Pelecehan Seksual Menimpa Perempuan Penjual Jamu (1)



Para perempuan penjual jamu adalah orang-orang yang banyak dilecehkan. Para pembeli laki-laki biasanya menggoda dengan panggilan nama yang merendahkan, memegang tangan, mencium pipi, dan bahkan mencolek anggota tubuh sensitif lainnya


*Meera Malik- www.Konde

Konde.co- Sebagai perempuan penyuka jamu, saya selalu tertarik mengetahui cerita para pembuat jamu. Kesempatan itu saya dapatkan ketika saya kuliah. Saya bergabung dengan Yayasan Perempuan Perkotaan Medan disingkat YP2M, sebuah organisasi nirlaba yang fokus melakukan pemberdayaan ekonomi dan media literasi terkhusus bagi perempuan penjual jamu. YP2M berdiri atas inisiasi dosen saya, Bu Mazdalifah, yang mengakui rutin minum jamu dan menjadi pelanggan setia beberapa penjual jamu keliling.

Ketika itulah saya sering bertemu Wagiyem dan Suparti, 2 penjual jamu yang merupakan anggota kelompok dampingan YP2M.

Keduanya pindah dari Jawa ke Medan dan berjualan jamu untuk menghidupi keluarga dan mengejar mimpi yang mengikat hati mereka.

Namun, saya tidak pernah menyangka jika kedua perempuan penjual jamu ini ternyata sering mendapatkan pelecehan seksual ketika berjualan.

Bahkan menurut pengakuan mereka, pelecehan seksual bagi perempuan penjual jamu seolah menjadi makanan sehari-hari. Ini betul-betul menyedihkan.

Saat berjualan, mereka kerap mendapat pelecehan dari para pembeli. Para pembeli itu adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki dari jenjang umur tua hingga muda, yang berstatus pekerja hingga mahasiswa.

Perilakunya seperti menggoda dengan panggilan nama yang merendahkan, memegang tangan, mencium pipi dan bahkan mencolek anggota tubuh sensitif lainnya.

“Pernah dulu jualan gendong, dipanggil mbak.. jamu..! Udah kita turunin gendongan kita, dia cium, terus langsung pergi. Aku waktu itu masih muda, bingung, kaget, ya terdiam. Itu di pinggir jalan besar lho berani dia,” ungkap Wagiyem dengan nada meninggi.

Tak jauh berbeda dengan Wagiyem, Suparti pun pernah merasakan pengalaman yang sama. Ia bahkan sempat trauma. Salah satu pengalaman terburuknya terjadi ketika ia menjajakan jamu di depan sebuah hotel melati. Saat itu, Suparti diminta naik untuk mengantarkan jamu ke kamar lantai atas. Ketika Suparti memberikan jamunya, sang pembeli menunjukkan alat kelaminnya.

“Jamu langsung kubuang. Cepat-cepat aku lari keluar minta pertolongan orang,” ucap Suparti sembari mengusap-usap punggung tangannya, tampak gelisah.

Pengalaman lainnya, ada laki-laki yang memegang tangan ketika mereka sedang memegang gelas jamu, dan ada juga laki-laki yang mencolek tubuh sambil berlari.

Ironisnya, Wagiyem dan Suparti mengamati hal tersebut cenderung dipandang biasa oleh masyarakat. Sebabnya, label negatif terlanjur melekat pada perempuan penjual jamu yang tergambar dalam film, sinetron, iklan, dan media massa yang sering menampilkan citra perempuan penjual jamu sebagai perempuan penggoda. Dari sinilah, masyarakat kemudian memandang penjual jamu sebagai perempuan yang suka menggoda laki-laki pembeli.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Laki-laki pembelilah yang selalu menggoda penjual jamu.

Hal lain, ada yang menganggap perempuan penjual jamu adalah penjual obat yang bisa memberikan kekuatan bagi laki-laki, maka seolah-olah mereka menjadi orang yang layak untuk digoda karena bisa memperkuat stamina laki-laki.

Dari berbagai kejadian yang menimpa Wagiyem dan Suparti, kita bisa melihat adanya stigma yang dilekatkan pada penjual jamu, dan adanya stigma soal kelas. Karena penjual jamu sangat tergantung pada pembeli, maka laki-laki pembeli merasa berhak menggoda penjual jamu. Posisi kelas ini yang semakin membuat perempuan penjual jamu tersudut.

Di satu sisi, penjual jamu seperti ini tidak mempunyai wilayah penjualan yang cukup luas, biasanya mereka berjualan di sekitar perumahan, kampung yang berada di area yang saling berdekatan. Apalagi jika mereka berjualan jamu gendong, maka sulit untuk bisa menjual jamunya ke daerah yang lebih jauh. Akibatnya, penjual jamu mempunyai ketergantungan yang besar terhadap konsumen.

Digoda, dilecehkan, tentu ini sangat mengganggu aktivitas Wagiyem, Suparti dan perempuan penjual jamu lainnya. Tidak jarang mereka menderita trauma karena mendapat berbagai pelecehan tersebut. Hak mereka untuk bekerja dengan aman dan nyaman tidak terpenuhi. Mereka menyesalkan kondisi tersebut tetapi merasa tidak berkuasa untuk berbuat apa-apa.

Selama ini Wagiyem dan Suparti memutuskan berpindah dari Jawa ke Medan karena persoalan ekonomi. Keputusan untuk merantau dan menjual jamu ini selayaknya dipahami sebagai kebutuhan ekonomi dan untuk menyelamatkan keluarga.

Sosiolog Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Leylia Khairani menjelaskan kondisi ini. Berdasar hasil kajian, ia menemukan pola dan motif migrasi orang Jawa ke Sumatera telah terjadi sejak era kolonial. Seperti para kuli kontrak, mereka ditipu, diberdayakan, dan diiming-imingi agar mau pindah ke Tanah Deli. Dorongannya hampir pasti karena kebutuhan ekonomi.

“Akhirnya, mereka sudah merasa ini rumah bagi mereka dan orang-orang lainnya, etnis lainnya menjadikan orang Jawa sebagai pelengkap bagi keberadaan etnis yang ada di sekitarnya,” jawab Leylia singkat.

Ketergantungan pada ekonomi ini yang kemudian membuat penjual jamu harus bekerja dalam kondisi tak nyaman. Dengan berbagai pengalaman pahit yang mereka terima, Wagiyem dan Suparti sudah merasa hatinya tertambat di Medan. Mereka adalah bagian dari 30% warga bersuku Jawa yang menghuni kota Medan dengan total jumlah penduduk 2,2 juta jiwa. Mayoritas dari mereka pun sudah membangun sebuah keluarga.

Kesadaran konsumen untuk berhenti melakukan pelecehan harus ditumbuhkan sehingga kemauan untuk mengubah stigma, menghormati perempuan, menghormati penjual yang sedang bekerja, memutus rantai kekuasaan dalam relasi penjual dan pembeli bisa terwujud.(bersambung)

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Meera Malik, jurnalis televisi yang murtad dan kini mualaf di Konde.co sebagai managing editor. Pengagum paradoks semesta, gemar membeli buku tapi lupa membaca.