Anita, Sepenggal Cerita para Perempuan dari Balik Penjara


*Anita- www.Konde.co

Ini adalah kali pertama aku masuk penjara. Sebelumnya, membayangkanpun tidak. Kini aku menjadi salah satu penghuni didalamnya.

Tahun telah berlalu sejak kejadian pilu yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, inilah yang membuat aku sampai di tempat ini. Kejadian yang berhasil memporak-porandakan hidupku. Satu-satunya kata yang terlintas di kepalaku ketika aku mulai memilih untuk membenturkan kepalaku di tembok berkali-kali atau menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi.

Awalnya aku selalu menghibur diriku bahwa semua akan berlalu dan segalanya akan kembali baik-baik saja. Namun yang terjadi, sangat jauh dari yang kubayangkan. Orang-orang yang kupercaya meninggalkanku begitu saja. Mereka menganggap aku adalah aib dalam keluarga dan lingkunganku. Padahal, mereka tahu dengan jelas, mengapa saat itu aku memilih untuk melakukan kesalahan ini yang akhirnya membuatku menyesal seumur hidupku.

Aku lelah jadi orang yang terus-terusan mengalah. Aku merasakan lelah jadi orang baik.

Kuberitahu seperti apa rasanya meregang nyawa. Hanya sebentar. Kau merasakan sakit akibat luka. Setelah itu tidak akan ada lagi yang dirasa. Tubuh ini memiliki batas dalam merasakan kepedihan dan ketika batas itu terlampaui, aku tidak dapat merasakan apapun lagi. Dan, menurutku kematian lebih baik dari siksa panjang yang tak juga menyentuh ambang akhir kepedihan. Berkali-kali mencoba mengakhiri hidup dan terus gagal, membuatku menyadari bahwa rencana Tuhan lebih indah untuk hidupku.

Walaupun dalam perjalanannya aku juga menjadi tahu bahwa ternyata berusaha yang terbaik untuk menjadi kuat itu tidaklah mudah. Apalagi saya tidak bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Itu adalah bagian tersulit saat ini.

Untung para perempuan yang ada di sini bersama saya memberi saya dukungan dan kenyamanan. Kami biasanya bermain kartu untuk menyibukkan diri. Hari ini, seorang teman perempuan membeli spidol permanen dan kami mulai menulis apa yang menjadi milik kami. Tidak hanya itu. Mereka juga bertanya apakah saya bisa menggambar atau membuat tato di lengan atau kaki mereka?.

Hal lain, kami juga bernyanyi bersama disini. Kami menyanyikan beberapa lagu tetapi kebanyakan dari mereka hanya tahu lagu Indonesia dan dangdut. Bukan jenis musik saya, tetapi hanya itu yang bisa kamu dapatkan di sini. Kami juga terkadang mendengarkan musik yang diputar di telepon penjaga keamanan. Bukan lagu bahasa Inggris seperti yang saya sukai selama ini

Yo, bocah rumahan, itu sebutan untuk saya disini. Sudah berhari-hari saya di sini dan saya tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi, apa yang semua orang lakukan di luar sana. Dan jika berpikir seperti itu, itu selalu membuatku sedih. Aku mudah bosan dan ketika itu terjadi, pikiranku pergi kemana-mana dan air mata perlahan turun ke wajahku. Saya tidak bisa menghentikannya. Rasanya jauh di lubuk hati saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi atau apa yang direncanakan untuk saya di luar. Saya banyak stres, frustrasi.

Saya tidak bermaksud bergumam dan membuat anda sedih dengan membaca ini. Tapi, ada banyak orang yang memiliki hubungan yang mendalam dengan saya. Itu harus berakhir dengan cara yang buruk seperti ini.

Ini salah saya dan saya bersalah karena ini terjadi. Saya harus mengambil konsekuensi dari tindakan saya walaupun itu sangat sulit. Yang jelas, saya menyesal. Sangat menyesal.

*Anita, bukan nama sebenarnya, warga binaan.

Tulisan ini merupakan bagian dari #Surat atau Suara dari Balik Sekat Project, sebuah program pelatihan penulisan deskriptif yang dilakukan bagi para perempuan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atas kerjasama LBH Masyarakat bersama 3 media perempuan www.Konde.co, www.Magdalene.co dan Jurnal Perempuan yang memberikan pelatihan menulis disana selama 8 minggu