Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Aktor Nicholas Saputra diumumkan sebagai duta nasional Indonesia oleh badan PBB untuk anak-anak UNICEF. Pengumuman dilakukan 11 November 2019, hanya beberapa hari sebelum peringatan ke-30 tahun Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Anak.

Selain sebagai aktor, Nicholas selama ini banyak berkiprah pada aktivitas lingkungan. Nicho, seperti tertulis dalam laman website unicef.org, akan berusaha memperjuangkan hak-hak anak dan mengangkat suara terhadap berbagai isu yang dihadapi kaum muda Indonesia.

“Saya merasa terhormat diberikan kepercayaan sebagai Duta UNICEF di Indonesia. Saya terpanggil menjadi aktivis karena saya peduli akan masa depan bangsa Indonesia. Saya percaya, bahwa untuk menciptakan dunia yang lebih baik untuk anak, kita harus mulai dengan memastikan agar hak setiap anak Indonesia terpenuhi,” tambahnya.

Menyoroti situasi dan permasalahan yang dialami anak di seluruh dunia. para figur publik seperti Nicholas akan menggunakan bakatnya untuk membela hak-hak anak dan mendukung misi UNICEF untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya terhadap kesehatan, pendidikan, kesetaraan, dan perlindungan.

Nico selama ini tak hanya dikenal sebagai aktor, tetapi juga produser, sutradara, dan model di Indonesia. Nico sudah masuk ke dalam industri ini sejak tahun 2002, dan selama masa kariernya, Nico sudah berhasil masuk nominasi dan bahkan memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik dalam beberapa ajang penghargaan film, baik dalam level nasional maupun regional. Beberapa filmnya juga sempat ditayangkan dalam Festival Film Cannes, dan Nico juga dikenal selektif dalam memilih proyek film/ program/ acara.

Menurut Debora Comini, Perwakilan UNICEF Indonesia, Nico punya komitmen kuat terhadap isu-isu sosial dan keinginan untuk menciptakan perubahan. Debora yakin kehadirannya akan bantu memperkuat kerja-kerja advokasi UNICEF untuk hak-hak anak.

Di bulan Desember 2019 nanti, UNICEF bersama Nicholas Saputra akan mulai bekerja untuk meningkatkan kesadaran mengenai kebutuhan memperbaiki mutu layanan air dan sanitasi serta praktik kebersihan dasar. Setiap tahun, sekitar 150.000 anak Indonesia meninggal karena penyakit yang dapat dicegah. Penyebabnya adalah kualitas rendah sanitasi yang mengancam kesehatan dan perkembangan anak.

“Saya belajar banyak mengenai pentingnya sanitasi saat berkunjung ke Nusa Tenggara Timur untuk melihat kerja-kerja UNICEF di sana. Pengalaman itu membuka mata saya dan membuat saya ingin turut melakukan sesuatu karena setiap anak berhak untuk hidup di lingkungan yang aman dan bersih.”

Nicholas Saputra akan bergabung dengan aktor Ferry Salim yang telah menjadi Duta Nasional UNICEF di Indonesia sejak tahun 2004. Melalui peran baru ini, sang aktor, yang juga akrab disapa Nico, akan memperjuangkan hak-hak anak dan angkat suara terhadap berbagai isu yang dihadapi kaum muda Indonesia.

(Foto: Unicef.org)


Poedjiati Tan- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Festival Film Dokumenter (FFD), sebuah festival film dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang berfokus pada pengembangan dokumenter sebagai medium ekspresi dan ekosistem pengetahuan, kembali digelar pada 1-7 Desember 2019.

Sejumlah film yang menceritakan tentang kehidupan para perempuan masuk dalam nominasi berbagai kategori festival. Film-film tersebut antaralain Film “Perempuan Tana Humba” karya Lasja Susatyo, “Tonotwiyat atau Hutan Perempuan” karya Yulika Anastasia Indrawati, “Silvia” karya Maria Silvia Esteve.

Film “More than Work” yang bercerita tentang potret buram tubuh perempuan di media karya Luviana dan diproduksi Konde Production didukung www.konde.co yang mendapatkan dana hibah Cipta Media Ekspresi dari Ford Foundation dan Wikimedia juga masuk dalam nominasi kategori film dokumenter pendek festival.

Hutan Perempuan berkisah tentang perempuan-perempuan Enggros yang mempertahakan tradisi mencari nafkah dalam mengandalkan kekayaan alam dari hutan perempuan, dimana kawasan ini terlarang untuk laki-laki. Sedangkan Perempuan Tana Humba bercerita tentang nilai tukar perempuan yang dikenal dengan belis. Film bercerita tentang pusaran modernitas dan adat bagi perempuan.

Di tahun 2019, FFD menerima 286 film yang kemudian diseleksi hingga terpilih 26 film yang masuk dalam nominasi film dokumenter. Film dokumenter tersebut dibagi dalam 4 kategori yaitu kategori film dokumenter panjang Indonesia, film dokumenter panjang internasional, film dokumenter pendek dan kategori film dokumenter pelajar.

Beberapa film yang masuk nominasi penghargaan antaralain:

A. Kategori Film Pelajar
1. Tambang Pasir (Sekar Ayu Kinanti)
2. Pasur atau Pasar Sepur (Sarah Salsabila)
3. Orang-Orang Tionghoa (Icha Feby)
4. Seandainya (Diva Suki Larasati)
5. Bangkit (Farchany Nashrulloh)
6. Ngalih Pejalai Antu- Ritual Dayak Iban (Kynan Tegar)

B. Kategori Film Pendek
1. More than Work (Luviana)
2. Luar Biasa (Erika Dyah)
3. Irama Betawi (Ibrahim Hanif)
4. Perempuan Tana Humba (Lasja F. Susatyo)
5. Sujud (Pahlawan Bimantara)
6. Diary of Cattle (Lidia Afrilita, David Darmadi)
7. A Dauhther’s Memory (Kartika Pratiwi)
8. Cipto Rupo (Catur Panggih Raharjo)

C. Kategori Film Kompetisi Panjang Indonesia
1. Tonotwiyat/ Hutan Perempuan (Yulika Anastasia Indrawati)
2. Om Pius,”Ini Rumah Saya, Come the Sleeping.” (Halaman Papua)
3. Kodok Rabi Peri (Bani Nasution)
4. 240BPM++ (Bagas Oktariyan Ananta)

D. Kategori Film Panjang Internasional
1. My Lone Father (Clement Schneider)
2. A Donkey Called Geronimo (Bigna Tomscin, Arjun Talwar)
3. Silvia (Maria Silvia Esteve)
4. Sankara is Not Dead (Lucie Viver)
5. Taking Place (Jeremy Gravayat)
6. Lemebel (Joanna Reposi)
7. Last Night I Saw you Smiling (Kavich Neang)
8. The Future Cries Beneath Our Soil (Hang Pham Thu)

Sejumlah film dokumenter lain bercerita tentang perjalanan masyarakat dan gerakan sosial, seperti film “Lemebel” bercerita tentang penulis, perupa dan pelopor gerakan Queer Amerika Latin khususnya di Chili di tahun 1980 yang mengguncang masyarakat konservatif di rezim Pinochet yang terkenal sebagai diktator.

Sedangkan film “Last Night I Saw You Smiling” bercerita tentang kejadian traumatis di White Building di Phnom Penh di bawah rezim radikal, masa kebangkitan dan perkembangan kapitalisme yang mengarah pada kehancuran.

Film lain seperti film “Diary of Cattle” bercerita tentang kehidupan sapi yang tak mudah tinggal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Dalam website ffd.or.id dijelaskan bahwa FFD sejak tahun 2002 telah menyajikan program kompetisi film yang merepresentasikan film-film yang mampu menangkap isu-isu aktual di sekitar kita dan mampu memberikan perspektif kritis terhadap isu tersebut.

Terdapat ciri khas film dokumenter di FFD yang membedakannya dari produk audiovisual lainnya, yaitu sebuah kekuatan signifikan sebagai media yang mencerdaskan, reflektif, dan dapat melewati batas-batas ruang dan waktu. Di tengah arus media masa yang demikian deras, film dokumenter memiliki peran penting sebagai media aspirasi yang mandiri.

Pada perhelatan rutinnya tiap tahun di bulan Desember, Festival Film Dokumenter selalu mencoba mengangkat isu-isu sosial yang faktual sebagai fokus utama festival, sebagai jembatan antara pembuat film dokumenter, pembuat film profesional, dan khalayak yang lebih luas, dengan tujuan peningkatan kualitas dan kuantitas film dokumenter di Indonesia.

Festival yang akan digelar di Lembaga Indonesia Perancis, Taman Budaya dan Kedai Kebun di Jogjakarta ini akan diwarnai dengan pemutaran film serta pemberian penghargaaan pada 1 Desember dan ditutup pada 7 Desember 2019.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

www.Konde.co bersama Feminist Festival 2019, bekerjasama dalam kampanye "Kami Ingin Kamu Tahu" sebagai medium untuk menghapus stigma masyarakat mengenai identitas seseorang terutama bagi teman-teman dari kaum marjinal. Kampanye ini juga bertujuan untuk mengapresiasi keberagaman dan memberi suara bagi mereka yang selama ini pengalamannya kurang terungkap. Tulisan yang akan dipublikasikan hingga akhir November 2019 ini merupakan salah satu bagian dari kampanye tersebut. Feminist Festival 2019 akan dilaksanakan pada 23-24 November 2019, di Wisma PKBI, Kebayoran Baru, Jakarta. Ikuti sosial media @femfestid untuk informasi lebih lanjut.


*YS- www.Konde.co

Sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), saya mengalami banyak diskriminasi di tempat saya bekerja, seperti ketika saya bekerja di sebuah apartemen di Jakarta, saya tak boleh menggunakan lift yang sama yang digunakan oleh majikan.

Entah darimana peraturan ini, tiba-tiba saya dicegah petugas keamanan yang tidak memperbolehkan saya masuk lift. Ternyata lift tersebut adalah lift khusus untuk majikan, sedangkan saya hanya boleh naik melalui lift barang. Katanya ini peraturan yang dikeluarkan oleh manajemen apartemen.

Kepedihan dalam bekerja sebenarnya banyak saya alami, namun kejadian tadi bisa membuat saya tiba-tiba menangis. Inilah salah satu diskriminasi yang saya rasakan. Apa yang salah jika saya menjadi pekerja rumah tangga? Apakah kelas kami berbeda dengan kelas majikan dan orang lainnya?

Diskriminasi lain yang saya terima yaitu saya tak boleh duduk di tempat area tunggu di sekolah anak majikan. Ini terjadi ketika saya menjemput anak majikan. Pada saat itu majikan menyuruh saya menjemput anaknya disekolah yang dekat dengan apartemen itu, karena ada bangku kosong didepan dan arena jam keluar anak majikan masih beberapa menit lagi keluar dari kelas, akhirya saya duduk dibangku itu, kebetulan bangku itu kosong.

Tapi tiba tiba security datang dan menghampiri saya untuk tidak duduk dibangku itu, saya dengan spontan menjawab ,”Kenapa pak, khan bangku itu kosong, lagipula saya sedang menjemput anak majikan,” tanya saya sontak waktu itu.

Pak security menjawab bahwa yang boleh duduk dibangku itu hanya majikan, ini merupakan peraturan sekolah, security hanya menjalankan peraturan.

Nama saya YS, saya bekerja sebagai PRT sudah 10 tahun lebih, tepatnya sejak tahun 2009 saya mulai bekerja. Pekerjaan PRT ini saya pilih karena saat itu saya tidak mempunyai ijasah setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), sekolah saya berhenti karena faktor keadaan ekonomi. Dan saat itu kondisi ekonomipun tidak cukup untuk menghidupi 3 anak dengan suami saya yang kala itu bekerja di bengkel.

Walau menjadi PRT tidaklah mudah dan gampang, dengan hanya bisa membersihkan rumah saja, kita tak bisa menjadi PRT. Tapi harus juga mempunyai ketrampilan dalam menjalankan pekerjaan dan harus punya inisiatif mengerjakan pekerjaan lain jika majikan sedang tidak di rumah.

Selain diskriminasi, ketidakadilan dalam pekerjaan juga pernah saya alami, yaitu ketika saya bekerja yaitu di tahun 2010, bekerja dengan orang ekspatriat atau warga negara lain.

Namun baru 3 minggu bekerja, majikan mengeluarkan saya dengan alasan barang dia ada yang hilang, betapa terkejut saya dengan kejadian itu, tapi karena saya tidak tahu menahu barang apa yang dimaksud dan dimana hilangnya, maka saya beranikan diri untuk menyuruh majikan saya ini melaporkan hal ini ke polisi.

Waktu itu dia langsung meminta maaf dan bicara bahwa masalah ini tidak usah diperpanjang. Saya ingat kata kata teman saya yang pernah bekerja di rumah itu, bahwa majikan tersebut sudah 3 kali ganti PRT, yang paling lama hanya saya 3 minggu bekerja. Saat itu saya hanya berpikir itu tidak adil bagi saya, yang sedang membutuhkan pekerjaan, tapi dengan tanpa sebab majikan memberhentikan saya dari pekerjaan dan malah menuduh saya mencuri.

Kemudian saya bekerja di sebuah apartemen di Kawasan Kemang, dengan jam kerja part time/ paruh waktu. Saat itu saya bekerja sudah 3 bulan, majikan sudah tahu jam kerja saya, karena dari awal saya sudah bicara bahwa sebagai pekerja part time, saya juga punya pekerjaan di tempat lain, dan iapun setuju.

Tapi saat saya masih bekerja di unit lain di apartemen yang sama, majikan tersebut dengan tiba-tiba menyuruh saya datang ke apartemennya dan mengerjakan banyak hal. Ketika saya bilang jika saya masih bekerja dan 5 menit lagi akan kesana karena harus berpamitan terlebih dahulu dengan majikan saya yang satu, ia marah besar dan mengancam akan memotong gaji saya.

Karena terus dimarahi, akhirnya saya keluar dari pekerjaan di rumah majikan saya tersebut. Tapi malah dia menahan upah saya. Harusnya saat itu saya medapatkan upah Rp. 900 ribu, tapi dia hanya memberikan upah Rp. 600 ribu dengan alasan dipotong setiap saya telat.

Disitu saya benar-benar sedih, upah yang saya harapkan tidak sesuai yang saya dapat. Padahal banyak keperluan untuk sehari hari, kebutuhan untuk anak-anak saya.

Saat itu saya memberanikan diri untuk mengatakan pada majikan tentang kecurangan upah ini, namun saya tetap tidak mendapatkan gaji yang seharusnya.

Itu adalah kenyataan yang ada di lingkup kerja saya sebagai PRT, ketidakadilan dan diskriminasi di tempat kerja dan masih banyak cerita lainnya yang mungkin lebih tidak adil lagi.

*YS,
sehari-hari bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT).



Nama Rohana Kudus tak pernah lepas dari sejarah pers perempuan di Indonesia. Namun karena tak banyak disebutkan dalam literatur-literatur sejarah di Indonesia, nama Rohana Kudus tenggelam dalam hiruk-pikuk tokoh-tokoh lainnya di Indonesia. Lia Anggia Nasution, jurnalis dan peneliti sejarah pers perempuan Sumatera Utara menelusuri, bagaimana pers perempuan di Sumatera Utara mempunyai kontribusi besar dalam meletakkan pers dalam kacamata para jurnalis perempuan pengelola media-media perempuan di kala itu.

Luviana- www.Konde.co

Selamat hari pahlawan Indonesia 2019. Ucapan ini banyak tersebar melalui sosial media 10 November lalu.

Namun hari pahlawan di tahun ini adalah hari yang sangat menggembirakan, karena pada tanggal 8 November 2019 atau 2 hari sebelum peringatan hari pahlawan 10 November, Rohana Kudus, perempuan pendiri Koran “Soenting Melajoe” mendapatkan gelar pahlawan nasional dari pemerintah.

Tahukah kamu jika Rohana Kudus merupakan salah satu peletak pers berperspektif perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dalam berbagai tulisannya di awal tahun 1900 lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka?

Koran yang dipimpinnya, “Soenting Melajoe” terbit pada 10 Juli 1912 setelah Koran Poetri Hindia. Poetri Hindia merupakan koran pertama yang diperuntukkan bagi kaum perempuan di Indonesia yang terbit pada 1 Juli 1908. Koran ini dibuat oleh perintis pers Indonesia, Tirto Adhi Soerjo.

Soenting Melajoe terbit di Padang pada 10 Juli 1912 dan didirikan oleh Rohana Kudus dan Ratna Djoeita. Lia Anggia Nasution, yang melakukan penelitian Studi Analisis Wacana Kritis Perspektif Feminis dalam Konten Koran ‘Perempoean Bergerak’ di Sumut dan ditulis di Jurnal Simbolika, 1 April 2019 menuliskan, bahwa media massa di masa itu, termasuk Soenting Melajoe menjadi wadah bagi perempuan untuk menyebarluaskan gagasan kesataraan gender, menggugat sistem sosial yang berlaku di mana laki-laki telah menguasai dan menghambat kemajuan kaum perempuan.

Lia Anggia menuliskan bahwa kemajuan tidak akan diperoleh apabila kaum perempuan ditinggalkan.

“Isi pemberitaan dalam koran ini dipengaruhi terhadap situasi di masa itu, dimana pengaruh Politik Etis yang diberlakukan Belanda yang menjajah Indonesia di kala itu juga berdampak pada perempuan. Termasuk terbukanya akses bagi perempuan untuk berhimpun baik dalam organisasi. Kondisi ini membuat media perempuan tidak hanya menggugat budaya patriarki namun juga membangkitkan semangat nasionalisme, membela tanah air dengan mengkritisi kebijakan Belanda terutama dalam hal yang merugikan kaum perempuan.”

Jargon Koran yang didirikan Rohana Kudus ini adalah,“Soerat Chabar Perempoean di Alam Minangkabau”.

Koran yang terbit tiga kali dalam seminggu ini kemudian menjadi inspirasi bagi perempuan di Sumut untuk mendirikan koran yang bernama Koran Perempoean Bergerak yang terbit setelahnya yaitu pada Mei 1919- Desember 1920.

Lia Anggia Nasution juga menuliskan bahwa Rohana Kudus dalam tulisannya edisi September 1920 pernah mengecam perlakuan pemerintah kolonial Belanda yang eksploitatif dan tidak berpihak pada perbaikan masyarakat Indonesia terutama kaum perempuan.

“…dimana kemelaratan dan kesoesahan jang diderita oleh kaoem dan bangsanja Hindia soedah hampir meliwati jang moetinja ditanggoeng sebagai hidoepnja sesoeatoe bangsa jang berada dalam djajahannja (kolonie) jang soeboer dan dapat perlindoengan jang halal dari Radja2 dan pemerintahnja atoe jang berwajib melondoengi mereka sebagai ra’jat jang membajar bea padjak dan belastingnja oentoek pemeliharaan dirihak milik dan keselamatan kehidoepanja.”

Pergerakan Rohana pada masa itu, juga didukung oleh semua organisasi yang mendirikan surat kabar yang bertujuan untuk meningkatkan martabat perempuan dengan memberikan pendidikan. Dalam penelitiannya, Lia Anggia menyebutkan bahwa organisasi perempuan di masa itu membuka ‘sangkar’ perempuan bangsawan atau perempuan dari golongan atas dan menengah yang biasanya dipingit di dalam rumah. Melalui organisasi perempuan dapat bertemu dengan teman-teman sekaumnya dan mereka akhirnya memperjuangkan emansipasi bersama-sama.

Rohana Kudus lahir di Kotogadang, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 dan meninggal pada usia 87 tahun pada 17 Agustus 1972.

Fitriyanti seorang jurnalis perempuan juga pernah menuliskan tentang apa yang dilakukan Rohana Kudus di masa itu dalam buku yang diterbitkan Jurnal Perempuan.

Fitriyanti menulis bahwa tak hanya Koran Soenting Melajoe, Rohana juga mengurus sekolah kerajinan Amai Setia. Di sekolah yang didirikan pada tahun 1911 ini mereka mengajarkan ketrampilan bagi para perempuan dengan tujuan bahwa perempuan di Melayu kala itu harus mempunyai ketrampilan yang baik agar perempuan mandiri secara ekonomi.

Gelar pahlawan bagi Rohana merupakan sesuatu yang penting dimana tulisan para jurnalis diakui sebagai pembuka ruang untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan dan melawan kolonialisme Belanda.

Tokoh pers lainnya yang mendapatkan gelar pahlawan nasional 2019 adalah Tirto Adhi Soerjo pendiri media Poetri Hindia dan Medan Prijaji, Lie Kim Hok, Douwes Dekker, Abdoel Rivai.

(Foto: wikipedia)

(Disarikan dari tulisan Lia Anggia Nasution, jurnalis dan peneliti peraih dana hibah Cipta Media Ekspresi dari Ford Foundation dan Wikimedia 2019, Penelitian Studi Analisis Wacana Kritis Perspektif Feminis dalam Konten Koran ‘Perempoean Bergerak’ di Sumut dan ditulis di Jurnal Simbolika, 1 April 2019)

*Meera Malik- www.Konde.co

Stigma tentang janda sepertinya belum akan musnah dari alam berpikir masyarakat Indonesia. Kata "janda" punya beban negatif yang begitu berat sehingga banyak perempuan merasa takut jika status ini tersemat di diri mereka. Seperti ibu saya.

Ibu saya seorang janda. Jika beberapa tahun lalu, ia tidak memutuskan untuk menyudahi perkawinannya dan menjadi janda, besar kemungkinan saya tidak berani menulis seperti sekarang ini. Situasinya jelas akan berbeda.

Sepanjang yang bisa saya ingat, saat itu butuh waktu sangat lama bagi ibu mempersiapkan mentalnya agar berani menyandang status janda. Selain takut tidak mampu menghidupi kami, kedua anak perempuannya, ia juga begitu resah memikirkan bagaimana pandangan orang-orang nanti kepadanya jika ia menjadi seorang ‘janda.’ Juga bagaimana pandangan orang-orang kepada dua orang anak perempuannya yang nantinya diasuh oleh seorang janda.

Namun, saya dan adik saya, yang kala itu sudah mulai beranjak remaja, bisa melihat ketidakbahagiaan yang dialami ibu. Kebahagiaannya tidak hanya lenyap secara materil, tetapi juga immateril (batin). Kami sudah cukup sengsara. Dibanding apa yang kami alami, pandangan orang sekitar adalah hal sepele yang (kami percaya) pasti akan terlewati begitu saja.

Kami pun memohon padanya agar menggugat cerai suaminya: ayah kami. Kami terus mendukungnya. Kami mendoakannya. Kami jujur padanya kalau kami tidak bahagia dengan pernikahan yang coba ia pertahankan. Kami meyakinkannya agar terbuka pada keluarganya, meminta bantuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Tiga tahun kemudian, ibu saya melakukannya. Ia lalu resmi menjadi janda.

Memang tidak mudah menyandang status sebagai janda di negeri yang masyarakatnya masih beranggapan bahwa berpasangan lebih baik daripada hidup sendiri. Anggapan bahwa tujuan hidup tertinggi seorang perempuan adalah pernikahan. Atau anggapan bahwa seorang perempuan baik-baik adalah perempuan yang loyal pada keluarga, bisa mengurus anak, suami dan menjaga keutuhan rumah tangga seperti apa pun kondisi buruk yang dialaminya.

Di Indonesia, secara harfiah kata “janda” dimaknai secara negatif. Perspektif sosial memosisikan janda sebagai perempuan tidak laku, perempuan yang boleh digoda seenaknya, atau perempuan genit yang bisa merusak rumah tangga orang lain.

Jarang sekali orang mau bertanya: mengapa ia memutuskan untuk bercerai dari pasangannya? Padahal seribu persoalan bisa saja terjadi dalam perkawinannya. Cukup sering saya mendengar kasus, setidaknya di lingkaran pergaulan saya, di mana istri menggugat cerai suaminya karena berselingkuh, melakukan kekerasan seksual, tidak mau berbagi pekerjaan di rumah, atau suami yang jarang pulang, sibuk dengan aktivitasnya sendiri di luar rumah.

Anggapan ini berbeda dengan laki-laki. Jika seorang laki-laki berselingkuh, kasar, tidak bertanggung jawab, akan dianggap sebagai hal biasa, ditanggapi dengan kalimat sederhana, “Ah… namanya juga laki-laki.”

Akui saja, hingga kini, perilaku buruk laki-laki masih saja diberi pemakluman, sementara perempuan harus menanggung segala tuntutan sosial yang begitu memberatkan.

Justito Adiprasetio, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, dalam wawancaranya dengan tirto.id (23/01/2017), mengatakan bahwa perbedaan nilai kata “duda” dan “janda” berasal dari latar belakang material kata itu. Menurutnya, pergeseran makna kata “janda” merupakan gejala dari sistem patriarki yang kuat di masyarakat Indonesia. Sebabnya, dalam budaya patriarki, ada anggapan bahwa saat menikah, perempuan cenderung bergantung pada laki-laki, maka setelah bercerai, janda tidak memiliki nilai tawar selain tubuh dan seksualitasnya. Berbeda dengan duda yang dianggap punya nilai tawar lain berupa kemampuan untuk bekerja.

Jujur saja, jika kembali ke masa kelam dulu, saya dan adik saya tidak begitu mengerti betapa menakutkannya menjadi seorang janda bagi perempuan seperti ibu saya. Betapa pada masa awal perceraian yang penuh teror, berkali-kali ia punya keinginan untuk menyerah. Ia pasrah pada Tuhan sembari pontang-panting terus berjuang menghidupi dan membiayai pendidikan kedua anak perempuannya yang selalu disebutnya sebagai ‘hartanya yang paling berharga’.

Dan jika melihat kehidupan ibu saya sekarang, saya bisa tersenyum dan merasa sangat bangga pada kegigihannya menjalani pilihannya dengan penuh tanggung jawab. Saya bersyukur karena ia percaya pada kemampuan dirinya untuk kembali menemukan kebahagiaannya, kemandiriannya, haknya menjadi seorang manusia yang berdaya. Ibu saya adalah contoh nyata seorang perempuan janda yang berkuasa mendobrak dan mematahkan semua stigma buruk yang melekat pada statusnya.

Sekarang, lihat saja, ibu saya masih (dan mungkin) akan tetap menjadi seorang janda. Perempuan merdeka dan bahagia!

*Meera Malik, jurnalis bahagia yang gemar membeli buku tapi lupa membaca

“Ketika kami mau menyeberang jalan, tiba-tiba ada beberapa laki-laki menggunakan seragam aparat keamanan yang membuka kaca mobil dan menggoda kami. Kami betul-betul sangat kaget dan tidak menyangka telah mendapatkan catcalling.”

*Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Natasha kini lantang berbicara tentang kekerasan yang ia alami setelah banyak mahasiswa lain juga berani untuk berbicara.

Ia merasa kaget ketika ada laki-laki yang menggunakan seragam aparat yang kemudian menggodanya bersama beberapa teman perempuan yang hendak menyeberang. Semestinya jika mereka memang aparat penjaga keamanan, seharusnya melindungi perempuan dari kekerasan, batin Natasha kala itu.

Rabu 6 November 2019 lalu, Natasha berbicara tentang kekerasan yang dialaminya dalam feminist of the Week (FOW). Para mahasiswa bisa berbicara tentang kekerasan yang dilihat dan dirasakannya dalam Feminist of The Week ini.

Feminist of the Week (FOW) merupakan program mingguan yang dirintis oleh Formas Juitan Lase, salah satu dosen komunikasi dan gender di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. FOW merupakan bagian dari mata kuliah komunikasi dan gender ini.

Sejak dimulai Agustus 2019 lalu, Formas mencatat puluhan mahasiswa sudah bercerita tentang kekerasan dan pelecehan yang mereka lihat atau mereka alami. Acara sharing yang diadakan seminggu sekali di dalam kuliah komunikasi dan gender ini begitu diminati mahasiswa.

Mahasiswi lain yang memberikan sharing dalam FOW adalah Yohanna. Yohanna pernah merasa diikuti oleh laki-laki ketika ia sedang di dalam kereta hendak pulang ke rumahnya. Setiap hari ia harus naik kereta untuk pulang pergi ke kampus. Ketika ada seorang laki-laki yang mengikutinya, ia harus pindah tempat duduk untuk melihat reaksi laki-laki itu.

“Saya berpindah tempat duduk hanya ingin memastikan apakah laki-laki itu mengikuti saya ataukah hanya perasaan saya saja yang salah,” ujar Yohanna.

Karena sudah memastikan bahwa laki-laki itu mau mengikutinya, maka Yohanna kemudian memutuskan untuk turun sebelum stasiun rumahnya, untuk melihat apakah laki-laki tersebut masih mengikutinya.

Yohanna menjadi mengerti ketika sharing di FOW bahwa jika merasakan tidak nyaman dalam perjalanan, ia bisa teriak atau minta tolong. Jika berteriak maka akan ada yang menolongnya.

Formas Juitan mencatat bahwa rata-rata yang banyak mendapatkan pelecehan dari sharing ini adalah perempuan atau mahasiswi.

“Rata-rata memang korbannya mahasiswi, ini bisa dilihat dalam 3 bulan ini, kebanyakan yang datang dalam acara feminist of the week ini umumnya mahasiswi dan yang mereka ceritakan umumnya pelecehan yang dialami perempuan. Jadi memang data tidak bisa menipu bahwa yang banyak mendapatkan pelecehan adalah perempuan.”

Namun Formas Juitan Lase juga menggarisbawahi, selain mahasiswi, korban lainnya adalah mahasiswa yang tampil feminin. Mereka juga banyak mendapat pelecehan seperti digoda hingga dipegang pundaknya tanpa sebab.

Hal ini juga dialami salah satu mahasiswa, Sam yang dianggap terlalu banyak bicara ketika ia sedang bertugas menjadi panitya di sebuah acara.

“Cerewet banget kamu, kayak perempuan saja,” ujar Sam, menirukan seseorang yang memarahinya.

Selain menganggapnya terlalu banyak cakap, ungkapan seperti perempuan ini juga dianggap menambah mitos bahwa laki-laki tak banyak bicara, sedangkan perempuan banyak bicara.

Formas menyatakan pentingnya mahasiswa untuk berani bicara dalam FOW ini, sebagai dosen komunikasi dan gender ia merasa perlu mengajak mahasiswa tak hanya berani bicara stop kekerasan seksual mulai dari kampus, namun juga mengajak mahasiswa untuk berani menangani pelecehan atau membantu orang lain yang menjadi korban untuk menyelesaikannya.

Bagi Formas, Feminist of The Week merupakan ruang bagi mahasiswa untuk berani untuk bicara. FOW diadakan di kelas-kelas kecil, Formas kemudian mengumumkannya melalui mahasiswa di kelasnya. Yang ikut pertemuan pun lumayan banyak, sekitar 32 mahasiswa.

Formas Juitan juga mencatat, isi sharing rata-rata adalah mahasiswi yang mendapat cat calling, seperti digoda di jalan dan di alat transportasi menuju dan pulang dari kampus.

Salah satu mahasiswi, Febry mengatakan tentang pentingnya mahasiswa untuk membantu mahasiswa lain menangani kekerasan. Ia pernah membantu sahabatnya menangani kekerasan dari pacarnya. Dari FOW ini ia kemudian belajar bahwa menjadi pendamping korban harus sabar dan tidak boleh terbawa emosi melihat apa yang dilakukan pelaku terhadap korban.

Feminist of the Week juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berbagi masukan, jaringan untuk menyelesaikan persoalan kekerasan. Kampus adalah salah satu tempat yang tepat untuk mengajak mahasiswa berani bicara.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

Duri Lupita sering mendapat informasi iklan yang nyasar ke telepon genggamnya. Iklan nyasar ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang kali. Ia merasa kesal karena seolah banyak pengiklan yang menyebarkan nomor pribadinya tanpa meminta izin terlebih dulu. Ia kemudian mengetahui bahwa ada transaksi jual beli nomor handphone konsumen. Bagi Lupita, ini jelas melanggar hak privasi pemilik telepon genggam seperti dirinya.


*Meera Malik- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- “Saya sering mendapat sms yang menawarkan peminjaman uang, padahal saya tidak pernah mengajukan peminjaman uang. Jadi, saya blokir saja,” ujar Lupita.

Duri Lupita, warga Jati Asih, Bekasi Barat, lalu mengikuti kelas diskusi soal data privasi.

Kelas perempuan dan hak privasi di internet yang diadakan #SisterBerbicara bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 31 Oktober 2019 di Jakarta itu menarik perhatian Lupita. Setelah mengikuti kelas yang berlangsung selama kurang lebih dua jam, ia jadi semakin peduli untuk menjaga keamanan data pribadinya.

“Kita lebih menjaga keamanan diri kita juga untuk tidak sembarangan lagi memberikan email, alamat, nomor telepon, karena itu sangat bahaya kalau jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab.”

Mira Sahid, perempuan pegiat literasi digital, dalam kelas bulanan tersebut, menekankan pentingnya perempuan mengetahui hak privasinya di internet. Menurutnya, perempuan harus membekali dirinya dengan pengetahuan soal literasi digital tentang hoaks, privasi, dll, agar tidak menjadi korban dari kekeliruan dan penyalahgunaan data yang merugikan.

“Sekali kita punya akun, kita juga punya kewajiban untuk tahu batasan informasi apa yang boleh dan tidak boleh kita bagikan,” ucap Mira kepada Duri Lupita dan 30-an perempuan lainnya yang hadir di kelas Sister Berbicara.

Persoalan privasi sering terkait dengan aspek gender yang justru luput dari perhatian publik. Berbagai kajian mengekspos risiko penggunaan teknologi informasi untuk merampas privasi perempuan demi kepentingan seksual atau kekerasan dalam bentuk ancaman.

Seperti tindakan revenge porn, ketika seseorang/sekelompok orang menyebarkan foto pribadi yang mengandung konten seksual dari para perempuan yang menjadi korban ancaman mereka. Biasanya dilakukan oleh orang terdekat perempuan, seperti pasangan atau mantan pasangannya.


Data Privasi dan Kewajiban Melindunginya


Meski awalnya terasa asing, belakangan konsep privasi semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan banyaknya layanan online yang tersedia. Pada era ini, konsep privasi terdiri dari 2 aspek, yakni isu yang berhubungan dengan identitas seseorang dan bagaimana informasi tersebut ditangani, terutama oleh pihak ketiga.

Misalnya, ketika sebuah perusahaan menelpon atau menawarkan layanannya padahal kita tidak pernah memberikan informasi nomor telepon ke perusahaan tersebut, artinya informasi kita bisa saja disalahgunakan oleh pihak ketiga tanpa sepengetahuan dan persetujuan kita.

Lebih buruk, jika data privasi kita bocor. Pada Maret 2018 misalnya, pernah terungkap sebuah skandal kasus Cambridge Analytica dan Facebook yang menarik perhatian massa di seluruh dunia. Diketahui, data 87 juta pengguna Facebook bocor dan digunakan secara sewenang-wenang oleh lembaga konsultan politik Cambridge Analytica. Dari 8,7 juta pengguna yang datanya bocor tersebut, sekitar 1,1 juta pengguna berasal dari Indonesia.

Dikutip dari BBC Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informasi saat itu memanggil perwakilan Facebook Indonesia untuk menggali informasi lebih detail mengenai hal tersebut. Sebabnya, penggunaan data tidak proper oleh PSE bisa melanggar UU ITE maupun Peraturan Menteri Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi.

Kita perlu bertanya kepada diri masing-masing, selama ini, informasi personal apa saja yang sudah kita bagikan di dunia maya? Pernahkah kita membaca kebijakan privasi (privacy online) saat menggunakan suatu layanan online seperti Facebook? Jika ya, benarkah kita membaca ketentuannya dengan teliti? Jika tidak, apa yang kita lakukan? Langsung melakukan klik tanda setuju, bukan? Lalu tahukah kita apa konsekuensinya?

Pertanyaan ini menjadi dasar pemikiran pentingnya pengetahuan dan kesadaran mengenai hak privasi di internet.

Dalam modul Privasi dan Keamanan di Internet yang dikeluarkan oleh Forum Demokrasi Digital dan Yayasan TIFA, tercantum bahwa informasi pribadi bukan hanya sebatas data seperti nomor telepon, alamat rumah, tanggal lahir, nama keluarga termasuk orang tua atau ibu kandung, melainkan juga termasuk:

-Data transaksi keuangan online (kartu kredit dan perbankan)

-Kondisi kesehatan (seperti penggunaan aplikasi kesehatan)

-Foto atau gambar yang diunggah online

-Wajah (dari foto yang diunggah di media sosial)

-Lokasi (seperti media sosial Foursquare)

-Alamat protokol internet (IP Address)

-Kata kunci yang kita ketik saat menggunakan mesin pencari

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia tahun 2017 tentang penetrasi dan perilaku pengguna internet di Indonesia menunjukkan tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa dari total populasi penduduk 262 juta jiwa.

Dari segi komposisi jenis kelamin, pengguna internet Indonesia terdiri dari 48,57% perempuan dan 51,43% laki-laki. Artinya, tingkat penetrasi perempuan pengguna internet di Indonesia cukup tinggi. Kemampuan menggunakan internet ini seharusnya dibarengi dengan kemampuan untuk memahami segala risikonya.

Kunci dari konsep privasi adalah kontrol pengguna terhadap informasi pribadinya, penghormatan batas privasi dan perlindungan terhadap informasi tersebut. Para penyedia layanan, baik swasta maupun pemerintah, bagaimanapun caranya, harus melindungi informasi yang kita berikan.

Ketika hadir, internet memang dirayakan sebagai simbol keterbukaan dan kebebasan. Namun, selalu ada dua sisi dalam setiap penemuan. Ingatlah bahwa privasi termasuk dalam komponen hak dasar dalam deklarasi Hak Asasi Manusia (HAM). Privasi bukan hanya bagi kalangan tertentu, tetapi untuk semua orang. Privasi adalah hak asasi kita. Privasi adalah kita. Kita harus melindunginya.

*Meera Malik, jurnalis bahagia yang gemar membeli buku tapi lupa membaca


Mengapa setiap malam minggu selalu ada pertanyaan: mau pergi kemana dengan pasanganmu? Bayangkan saja, ada berapa malam minggu dalam setahun? Bisa dihitung khan dalam setahun ini, berapa kali kami harus menjawab pertanyaan: akan kalian habiskan kemana malam minggu ini? Atau kalimat: malam minggu kemarin kalian pergi kemana dengan pasanganmu?

*Almira Ananta- www.Konde.co

Apa bedanya antara sabtu malam minggu yang dihabiskan di dalam rumah atau di luar rumah? Buat saya ini tidak ada bedanya.

Saya selalu senang menghabiskan sabtu malam dengan keluar kota, membaca di rumah, sesekali pergi menonton film atau menghabiskan waktu bepergian bersama teman. Jadi tak ada bedanya antara menghabiskan waktu di dalam maupun di luar rumah. Yang lebih penting, adalah dalam seminggu, ada 2 hari dimana bisa mengosongkan otak untuk berpikir keras soal pekerjaan yang biasanya menyita waktu kami selama 5 hari dalam seminggu.

Sebagai pekerja, sabtu dan minggu adalah hari yang bisa memanjakan kami. Maka ini adalah hari dimana saya punya banyak waktu untuk istirahat.

Namun banyak teman perempuan saya yang dipojokkan dengan istilah “sabtu malam” ini. Selama ini ada mitos bagi perempuan yang menyebutkan bahwa sabtu malam selalu identik dengan: perempuan harus pergi keluar bersama pasangannya. Jika tidak, maka ia akan dianggap tak punya pasangan, tak punya pacar, dan mendapat stigma sebagai orang yang kesepian.

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan: kemana malam minggumu ini, sudah sering saya dengar sejak kuliah dulu. Bagi perempuan, ini sesuatu yang membuat kami sebal untuk menjawabnya. Mengapa orang lain selalu mempersalahkan perempuan yang tak punya pasangan? Tidakkah orang bisa diam saja dengan apa pilihan-pilihan perempuan muda seperti kami?

Dan ternyata ini tak hanya terjadi ketika kuliah, ketika sudah lulus dan bekerjapun, pertanyaan ini selalu ada setiap malam minggu tiba. Bayangkan saja, ada berapa malam minggu dalam setahun? Bisa dihitungkan, dalam setahun ini, berapa kali kami harus menjawab pertanyaan: akan kalian habiskan kemana malam minggu ini? Atau kalimat: malam minggu kemarin kalian kemana?

Dalam setahun, kami akan menjawab kurang lebih 50 kali setiap orang bertanya ini. Buat kami, inilah anehnya, orang sangat senang mempertanyakan malam minggu orang lain. Pertanyaan berikutnya adalah apakah semua orang harus mempunyai pasangan untuk menghabiskan malam minggunya? Jika tidak ada pasangannya, apakah malam minggunya akan runtuh atau tidak baik-baik saja?

Karena buat saya, pertanyaan ini tak hanya sekedar ingin tahu apa yang kami lakukan di malam minggu, namun pertanyaan ini juga merujuk ingin tahunya mereka tentang siapa pasangan kami? Jika kami tak punya pasangan, apa salahnya?

Dari ibu saya, saya mendengar cerita bahwa tidak tahu bagaimana sejarah awal mulanya pentingnya malam minggu ini, namun dari ibu saya kecil, sudah ada pameo yang mengatakan bahwa malam minggu selalu identik dengan malam libur dimana banyak perempuan muda pergi dengan pasangan atau teman-temannya. Maka malam minggu selalu menyimpan pertanyaan penting bagi setiap orang: kamu mau kemana malam minggu ini?

Jadi buat saya, jika pertanyaan ini tidak mengganggu, maka akan saya jawab. Namun jika pertanyaan: kamu pergi ke mana malam minggumu nanti, ini mengganggu, maka saya biarkan saja pertanyaan ini, karena buat saya ini pertanyaan kepo, ingin tahu urusan orang dan menganggap orang lain selalu berpikir hal yang sama tentang malam minggu.

Malam minggu besok akan saya habiskan pergi ke pantai dengan kawan-kawan saya yang lain. Sebagai pekerja, ini merupakan refresihing yang luar biasa.

Apakah ini penting untuk menjawab: dimana malam minggumu? dimana pasanganmu? Buat saya, ini pertanyaan yang seharusnya hanya kita yang tahu, orang lain tak perlu tahu.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Almira Ananta, pekerja kantoran di Jakarta yang hobby membaca dan Travelling


"Bagaimana mengubah wajah media agar berperspektif gender? Salah satunya, mengajak mahasiswa belajar studi media berperspektif gender. Dalam studi media, mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan soal kajian studi media secara kritis. Maka setelah lulus, para mahasiswa ini diharapkan mengubah wajah medianya agar mempunyai kebijakan yang berperspektf gender."


Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Sejumlah negara mengakui, banyak perempuan yang mengalami ketakutan ketika menggunakan internet. Selain itu, masih banyak pelecehan terhadap perempuan melalui conten di media.

Dalam catatan United Nations Educational, Scientic and Cultural Organisation (UNESCO) di tahun 2019, disebutkan sebanyak 20% perempuan mendapatkan serangan secara online. Jurnalis perempuan juga mendapat pengalaman negatif ketika menggunakan internet. Hal lain, jurnalis perempuan mengalami serangan 3 kali lebih banyak dibandingkan jurnalis laki-laki dalam tugasnya.

Hal itu terpapar dalam laporan UNESCO tentang Setting the Gender Agenda for Communication Policy and Gender, Media and ICTs tahun 2019, yang salah satu fokusnya tentang bagaimana menyelesaikan permasalahan kesenjangan gender yang masih banyak terjadi.

Laporan yang diluncurkan di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia pada 29 Oktober 2019 tersebut menunjukkan pentingnya perjuangan yang lebih masif untuk kesetaraan gender di media. UNESCO melihat pentingnya memberikan akses untuk perempuan dan mengubah kebijakan untuk perempuan di media.

Dalam agenda Sustanability Developments Goals atau SDG’s 2030, perempuan di media menjadi satu agenda penting agar tak ada diskriminasi dan kekerasan yang diterima perempuan di media dan teknologi informasi dan komunkasi.

Pada tahun 2012, PBB mengeluarkan resolusi tentang Pemajuan, Perlindungan dan Penikmatan HAM atas internet, yang salah satunya mengakui bahwa ekpresi yang disampaikan secara online mendapat perlindungan yang sama dengan aktivitas ekspresi secara offline. Konferensi internasional Perempuan Beijing+25 juga menjadikan media dan perempuan sebagai fokus utama perjuangan untuk perempuan dan apakah perempuan sudah mempunyai akses yang sama dengan laki-laki di media dan dalam mengakses teknologi.

Universitas atau kampus dengan program komunikasi kemudian dipilih untuk berkolaborasi menjawab persoalan ini agar tidak terputus antara pendidikan di kampus dengan dunia kerja, karena setelah lulus mahasiswa akan menghadapi banyak hal baru di dunia kerja. Maka mahasiswa harus dipersiapkan untuk melihat persoalan secara kritis dan bisa berkontribusi bagi perjuangan perempuan di media.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan diadakannya Workshop Teaching Gender in Journalism and Media Studies, kerja sama antara Departemen Komunikasi FISIP Universitas Indonesia; Department of Journalism and Media Studies/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan University, Norwegia; International Association of Women in Radio and Television (IAWRT); serta Communication Research Center, Institute of Social and Political Research and Development (LPPSP FISIP) Universitas Indonesia di UI pada 28-29 Oktober 2019.

“Jelas ada kebutuhan untuk mencatat pengalaman para jurnalis perempuan dalam penggunaan sosial media, agar bisa dibentuk kelompok pendukung yang kuat untuk mencegah mereka dibungkam,” kata Elisabeth Eide, Director JMIC, Oslo Metropolitan University.

Pembentukan jaringan di antara jurnalis perempuan, menurutnya, menjadi penting untuk memperjuangkan hak-hak mereka sendiri dan juga untuk meningkatkan pemberdayaan.

Workshop pada 28-29 Oktober 2019 tersebut diikuti oleh 28 peserta dari 14 negara seperti Afganistan, Bangladesh, Filipina, India, Inggris, Malaysia, Mesir, Nepal, Norwegia, Pakistan, Tunisia, Turki, Uganda, dan Zimbabwe. Peserta bertukar pengalaman lintas geografis dan lintas batas lainnya tentang pengalaman gender di media dalam pengalaman jurnalistik praktis, penelitian media, dan pengalaman mengajar gender, jurnalisme dan media.

Department of Journalism and Media Studies/Journalism, Media International Center (JMIC), Oslo Metropolitan University yang menjadi inisiator kegiatan, sudah tiga dekade terlibat dalam berbagai kajian gender.

“Terlalu sedikit kontak antar lembaga, antara akademisi dan jurnalis mengenai masalah ini. Sebenarnya banyak peserta memiliki berbagai hal untuk dibagikan sehingga kita bisa memetik pelajaran dan menyebarkannya.” kata Eide.

Adalah penting untuk membangun literasi media gender bersama-sama dengan lembaga akademik lain serta LSM yang peduli dengan hak-hak gender.

“Workshop ini akan menjadi pengalaman berbagi dan belajar untuk semua orang,” kata Eide.

Maka pada 2019 ini Departemen Komunikasi Universitas Indonesia kembali bekerjasama dengan Oslo Metropolitan University untuk acara Teaching Gender in Journalism and Media Studies.

“Ini kegiatan yang sangat penting sebagai bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi. Kerja kolaborasi semacam ini dengan berbagai negara membuat kami di perguruan tinggi dapat melihat beragam perspektif dalam pengajaran dan penelitian,” Kata Nina Mutmainnah, Ketua Departemen Komunikasi FISIP UI.

Endah Triastuti, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia menyatakan tentang pentingnya pendidikan atau studi media berperspektif gender, yaitu mengajak mahasiswa untuk kritis terhadap media dengan menggunakan perspektif gender.

Di UI misalnya ada sejumlah mata kuliah yang mengajak media untuk berpikir kritis, misalnya pada mata kuliah kajian media dan kebijakan media dimana mahasiswa belajar soal konglomerasi media yang melihat media secara kritis, serta belajar soal kajian perempuan di dalamnya.

Endah Triastuti menyatakan memberikan perspektif gender dalam komunikasi sangat penting agar mahasiswa melihat perempuan sebagai kajian baru dalam perjalanan feminisme di media.

Dalam acara penutupan training tersebut pada 29 Oktober 2019, UNESCO juga meluncurkan 2 buku berjudul “Gender, Media and ICT’s” dan “Setting the Gender Agenda for Communication Policy” yang merupakan seri buku pendidikan jurnalisme.

Buku ini memaparkan sejumlah kerangka kerja berperspektif gender di media tentang pentingnya memiliki kebijakan agar semua perempuan bisa mengakses teknologi komunikasi dan informasi, bagaimana internet membantu pendidikan perempuan dan pentingnya perspektif dalam penggunaan penggunaan teknologi agar mempunyai keberpihakan pada perempuan.

Untuk melihat apakah kerangka kerja tersebut sudah berhasil dilakukan, maka kita harus melihat sejumlah indikator seperti berikut:

1. Apakah bahasa dan diskusi di media sudah merepresentasikan gender?

2. Apakah sudah ada akses perempuan di media dan dalam pengambilan kebijakan dalam teknologi komunikasi dan informasi?

3. Bagaimana struktur gender di media dan dalam teknologi komunikasi dan informasi?

4. Apakah audience perempuan sudah bisa menggunakan media dan teknologi, komunikasi dan informasi?

5. Apakah kekerasan perempuan sudah terpotret di media?

6. Bagaimana kebijakan mainstreaming gender di media dan kebijakan teknologi, komunikasi dan informasi?

7. Bagaimana proses advokasi untuk perempuan di media dan di teknologi, komunikasi dan informasi?

Untuk melihat hal tersebut, maka dibutuhkan pendekatan dari beberapa tema seperti dari perspektif feminisme, interseksional, interkultural, sejarah, poskolonial, ekonomi politik, proses kebijakan, hak asasi manusia dan keberagaman seksual.

Ini semua dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan gender di media agar tak ada lagi perempuan yang takut untuk berinternet, tak ada lagi pelecehan terhadap perempuan di media, adanya kebijakan-kebijakan media dan teknologi yang memberikan akses dan keterlibatan perempuan.


(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Meera Malik dan Luviana- www.Konde.co

Sebuah iklan properti berjudul “ Beli Rumah Bonus Dapat Janda Muda” salah satu pengembang rumah di Depok yang beredar pada bulan Oktober 2019 menjadi perbincangan di media.

Iklan ini menjadikan janda muda sebagai bagian dari iklan atau peruntungan. Sadisnya lagi, menjadikan janda sebagai barang jualan.

Di tempat yang lain di Jogjakarta, saya juga pernah membaca iklan properti yang ditempel di sebuah rumah di daerah Sleman berjudul “Dijual Rumah, bisa Hubungi No. Telp Berikut ini, Mendapatkan Bonus Janda".

Terminologi perempuan berstatus janda, tidak hanya diidentikkan sebagai barang dagangan, tetapi juga identik sebagai perempuan yang tidak laku, maka harus diperjualbelikan. Ini tidak hanya semakin menstigmasisasi perempuan janda sebagai orang yang tidak laku, tetapi juga semakin melanggengkan mitos bahasa soal janda.

Iklan ini juga melakukan sensasionalisme bahasa untuk tujuan personal yang justru memperolok tubuh perempuan. Kepentingan kapital yang mengorbankan tubuh perempuan.

Apa yang salah dengan janda? Mengapa tubuh janda selalu dicemooh sebagai tubuh yang salah? Seolah sebagai tubuh yang tidak utuh dan tidak begitu dibutuhkan, makanya layak diperjualbelikan, dijadikan bonus dalam pembelian properti?

Apa yang terjadi dengan pemilik dan pembuat iklan properti ini, adalah yang terjadi pada kepala orang-orang yang patriarki yang menilai buruk tentang janda.


Dalam sebuah wawancara yang tayang di kompas.com (17/10/2019), salah satu direktur utama pengembang properti yang membuat iklan tersebut mengaku bahwa kata “janda muda” hanyalah marketing gimmick saja, bukan dalam arti sebenarnya.

Kata “janda” dieksploitasi, dijadikan gimmick bonus pembelian properti, ini sungguh sebuah bentuk promosi yang tidak peka isu sosial dan murahan. Iklan apa pun, tidak seharusnya melecehkan siapa pun. Terlebih, melecehkan kelompok minoritas seperti janda.

Dalam konsep feminisme, hanya dikenal istilah single mother. Single mother ini bisa terjadi pada siapa saja, apakah ia sebelumnya mempunyai pasangan atau tidak. Konsep single mother merujuk pada konsep bagaimana perempuan mengepalai sebuah rumah tangga. Konsep feminisme menggarisbawahi problem yang dialami perempuan seperti ia harus mengelola keuangan rumah tangga, mengurus anak hingga menghasilkan pendapatan yang cukup. Dalam feminisme tertulis, yang menjadi single mother umumnya adalah perempuan hebat yang mempunyai kekuatan maternal.

Dalam terminologi feminisme, single mother ini juga bisa terjadi pada siapa saja. Pada perempuan yang sudah bercerai dengan suaminya, atau pada perempuan yang memilih tidak menikah lalu mengadopsi anak, atau perempuan yang harus mengurus anak saudaranya. Di Indonesia, orang lebih memilih menggunakan istilah janda dengan segala atribut stigma di dalamnya.

Aktivis perempuan, Ika Ariyani pernah menuliskan tentang berbagai stigma di balik sebutan janda ini. Di Indonesia, istilah janda rasanya selalu dianggap negatif. Tidak peduli apa penyebabnya seseorang menjadi janda, tetap saja kesannya buruk. Istilah janda populer dengan embel-embel ‘janda gatal’, ‘janda perebut suami orang.’ Seorang janda dianggap kalau ia semestinya menikah dengan duda atau hidup sendiri saja, karena seorang janda yang menikah dengan bujangan adalah hal yang merugikan bagi laki-laki.

Berbeda dengan duda. Duda seperti punya kelas yang lebih baik dibandingkan janda. Duda dianggap laki-laki yang dewasa, ngemong, sudah mapan dan masih tampan. Istilah duda populer dengan sebutan ‘duren’ duda keren.

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah janda dan duda memiliki arti yang persis sama, yaitu wanita/pria yang tidak bersuami/beristri lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati oleh suami/istrinya. Menurut saya, netral saja sebetulnya. Namun, perspektif sosial menempatkan nilai status duda lebih tinggi dibandingkan status janda.

Beberapa iklan properti tersebut jelas mengidentifikasi bagaimana persepsi patriarki selama ini pada janda. Hal-hal seperti ini harus dilawan, karena jika dibiarkan, ini tidak hanya melakukan sensasionalisme pada tubuh perempuan, tetapi semakin memperkuat stigma janda secara sosial.

(Foto/ Ilustrasi 1: Pixabay)
(Foto 2: kompas.com)

*Meera Malik dan Luviana, pengelola www.Konde.co

Susi Susanti tak hanya menjadi legenda bulutangkis dunia, namun juga menjadi perempuan yang berani, tulus mencintai Indonesia tanpa kehilangan semangat untuk memperjuangkan diskriminasi yang dirasakannya.

*Sari Mentari- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co- Menolak menjadi balerina, Susi Susanti kecil mengincar hobi yang ditekuni kakak laki-lakinya, bermain bulutangkis.

Dari kecil, Susi memang tak menyukai balerina. Jika kakak laki-lakinya bisa bermain bulutangkis, mengapa anak perempuan sepertinya tidak?
Maka ketika Susi mendapatkan bully, dianggap tidak bisa bermain bulutangkis oleh anak laki-laki di desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat, Susi kemudian menantang anak laki-laki tersebut untuk bertanding bulutangkis. Dan Susi bisa membutikan sebagai pemenang pertandingan.

Itulah awal Susi Susanti bisa menyatakan pada ayah dan ibunya bahwa ia mencintai bulutangkis. Buku hariannya penuh dengan tulisan teknik bertanding dalam bulutangkis. Ayahnya kemudian menangkap dengan cepat keinginan Susi Susanti. Sejak itu Susi menjadi juara dalam beberapa pertandingan, seperti saat masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), Susi menang dalam World Championship Junior untuk 3 kategori sekaligus.

Maka ketika juara bulutangkis dunia, Rudy Hartono mengajaknya untuk bergabung dalam sekolah pelatnas yang dipimpinnya, Susi Susanti langsung mengiyakan dan berangkat ke Jakarta.

Di Jakarta inilah karir bulutangkis Susi Susanti sebagai juara dunia berawal. Tak hanya belajar untuk mandiri sejak kecil, dalam masa-masa inilah cerita tentang diskriminasi yang dialaminya juga dilawannya. Susi menjadi anak yang mandiri, mempunyai pendirian dan menolak diskriminasi yang diperlakukan padanya dan pada atlet keturunan China sesama pemain bulutangkis lainnya. Susi menjadi perempuan yang berani, bertaruh untuk mencintai Indonesia tanpa kehilangan semangat untuk memperjuangkannya.

Ini adalah cerita yang dialami legenda bulutangkis dunia yang tak banyak diketahui orang yang kemudian dipotret produser Daniel Mananta sebagai produser, Reza Hidayat dan Sim Batubara sebagai sutradara dalam film berjudul “Susi Susanti Love All”.

Dilatarbelakangi oleh pemerintahan orde baru yang anti dengan komunisme dan China, maka disanalah segalanya berawal. Ingin membuktikan sebagai negara yang mampu mempunyai prestasi di kancah internasional namun tak mau mengakui atlet-atlet keturunan China yang mendatangkan prestasi sebagai warga negara. Begitu peliknya pemerintahan orde baru di tahun 1980an lalu dan banyaknya peraturan diskriminasi yang dikeluarkan.

Diskriminasi ini terus menjadi nafas dalam film ini, selain pertemuan antara Susi Susanti (Laura Basuki) bersama pacar yang menjadi suaminya saat ini, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko). Betapa keinginan kuatnya Susi Susanti bersama atlet bulutangkis untuk menjadi juara dalam berbagai kesempatan dunia mewakili Indonesia, namun ternyata mencintai dan berkorban untuk Indonesia tak pernah cukup. Diskriminasi yang mereka alami, tak diakui sebagai warga negara Indonesia adalah pergolakan panjang dalam hati Susi. Di satu sisi pemerintahan Soeharto menginginkannya untuk selalu menjadi juara, namun di sisi lain tak mau memberikan surat kewarganegaraan baginya dan atlet bulutangkis lain.

Walaupun dalam perjalanannya, Susi Susanti kemudian menjadi juara Piala Sudirman untuk ganda perempuan di tahun 1989 dan dalam 4 kali juara di all England, prestasi yang jarang diraih oleh pemain bulutangkis di masa itu. Itu sebabnya Susi menjadi legenda.

Sebagai sebuah film, film “Susi Susanti Love All” ini berhasil menangkap hal-hal yang dirasakan para atlet, namun sayang masih ragu dalam mengambil beberapa proses dramatik yang dialami, seperti ketika pergolakan Susi Susanti atas diskriminasi yang diterima keluarganya kurang dieksplorasi. Atau hal lain dalam mengekplorasi isi hati Susi Susanti ketika beberapakali menjadi juara dunia, salah satunya ketika momentum pertandingan di Barcelona dimana Susi Susanti menangis berdiri di depan bendera Indonesia. Juga hal lain seperti bagaimana tempaan pada para atlet yang sangat keras untuk menjadi juara, ini terlihat kurang dalam adegan-adegan di dalam film. Padahal pengalaman-pengalaman ini merupakan pengalaman dramatik yang sering dialami para pemain bulutangkis.

Namun secara umum, ini merupakan film yang sangat penting bagaimana kebijakan negara yang diskriminatif berimbas pada kondisi para atlet yang selama ini belum banyak diekplorasi.

(Foto: 21cineplex.com)

*Sari Mentari, penulis dan dosen, tinggal di Jogjakarta

Luviana- www.Konde.co

Jakarta- Maria Martina terlihat tekun menenun, suaranya lirih. Ia duduk di pojok dengan alat tenunnya bersama 1 perempuan Flores lain. Maria mempraktekkan apa yang dilakukannya setiap hari bersama para perempuan di Flores memintal benang dan menenun hingga menjadi kain yang bisa dijual.

Dengan menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan seperti kunyit, daun katuk, daun indigo dan beberapa akar berwarna dari hutan, maka mereka membuat benang sampai dapat menghasilkan produk dengan nilai jual yang tinggi.

Di Kampung Dokar di Maumere, Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur pekerjaan inilah yang ditekuninya setiap hari. Ia bersama puluhan perempuan penghasil kain. Di Maumere dan sejumlah kawasan di Flores, kain merupakan daya magis ekonomi bagi para perempuan. Jika banyak lak-laki yang bertani, maka perempuan kemudian menenun.

Maria Martina tak bisa berbahasa Indonesia, ia diwakili oleh perempuan temannya untuk mengalihbahasakan bahasa Flores ke bahasa Indonesia agar bisa bercerita bagaimana perempuan di kampungnya bertahan hidup dari menenun.

“Iya setiap hari saya menenun bersama banyak perempuan di kampung kami,” ujarnya ketika kami mengajaknya bicara.

Di Jakarta, Maria Martina datang bersama penenun dari Flores, mereka ikut dalam pameran pekan budaya yang diadakan Komunitas Cinta Berkain di Sarinah, Jakarta. Acara ini diselenggarakan hingga Kamis, 31 Oktober 2019. Dalam pameran ini, kain-kain dijual dengan harga Rp. 300 ribu hingga puluhan juta rupiah.

Pengerjaan 1 kain bisa dilakukan minimal 1 bulan hingga 1 tahun, maka tak heran jika tenun ini dikerjakan oleh komunitas atau keluarga yang sudah saling mengenal. Karena untuk memghasilkan I kain, mereka harus bekerja bersama selama bertahu-tahun, dari mengelola hasil hutan, memintalnya menjadi benang, menenun kemudian menjualnya.

Ada 2 motif kain khas yang dibuat di Dokar, Sikka, Maumere yaitu motif utan welak dan utan hawatan. Biasanya motif utan welak disukai orangtua dan motif utan hawatan disukai anak-anak muda. Mereka mengerjakan 2 motif ini agar tenun tak ditinggalkan pecintanya. Anak-anak muda bisa memilih motif yang disukainya.

Kampung Dokar di Maumere memang merupakan kampung tradisional yang sekarang sudah menjadi rujukan sebagai kampung wisata disana. Banyak wisatawan yang datang disambut dengan tarian dan adat tradisional.

Cletus Beru, salah satu pengurus Sanggar DokaTawatana yang juga hadir di pameran bersama Maria Martina mengatakan bahwa dalam 10 tahun ini Kampung Dokar sudah menjadi kawasan wisata. Masyarakat disana sudah siap menyambut wisatawan yang datang dengan tenunnya yang khas, makanan khas tarian dan musik. Jadi jika laki-laki disana bertani, maka hampir semua perempuan di kampung mereka kemudian menenun.

“Sudah 10 tahun ini, kami-kami bersama-sama mengelola kampung wisata di kampung kami, Kampung Dokar. Kami menyajikan kain, tarian, makanan dan musik untuk wisatawan yang datang,” ujar Cletus Beru pada pameran 31 Januari 2019 kemarin.

Dalam pameran ini, tak hanya Maria Martina, Juwita juga datang dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Ia memamerkan kain-kain dari Ende untuk dijual.

Kain, bagi keluarganya sudah menjadi usaha ekonomi secara turun-temurun. Namun tak hanya itu, baik Maria Martina maupun Juwita datang ke Jakarta karena punya misi yang lain, yaitu mereka tak mau jika kain-kain NTT ini punah, banyak yang tak mengenal kain tradisional Indonesia. Maka kedatangan mereka ke Jakarta, salah satunya adalah untuk mengenalkan kain-kain tradisional agar diketahui terutama anak-anak muda.

Achyar Ginanjar, salah satu anak muda yang selama ini ikut mengurus batik tulis asal Garut, Jawa Barat. Ia mempunyai keprihatinan atas ini. Di daerahnya yaitu di Tarogong, Garut banyak anak muda Garut lebih memilih menggunakan baju-baju modern dan sudah banyak yang meninggalkan batik tulis. Maka pameran seperti ini menjadi ruang baginya untuk memasarkan batik Garut.

Di Tarogong, Garut biasanya yang membatik kebanyakan perempuan, sedangkan laki-laki melakukan pekerjaan menenun dan memasarkan kain. Banyak pakaian jadi yang dengan design modern kemudian menggusur batik. Hal lain, batik selama ini masih identik dihasilkan dari Jogya, Solo padahal di Garut ada juga batik yang dihasilkan perempuan.

“Banyak anak muda yang lebih memilih pakaian jadi dan modern, maka ini merupakan salah satu acara untuk mengenalkan batik Garut kembali.”

Umumnya motif batik Garut adalah motif bulu ayam dan merak ngibing. Ia percaya bahwa pengenalan yang terus-menerus akan menjadi ruang yang efektif untuk mengenalkan batik Garut.

Nova herlinda yang menunggu pameran kain dari Mandar, Sulawesi Barat mengatakan hal yang sama. Selama ini tak banyak yang mengenal Mandar sebagai penghasil kain, padahal ada banyak perempuan yang kemudian menghasilkan kain dari Mandar. Maka pameran seperti ini menurutnya efektif untuk mengenalkan kain nusantara dan mengenalkan ruang ekonomi yang selama ini dikelola oleh para perempuan.

Tenun dan batik adalah penghasil ekonomi perempuan. Mereka tak hanya mengumpulkan perempuan untuk memikirkan ekonomi secara bersama namun juga ruang bagi perempuan untuk bertemu dan menyatakan keinginannya. Dalam pameran ini terbukti bahwa banyak perempuan bisa menjadikan tenun dan batik sebagai bagian dari cita-cita, mengelola sambil mengenalkannya pada yang lain untuk melestarikan secara bersama-sama.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)