Lasminingrat, Penulis Sastra Feminis yang tak Banyak Diperbincangkan


Perkenalkan Namaku Raden Ayu Lasminingrat. Kalian dapat memanggilku Lasmi, tak apa, kuyakin kalian orang baik dan mau mendengarkanku. Aku hanya ingin bercerita tentang bagaimana beratnya mengajak masyarakat untuk belajar membaca dan menulis.


*Rena Asyari- www.Konde.co

Konde.co- Ini adalah kisah Ayu Lasminingrat, seorang penulis feminis Sunda yang sudah hidup sejak 1843 lalu. Namanya tak banyak ditulis dalam buku-buku atau sebutan sebagai penulis perempuan di Indonesia. Ia mendukung pendirian Sekolah “Sokola Istri” yang didirikan Dewi Sartika.

Lasmaningrat adalah penulis perempuan dari Sunda yang namanya jarang disebut. Dibandingkan dengan para penulis pada umumnya di zaman itu, namanya jauh dari hingar-bingar.

Lasminingrat menulis sebelum Kartini mulai menuliskan pemikirannya. Namanya ditemukan ketika banyak peneliti tertarik untuk melakukan penelitian karya-karya berbahasa Sunda.

Ayu Lasmaningrat adalah penulis feminis dan religius. Lahir di Garut di tahun 1843, anak dari Raden Moehammad Moesa. Kompas.com pernah menuliskan, setelah ia diasuh oleh teman Belanda ayahnya, Levyson Norman, ia menjadi perempuan yang mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda.

Kembali ke Garut, ia kemudian banyak menterjemahkan buku-buku sastra Eropa ke dalam bahasa sastra Sunda untuk anak-anak. Sejak itulah, buku-bukunya tersebar dan dibaca.

Beberapa peneliti kemudian tertarik untuk mengulas karyanya. Sosoknya yang berbeda dari masyarakat di zamannya, membuat namanya kemudian terus diperdengarkan pada publik.

Menjadi Lasmi tentu saja tak mudah, hidup di zaman ketika masyarakat masih menganggap pendidikan, pengetahuan dan buku-buku adalah produk kafir, hanya karena berasal dari Barat. Namun ini menjadikan Lasmi semangat untuk mempelajarinya.

Kisah bagaimana Lasminingrat menulis dan proses pribadinya ini kemudian dipentaskan secara monolog Wanodja Soenda yang digelar 29 Januari 2020 di Hotel Savoy Homann, Bandung.

Penulis naskah pementasan Lasminingrat, Zulfa Nasrulloh membuat alur maju untuk monolognya, dari masa-masa Lasmi belajar pada Karel Frederick Holle dan Levyson Norman hingga menjelang akhir hidup Lasmi yang getir.

Pemberontakan masyarakat Sunda di Cimareme pada pemerintah kolonial Belanda yang kemudian menewaskan sahabatnya Haji Hasan, harus disaksikannya.


Monolog yang berjalan dengan durasi cukup singkat hanya 30 menit itu sebenarnya kurang menampilkan keseluruhan diri Lasmi.

Dari seluruh karyanya, yang diangkat hanya Tjarita Erman, karya saduran Lasmi yang berasal dari dongeng Eropa yang diterbitkan di Batavia tahun 1875. Dalam cerita tersebut tokoh Erman yang tinggal di dalam gua diibaratkan seperti masyarakat sunda yang tidak tahu apa-apa, terkurung dalam ruangan, gelap dan suram, tanpa pengetahuan dari luar.

Sayang sekali karya Lasmi yang lain yaitu Warnasari jilid 1 dan 2 yang banyak diperbincangkan, tidak disinggung dalam monolog tersebut.
Padahal teks-teks Lasmi dalam Warnasari sangat feminis dan religius, ia yang seorang muslim taat sangat tahu bagaimana menempatkan dirinya sebagai anak seorang ulama, dan tetap bisa menjadi perempuan mandiri.

Warnasari Jilid 1 terbit tahun 1876 terdiri dari 4 cerita yang berjudul Puteri Kasangsara, Dewa Reuksa, Tukang Domba Gede Ambek, dan Indung Tere nu Julig jeung Juru Tenung Pansakin. Bukan tanpa alasan Lasmi memberi judul Warnasari pada bukunya, di dalam kata pengantarnya ia menulis.

“Meunang nurun tina buku, meunang nganggit kupikir, Ieu buku dingaranan warnasari; sari hartina kembang nyaeta sok jadi kasukaan jalma, tapi kembang rupa watekna. Aya nu seungit mawa sedep kana ati, aya nu matak were. niwaskeun diri. …lamun rea anu resep kana dongeng pantaran ieu, meren ku kula di tuluykeun deui, karasa dina buku walanda rea pisan carita anu matak resep, sarta aya pulunganennana.” (Warnasari:1876)

Meskipun banyak karya tulisnya berupa saduran dari dongeng Eropa, tetapi tentu bukan hal mudah untuk menafsirkan ulang dan memberi warna lokal pada setiap ceritanya.

Dalam Warnasari jilid 1, Lasmi memberikan pengajaran pada masyarakat Sunda dengan sengaja memilih menyadur naskah-naskah yang berkaitan dengan mitos, sihir atau percaya kekuatan mistis lainnya. Ia ingin memberi tahu secara halus melalui cerita bahwa hal-hal tersebut tidaklah benar.

Di akhir cerita ia terkadang menyisipkan pesan moral, karena Lasmi sangat sadar masyarakat di sekelilingnya perlu ditunjukkan arah pada jalan pengetahuan tanpa bersifat menghakimi.

Dalam kutipannya di halaman terakhir buku Warnasari jilid 1 Lasmi mengingatkan kita semua tentang keharusan menjadi manusia yang berperilaku baik pada sesame.

“Jalma dengki akhirna manggih nyeuri, sanajan mimitina menang suka. Jalma pinter sarta temen tungtungna manggih kabungahan, sanajan mimitina nyorang heula sangsara”.


Warnasari Jilid 2 terbit tahun 1887, Lasmi semakin bebas menyadur naskah-naskah yang menurutnya mewakili perasaannya sebagai perempuan.

Dalam cerita yang berjudul “Tjarita Oray Bodas”, Lasmi berkisah tentang perjodohan dan bagaimana cara ia bersikap melawan perjodohan tersebut.

“Saya menolak semua yang melamar karena belum ada yang cocok. Bukannya saya tidak mau mengikuti, bukan juga karena saya tidak sayang pada orang tua, justru karena saya sangat sayang; jika saya menikah dengan yang tidak saya cintai itu mudah saja, hanya akhirnya siapa yang akan menanggung kalau bukan diri saya sendiri…”

Teks-teks yang ditulis Lasmi sangat hidup, karakter tokoh-tokoh yang ada di dalamnya sangat kuat. Ia bisa menjelma menjadi putri raja yang cerdas, pertapa yang baik hati, raja yang tamak, Kuda yang penurut, Harimau dan Serigala yang penakut, istri petani yang pemberani, penyihir yang sangat jahat, orang tua yang tega menyengsarakan anaknya, anak yang durhaka, Gagak penolong dan lain sebagainya.

Lasmi mengajak anak-anak pribumi untuk mau membaca dan menulis bukan sekedar mengisi waktu luang melainkan untuk menghilangkan kegundahan dan kebimbangan hati

“… sabab barang enggeus tangtoe, sagalage bisa leungit, pangabisa teu diasah, tangtoe bae lali deui, tjara oepama pakarang, pangarti nja kitoe deui. Djeung deui teu hade nganggoer, ngahoeleng mikir teu hasil, selang-selang pagawejan, anggoer matja reudjeung noelis, ngabeberah kasoesahan, ngaleungitkeun bingbang ati” (1887).

Fandy Hutari dalam Kompas.com menuliskan bahwa buku-buku saduran Lasmi ini kemudian diterbitkan dan banyak sekali pembacanya.

Lasmi kemudian menikah dengan Bupati Garut, RAA Wiratanudatar Vlll dan berkosentrasi memajukan pendidikan perempuan Sunda. Dengan kiprahnya ini, ia kemudian mendukung Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah Sakola Istri di Bandung di masa itu yang juga dibangun untuk memajukan perempuan.

(Referensi:https://edukasi.kompas.com/read/2009/12/19/11400322/ra.lasminingrat.tokoh.perempuan.intelektual.pertama?page=all)

(Foto: youtube dan Rena Asyari)


*Rena Asyari,
lahir dan besar di Jatiwangi. Menamatkan studi Fisika di Universitas Padjadjaran dan kini mengajar di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Tahun 2015 bersama temannya menginisiasi komunitas Seratpena yang mewadahi kegiatan musik dan sastra. Selain aktif menulis di beberapa media cetak dan online tentang Perempuan Sunda dan Jatiwangi, Rena menerbitkan buku anak “Petualangan Rococo”. Tahun 2018 menerima hibah perempuan Cipta Media Ekspresi. Di 2019 ia menjadi bagian dari Perempuan Lintas Batas di Institut Mosintuwu Poso, menjadi salah satu tim konseptor Bandung Readers Festival dan menerima seed grant dari Creative Hubs Academy