Jakarta, Konde.co- Inilah saatnya kamu membantu perempuan Indonesia.

Dengan membeli barang-barang pre-loved di event Give Back Sale pada 4-7 Desember 2019, uang hasil pembelianmu ini akan didonasikan bagi para perempuan korban kekerasan di Indonesia.

Give Back Sale 2019 kembali diselenggarakan oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Komnas Perempuan, Ke:Kini dan didukung blibli.com

Selain itu, di event ini kamu juga bisa nonton film "More than Work" produksi Konde Production dan didukung www.Konde.co, Cipta Media Ekspresi dan Wikimedia pada pembukaan Give Back Sale:

Rabu, 4 Desember 2019
Jam 10.00
Ke: Kini- Jl.Cikini Raya 45, Jakpus

Agenda:
1. Give Back Sale
2. Pemutaran Film More than Work

Narasumber:
A. Luviana (Sutradara film)
B. Mutiara Ika Pratiwi (Koordinator Perempuan Mahardhika)

Moderator: Aprelia Amanda (www.Konde.co)

3. Peluncuran Line Fashion

Penjualan barang-barang pre-loved dan sejumlah event dalam Give Back Sale ini akan didonasikan untuk perempuan korban kekerasan seksual. Event ini diadakan 2 kali setiap tahunnya karena jumlah perempuan korban kekerasan yang makin meningkat tiap tahunnya dan belum ada peraturan yang memadai.

Saat ini sedang diperjuangkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, sudah 5 tahun diperjuangkan namun belum juga disyahkan DPR.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan pada 2018 mencapai 406.178 kasus, meningkat 16,6% dibandingkan 2017 yang sebanyak 348.446 kasus.

Give Back Sale merupakan sebuah acara galang dana melalui penjualan barang-barang pre-loved yang telah diselenggarakan sejak tahun 2016.

Dana hasil penjualan barang-barang ini akan digunakan untuk mendukung para perempuan korban kekerasan dan women's crisis center di Indonesia melalui program Pundi Perempuan yang dikelola Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) bersama Komnas Perempuan

Give Back Sale 2019 akan diselenggarakan pada 4-7 Desember 2019 di Ke:Kini, Jl. Cikin Raya 45, Jakpus. Jangan lupa datang dan berdonasi bagi perempuan korban kekerasan seksual di Indonesia.

Poedjiati Tan www.konde.co

Konde.co- Pagi ini beredar di media daring bahwa atlet senam dipulangkan paksa karena dituduh tidak perawan dan akibatnya tidak bisa mengikuti SEA GAMES. Terus terang berita ini sungguh mengagetkan.

Sebagai mantan atlet nasional saya dapat merasakan kekecewaan dan malu yang ditanggung atlet tersebut. Seorang atlet yang sudah berlatih keras, siang malam berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia sungguh tidak adil kalau performanya dinilai dari selaput dara.

Apa arti keperawanan bagi seorang atlet perempuan? Selama menjadi atlet, memang kami sering mendengar mitos bahwa selaput dara kami bisa robek karena aktivitas olahraga yang keras. Tentu saja kami sering merasa khawatir tetapi demi mengemban nama bangsa, kami tetap berlatih keras. Atlet senam yang dituduh oleh sang pelatih sering keluar malam dan selaput daranya robek seperti diperkosa, sungguh suatu mimpi buruk dalam dunia olahraga.

Dunia olahraga yang menjunjung sportivitas, lalu mencoret seorang atlet berdasarkan keperawanan sungguh suatu perbuatan yang tidak sportif dan melanggar hak asasi manusia, kode etik, serta diskriminasi terhadap perempuan. Seperti kita tahu, Indonesia sudah meratifikasi The International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW), yang jelas mengatakan bahwa tes keperawanan itu melanggar hak asasi manusia.

Masyarakat kita masih sering menganggap bahwa keperawanan itu sebagai bagian dari standardisasi moral yang ditetapkan untuk perempuan. Keperawanan selalu didengungkan sebagai kesucian seorang perempuan dan kelakuan baik bagi seorang perempuan. Norma ideal perempuan yang terus didengungkan secara turun-temurun. Perempuan yang ideal adalah perempuan yang perawan. Padahal, apakah laki-laki diberikan stempel sebagai laki-laki yang baik adalah laki-laki yang perjaka? Ini merupakan stigma bagi perempuan karena hanya perempuan yang dilekatkan pada label tersebut.

Wacana keperawanan ini sering menjadikan perempuan menjadi rendah diri. Sifat baik misalnya selalu dilekatkan pada laki-laki: tidak perjaka, tidak masalah. Toh, tidak pernah ditanyakan tentang hal ini.  Namun untuk perawan, ini hal-hal yang selalu dilekatkan: tidak perawan itu bermasalah. Laki-laki pasti tidak mau dengan perempuan yang tidak perawan. Hal-hal inilah yang selalu melekat dan membentuk konstruksi besar dalam masyarakat.

Sifat baik yang selalu dilekatkan pada laki-laki akhirnya membentuk laki-laki sebagai kelompok yang unggul, yaitu kelompok yang selalu mempertanyakan keperawanan, karena mereka merasa superior. Sedangkan kelompok perempuan tidak boleh mempertanyakaan keperjakaan karena kelompok perempuan sudah diidentifikasi sebagai kelompok inferior, bersalah dan tidak boleh bertanya macam-macam.

Feminis Inge Broverman menyatakan bahwa stereotipe seperti ini akhirnya meluas dalam kehidupan. Setelah stereotipe, gambaran lain yaitu terjadinya subordinasi pada perempuan. Subordinasi terjadi karena perempuan selalu diposisikan inferior dan penakut.

Seharusnya orang mau melihat apa yang terjadi pada perempuan, dan tidak langsung memberikan stereotipe dan menyubordinasinya. Jika keperawanan memang dianggap penting, lalu pertanyaannya, hal ini penting buat siapa? Buat perempuan atau masyarakat atau laki-laki? Bagaimana dengan perempuan yang selalu dilekatkan dengan stempel yang perawan ini? Apakah ia nyaman dan jadi terselamatkan hidupnya karena label atau stigma ini?

Stigma keperawanan sudah memasuki dunia olahraga dan ini menjadi mimpi buruk buat atlet perempuan. Para atlet perempuan tidak dinilai kemampuannya dalam olahraga atau prestasinya tetapi dari selaput dara. Nilai-nilai moral yang dilekatkan akan memengaruhi perkembangan dunia olahraga khususnya untuk perempuan. Untuk itu, kita harus menolak syarat keperawanan pada atlet perempuan. Seorang atlet seharusnya dinilai dari keterampilannya, kemampuan olahraganya, prestasinya, bukan selaput daranya. 



*Sari Mentari- www.Konde.co

Konde.co- Film "Frozen" disebut sebagai salah satu film feminis, film yang melawan penguasaan dari pangeran terhadap putri dan melawan ketamakan di masa lalu.

Darren Paul Fisher, Head of Directing, Department of Film, Screen and Creative Media, Bond University dalam Theconversation pernah menuliskan, biasanya seorang putri yang sedang dalam kondisi berbahaya dilukiskan sebagai putri yang membutuhkan seorang pangeran. Namun baik dalam film Frozen 1 dan 2 tidak menampilkan gambaran tersebut. Elsa dan Anna, 2 putri dalam film Frozen justru menunjukkan perlawanan.

Frozen juga banyak disebut sebagai salah satu film feminis keluaran Disney terpopuler, ini tak hanya karena dominasi tokoh utama perempuan di dalamnya, tetapi juga lewat tingkah laku karakter dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh tokoh-tokoh perempuan melalui kakak beradik Elsa dan Anna ketika menyelesaikan suatu konflik.

Dalam banyak film Disney lainnya, kita bisa melihat banyak sosok putri yang harus diselamatkan oleh pangeran. Seperti film putri salju yang harus diselamatkan pangeran, juga film Cinderela yang hidupnya juga harus diselamatkan oleh pangeran.

Sampai-sampai di Amerika pernah dikenal istilah Cinderella complex, sebuah sindrom yang memitoskan bahwa perempuan tak bisa hidup tanpa laki-laki atau perempuan harus diselamatkan hidupnya oleh laki-laki.

Film Frozen memang memberikan angin segar tentang bagaimana perempuan menjadi pemimpin, tentang keputusan-keputusan perempuan, juga tentang persaudaraan, persahabatan antara dua bersaudara dalam satu keluarga. Pandangan lain yang menyatakan bahwa ini merupakan film feminis yaitu, selain bukan mengetengahkan cerita bahwa laki-laki adalah jawaban, film ini juga menceritakan tentang solidaritas perempuan dan perlawanan perempuan.

Dalam film Frozen 2 yang dirilis 22 November 2019 dikisahkan tentang Elsa yang mencari masa lalunya karena kerajaan Arendelle yang dipimpinnya terancam.

Sepeninggal kepergian ayah dan ibunya, Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell) yang hidup bersama boneka salju Olaf (Josh Gad) dan Kristoff (Jonathan Groff), juga rusa kutub Sven di Istana Arendelle.

Film dibuka dengan cerita tentang ingatan masa lalu Elsa akan kenangan bersama ayah dan ibunya ketika diceritakan tentang hutan ajaib yang menghilang. Karena selalu dihantui suara dari hutan yang hilang, maka Elsa kemudian memutuskan mencari sumber suara tersebut untuk menyelamatkan Arendelle.

Anna dan Kristof serta Olaf dan Sven tak mau tertinggal. Anna berkomitmen, apa saja yang terjadi pada Elsa, sebagai adik, ia harus selalu ada di samping Elsa.

Kemudian petulanganpun dimulai yaitu mencari sumber suara dan hubungan antara Arendelle dan hutan yang hilang.

Elsa ingin mencari jawaban namun ia tak mau jika Anna membantunya karena takut Anna akan celaka. Sedangkan Anna selalu ingin menjaga Elsa dan memastikan bahwa Elsa akan baik-baik saja. Inilah yang menjadi latar belakang film Frozen 2.

Kisah persaudaraan atau sisterhood, tak mau saling meninggalkan, persahabatan antar saudara diciptakan film ini. Elsa menjadi pemimpin perempuan yang makin percaya diri, sedangkan Anna menjadi perempuan yang terbuka, riang gembira dan ingin melindungi

Ini sekaligus semakin menguatkan karakter tokoh keduanya dimana pada film 1 ada Pangeran Hans yang ingin memporak-porandakan hubungan persaudaraan Elsa dan Anna dan ingin menguasai Kerajaan Arendelle.

Film Frozen 1 membuktikan tentang karakter putri yang melawan bentuk-bentuk penguasaan Pangeran Hans yang mengelabuhi Anna dengan cintanya untuk menguasai kerajaan Arendelle, ini sekaligus membuktikan tentang karakter putri, perlawanan Anna dan Elsa, yang tidak mau diselamatkan pangeran. Dan di film kedua, 2 putri Elsa dan Anna membuktikan bahwa mereka bisa melawan ketamakan kakeknya di masa lalu, mempersatukan 2 suku yang terpisah yang berperang selama bertahun-tahun lamanya.

Dari Elsa serta Anna, 2 tokoh perempuan dalam 2 film Frozen mampu membuktikan tentang perlawanan perempuan dan sisterhood yang bisa mengalahkan penguasaan laki-laki dan ketamakan yang ingin menguasai.

*Sari Mentari, Dosen dan penulis, tinggal di Jogjakarta

Masyarakat sudah lama meninggalkan makanan tradisional dan beralih mengonsumsi beras. Dahulu masyarakat Wonogiri mengonsumsi tiwul sebagai makanan pokoknya sehari-hari. Saat ini tiwul semakin jarang ditemui di dapur masyarakat. Mengapa hal itu bisa terjadi? Reporter Konde.co, Aprelia Amanda menyusuri hal ini dengan mendatangi beberapa tempat di Wonogiri, Jawa Tengah dan menemui beberapa perempuan disana.


Wonogiri, Konde.co- Menelusuri jalan selama 12 jam dari Jakarta ke Wonogiri. Gapura besar berwarna merah dan kuning seolah menyambut kedatangan saya di Dusun Bokuning, Desa Tempurharjo, Wonogiri.

Sepanjang jalan terlihat rumah-rumah beratap segitiga yang tumpul dipuncaknya. Mayoritas masyarakat di desa ini masih menggunakan arsitektur gaya tradisional Jawa untuk membangun rumahnya.

Udara siang itu sangat panas, sudah tujuh bulan tidak turun hujan di desa ini. Semua pohon jati menggugurkan daunnya. Pohon-pohon yang lain pun ikut menguning. Air semakin sulit didapat. Sumur-sumur warga kering. Kali yang menjadi tempat mandi dan mencuci warga juga kering. Beberapa rumah masih mendapatkan air melalui pipa-pipa yang dipasang menuju sumber air yang letaknya jauh.

Saya tinggal di rumah Suli, perempuan berusia 50-an. Rumahnya sama dengan rumah warga yang lain, rumah khas Jawa atau bisa disebut rumah joglo. Ia dan suaminya punya dua sapi di rumah dan empat kambing di kebun. Mereka berprofesi sebagai petani dan peternak, namun karena kemarau panjang mereka tidak bisa menanam apa-apa.

Dua karung besar yang hanya terisi setengan bersandar di pojok belakang rumah Suli. Kedua karung itu berisi tepung singkong yang akan dibuat Tiwul. Tiwul adalah makanan pokok masyarakat jawa yang terbuat dari singkong yang dikeringkan (gaplek) kemudian ditumbuk menjadi tepung. Suli punya dua karung tiwul tapi ia dan keluarganya lebih suka makan nasi.

Pukul 5 pagi Suli sudah bangun. Ia segera membuat teh hangat dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Tidak ada kompor gas ataupun kompor minyak. Suli masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasak. Ada ranting, potongan kayu, juga pelepah kelapa kering yang dibakar untuk menghasilkan api.

Kuali besar diletakkan diatas tungku. Jangan bayangkan kuali itu seperti panci-panci mengkilap di restoran. Kuali Suli penuh angus yang hitam legam menutupinya.

Sudah 20 menit kuali itu di atas tungku. Suli membuka tutup kualinya dan mengaduk-aduk nasi buatannya. Uap nasi dan asap pembakaran kayu membuat dapur sangat panas. Terlalu lama di dekatnya juga membuat mata perih. Tapi Suli sudah terbiasa dengan panas itu.

Menu pagi ini adalah nasi dan jangan lombok. Jangan berarti sayur. Selain jangan lombok ia juga sering memasak sayur-mayur seperti kangkung, jangan seger, dan urap. Sesekali ia juga memasak ayam namun itu jarang sekali.

Lantai dapur Suli masih terbuat dari tanah berpasir. Di pojoknya terdapat beberapa karung. Dua karung besar berisi tepung tiwul yang dibuatnya sendiri. Suli punya banyak persediaan tepung tiwul namun ia sudah jarang masaknya. Sehari-hari Suli dan keluarganya makan nasi, hanya sesekali suli memasak tiwul.

“Bosan kalo makan tiwul terus”, ujarnya.

Suli Juga menunjukkan sekarung penuh intil buatannya. Intil adalah nasi tiwul yang dijemur sampai kering kemudian digoreng sebagai cemilan. Intil bisa dijual tapi harganya murah, daripada diijual, Suli memilih untuk menyimpannya di rumah.

Sambil menyantap sarapan Suli dan suaminya bercerita, saat masih anak-anak dulu mereka tidak makan nasi. Mereka makan tiwul karena nasi susah didapat.

“Dulu panen raya setahun sekali, jadi mau makan nasi susah. Harus nunggu panen dulu. Sejak padi bisa dipanen setahun tiga kali baru orang-orang mulai biasa makan nasi”, tuturnya.

Keluarganya tidak memiliki sawah sehingga ia harus membeli beras di warung atau pasar seharga 11.000/beruk. Beruk adalah batok kelapa yang dijadikan takaran untuk membeli beras di sana. Suli hanya memiliki kebun yang biasanya ditanam jagung, singkong, dan kacang tanah. Namun saat ini kebunnya tidak ditanam apa-apa karena tidak ada air.

Karena kekeringan, Suli hanya mengandalkan bahan-bahan makanan yang bisa dibelinnya di pasar desa yang buka setiap wage dan pahing. Mayarakat di sana terbiasa menggunakan tanggalan Jawa untuk menentukan waktu buka pasar.

Saya tiba di rumah Supi ketika ia sedang yang sedang memasak. Berbeda dengan Suli yang lebih sering memasak nasi untuk keluarganya, Supi memasak nasi dan tiwul setiap hari. Namun tiwul yang dimasak sebenarnya untuk makan anjing-anjingnya.

Sekitar tahun 80-an ketika ia masih anak-anak, orang tuanya harus pergi ke pasar yang cukup jauh dari desa untuk membeli tiwul. Meskipun punya kebun singkong sendiri, namun jumlah yang dipanen tidak banyak. Menurut Supi mungkin karena saat itu tidak ada pupuk yang bagus untuk membuat panen singkong lebih banyak.

Saat ini ia punya beberapa karung tiwul yang dipanen sendiri untuk makan anjing-anjingnya. Ia juga punya sawah namun tidak terlalu luas sehingga ia tetap harus membeli beras untuk makan keluarganya sehari-hari.

Untuk masalah gizi, Supi tidak terlalu mengerti masalah itu. Ia sering memasak jangan lombok, sama seperti warga desa yang lain. Ia juga memasak ikan kembung yang dibelinya di pasar. Di belakang rumahnya ia memiliki kolam kecil untuk memelihara ikan lele untuk dimasak sehari-hari.

Saya kembali mengelilingi desa untuk melihat apa yang ada di dapur warga Dusun Bokuning. Hampir semuanya memasak nasi dan hanya satu orang yang memasak tiwul. Mul memilih memasak nasi karena ia sering sakit perut jika makan tiwul. Sedangkan Larni malas memasak tiwul karena ribet dan Misni lebih menyukai rasa nasi daripada tiwul. Hanya Surati yang memasak tiwul, itu pun hanya kebetulan karena biasanya ia masak nasi.

Tiwul adalah produk olahan dari gaplek. Gaplek ditumbuk menjadi tepung gaplek kemudian diolah menjadi tiwul. Tiwul banyak dikonsumsi masyarakat Gunung Kidul sampai Pacitan.


(Data Statistik Konsumsi Pangan Tahun 2018, Kementerian Pertanian)


Dari grafik diatas terlihat jelas jumlah konsumsi gaplek sangat rendah dibandingkan pangan pokok yang lain. Gaplek dan berbagai olahannya seperti tiwul kini juga semakin ditinggalkan. Ada berbagai alasan masyarakat meninggalkan tiwul, terutama karena rasa yang tidak lebih enak dibandingkan nasi dan cara memasaknya yang merepotkan. Dari unsur gizi pun gaplek tidak lebih baik daripada nasi. Perlu pemahaman yang cukup baik untuk memenuhi gizi dalam sepiring tiwul bersama lauk pauk yang tepat.

Menurut ahli gisi ITB Prof.Dr.Ir. Ali Khomsan, MS, singkong, ubi, kentang dan sagu hanya tinggi kalori namun sangat rendah protein apabila dibanding dengan jagung, gandum, padi. Untuk dapat memenuhi gizinya maka makanan pendamping tiwul harus berasal dari protein hewani yang tinggi protein seperti ikan dan daging. Masalahnya masyarakat yang mengkonsumsi tiwul biasanya menyandingkan tiwul dengan makanan yang berasal dari protein nabati seperti tahu dan tempe.

Seperti Suli dan Supi, mereka berdua belum mengerti masalah gizi. Mereka sering memasak jangan lombok atau sayur cabe hijau untuk keluarganya karena keluarganya menyukai itu. Padahal jangan lombok hanya terdiri dari tahu dan tempe di dalamnya. Mereka juga jarang mengonsumsi ikan dan daging. Jika terus-menerus mengonsumsi tiwul maka keluarga Suli dan Supi beresiko besar kekurangan protein.

Prof.Dr.Ir. Ali Khomsan, MS seorang ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan tentang pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia. Beras menduduki posisi yang paling tinggi dalam grafik konsumsi pangan pokok masyarakat. Pada tahun 2018 konsumsi beras mencapai 96.326 kg/kapita/tahun sedangkan jagung 1.600, terigu 2.638, ubi kayu 4.738, ubi jalar 3.135, sagu 0.366, dan talas 0.354, dan gaplek hanya 0.110 kg/kapita/tahun.


(Nilai dalam jutaan US$)
(Data Badan Pusat Statistik Sumber: BPS, diolah Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Perdagangan)

Tahun 1960-an menjadi masa yang sulit bagi orang-orang untuk bisa makan nasi. Saat itu teknologi pangan belum memadai sehingga masih mengandalkan bibit lokal yang produksinya jauh lebih sedikit dibandingkan saat ini. Dengan terpaksa masyarakat mengonsumsi pangan pokok yang lebih mudah didapat seperti umbi-umbian, jagung, dan sagu. Berangsur-angsur teknologi revolusi hijau semakin berkembang. Kesejahteraan masyarakat juga kian membaik. Sejak itulah secara perlahan namun pasti masyarakat mulai beralih meninggalkan pangan lokalnya dan memilih pangan yang lebih prestisius yaitu nasi.

Pemerintah lewat Kementerian Pertanian selalu menggaungkan konsep ketahanan pangan dan diversifikasi pangan. Menurut Ali Khomsan sejauh ini ketahanan pangan diartikan sebagai upaya negara dalam menyediakan pangan yang cukup bagi warga negaranya.

Ketahanan pangan tidak melihat dari mana sekarung pangan itu berasal, mau itu produksi sendiri ataupun impor semuanya tidak masalah. Berbeda dengan kesembadaan pangan yang diartikan sebagai kemampuan menyediakan pangan dengan usaha sendiri.

Dari pengamatannya sampai saat ini ketahanan pangan Indonesia dari aspek ketersediaan masih dianggap cukup baik. Tidak ada gejolak signifikan yang dapat mengganggu pemerintah dalah memenuhi kebutuhan pangan khususnya beras. Kecuali saat panceklik atau saat gagal panen biasanya pemerintah harus melakukan impor untuk menjaga agar stok pangan selelu tersedia.

Menurut Ali Khomsan melihat kekayaan alam Indonesia keragaman pangan pokok tidak bisa dipandang sebelah mata. Keragaman umbi-umbian dan seralia tiada henti-hentinya digaungkan agar masyarakat tergerak untuk menjalankan diversifikasi dalam menu makan sehari-hari. Namun gaung diversifikasi pangan hanya sebatas himbauan saja.

Diversifikasi pangan tidak bisa dipaksakan. Lagipula tidak ada sesuatu yang mengikat untuk memaksa semua orang melakukan diversifikasi pagan.

Bagi seseorang yang berlatar belakang kesehatan seperti Ali Khomsan, pandangan diversifikasi pangan bisa saja berbeda dengan yang dimaksud pemerintah.

“Bagi kami orang kesehatan melihat diversifikasi tidak melulu mengganti beras menjadi non-beras tetapi menganekaragamkan menu di meja makan supaya bervariasi dengan 4 komposisi, makan pokok, lauk (protein), sayur, dan buah. Jika itu sudah terpenuhi maka jajaran kesehatan akan mengatakan makanan masyarakat sudah bervariasi”, tuturnya.

“Namun jika ukuran diversifikasi mengganti beras dengan non-beras maka kita bisa mengatakan diversifikasi tidak berhasil, karena yang makan beras masih banyak”, tambahnya.

Proses naiknya beras menjadi pangan pokok yang sangat dominan tidak berlangsung secara tiba-tiba. Sudah lama masyarakat Indonesia mengenal beras. Konsumsi beras tidak lepas dari budaya masyarakat. Selain sudah lama mengenal beras, kelezatan nasi juga tidak diragukan lagi. Beras pun juga mudah dimasak sehingga membuat masyarakat berduyun-duyun memakannya dan enggan untuk berpaling. Semua keunggulan yang ada di dalam beras semakin sulit membuat orang-orang untuk berpindah mengonsumsi pangan lokal non-beras.

Kemunculan Si Gandum

Gandum turut mewarnai ragam diversifikasi pangan di Indonesia. Kemunculan mie instan juga merubah pola konsumsi masyarakat. Berawal pada masa Orde Baru ketika pemerintah ingin mencari alternatif beras yang harga di pasar global sedang tinggi, akhirnya memberi kemudahan bagi industri penggilingan gandum menjadi terigu dengan produknya yang paling populer yaitu mie instan untuk masuk ke Indonesia. Mie instan begitu menarik karena kemudahan cara memasaknya.

Namun masuknya gandum sebagai salah satu pangan pokok tidak terlalu disukai. Gandum tidak bisa tumbuh di Indonesia oleh sebab itu untuk memenuhi kebutuhan gandum dan segala produk turunanannya pemerintah harus impor. Ini akan menjadi beban keuangan negara dan oleh sebab itu gandum tidak menjadi bagian dari ragam pangan yang digagas Kementrian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan. Pangan lokal selalu menjadi topik utama dan gandum bukan bagian di dalamnya.

Bagi Ali Khomsan yang perlu diperhatikan sebenarnya ada indikasi bahwa kemakmuran suatu bangsa beriringan dengan peningkatan jumalah konsumsi makanan manis seperti kue dan biskuit. Semua makanan itu dibuat dengan terigu dan juga gula yang tinggi.

“Negara-negara makmur bisanya konsumsi cake dan cookiesnya tinggi dan makanan itu disertai dengan gula sehingga permintaannya semakin tinggi. Cemilan seperti jagung, singkong, ubi, dan kacang rebus saat ini hanya dinikmati orang tua," tuturnya.

Meskipun belum sampai di tahap yang mengkhawatirkan, namun kita perlu waspada dengan meningkatnya konsumsi gandum (terigu) dibarengi dengan gula. Banyak negara maju yang sudah melalui tahap itu dan kita harus belajar dari mereka.

“Ketika negara maju banyak konsumsi cake dan jumlah penderita diabetes meningkat itu pelajaran bagi kita. Jika kita mau menjadi negara maju tapi tidak mau menderita diabetes, kita harus mengatur asupan gula menjadi sesuai kaidah gizi. WHO menetapkan 25g, Kemenkes 50g, sedangkan Eropa dan Amerika konsumsinya sudah sampai 100g. Kita sudah diatas standar WHO meskipun belum setinggi Eropa, namun itu sudah menjadi warning bagi kita”, ujarnya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Aprelia Amanda,
biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Memberdayakan perempuan menjadi kunci kesehatan keluarga karena perempuan memegang andil besar dalam mengelola makanan diatas meja makan. Para perempuan di Indonesia menghidupkan pangan lokal untuk meminimalisir stunting pada bayi dan anak-anak. Inilah yang kemudian ditelusuri Agustini di ujung timur Indonesia.


*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Papua, Konde.co – Agustini merasa heran melihat apa yang dimakan anak-anak ketika menginjakan kaki di tanah Papua.

Terlihat banyak anak yang hanya memakan sagu dan nasi saja. Tidak ada lauk-pauk maupun sayur di piring mereka. Ia juga mendapati seorang anak yang makan sagu dengan air teh. Menjadikan air teh seperti sayur yang dituang kedalam piringnya. Tidak ada yang mengerti cara memberi makan yang baik untuk anak, dan apa yang dimakan anak-anak akhirnya tidak karuan.

Situasi ini tak hanya terjadi di Papua, di sejumlah tempat lain di Indonesia juga masih mengalami kondisi ini.

Melihat kondisi kesehatan masyarakat yang buruk membawa Agustini bersama Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII) memasuki wilayah timur indonesia, yaitu Papua. Berfokus di Timika dan Sorong, ia membuat “Kelas Ibu” bagi para Mama dan Bapak, meskipun di kelas itu kebanyakan adalah perempuan.

Masyarakat Papua terbiasa makan sagu namun tidak dibarengi dengan lauk-pauk yang memadai. Di "Kelas Ibu" ia kemudian memperkenalkan pangan lokal lain sebagai sumber karbohidrat yang banyak tumbuh di sana seperti ubi dan keladi.

Agustini menunjukkan makanan yang mereka ajarkan kepada masyarakat yang mereka dampingi. Ia memberi nama makanan itu sagu gulung.

Sagu gulung adalah sagu yang dipipihkan lalu diisi sayur dan ikan kemudian digulung. Sagu gulung banyak disukai anak-anak. Ia juga mengajarkan untuk mengolah ulat sagu menjadi masakan misalnya dengan cara ditumis atau dijadikan dijadikan makanan berkuah. Ulat sagu kaya protein, baginya akan sangat sia-sia jika itu diabaikan. Semua yang ia lakukan bertujuan untuk memperbaiki gizi anak-anak Papua yang menyandang predikat sebagai salah satu provinsi dengan stunting tertinggi di Indonesia.

Mencegah stunting bukan perkara mudah. Harus ada program yang integratif, bukan hanya saat masa kehamilan tapi saat calon ibu masih remaja. Stunting berjalan seperti rantai, jika rantai stanting tidak diputus maka stunting sulit dientaskan. Remaja perlu diperkenalkan tentang kesehatan reproduksi dan gizi.

Selain itu di beberapa tempat juga masih ditemui cara membagi makan yang tidak adil bagi anak perempuan dan laki-laki. Anak perempuan diberikan makanan yang lebih sedikit dibandingkan anak laki-laki karena perempuan dianggap tidak lebih bernilai dibandingkan laki-laki.

Masalah kesetaraan gender juga menjadi persoalan yang patut diperjuangkan karena tidak mungkin memutus rantai stunting tanpa memberikan keadilan pangan bagi perempuan. Semua ini merupakan cara untuk menyiapkan diri seorang perempuan menjadi ibu yang sehat.

Di Papua banyak terjadi kehamilan usia muda. Banyak yang melakukan hubungan seksual entah itu dengan teman atau dengan saudara. Kehamilan usia muda meningkatkan resiko stunting karena anak membutuhkan banyak nutrisi untuk masa pertumbuhannya sedangkan ia mengandung bayi yang harus diberi nutrisi pula. Tentu gizi yang ada di dalam tubuh ibu yang masih berusia anak ini akan terbagi dua. Ada pola asuh, asih, dan asah yang salah yang menyebabkan tingkat stunting di Papua tinggi.

“Ketika hamil ibu perlu gizi yang lengkap. Di Papua banyak ikan, udang, dan kepiting yang biasa disebut kraka. Ikan disana besar-besar. Ibaratnya hanya meram saja bisa dapat ikan. Tapi kenapa anak-anak Papua harus kurang gizi. Kenapa angka stunting tinggi. Itu semua karna pola asah, asih asuh yang buruk”. ujarnya.

Dulu orang tua baru pergi menokok sagu ketika sudah tidak ada sagu di rumah. Anak-anak dibiarkan kelaparan menunggu orang tuanya menokok sagu.

Orang-orang Papua juga terbiasa makan sekenyang-kenyangnya dan melahap habis semua makanan saat itu juga. Mereka tidak pernah menyimpan makanan untuk besok. Food scurity atau ketahanan pangan di dalam rumah tangga sangat penting dengan cara memastikan ada pangan yang dapat diolah esok hari. Ia akhirnya memperkenalkan program management nutrisi yang sebenarnya adalah nama lain dari food scurity.

“Di Papua misalnya ada pisang satu tandan, itu habis dimakan dalam satu hari. Makanan apa saja habis dalam satu hari. Mereka makan sekenyang-kenyangnya saat itu juga jadi tidak ada saving makanan. Management nutrisi mengajarkan untuk saving makanan. Mengajarkan bagaimana mengidentifikasi makanan pokok apa saja yang ada seperti ubi kayu, sagu, pisang. Makanan itu harus ada dan bisa dimakan selang-seling”, ujarnya.

Agustini juga mengajarkan masyarakat untuk mencoba berkebun di sekitar rumahnya agar lebih mudah memperoleh bahan-bahan makanan daripada harus berjalan jauh ke kebun setiap kali panen.

“Kita ajarkan membuat kebun gizi di sekitar rumah. Di papua biasanya menanam sayur jauh jadi kalau mau panen harus naik perahu. Menanam sayur di sekitar rumah kangkung, bayam, sawi dan mencoba mengajarkan menanam umbi-umbian juga disitu”, tuturnya.

Beras masih dianggap prestisius bagi masyarakat Papua karena harganya yang lebih mahal. Namun Agustini mencoba mengembalikan pola makan masyarakat seperti leluhurnya dulu.

“Jika mereka punya sagu, ubi, dan pisang ya makan itu saja. Ditambah ikan yang banyak ditemukan disana dan sayuran, itu sudah cukup untuk memenuhi gizi mereka.Tidak harus makan beras”, ujarnya.

Padu-padan bahan pangan sangat menentukan dalam memenuhi kecukupan gizi. Suli dan Supi misalnya, mereka memasak nasi karena lebih bergizi dibandingkan tiwul, sebab mereka lebih sering menyandingkan tiwul dengan tahu dan tempe.

Sedangkan tiwul rendah protein sehingga jika terus mengonsumsinya tanpa lauk yang tinggi protein seperti ikan dan daging maka keluarga mereka akan kekurangan protein.

Fenomena lain juga ditemui Agustini di Papua. Masyarakat Papua tidak mengerti cara makan yang baik sehingga ia harus mengajarkan bagaimana memadukan makanan sehingga anak-anak terpenuhi gizinya dan lepas dari jeratan stunting.

Menurut Dr. Tan Shot Yen seorang dokter gizi, pola makan yang salah akan banyak mempengaruhi kesehatan seseorang di setiap fase kehidupan. Remaja perempuan yang memiliki pola makan yang salah akan menjadikannya seorang ibu hamil yang kekurangan gizi dan kemudian melahirkan anak yang kekurangan gizi pula.

Karena sudah kekurangan gizi sejak di dalam kandungan maka anak yang dilahirkan bertubuh pendek dan dinyatakan stunting. Siklus ini terus berlanjut dan tak terputus tanpa ada perbagikan gizi yang menyeluruh.

“Yang pasti kesehatan calon ibu dimulai sejak ia masih remaja. Perbaikan gizi dan literasi gizi menjadi hal yang sangat amat penting. Seorang perempuan tidak mungkin bisa mengasuh bayinya dengan baik dan mencegah resiko stunting jika ia sendiri belum mahir memenuhi kebutuhan gizi dirinya, ujar Dr. Tan Shot Yen.

Makan sehat bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal untuk dijalankan. Yang terpenting sebenarnya literasi gizi yang memadai dan upaya yang dilakukan dalam memperbaiki gizi keluarga.

Semuanya dapat dimulai dengan perencanaan menggunakan panduan “Isi Piringku”. Isi Piringku membagi piring menjadi 4 bagian terdiri dari makanan pokok, sayuran, lauk-pauk, dan buah-buahan. Juga ditambah aktifitas mencuci tangan sebelum makan, minum air delapan gelas sehari, dan aktifitas fisik minimal 30 menit setiap hari.

“Jika pagi cuma makan nasi uduk dan makan siangnya mie bakso, mana bisa panduan isi piringku dijalankan. Makan sehat dan bener itu gak ribet dan sama sekali tidak mahal. Hanya butuh perencanaan”, ujarnya.

Saat ini perempuan masih menjadi sosok yang berperan penting untuk menentukan makanan apa yang akan dikonsumsi keluarga. Kebiasaan makan sehat yang dibangun perempuan di rumah akan membawa kebisaan makan sehat anggota keluargannya kemanapun mereka berada. Kebisaan ini akan berdampak baik bukan hanya pada kesehatan tapi juga pada keuangan keluarga karena sudah terbiasa makan sehat mereka lebih berhati-hati dalam memilih makanan sehingga tidak sering jajan sembarangan di luar.

“Jika terbiasa makan sehat maka seisi rumah pun akan sehat. Jika perlu suami bawa bekal ke kantor dan anak bawa bekal ke sekolah. Nanti ketika sudah besar anak-anaknya pun akhirnya tidak punya kebiasaan jajan karena sudah biasa membawa bekal. Bukan saja jadi tidak mudah sakit, lebih hemat juga sudah pasti”, ujarnya.

Makan tidak hanya sesederhana asal kenyang. Gizi di dalam makanan menjadikan aktivitas makan menjadi sangat krusial. Keragaman pangan menjadi kunci agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis makanan saja. Pangan pokok harus didampingi dengan lauk-pauk yang tepat agar gizi yang dibutuhkan tubuh cukup.

Memberdayakan perempuan menjadi sangat penting karena perempuan memiliki andil besar dalam menentukan menu apa yang akan dihidangkan untuk keluarganya setiap hari. Ini juga menjadi cara yang tepat untuk mengentaskan kekurangan gizi kronis (stunting) yang banyak terjadi di Indonesia.

Sepertiga anak Indonesia mengalami stunting. Stunting bukan perkara tumbuh yang pendek saja, namun yang lebih penting stunting menghambat pertumbuhan otak.

Maka jika tidak membuat perempuan berdaya, akan sulit memutus rantai stunting. Jika terus-menerus terjebak dalam jumlah stunting yang tinggi, masa depan generasi Indonesia berada di ambang bahaya.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)


*Aprelia Amanda,
biasa dipanggil Manda. Menyelesaikan studi Ilmu Politik di IISIP Jakarta tahun 2019. Pernah aktif menjadi penulis di Majalah Anak (Malfora) dan kabarburuh.com. Suka membaca dan minum kopi, Manda kini menjadi penulis dan pengelola www.Konde.co

Poedjiati Tan- www.Konde.co

Mengapa kita harus melakukan kampanye bersama 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan? Dan siapa yang pertamakali menggagasnya hingga menjadi kampanye bersama secara internasional?

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau 16 days of activism against gender violence merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia.

Aktivitas ini sendiri pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership.

Setiap tahunnya, 16 hari adalah kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan hari internasional penghapusan kekerasan terhadapperempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Dipilihnya rentang waktu tersebut untuk menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Mengapa 16 Hari ?

Penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja bersama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak, baik aktivis HAM perempuan, Pemerintah, maupun masyarakat secara umum.

Dalam rentang 16 hari, para aktivis HAM perempuan mempunyai waktu yang cukup guna membangun strategi pengorganisiran agenda bersama yakni untuk menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM, mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi para survivor (korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan) dan mengajak semua orang untuk turut terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Apa yang terjadi dalam rentang waktu 25 November – 10 Desember?

•25 November: Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan

Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patria, Minerva & Maria Teresa) pada tanggal yang sama pada tahun 1960 akibat pembunuhan keji yang dilakukan oleh kaki tangan pengusasa diktator Republik Dominika pada waktu itu, yaitu Rafael Trujillo. Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran peguasa Republik Dominika pada waktu itu. Berkali-kali mereka mendapat tekanan dan penganiayaan dari penguasa yang berakhir pada pembunuhan keji tersebut. Tanggal ini sekaligus juga menandai ada dan diakuinya kekerasan berbasis jender. Tanggal ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan pada tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama.

•1 Desember: Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS sedunia pertama kali dicanangkan dalam konferensi internasional tingkat menteri kesehatan seluruh dunia pada tahun 1988. Hari ini menandai dimulainya kampanye tahunan dalam upaya menggalang dukungan publik serta mengembangkan suatu program yang mencakup kegiatan pencegahan penyebaran HIV/AIDS, dan juga pendidikan dan penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS.

•2 Desember: Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan

Hari ini merupakan hari diadopsinya Konvensi PBB mengenai Penindasan terhadap Orang-orang yang diperdagangkan dan eksploitasi terhadap orang lain (UN Convention for the Suppression of the traffic in persons and the Exploitation of other) dalam resolusi Majelis Umum PBB No 317(IV) pada tahun 1949. Konvensi ini merupakan salah satu tonggak perjalanan dalam upaya memberikan perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia.

•3 Desember: Hari Internasional bagi Penyandang Cacat

Hari ini merupakan peringatan lahirnya program aksi sedunia bagi penyandang cacat (the world programme of action concerning disabled persons). Program aksi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1982 untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu mengenai penyandang cacat dan juga mambangkitkan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh, baik oleh masyarakat maupun penyandang cacat, dengan mengintegrasikan keberadaan mereka dalam segala aspek kehidupan masyarakat.

•5 Desember: Hari Internasional bagi Sukarelawan

Pada tahun 1985 PBB menetapkan tanggal 5 Desember sebagai Hari Internasional bagi Sukarelawan. Pada hari ini, PBB mengajak organisasi-organisasi dan negara-negara di dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama sebagai wujud rasa terima kasih dan sekaligus penghargaan kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi amat berarti bagi masyarakat dengan cara mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan.

•6 Desember: Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan

Pada hari ini pada tahun 1989, terjadi pembunuhan massal di Universitas Montreal Kanada yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya (13 diantaranya perempuan) dengan menggunakan senapan semi otomatis kaliber 223. Pelaku melakukan tindakan tersebut karena percaya bahwa kehadiran para mahasiswi itulah yang menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum pada akhirnya bunuh diri, lelaki ini meninggalkan sepucuk surat yang berisikan kemarahan amat sangat pada para feminis dan juga daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya.

•10 Desember: Hari HAM Internasional Hari HAM Internasional

Bagi organisasi-organisasi di dunia merupakan perayaan akan ditetapkannya dokumen bersejarah, yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) oleh Badan Internasional Dunia PBB pada tahun 1948, dan sekaligus merupakan momen untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip HAM yang secara detail terkandung di dalam deklarasi tersebut

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

(Disarikan dari komnasperempuan.go.id)

Mengapa setiap tanggal 25 November seluruh dunia memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan internasional? Karena tanggal 25 November adalah hari dimana aktivis Mirabal bersaudara dibunuh. Kematian Mirabal adalah penyambung kisah-kisah kekerasan perempuan yang terjadi dari dulu hingga kini.

Luviana – www.konde.co

Mirabal adalah sebuah tonggak. Tonggak, sebuah simbol dari para perempuan yang berani untuk melawan. Atas kediktatoran yang terjadi pada rakyat, atas kesewenang-wenangan yang terjadi pada Dominika. Sejak 25 November di tahun 1960 tepat di hari kematian mereka, semangatnya terus menjalar hingga kini semua perempuan di dunia memperingati 25 November sebagai hari anti kekerasan terhadap perempuan

Siapakah Mirabal Bersaudara?


Minerva, Maria dan Patria terlahir dari keluarga petani yang berpikiran maju. Ibu mereka, Marcedes Reyes merupakan perempuan buta huruf. Dari sinilah, Marcedes Rayes kemudian berpikir bahwa anak-anak perempuan mereka harus sekolah dan berpendidikan tinggi, ia tak mau mereka mempunyai nasib sama seperti dirinya.

Minerva disebut sebagai perempuan paling pemberani di keluarga ini. Semenjak remaja, ia beberapakali berhadapan langsung dengan diktator. Ia juga menjadi pelopor gerakan bawah tanah yang kemudian disebut “The movement of the Fourteenth of June” yang menentang kediktatoran Trujillo.

Minerva, Maria dan Patria terlibat dalam gerakan revolusioner bawah tanah di Republik Dominika. Gerakan Mirabal bersaudara ini merupakan perlawanan terhadap rezim diktator Rafael Trujllo (1930-1961) yang menebarkan rasa takut, kebencian, kediktatoran diantara rakyat Republik Dominika kala itu.

Trujillo menjadi presiden di Dominika pada tahun 1930-1938, 1942-1952, dan kemudian meneruskan pemerintahan secara diktator dan menghabisi siapa saja yang menentang dirinya. Selama lebih dari 30 tahun memerintah, rezim Trujillo menghabisi 50.000 bangsa Haiti dan Dominikan.

Pada tanggal 14 Juni 1960 , Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal bergabung dengan Gerakan 14 Juni yang diketuai oleh Manolo. Mereka bertiga kemudian dikenal sebagai para kupu-kupu Dominika, ini sebagai sebuah simbol keikutsertaan mereka bersama kaum buruh disana kala itu.

Gerakan revolusi ini pada akhirnya bocor ke telinga pemerintah rezim Rafael Trujllo, hingga berujung pada penangkapan dan penahanan para aktivis ke penjara yang memiliki fasilitas penyiksaan paling lengkap di Republik Dominika. Penangkapan dan penyiksaan kepada para aktivis muda ini menyulut kemarahan rakyat Republik Dominika. Mereka menuntut pembebasan para tahanan politik. Dunia Internasional juga menyampaikan kecaman-kecaman keras. Karena tekanan bertubi-tubi inilah Trujillo kemudian membebaskan para tahanan perempuan.

Gerakan melawan rezim semakin meluas di kalangan rakyat. Trujillo menaruh dendam pada Minerva Mirabal dan berniat membunuh Minerva Mirabal bersaudara.

Malam itu, 25 November 1960, Minerva Mirabal dan 2 saudara perempuannya Maria Teresa Mirabal dan Patria Mirabal yang sedang dalam perjalanan menuju Puerro Plata tempat suami Patria dan Minerva ditahan di penjara La Cuarenta. Jeep yang mereka tumpangi dihentikan paksa oleh antek-antek Trujillo. Saat itulah terjadi pembunuhan atas ketiganya.

Jenazah Mirabal bersaudara dikumpulkan di sepanjang sisi jalan mendaki antara Puerto Plata dan Santiago. Mobil Jeep mereka sendiri didorong ke dalam jurang, untuk membuatnya seakan-akan sebagai sebuah kecelakaan. Waktu tragedi pembunuhan itu terjadi, Patria berusia 36 tahun, Minerva berusia 34 tahun, dan Maria Teresa yang paling termuda berusia 24 tahun.

Mirabal bersaudara menjadi simbol perjuangan kaum feminis paling popular di negeri-negeri Amerika Latin. Kisah Mirabal bersaudara dimasukkan ke dalam buku-buku teks pelajaran sejarah di Dominika.

Dan kini, darah perjuangan Mirabal merupakan penyambung bagi perempuan-perempuan korban di seluruh dunia yang berani untuk melawan. Kita memperingati perjuangannya setiap tanggal 25 November.


Sumber:
1. http://www.kanisiusmedia.com/inspirasi/grid/471
2. http://my-classic-books.blogspot.co.id/2012/11/facts-behind-mirabal-sisters.html

(Foto: Genderpedia)

Apa yang salah dengan janda? Selama ini banyak pandangan miring tentang janda, seolah-olah yang dilakukan dan diputuskan oleh janda selalu salah.
Ini adalah beberapa stigma yang dilekatkan pada janda:

1. Janda gatal
2. Janda diidentikkan dengan perebut suami orang
3. Janda diidentikkan dengan penggoda laki-laki
4. Janda diidentikkan dengan orang yang haus kasih sayang
5. Janda juga dipersalahkan karena dianggap tak bisa mengurus rumah tangga

Konde.co bersama #SaveJanda menyelenggarakan sebuah acara: “ngobrol di twitter tentang janda: stigma dan bagaimana media memandang janda?”
Acara ini juga akan membahas bagaimana media selama ini menuliskan tentang janda. Ngobrol di twitter ini akan dilaksanakan di hari anti kekerasan terhadap perempuan internasional pada:

Senin, 25 November 2019
Jam 12-13 WIB

Bersama:


1. Mutiara Proehoeman/ Founder #SaveJanda
@proehoeman
2. Meera Malik / Managing Editor Konde.co
@Kondedotco

Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Setelah sebelumnya panitya seleksi pemilihan anggota Komnas Perempuan menyerahkan 20 calon anggota Komnas Perempuan pada Jumat 22 November, sidang paripurna Komnas Perempuan akhirnya memilih 15 anggota Komnas Perempuan terbaru periode 2020-2024.

Kelimabelas anggota baru yang terpilih tersebut antaralain:

1. Maria Ulfah Anshor (Jakarta)
2. Dewi Kanti (Kuningan - Jawa Barat)
3. Satyawanti (Mataram - NTB)
4. Rainy Maryke Hutabarat (Jakarta)
5. Olivia Chadijah Salampessy (Ambon - Maluku)
6. Th. Sri Endras Iswarini (Jakarta)
7. Bahrul Fuad (Jakarta)
8. Nahei (Situbondo – Jawa Timur)
9. Alimatul Qibtiyah (Yogyakarta)
10. Siti Aminah Tardi (Jakarta)
11. Tiasri Wiandani (Tangerang)
12. Veryanto Sitohang (Medan)
13. Andy Yentriyani (Pontianak – Kalimantan Barat)
14. Mariana Amiruddin (Jakarta)
15. Retty Ratnawati (Malang – Jawa timur)

Dalam pernyataan sikapnya tertulis, kelimabelas anggota baru Komnas Perempuan terpilih akan mulai bertugas pada tanggal 1 Januari 2020, setelah berakhirnya masa tugas Anggota Komnas Perempuan Periode 2015-2019 selesai pada 31 Desember 2019.

Sebelumnya, proses seleksi Anggota Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Periode 2020-2024 telah dilakukan oleh panitia seleksi antaralain Usman Hamid, Kamala Chandrakirana, Mamik Sri Supatmi, Ahmad Junaidi dan Miryam Nainggolan sudah berlangsung sejak Juni 2019.

Panitia Seleksi pada 22 November 2019 telah menyerahkan 20 nama Calon Anggota Komnas Perempuan Periode 2020-2024 berdasarkan peringkat tertinggi kepada Sidang Komisi Paripurna Komnas Perempuan, untuk dilakukan pemilihan.

Proses ini dilanjutkan dengan sidang komisi paripurna Komnas Perempuan dengan agenda tunggal Pemilihan Anggota Komisi Paripurna Komnas Perempuan Periode 2020-2024 berlangsung secara tertutup dipimpin oleh Ketua Komnas Perempuan, Azriana Manalu.

Sidang yang berlangsung secara tertutup tersebut dihadiri oleh panitia seleksi, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), perwakilan sejumlah organisasi organisasi masyarakat sipil, komunitas korban dan Badan Pekerja Komnas Perempuan, yang diundang secara khusus untuk menyaksikan pemilihan.

Setelah melalui pembahasan dan pertimbangan mendalam, sidang komisi paripurna bersepakat memilih kelimabelasnya untuk menjadi anggota baru Komnas Perempuan.

(Foto: twitter.com)

Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Acara Feminis Festival (Femsfest) kembali diadakan tahun ini dengan tema besar yakni ‘Feminis Buatan Indonesia’.

Acara yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta ini akan berlangsung selama dua hari, yaitu pada 23 dan 24 November 2019, bertempat di Wisma PKBI, Kebayoran Baru, Jakarta.

Festival yang diadakan dwitahunan ini, dilatar belakangi oleh bagaimana feminisme secara umum dianggap berposisi sebagai upaya melakukan westernisasi negara melalui nilai-nilai asing. Dari kesalahpahaman ini, pada faktanya justru nilai feminis telah hidup dalam banyak kebudayaan dan salah satunya dalam budaya Indonesia.

Skolastika Lupitawina, selaku ketua FemFest 2019, menjelaskan dalam pernyataan sikap yang diterima www.Konde.co, bahwa visi festival tahun ini adalah untuk meningkatkan pemahaman bahwa feminisme juga merupakan bagian dari budaya Indonesia.

“FemFest tahun ini ingin meningkatkan pemahaman bahwa feminisme bukan barang impor, melainkan perspektif dan perjuangan yang sudah lama hidup di Indonesia. Selain itu kami juga ingin mendorong masyarakat, khususnya muda-mudi, untuk turut menjadi aktivis feminis dengan pemahaman ini.”

Selain itu, FemFest tahun ini juga membawa narasi mengenai kesetaraan gender dan hak perempuan untuk lebih digalakkan.

Paham feminisme sendiri juga bukan hanya berkutat pada persoalan gender, melainkan pula juga pada pembahasannya seputar ras, kelas sosial, agama, dan interseksi lainnya antara identitas pribadi dan politik.

Mengangkat tema ‘Feminis Buatan Indonesia’, Tika mengatakan bahwa makna tema Feminist Festival 2019 diselenggarakan @jakartafeminist Instagram dan Twitter: @femfestid tahun ini datang dari pergerakan perempuan yang vokal sejak lama dan berupaya untuk terus dilanjutkan.

“Feminis Buatan Indonesia’ adalah kesempatan kami mendorong narasi bahwa kesetaraan gender dan hak perempuan sudah semenjak dulu, dan akan terus menjadi, isu Indonesia yang dibawakan oleh orang Indonesia. Indonesia punya sejarah pergerakan perempuan yang sangat kaya, yang memiliki semangat feminis meskipun tidak selalu dibingkai dengan istilah feminism,” ujar Skolastika Lupitawina.

FemFest 2019 akan menghadirkan rangkaian agenda acara berupa diskusi hingga penampilan lokakarya. Diskusi yang sekiranya akan dibagi beberapa sesi, yakni bertema perempuan dan budaya, identitas gender, interseksional, sekutu feminis, menjadi feminis di kampus, feminisme dalam politik, hingga feminisme dan hak pekerja.

Dalam diskusi, turut menghadirkan panel pembicara yang punya konsen dengan tema masing-masing diskusi, di antaranya akan hadir Andhyta F. Utami, Anis Hidayah, Anindya Restuviani, Dara Nasution, Dena Rachman, Hannah Al Rashid, Tara Basro, Maryam Lee, Ika Vantiani, Bhagavad Sambadha, Tunggal Pawestri, dan pembicara lainnya.

Jadwal lengkap FemFest 2019 dapat diakses melalui tautan: bit.ly/JadwalFemFest2019 Tiket FemFest 2019 dapat dibeli melalui tautan: bit.ly/TiketFemFest2019

Seorang teman menuliskan di media sosialnya tentang syarat: sehat jasmani dan rohani di sebuah lowongan pekerjaan. Bagi penyandang disabilitas, syarat harus sehat jasmani dan rohani ini telah menghambat mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal, semua orang dituntut untuk punya kemandirian ekonomi. Namun, jika persyaratan lowongan pekerjaan saja tidak memberikan ruang bagi disabilitas, bagaimana mereka bisa mandiri secara ekonomi?


*Aprelia Amanda- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Seorang teman yang disable netra juga mengeluhkan ini, jika ada perusahaan yang menerima disable pun, kebanyakan tidak mau menerima disable netra yang tidak bisa melihat. Disable netra sangat tersingkir dari pekerjaan yang diinginkannya.

Kriteria pekerja yang harus sehat jasmani dan rohani atau berpenampilan menarik sering menghambat para penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal semua persyaratan ini tidak digunakan dalam bekerja nanti.

Ni Komang Ayu Suriani, Founder dan CEO Difalink.com berbagi kisah bagaimana ia mendirikan Difalink, sebuah platform yang menghubungkan orang-orang disabilitas dengan pekerjaan.

Dua bulan lalu Difago berganti nama menjadi Difalink. Pergantian nama ini menggambarkan tujuan Difalink yang ingin menghubungkan dengan para penyandang disabilitas.

“Difalink itu singkatan dari difable terlink (terhubung). Menghubungkan dengan apa? Terhubung ke semua kesempatan kerja, ke employment, pendidikan, dan lain sebagainya”.

Berpusat di Bali, Difalink saat ini sudah bisa menjangkau sekitar 2.100 orang-orang disabilitas dari seluruh Indonesia. Walaupun masih didominasi oleh disabilitas di Jawa dan Bali, namun perluasannya sudah sangat lumayan.

Lewat online Difalink, maka dapat menjangkau orang-orang yang sulit dijangkau, seperti yang berlainan pulau. Difalink juga mempunyai layanan offline misalnya untuk perusahaan yang ingin merekrut penyandang disabilitas untuk menjadi pekerjanya.

“Jadi kita bisa dibilang berperan sebagai konsultan ya. Banyak perusahaan yang mau merekrut tapi masih bingung dan kuatir karena takut memakan banyak waktu dan tenaga. Disitulah Difalink masuk. Kami melilhat posisi pekerjaan mana yang kemungkinan dapat dkerjakan para user kami”, tuturnya.

Difalink juga membantu dalam memperbarui kemampuan para usernya, khususnya dalam bidang teknologi dan hospitality. Untuk program ini Difalink bekerjasama dengan ahli dan punya kurikulum untuk mengajarkannya.

Ni Komang juga menyoroti tentang kriteria yang sering dibuat perusahaan yang sebenarnya banyak menghambat para penyandang disabilitas, antaralain kriteria sehat, berpenampilan menarik yang menghambat para disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan.

“Misalnya ada perusahaan yang memberikan kriteria soal batas usia, atau prasyarat belum menikah, laki-laki atau perempuan, berpenampilan menarik. Nah itu semua untuk apa? bukankah dalam pekerjaan yang penting kita dapat bekerja? Jadi menurut saya ini pekerjaan rumah besar kita untuk duduk bersama menyelesaikannya. Dan saya juga punya harapan besar untuk Pak Nadiem sebagai menteri pendidikan, untuk mengkaji ulang kurikulum Sekolah Luar Biasa (SLB).”

Dayu Dara Permata juga turut berbagi kisah bagaimana ia membangun GoLife. GoLife adalah bagian dari perusahaan ojek online, GoJek. GoLife memberi layanan urban lifestyle dan home services. Saat ini sudah ada sekitar 200.000 penyedia layanan yang terdata, 6 persennya adalah orang-orang disable berarti sekitar 12.000. Tapi bagi Dayu itu belum cukup.

“12.000 itu hanya seperti a drop of water in the ocean. Itu tidak seberapa jika diandingkan seluruh kemampuan disable di Indonesia yang jumlahnya sangat signifikan, hampir 12 persen dari populasi Indonesia. Kami berharap dapat lebih banyak memberdayakan mereka”

Januari 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta pendiri Gojek, Nadiem Makarim mengajak Dayu, “Pak Nadiem berkata kepada saya, Dara GoJek ini ingin memberdayakan sektor jasa di sektor informal melalui teknologi dan desain yang ramah pengguna”

Saat itu Dayu melihat banyak peluang untuk memberdayakan orang-orang penyedia jasa di sektor informal. Sebagai penyuka pijat, Dara mengetahui bahwa teknik pijat didatangkan Kementerian Sosial ke Indonesia sekitar tahun 60an. Tujuannya untuk memberdayakan kaum disabilitas. Budaya pijat sangat kental di dalam masyarakat Indonesia. Ide berdirinya layanan GoMassage berangkat dari sini.

“Penting untuk memberdayakan kelompok disable, karena Indonesia tidak akan menjadi negara maju jika membiarkan 12% masyarakatnya tertinggal”

“Saya rasa kita tidak akan bisa bahagia dengan meninggalkan 12 persen ini dibelakang, karena manusia adalah makhluk sosial”, tabahnya.

Awalnya GoLife tidak spesifik untuk membidik kaum disabilitas, namun setelah sebulan berjalan Dayu bertemu salah satu disable, Pak Heru. Pak Heru adalah seorang tunanetra yang sehari-hari menjadi tukang pijat. Pak Heru dan teman-temannya datang ke kantor GoJek dengan saling berpegangan bahu.

Daya melihat dan mengobrol langsung dengan mereka. Pak Heru dan teman-temannya yang berprofesi sebagai tukang pijat merasa terancam dengan adanya layanan GoMassage karna kuatir akan mengganggu mata pencaharian mereka.

“Pak heru berkata kepada saya, nasib saya bagaimana, teman-teman kami sudah banyak yang berjualan kerupuk di lampu merah. Mereka merasa semakin termajinalkan, saya tidak akan bahagia kalau membiarkan mereka semua."

Akhirnya Pak Heru menjadi mitra GoLife dan ia merupakan mitra pertama GoLife yang merupakan penyandang disabilitas. Mereka sekarang menghasilkan penghasilan dua kali lipat Upah Minimum Regional atau UMR. Selain itu mereka sekarang juga jadi melek dengan teknologi.

Ni Komang Ayu Suriani dan Dayu Dara Permata adalah pembicara dalam Unite Education Sustainably 2019 di Jakarta, awal November 2019. Mereka berdua menjadi pemicara dalam konferensi yang bertema Peran Disabilitas untuk Mendorong Pembangunan Berkelanjutan.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Bekerja sebagai buruh pabrik, mempunyai 4 anak dan hidup tanpa suami, tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kota dimana saya hidup, menjadi tak terkendali. Saya seperti terbunuh dengan cita-cita saya yang besar di kota ini. Jakarta. Inilah kisah saya:

*Ariani- www.Konde.co

Badai dalam hidup saya terjadi ketika suami saya pergi kira-kira 7 tahun yang lalu untuk bekerja di luar kota. Saya tak pernah mengira bahwa ia tiba-tiba melupakan kami dan tak mengirimi kami uang lagi. Padahal sebelum pergi, ia berjanji akan mengirim uang untuk membayar kontrakan rumah dan melunasi hutang-hutang kami. Namun ini hanya dilakukannya selama beberapa bulan, setelah itu, ia melupakan kami.

Saat itu tiap hari saya hanya bisa berpikir, bisakah saya mengurus dan menyekolahkan anak tanpa suami?. Begitu banyak peristiwa yang harus saya alami dengan anak-anak yang masih sangat kecil.

Saya bekerja sebagai buruh pabrik serta melakukan apa saja yang bisa saya kerjakan untuk makan anak-anak. Bertahun-tahun saya menunggu kabar dari suami saya, tapi tidak kunjung datang. Sudah sering saya menghubungi handphone-nya, tapi dia selalu mengatakan jika ia sedang sakit. Selalu begitu.

Dari sana saya yakin jika ia sudah mempunyai pacar baru di kota itu. Hanya berpikir secepat itu dia menghianati saya yang di sini benar benar berjuang untuk kebutuhan anaknya yang harusnya juga menjadi tanggungannya.

Sakit hati dan setiap hari saya selalu ingin teriak dan berkata: Tuhan, ini sangat tidak adil untuk saya, di saat saya berjuang untuk anak-anak saya dan masih setia mengharap dia kembali malah dia berhubungan dengan perempuan lain.

Sudah bisa diduga, setelah itu suami saya menghubungi saya lagi untuk meminta izin menikah dengan perempuan di kota itu. Ia sempat meminta maaf bahwa ia melakukan ini karena terdesak melakukannya.

Teriakan saya untuk mencegah dia menikah demi anak-anakpun tak lagi didengarnya. Saat itulah saya merasa benar-benar merasa bodoh dan sendiri. Setiap sebelum tidur saya selalu melihat anak-anak saya yang pulas, walau di hati saya yang lain saya selalu merasa tidak adil mengapa ayahnya bisa pergi begitu saja tanpa ingat anak-anaknya?

Tak mudah hidup di kota ini. Apalagi pekerjaan saya sebagai buruh pabrik dengan gaji pas-pasan.Tak cukup dengan gaji itu hidup di kota seperti Jakarta. Keluargalah yang menolong saya. Di hari libur kemudian berjualan makanan dibantu keluarga.Seperti inilah hidup saya di masa-masa selanjutnya.

Namun kejadian buruk itu ternyata terulang kembali. Kejadian yang membuat saya semakin menangisi nasib saya. 3 tahun setelah suami saya menikah, tanpa sengaja saya bertemu dia di Jakarta lagi. Pertemuan ini tanpa sepengetahuan anak dan keluarga saya, karena sebelumnya dia bilang hanya sebentar ke Jakarta ada urusan dan ingin bertemu.

Singkat cerita saya bertemu dan meminta surat cerai, tapi dia menolak dengan alasan suatu saat akan kembali ke Jakarta dan kalau boleh akan berkumpul kembali dengan kami.

Entah kenapa saya tidak bisa marah ketika bertemu dengannya, dan malah sebaliknya saya malah pasrah ketika ia mulai merayu saya. Karena terlalu sayang dan terbuai dengan kata manisnya, saya beberapakali bertemu dia lagi. Dan dari pertemuan itu kami melakukan hubungan seksual dan saya hamil lagi. Saya seolah tidak pernah bisa mengerti mengapa saya selemah ini?

Saya sangat malu menyadari ketika saya hami. Tapi semua sudah terlambat. Apa kata keluarga, kata teman-teman saya yang selama ini sudah mendukung saya, bertemu beberapakali saja dengan suami yang berulangkali menyakiti, saya bisa hamil lagi.

Akhirnya jujur dengan berat hati dan banyak beban di pikiran saya, saya harus terima kenyataan, saya harus terima dengan kehamilan ini dengan rasa kecewa.

Setelah beberapa bulan kehamilan saya, suami saya tak kunjung menghubungi saya. Malah saya tahu dari sosial media suami ternyata dia sudah punya 2 anak kecil, disitu pula aku berpikir pupus sudah harapan bersatu dengannya kembali.

Karena saya tidak akan tega dengan anak-anaknya yang disana yang juga membutuhkan seorang ayah. Jadi saya tetapkan hati, bagaimanapun saya tidak akan kembali dengan suami karena dia juga sudah punya anak.

Saya merasakan bahwa hidup yang saya jalani sangat tidak adil. Saya sudah bekerja keras, bertanggungjawab pada keluarga, namun mendapat pasangan yang selalu menyakiti. Walapun keluarga besar sangat marah tapi saya terima semuanya karena itu memang saya salah. Saat itu saya hanya memikirkan bagaimana nanti saat saya melahirkan ? Siapa yang akan mengurus semuanya dan mendukung saya?

Saya masih ingat, dulu ketika pertamakali saya meninggalkan kampung, saya punya banyak cita-cita di kota ini. Kota yang akan menjadi perjuangan saya kala itu. Dengan suami yang mencintai saya, maka semua problem hidup bisa kami atasi bersama-sama, begitu cita-cita kami kala itu. Tapi, Jakarta kemudian menjadi kota perjuangan saya yang lain, kota yang mengharuskan saya hidup untuk 4 anak saya.

Menemukan Laki-Laki Baru


Kira-kira sebulan sebelum melahirkan, saya kemudian dikenalkan dengan laki-laki baru. Laki-laki ini adalah teman dari teman saya. Sampai waktu saya melahirkan laki-laki inilah yang menemani saya dan ternyata dia yang mengurus saya dan anak saya.

Mengenal dia baru beberapa bulan tapi dia sudah mau direpotkan seperti itu. Padahal jujur saja hati saya masih kecewa dengan laki laki, dan berpikir semua sama. Walau sampai saat ini hubungan kami masih tetap terjaga walaupun banyak rintangan yang juga harus kami temui.

Saya pun sudah mengenal keluarganya dan dia juga. Kami belum meresmikan hubungan kami, karena saya masih ada rasa trauma dan takut akan kegagalan dalam rumah tangga. Saya juga masih harus sibuk dengan urusan anak. jadi saya masih menomorsatukan anak daripada kepentingan pribadi.

Dengan cerita ini bukan saya ingin dikasihani dan mengeluh tentang hidup, tapi supaya kita tahu diluar sana banyak orang yang mungkin mengalami masalah yang kita tidak pernah tahu.

Sayang saya buat semua anak-anak saya dan maafkan ibumu ini yang belum bisa menjadi ibu yang terbaik, yang belum bisa memberi sosok ayah untuk kalian, dan karena keadaan, kalian sudah mandiri sejak kecil.

Cerita ini kutulis untuk kamu, anak-anakku. Ada banyak perempuaan yang mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya, dan ibumu adalah salah satunya, anakku.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Ariani (bukan nama sebenarnya),
bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta.

www.Konde.co bersama Feminist Festival 2019, bekerjasama dalam kampanye "Kami Ingin Kamu Tahu" sebagai medium untuk menghapus stigma masyarakat mengenai identitas seseorang terutama bagi teman-teman dari kaum marjinal. Kampanye ini juga bertujuan untuk mengapresiasi keberagaman dan memberi suara bagi mereka yang selama ini pengalamannya kurang terungkap. Tulisan yang akan dipublikasikan hingga akhir November 2019 ini merupakan salah satu bagian dari kampanye tersebut. Feminist Festival 2019 akan dilaksanakan pada 23-24 November 2019, di Wisma PKBI, Kebayoran Baru, Jakarta. Ikuti sosial media @femfestid untuk informasi lebih lanjut.

Rita Hester adalah seorang transwoman atau waria yang ditemukan terbunuh di apartemennya. Kematiannya tak pernah lepas dari sejarah hari The Transgender Day of Remembrance (TDoR) yang diperingati setiap tanggal 20 November, yang kemudian dikenal sebagai Hari Peringatan Transgender sedunia. Tanggal 20 November diperingati setiap tahun untuk mengenang para transgender yang telah dibunuh akibat transphobia di seluruh dunia.


Poedjiati Tan- www.konde.co

Rita Hester adalah seorang transwoman atau waria yang ditemukan terbunuh di apartemennya. Tetangganya menemukannya terbunuh dengan dua puluh tusukan. Setelah beberapa tahun kematiannya berlalu, penyebab kematiannya dan pembunuhnya tidak pernah diungkap. Peristiwa kematian Rita Hester terjadi di Allston, Massachuset.

TDoR mulai diperingati pada tahun 1998, dengan diprakarsai oleh Gwendolyn Ann Smith yang merupakan seorang transgender yang berprofesi sebagai design grafis sekaligus seorang aktivis. TDoR ini diprakarsainya untuk mengenang kematian Rita Hezter.

Sejak dilaksanakannya TDoR ditahun itu, TDoR kemudian diperingati setiap tahunnya pada 20 November. Melalui pesan ini telah disampaikan dari satu tempat ke tempat lain sebagai lambang solidaritas terhadap pengabaian-pengabaian kasus kekerasan yang terjadi pada komunitas transgender.

Banyak kasus kekerasan yang melibatkan transgender tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Lebih banyak kasus tidak diselesaikan karena dianggap tidak signifikan, dengan alasan ketidak lengkapan bukti dan lain sebagainya. Penyebaran melalui web-project ini telah menghasilkan solidaritas yang luar biasa, pada tahun 2010 terdapat 185 kota dalam 20 negara melakukan peringatan TDoR ini.

Peringatan ini juga mengukuhkan masih banyaknya perbuatan transphobia di Indonesia baik yang dilakukan oleh masyarakat ataupun aparat negara. Kekerasan terhadap LGBT di Indonesia akhir-akhir ini makin meningkat khususnya terhadap waria. Visibilitas waria memang jelas terlihat dibandingkan gay dan lesbian. Aparat sebagai perwakilan negara tidak memberikan perlindungan bahkan melakukan kekerasan terhadap waria.

Sudah banyak laporan yang dibuat oleh organisasi-organisasi LGBTI maupun organiasi HAM tentang keadaan dan situasi LGBTI di Indonesia. Sudah banyak rekomendasi yang diajukan, salah satu Rekomendasi yang dipublikasikan dalam Laporan LGBT Nasional Indonesia - Hidup Sebagai LGBT di Asia yang diluncurkan oleh UNDP pada 10 Desember 2012. Rekomendasi yang ditujukan untuk Pemerintahan Republik Indonesia adalah : Mengakui secara resmi keberadaan kelompok LGBT yang memiliki beragam orientasi seksual dan identitas gender sebagai bagian integral dalam masyarakat Indonesia, disamping juga menghargai dan melindungi hak asasi manusia kelompok LGBT yang setara dengan warga Indonesia lainnya, baik di tingkat nasional maupun internasional melalui mekanisme HAM yang sudah ada.

Rekomendasi ini ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Luar Negeri, Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komnas Perlindungan Anak, Perwakilan Indonesia pada Komisi Hak Asasi Manusia Antar Pemerintah ASEAN (AICHR), Perwakilan Indonesia pada Komisi ASEAN tentang Pemajuan dan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak-Anak (ACWC) dan Perwakilan Indonesia pada Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHRC).

Lembaga-lembaga dan para individu ini perlu mengembangkan mekanisme nasional untuk memajukan hak asasi manusia kelompok LGBT di Indonesia dan menyertakan permasalahan LGBT dan orientasi seksual serta identitas gender ke dalam Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN HAM), Rencana Nasional Komnas HAM termasuk Komnas Perempuan dan Komnas Perlindungan Anak, State Accountability Report (Laporan Pertanggungjawaban Negara) dalam rangka mekanisme hak asasi manusia PBB (antara lain UPR, ICCPR, ECOSOC dan CEDAW) serta mekanisme hak asasi manusia ASEAN (termasuk AHRD), di samping juga memajukan Prinsip-Prinsip Yogyakarta. Semuanya itu harus dilakukan dengan keterlibatan aktif kelompok LGBT.

Diskriminasi, kekerasan, Homophobia dan Transphobia pada LGBT di Indonesia masih terus berlangsung. Bahkan terjadi pembiaran kekerasan oleh negara yang dilakukan kelompok-kelompok tertentu terhadap teman-teman LGBT. Saya berharap pemerintah tidak lagi menutup mata, telinga untuk isu-isu SOGIEB dan tidak menggunakan isu LGBT untuk kepentingan politik dan mendulang suara. Pemerintah harus menindak orang-orang yang melakukan kekerasan terhadap LGBT dan mendidik aparat untuk tidak melakukan diskriminasi dan kekerasan terhadap LGBT.

“Apakah setelah memenangkan medali emas Olimpiade, lalu ada tanda SBKRI di belakang baju saya. Tidak khan? Hanya ada tulisan Indonesia!"

*Alfa Gumilang- www.Konde.co

Pernyataan keras itu muncul dari mulut perempuan yang merupakan legenda bulutangkis dunia asal Indonesia, Susi Susanti. Pernyataan yang sebenarnya memang dia ucapkan sebagai respon kekecewaannya atas perlakuan pemerintah padanya.

Perlakuan negara pada sosok perempuan yang pertama kali berjasa mengumandangkan lagu Indonesia Raya di Olimpiade Barcelona 1992, namun begitu sulitnya untuk mendapatkan pengakuan identitas Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) sebagai orang Indonesia.

Isu tentang identitas ini menjadi satu narasi tersendiri dalam film biopic karya Sim F yang untuk kali pertama ia menyutradara film panjang. Porsi cerita tentang masalah yang dialami oleh Susi Susanti, dan dua pelatihnya Liang Qiuxia dan Pak Tong cukup besar. Memberikan pengetahuan baru pada penonton, bahwa di balik medali emas itu ada cerita yang tak sedap menimpa Susi, kedua pelatihnya, atau juga secara umum warga etnis Tionghoa pada masa Orde Baru.

Susi awalnya terlihat optimis, ia merasa bahwa jasa yang telah ia berikan akan mempemudah baginya untuk mendapatkan pengurusan dokumen-dokumen diri. Begitu pula kedua pelatihnya. Namun ternyata itu tak memiliki pengaruh apapun. Sekalipun torehan emas untuk negeri, ia tetaplah warga keturunan Tionghoa yang tetap akan dipersulit untuk urusan identitas diri.

Susi baru mendapatkan SBKRI untuk mengurus perizinan pernikahannya dengan Alan Budikusuma setelah ia bercerita pada media tentang apa yang ia alami, dan kasusnya diketahui banyak orang.

Dan sekali lagi, hak yang akhirnya didapat Susi bukanlah muncul karena kewajiban pemerintah Indonesia memberikan pada semua warganya tanpa kecuali, namun dari perjuangan Susi dalam mengadvokasi dirinya untuk mendapatkan haknya.

Cerita menarik dari film ini tentu tak akan sempurna jika saja visual film juga tak terlihat baik. Sejak awal menonton saya menikmati shoot-shoot gambar di film ini, begitu juga dengan artistiknya. Pakaian, dekorasi rumah, mobil-mobil tua, dll, serasa membawa kita pada era 90an.

Adalah Yunus Pasolang sebagai Director of Photography dan Frans Paat sebagai Art Director yang saya rasa berhasil membawa mata kita pada visual-visual yang tak janggal.

Ketika menerima undangan untuk menonton premiere film Susi Susanti: Love All, saya hanya mengira bahwa ini hanya sebuah film biopic biasa saja, menampilkan bagaimana proses dan perjuangan Susi Susanti hingga akhirnya mendapatkan medali emas dengan bumbu romantis dengan Alan Budikusuma. Lalu adegan dia menerima kalungan medali akan menjadi akhir dari cerita film itu dibalut dengan visual dramatis.

Ekspektasi saya tak tinggi kala itu, namun ternyata film ini memberikan cerita baru yang dahulu tak pernah saya tahu.

Yang saya tahu, semata Susi Susanti memberikan emas olimpade pertama bagi Indonesia, dan dirayakan oleh banyak orang. Sehingga ketika dihadirkan isu tentang Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI), film biopic ini menjadi terasa berbeda. Terlebih peristiwa tersebut bukanlah fiksi, pernah menjadi satu catatan sejarah kelam negeri ini perihal perlakuan negara para warga keturunan Tionghoa.

Film biopic ini akhirnya menjadi tak biasa, balutan isu diskriminasi rasial dalam film yang mendapatkan porsi cukup banyak, bukan hanya tempelan belaka, namun menjadi pembedanya.

Film ini juga mengingatkan saya pada film Invictus (2009) yang dibintangi oleh Matt Damon, dan dibesut oleh sutradara Clint Eastwood. Memang tak sama persis kasus diskriminasi rasialnya, namun keduanya adalah film tentang olahraga yang di dalamnya berkelindan isu rasial.

Sejarah negeri ini memang tak pernah bisa lepas dari sejarah tentang perlakuan diskriminatif negara pada warga keturunan Tionghoa. Film Susi Susanti hanya mengambil sedikit dari bentuk diskriminasi yang dialami.

SKBRI sendiri merupakan kebijakan yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Orde Lama, melalui UU. No 62 tahun 1958 mengenai Kewarganegaraan Republik Indonesia. Kebijakan itu muncul setelah ada pernjajian antara pemerintah Indonesia dan Tiongkok perihal perbedaan asas kewarganegaraan yang dianut oleh kedua negara.

Lalu pada saat Orde Baru berkuasa, pernjanjian tersebut kemudian dibatalkan. Warga Tionghoa yang memiliki dokumen dua kewarganegaraan dinyatakan sebagai stateless, atau tidak memiliki kewarganegaraan. Selanjutnya pada tahun 1978, Menteri Kehakiman mewajibkan SKBRI bagi warga keturunan Tionghoa.

SKBRI sudah tak ada lagi pascareformasi, namun isu rasial yang terlihat di film ini sepertinya masih cukup relevan untuk menjadi refleksi bagi kita hari ini.

Menyaksikan film ini bukan sekadar memberikan kita satu hiburan atau romantisme awal masa kejayaan bulutangkis Indonesia. Namun juga sedikit banyak memberikan satu pengetahuan yang cukup penting tentang sejarah negeri ini, sekalipun sejarah itu kelam adanya.

(Foto: jadwalnonton.com)

*Alfa Gumilang, penulis dan publishis film di Amygdala Publicist

Lahir di Bantul Yogyakarta pada 34 tahun lalu, Nanik Indarti merupakan perempuan bertubuh mini pejuang penyandang achondroplasia. Lulusan sarjana Seni Teater ISI Yogyakarta ini sejak tahun 2018 fokus mengajak teman-temannya yang bertubuh mini untuk berdaya lewat berkarya seni. Mendirikan sebuah komunitas Unique Project Teater, sebuah komunitas unik yang terdiri dari perkumpulan orang-orang bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki beragam profesi dan berasal dari berbagai kota di Indonesia. Ini adalah tulisan dan pengalaman, perjuangan Nanik Indarti:

Nanik Indarti- www.Konde.co

Menjadi seorang perempuan bertubuh mini memang tak semudah dengan orang lain yang bertubuh tinggi. Memiliki tubuh tinggi sepertinya menjadi impian bagi semua orang. Mau bekerja apa saja bisa.

Sedangkan saya sebaliknya. Sebagai perempuan bertubuh mini, saya mengalami banyak hambatan dalam mendapatkan pekerjaan. Karena syarat utama lowongan pekerjaan sering harus menyertakan tinggi badan yang sesuai dengan syarat yang berlaku.

Bahkan setiap membaca syarat lowongan kerja, saya sudah enggan untuk membacanya. Karena tak satupun yang sesuai dengan kriteria yang saya miliki. Alhasil saya tidak punya pekerjaan, tergusur dari hak bekerja yang seharusnya dimiliki oleh semua orang.

Saat aku mahasiswa, saat itu, aku mendapatkan pekerjaan secara freelance sebagai pengisi suara sebuah film animasi yang diproduksi oleh salah satu perusahaan di Jakarta. Aku sangat menyenangi profesi menjadi pengisi suara. Aku merasa suaraku unik seperti anak-anak.

Karena suaraku karakternya seperti suara anak-anak, maka aku terpilih untuk terlibat. Sebagian besar pengisi suara adalah anak-anak, usia 7-13 tahun. Take suara hari pertama, aku meminta perjanjian kerja, tapi mereka tidak memberikannya.

Aku sudah punya feeling bahwa ini sepertinya akan menjadi sesuatu yang tidak sehat. Kebenaran pikiranku itu terjadi sampai hari ke 7, aku tidak meerima perjanjian kerja. Mereka membayarku sangat tidak profesional, yaitu 25 ribu per-episode/ cerita. Cerita yang diproduksi ada sekitar 30 cerita/episode.

Ukuran tubuh yang sama, sama seperti anak-anak, upah yang diterima pun sama. Kecil.

Aku menerima bayaran yang tak profesional. Bayaranku kecil, mereka menganggap bayaranku seukuran dengan tubuhku yang kecil. Aku dimanfaatkan! Aku pun berusaha protes tapi mereka tidak memberikan tanggapan yang baik. Upah yang kuterima sangat tidak manusiawi, dan aku dimanfaatkan (eksploitasi), upah yang diterima sama kecilnya dengan tubuhku yang kecil.

Sejak kejadian itu aku enggan berhubungan dengan industri hiburan.

Aku tidak menyukainya. Perlakuan orang-orang industri hiburan yang semena-mena terhadap orang-orang yang bertubuh mini sepertiku. Orang-orang sepertiku hanya dijadikan produk eksploitasi sebagai bahan lucu-lucuan untuk menghibur.

Dulu, menjadi seorang artis terkenal adalah cita-citaku dulu. Aku suka melihat akting di televisi. Aku pun pernah membayangkan masuk televisi dan ditonton oleh banyak orang. Semua yang kubayangkan terlihat indah.

Namun setelah aku mendapatkan pengalaman yang kurang baik di dunia hiburan, bagiku sudah cukup membuktikan bahwa eksploitasi terhadap orang-orang bertubuh mini tak pernah berhenti.

Sekarang aku mulai menyadari bahwa dunia hiburan tidak membuatku nyaman. Aku tidak ingin terkenal karena tubuhku. Aku ingin dikenal karena prestasiku, bukan tubuhku.

Tahun demi tahun aku bekerja keras bagaimana orang tidak memandang sebelah mata pada tubuh mungilku, aku ingin membuat orang lain menghargai dari karya-karyaku.

Di tahun 2018 aku lalu memfokuskan diri untuk melakukan pemberdayaan terhadap penyandang achondroplasia dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu karya tulis berjudul “Aku Perempuan Unik” merupakan catatan inspiratif para perempuan penyandang achondroplasia yang berhasil mengolah keterbatasan diri secara positif. Bagi saya pemberdayaan melalui seni teater menjadi cara yang pas untuk membicarakan persoalan-persoalan diri maupun hambatan-hambatan yang banyak dialami seperti stigma, bullying, diskriminasi, eksploitasi dll.

“Aku Perempuan Unik”, merupakan buku karya perdana yang digagas olehku dan dikerjakan bersama teman-temanku lain yang bertubuh mini. Buku ini merupakan catatan inspiratif para perempuan bertubuh mini penyandang achondroplasia yang memiliki berbagai profesi seperti dosen, guru, penari, ibu rumah tangga dan pekerja seni. Mereka telah mampu mengolah diri dengan cara positif. Buku ini diharapkan mampu memberikan motivasi bagi para tubuh mini di seluruh Indonesia yang masih minder, tidak percaya diri, untuk bangkit melawan diskriminasi.

Selain itu buku ini diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap penyandang achondroplasia bahwa mereka punya kesempatan hidup yang sama di masyarakat.

Tahun 2018 aku juga menerima Hibah Cipta Media Ekspresi, hibah seni budaya untuk perempuan, dari Wikimedia Indonesia.

Dan baru-baru ini di Tahun 2019, aku terpilih sebagai pemenang salah satu pembicara dalam pelaksanaan Indonesia Development Forum atau IDF 2019 yang diselenggarakan oleh Bappenas RI dan Kedubes Australia.

Pada 6 November 2019, saya kemudian menginisiasi pementasan teater teman-teman bertubuh mini di Jogja berjudul “Kahanan.” Teater ini bercerita tentang kondisi kehidupan orang-orang bertubuh mini.

Semoga banyak orang menghargai karyaku, tubuhku, juga memberiku penghargaan yang layak, gaji yang layak atas karya-karyaku.

(Foto: Facebook Nanik Indarti)

www.Konde.co bersama Feminist Festival 2019, bekerjasama dalam kampanye "Kami Ingin Kamu Tahu" sebagai medium untuk menghapus stigma masyarakat mengenai identitas seseorang terutama bagi teman-teman dari kaum marjinal. Kampanye ini juga bertujuan untuk mengapresiasi keberagaman dan memberi suara bagi mereka yang selama ini pengalamannya kurang terungkap. Tulisan yang akan dipublikasikan hingga akhir November 2019 ini merupakan salah satu bagian dari kampanye tersebut. Feminist Festival 2019 akan dilaksanakan pada 23-24 November 2019, di Wisma PKBI, Kebayoran Baru, Jakarta. Ikuti sosial media @femfestid untuk informasi lebih lanjut.

Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Dodo, mantan pekerja media televisi di Jakarta, sudah sejak dulu ingin banyak berada di rumah.

Dodo melihat, jika ia dan istrinya selalu bekerja tiap hari dan dalam jarak yang cukup jauh dari rumahnya, yaitu Depok- Jakarta Barat yang harus ditempuhnya dalam 5 jam perjalanan pulang-pergi setiap hari, maka mereka akan kehilangan kesempatan dekat dengan anak-anaknya.

Lalu jika seperti ini terus, siapa yang akan menjaga 3 anak mereka yang masih kecil-kecil? Apakah akan terus begini sampai anak-anak mereka dewasa?

Berangkat subuh dan sampai di rumah jam 7 malam setiap harinya, Dodo seringkali merasa capek dan ingin langsung tidur ketika sampai rumah. Namun ia tidak tega melihat istrinya yang berbarengan sampai rumah, namun masih harus menemani anak anak mereka belajar sampai mereka tidur.

Hal inilah yang diutarakan Dodo pada istrinya, Suci Haryati ketika ia ingin keluar dari pekerjaan dan menghandle semua pekerjaan rumah tangga sambil menjaga anak anak mereka. Sucipun menyetujuinya karena Suci melihat anak anak mereka sangat nyaman dengan ayahnya, prestasi anak anak juga lebih bagus jika ditemani Dodo belajar.

“Anak-anak juga prestasinya lebih baik dalam pelajaran ketika saya temani,” kata Dodo.

Maka ketika sejak setahun lalu Suci mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke luar negeri, Suci tak pernah kuatir karena Dodo sudah mengambil alih peran sebagai ayah rumah tangga di rumah. Sesekali Dodo juga bisa menerima pekerjaan part time yang bisa dikerjakannya di rumah sambil menjaga anak-anak.

Hal ini diungkapkan Widodo Sugiman dalam diskusi Bangga Menjadi Bapak Rumah Tangga yang dilakukan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) di Jakarta, Jumat 15 November 2019 dalam rangka memperingati hari ayah nasional. Hari ayah nasional diperingati setiap 12 November.

Diskusi ini dilakukan untuk mengupas bahwa tidak tabu jika laki laki menjadi bapak rumah tangga atau bekerja di rumah. Karena selama ini banyak anggapan yang dimunculkan, bahwa pekerjaan rumah adalah urusan perempuan, sedangkan pekerjaan publik menjadi urusan laki laki.

Stigma juga masih disematkan pada bapak rumah tangga atau laki-laki yang mengurus rumah, yaitu dianggap sebagai orang yang tak bisa mengurus ekonomi keluarga, tak bisa menjadi kepala rumah tangga, tak bertanggungjawab sama anak dan istrinya, tak berpenghasilan. Mungkin ini menjadi salah satu penyebab mengapa laki-laki kemudian malu atau sungkan jika mengerjakan pekerjaan di rumah.

Faktor lainnya karena tidak terbiasa, walaupun ada faktor lain seperti terlalu malas karena merasa lelah sudah bekerja di luar. Sedangkan perempuan tak boleh mengenal malu, capek atau sungkan. Semua dikerjakannya sesampai di rumah.

Dodo menyatakan tidak mengalami stigma ini. Sebagai anak bungsu di rumahnya, sejak kecil orangtuanya selalu membebaskan pilihannya. Jadi jika ada yang mengatakan soal tabu pada laki-laki yang harus mengurus rumah tangga, ia tidak pedulikan karena dari dulu Dodo sudah tahu konsekuensinya.

Di sekolah anaknya rutinitas Dodo setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Dodo juga punya kebiasaan untuk mengobrol dengan para ibu yang mengantar anaknya di gerbang sekolah.

"Saya punya kebiasaan sama dengan para ibu yang lain, yang setelah mengantar anaknya, tidak langsung pulang, tapi ngobrol dulu. Saya memang laki- laki satunya disitu, tidak masalah karena saya merasa nyaman satu sama lain dalam ngobrol dan berteman,” kata Dodo bersemangat.

Pernyataan Dodo ini mendapatkan apresiasi dari para pekerja perempuan yang hadir dalam diskusi.

Selain Dodo, ada Geraldo Oryza, laki-laki yang juga memilih menjadi bapak rumah tangga untuk mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Geraldo menikah dalam usia muda yaitu ketika ia dan istrinya sama-sama masih kuliah. Ia mengaku mengalami strees berat ketika punya anak di usia yang masih muda. Ia tak tahu bagaimana cara menggendong bayi, memandikan anak. Ia juga sering stress mendengar anaknya menangis. Namun semua dikerjakannya karena ia melihat istrinya yang juga masih kuliah dan kerepotan membagi waktu seperti dirinya.

Kemudian dari sana ia belajar bagaimana cara menjadi suami yang baik bagi istrinya sekaligus menjadi ayah yang baik bagi anaknya. Hingga sekarang, anaknya sudah 3 dan ia memang memilih menjadi bapak rumah tangga agar istrinya bisa bekerja di luar rumah.

“Saya sering ditanya mengapa mau menjadi bapak rumah tangga? Saya cuek saja dan saya jawab bahwa kami memang mau seperti ini,” kata Geraldo.

Geraldo kemudian juga bergabung dalam Komunitas Bapak Rangkul. Komunitas Bapak Rangkul merupakan komunitas yang isinya semua laki-laki yang ingin belajar untuk menjadi ayah yang baik.

“Di komunitas ini kami belajar banyak hal, yaitu agar tidak stress mengurus rumah tangga dan menghandle anak, bagaimana menciptakan rasa aman pada anak karena biasanya anak kecil lebih dekat sama ibunya, juga bagaimana menghargai pasangan.”

Intinya komunitas ini dilakukan salah satunya untuk mencegah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Di komunitas yang didirikan oleh Najeela Shihab ini mereka seperti diberikan kuliah 6 jam selama 3 kali pertemuan.

“Komunitas ini didirikan ketika ada kebutuhan laki-laki yang mengaku siap menjadi bapak rumah tangga, namun ternyata tidak siap. Mental mereka terganggu karena setelah anak lahir, biasanya laki-laki stress memikiran finansial rumah tangga, anak menangis tiap malam yang membuat stress,” kata Geraldo.

Baik Widodo dan Geraldo menyatakan bahwa menjadi bapak rumah tangga bukanlah sesuatu yang tabu untuk dilakukan. Yang paling penting kuncinya adalah komitmen, dan yang kedua komunikasi antar pasangan. Jika komitmennya kuat dan komunikasinya baik, maka pembagian kerjanya bisa saling dibagi dan diatur.

Widodo dan Geraldo juga sering mengambil pekerjaan part time alias paruh waktu. Mereka tinggal mengatakan pada istrinya jika mereka harus pergi keluar di hari itu, maka mereka bisa meminta tolong orangtua mereka untuk menjaga anak-anaknya untuk sementara. Orangtua atau pekerja rumah tangga selalu menjadi support system yang baik di rumah mereka.

Acara seperti ini bisa memberikan alternatif berpikir bagi para peserta diskusi bahwa pekerjaan rumah seharusnya dikerjakan oleh semua yang berada di rumah, bukan melulu oleh perempuan atau istri yang mengerjakan semuanya.

Karena rumah tangga dibesarkan oleh komitmen berdua, maka semua konsekuensi harus diambil alih semua pasangan.