Sudah Mati pun, Tubuh Sulli (Perempuan) Tetap Bukan Miliknya Sendiri


*Meera Malik- www.Konde.co

Senin, 14 Oktober 2019, Sulli, mantan personel girlgrup f(x) meninggal dunia.

Dilansir dari Yonhap, penyanyi sekaligus aktris bernama asli Choi Jin-ri ini ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh manajernya pada pukul 15.20 waktu setempat di kediamannya di Seongnam-si, Provinsi Gyeonggi.

Sang manajer mendatangi rumah Sulli setelah ia tak bisa dihubungi sejak satu hari sebelumnya.

Sulli terjun ke dunia hiburan sejak 2004 dan mengawali karirnya sebagai pemain drama. Ia bergabung dengan f(x) pada 2009 di bawah label SM Entertainment. Ia mengakhiri karirnya sebagai bintang K-Pop pada 2015 dan hiatus selama setahun lebih. Setelah itu, ia memutuskan bersolo karir dan kembali menjadi pemain drama.

Sulli diketahui mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri. Tindakannya tersebut diduga dipicu oleh depresi berat. Beberapa tahun belakangan, ia kerap berjuang melawan pelecehan online dan ujaran kebencian dari netizen, khususnya netizen yang tinggal di Korea Selatan, tanpa adanya tindakan hukum dari pihak manajemennya. Ia bahkan pernah mengaku memiliki gejala penyakit mental, tetapi netizen malah beranggapan kalau Sulli hanya mencari-cari perhatian.

Pemakaman Sulli digelar secara tertutup karena keluarga ingin prosesi pemakaman berjalan dengan tenang tanpa ada ada sorotan berlebihan.


Eksploitasi Tubuh Sulli, Demi Klik

Kematian Sulli tentu saja jadi bahan berita besar bagi media di Korea. Tidak terkecuali di Indonesia. Media di tanah air pun berbondong-bondong memberitakannya. Dari segala sisi, hingga sisi yang tidak pantas sekalipun.

Contohnya dapat kita lihat dalam liputan 2 media besar di Indonesia pada 14 Oktober 2019. Media cnnindonesia.com menaikkan berita berjudul “5 Manfaat Tak Pakai Bra Seperti yang Dilakukan Sulli f(x)” dan liputan6.com berjudul “4 Potret Seksi Sulli Eks f(x), Idola Korea yang Diduga Tewas Bunuh Diri”. Berita yang sangat tidak substantif dan merendahkan Sulli dan keluarganya.

Jika melihat lolosnya 2 berita tersebut dari meja redaksi, sudah tentu pendapat bahwa media daring di Indonesia sulit bahkan tidak punya empati pada korban dan keluarga korban menjadi sangat relevan. Faktanya, media lebih suka menayangkan berita yang sensasional dan menempatkan perempuan hanya sebagai objek berita.

Industri media terlebih-lebih online di Indonesia, sering menjadi alat propaganda dan justru menjadi media untuk berkampanye soal tubuh perempuan adalah milik publik. Juga soal stereotipe seperti perempuan cantik adalah yang bertubuh langsing dan tinggi, berkulit putih, berambut hitam lurus, dan bibir merah merona. Begitulah beberapa media online menggambarkan bagaimana perempuan di media.

Kepentingan ekonomi yang kuat membuat media menghamba pada dulangan klik pembaca. Itu sebabnya media kita lumpuh dalam memahami perempuan sebagai manusia.

Kekuatan Desakan Publik

Dilansir dari Remotivi.or.id, dalam sebuah diskusi tentang eksploitasi perempuan di media massa, aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Wahyu Dhiyatmika, salah satu pembicara diskusi berkata bahwa solusi untuk menghindari eksploitasi perempuan oleh media massa, yakni dengan pelatihan perspektif gender, pengawasan dari internal redaksi dan pemantauan oleh Dewan Pers.

Namun, jika ketiga ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka pendapat pembicara lainnya, Mariana Amiruddin, layak diperhitungkan. Ia mengatakan bahwa solusi ada di tangan publik. Publik bisa ikut menekan institusi media dengan menolak mengonsumsi berita yang eksploitatif terhadap perempuan.

Solusi tersebut ampuh terhadap berita liputan6.com. Beberapa saat setelah dibagikan di media sosial akun Twitter @liputan6dotcom, berita tersebut mendapat penolakan dari para netizen.

“Media itu harusnya menjadi pembantu masyarakat yang butuh suara bukan malah jadi alat politik atau sekadar ngejar page views,

Ini salah satu contoh cuitan Awkarin yang memiliki 680,2K follower, di-retweet sebanyak 14.800 kali dan di-like sebanyak 27.800 kali. Setelah itu, penolakan dan protes dari publik pun semakin banyak.

Pada hari yang sama, liputan6.com menanggapi respon netizen dengan positif. Liputan6.com menurunkan berita tersebut dari laman mereka dan mencuit:

“Dear Netizen, terima kasih atas perhatiannya kepada Liputan6.com atas berita tentang Sulli. Kami sudah men-take down berita tersebut. Ini menjadi pelajaran bagi kami agar ke depan lebih baik lagi.”

Cuitan tersebut kemudian di-retweet 303 kali, dan mendapat 395 like dari netizen yang juga berkomentar,

“Nah begini jurnalis yang benar, salah minta maaf dan memperbaikinya :)
“Alhamdulillah mau muncul dan klarifikasi”
“GITU DONG. AYO @CNNIndonesia GINI JUGA BISA KAN? :)))))


Kebijaksanaan liputan6.com dalam menangkap aspirasi publik mesti diapresiasi. Meski tidak melakukan hal yang persis sama, cnnindonesia.com juga sudah menghapus berita tersebut dari laman berita mereka, meski tanpa pemberitahuan lanjutan dan permohonan maaf.

Turunnya berita tersebut merupakan keberhasilan publik. Keberhasilan ini juga tidak hanya di Indonesia. Setelah peristiwa Sulli, di Korea Selatan, muncul gerakan untuk memboikot beberapa situs berita seperti Allkpop, Koreaboo, Netizenbuzz, Pannchoa, Soompi, karena sering menyebarkan berita negatif selebritas.

Ini jelas menunjukkan bahwa apabila hingga hari ini media terus melanggengkan pandangan patriarkis yang timpang gender dan tidak menunjukkan perubahan signifikan, maka publik bisa bergerak cepat untuk mendorong perubahan.

*Meera Malik, jurnalis bahagia yang gemar membeli buku tapi lupa membaca