasiswa 23-24 September 2019 untuk menunjukkan betapa gentingnya situasi Indonesia. Seketika banyak media massa yang menyoroti kreatifitas aksi mahasiswa dalam momentum demonstrasi menolak Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) dan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi di aksi itu

Dilansir dari kompas.com, Sosiolog dari Universitas Airlangga, Novri Susan menilai, cara yang digunakan untuk menyuarakan aspirasi para mahasiswa milenial ini adalah wujud dari humor politik sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan yang menyimpang. Gaya humor politik diaplikasikan dalam poster-poster dengan bahasa nyentrik, untuk membangun jaringan sosial dan solidaritas di antara kalangan sendiri (milenial). Karena bahasa paling dekat dengan generasi milenial adalah penggunaan konsep humor.

Kedua, memberi tekanan terhadap elite-elite politik sebagai identitas milenial yang lebih inklusif. Ciri khas penyampaian pesan kritik ala milenial biasanya ringan namun sarkastik, berbeda dengan generasi aktifis 1998 yang cenderung memakai bahasa yang tajam dan keras.

Jika mengutip pernyataan Novri Susan, poster yang memuat tema kosmetik bisa jadi tak sekedar ekspresi spontan dari para mahasiswi yang tergelitik untuk ikut demonstrasi. Namun tersirat pesan ajakan solidaritas yang tujuannya menjangkau kalangan mahasiswi atau perempuan untuk turut memperjuangkan keadilan. Karena memang kosmetik dianggap identik terhadap identitas perempuan.

Poster menggelitik lainnya yang kita temui bertuliskan:

“Pak, skincare ku mahal, dipake panas-panasan. Tapi nggak apa-apa. Soalnya NKRI lebih mahal harganya”


Terlepas dari konteks stigma kecantikan dan industri kosmetik, pesan yang tertulis dalam poster itu cukup mudah dicerna masyarakat era sekarang. Gaya nyentrik itulah yang menjadi ciri khas milenial, generasi yang lahir pada saat internet sudah diperkenalkan. Milennial juga dikenal memiliki generasi yang ekspresif, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, self–expressive, dinamis, super–connected, dan terbuka untuk perubahan, termasuk perubahan sosial politik.

Dalam merespon perlawanan luas terhadap pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan rencana pengesahan RUU KUHP, kaum milenial perempuan tak hanya aktif melakukan kritik via media sosial. Mereka secara terorganisir bersama-sama barisan mahasiswa yang lain melakukan protes besar-besaran di berbagai kota. Fenomena tersebut cukup untuk membantah stigma lama : perempuan pasif terhadap isu-isu politik. Atau sekedar membantah argumen seksis yang menyebut perempuan takut ikut demonstrasi dan kurang militan mengkritik kekuasaan. Aksi para mahasiswi milenial menolak pengesahan RUU KUHP dan pelemahan KPK, mampu memberi warna lain.

Memang bukan hal yang baru, karena sebelumnya publik sudah melihat sendiri momen aksi-aksi militan yang dipelopori oleh perempuan, dari aksi ibu-ibu petani Kendeng, aksi sejumlah aktivis perempuan di Hari Perempuan hingga aksi militan buruh perempuan dalam setiap peringatan Mayday. Namun secara pasti, kesadaran politik perempuan muda yang terpupuk karena gejolak sosial politik terus berkembang dan datang dari berbagai isu.

Hal ini menjadi signal yang baik, karena sejatinya partisipasi politik perempuan semakin bertumbuh. Partisipasi perempuan dalam politik tidak selalu harus diidentikkan dengan jabatan atau posisi dalam pemerintahan atau parlemen.

Partisipasi perempuan dapat dilakukan dalam posisinya sebagai rakyat dengan kesadaran politik penuh. Sebagai langkah awal dari fungsi perempuan sebagai warga negara adalah keterlibatan mereka dalam pemilihan umum maupun terlibat dalam aksi-aksi yang melakukan kritik pada kekuasaan.

(Ilustrasi: Anggun Maulina/ IG:@njuneiy)

*Nunu Pradya Lestari,
penulis dan aktivis buruh. Senang mencermati media termasuk poster-poster kekinian. Sedang menyelesaikan kuliah akhir di IISIP Jakarta

*Andi Cipta Asmawaty- www.Konde.co

Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Indonesia rata-rata diisi oleh anak-anak muda yang kemudian pergi untuk bekerja ke kota. Nasib yang tak menentu di desa tempat mereka tinggal, tak cukup punya sumber daya dan pendidikan membuat mereka harus merantau ke kota.

Ini tentu tak mudah. Jika tak cukup mempunyai teman, jaringan dan pengalaman tentu bukan sesuatu yang gampang untuk tinggal di kota. Untuk bekerja sebagai buruh pabrik, kadang harus mengetahui alamat, kesempatan, ketrampilan dan seluk-beluk bekerja disana. Inilah hal yang tak mudah bagi PRT yang pertamakali bekerja di Jakarta. Mahalnya tingkat hidup di ibukota membuat hidup menjadi bertambah rumit.

Ketika menjadi PRT, hal yang paling sering yang mereka rasakan adalah mengalami kesepian yang sangat. Tak punya libur, tak punya waktu untuk bersosialisasi adalah persoalan khas yang dialami para PRT di Indonesia. Merasakan kesepian, tak punya teman adalah problem sosial PRT adalah bagian dari kemiskinan akses.

Ruang yang selalu terkungkung secara domestik dan waktu kerja yang tak terbatas adalah dua realitas kemiskinan waktu yang terus dialami oleh para pekerja rumah tangga hingga kini, selain kemiskinan pendapatan dari upah yang umumnya di bawah standar minimum.

Kesibukannya yang hanya di rumah dan di rumah, membuat mereka tidak memiliki banyak relasi sosial kecuali memanfaatkan teknologi informasi. Dan di tengah-tengah kebosanan dan waktu luang, jika pemandangan dulu, pekerja rumah tangga menonton sinetron kini berganti dengan bermedia sosial dan menonton video dari telepon genggamnya.

Waktunya yang bekerja dari fajar hingga malam hari, tidak membuatnya juga memilliki pertemanan yang dibutuhkan pada usianya yang masih sangat belia. Di kala perempuan remaja dan dewasa kelas menengah perkotaan bisa berteman dengan siapa saja di dunia perkuliahan dan nongkrong di kafe untuk berkumpul, PRT harus merantau, bekerja mencari nafkah, dan mengirim uang kepada keluarganya di desa. Menghadapi tekanan sosial sebagai pekerja rumah tangga juga tidak mudah.

Tekanan sosial yang dialaminya tekanan yang berasal dari keluarga pekerja yang berbeda kelas dan jelas memiliki kuasa, atas diri mereka. Salah satu strategi adaptasi bagi pekerja rumah tangga, dengan menjalin relasi soal yang bukan hanya berkomunikasi via udara, tapi bertemu. Tatap muka.

Beberapa PRT menggunakan sosial media untuk berteman dan terhubung dari dunia luar. Dunia di luar rumah yang selama ini menjadi tempatnya bekerja, ketika tak ada lagi dunia lain yang mereka kenal selain di rumah ini. Mereka menggunakan sosial media untuk berteman, berhubungan dengan keluarga, teman dan hal-hal yang tak bisa mereka jumpai ketika bekerja.

Sejumlah PRT lain yang diberikan waktu libur kemudian menggunakan sosial media untuk berkampanye dan memperjuangkan nasib mereka. Ini banyak dilakukan PRT yang berorganisasi dan mereka menggunakan sosial media untuk mengkampanyekan hak PRT, termasuk mengajak PRT lain untuk berserikat, mengajak PRT turun ke jalan dan memprotes pemerintah.

Namun ada PRT lain yang juga menggunakan sosial media untuk berkencan. Misalnya dari cerita kedua PRT yang saya jumpai di Bogor, Jawa Barat. Dewi, 19, pekerja rumah tangga yang istirahat selepas makan siang, di sela-sela kesibukannya yang tak pernah henti sejak fajar hingga malam hari, memanfaatkan fitur video call di masa-masa senggang.

Dewi menerima kontak video dari calon-calon pacarnya, yang dipertemukan dari aplikasi kencan bernama Tantan. Dewi tidak mau sembarangan. Waktunya yang berharga membuatnya sangat selektif. Filter yang pertama bagi Dewi, adalah laki-laki yang santun dalam bertutur kata baik di teks maupun di perkataan saat kontak telepon terjadi. Filter kedua adalah “nyambung” ketika berbicara dan santun ketika bertemu.

Bagi filter yang kedua, Dewi rupanya sering “kecolongan”. Waktu lowongnya yang hanya malam minggu dan digunakan untuk bertemu dengan laki-laki pilihannya dari dating apps ini, ternyata tidak membawa hasil menggembirakan. Tapi, Dewi tidak merasa gagal, dia terus mencoba dan mencari laki-laki terbaik pilihannya.

Pemanfaatan aplikasi ini juga dilakukan oleh Cici, 23, pekerja rumah tangga yang akhirnya berhasil bertemu dengan pujaan hatinya meskipun hanya bertemu 6 bulan sekali, sebab kekasihnya ini bekerja di Banjarmasin.

“Toh saya juga sibuk,” juga menjadi alasannya yang menjadi hubungan jarak jauh tidak bermasalah baginya.

Ketika aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble marak sejak 6 tahun terakhir bagi kaum remaja dan dewasa di Indonesia, aplikasi Tantan, yang berbahasa Indonesia ternyata lebih ramah bagi pengguna dari kelas pekerja dan dimanfaatkan oleh Dewi dan Cici.

Namun, apalah artinya teknologi jika tidak didukung oleh daya dukung sosial. Bagi orang lain, berkencan kapan saja tidak menjadi masalah berarti, namun tidak bagi pekerja rumah tangga sebagai perempuan yang juga membutuhkan hubungan sosial di luar rumah majikannya.

Pada tahun 2015, Internasional Labour Organisation atau ILO melaporkan temuan surveynya bahwa 71% PRT dewasa dan sebanyak 61% PRT berusia 10 – 17 tahun bekerja selama 6 -7 hari selama seminggu.

Kondisi eksploitatif ini berakar dari fleksibilitas durasi kerja tergantung permintaan majikan dan tidak pernah menguntungkan bagi PRT sendiri. Di saat keluarga majikan membutuhkan, mereka harus siap siaga dan seringkali mengerjakan lima tugas di satu waktu bersamaan dari anggota-anggota keluarga majikan yang berbeda dengan perintah berbeda-beda pula.

Jika pekerja status harian lepas, performa pekerjaannya dilihat dari berapa hari ia bekerja. Namun bagi PRT, performa pekerjaannya dilihat dari seberapa pagi dia bangun, seberapa rajin ia bekerja, seberapa perhatian ia mengurus rumah tangga, dan seberapa malam ia kembali ke tempat tidur. Dan intimidasi pun terjadi di ruang-ruang yang sangat privat, dan jarang diketahui orang lain.

Sebab relasi kuasa jugalah, yang membuat mereka bungkam. “Daripada tidak bekerja” mereka pasif menerima namun juga strategi PRT untuk bertahan 2018, Jala PRT setidaknya menerima 249 kasus diantaranya kekerasan, PHK dan THR tak dibayar sebelum hari raya, serta upah yang tidak dibayar pada tahun 2017.

Untuk ini, saya jadi teringat poster “Kurangi Jam kerja, Perbanyak Bercinta” dari Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (Serikat Sindikasi) yang dikeluarkan pada saat hari buruh. Poster dari serikat pekerja media ini menjadi pengingat bahwa waktu itu sudah seharusnya juga digunakan memanusiakan manusia. Dan ini bukan hanya berlaku bagi pekerja formal, atau pekerja lepas, tapi juga pekerja rumah tangga (PRT).

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Andi Cipta Asmawaty, mahasiswa pascasarjana Development Studies, International Institute of Social Studies